h1

Restaurant Review: Paris Villages

December 12, 2013

Seperti yang sudah saya bilang, saya akan menghidupkan kembali blog ini. Kontennya pun saya tambah, biar makin seru. Kali ini saya tambah dengan review restoran yang saya kunjungi. Kebetulan dalam beberapa waktu kebelakang, saya memang lagi suka wisata kuliner untuk mencari makanan yang unik. Baiklah, silahkan menikmati review ini 🙂

Paris Villages, Cuisine Francaise Authentique

Lihat judulnya, saya sendiri tidak bisa berbahasa Perancis. Namun sepertinya jika diartikan dengan Bahasa Inggris sebagai pembanding, bisa diartikan sebagai Paris Villages, Masakan Perancis Otentik. Tapi sepertinya, jika sudah datang ke tempat ini, tanpa harus tahu namanya pun saya bisa merasakan makna dari Masakan Perancis Otentik. Ya, restoran ini memang menyediakan masakan-masakan asli Perancis dengan bahan baku dan bumbu yang langsung diimpor dari sana.

Pada awalnya, saya sendiri tahu restoran ini melalui twitter, jujur saja, ketika membaca iklannya, saya langsung tertarik. Ketertarikan ini tentunya dari alasan pribadi; ingin merasakan berbagai macam kuliner dari seluruh dunia. Dulu saya pernah mencoba beberapa kuliner Perancis ketika kebetulan berkunjung ke Paris, di sana saya agak menyesal ketika hanya mencoba  entrecôte atau prime cut French beef steak, karena rasanya, jujur saja tidak terlalu jauh dengan steak yang dijual di Indonesia. Namun, pada saat itu, teman saya memesan salah satu masakan penting dalam kamus kuliner Perancis, confit duck. Pada saat itu, saya hanya mencoba sedikit dan ternyata rasanya enak. Berbekal rasa enak dan penasaran untuk mencoba banyak inilah saya tertarik untuk datang ke restoran Paris Villages ini.

Sebenarnya lokasi restorannya agak jauh dari rumah saya, tepatnya berada di Setrasari Mall, di jalan Surya Sumantri, namun karena penasaran tak dapat terbendung lagi, jadilah saya dengan sengaja mengunjungi restoran ini. Sekitar pukul setengah 12 siang saya tiba di restoran. Saya langsung disambut oleh ruangan yang tak terlalu besar, namun nyaman, berlantai kayu, berdinding yang berhiaskan berbagai macam pernak pernik yang berbau Perancis. Dari foto hingga peta Perancis. Ada musik berbahasa Perancis yang turut mengalun di sini. Di ruangan itu juga saya melihat ada display yang menampilkan berbagai macam pastry ala Perancis seperti chocolate pie, quiche dan eclair.

Setelah dipersilahkan duduk, saya ditanyai oleh pemilik  restoran, Pak Laurent yang pada awalnya bertanya saya bisa berbahasa Inggris, Indonesia atau Perancis, mungkin karena perawakan saya yang agak kurang Indonesia, hahaha. Pak Laurent menjelaskan kepada saya makanan apa saja yang bisa mereka sediakan waktu itu. Restoran ini selalu menyediakan makanan yang baru dan fresh setiap hari, karena itulah tidak semua makanan yang tertulis di menu bisa disediakan begitu saja. Saya memutuskan untuk memesan 3 menu, French Onion Soup atau Soupe à l’oignon sebagai appetizer, Confit Duck atau Canard Confit sebagai main course, dan Eclair sebagai desert. Oh iya, saya memesan lemon tea sebagai minumannya, ini terpaksa, karena perut saya sedang kacau, dan tidak mungkin menerima menu minuman andalan restoran ini, Hot Chocolate (jangan salahkan restorannya, salahkan perut saya yang semacam lactose intolerant kalau minum susu pagi-pagi).

Sebelum mulai memasak, Pak Laurent bertanya kepada saya, mau seperti apa sup bawang yang akan dihidangkan. Karena saya cukup bingung, jadi saya meminta agar sup bawang tersebut dibuat se-Perancis mungkin, dengan gratin dan roti. Tidak lama saya menunggu, sup bawang itu pun datang. Sup bawang ini dihidangkan dengan 2 macam roti. Roti tipis yang dihidangkan di atas sup, dan roti yang teksturnya seperti Baguette, namun berukuran kecil yang dihidangkan terpisah. Pada awalnya, saya merasa sup tersebut agak tawar, namun lama kelamaan, cita rasa bawangnya terasa. Setelah saya mencoba mencampur semua yang ada di dalam sup, muncul lah rasa yang luar biasa enak. Ketika roti panggang, sup bawang dan gratin keju bercampur di dalam mulut, terjadilah sebuah rasa yang unik yang tidak kalah dengan sup cream yang sering ada di restoran-restoran mewah. Setelah itu saya mencoba menikmati sup tersebut dengan menyobek baguette mini, lalu dicelupkan ke dalam sup, sungguh nikmat, apalagi cuaca waktu itu sedang mendung.

Onion Soup

Beres menyantap sup, hidangan utama pun datang. Duck Confit. Confit sendiri adalah cara memasak daging, baik daging merah maupun daging unggas, dengan cara merendam daging tersebut di dalam lemaknya sendiri, lalu dipanggang. Ketika mencoba di Paris dulu, teksturnya agak basah, namun kali ini, confit ini bertekstur kering. Duck Confit ala Paris Villages dihidangkan dengan potato wedges beserta caramelized onion, dan tomat segar serta orange sauce (saus jeruk) sebagai sausnya. Suapan pertama terasa daging bebek yang sangat gurih, terlebih setelah direndam di dalam lemak. Mungkin bagi beberapa orang akan berasa eneg, namun, setelah ditemani dengan saus jeruk, rasa eneg tersebut hilang, karena rasanya menjadi berimbang dengan rasa jeruk yang segar. Setelah menyantap habis bebek dan kentang, mulut yang berasa berminyak (bayangkan saja seperti habis makan sumsum sapi), bisa ‘dibersihkan’ dengan potongan tomat segar. Nikmat sekali rasanya. Sepertinya saya bisa bilang Confit Duck ini masuk ke dalam top 3 masakan bebek untuk saya selain pecel bebek dan bebek peking.

Confit Duck

Setelah menghabiskan confit duck dan menyeruput teh lemon hangat, saya langsung menyantap makanan terakhir dalam kunjungan saya ke restoran itu, Eclair, sejenis pastry yang memiliki tekstur seperti kue soes, bertoping cokelat dengan krim cokelat di dalamnya. Eclair ini disajikan dingin, dengan saus cokelat. Ketika saya memotong Eclair tersebut, saya agak kaget dengan tekstur krim di dalamnya yang agak keras, karena Eclair yang biasa dijual di toko-toko kue lokal, biasanya berisi krim vanilla lembut. Krim cokelat dari eclair ini sangat lezat. Manisnya tidak giung, tetapi juga tidak mati oleh rasa toping cokelat yang agak pahit. Cocok dengan selera saya yang tidak terlalu suka dengan makanan manis.

Image

Setelah kenyang dengan 3 makanan tersebut, saya diajak mengobrol dengan pemilik restoran, Pak Laurent dan Mbak Junifia. Bahkan saya dimintai saran kiranya menu apa yang cocok menjadi menu spesial untuk malam natal dan tahun baru di Paris Villages. Jujur, saya sendiri belum terlalu mendalami masakan Perancis, sehingga saya hanya tahu makanan-makanan seperti terrine atau rillet, yang pernah saya baca di beberapa buku. Setelah itu, saya diajak Pak Laurent untuk pergi ke lantai 3 restoran, yang ternyata adalah ruangan yang jauh lebih comfy dan private daripada ruangan di bawah tempat saya makan. Ruangan tersebut juga lebih terasa homy, dan banyak ornamen-ornamen rumahan ala Perancis. Kebetulan saya berkunjung ke sana sendirian, sehingga akan aneh rasanya apabila saya makan sendiri di lantai 3 tersebut. Di sana, kami mengobrol sedikit tentang rencana desain ulang ruangan itu agar dapat digunakan dengan lebih baik dan efektif.

Untuk masalah harga, karena bahan baku semuanya diimpor, mungkin baiknya saya tulis dengan kurs euro. Makan siang saya tadi, kurang lebih menghabiskan sekitar 16 euro. Jujur saja, harga sebesar itu sangat sebanding dengan rasa dan pengalaman yang didapat.

Akhirnya, saya pulang dengan wajah tersenyum puas. Perut kenyang, hatipun senang. Jarang sekali rasanya ada restoran yang ownernya mau dengan ramah menyapa dan mengajak ngobrol pelanggan hingga nyaris lupa waktu. Walaupun memang kebetulan restorannya sedang sepi, karena waktunya makan siang. Menurut si pemilik, restoran tersebut selalu ramai pada saat tea time sore hari, atau pada saat makan malam. Begitulah kiranya pengalaman saya bersantap siang di Paris Villages. Sampai di titik ini saya mengetik, tanpa sadar saya pun rindu dengan negara-negara Eropa lainnya yang pernah saya kunjungi. Tapi tidak dengan Perancis, karena rasa kangennya sudah terobati di Paris Villages.

Rating

Service: 5/5

Taste: 4.5/5

Ambience: 4/5

Price: 3/5

Overall: 16.5/20; HIGHLY RECOMMENDED.

Contact: @ParisVillages (twitter)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: