h1

Football: The Voice of the Voiceless (Revival part 1239112731713712)

December 5, 2013

So, I’ve decided to revive my blog, since there are soooo many casual football writings I haven’t published. I don’t think my writings are good enough to be in a national-scale footballsite, and it is too good for the what-so-called-casual footballsite. So, here they are, enjoy ! 

This one is entitled Voice of the Voiceless. The title itself derived from a song from my favorite band, Rage Against the Machine. This writing, is about how the voiceless people got international attention by using football as their voice. Partly inspired from my bachelor thesis, I wrapped it up in this writing, adding Palestine as the second example of this phenomenon. 

Voice of the  Voiceless: Melalui Sepakbola, Walau Bisu Kami Berteriak

Semua penggemar sepak bola di dunia pasti tahu, bahwa badan tertinggi sepak bola dunia adalah FIFA. FIFA adalah sebuah badan yang mengkoordinir kompetisi-kompetisi resmi sepak bola di seluruh dunia. Ketika sebuah tim sepak bola ingin berlaga di sebuah kompetisi resmi yang berskala internasional, maka mereka harus masuk ke dalam payung FIFA. Dengan kata lain, ketika sebuah tim ingin memiliki nama di dunia sepak bola internasional, maka, bergabung dengan FIFA ialah suatu keharusan.

Namun demikian, tidak semua badan sepak bola di dunia, bisa masuk ke dalam FIFA. Ini dikarenakan oleh kategorisasi FIFA sebagai sebuah governing body, yang hanya mengakui federasi-federasi sepak bola negara-negara merdeka (kecuali Palestina yang nanti akan dibahas juga di dalam tulisan ini). Dengan kata  lain, ketika ada sebuah tim nasional —yang terbentuk dari orang-orang yang berbangsa (nation) tertentu—- tetapi mereka tidak memiliki status sebagai negara yang merdeka, mereka tidak (bisa) diakui sebagai negara anggota FIFA.

Menurut sumber yang saya baca (saya rasa bisa ini bisa dipercaya, karena pembagiannya pun cukup baik), ada 6 kategori tim ‘nasional’ yang tidak masuk ke dalam anggota FIFA. Mereka adalah: Asosiasi Regional, Wilayah Otonom, Stateless People, Negara dan Minoritas.

Asosiasi Regional adalah persatuan sepak bola sebuah wilayah yang bukan negara independen, tetapi masih bagian dari kerajaan Inggris, agak sulit untuk mendefinisikannya secara gamblang, namun mereka adalah sebuah wilayah khusus yang hanya berada di wilayah Britania Raya; Wilayah Otonom adalah sebuah wilayah di suatu negara yang memiliki kekuasaan (otonomi) khusus untuk wilayah tersebut; Stateless People adalah bangsa tanpa negara, seperti Palestina dan Rohingya; lalu Negara yang dimaksud di sini adalah negara-negara yang tidak termasuk ke dalam anggota FIFA, siapa saja mereka bisa dicek di link sebelumnya dan minoritas, adalah kaum minoritas dalam sebuah negara.

Beberapa kelompok dari kategorisasi tersebut, adalah kelompok-kelompok yang suaranya kurang didengar oleh dunia. Namun, melalui sepak bola, mereka dapat berbicara banyak. Sudah saya tuliskan di tulisan sebelumnya, tentang bagaimana sepakbola memiliki power yang hebat yang dapat mempengaruhi orang-orang yang menontonnya.

 Bagi saya, ada 2 badan sepak bola yang termasuk ke dalam kategorisasi tersebut yang saya rasa cukup menarik untuk diangkat ke dalam tulisan ini, mereka adalah: Tim Nasional Katalunya dan Tim Nasional Palestina. Untuk tim nasional Katalunya, mereka sangat menarik untuk dibahas karena berisikan pemain-pemain kelas dunia yang menjuarai hampir semua turnamen yang mereka ikuti, sedangkan Palestina, adalah satu-satunya tim tanpa negara (silahkan berdebat mana yang benar, Israel ? atau Palestina ? Tapi dalam hal ini, saya masih mengacu kepada PBB di mana Palestina belum menjadi anggota resmi PBB) yang diakui oleh FIFA.

Tim Nasional Katalunya bisa dibilang adalah tim nasional tanpa negara yang paling kuat yang ada di seluruh dunia. Mengapa demikian, mudah saja, karena banyak (9 dari 23) pemain mereka adalah pemain dari FC Barcelona dan FC Barcelona B. Bahkan ada juga yang berasal dari AC Milan. Sedangkan sisanya, berasal dari tim-tim divisi utama Liga Spanyol, Liga Austria dan 1 orang free agent.

Siapakah Katalunya ? Katalunya adalah sebuah wilayah yang memiliki sistem pemerintahan komunitas otonomi di Spanyol yang terletak di Timur Laut semenanjung Iberia yang memiliki status ‘kebangsaan’. Katalunya sendiri sudah sejak lama ingin memiliki kekuasaan yang lebih dari otonomi khusus di Spanyol; dengan kata lain, kemerdekaan. Katalunya adalah sebuah bangsa yang ingin merdeka, rakyatnya pun berteriak demikian. Namun hal ini tidak lah mudah karena banyak faktor lain mempengaruhi bisa-tidaknya sebuah wilayah merdeka atau tidak, termasuk keengganan negara induk untuk melepas wilayah tersebut.

Melalui tim nasional Katalunya, yang sering melakukan pertandingan persahabatan dengan negara-negara lain, salah satunya adalah dengan Argentina (yang ada Lionel Messi-nya), mereka menyebarkan sebuah pandangan yang kiranya berbunyi; “Kami adalah sebuah bangsa yang berbeda dengan Spanyol, kami memiliki kebudayaan sendiri, cara hidup dan cara berpolitik sendiri, kami adalah Katalunya, bukan Spanyol”; sebuah pandangan yang juga disebarkan oleh FC Barcelona.

Saya berani berkata demikian, karena tim nasional Katalunya bukanlah sebuah tim main-main seperti yang sudah-sudah datang ke Indonesia, semacam (maaf nih ya), Pepe and Friends atau Fabregas and friends, yang hanya jadi ‘badut-badut’ yang didatangkan hanya untuk keuntungan materiil semata. Saya yakin, tim nasional Katalunya membawa misi politis dalam pembentukannya. Mereka serius membangun sebuah tim nasional, hal ini mungkin bisa dibuktikan dengan adanya Federasi Sepak Bola Katalunya (tidak butuh Federasi Sepak Bola Fabregas and Friends untuk membentuk tim Fabregas and Friends kan ?). Mungkin ini adalah salah satu langkah Katalunya untuk  memperkenalkan Katalunya kepada dunia. Mereka berteriak melalui sepak bola.

Lalu tim yang kedua adalah Palestina. Palestina adalah sebuah wilayah di timur tengah yang status politiknya masih diperdebatkan. Mari kita serahkan perdebatan tersebut ke pihak lain, tetapi saya memposisikan pandangan saya pada Palestina adalah sebuah BANGSA yang berada di timur tengah dengan status sebagai stateless people. Palestina lahir melalui konflik yang berkepanjangan dengan tetangganya, Israel. Malang bagi Palestina, hingga saat ini, mereka belum diakui sebagai sebuah negara yang berdaulat. Sampai saat ini, satu-satunya pemerintah yang mereka miliki adalah otoritas Palestina (jangan harap saya akan membahas tentang HAMMAS dan FATAH di sini, kita bicara bola saja ya).

Walaupun tidak memiliki badan resmi sebagai sebuah negara, Palestina adalah anggota resmi FIFA dan AFC (Asian Football Confederation), yang memiliki status sebagai ‘tim yang mewakili negara dari Arab yang kelak akan bernama  Palestina’. Lucunya, Israel sendiri yang malah ‘terusir’ dari AFC dan malah bergabung dengan UEFA, padahal secara geografis, Israel masih berada di dalam benua asia.

Palestina sendiri memiliki banyak masalah, terutama masalah akomodasi, karena negara mereka sedang dan selalu berkonflik dengan tetangganya, yang tentunya sangat mempengaruhi performa mereka karena sulitnya berlatih dan bertanding dengan fasilitas yang minim. Namun demikian, tim nasional Palestina tidak pernah berhenti berjuang dalam menggemakan nama mereka di kancah sepak bola internasional (terutama Asia). Mereka memiliki track-record yang cukup baik (sebagai tim yang baru berusia 15 tahun dan berada di daerah konflik), bahkan mungkin bisa dibilang satu level dengan Indonesia, dengan melihat hasil-hasil pertandingan mereka di tahun 2006-sekarang. Mereka pun mendapatkan penghargaan dari FIFA atas usaha gigih mereka dalam memperjuangkan keabsahan mereka sebagai sebuah tim yang bisa berlaga di laga resmi internasional.

Kegigihan Tim Nasional Palestina ini tentunya harus diberi apresiasi lebih. Mereka adalah sebuah kelompok yang mewakili sebuah kaum terjajah yang suaranya dibekap oleh tangan-tangan kotor para penjahat kemanusiaan. Seharusnya kita malu kepada mereka. Ketika mereka berlatih berpeluh keringat di tengah desingan peluru, demi pengakuan dari sebuah komunitas yang bernama DUNIA, tim nasional kita malah saling mencaci dan memaki hanya demi sebuah kebahagiaan semua bernama KEKUASAAN.

Begitulah sekiranya tulisan ringkas dari saya, tentang bagaimana sepak bola bisa menyuarakan kaum-kaum yang terbelenggu oleh kebisuan semata. Bagaimana sepak bola bisa menjadi toa untuk meneriakkan keluh-kesah mereka. Bagaimana sepak bola bisa menjadi wadah untuk mereka tersenyum.

 

Bima Prawira

Bandung, 18 Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: