h1

Spain vs Italy: A Brief Overview of UEFA EURO 2012 Final

July 2, 2012

Akhirnya, event sepak bola tahunan ke-4 terseru di dunia versi saya; setelah Piala Dunia, Apapun Turnamen Yang Diikuti Indonesia dan Liga Champions Eropa berakhir. Sayang sekali sih akhir pertandingan ini termasuk anti-klimaks. Banyak yang menganggap pertandingan final ini bakal berjalan seru; Spanyol yang jago menyerang dan Italia yang jago bertahan, namun, Tuhan berkata lain, Spanyol meluluhlantahkan Italia dengan skor telak 4-0; sebuah skor yang nampaknya tidak pantas menjadi hasil akhir sebuah turnamen besar.

Kehancuran Italia dimulai dari pemilihan line-up dari Prandelli (eh anyway, ini cuma analisis dari penggemar sepak bola biasa yes); ada nama Giorgio Chiellini di situ. Chiellini memang salah satu bek terbaik di dunia, mungkin dia yang terbaik di Italia. Kenapa memasang Giorgio Chiellini menjadi sebuah kesalahan  Well, sejago-jagonya Chiellini, dia juga manusia, bisa CEDERA. Yak, cedera. Inilah masalah Chiellini dalam turnamen Euro kali ini. Chiellini memang sudah berkutat dengan cedera dari awal turnamen. Sebenarnya ia sempat diragukan, tempatnya nyaris digantikan oleh bek muda Internazionale, Andrea Ranocchia, namun pada akhirnya Prandelli memilih untuk tetap memasukkan Chiellini. Di tengah-tengah turnamen, Chiellini tidak bermain ketika melawan Inggris karena cedera. Lalu ia bermain kembali ketika melawan Jerman, dengan posisi sebagai bek kiri; sebuah posisi yang mengharuskan pemain memiliki work rate yang jauh lebih tinggi daripada bek tengah, karena ia harus berpartisipasi dalam awal penyerangan. Menjaga pergerakan Toni Kroos dan Marco Reus nampaknya memberi beban lebih bagi lutut Chiellini yang memang bermasalah di awal permainan; lalu di pertandingan melawan Spanyol, di 21 menit awal, ia harus berhadapan dengan bek agresif Spanyol Alvaro Arbeloa. Ia hanya bertahan selama 21 menit, sebelum akhirnya digantikan oleh Federico Balzaretti. Di sini, Italia kehilangan 1 bek terbaiknya sekaligus 1 hak untuk pergantian pemain.

Spanyol berhasil mencetak gol pertama lewat tandukan David Silva di menit ke-14, setelah pertahanan kiri Italia yang dijaga Chiellini berhasil diobrak-abrik oleh Cesc Fabregas yang sedang on fire. Sebuah crossing dari false 9 FC Barcelona, berhasil ditanduk oleh Fantasista dari Manchester City; 1-0 untuk Spanyol. Derita Italia bertambah ketika di menit 41, Jordi Alba berhasil memasukkan umpan terobosan beracun dari rekan barunya di level klub, Xavi Hernandez. Babak pertama berakhir dengan kedudukan 2-0 Spanyol.

Di awal babak kedua, Prandelli (menurut hemat saya sebagai penggemar sepak bola yang rajin mengikuti sepak bola Itali dan Liga Champions) melakukan kesalahan keduanya; ia menggantikan seorang kreator serangan Italia yang  menghasilkan banyak assist baik dalam turnamen ini atau bersama tim-nya AC Milan, Antonio Cassano, dengan top scorer Serie A 2 kali berturut-turut (2008-2009, 2009-2010), Antonio Di Natale. Bagi saya, keputusan Prandelli ini terlalu terburu-buru, melihat kapabilitas Cassano sebagai pengumpan jauh lebih baik dari Di Natale, juga mengingat performa Di Natale yang gagal menyelesaikan peluang 1 on 1 di pertandingan sebelumnya melawan Jerman. Sebenarnya Cassano dan Balotelli beberapa kali mengancam gawang Spanyol, sebenarnya, menurut saya, hanya butuh waktu saja sebelum kombinasi Cassano dan Balotelli berhasil merobek gawang Spanyol, dan di sini juga kreator penyerangan Italia hanya tersisa 2 orang: Riccardo Montolivo dan Andrea Pirlo. Pada akhirnya pun Di Natale gagal menyelesaikan peluang 1 on 1 yang (kembali, menurut pendapat saya) cukup mudah.

Akhirnya, pada menit ke-56, ini adalah kesalahan ketiga dan paling FATAL dari Prandelli. Prandelli menarik Montolivo keluar untuk digantikan dengan Thiago Motta. Menurut saya ada beberapa poin kesalah Prandelli di sini. 1) Menggantikan seorang gelandang kreatif dengan gelandang bertahan dalam kondisi sedang tertinggal 2 angka. 2) Menggantikan Montolivo yang sedang dalam performa yang baik, dengan Thiago Motta yang kondisi kebugarannya diragukan karena cedera. 3) Menggunakan pergantian pemain yang terakhir dalam waktu yang terlalu terburu-buru. Mungkin Prandelli melihat, dari segi serangan, Di Natale dan Balotelli, dibantu oleh Marchisio, De Rossi dan Pirlo sudah cukup untuk menggempur pertahanan Spanyol, sehingga masuknya Thiago Motta akan membantu pertahanan mereka.

Namun sial bagi Italia, Motta, pejudi nekad, Montolivo, saya dan fans Italia lainnya, nampaknya otot paha Thiago Motta tertarik di menit ke-4 ia bermain, sehingga ia harus ditandu keluar lapangan. Dengan hanya 10 pemain karena jatah pergantian pemain sudah habis, maka di situ juga lah banyak yang berpendapat (termasuk saya) kisah manis Italia di Euro 2012 berakhir. Kisah manis ini berubah pahit ketika pada akhirnya Spanyol mematahkan berbagai macam mitos sepak bola Eropa dengan 2 gol dari Fernando Torres dan Juan Mata, sekaligus menghancurkan impian Italia menjadi kampiun Eropa 2012.

Perjuangan Italia di Euro 2012 kali ini sangat patut diapresiasi. Dengan pelatih baru Cesare Prandelli, pemain-pemain muda di skuad Italia seperti Mario Balotelli dan Leandro Bonucci, hingga pemain tua yang baru dapat kesempatan masuk tim nasional seperti Alessandro Diamanti dan Emanuele Giaccherini juga pemain dari Serie B, Angelo Ogbonna (walaupun akhirnya tidak bermain semenit pun), Italia mampu mencapai final dengan mengalahkan 2 tim kuat di perempat final dan semi final; Inggris dan Jerman. Tidak ada yang mengira kalau Italia akan mampu mengalahkan dua tim tadi. Dengan gaya permainan baru yang jauh dari stereotipe catenaccio, Italia hadir dengan menyuguhkan gaya permainan yang sangat atraktif, yang menurut saya, nomor 2 terbaik setelah tiki-taka dari Spanyol.

So that’s it for Italy, Spain and Euro 2012. Sebenarnya saya sendiri mendukung Belanda sebagai ‘tim utama’ di Euro 2012 ini, dan Italia sebagai ‘tim cadangan’. Namun perjalanan Belanda harus hancur lebur di fase grup (gak usah dibahas lah yah). So, sekarang saatnya kembali ke liga reguler ! Persib di ISL, AC Milan di Serie A, Barca di Liga BBVA dan Everton di Barclays Premiere League; sampai jumpa Forza Italia dan Hup Holland Hup, selamat datang kembali Persib nu aing, Forza Milan, Visca Barca dan Come On You Blues !!

“No striker I’ve been teammates with compares to playing alongside Antonio Cassano. He just brings me to another level.”

-Mario Balotelli on Antonio Cassano-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: