h1

It’s A Wild Wild World: S.Hint in the Making

December 27, 2013

Oke, kita lanjut post tentang HI UNPAD nya.

Masuk ke HI UNPAD, ekspresi yang ditunjukin pertama ketika melihat jadwal kuliah, kurang lebih seperti Scream nya Edward Munch. Ya begitulah. Bagaimana tidak, semester 1, saya, yang ‘hanya’ lulusan Bahasa, diharuskan menyantap menu-menu seperti: Pengantar Ilmu Ekonomi, Pengantar Ilmu Hukum, Pengantar Ilmu Politik, FILSAFAT ILMU (SHIITTTTTT), Sosiologi, Antropologi, Statistika, PPKN, Bahasa Indonesia, dan EFIR (English for International Relations) kalau tidak salah sih ini.

Gila kan ? kami anak baru, tiba-tiba dijejelin mata kuliah yang sepertinya adalah semua disiplin ilmu sosial.  Saya jadi ingat kata-kata dosen tutor saya, HI itu generalis katanya. Tahu semua, tapi tidak mendalam. Tidak mendalam, tapi juga tidak sekedar tahu. Iya, sedikit-sedikitnya saya belajar satu bidang, pada akhirnya cukup tahu banyak juga. Lumayan lah kalau dipakai buat ngobrol-ngobrol sama orang dari jurusan lain.

Oh iya, yang paling buat aya mengrenyitkan dahi ketika melihat jadwal semester 1 adalah; “MANA HI NYA ? MANA DIPLOMASI NYA ? MANA GLOBALISASI ? INI MAH IPS !?”  pertanyaan inilah yang muncul di benak kawan-kawan seangkatan waktu itu.  Ternyata, saya baru dapat mata kuliah tentang HI justru baru di semester 2, itupun ‘hanya’ pengantar. Pengantar Hubungan Internasional.

HI yang saya bayangkan dan HI yang saya jalani waktu itu sangatlah berbeda. Saya mengira HI itu akan belajar yang keren-keren. Bagaimana cara melobi, bagaimana cari berlaku high class, bagaimana cara berpolitik, ah banyaklah. Ternyata, yang didapatkan lebih dari sekedar keren. Selain keren, juga bikin jangar. Ternyata, di HI saya belajar apa-apa yang menjadi DASAR dari hal-hal tadi. Mungkin banyak yang meragukan sih, tapi saya rasa, teori tidak kalah penting dari praktek. Namun sayangnya, jaman saya dulu kuliah, prakteknya sangat-sangat-sangat kurang. Hanya teori, teori, dan teori. Bikin penat.

Jujur, beberapa semester awal di HI, saya nyaris kehilangan asa. Saya sempat merasa kalau HI tidak sesuai dengan passion saya. Jelaslah, ekonomi ? politik? Apa itu ? tidak sekalian saja saya pindah jurusan ke ilmu politik (yang lucunya, dulu di FISIP UNPAD belum ada) atau ke FE ? Meh. Tahu isinya begini kan saya lebih baik masuk Sastra Jepang saja, yag lebih cocok dengan passion saya. Tapi yah, demi orang tua yang sudah bayar-bayar, saya paksa bertahan dengan IPK yang waktu itu eungap eungap.  

Waktu itu, satu-satunya rangkaian mata kuliah yang saya nikmati hanyalah mata kuliah Hukum Internasional. Menyenangkan sekali ketika membahas UNCLOS, Unite Nation Convention on Law of the Sea. Hukum Laut Internasional. Seru sekali. Ditambah lagi ketika tahu bahwa tokoh prominen dari Indonesia di bidang Hukum Laut adalah orang Sunda. Ir. Djuanda dan Bapak Mochtar Kusumaatmadja. Kenapa mereka epic ? Karena Ir. Djuanda adalah orang yang membuat perairan dalam Indonesia (laut yang berada di tengah-tengah pulau-pulau di Indonesia) menjadi wilayah milik Indonesia (jika tidak, maka kapal asing bebas lalu lalang di sana). Sedangkan Bapak Mochtar Kusumaatmadja adalah diplomat legendaris Indonesia yang menjadi ujung tombak Indonesia dalam perundingan-perundingan yang berkaitan dengan batas-batas laut Indonesia. Sebuah hal yang sangat strategis dan krusial untuk negara kepulauan seperti Indonesia. Sayangnya, mata kuliah ini hanya sepersekian persen dari total SKS. Sejago-jagonya saya di mata kuliah ini, masih banyak mata kuliah lain yang dengan senang hati merusak IPK saya.

Kehidupan kuliah saya mulai seru ketika angkatan saya kebagian untuk mengadakan acara Symphonesia. Symphony of  Indonesia. Di sini lah, titik puncak di mana saya bangga dengan angkatan saya. Mengadakan acara dengan level nasional, meraih profit sampai… yah, seharga saya masuk HI lah, sukses berat lah. Di sinilah titik di mana saya berpikir “ayo lah, walaupun mungkin saya tak bisa bertahan dengan mata kuliah-mata kuliahnya, setidaknya masih ada kawan seperjuangan yang mungkin sama-sama merasa tidak mampu, minus tambah minus jadi plus kaaannn ?”. It works like magic. Prestasi kuliah saya meningkat. Tidak signifikan, tapi setidaknya IPK saya sudah melewati batas aman 2.75.

Masuk ke semester 7, di sini lah titik balik kuliah saya. Prestasi makin meningkat, terutama setelah menemukan kembali alasan saya masuk HI. Belajar tentang Jepang dan belajar tentang perang. Perang, saya dapat di mata kuliah Kamglob alias keamanan global. Menyenangkan sekali menganalisis isu-isu keamanan baik tradisional maupun kontemporer. Belajar tentang persenjataan, (sedikit) taktik perang, wah, seru ! dan pada akhirnya saya menemukan mata kuliah dengan pelajaran terbaik sepanjang sejarah saya sekolah dan kuliah, jauh lebih menyenangkan dari apapun juga: STUDI BUDAYA.

Ini dia. Inilah alasan saya masuk HI. Di mata kuliah ini, saya bisa mempelajari segala apa yang saya bayangkan tentang anime dan perannya dalam menyampaikan pesan melewati batas negara. Saya adalah seorang Japanese freak. Saya cinta produk-produk Jepang. Semua masuk lewat anime. Di mata kuliah ini lah mengapa saya bia menjadi Japanese Freak, semua dibahas. Saya sangat terkesan dengan mata kuliah ini. Terutama ketika saya disuruh membawa sebuah media yang berhubungan dengan sebuah kebudayaan. Waktu itu, saya memutuskan untuk membawa film dokumenter Japanorama episode tentang J-Horror. Bahasannya dikaitkan dengan teori-teori yang ada di mata kuliah ini sangatlah seru. Kalau tidak salah, saya waktu itu sedikit membahas tentang peran wanita dalam kehidupan sosial, dikaitkan dengan hantu-hantu Jepang yang kebanyakan wanita. SERU.

Di akhir mata kuliah ini, dosen saya memberikan saya sebuah buku yang berjudul In Godzilla’s Footsteps: Japanese Pop Culture Icon, mungkin maksud beliau adalah agar saya memfokuskan skripsi saya pada J-culture, karena mungkin beliau melihat potensi terbesar saya di situ. Namun, pada akhirya saya memilih sepak bola sebagai bahasan skripsi saya. Untuk alasannya, ada di posting selanjutnya yaaa, saya mau bahas yang lain dulu :p.

Di semester 7 juga ada sebuah mata kuliah yang unik, namanya Praktikum Profesi. Di sini, kita dituntut untuk mempraktekan (AKHIRNYA ADA JUGA PRAKTEK [selain ‘praktek’ diplomasi di semester 5 sih]) apa saja yang sudah kita pelajari di kelas, diaplikasikan pada dunia nyata. Di praktikum profesi ini, kami seangkatan dituntut untuk memilih suatu tempat, untuk lalu diteliti dengan teori-teori yang sudah dipelajari. Di sini, angkatan kami terbagi menjadi 6 kelompok, sesuai dengan destinasi dan apa yang akan diteliti; Kelompok Jakarta, Kelompok Kediri, Kelompok Bali, Kelompok Singapura, Kelompok Australia, dan Kelompok Eropa. Saya sendiri masuk ke kelompok terakhir.

Di Eropa, kelompok saya memtuskan untuk meneliti tentang kuliner dari kacamata poskolonialisme. Menarik sekali melihat bagaimana kuliner-kuliner di Eropa banyak yang dipengaruhi oleh kuliner negara yang dulunya mereka jajah. Kelompok saya waktu itu meneliti Belanda dan Indonesia dengan rijstaffel nya. Setelah berhasil menemukan korelasinya, kami harus mempresentasikan hasil penelitian kepada dosen DAN masyarakat umum. Ya, kami harus membuka stand di acara Symphonesia part 3 (yang berarti dilakukan oleh adik angkatan kami), lalu mempresentasikannya kepada masyarakat awam. Menantang sekali, karena teori yang digunakan mungkin tidak diketahui banyak orang awam. Namun akhirnya banyak yang tertarik, karena penelitiannya sampai jauh-jauh ke Eropa.

Praktikum ini memang penuh dengan kejutan. Di akhir semester, saya mendapatkan banyak nilai A di mata kuliah yang berjumlah 3 sks. Ternyata, ini semacam ‘hadiah’, dari mata kuliah yang berkaitan, karena praktikum angkatan saya dianggap sukses berat. Luar biasaaaaa !. Di sinilah akhirnya IPK saya menyentuh angka 3. Can I get an amen ?. Alhamdulillah, karena di semester ini, ada salah satu mata kuliah yang paling sulit di jurusan HI UNPAD: FMHI atau Filsafat dan Metodologi Hubungan Internasional. Silahkan dibayangkan sendiri seperti apa mata kuliah ini. Saya (dan sebagian besar angkatan saya) mendapat nilai sempurna di mata kuliah ini, istimewa memang angkatan 2007 ini.

Setelah beres praktikum, muncul lah satu rintangan terakhir: SKRIPSI. Namun sepertinya, bahasan tentang skripsi ini akan dibahas dalam post berikutnya. Karena sekarang sudah malam, dan Everton kalah. Otak sudah tidak kondusif. Dilanjut lain waktu. Yah, kiranya begitulah kehidupan masa kuliah saya yang cukup liar, karena jurusan saya seperti yang jarambah, semua dibahas, semua dijajal, otak sampai hampir ngabudal.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: