h1

Pragmatic Football: It Sucks, But When Your Favorite Team Did It, You Happy. The Art of Being Pragmatic.

December 13, 2013

Judul yang panjang yah. Iya. Saya sedang bosan, masih menunggu pengumuman program magister sambil menunggu download-an the Big Bang Theory episode terbaru, jadi yah, saya coba nulis-nulis aja sambil curhat dikit.

Sebenarnya ini kejadian yang berupa rentetan dari beberapa kejadian di dunia hobi saya terutama di sepak bola dalam beberapa tahun kebelakang hingga sekarang. Pada tahun 2004, ketika Yunani menjadi juara Euro, 2009 ketika Barca ditendang keluar oleh Inter pada UCL musim 09-10, dan 2 hari yang lalu, ketika Milan melengang ke fase knock out liga Champions musim 2013-2014.

Kesamaan dari ketiga event ini adalah, di mana tim yang bermain bertahan, sukses keluar sebagai ‘pemenang’. Di Euro 2004, Yunani memang menjadi juara, tetapi mereka dikritik karena bermain sepak bola negatif, Yunani tidak pernah menang dengan selisih lebih dari 1 angka, dan hanya dalam satu pertandingan mereka mencetak lebih dari 1 gol, di pertandingan pembuka melawan Portugal, dengan skor 2-1. Pertandingan lainnya, berakhir seri 1-1, kalah 2-1 atau menang 1-0.

Pada UCL 2009, Inter menghajar Barca dengan skor 3-1 di leg pertama, dan berhasil ‘menahan’ Barca dengan skor 1-0 di leg kedua. Inter menang agregat, dan melaju ke final. Pada akhir pertandingan ini, saya nyaris melempar remote ke televisi, saking emosinya dengan inter yang bermain dengan hanya 10 pemain, setelah kartu merah Thiago Motta, menumpuk 9 pemain sisanya di daerah sendiri. Hingga sang Samuel Eto’o pun harus berjibaku di lapangan tengah dalam perannya sebagai ‘Geremi’ demi menghadang gempuran-gempuran Braca. Barca gagal lolos, Mourinho menari, Valdez mengamuk dan saya hampir merusak televisi.

Besoknya, teman saya yang tahu saya hampir putus urat syaraf malah memberikan pandangannya tentang indahnya sepak bola bertahan. Kebayang gak sih ? lagi kesel gitu, dibikin tambah kesel. Dulu saya masih agak setengah-setengah dalam mengikuti taktik dalam sepak bola. Filosofi bola saya dulu, lebih baik kalah 4-3 daripada menang 1-0. Sebenarnya ini filosofi yang bodoh. Tapi yang diambil sebenarnya bukan menang kalahnya, tetapi masalah produktivitas gol. Intinya, ketika sedang menang, jangan ragu untuk terus menambah gol. Dominasi. Bunuh, bakar, hancurkan lawan, seperti Blitzkrieg ala Jerman yang meluluhlantahkan Polandia. Lah, jadi bahas strategi perang.

Pada masa itu, saya benar-benar mengidolakan gaya tiki-taka ala Barcelona. Sebenarnya, kalau mau dilihat secara objektif dan teoritis, tiki-taka adalah gaya paling sempurna (sejauh ini), dalam bersepakbola, di mana inti dari gaya ini adalah tidak memberikan bola kepada lawan dengan cara terus mengoper, sembari bergerak terus dengan operan pendek dan gerakan off the ball untuk membuka ruang, hingga akhirnya menyelesaikan serangan dengan sebuah gol. Itulah inti dari permainan sepak bola bukan ? mencetak angka lebih banyak daripada lawan.

Namun teori juga tidak dapat diaplikasikan  ke dalam segala hal. Dalam hal ini, teori ini runtuh ketika sebuah tim dihadapkan dengan situasi di mana tim lawan tidak harus menang. Banyak sekali situasi yang memungkinkan suatu tim untuk ‘menang’ dengan hasil seri, entah itu dalam fase knockout ataupun dalam round robin. Tentunya tidak semua tim bisa bermain nekad mengejar kemenangan. Banyak tim yang hanya mengejar seri saja dalam pertandingan tersebut. HASIL AKHIRLAH YANG PALING PENTING.

Tulisan gak santai karena capslock ini lah yang menginspirasi lahirnya sepak bola pragmatis modern. Sebenarnya sepak bola pragmatis sudah ada dari dulu, yang paling terkenal tentunya oleh Italia di Piala Dunia 1990. Saya gak tahu bagaimana, karena waktu itu masih 1 tahun, blom ngerti bola, tapi konon Italia ketika sudah menang, seringkali mengoper bola ke tangan kiper untuk membuang waktu.

Balik ke masa 2000an, saya kesal setiap kali melihat ada tim yang bermain bertahan. Mereka seperti tidak niat bermain bola walaupun bisa. Chelsea di UCL 2011-2012 juga contoh lain, di mana mereka mempraktikan strategi parkir bus, sehingga lagi-lagi Barca menjadi korban. Namun ini tidak saya bahas, karena masih pedih kalau diingat.

Nah, 2 hari yang lalu, tim yang saya dukung dari sejak kecil, AC Milan, dihadapkan dengan situasi di mana mereka membutuhkan hasil minimal seri untuk melengang ke fase knock out UCL 2013-2014. AC Milan yang pada saat ini sedang mengalami krisis, harus menghadapi Ajax Amsterdam dengan skuad mudanya yang selalu bertempur dengan spartan. Mengerikan memang. Saya sendiri tadinya tidak berniat menonton pertandingan ini, hingga akhirnya saya terprovokasi oleh gambar butut yang mengejek fans Milan, hasil editan fans ajax.

Akhirnya saya memutuskan untuk menonton pertandingan tersebut, karena rasanya nikmat mentertawakan lawan yang kelewat pede lalu kalah. Pertandingan ini awalnya berjalan dengan Milan yang langsung digempur Ajax. Ada sebuah tendangan Ajax di awal pertandingan yang langsung mengenai tiang gawang Milan. Menyeramkan. Pertandingan terus berlajan menegangkan bagi fans Milan di manapun, hingga akhirnya ketegangan itu berubah jadi mimpi buruk, sang kapten, Riccardo Montolivo, harus menerima kartu merah langsung dari wasit, setelah menginjak engkel Christian Poulsen. Ketika  kartu merah itu keluar, kalimat yang ada di kepala saya adalah ‘tau gini aing ga akan nonton’. Allegri langsung melakukan penyesuaian taktik dengan menarik El Shaarawy yang tadinya bermain di belakang Balotelli sebagai offensive support, dengan Andrea Poli, seorang midfielder yang bergaya agak bertahan. Benar saja, Milan langsung bermain bertahan. Ketika bola lawan berhasil dilucuti, Milan langsung melakukan clearence dan kembali menyiapkan pertahanan. Hanya beberapa kali saja Milan maju ke depan untuk mencoba menyerang. Pada paruh akhir pertandingan, Allegri kembali mengganti pemain, mengeluarkan Kaka dan menggantinya dengan Mexes. 3 bek tengah. TOTAL DEFENSIVE STANCE.

Akhirnya, Milan berhasil mempertahankan skor kacamata hingga akhir pertandingan. Melegakan sekali rasanya. Tapi jujur, kemenangan seperti ini tidak membuat saya sangat senang. Melihat para pemain Ajax yang langsung protes, mengingatkan saya pada momen ketika Barca yang juga tim favorit saya, diusir keluar dari UCL dengan cara yang sedikit mirip. Namun, apa mau dikata, dengan 10 pemain, menghadapi tim yang selalu bermain spartan, dengan stamina yang tidak ada habisnya, bertahan adalah satu-satunya pilihan strategi yang bijak. Saya cukup senang Allegri menjadi cukup waras di sini. Kalau ‘Allegri yang biasanya’, mungkin akan mengganti Zapata dengan Niang, lalu menyerang dengan gila-gilaan tanpa memperhatikan pertahanan.  

Setelah pertandingan berakhir, saya akhirnya mengerti bagaimana perasaan para fans Inter atau Chelsea atau Yunani setelah timnya ‘menang’ dengan sepak bola bertahan. Sepertinya akan hipokrit ketika saya bilang saya tidak senang ketika tim saya ‘menang’. Mungkin secara diplomatis, jawaban yang tepat adalah ‘akan lebih menyenangkan apabila menang (benar-benar menang)’.

Yah, pada akhirnya, begitulah hidup. Ketika semua sudah dipersiapkan dengan matang (taktik Allegri, yang sebenarnya tidak oke-oke banget), musibah muncul (Montolivo kartu merah), di saat itulah kita harus bijak dalam memilih, sedikit melukai diri sendiri untuk kabur, jauh lebih baik daripada mati di tangan lawan (main bertahan). Pada akhirnya, Milan memang ‘kalah’ dalam pertempuran, tetapi Milan ‘menang’ dalam peperangan.

Ternyata pada akhirnya, sayapun ikut menjadi pragmatis dengan mendukung sepak bola pragmatis karena tim kesukaan saya bermain pragmatis. Life is funny sometimes. Hehehe.

Ah, ternyata the Big Bang Theory-nya sudah terdownload. Mari. Selamat siang.

Advertisements

2 comments

  1. Terkait pertandingan Inter v Barcelona yang dibahas di posting di artikel, perlu dicatat, sebelum Inter bertandang ke Camp Nou dan menerapkan strategi “parkir bus”, Inter mengalahkan Barcelona di San Siro dengan skor 3-1 pada pertemuan leg pertama. Sayangnya, hanya sedikit fans Barcelona yang sadar akan fakta tersebut, di mana selebihnya lebih memilih untuk mengingat pertemuan leg kedua dan mencaci strategi defensif tersebut.

    Menurut saya, seharusnya kebanyakan fans Barcelona harus sudah awam dengan situasi di mana lawan mereka akan menerapkan strategi defensif, sehingga dengan begitu mereka tidak perlu terlalu kesal dengan penerapan strategi tersebut.


  2. yup, bener sekali bung ajay, secara teoritis, tentunya semua tim yang menghadapi Barca punya teori ‘untuk mengalahkan Barca, kita harus mencetak angka lebih banyak’; namun pada kenyataannya, tidak semudah itu, sehingga bermain defensif adalah opsi yang paling bijak.

    kembali ke judul, menjadi pragmatis, di mana kita membuang teori, dan mengutamakan praktik dengan bijak.. karena dalam sepak bola modern hasil sangatlah penting, sepertinya memang sudah waktunya bagi para tim ultra offensive untuk menerima kenyataan ketika tim mereka digrendel oleh lawannya..



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: