h1

Merdeka itu….

August 17, 2012

Dirgahayu ! Dirga… eh Dirgahayu artinya apa sih ? Dari bahasa apa ? Sansekerta ya ? Emang jaman dulu empu Tantular kalo ulang tahun dipestain gitu ? ada Dirgahayu nya ? Eeee… ternyata setelah sedikit baca baca di google, Dirgahayu artinya panjang umur ! YAK ! Dirgahayu Negaraku, Negara Kesatuan Republik Indonesia ! Panjang umur, dan (tambah) sehat selalu yaaa !!

Oke, kali ini, tulisan yang akan saya buat saya persembahkan khusus untuk Indonesia dan… sepak bolanya ! YA !

Merdeka itu… hemm, ayo kita coba maknai merdeka secara sederhana. Kalau baca-baca di wikipedia, merdeka artinya bebas, independen, tidak bergantung pada siapapun, diambil dari Bahasa Sanksekerta yang berarti Kaya, Makmur dan Kuat ! Oke, nampaknya apabila dimaknai lewat Bahasa Sansekertanya, bahasanya akan jadi ribet, maka kita simpulkan saja, untuk merdeka kali ini berarti tidak bergantung pada siapapun !

Merdeka itu.. hemm, oke, saya gak akan bahas tentang gak ngutang dari IMF lah, gak ngutang dari AS lah, bisa berdikari di bidang ekonomi lah, gak akan, ini bukan tugas kuliah bung, ini blog, jadi, mari kita bahas yang ringan sajah, merdeka di bidang sepak bola ! Hemm, merdeka di bidang sepak bola itu berarti tidak perlu bergantung pada siapapun dalam bidang sepak bola. Terdengar aneh, tapi, akan saya coba jabarkan secara sebisanya.

Begini, sepak bola adalah olah raga yang sangat populer di seantero Indonesia. Akui saja, ketika kita jalan-jalan, ke manapun, pasti lah, setidaknya menemukan 1-2 orang yang memakai kaos tim sepak bola, entah itu aa-aa, mamang-mamang, bapak-bapak, ibu-ibu, teteh-teteh geulis, teteh-teteh hijabers, dede-dede unyu, anak bayi, siapapun lah, pasti ada yang memakai kaos tim sepak bola, cross genre-cross generasi. Ketika kita menyalakan televisi pun, sepak bola sebagai olah raga dan hiburan, nampaknya memiliki porsi tersendiri di media. Dalam program berita yang menyajikan 6 berita pilihan yang bisa dipilih oleh pemirsa pun, terkadang ada 1-2 berita tentang sepak bola. Di ranah media sosial pun begitu. Entah berapa presentasenya, tapi di timeline saya, ketika ada pertandingan sepak bola, pasti riuh ! Mungkin karena saya memang penggila bola juga, sehingga saya memfollow banyak akun sepak bola. Tapi, kalau diperhatikan, akun-akun yang tidak tertarik dengan sepak bola dan tidak ada hubungannya dengan sepak bola pun, kadang berkicau tentang sepak bola, seenggaknya komen sarkas tentang ributnya orang yang berkicau tentang sepak bola. Begitulah kiranya dahsyatnya sepak bola di Indonesia. Ah ! Berbicara tentang dahsyat, banyak loh pemain bola yang diundang ke acara *psshhyyy… ilang sinyal*, oke gak usah dibahas deh acara yang satu itu. Tapi intinya sih, itu juga menunjukkan kalau sepak bola juga dinikmati oleh kalangan.. *psshhyyy.. ilang lagi*.. berbagai kalangan deh !

Wah, asik nih ya sepak bola di Indonesia ? Asik banget ! Tapi sayang, bagi saya, kita BELUM MERDEKA di ranah sepak bola loh ! Kenapa ?? Well, bisa kita lihat, dari berbagai macam aspek. Oke saya akui, saya juga masih terjajah dalam ranah yang satu ini. Cek aja blog saya, temukan posting tentang sepak bola nasional. Kayaknya gak ada, malah baru postingan ini aja, yang ada ? YA ! sepak bola luar negeri ! saya pribadi memang masih punya kecenderungan untuk lebih menikmati sepak bola luar negeri daripada sepak bola lokal. Nah, menurut saya, ini bentuk terjajahnya kita sama sepak bola luar negeri. Harus diakui sih, saya juga demikian. Ambil contoh lain, di GBK, waktu pertandingan tim nasional Indonesia, banyak tuh muncul spanduk-spanduk bernadakan mendukung tim nasional Indonesia. Bagus ? nggak, soalnya spanduk ini mengatasnamakan organisasi-organisasi fans club tim luar ! PAN GOBLOG ? Kalian teh orang Indonesia, mendukung timnas sendiri, tapi kenapa malah mengatasnamakan klub luar negeri ? sadar gak sih ?

nih contohnya !

biar adil nih, saya ambil juga dari organisasi penggemar AC Milan. Saya sendiri pendukung AC Milan sejak kecil. Tapi, ketika saya memulai mendukung tim asal kota Milan itu, lebih dulu saya mencintai PERSIB NU AING AING PISAN dan Tim Nasional Indonesia. Jujur, dua spanduk di gambar atas ini lucu. Yang main Indonesia, jelas-jelas lambangnya garuda, ini yang dipake malah lambang meriam. Yang bener aja lah. Yang main Indonesia, jelas-jelas bahasa Indonesianya ‘HIDUP INDONESIA !’ ini malah ‘Forza Indonesia’. Yang bener aja lah, kalian teh nonton bola di Itali apa di Jakarta ?

Oke, itu, bagi saya merupakan bentuk penjajahan, yang dilakukan oleh rakyat Indonesia sendiri. Lucu kan ? Berarti kita belum merdeka nih di segi sepak bola ! Oke, lanjut. Ingat kondisi negara kita sebelum merdeka ? sebelum sumpah pemuda ? YA, ada Jong Ambon, Jong Java, dan organisasi-organisasi kepemudaan lainnya yang mengatasnamakan kedaerahan. Apa hubungannya ? Inilah yang terjadi ketika tim nasional bermain:

NB: Maaf nih, saya gak maksud menyindir klub tertentu yang jadi rivalnya Persib, tapi jujur, saya ga bisa menemukan foto di google yang bernada serupa, namun dengan warna dan atribut klub yang berbeda, kalo ada yg punya, bisa kirim via comment, atau apa lah, jujur, saya pernah liat ada warna lain selain oranye ini..

Oke nih, sekarang kita lihat, apa sih warna tim nasional Indonesia ? Merah-putih kan ? bukan Oranye ? Oranye mah warna apa ? Warna klub asal ibu kota. Nah ini yang ditonton apa ? Timnas ? Apa klub ? Jujur aja, apa yang dilakukan oleh supporter2 gak tau tempat ini merupakan contoh kalau kedaerahan memang masih ada di Indonesia. Memang kedaerahan HARUS ada. Klub lokal HARUS ada. Tapi ketika Tim Nasional Indonesia bermain, HARUS ada satu pasang warna saja: Merah-Putih. Yang kita dukung ini timnas yang mewakilkan NKRI coy, bukan timnas yang mewakilkan Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Jawa, Sunda, Batak, Padang, Papua, atau apapun, timnas ini mewakili Indonesia, Indonesia, Indonesia ! SEMUA ! SATU KESATUAN ! Karena itulah, saya berani menyebut kalau sepak bola Indonesia belum merdeka ! Satu terjajah, dua masih kedaerahan. Kita akan merdeka ketika kita bisa mendukung tim nasional Indonesia dengan atribut Merah-Putih Garuda. Kita akan bisa menjadi ‘negara maju’ ketika orang-orang Eropa mendukung klub lokal kita ! Bukankah akan luar biasa ketika kita mencari kata kunci ‘streaming Persib’ di twitter, dan yang keluar adalah orang-orang Eropa yang mencari link untuk streaming karena pertandingan Liga Indonesia hanya disiarkan di TV Kabel ? AKAN KEREN SEKALI !

Oke, setelah masalah dari grassroot nya, mari kita bergerak ke ranah yang lebih di atas. Saat ini terjadi carut marut sepak bola kita dengan adanya dualisme kompetisi dan organisasi inti dan bla bla bla lainnya. Dualisme ini malah lebih parah. Saya malah gak bisa menemukan dualisme di masa pra-kemerdekaan Indonesia. Mungkin dualisme yang ada di masa itu yaaa, antara Tan Malaka, Soekarno dan Sutan Sjahrir. Namun bedanya, dualisme di masa kemerdekaan ini wajar saja, memang belum ada pemerintahan yang jelas kan pada masa itu ? Jadi wajar apabila para pemimpinnya masih saling berdebat untuk menentukan arah negara yang baru akan lahir di masa itu. Okelah, gak akan saya bahas lebih jauh lagi tentang dualisme (apa trialisme ?) di masa lalu, karena jujur saja, saya juga masih kurang baca di ranah itu.

Bahas lagi nih dualisme di masa modern sepak bola pasca merdeka. Dualisme ini terjadi di mana ‘order’ sudah terbentuk. Pan goblog, udah jelas ada hukumnya, masih aja ngeyel, demi kepentingan pribadi. Memang sepak bola ini komoditas yang asik apabila digunakan untuk berpolitik. Tapi, ya mestinya liat impact nya dong. Saya juga yakin mereka gak buta. Liat lah, banyak pemain yang gak bisa membela negaranya sendiri. Ada liga ilegal . Kalah 10-0 dari Bahrain. Terpuruk di ranking 159. Maunya mereka apa sih ? Revolusi ? Revolusi apa ? revolusi tai kucing ? apa revolusi eek di celana ? ini sih namanya bukan revolusi, tapi memperparah keadaan (edan, dikiranya mau keren ya, kayak: ini sih bukan evolusi ! tapi devolusi ! tapi saya gagal menemukan padanan kata yang tepat.. ah ya sudah lah). Ini kalau diibaratin negara, udah gak stabil nih, bisa diibaratin kayak Taliban di Afghanistan lah, semacam punya negara di dalam negara, tapi ya gitu, ngaco, sama pemerintahnya selek, gak bener banget lah. Faktanya, dualisme di sepak bola Indonesia juga gitu. Dua-duanya terus aja adu mulut sama adu keras kepala, tanpa sadar kalo percikan api dari gesekan mereka malah membumihanguskan prestasi sepak bola Indonesia. SEDIH ! AKU SEDIH !!

Entah mau dibagaimanakan lagi sepak bola Indonesia. Entah kapan sepak bola di negara ini akan menjadi benar. Tapi setidaknya, saya masih bisa tersenyum karena melihat gambar-gambar ini:

Setidaknya, mereka masih bisa bermain sepak bola dengan tersenyum. Tanpa harus memikirkan ini-itu tentang sepak bola Indonesia. Mereka hanya berpikir, bagaimana caranya memasukan bola ke dalam gawang, tanpa harus memikirkan selain sebuah gol, keuntungan apa yang mereka dapatkan dari hal itu. Mereka bermain tanpa paksaan, tanpa tekanan, senang yah ! Merdeka banget ! Malah anak-anak inilah yang memerdekakan dirinya sendiri, untuk sepak bola mereka !

Oke, kurang lebih begitulah tulisan saya tentang sepak bola Indonesia yang masih belum merdeka. Semoga ‘kemerdekaan’ sepak bola Indonesia bisa segera diproklamirkan. Cukup lah generasi kita yang menderita melihat sepak bola Indonesia yang berantakan. Mungkin suatu saat, anak dan cucu kita akan melihat sepak bola Indonesia yang lebih cerah ! DIRGAHAYU NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA ! MAJU TERUS PERSEPAKBOLAAN INDONESIA !

NB: gambar-gambar diambil dari berbagai sumber di internet, dan nampaknya saya lupa menyimpan linknya… maaf yaaa…

Advertisements

2 comments

  1. tulisannya bagus!
    betul bahwa sepak bola kita belum ‘merdeka’ dari oknum2 yg senantiasa mementingkan kepentingan pribadi/kelompok.. sayangnya hal tsb. terjadi di tatanan birokrat dan administratif institusi sepak bola kita..
    pada dasarnya sepak bola itu sendiri merupakan salah satu cara mengekspresikan kemerdekaan, baik sebagai sebuah ide maupun sebagai permainan..
    (^c~,)


    • Naah.. Betul nih bung ajay.. Sepak bola bisa juga berperan sebagai ‘instrumen kemerdekaan’ dan ‘instrumen pemersatu bangsa’.. Kalo untuk instrumen kemerdekaan, secara sederhana saja, ada nama Indonesia di list negara yg diajui FIFA, bukan Hindia-Belanda.. Sedangkan sebagai pemersatu bangsa, yaaa mestinya sih dukung timnas sama-sama, dengan atribut dan warna yang sama..



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: