h1

hemm, sebenerny…

September 17, 2012

hemm, sebenernya ini tulisan saya yang saya kirim ke salah satu situs sepak bola yg juga membahas sepak bola Indonesia, tapi karena tulisannya tidak dimuat yaaa, saya masukan ke sini saja deh, udah lama ga update juga, hehe..

 

Sepak Bola Indonesia:  Cukup Kami Saja Yang Menanggung Beban Ini !
 
Selama kurang lebih 14 tahun menjadi  penggemar sepak bola, belum pernah saya merasakan perasaan sesedih ini melihat persepakbolaan Indonesia. Dulu, ketika saya masih menginjak bangku SD, dengan bangganya saya selalu mendukung tim nasional Indonesia. Walaupun prestasi tim nasional Indonesia tidak selalu benderang, namun saya tidak memiliki keraguan setitik pun untuk mendukung laskar merah putih. Sekarang, hmm, agaknya sulit untuk mendukung tim nasional Indonesia secara tulus, banyak sakit hatinya.  Berita tentang dualisme kompetisi, dualisme organisasi inti, dualisme klub, prestasi yang acak-acakan, nampaknya sudah menjadi hal yang terasa wajar di dunia persepakbolaan Indonesia. Ini buruk, sangat buruk, ketika hal-hal yang seharusnya tidak usah terjadi, malah sepertinya menjadi hal yang dianggap wajar.
 
Prihatin. Nampaknya kata tersebut pun tidak bisa sepenuhnya mewakili perasaan saya dan banyak penggemar sepak bola Indonesia. Ada apa sebenarnya dengan sepak bola Indonesia ? Dahulu, sepertinya Indonesia adalah negara yang sangat ditakuti di seantero Asia Tenggara. Kita bahkan dulu pernah meluluhlantahkan Filipina dengan skor telak 13-1 pada Desember 2002. Namun, pada piala AFF Tahun 2010, Indonesia harus bersusah payah mengalahkan Filipina dengan skor tipis 1-0 dalam dua pertandingan yang berbeda. Dari 13-1 menjadi 1-0. Apabila ingin objektif, sebenarnya hal ini bisa dilihat dari dua sisi, sepak bola Indonesia yang merosot, atau sepak bola Filipina yang maju pesat. Saya lebih melihat sisi yang pertama, di mana sepak bola Indonesia merosot cukup tajam. Saya lebih melihat sisi yang pertama karena apabila melihat Filipina sendiri, sepak bola bukanlah olah raga yang sangat populer di sana. Kepopuleran sepak bola kalah jauh dengan kepopuleran bola basket. Sedangkan di Indonesia, tidak diragukan lagi, sepak bola adalah olah raga yang paling populer di Indonesia. Lalu dari masalah komposisi pemain.
 
 Sepanjang sejarah sepak bola Indonesia yang saya ikuti, dari sekitar tahun 1998, Indonesia bisa bersinar di level Asia Tenggara tanpa bantuan pemain naturalisasi sekalipun. Namun, pada saat ini, bisa kita lihat, Indonesia membutuhkan beberapa pemain naturalisasi untuk bisa bersaing di level Asia Tenggara. Ini merupakan efek dari pembinaan pemain yang kurang baik. Nampaknya sekarang jarang sekali ada pemain asli, binaan sekolah sepak bola Indonesia yang namanya mencuat di level tim nasional. Bukannya meningkatkan fasilitas di dalam negeri, kita malah mengirimkan pemain-pemain muda kita untuk dikembangkan di luar negeri, seperti yang terjadi di Penarol Uruguay dan CS Visse Belgia. Mungkin ini merupakan langkah awal untuk memajukan sepak bola Indonesia. Namun, bukankah lebih baik apabila pendanaan lebih difokuskan kepada pembangunan fasilitas sekolah sepak bola dan klub lokal di Indonesia ? Apabila dicermati dengan lebih seksama, nampaknya, daripada mengirim talenta muda ke luar negeri, akan jauh lebih baik  mengasah talenta muda di dalam negeri. Mengasah talenta muda di dalam negeri berarti akan mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk ‘membentuk’ seorang pemain, juga memberikan kesempatan lebih banyak untuk anak-anak muda Indonesia.
 
Seringkali kualitas fisik orang Indonesia dijadikan alasan mengapa Indonesia tidak bisa bersaing di bidang olah raga sepak bola. Banyak pihak yang mencibir bahwa fisik orang Indonesia lebih cocok untuk bermain badminton. Bagi saya, itu adalah anggapan yang sudah usang. Kita bisa melihat, banyak pemain dari Asia yang mampu berlaga di level Eropa. Sebut saja Shinji Kagawa dari Manchester United. Kagawa yang bersinar di Borussia Dortmund ini memiliki tinggi badan setinggi 1.72 meter, sama dengan tinggi badan orang Indonesia pada umumnya. Namun, dengan teknik dan skill yang ia dapat dari klub lamanya, Cerezo Osaka dari Jepang, ia mampu bersinar langsung di musim pertamanya di Liga Jerman dengan mencetak 8 gol dari 18 pertandingan di Liga Jerman. Perlu diingat, ia hanya bermain 18 kali di musim pertamanya di Borussi Dortmund karena ia mengalami cedera ketika mewakili tim nasional Jepang. Di musim selanjutnya, ia menjadi player of the year di Liga Jerman dengan membukukan 13 gol dan 9 assist. Kisah Kagawa ini membuktikan, bahwa di sepak bola modern, fisik bukanlah segalanya. Seorang pemain yang bagus bisa dibentuk melalui teknik, skill dan visi permainan, ini semua bisa didapat melalui pembinaan yang baik.
 
Kekisruhan yang terjadi di sepak bola Indonesia, nampaknya agak sulit untuk dipisahkan dari politik. Sebagai olah raga populer yang digemari banyak orang, sepak bola tentunya menjadi suatu komoditas yang menarik untuk dikuasai. Inilah yang menimbulkan dualisme organisasi inti sepak bola Indonesia. PSSI dan KPSI. Kedua organisasi ini saling berkeras kepala, tidak mau mengalah, dan keduanya mengaku sebagai yang paling benar. Sebenarnya, saya sendiri malas mengikuti berita ini, tidak beda jauh dengan kisruh-kisruh politik lainnya, namun, yang saya perhatikan adalah dampaknya terhadap sepak bola Indonesia. Dualisme kompetisi ini memberi efek negatif terhadap sepak bola Indonesia. Entah itu kepada pemain, kepada penggemar sepak bola, bahkan langsung kepada citra Indonesia sebagai sebuah bangsa.
 
Para pemain tidak bisa membela negaranya, padahal, saya yakin, banyak pemain Indonesia yang menganggap bela negara adalah tugas negara yang tidak kalah pentingnya dengan perang secara militer. Selain itu, beberapa dari mereka pun dicap sebagai pemain yang bermain di liga illegal, mereka pun diancam oleh statuta FIFA. Begitu juga dengan para penggemar sepak bola. Dualisme kompetisi lokal mengakibatkan banyak klub yang terpecah. Ini membuat bingung para penggemar sepak bola lokal, klub mana yang sebaiknya mereka dukung ? Begitu juga ketika tim nasional bermain, saya yakin banyak dari mereka yang kecewa karena pemain idola mereka tidak bisa bermain di level tim nasional.  Ditambah lagi, ketika tidak semua pemain terbaik Indonesia bisa bermain untuk tim nasional, otomatis kekuatan Indonesia di level tim nasional akan menurun. Hasilnya ? 10 gol tak berbalas ke gawang Indonesia. Kekalahan terburuk sepanjang sejarah sepak bola negara ini. Tim nasional Indonesia bahkan dituduh ‘mengalah 10-0’ untuk meloloskan Bahrain ke fase berikutnya dalam kualifikasi piala dunia. Namun, jujur saja, saya melihat kekalahan 10-0 ini terjadi dengan tidak disengaja, dengan kata lain, inilah level sepak bola Indonesia di kancah Asia pada saat ini, inilah titik di mana sepak bola Indonesia berada di titik terendahnya, hancur karena ego ‘mereka-mereka’ yang hanya mementingkan kekuasaan.
 
Tulisan ini mewakili perasaan saya sebagai pecinta sepak bola Indonesia. Jujur, saya sangat berharap, cukup generasi saya sajalah yang mengalami keterpurukan ini, menanggung beban ini. Saya hanya bisa berdoa, semoga kekisruhan ini bisa segera berakhir, semoga ego dari ‘mereka-mereka’ ini bisa mencair, semoga ‘mereka-mereka’ ini sadar, bahwa banyak yang dirugikan hanya demi kekuasaan. Saya berdoa semoga generasi anak saya tidak harus mengalami rasa malu melihat negaranya, negara yang mencintai sepak bola, diluluhlantahkan tanpa ampun oleh negara lain dalam sepak bola. Namun saya percaya dan berdoa, bahwa suatu saat, mungkin cucu saya, atau cicit saya, atau anaknya cicit saya, bisa melihat orang-orang berseragam merah putih, dengan logo garuda di dadanya, dengan bangganya mengangkat piala yang dinamakan… PIALA DUNIA…
 
HIDUP SEPAK BOLA INDONESIA !
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: