Archive for December, 2013

h1

Bertanya Pada Waktu

December 31, 2013

Baru saja aku bertanya pada Sang Waktu

Hey bung, sebenarnya apa maumu ?

Ia menjawab dengan ringan

Tidak ada. Lagipula, aku ada karena kalian

 

Aku bingung, lalu aku kembali bertanya

Bukankah karenamu aku bimbang ?

Karenaku ? Haha, lucu kau manusia

Hanya mereka yang yang tak mengerti yang terkekang

 

Aku ini sebenarnya tak ada, tak nyata

Tak seperti kalian, berwujud, ter-raba

Aku tak tersentuh, tak terlihat, tak berasa

Aku ada karena kalian pikir aku ada

 

Tidak, kau bohong, tiap hari aku menunggu mati

Aku menunggu karena ada engkau, waktu

Kau bohong, karena tiap hari aku berlari

Aku berlari karena kau kejar, waktu

 

Hey manusia, kau ini sulit belajar

Aku ada tapi sebenarnya tak hidup

Aku ini sebenarnya diam tak berujar

Kau yang membuat aku hidup

 

Hah ? Kau gila ya, waktu ?

Tiap detik kau bertambah satu

Tiap jam kau bertambah satu

Tiap hari kau bertambah satu

Tiap bulan kau bertambah satu

Tiap tahun kau bertambah satu

Engkau berusia, engkau ada, waktu

 

Hahahahhahahaha siapa berujar begitu ?

Itu semua karanganmu saja, hanya imaji

Kau melihatku ada karena kau melihat matahari

Ketika ia muncul, maka  kau hitung sebagai satu aku

 

Ada juga kau yang melihat bulan

Ketika ia muncul, maka kau hitung sebagai satu aku

Itu semua kau sebut dengan tanggalan

Begitulah kau melihat aku

 

Aku hanya terdiam saja melihat Waktu berkata

Aku termenung, selama ini apa yang mengekangku ?

Aku bertanya lagi, Waktu, kalau bukan kau, lalu apa ?

Apa arti dari angka-angka yang berjejer di tembok itu ?

 

Angka yang berjejer di tembok itu hanya coretan

Coretan yang kau buat untuk mengenangku

Coretan yang kau buat, sekedar untuk ukuran

Ukuran untuk dirimu sendiri, bukan untuk aku

 

Aku tak terhitung, kau yang terhitung dan menghitung

Aku ada, hanya ada, kau yang mengada-ngada

Karena mengada-ada, seringkali kau berakhir buntung

Aku lebih dari sekedar hitungan yang ada

 

Kalau begitu, apa arti dari siang dan malam ?

Apa arti dari hari, bulan, tahun ?

Ah waktu, kau membuat pikiranku kelam

Yang seperti ini akan membuatku berpikir menahun

 

Hahaha, begitulah aku, sesuatu yang ada tapi tak tersentuh

Itu sikap golonganmu bukan ? Selalu mempertanyakan apa yang tak terlihat

Memaksakan diri agar dapat menyentuh

Kau tidak akan diam sampai engkau bisa melihat

 

Banyak darimu yang kesal denganku

Mereka berimaji bahwa mereka bisa membengkokkanku

Imaji hanyalah imaji, tak akan sampai kau ke situ

Itu hanyalah tanda dari ketidakberdayaanmu di hadapan aku

 

Aku kehabisan kata-kata, lalu berpikir, walau tak sampai

Aku bertanya lagi, seagung itukah engkau waktu ?

 

Penciptamu saja bersumpah demi aku

Sesamamu menghargai aku dengan emas

Apa tidak terpikir olehmu betapa agungnya aku ?

Cobalah kau pikir lebih keras

 

Aku menyerah waktu

Tolong jawab aku;

Jika begitu, apa yang selama ini aku tahu ?

Kalau ternyata itu bukan engkau waktu ?

 

Aku hanyalah waktu, bukan Penciptamu

Aku tidak memiliki segala jawaban

Tapi sebenarnya kau tahu itu jawaban

Satu pesanku, jangan paksakan kuasamu padaku

 

Setelah itu aku terbangun, ternyata aku bermimpi

Mimpi yang aneh, sembari melihat ke layar handphone ku,

Ternyata tertulis di situ, Satu Januari

Ah, ternyata sudah masuk tahun baru !

 

Lalu sang waktu pun kembali tertawa

 

Iseng-iseng coba bikin puisi panjang seperti ini. Ternyata seru juga. Isinya agak sedikit mengarang bebas, tapi yah, coba diresapi lah. Ceritanya mau sok-sokan filosofis tentang bagaimana manusia ‘menghargai’ waktu, menghargai dalam berbagai maknanya. Selamat membaca, semoga bisa jadi renungan yang asyik buat apa yang kalian sebut dengan Tahun Baru. Selamat bagi yang merayakan ya !

h1

Preview

December 31, 2013

Sebenarnya saya tidak terlalu hirau dengan tahun baru. Hanya saja, tahun ini, kebetulan tahun baru bertepatan dengan suatu fase hidup baru yang akan saya lewati. Iya, setelah (akhirnyaaaahhhh) diterima di Universitas Indonesia, sepertinya saya akan melanjutkan studi saya di kampus UI di Depok, yang berarti, untuk sementara, setidaknya untuk 2 tahun, saya akan meninggalkan Bandung. Berat sih, tapi ya sudahlah, memang saya ingin demikian.

Bagi saya, a new year, new me, tidak berlaku. Karena saya tetap saja saya. Saya tidak mau berubah hanya karena tahun berganti. Tahun itu Cuma penanda waktu saja kok. Ia hanya alat bantu untuk manusia. Ia hanya berfungsi untuk mengukur batas kemampuan manusia.  Saya mau berubah, hanya ketika saya ingin atau harus. Ketika saya ingin berubah, detik itu saya berubah, tidak usah menunggu tahun depan.

Karena itu, saya akan coba tulis tentang target saya di tempat baru nanti. Entah kenapa saya malas menjelaskan satu persatu, jadi saya buat daftarnya saja:

  1. Kuliah yang rajin. (harus)
  2. Tugas paper kerjakan seunik dan sebagus mungkin. (supaya ilmu dari dosen-dosen terdahulu tidak percuma)
  3. Lebih sering bersosialisasi. (supaya tidak keseringan di rumah)
  4. Main ke theater JKT48 (gak harus rajin sih, tapi harus laaah main ke sana kalau sudah di Jakarta mah).
  5. Mengurangi idoling. (cukup AKBingo sama lagu saja sepertinya)
  6. Mengurangi begadang. (hanya begadang di atas jam 12 ketika ada pertandingan bola yang benar-benar seru saja)
  7. Asah kemampuan menulis dan memasak. (blogging sama masak, kebetulan di dekat rumah di Jakarta ada Ranch Market, banyak bahan masakan aneh di sana)
  8. Menabung, lalu beli PS4. (Kingdom Hearts 3, MGS V, ini sih tidak bisa diganggu gugat)

Sepertinya itu saja sih. Tidak usah muluk-muluk. Sebenarnya ada satu lagi, tapi saya tidak mau nge-jinx yang satu itu, jalani saja lah.

Begitu saja ah, postingan pendek saja kali ini. Tolong amini yaaa yang bacaaa, Insya Allah saya juga amini keinginan kalian di 2014 (bagi yang masih menganggap tahun baru itu titik balik), selama keinginan itu baik adanya :D.

h1

Football Stadiums: The Battling Grounds

December 30, 2013

As a football fans, it is everybody’s dream to visit their favorite team’s home stadium. For me, San Siro of AC Milan, Goodison Park of Everton, and Camp Nou of FC Barcelona, can be considered as places I really want to visit someday. I don’t want to state the obvious, so, I want to tell you stories about these amazing stadiums that I want to visit. Amazingly, they’re not my favorite team home base, even one of them is the stadium of my favorite team’s rival. I’ve thrown away my blind fanatism in football two years ago, so, if there’s any opportunity to visit these stadiums before I can visit the forementioned stadiums, I don’t mind, I’ll go.

For a football fan, stadium is a sacred ground. It is a battling place, a colosseum if I may, it is a place where two teams fight against each other in order to achieve glory. For me, there are two aspects of a stadium that made me want to visit them. First, the construction. Construction of a stadium is one of the most important thing to judge. It is what the UEFA use to judge how many stars can be given to the stadium rating. Second, the crowd. An intimidating crowd could be an awesome experience for any football lovers, as long as they are watching a neutral game. Gelora Bung Karno of Indonesia have it. I’ve been there once or twice when the national team is playing. It was awesome. The cheers for the home team and the jeers for the away team is just mindblowing. I still shiver when I remember a match against Thailand few years ago. Oh, and also, some stadium have unique way to engage the home supporter to do something awesome. Like FC Barcelona’s fan who did a coreography of Catalan flag in Camp Nou a few months ago.

Based on the construction and the crowd, here are 5 stadiums I really want to visit (putting San Siro, Goodison Park and Camp Nou apart of course).

1. Donbass Arena, Donetsk, Ukraine. The Home of Shakhtar Donetsk.

donbass arena

Dubbed as the Mighty Donbass Arena by EA Sports’ FIFA 14, Donbass Arena is an enormous stadium standing in the city of Donbask, Ukraine. Rated as one of the category 4 stadium in Eastern Europe, Donbass Arena can hold up to 52,000 spectators. This beautiful stadium shaped like a flying saucer, is also a popular nightlife spot in Ukraine. I’m not interested in nightlife, but at night, the stadium emits beautiful lights at night. Certainly worth a visit.

donbass 2

2. Westfalenstadium aka Signal Iduna Park, Dortmund, Germany. The Home of Borussia Dortmund

wesfalen

Voted as the best stadium by Times Magazine UK, the now renamed (as Signal Iduna Park) Westfalenstadium is one of the greatest wonder in European football. With 80,000+ capacity, it is one of the –if not the- biggest stadium in German, and Europe as well. With the unique pylons outside the corner of the stadium which makes the stadium looks like a giant alien spider, it become one of the most renowned stadium in the world. Emitting as a new power in European football, Borussia Dortmund is well-known by the unique characteristic of their hard loving fans. If you want to see a magical work by the stadium committee and the fans, this stadium is a must.

Borussia Dortmund v Malaga - UEFA Champions League Quarter Final

3. Kobe City Misaki Park Stadium aka Kobe Wing Stadium, Kobe, Japan. The Home of Vissel Kobe

Kobe_A

Kobe were once devastated by the great earthquake of 1995. To rebuild the spirit of the people, the stadium were built, and nicknamed as ‘Wing Stadium’ to give hope to the people of Kobe. With the capacity of 42,000 spectators, it is one of the biggest stadium in Japan. What makes this stadium unique is the roof that can be removed, depending on the situation. It is a modern stadium build to be suited in many kinds of weather hazard. I remember watching the stadium review when it was featured on the stadium profile in 2002 World Cup, I stare in awe when the retractable roof is closing in case of snow or heavy rain. As someone who is insanely interested in robot, this stadium is a candy to the eye.

kobe 2

4. San Paolo Stadium, Naples, Italy. The Home of SSC Napoli

san paolo 2

Dubbed as one of the most intimidating ground in Italy by the Bleachers, The San Paolo Stadium is the home for SSC Napoli, one of the most succesful club in Italy. With a capacity around 60,000 people, filled with obnoxious chant, it is clearly one of the loudest stadium in Europe. It is not easy to play in front of people when they jeered at you everytime you got the ball, even everytime you do something nice, and that’s what happen in San Paolo when you play as the away team. For me, it is always interesting to observe football fans. In San Paolo, I might see something called ‘Urban Tribalism’ as a part of a modern society. While screaming for the home team,  being the part of the tribalism itself, it is the greatest method of research I can think of.

tifosi_bologna-napoli

5. Arena AufSchalke aka Veltins Arena, Gelsenkirchen, Germany. The Home of Schalke 04

veltins 2

Simply the most advanced stadium in this list. The Veltins Arena have everything to be called ‘a modern stadium’. Retractable roof (like the one in Kobe Wing), a 25 meters GIGA SCREEN in the middle of the stadium, and the most awesome feature, a slide out pitch that can be switched out depending on the situation. The slide out pitch means, it can change the grass part of the stadium into another structure, so it can be used as another occasion like concert, without damaging the grass. Awesome ? Wait until you hear that there is a catering service INSIDE the stadium, make it possible to drink beer, eat pizza, sausages, and pretzels, inside the stadium. Watching football while eating pizza, sausages, and pretzels ? I’d do that every weekend.

veltins9

I’m looking forward visiting these stadiums, I don’t know when, but I think I can make it someday. I have to. Along with the San Siro, Goodison Park and Camp Nou trio. And Mecca. And Greece. And Japan, again. Geez, I always hope that Doreamon is exist with his doko de mo doa, or pintu ke mana saja.. well.. I guess that’s it for this post. Hope you’ll enjoy it.

h1

Sakaguchi-san

December 30, 2013

It was the 15th of May. I remembered. Why did I remember ? Because it was the day I celebrated my manager’s birthday at the office, also the day I’ve seen something I should never have. No, it is not I should never have. It is something ANY HUMAN should never seen.

I’ve been living in Tokyo for 2 years. I work at a Japanese company which requires me to work overseas here. No worries, since I really want to leave my country, I don’t like it, at least for now. Tokyo is a very big city, so many districts here, but it is easy to reach into one another, by riding the train, you can always reach any part of the city. It is the city’s and my main mode of transportation.

I ride train everyday from and to work. My apartment is 10 minutes walk from the apartment, and my office is located in front of the train station. It is really easy to get by. That’s how my life is everyday. Waking up, getting ready, walk up to the train station, work, get the train back, walk up to the apartment. It happened everyday. Is it boring ? no. It is what I want. I don’t really like socializing. So I guess, my daily routines are perfectly fine with me.

But in May the 15th, it was different. A very different day. We got this new manager in the office. His name is Jiro, he was transferred from the Osaka bench of our office 6 months ago. A very humble and friendly man, although sometimes he’s outloud, typical Kansai-jin (people from Kansai). It is his birthday on the May 15th. He decided to take everyone to this small restaurant near the office, around Ginza. I know that it is a Japanese tradition to drink beer or sake when celebrating someone’s birthday, especially, for salaryman like us, it is a very normal thing to drunk it out after hour. But then again, this Jiro-san is special. He said to me that I don’t have to drink beer or sake, because he knows that I have problem with my liver, just drink juice or milk he said, but remember to join in the food fiesta. Well, that’s an offer I can’t turn down.

Everybody was drinking and staying up late. The restaurant close at 1 am. It is 12 now, time to go back home. Riding train is impossible, it is past the time, so taxis are the only viable option. Since I am the only one that doesn’t get drunk, I have the responsibility to take care of my co-workers, telling the taxi drivers to take them home safe. Okay, no problem, it is fine being nice right ?

Time for me to go home. My taxi driver tonight is Sakaguchi-san. He’s like in his 50s, around the same age with my dad. According to my calculation, he was born at the 60s, so maybe his childhood is pretty awesome, since it was around the time when the Japanese Post-war Economic Miracle happened, I decided to talk to him about his childhood. I was wrong. It was a fatal mistake for me. Turned out, Sakaguchi-san grown up in a small village, where he saw something that he will never forget as a child. I was going to have a casual talk with him, insteaaaddddd, he told me a story about an Onryo, a vengeful spirit that haunts his village. Oh, and it is Thursday, and according to the believe back in my place, Thursday night is when the spiritual things is at peak. It is no wonder if you see something astral in Thursday night. Why did I have to remember that now ? Not cool.

Sakaguchi-san told me that there was a murdered young, beautiful widow in his village. It was never known who did the murder, but it was said the crazy ex-husband did it to her. She was beaten up to death, nobody can even recognize her face anymore. The only thing that makes people know it was her is a long scar around her arm. Scar made by the same crazy man. After the incident, the village lost its peace. It is a small village near the Kawaguchi lake. For almost every night, people heard a cry for help. But everyone know that it is the ghost of the widow, so nobody dare to take a peak.

One day, Sakaguchi-san who was 13 years old that time, heard the cry for help. It was different. He was sure that it was a different voice, accompanied with a sound of clattering stones. He wants to peek outside, but his parents didn’t let him. You don’t simply see the eyes of the dead said the parents.  So then he went to sleep. Next day, everyone was surprised, as there were a dead body found in front of Sakaguchi-san’s house. It was not the widow that cried for help. It was another victim, bludgeoned to death. Sakaguchi-san and other villagers was surprised. It was yet another victim. The crazy ex-husband, who was detained and chained in the village lock up is still there. No sign of him ran away or something. When the people questioned him, he only laughed and pointed at Sakaguchi-san.

Sakaguchi-san was so stressed. He blamed his parents for not letting him open the window, so the women bludgeoned to death might still be saved. Sakaguchi-san said he was still haunted with the sound of the bludgeoned stone, the cry for help, and the blood in the next day. I try to calm him down, since he seems to get very tensed, and it still needs like 20 minutes by car to reach my apartment. It would be stupid for me to stop in the way and try to find another taxi, it is god damned 12.40.

I tried to lighten up the situation by telling Sakaguchi-san the story back at my hometown, about how awesome my hometown was, but he didn’t listen.  It seems that he has been consumed by his own fear. Damn, this is the first time I’ve ever seen something like this. It was a cold silence after I stop telling the story. I use my phone to tweet ‘well, this is so goddamn awkward, help me guys, tell me a funny story, I’m stucked in awkward silent with my cab driver’.  No one replies. Of course, it is almost 3 am back at home. No one awakes. Well, I guess have to cope with this silent, it is only 15 minutes to go anyway. Suddenly, BAM ! A very loud voice like a stone hit the front of the car. Oh crap. What now ? Yakuza ? Bousozoku ? But it is all silent and dark, nobody around.

Sakaguchi-san stopped his taxi. Get out to check what happened outside. Again, another fucked up moment for me, ‘trapped’ alone inside the taxi at night, in a foreign country. Fuck this shit. Suddenly, with a shaking hand, Sakaguchi-san open the driver door and show me something, something that I will never forget in my entire life. A round, big stone, full of fresh blood. I was like, yoooo what the fuuucckkkkk ?? and Sakaguchi-san with a trembling voice said: “it’s here, it’s her, she’s here, it’s her, it’s her”. WHAATT ?? Is this the speak of the devil kind of situation ? Insted it is speak of the Onryo, ah no, that kind of joke is not funny anymore, the blood was real.

I stay there, frozen on my seat. Oh no. There’s a woman in front of the car. She’s beautiful. Wearing a stylish kimono. But no, I’m pretty sure she’s not human. It is too weird. And I was right. She isn’t. There’s bloods dripping from her forehead, which she pointed. She looks at Sakaguchi-san, pointing her left hand at her forehead, and pointing the right hand at…. me. WHAT ? She wants me to be bludgeoned to death ? HEYYYY I JUST CAME HERE 2 YEARS AGO. I DON’T EVEN KNOW YOU. But I guess I know you for like 20 minutes ago from Sakaguchi-san’s story. In a soft, but not warming, voice she whispered, so loud that I can hear her “Kill him, and you’ll be free”. So, now I’m gonna bludgeoned to death by a cab driver ? no shit, Sherlock. I plead to Sakaguchi-san, “hey Sakaguchi-san, stop ! what are you thinking ? she’s not even real !” but he wouldn’t listen, he walked up to his door panel, opened the key to the back rear door, and come up to me. I don’t know where to go, his left hand started to grab me, and his right hand, is holding the stone wallowed with fresh bloods, with all my strengths , I kicked him, and he fell on the asphalt. I don’t know how I did that, I never have any lesson in martial arts. But heck, I can run now, so I ran.

Run fast, run far. Run past the woman in kimono. I finally bumped into a patrolling police. I don’t know what they did this late. I told them the story and they’re just smiling, and willing to take me to my apartment with their patrol car. I’m saved. In the road, they said “ah, so you meet Sakaguchi-san ? you’re one unlucky person. Sakaguchi-san is a delusional taxi driver who always told this haunted story, and tries to beat people to die. He’s somewhat like an urban legend here”. I was so surprised that they told me in a normal tone, just like something that used to happen, but I guess that is. “Why didn’t you all catch him ?” I said.  They laughed, “how can we catch a ghost ?”. I replied in fury “HOW THE HELL DID I GET HERE FROM GINZA ? FUCKING RUNNING ?”. The police suddenly stop talking and smiling. “sir, you’ve just had one hell of a day, just get it off your head, take a warm bath, and go to sleep, and maybe, call in for sick tomorrow, I don’t think you can go to the office tomorrow with that state  of mind”. Ck, easy for you to say. But I guess I’ll do that.

I thanked the police officer half heartedly, and then I went straight to my room. In the way, the security look at me with a weird look. I don’t know, maybe I looked like someone who just finished a marathon run at night. In the bathroom, I turned out the light, take off my shirt, and I realized there were blood all over my shirt. No kidding. It was real. Sakaguchi-san was real. I almost killed by him. Why, what ? I throw my shirt into the washing basket, wishing it is just a nightmare. I ran to my futon, I slept, and hoping I can wake up early so I can call in for sick.

I did wake up early, and call in for sick. In the end of the phone, this conversation happened:

Me: Hello, this is employee number 1293 reporting in for sick. I think I got flu, I need some more rest, but I’ll be back at Monday if it’s fine with you, oh yeah, and I am under Jiro-san.

Re:  Okay, we received your report to call in sick, get well soon, 1293.

Okay that was fast. I decided to take another sleep. I woke up at 11 am. It was a great sleep, I’m fine, but then I remember the bloody shirt. I checked my bathroom, it’s still there. I decided to burn the shirt. It might be, oh, no, it must be cursed. I think I’ll go to my friend’s house to burn it at his yard. On the way out of my apartment, I met the security who’s seems to just get off from his shift. He asked me about the bloody shirt, and I told him the Sakaguchi-san story, I don’t care if he thinks I am nuts, I am a foreigner anyway. Instead of seeing me as a crazy person, he grab my shoulder and told me something. Something that makes me want to go home to my country. Turned out, Sakaguchi-san is real. He’s a delusional serial killer who disguised as many things, sometimes a taxi driver, another times a police in a patrol car, and anything. He was famous like 3-4 years ago, long before I came to Japan. He is very smart, the police can’t catch him until now. I guess that is why the police office didn’t want to talk about him. Legends said he was haunted by the ghost of a young woman he didn’t save back there in his village. Nobody believe at the story, it is just an excuse for a lunatic serial killer. Nobody believe at the story, but me. I. Saw. The. Woman. In. The. Kimono.

Glossaries 

Bousozoku: Typical Japanese Motorcycle gang.

Kansai-jin: People from Kansai, the Western Region of Japan.

Kimono: Japanese traditional wear.

Onryo: Unrest spirit longing for vengeance after a bad deeds happened to them on their previous life.

Salaryman: Typical Japanese white-collar worker.

Yakuza: Japanese mafia like crime organization

Endnote

I think it would be interesting if I spice up my blog a little bit. A ghost story perhaps ?. I wrote my first ghost story in English, because I rarely read a ghost story in Indonesian. In Indonesian, I always think that a ghost story sounds a little bit peculiar. So I wrote it in English. It is a short story with many grammatical errors in the writing. But, as long as the story can be communicated, It is not any problem right ? Enjoy 😀

Anyway this is pure fictional. There’s no real Sakaguchi-san back there in Japan. There is no story about it also. I think it is cool (and surprisingly fun) to make my own version of urban legend.

 

h1

The Cold World In the ‘Time Machine’

December 29, 2013

Staring into the cold, unspeaking wall

Waiting for the moon to make its call

Oh dear lovers, haven’t you thought about the doubt ?

Have you ever heard, about the loner who shout ?

On how love, turning words into verses

On how love, turning prayers into curses

 

Like an army of ants, crawl out their lair

it came with no warning

Like a snake, watching it’s prey, glare

It sparks the nauseated feeling

Like a promise to be broken

Like a hope to be weaken

 

The wall is still not speaking

The moon still sit in her throne

Just like this feeling I’m faking

Crackling my own bone like a clown

 

Standing mighty the world will be

Burried down me under the sea

For like there is no tomorrow

Only dark air embrace the sorrow

h1

Brian Clough: Über-fucking-Alles

December 29, 2013

Kali ini, saya mau mencoba menulis tentang seorang tokoh. Pendek saja. Dikemas dalam 2000 kata, mungkin kurang, atau mungkin lebih. Sebenarnya 2000 kata tidaklah cukup untuk menggambarkan kehebatan orang ini. Film mini biopic tentang sebuah fase di mana ia gagal saja membutuhkan waktu 1 jam setengah untuk ditayangkan dengan se-detail dan seringkas mungkin. Saya akan coba membahas beliau dari sisi beliau sebagai seorang manajer sepak bola yang luar biasa, juga beliau sebagai manusia unik yang selalu berkata jujur, apa adanya. Jujur dalam artian jujur yang belepotan. Jujur di mana ia tak ragu melepas ‘topeng’ etika ketika ia berbicara kepada publik.

Untuk pemilihan judul saja, saya bingung. Ada 3 judul yang muncul di benak saya ketika akan menulis tentang beliau. Oh ya, saya belum menyebutkan namanya ya ? Namanya Brian Clough, siapa dia anda akan tahu setelah anda berhenti membaca pada titik terakhir di tulisan ini. Ok, kembali ke pemilihan judul. 3 judul tersebut adalah: Brian Clough; Uber-fucking-alles, ini diambil dari kata-kata beliau di dalam film mini-biopic the Damned United, di mana ia diperankan oleh Michael Sheen dengan sangat luar biasa. Kata-kata ini keluar ketika ia diragukan oleh jajaran direksi Leeds United, pada saat ia mengambil alih jabatan manajer yang ditinggal oleh Don Revie –manajer Leeds sebelumnya yang sangat sukses-. Uber Alles sendiri artinya diatas segalanya, dalam Bahasa Jerman. Kata fucking di sini digunakan sebagai sebuah adjektif yang menekankan bagaimana tingginya kepercayaan dirinya.

Judul kedua adalah Brian Clough; The Greatest Manager England Never Had. Ini diambil dari perjalanan hidup Clough di mana ia tidak pernah sekalipun ditunjuk oleh Football Asociation (FA, PSSInya Inggris) sebagai manajer tim nasional Inggris. Konon, FA tidak pernah menunjuk Clough sebagai manajer karena tingkahnya yang kontroversial, dan selalu blak-blakan. Sepertinya FA tidak mau ambil resiko apabila suatu saat tiba-tiba Clough mengata-ngatai tim nasional Perancis sebagai tukang kabur jika Ingris kalah dari Perancis dengan skor tipis –referensi kepada tentara Perancis yang kabur dari lawan di Perang Dunia Pertama-. Sedangkan judul ketiga, sederhana saja, Brian Clough. Pada akhirnya saya mengambil Uber-fucking-Alles, karena saya akan bercerita tentang bagaimana hebatnya Clough. Bagaimana ia –dalam beberapa- hal, memang diatas siapapun, diatas segalanya mungkin.

Brian Clough,  lahir di Grove Hill, Middlesbrough, Yorkshire adalah mantan penyerang dari tim sepak bola  Sunderland dan Middlesbrough yang meraih puncak karirnya ketika ia sudah pensiun menjadi pemain. Ia sukses ketika sudah menjadi manajer. Mungkin banyak yang tidak mengetahui siapa itu Brian Clough. Wajar. Saya sendiri baru mengenalnya dengan lebih dekat ketika saya menonton film the Damned United. Tak apalah, tak ada kata terlambat, bahkan untuk mengenal seseorang. Mungkin pada masa sekarang, nama Brian Clough kalah tenar dengan nama-nama seperti Jose Mourinho, Pep Guardiola, Fabio Capello, atau bahkan oleh Andres Villas Boas dan Massimiliano ‘DAI DAI DAI’ Allegri. Namun, tahukah anda, kalau Brian Clough adalah satu dari sedikit manajer yang berhasil meraih back to back dalam European Cup (yang nantinya menjadi UEFA Champions League, kompetisi antarklub paling bergengsi di dunia) ? Dan ia memenangkannya, dengan tim yang baru 2 musim saja berkompetisi di divisi utama liganya. Oh iya, Clough juga membawa Derby County menjadi juara divisi utama Liga Inggris, langsung setelah mereka promosi dari kasta kedua Liga Inggris.

Brian Clough adalah seorang manajer yang memiliki metode unik dalam mengatur timnya. Ia jauh dari pakem-pakem tradisional dalam mengatur tim. Ketika banyak manajer dan tim yang acuh saja terhadap pemain-pemainnya (seperti Real Madrid yang menelantarkan Samuel Eto’o di bandara di hari kedatangannya), Clough berbeda. Ia peduli terhadap pemain-pemainnya. Bahkan terhadap masalah mereka, seperti alkoholisme atau judi. Ketika manajer lain menekankan ‘kalian harus menang di pertandingan besok !’, Clough malah mengajak pemain-pemainnya minum, walaupun tidak hingga mabuk, sehingga mereka lebih tenang dan dapat bermain tanpa beban. Ingat, ketika dibawah tekanan, manusia tidak akan bisa berusaha sepenuh tenaga; dan yang terakhir, tetap profesional. Walaupun di luar waktu latihan Clough sepertinya bisa menjadi seseorang yang bertindak seperti kakak atau teman, namun di waktu latihan, Clough sepertinya memegang teguh prinsip dari Machiavelli –seorang filsuf dari Italia- tentang bagaimana pemimpin lebih baik ditakuti daripada dicintai, karena rasa takut akan memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan rasa cinta, akan membuat seseorang melakukan sesuatu atas dasar sukarela. Ketika ada pemain yang tidak setuju dengan pendapatnya, maka ia akan menghabiskan 20 menit berbicara dengan pemain tersebut, lalu memutuskan bahwa dirinya lah yang benar. Hahahaha.

Brian Clough (dan asisten sejatinya, Peter Taylor) adalah seorang jenius dalam membeli pemain. Dalam sebuah wawancara, ia berkata ‘Great managers make good signings. It is not the good signings make the good manager’. Clough dan Taylor pun memiliki beberapa tips and trick dalam memilih pemain. Tips-tips ini dimuat di dalam buku Soccernomics karangan Simon Kuper dan Stefan Szymmanski.

  1. Menjual pemain di saat yang tepat.
  2. Pemain yang berusia lebih tua, seringkali dinilai terlalu tinggi
  3. Beli pemain yang bermasalah dengan harga diskon, lalu selesaikan masalah mereka.

Brian Clough dan Peter Taylor berpendapat, bahwa selain membeli pemain, sebuah klub juga harus aktif menjual pemain. Seorang manajer harus tahu kapan mereka harus menjual pemain mereka. Manajer harus tahu di titik mana pemain tersebut ada di puncak kariernya, dan di titik mana juga ia akan mulai menurun. Di titik puncak, tepat sebelum kemampuan pemain itu menurun lah, waktu yang tepat untuk menjual pemain. Ini prinsip ekonomi. Jual semahal mungkin di saat yang setepat mungkin. Seperti main saham lah.

Brian Clough dan Peter Taylor juga berpendapat, kalau pemain yang lebih tua, kadangkala dinilai terlalu tinggi, bahasa kerennya, overrated. Seorang pemain, sehebat apapun dia, akan menemui titik di mana kualitasnya akan terus menurun. Rata-rata patokannya adalah usia. Brian Clough menilai, di usia 30an tahunlah pemain akan mulai menurun.  Namun, itu bisa ditarik secara posisi dan gaya bermain. Penyerang cenderung mulai menurun di usia 27an tahun, sedangkan pemain tengah 30an, pemain bertahan 32an, dan kiper, bisa sampai 35-40 tahunan. Coba lihat kasus Fernando Torres. Liverpool mengaplikasikan poin nomor 1 dan 2 dari Clough dan Taylor dalam menjual Torres. Torres yang waktu itu kemampuannya menurun jauh, berhasil dijual oleh Liverpool ke Chelsea dengan harga 50 juta Pounds. Torres pada saat itu memang sedang jago-jagonya, namun setelah pindah ke Chelsea, keganasannya langsung turun drastis. Itu karena Torres sudah melewati masa puncaknya. Sebuah keputusan brilian dari Liverpool.

Brian Clough dan Peter Taylor, pada ‘teori’nya yang terakhir, beli murah pemain yang bermasalah. Clough dan Taylor adalah orang yang bermasalah.  Clough pemabuk. Taylor pejudi. Mereka mampu mengerti masalah pribadi seorang pemain. Mungkin tidak semua pemain mau terbuka, tapi ya begitulah semestinya. Ketika mereka terbuka, masalah mereka akan bisa diselesaikan. Ketika masalah mereka selesai, maka mereka akan menjadi seseorang yang lebih hebat daripada mereka sendiri ketika bermasalah. Contohnya di sepak bola modern adalah Zlatan Ibrahimovic. Ibra, seorang yang ultra-egois, tidak bahagia di FC Barcelona. Ia tidak bisa bermain dengan Messi sebagai titik sentral permainan. Ibra adalah seseorang yang suka dengan lampu sorot. Ia harus menjadi kepala naga di tubuh naga. Ia ingin menjadi ujung tombak yang tersohor. Semua hal tentang Ibra itu, bagi FC Barcelona dibaca seperti ini: masalah, masalah, masalah, dan masalah, mengapa ? Karena bagi FC Barcelona, kerja sama dan keutuhan tim adalah hal yang paling penting. Pemain seperti Ibra lah yang akan mengacak-ngacak harmoni tim. Di sinilah Adriano Galliani dari AC Milan dengan jeli melihat masalah yang dialami Ibra. Dengan kemampuan negosiasi yang mumpuni, ia mendatangkan Ibra ke Milan dengan harga hanya sepertiga dari harga transfer Ibra ke Barcelona. Hasilnya ? Pencetak gol terbanyak di Serie A, dan sebuah scudetto, dan di penghujungnya, sebuah transfer dengan harga yang fantastis ke Paris Saint Germain. Brian Clough adalah orang yang hidup dan berkarya di tahun 70an, namun apa yang ia lakukan di masa itu, adalah acuan untuk orang yang hidup di masa ini. Seperti guru mungkin. Atau panutan.

Brian Clough memiliki keistimewaan lain selain gaya manajemennya yang agak nyeleneh tadi. Ia adalah seseorang yang tidak ragu untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya tanpa takut menyinggung orang lain. Oh tidak, ia bahkan mengejek orang lain yang baginya memang pantas diejek. Sampai-sampai Muhammad Ali, si petinju dengan mulut seperti tempat sampah, sempat ‘marah’ pada Clough, dan berkata kurang lebih seperti ini dalam sebuah wawancara: Some fella in London, England named, some Brian… Brian Clough. I heard all the way in America that this fella talks too much. They say he’s another Mohammed Ali. There’s just one Mohammed Ali. Now, Clough, I’ve had enough. Stop it’, dan Ali, adalah orang yang menyebut lawannya dengan sebutan si Beruang Jelek yang ketika kalah akan disumbangkan ke kebun binatang (Sonny Liston).

Brian Clough adalah seseorang yang jujur, dan sepertinya, memang sudah kodratnya orang jujur untuk terdepak dari masyarakat (?). Ini bicara pahit sih, mungkin memang saat ini banyak yang melihat Clough sebagai sosok yang istimewa karena ia berani jujur (termasuk saya), namun pada masanya, kejujurannya yang blak-blakan seperti ini membuatnya tidak pernah dapat tawaran dari FA untuk menjadi manajer tim nasional Inggris –sebuah jabatan dan cita-cita tertinggi bagi seorang manajer-. Ketika di Derby, ia ‘diusir’ oleh direksi Derby karena ia mengkritik keputusan direksi Derby yang memaksanya untuk memainkan ‘tim lapis dua’ ketika ia harus menghadapi seteru abadinya, Leeds United dengan Don Revie sebagai manajer. Ketika di Leeds pun demikian. Setelah ia selalu memaki-maki Don Revie, hanya karena masalah sepele sebenarnya, ia tidak diajak berjabat tangan ketika Leeds United bertandang ke Derby County, ia menjadi anti-Leeds. Uniknya, setelah menjadi anti-Leeds, ia menerima tawaran dari Leeds sendiri. Yang saya lihat, ia tak sabar untuk kembali berkompetisi di Eropa. Namun, ia menuai apa yang sudah ia tebar. Kebencian yang ia tebar kepada Leeds, balik menghajarnya ketika pemain Leeds tidak mau bekerja sama dengannya yang sudah mengejek cara bermain Leeds yang terlalu kasar.

Brian Clough, sehebat apapun, pada akhirnya hanyalah manusia biasa. Mungkin manusia biasa yang agak sedikit istimewa. Eh tapi bukan dia saja. Kamu-kamu yang baca blog ini juga istimewa kok J. Eh iya, kenapa Clough hanya manusia biasa ? Ada sebuah kisah unik ketika ia melatih Derby County. Ini berhubungan dengan obsesinya yang tidak sehat dengan Don Revie kelak. Ketika Leeds, di kala itu juara divisi utama Liga Inggris, datang ke klub antah-berantah, Derby County, waktu itu ada di papan bawah divisi kedua Liga Inggris, (menurut versi the Damned United) Clough dengan membersihkan kandang Derby dengan sepenuh hati. Ia ingin menyambut Leeds dengan sebaik-baiknya. Ia mengidolakan Don Revie. Terobsesi. Ia berteriak kegirangan ketika Derby harus berhadapan dengan Leeds di Piala FA. Namun, apa yang ia bayangkan tidak seindah apa yang terjadi. Don Revie yang tidak tahu bahwa Clough adalah manajer utama Derby –yang bagi saya sangat wajar, mengingat teknologi informasi di masa itu tidaklah secanggih sekarang-, melewati Clough yang ingin berjabat tangan. Pada akhir pertandingan pun demikian. Ia melewati Clough yang sedang duduk di dugout, dan hanya menjabat tangan Peter Taylor saja. Clough geram. Eluan menjadi kecaman dan cinta pun menjadi benci. Ia menjadi terobsesi dengan Don Revie, dan seperti sudah disebutkan pada paragraf sebelumnya, kebencian inilah yang membuatnya gagal menangani Leeds United, klub terbesar Inggris di masa itu.

Brian Clough mungkin memang sosok manajer yang ideal. Tentunya, tidak ada sosok manajer yang benar-benar ideal. Semua punya kekurangan. Yang membedakan Clough, mungkin kekurangannya hanya sedikit. Sebagai manajer, mungkin, apabila ia bisa mengatur emoisnya, ia bisa menjadi lebih sukses. Mungkin ia akan menjabat sebagai manajer tim nasional Inggris yang mungkin saja menjadi juara dunia di masanya, menambahkan satu bintang di atas logo the Three Lions. Namun, sebagai sosok manusia, bagi saya keberanian Clough dalam melepas ‘topeng’ yang ia kenakan, haruslah diacungi jempol. Karena itu juga saya menulis tentang dia.

Brian Clough. Legenda. Middlesbrough. Derby County. Nothingham Forrest. Mungkin tidak akan pernah ada lagi manajer yang seperti dia. Mari kita nikmati bersama peninggalan-peninggalannya sebagai seorang legenda.

You really are, über-fucking-alles, Brian.

”I want no epitaphs of profound history and all that type of thing. I contributed. I would hope they would say that, and I would hope somebody liked me.”

Brian Clough.

clough

h1

Topeng

December 28, 2013

Kali ini mau coba menulis sakumaha aing ah, sebelum lanjut ke part terakhir trilogi HI yang bakal dipost pada tanggal 3 Januari, tepat 1 tahunan saya sidang (sebenarnya sih tulisannya udah beres). Mari coba kita bahas tentang topeng. Kenapa tentang topeng ? yah, saya terobsesi sih dengan benda yang satu ini. Setiap ada orang yang mau pergi ke mana gitu, selalu saya titipin benda yang satu ini. Koleksi saya sudah lumayan banyak, dari topeng Darth Vader, Clonetrooper, Slipknot, Topeng Jawa, Topeng Festival Venesia, Topeng Barong, Topeng Thailand, Topeng Tengu, banyak lah. Kenapa saya terobsesi dengan topeng ? Silahkan menikmati pencaritahuan anda dengan membaca tulisan ini.

Topeng. Saya sebenarnya sudah lama sekali tertarik dengan benda ini. Benda ini unik. Mungkin awal ketertarikan saya dimulai dari masa kecil, ketika suka menonton kamen rider, alias baja hitam, di mana jagoannya semua memakai topeng. Makin besar, bacaan makin banyak, makin banyak juga mengenal topeng. Ada topeng yang dipakai oleh super hero, di mana mereka harus melindungi identitas mereka demi orang-orang tercinta di sekitarnya. Ada juga topeng yang dipakai oleh para Visored dari Bleach yang dikenakan untuk menambah tenaga mereka. Ada lagi topeng Noh dan topeng bedak Kabuki yang dikenakan untuk alasan-alasan spiritual. Lalu ada juga topeng dari lagu ‘Kamen’ nya Janne Da Arc, topeng emosi manusia. Hmm, oh ya, ada lagi. ‘Topeng’ kulit putih yang dipakai oleh pria kulit hitam untuk menutupi identitas mereka sebagai kulit hitam yang rendahan, agar mereka dilihat sebagai pria kulit putih kelas tinggi. Frantz Fannon yang bilang, bukan saya.

Dari paragraf di atas, ada dua macam topeng. Topeng dan ‘topeng’. Topeng tanpa tanda kutip adalah topeng yang berbentuk fisik, yang memiliki fungsi untuk menutupi wajah. Topeng dalam makna denotatif. Makna sebenarnya. ‘Topeng’ dengan tanda kutip adalah topeng yang tidak memiliki bentuk fisik, yang memiliki fungsi untuk menutupi identitas yang asli. Topeng dalam makna konotatif. Makna kiasan.

Manusia adalah makhluk yang unik. Ia tidak pernah puas dan tidak akan pernah puas. Termasuk dengan dirinya sendiri. Karena itulah, mereka menciptakan topeng dan ‘topeng’. Ada beberapa topeng yang fungsinya memang untuk menyembunyikan wajah sendiri. Memang banyak sih tujuannya menyembunyikan wajah. Memang tidak pede, atau mau merampok, atau sekedar untuk bersenang-senang. Ketika memakai topeng, manusia memang tidak menjadi dirinya sendiri secara fisik. Namun, dalamnya, mereka tetap sama. Mungkin sedikit berbeda dalam kasus mereka yang bertopeng karena tidak pede. Dengan bertopeng, jadi lebih pede. Tapi rampok, dalamnya tetaplah rampok. Yang mau senang-senang, dalamnya tetaplah yang mau senang-senang. Eh tapi, memang ada juga sih yang memakai topeng demi ritual-ritual keagamaan. Tapi ini masalah spiritual. Saya tidak mau komentar banyak.

Saya sendiri senang dengan topeng ini karena dari segi estetis saja. Seringkali bentuknya unik. Kadang bentuknya memiliki makna filosofis yang mendalam. Seperti topeng Noh yang dibuat sedemikian rupa agar bisa memiliki berbagai macam ekspresi ketika dilihat dari berbagai sudut. Ini menunjukkan sifat manusia yang tentunya bisa senang, sedih, dan takut. Mungkin filosofinya bukan seperti ini, tapi saya sendiri menilai bahwa topeng ini menggambarkan, siapapun manusia itu, ia tetaplah manusia. Ketika bertopeng pun ia tetap senang, sedih, dan takut. Merasa dan berekspresi adalah sesuatu hal yang membuat manusia menjadi makhluk. Makhluk berperasaan. Siapapun mereka.

‘Topeng’ juga kembali mempertegas betapa uniknya manusia yang tidak pernah puas. Betapa lemahnya manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna. Semestinya, setiap manusia sama. Namun, manusialah juga yang menciptakan perbedaan di antara mereka. Ada si baik, ada si jahat, ada si kaya, ada si miskin, ada si cantik, ada si jelek, ada si pintar, ada si ganteng, si bodoh, si rajin, sisiuk, dan siraru. Eh biarin lah ngegaring dikit biar gak terlalu serius. Tapi ya begitulah. Menarik melihat takdir manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Menarik juga ketika manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Homo homini lupus. Manusia harus saling membantu, juga harus saling menjatuhkan. One hell of a species these human are. Tatanan sosial lah yang membuat seorang manusia menjadi ‘bertopeng’.

Menarik membahas ‘topeng’ ini dari kacamata Frantz Fannon. Sebenarnya, Fannon membuat buku tentang ‘Black Skin, White Mask’, untuk membuat sebuah perlawanan, dengan psikoanalisis poskolonialisme. Namun, saya akan coba menarik inti dari teori Fannon ini, lalu mengaplikasikannya dengan kehidupan sosial sehari-hari non-kolonial *naon*. Sebenarnya akan terdengar konyol, tapi kalau tidak dicoba tak akan tahu. Begini. Ahem. Paragraf selanjutnya deh.

Begini. Inti dari apa yang ditulis Fannon adalah, bagaimana mentalitas bangsa Afrika yang selalu merasa inferior oleh kaum kulit putih, karena mereka dulunya ditekan oleh penjajah yang berkulit putih. Mereka di-de-manusia-kan, seakan kulit hitam adalah sebuah kutukan. Seakan kulit hitam adalah setan, dan kulit putih adalah malaikat. Oleh karena itu, orang-orang kulit hitam meninggalkan identitas –yang berarti di dalamnya ada gaya hidup, cara hidup, budaya- dan mengenakan ‘topeng’ kulit putih. Ini dia. Rasa inferioritas yang muncul, membuat mereka melupakan diri mereka sendiri, menjadi orang lain, demi masuk ke dalam sebuah lingkaran sosial lain, yang mungkin sebenarnya tidak dibuat untuk mereka. Atau mungkin, sengaja dibuat agar mereka meninggalkan lingkaran sosial mereka sendiri ? Mengerikan bukan ?. Akhirnya mereka ‘bertopeng’ kulit putih, namun tetap saja, mereka adalah kulit hitam. Seharusnya, apabila manusia memang diciptakan setara, rasa inferioritas fiktif ini tidak usah terjadi.

Mari kita ambil pola pikir barusan ke level masyarakat modern. Sadarkah kita, bahwa kita sebenarnya hidup dalam dunia di mana ada situasi yang mirip dengan masa kolonialisme ? Kita hidup di dalam dunia, di mana ada sekelompok orang, yang sepertinya dipandang lebih tinggi oleh orang lain. Mungkin oleh kita. Kita sendiri seringkali ingin menjadi bagian dari  orang-orang itu. The elites. Di sekolah, di tempat kerja, di kampus, di manapun, selalu saja ada orang-orang seperti ini. Mereka ‘bekerja’ bak para kolonial. Menyepelekan apa yang terlihat berbeda, mengagungkan apa yang terlihat sama oleh mereka. Mereka yang kalah, adalah mereka yang ‘bertopeng’ dihadapan orang-orang ini. Mereka yang membuang identitas mereka, demi bergabung dengan suatu hal yang sebenarnya semu.

Kita hidup dalam masa di mana tak memakai acang (hahah acang anjir, acang adalah alat canggih alias gadget, terdengar konyol. Nah ini juga bukti kalau saya masih terjebak dalam mentalitas yang sama, di mana mouse terdengar lebih ciamik daripada tetikus dan gadget bisa lebih diterima daripada acang), adalah sebuah dosa. Ya mungkin ada beberapa fitur dari gadget yang memang dibutuhkan dalam berkomunikasi. Ini memang tidak bisa dipungkiri sih, karena kemajuan teknologi. Namun ada satu titik di mana sebenarnya kita tidak butuh-butuh amat suatu acang yang terlalu ‘wow’. Sesuai kebutuhan saja. Saya pernah ditertawakan karena saya masih memakai laptop acer butut, bukan macbook. Memangnya kenapa ? Laptop acer saya masih bisa dipakai dengan sempurna kok. Main game ? Main di PS lah.

Saya tidak mau memakai ‘topeng’ berupa mac user yang dianggap oleh masyarakat modern sebagai the elites. Saya tidak mau memakai suatu barang hanya karena pride belaka. Saya lebih senang memakai baju Everton seharga 150 ribu (original loh, full patch, dapet di ebay, #3, Leighton Baines musim 2008-2009), daripada memakai baju aigner yang harganya jutaan rupiah. Toh fungsinya sama. Biar tidak telanjang. Biar hangat. Inti dari semuanya ? Kita terjajah oleh lingkungan kita sendiri. Tertekan.

Nah, kiranya begitu lah ‘topeng’ dalam wujud pertamanya. Ada juga ‘topeng’ yang berwujud lain. Kode sosial memaksa kita untuk berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang sudah dikonsensuskan. Misalnya, tidak menangis di depan teman, atau mungkin tidak tertawa di suasana khidmat (kalau yang seperti ini, mungkin masih bisa dimaklum yah, kadang konsensus juga ada benarnya, bagi saya). Ada kalanya kita terpaksa tersenyum di depan orang lain. Pedih. Senyum adalah sebuah ekspresi yang ketika dilakukan dengan tulus, adalah ekspresi yang paling indah yang bisa ditunjukkan oleh seorang manusia. Tersenyum ketika bersedih, sudah tidak indah lagi sepertinya. Tapi ya kembali lagi ke sifat manusia tadi. Manusia akan selalu berusaha membuat dirinya cocok dengan lingkungannya. Ketika lingkungannya tidak menerima tangisan, maka manusia akan tersenyum, walaupun ia bersedih.  Mungkin bukan manusia yang menciptakan ekspresi tersenyum, menangis, tertawa, dan lainnya. Itu bawaan dari Tuhan. Tapi, manusialah yang menciptakan makna dari ekspresi tersebut.

Lemah ? Ya. Manusia memang lemah. Ia tunduk pada kode sosial tadi. Ia tunduk pada takdirnya sebagai makhluk sosial. Kompleks yah ? Memang. Karena itulah saya suka ‘topeng’. ‘Topeng’ memang suatu ‘alat’ yang menunjukkan bagaimana lemahnya manusia. Sangat istimewa. Bagaimana sebuah hal yang ‘diciptakan’ oleh manusia, pada akhirnya menjadi tempat bergantung (walaupun tidak sepenuhnya sih, karena bergantung hanya pada Allah yang esa).  Manusia luluh lantah oleh ciptaan mereka sendiri. Backfired, bagi beberapa orang.

Pada akhirnya, dibalik topeng dan ‘topeng’, manusia itu sama. Kecuali yang tidak berekspresi, saya tidak tahu kenapa untuk yang satu itu. Dibalik semua topeng dan ‘topeng’, manusia hanyalah makhluk. Sama-sama bisa sakit, sama-sama bisa senang, bisa sedih, bisa takut. Manusia adalah makhluk yang jantungnya sama-sama berdetak, darahnya sama-sama merah. Setara kan ? Iya, manusia diciptakan setara. Manusia sendirilah yang menciptakan ketidaksetaraan itu. Dasar makhluk sombong.

Well, then again, we live in a world full of lie. But there are good lies perhaps ? It is all back at yourselves, would you rather live in a beautiful lie ? or a painful truth, again, it is yours to wear the mask or not to.  

Bonus yeuh, saya make topeng Shawn ‘the #6 Clown’ Crahan dari Slipknot

Image7