h1

Football Bet ? Nope.

December 18, 2013

Ketika pembagian grup Piala Dunia 2014 sudah diumumkan, banyak kawan saya yang langsung merespon dengan mengunggah foto dari pembagian grup tersebut dengan kata-kata ‘yok, pasang !’. Pasang di sini, tentunya maksudnya pasang taruhan. Taruhan sepak bola. Aturannya sederhana, tinggal pegang (atau undi, di kampus saya, ada semacam ritual seperti ini) tim yang anda ingin, lalu silahkan menyaksikan pertandingan sambil harap-harap cemas kehilangan uang. Selain itu, ada juga yang bertaruhan sampai level ekstrim seperti skor, yang dikenal aturanpoor setengah, di mana ketika skor berakhir seri, maka yang dapat poor setengah, memenangkan taruhan. Lebih ekstrim lagi, ada yang taruhan total jumlah foul, offside, shoot on goal, shoot, saves dan lain-lain, dengan menebak apakah total tersebut ganjil atau genap. GILA !

Di lingkungan teman-teman saya sendiri, biasanya taruhan dengan pecahan 100 ribu rupiah. Mungkin bagi beberapa orang, ini bukanlah jumlah yang sangat besar. Bagi saya, dalam 5 kali taruhan (jika kalah), maka saya akan kehilangan jatah belanja blu ray PS3 sebanyak 1 keping, bagi saya itu berarti. Tapi bukan itu masalahnya. Saya tidak suka ikut bertaruh, walaupun prediksi saya –ahem-, sering benar. Selain sayang uang yang sudah dikasih oleh orang tua, rasanya sangat munafik apabila saya mengikuti taruhan seperti itu. Saya adalah salah satu dari mungkin sekian bayak orang yang tidak suka dengan match fixing atau pengaturan pertandingan. Setelah membaca (walaupun belum beres) bukunya Declan Hill, yang berjudul The Fix: Soccer and Organized Crime, rasanya menjijikan sekali melihat skandal-skandal seperti ini.

Skandal ini tentunya awalnya lahir dari taruhan bola yang lama kelamaan menjadi terorganisir, hingga makin besar, dan pada akhirnya menjadi sebuah ‘industri’ yang cukup kuat untuk mendanai match fixing tersebut.   Apa hubungannya dengan taruhan level privat ? Sebenarnya tidak ada. Ketika anda bertaruhan dengan teman anda, anda tidak menjadi bagian dari pengaturan pertandingan. Karena uang keluar masuk hanya di antara kantong anda saja. Namun, bukankah terdengar munafik apabila anda tidak setuju dengan pengaturan pertandingan ? Karena apa yang anda lakukan, adalah sebuah hal yang sama dengan bedebah-bedebah pengatur pertandingan.

Lucu rasanya melihat orang yang berteriak-teriak karena tim yang mereka pegang sebagai tim taruhan kalah ketika wasit dirasa memihak. Padahal, orang-orang seperti mereka lah yang awalnya memunculkan wasit-wasit yang tidak kalah bedebah seperti ini.

Saya suka sepak bola. Saya mendukung beberapa klub bola. Persib Bandung, AC Milan, FC Barcelona dan Everton FC adalah klub-klub yang pada saat ini saya dukung. Rasanya menyenangkan melihat mereka bermain. Ada rasa deg-degan ketika tim yang saya dukung diserang oleh lawan. Ada rasa sedih ketika mereka kalah. Ada rasa senang dan bangga ketika mereka menang. Bagi saya, ini cukup memuaskan hasrat saya sebagai penonton bola layar kaca. Rasa ini juga yang membuat saya tidak pernah mau ikut taruhan bola.

Bayangkan, ketika tim seperti Everton yang seringkali dikategorikan sebagai medioker, harus berhadapan dengan tim sekelas FC Bayern. Ketika saya harus bertaruh (dengan situasi ceteris paribus :p), tentunya dengan sedikit analisis, FC Bayern lah yang berpeluang lebih besar untuk menang, dan dalam bertaruh, tentu saja peluang yang lebih besarlah yang saya ambil. Di saat saya memilih peluang, daripada tim kesayangan, itulah pengkhianatan terbesar bagi tim yang saya suka, saya yakin saya tidak mau memilih hal itu. Pada akhirnya, saya akan kalah taruhan. Ini juga salah satu alasan saya tidak mau bertaruh.

Pernah juga saya ditanyakan oleh teman yang tidak suka sepak bola, namun ingin ikut taruhan di Piala Dunia 2010. Waktu itu, saya menyarankan dia pegang Belanda. Saya suruh dia pegang Belanda bukan karena kekuatan skuad mereka waktu itu, tetapi karena saya memang berharap Belanda yang juara. Kalau masalah kekuatan skuad sih, saya pegang Spanyol. Pada akhirnya Belanda masuk final, namun dikalahkan oleh Spanyol. Nah, apabila ikut bertaruh, saya kalah kan ?

Oh iya, seumur-umur, hanya sekali saya bertaruh dengan teman. Waktu SMP. Saya masih ingat, saya memenangi taruhan itu, tetapi tidak mengambil uang dari teman saya. Saya bilang ‘ah gak usah, jitak aja sekali yak ?’. Setelah itu saya tidak pernah sekalipun taruhan lagi.

Seperti itulah sekilas kisah saya tentang taruhan dan sepak bola. Apabila di antara kalian ada yang suka bertaruh sepak bola, coba pikirkan lagi deh. Saya tidak akan berbicara tentang dosa, itu urusan kalian. Tapi saya ingin coba berbicara moral. Saya memang bukan orang dengan moral yang sempurna, bukan mencoba sok suci juga, tapi setidaknya, ada beberapa bagian yang ingin saya ingin luruskan kembali. Sebagai seorang akademis (calon mahasiswa S2 akademis lah yaaahh, dan neliti bola juga skripsi S1nya), saya merasa punya tanggung jawab moral untuk itu.

Sepak bola itu olah raga kan ? Olah raga itu sport kan ? Sportif itu berarti bersifat sport bukan ? Ayolah kembali ke sepak bola yang sportif, menyenangkan, dan menegangkan 😀

 

Nb: sebenarnya saya agak malas menurunkan tulisan ini ke dalam blog. Karena saya sendiri sempat agak bersitegang dengan teman ketika berargumen tentang taruhan bola, tapi sepertinya saya post saja lah, karena sayang. Kalau tidak suka, ya tidak usah dibaca.

Nb2 : Piala Dunia kali ini saya pegang Italia. Sepertinya bakal penuh kejutan ! Forza Azzurri :3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: