h1

Bersyukur dan Meminta (?)

December 24, 2013

Disela-sela kisah trilogi saya di HI UNPAD, iseng-iseng coba nulis yang agak berat dikit. Gak berat-berat amat sih, cuma mencurahkan pikiran di tengah lelah setelah seharian yang aneh. Tentang bersyukur dan meminta.

Dalam beberapa minggu ke belakang, saya menyadari, ada sesuatu yang berubah. Entah apa yah, tapi sepertinya saya sedang masuk dalam fase bersiap menjalani hidup baru sebagai mahasiswa magister kelak (amiin). Beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan dosen saya yang sedikit sekali saya bantu dalam penelitiannya. Kenapa beliau memilih saya ? beliau bilang ‘maneh teh keur ngadagoan rek S2 pan ? Ku sayah dimentaan tolong teh lain nanaon, meh otak maneh panas deui’/ ‘Kamu teh lagi nungguin S2 kan ? sama saya dimintain tolong teh bukan apa-apa, biar otak kamu panas lagi’.

Memang benar kata beliau. Selepas membereskan urusan kampus, terutama masalah revisi skripsi dan pengambilan ijazah, saya memang banyak bengong di rumah. Setiap hari hanya bermain PS saja. Namun, setelah obrolan dengan dosen saya ini, saya jadi berpikir, saya memang harus terus mengasah otak saya. Okelah, saya hidupkan kembali blog saya. Lumayan ternyata. Saya jadi tidak sabar mengerjakan tugas-tugas magister kelak. Selain itu, saya juga makin sering mengobrol tentang hal-hal yang semi-serius dengan teman-teman dekat saya. Entah itu tentang hubungan saya dengan orang tua, tentang tugas teman saya yang juga sedang mengambil program magister, tentang isu-isu Hubungan Internasional dan Budaya Populer, ah, pokoknya banyak.

Karena itulah otak saya  kembali panas, dan kali ini, akan saya coba tuliskan dalam sebuah tulisan tentang bersyukur, suatu hal yang banyak menjadi perdebatan oleh orang banyak.

Apa sih bersyukur itu ? Entahlah. Saya malas mencari definisi lengkapnya. Bukan apa-apa, karena ternyata di google, ketika saya mengetik tentang bersyukur, yang muncul malah motivator-motivator yang, meeehhh… Jadi, ya, saya mencoba mendefinisikan sendiri sajalah, toh ini bukan tulisan ilmiah.

Bagi saya, bersyukur adalah berterima kasih atas nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita sebagai makhluk-Nya. Sepertinya etimologi syukur sendiri berasal dari syukron yang dalam Bahasa Arab berarti terima kasih (kebetulan nih, temen di kampus ada yang jago Bahasa Arab, jadi pernah iseng tanya-tanya). Bagaimana cara berterima kasihnya, tentunya ada banyak sekali. Baik secara verbal, perbuatan, maupun hati, atau yah, state of mind kerennya. Mungkin, ini mungkin ya, secara verbal, kita mengucap hamdallah, secara perbuatan,  dengan memberi sedekah kepada yang membutuhkan, dan secara hati, tentunya merasa puas dan cukup atas nikmat yang diberikan oleh Allah.

Puas dan cukup.  Idealnya mungkin seperti itu. Namun, sayangnya kita adalah manusia. Manusia biasa. Manusia adalah binatang yang dapat berpikir. Kiranya, begitu yang dimaksud oleh Aristotle dengan zoon politikon. Binatang yang berpolitik. Berpikir. Itulah yang membedakan manusia dengan binatang. Nafsu. Itulah yang menyamakan manusia dengan binatang. Nafsu itu tidak berujung. Saya rasa, manusia tidak akan pernah merasa puas. Memang mungkin ada orang yang merasa cukup atas apa yang ia punya. Tetapi, dalam hati kecilnya, ia akan terus merasa ada sesuatu yang kurang. Saya rasa, saya pun seperti itu. Manusia akan terus bernafsu untuk meminta atau ingin meminta hingga akhir hayatnya.

Sebagai manusia, berterima kasih kepada manusia lain adalah sesuatu yang wajar.  Ketika berterima kasih kepada manusia lainnya, itu berarti ada rasa empati tersendiri ketika kata ‘terima kasih’ diucapkan. Ketika tulus berterima kasih, ada rasa di mana kita sudah dibantu oleh orang tersebut. Orang Jepang, ketika berterima kasih, mereka memiliki 2 cara untuk mengucapkannya (secara formal): ‘Arigatou Gozaimasu’ dan ‘Arigatou Gozaimashita’. Ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, secara etimologi artinya sama, namun, ‘Arigato Gozaimashita’ sendiri dalam struktur Bahasa Jepang adalah bentuk lampau (past tense) dari ‘Arigatou Gozaimasu’. ‘Arigatou Gozaimashita’ sendiri digunakan ketika kita berterima kasih kepada seseorang di akhir rangkaian sebuah kegiatan. Di mana, kita tidak akan lagi berhubungan dengan orang itu (secara profesional) dalam kegiatan yang sama. Mungkin, dalam Bahasa Indonesia dapat dijelaskan dengan ‘terima kasih’ vs ‘terima kasih atas segalanya dalam acara ini’. Kurang lebih seperti itu lah.

Kembali ke topik. Ketika kita sudah berterima kasih kepada manusia lain, idealnya, kita akan merasa tidak enak ketika ingin meminta bantuan kembali kepada manusia tersebut. Karena, manusia yang tahu etika, bagi saya, tentunya akan merasa tidak enakan untuk meminta kembali, karena mereka sadar manusia lain itu bisa lelah, waktunya terbatas, dan punya keterbatasan. Bagi saya, ketika seseorang meminta kembali kepada manusia yang sudah ia ‘arigatou gozaimashita’-i (dengan agak memaksa dan tanpa berusaha terlebih dahulu) adalah manusia yang tidak bersyukur kepada manusia lainnya. Ini memang kompleks, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa sesamanya. Namun, manusia juga harus ingat si sesamanya ini juga manusia yang punya keterbatasan.

Oh iya, tentang manusia yang tidak pernah puas juga, saya teringat dengan kisah Luqmanul Hakim dan anaknya serta seekor Keledai, di mana bagaimanapun situasinya, orang lain selalu mengkritik mereka tentang cara mereka mengendarai keledai tersebut.  Penasaran ? Silahkan googling saja, saya malas mengetik ulang, dan rasanya apabila di-copas tak sopan sekali. Intinya, manusia tidak akan pernah bisa memuaskan semua manusia lainnya. Karena nafsu tadi. Tiap manusia punya nafsu yang tidak terbatas, sehingga sebagaimana sempurnanya apa yang coba kita lakukan, di mata tiap manusia, pastilah berbeda terlihatnya. Nafsu membuat manusia hanya melihat, apa yang ingin mereka lihat. Lelah rasanya apabila kita mencoba terus, memaksakan diri untuk membuat kita dilihat sebagai seseorang yang baik oleh manusia lain, karena ketika kita sudah terlihat baik oleh seseorang, maka ada manusia lain yang akan terus mencibir kita. Ah, tak akan berakhir. Intinya, meminta kepada manusia adalah suatu aktivitas sosial yang pada satu titik harus kita akhiri, karena nafsu manusia tidak terbatas, sedangkan kemampuan manusia sangatlah terbatas.

Nah, bagaimana dengan meminta kepada Sang Pencipta ? Banyak yang bilang, ketika berdoa, berdoalah ‘Ya Allah, berikan yang terbaik untuk kami’. Hmm.. Sebenarnya mungkin ini agak kontroversial, tetapi, sebagai makhluk yang diberi akal (dan cara mensyukurinya adalah dengan menggunakannya bukan ?)  manusia tentunya punya rencana sendiri. Ya memang sih, pada akhirnya manusia berencana, namun Tuhan yang menentukan, tetapi, akankah lebih menyenangkan ketika kita memasang sebuah mindset di mana kita meminta kepada Sang Pencipta agar Ia mau membantu kita untuk menjalankan rencana yang kita buat ? Jadi, mintalah kepada Sang Pencipta apa yang kita mau, ketika tidak terwujud, maka itu bukan yang terbaik untuk kita. Jadi setidaknya, kita berharap (dan berusaha) dulu sebelum pasrah (minta yang terbaik). Saya rasa tidak ada yang salah dengan itu.

Dikabulkan atau tidak, itu masalah lain. Allah maha kaya. Ia adalah dzat yang memiliki segalanya. Ketika seseorang berdoa, meminta dunia kepada Allah, dan Allah mengabulkannya, maka Allah tidak akan merasa rugi. Ia memiliki kekuasaan yang tidak terbatas kan ? Ketika permohonan manusia tidak dikabulkan, mungkin itu karena Allah membuktikan janjinya tentang ujian yang  tidak akan melebihi kemampuan manusia. Ketika manusia meminta dunia, apakah ia akan mampu memegang dunia tersebut ? mungkin tidak. Seandainya diberikan, dan tidak mampu, berarti Allah mengujinya melewati batas manusia tersebut kan ? J

Pada akhirnya, manusia (biasa) adalah makhluk yang akan selamanya terkekang oleh nafsunya. Mungkin, manusia tidak akan pernah bisa bersyukur dengan sungguh-sungguh. Mungkin, dalam hati kecilnya selalu ada ketidakpuasan, ketika rencana Tuhan tidak sejalan dengan rencananya sendiri.  Namun, ketika hal itu terjadi, manusia bisa kembali berharap dan meminta. Terdengar menyedihkan ? Mungkin. Tapi ya ingat saja, manusia kan memang tidak ada apa-apanya dibandingkan Sang Pencipta. Kenapa mesti malu ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: