h1

Opening the Gate to the World Full of Mysteries: HI UNPAD The Early Years

December 22, 2013

Dalam rangka ‘merayakan’ satu tahun saya lulus dari Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, saya akan menuliskan sebuah trilogi mini tentang perjalanan saya di kampus tersebut. Trilogi tersebut dibagi menjadi: Tahun-tahun awal, Masa kuliah, hingga tahun-tahun akhir. Terdengar membosankan ? Memang. Tapi apa sih yang tidak membosankan dari blog ini ?

Pertama kali saya memutuskan untuk berkuliah di jurusan HI adalah ketika saya ada di kelas 1 SMA. Pada awalnya, sebenarnya saya tertarik dengan jurusan Biologi Kelautan, di mana saya bisa menemukan dan meneliti banyak binatang aneh. Saya juga agak tertarik dengan Fakultas Kedokteran, salah satu keinginan saya adalah menjadi dokter anestesi. Tapi itu dulu sih. Sebenarnya, biologi adalah salah satu mata pelajaran kesukaan dan juga mata pelajaran di mana saya sangat kompeten. Bahkan saya sempat menjadi kandidat olimpiade biologi. Selain ‘akan bertemu Fisika dan Matematika di kelas IPA’, yang membuat saya berubah pikiran adalah, ketika melihat lab biologi yang agak kurang representatif di sekolah dulu. Jadi, saya rasa saya tidak akan bisa berkembang dengan baik di bidang ini.

Pada akhir kelas 1, saya memutuskan untuk masuk kelas Bahasa, karena saya rasa saya akan sangat berkembang di kelas itu. Benar saja, hanya mata pelajaran Bahasa Jerman saja yang kurang bisa saya serap. Singkat cerita, saya memutuskan untuk berkuliah di antara dua tempat ini: Sastra Jepang Universitas Padjadjaran, atau Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran atau Hubungan Internasional Universitas Parahyangan.

Setelah melewati masa pendaftaran seleksi masuk mandiri dan SPMB, saya pun dihadapkan pada 3 pilihan yang cukup berat: Sastra Jepang UNPAD, HI UNPAD dan HI UNPAR. Ya, ternyata, secara ajaib, saya diterima di 3 pilihan tadi. Dengan mempertimbangkan biaya, dan lain-lainnya, saya memutuskan untuk masuk ke HI UNPAD, sebuah pilihan besar yang mempengaruhi hidup tentunya.

Pertama kali diterima di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di UNPAD pada waktu itu tidaklah menyenangkan. Jujur saja, ospek fakultas di sini memuakkan. Dibentak-bentak, dihukum fisik ketika salah, dan lain-lain. Dude, seriously, kami adalah mahasiswa baru, bukan maling, kok dibentak ? bangke emang.

Pada awalnya saya nyaris berhenti ikut ospek, sebenarnya bisa saja dengan ‘koneksi’ ibu saya yang dosen, tapi ya, akhirnya sih dijalani saja, toh pada akhirnya bertemu dengan teman-teman yang bernasib sama, dan menjadi teman dekat. Yang bilang ‘what doesn’t kill you, simply makes you stronger’, itu benar. Namun, ospek ini menyisakan sebuah cerita yang tidak mengenakkan. Di penghujung ospek, saya sakit, cukup parah, hepatitis. Sepertinya karena kelelahan dan makanan yang tidak steril.

Hepatitis ini menyebabkan saya melewatkan sebagian besar ospek Jurusan, yang dalam teknisnya jauh lebih menyenangkan. Ada SDC atau Short Diplomatic Course, di mana kita seharian disimulasikan menjadi diplomat, cita-cita sebagian besar anak-anak yang memilih untuk masuk jurusan HI. Ketika mengikuti SDC saya bersama rekan saya, rekan ya ? hemm, yah.. Fransiska, menjadi pembicara dari kelompok waktu itu, kelompok Malaysia. Gobloknya, waktu itu saya sampai beradu mulut dengan kelompok Indonesia, malah mengancam memutuskan hubugan diplomatik segala. Yah, namanya juga mahasiswa baru, masih sok-sokan. Ingat sekali ketika itu sampai ‘dimarahi’ oleh pembina dari Deplu.

Setelah SDC beres, seharusnya saya memasuki fase outbound, yang di dalamnya ada game bernama Age of Empire, di mana kita harus me-manage sumber daya sembari berperang dengan negara lain. Sebenarnya akan sangat menyenangkan, mengingat saya memang hobi bermain game taktik. Namun, takdir berkata lain, ternyata saya harus dirawat di rumah sakit karena hepatitis bedebah tadi.

Setelah ospek berakhir, sebenarnya ada sebuah reward bagi yang berhasil menyelesaikannya dengan sempurna. Karena sakit, saya juga dianggap menyelesaikan ospek dengan sempurna, sehingga saya dapat reward tersebut. Apa reward-nya ? Berkunjung ke Departemen Luar Negeri Indonesia, kantor impian semua anak HI. Di sini, saya membuat blunder. Karena acaranya diadakan di masa kuliah, dan senior-senior saya waktu itu gagal meminta izin ke salah satu dosen mata kuliah di hari itu, saya pun lebih memilih untuk masuk kuliah, padahal, kuliah di kelas itu tidak mewajibkan absen, tetapi saya kalah gertak oleh dosen ajaib pemegang mata kuliah tersebut, saya ingat, dia bilang ‘silahkan ikut, konsekuensi tanggung sendiri’. Babs, namanya maba, ya jiper duluan kalau dibegituin.

Ternyata, kelasnya tidak menyenangkan. Gloomy. Seperti diserbu dementor saja. Di kelas ini, dikenal istilah tutorial, ini lah yang membedakan mahasiswa HI UNPAD dengan yang lainnya. Tutorial adalah kelas di luar kelas, di mana kita belajar dengan asisten dosen atau senior, tentang materi yang sudah dibahas di kelas. Jujur, saya tidak mau menuliskannya lagi di sini, ingin muntah kalau ingat. Itu adalah masa-masa terberat ketika kuliah dulu. Ah.

Masa-masa awal kuliah ini lah masa-masa di mana saya mempertanyakan ‘ini apaan sih ? mau jadi diplomat kok belajarnya kayak gini ?’, masa-masa di mana saya hampir memutuskan untuk mengambil SPMB lagi ketika melihat IPK yang hancur. Tetapi, karena sudah bayar mahal ketika masuk, ya sudah, jalani saja. Tanggung jawab. Banyak kuliah-kuliah dengan tugas aneh dan terlalu mendasar, bikin malas, walaupun pada akhirnya saya sadar itu penting. Sudahlah, kita skip bagian ini, malas mengingatnya.

Tradisi lain di masa awal kuliah adalah, mahasiswa baru ‘diwajibkan’ membuat kepanitiaan Pekan Olah Raga Antar Angkatan (PORANG) dan Malam Keakraban (MAKRAB). Inilah titik penting dalam masa kuliah saya. Di kepanitiaan inilah kita akan bisa melihat ‘wajah asli’, teman-teman baru kita. Karena tentunya kita semua bekerja dibawah tekanan, karena ada yang dipertanggung jawabkan: Harga diri angkatan. Di sini lah saya mulai sadar bahwa angkatan saya adalah angkatan yang sangat istimewa. Banyak ‘pemimpin-pemimpin’ baru muncul di sini. Sepertinya angkatan saya sangat kompeten dalam membuat acara.

Dalam kepanitiaan dua cara tersebut, saya menjadi tim dokumentasi dan publikasi. Sebuah tim yang selalu saya ikuti hingga akhir masa kuliah, tiap kali ada acara. Kerjanya tidak terlalu berat, tidak harus angkat-angkat barang seperti logistik, tidak perlu mengkoordinasi acara seperti anak acara, tidak perlu dekorasi seperti anak dekor, tetapi anak PUBDOK ini harus bekerja sebelum, selama, hingga sesudah acara. Yah, melelahkan juga sih. Tapi tentunya lelah yang bukan tanpa hasil. Ternyata, Makrab angkatan 2007, menurut testimoni senior senior ssiiiihhhhh, sampai sekarang masih menjadi makrab terbaik sepanjang sejarah makrab HI :p.

Di masa awal kuliah ini saya belum banyak bermain, karena saya berdomisili di Bandung, dan sangat melelahkan sekali bolak-balik Bandung-Jatinangor pada awalnya. Sehingga saya hanya punya waktu untuk bermain game dan mengerjakan tugas sesampainya di rumah. Tidak sampai pergi-pergi.

Pada akhir bagian pertama rangkaian trilogi ini, saya akan mencoba menyimpulkan kehidupan awal di HI UNPAD dulu. Menyenangkan ? Lumayan, Melelahkan ? Sangat, Menegangkan ? Sangat, ingin diulang ? sepertinya tidak. Ya, intinya, saya kurang menikmati masa-masa awal kuliah. Mungkin karena masih punya mindset seperti anak SMA. Masih hobi main di warnet. Ditambah dengan beban tugas dan tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada ketika masa SMA. Apalagi ketika mata kuliah yang disampaikan kebanyakan tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang ‘ingin diplomat banget’, yaiyalah, baru dapet mata kuliah diplomasi di semester 5 (apa 7 ya ? lupa).

Tapi setelah lulus, saya sadar. HI bukanlah tentang berbacot ria dengan bahasa yang sopan. Tetapi HI jauh lebih luas dari itu. HI adalah menganalisa. Analisa hubungan antar etnitas yang ada di sistem internasional. HI adalah membuka tabir dibalik hubungan yang ada. Ternyata, dengan mempelajari HI, mau tidak mau kita harus menjadi seorang generalis; setidaknya menguasai sebagian dari hukum, ekonomi, organisasi, keamanan, politik, bahasa, budaya, antropologi, sosiologi, luar biasa kan ?.

Yah begitu lah bagian awal ini. Bagian di mana saya membuka pintu yang unik, yang dalamnya saya kira berisi sesuatu yang unik juga. Ternyata, dibalik pintu itu terdapat sesuatu yang jauh lebih unik lagi, dan tidak terduga, dan pada akhirnya, HI adalah misteri. Misteri baru yang harus saya pecahkan, misteri baru, yang nantinya akan memberi pengaruh besar dalam hidup saya.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: