h1

Topeng

December 28, 2013

Kali ini mau coba menulis sakumaha aing ah, sebelum lanjut ke part terakhir trilogi HI yang bakal dipost pada tanggal 3 Januari, tepat 1 tahunan saya sidang (sebenarnya sih tulisannya udah beres). Mari coba kita bahas tentang topeng. Kenapa tentang topeng ? yah, saya terobsesi sih dengan benda yang satu ini. Setiap ada orang yang mau pergi ke mana gitu, selalu saya titipin benda yang satu ini. Koleksi saya sudah lumayan banyak, dari topeng Darth Vader, Clonetrooper, Slipknot, Topeng Jawa, Topeng Festival Venesia, Topeng Barong, Topeng Thailand, Topeng Tengu, banyak lah. Kenapa saya terobsesi dengan topeng ? Silahkan menikmati pencaritahuan anda dengan membaca tulisan ini.

Topeng. Saya sebenarnya sudah lama sekali tertarik dengan benda ini. Benda ini unik. Mungkin awal ketertarikan saya dimulai dari masa kecil, ketika suka menonton kamen rider, alias baja hitam, di mana jagoannya semua memakai topeng. Makin besar, bacaan makin banyak, makin banyak juga mengenal topeng. Ada topeng yang dipakai oleh super hero, di mana mereka harus melindungi identitas mereka demi orang-orang tercinta di sekitarnya. Ada juga topeng yang dipakai oleh para Visored dari Bleach yang dikenakan untuk menambah tenaga mereka. Ada lagi topeng Noh dan topeng bedak Kabuki yang dikenakan untuk alasan-alasan spiritual. Lalu ada juga topeng dari lagu ‘Kamen’ nya Janne Da Arc, topeng emosi manusia. Hmm, oh ya, ada lagi. ‘Topeng’ kulit putih yang dipakai oleh pria kulit hitam untuk menutupi identitas mereka sebagai kulit hitam yang rendahan, agar mereka dilihat sebagai pria kulit putih kelas tinggi. Frantz Fannon yang bilang, bukan saya.

Dari paragraf di atas, ada dua macam topeng. Topeng dan ‘topeng’. Topeng tanpa tanda kutip adalah topeng yang berbentuk fisik, yang memiliki fungsi untuk menutupi wajah. Topeng dalam makna denotatif. Makna sebenarnya. ‘Topeng’ dengan tanda kutip adalah topeng yang tidak memiliki bentuk fisik, yang memiliki fungsi untuk menutupi identitas yang asli. Topeng dalam makna konotatif. Makna kiasan.

Manusia adalah makhluk yang unik. Ia tidak pernah puas dan tidak akan pernah puas. Termasuk dengan dirinya sendiri. Karena itulah, mereka menciptakan topeng dan ‘topeng’. Ada beberapa topeng yang fungsinya memang untuk menyembunyikan wajah sendiri. Memang banyak sih tujuannya menyembunyikan wajah. Memang tidak pede, atau mau merampok, atau sekedar untuk bersenang-senang. Ketika memakai topeng, manusia memang tidak menjadi dirinya sendiri secara fisik. Namun, dalamnya, mereka tetap sama. Mungkin sedikit berbeda dalam kasus mereka yang bertopeng karena tidak pede. Dengan bertopeng, jadi lebih pede. Tapi rampok, dalamnya tetaplah rampok. Yang mau senang-senang, dalamnya tetaplah yang mau senang-senang. Eh tapi, memang ada juga sih yang memakai topeng demi ritual-ritual keagamaan. Tapi ini masalah spiritual. Saya tidak mau komentar banyak.

Saya sendiri senang dengan topeng ini karena dari segi estetis saja. Seringkali bentuknya unik. Kadang bentuknya memiliki makna filosofis yang mendalam. Seperti topeng Noh yang dibuat sedemikian rupa agar bisa memiliki berbagai macam ekspresi ketika dilihat dari berbagai sudut. Ini menunjukkan sifat manusia yang tentunya bisa senang, sedih, dan takut. Mungkin filosofinya bukan seperti ini, tapi saya sendiri menilai bahwa topeng ini menggambarkan, siapapun manusia itu, ia tetaplah manusia. Ketika bertopeng pun ia tetap senang, sedih, dan takut. Merasa dan berekspresi adalah sesuatu hal yang membuat manusia menjadi makhluk. Makhluk berperasaan. Siapapun mereka.

‘Topeng’ juga kembali mempertegas betapa uniknya manusia yang tidak pernah puas. Betapa lemahnya manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna. Semestinya, setiap manusia sama. Namun, manusialah juga yang menciptakan perbedaan di antara mereka. Ada si baik, ada si jahat, ada si kaya, ada si miskin, ada si cantik, ada si jelek, ada si pintar, ada si ganteng, si bodoh, si rajin, sisiuk, dan siraru. Eh biarin lah ngegaring dikit biar gak terlalu serius. Tapi ya begitulah. Menarik melihat takdir manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Menarik juga ketika manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Homo homini lupus. Manusia harus saling membantu, juga harus saling menjatuhkan. One hell of a species these human are. Tatanan sosial lah yang membuat seorang manusia menjadi ‘bertopeng’.

Menarik membahas ‘topeng’ ini dari kacamata Frantz Fannon. Sebenarnya, Fannon membuat buku tentang ‘Black Skin, White Mask’, untuk membuat sebuah perlawanan, dengan psikoanalisis poskolonialisme. Namun, saya akan coba menarik inti dari teori Fannon ini, lalu mengaplikasikannya dengan kehidupan sosial sehari-hari non-kolonial *naon*. Sebenarnya akan terdengar konyol, tapi kalau tidak dicoba tak akan tahu. Begini. Ahem. Paragraf selanjutnya deh.

Begini. Inti dari apa yang ditulis Fannon adalah, bagaimana mentalitas bangsa Afrika yang selalu merasa inferior oleh kaum kulit putih, karena mereka dulunya ditekan oleh penjajah yang berkulit putih. Mereka di-de-manusia-kan, seakan kulit hitam adalah sebuah kutukan. Seakan kulit hitam adalah setan, dan kulit putih adalah malaikat. Oleh karena itu, orang-orang kulit hitam meninggalkan identitas –yang berarti di dalamnya ada gaya hidup, cara hidup, budaya- dan mengenakan ‘topeng’ kulit putih. Ini dia. Rasa inferioritas yang muncul, membuat mereka melupakan diri mereka sendiri, menjadi orang lain, demi masuk ke dalam sebuah lingkaran sosial lain, yang mungkin sebenarnya tidak dibuat untuk mereka. Atau mungkin, sengaja dibuat agar mereka meninggalkan lingkaran sosial mereka sendiri ? Mengerikan bukan ?. Akhirnya mereka ‘bertopeng’ kulit putih, namun tetap saja, mereka adalah kulit hitam. Seharusnya, apabila manusia memang diciptakan setara, rasa inferioritas fiktif ini tidak usah terjadi.

Mari kita ambil pola pikir barusan ke level masyarakat modern. Sadarkah kita, bahwa kita sebenarnya hidup dalam dunia di mana ada situasi yang mirip dengan masa kolonialisme ? Kita hidup di dalam dunia, di mana ada sekelompok orang, yang sepertinya dipandang lebih tinggi oleh orang lain. Mungkin oleh kita. Kita sendiri seringkali ingin menjadi bagian dari  orang-orang itu. The elites. Di sekolah, di tempat kerja, di kampus, di manapun, selalu saja ada orang-orang seperti ini. Mereka ‘bekerja’ bak para kolonial. Menyepelekan apa yang terlihat berbeda, mengagungkan apa yang terlihat sama oleh mereka. Mereka yang kalah, adalah mereka yang ‘bertopeng’ dihadapan orang-orang ini. Mereka yang membuang identitas mereka, demi bergabung dengan suatu hal yang sebenarnya semu.

Kita hidup dalam masa di mana tak memakai acang (hahah acang anjir, acang adalah alat canggih alias gadget, terdengar konyol. Nah ini juga bukti kalau saya masih terjebak dalam mentalitas yang sama, di mana mouse terdengar lebih ciamik daripada tetikus dan gadget bisa lebih diterima daripada acang), adalah sebuah dosa. Ya mungkin ada beberapa fitur dari gadget yang memang dibutuhkan dalam berkomunikasi. Ini memang tidak bisa dipungkiri sih, karena kemajuan teknologi. Namun ada satu titik di mana sebenarnya kita tidak butuh-butuh amat suatu acang yang terlalu ‘wow’. Sesuai kebutuhan saja. Saya pernah ditertawakan karena saya masih memakai laptop acer butut, bukan macbook. Memangnya kenapa ? Laptop acer saya masih bisa dipakai dengan sempurna kok. Main game ? Main di PS lah.

Saya tidak mau memakai ‘topeng’ berupa mac user yang dianggap oleh masyarakat modern sebagai the elites. Saya tidak mau memakai suatu barang hanya karena pride belaka. Saya lebih senang memakai baju Everton seharga 150 ribu (original loh, full patch, dapet di ebay, #3, Leighton Baines musim 2008-2009), daripada memakai baju aigner yang harganya jutaan rupiah. Toh fungsinya sama. Biar tidak telanjang. Biar hangat. Inti dari semuanya ? Kita terjajah oleh lingkungan kita sendiri. Tertekan.

Nah, kiranya begitu lah ‘topeng’ dalam wujud pertamanya. Ada juga ‘topeng’ yang berwujud lain. Kode sosial memaksa kita untuk berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang sudah dikonsensuskan. Misalnya, tidak menangis di depan teman, atau mungkin tidak tertawa di suasana khidmat (kalau yang seperti ini, mungkin masih bisa dimaklum yah, kadang konsensus juga ada benarnya, bagi saya). Ada kalanya kita terpaksa tersenyum di depan orang lain. Pedih. Senyum adalah sebuah ekspresi yang ketika dilakukan dengan tulus, adalah ekspresi yang paling indah yang bisa ditunjukkan oleh seorang manusia. Tersenyum ketika bersedih, sudah tidak indah lagi sepertinya. Tapi ya kembali lagi ke sifat manusia tadi. Manusia akan selalu berusaha membuat dirinya cocok dengan lingkungannya. Ketika lingkungannya tidak menerima tangisan, maka manusia akan tersenyum, walaupun ia bersedih.  Mungkin bukan manusia yang menciptakan ekspresi tersenyum, menangis, tertawa, dan lainnya. Itu bawaan dari Tuhan. Tapi, manusialah yang menciptakan makna dari ekspresi tersebut.

Lemah ? Ya. Manusia memang lemah. Ia tunduk pada kode sosial tadi. Ia tunduk pada takdirnya sebagai makhluk sosial. Kompleks yah ? Memang. Karena itulah saya suka ‘topeng’. ‘Topeng’ memang suatu ‘alat’ yang menunjukkan bagaimana lemahnya manusia. Sangat istimewa. Bagaimana sebuah hal yang ‘diciptakan’ oleh manusia, pada akhirnya menjadi tempat bergantung (walaupun tidak sepenuhnya sih, karena bergantung hanya pada Allah yang esa).  Manusia luluh lantah oleh ciptaan mereka sendiri. Backfired, bagi beberapa orang.

Pada akhirnya, dibalik topeng dan ‘topeng’, manusia itu sama. Kecuali yang tidak berekspresi, saya tidak tahu kenapa untuk yang satu itu. Dibalik semua topeng dan ‘topeng’, manusia hanyalah makhluk. Sama-sama bisa sakit, sama-sama bisa senang, bisa sedih, bisa takut. Manusia adalah makhluk yang jantungnya sama-sama berdetak, darahnya sama-sama merah. Setara kan ? Iya, manusia diciptakan setara. Manusia sendirilah yang menciptakan ketidaksetaraan itu. Dasar makhluk sombong.

Well, then again, we live in a world full of lie. But there are good lies perhaps ? It is all back at yourselves, would you rather live in a beautiful lie ? or a painful truth, again, it is yours to wear the mask or not to.  

Bonus yeuh, saya make topeng Shawn ‘the #6 Clown’ Crahan dari Slipknot

Image7

Advertisements

4 comments

  1. Bagus tulisannya, sangat mencerahkan dan merefleksikan kondisi semua org. termasuk sy.

    Sy jg pecinta topeng bim. Dirumah ada 2 topeng. Satu topeng polos, tanpa ekpresi, satu lagi adat bali, siga topeng jin halimun gt. tp agak kecil.

    Fungsinya kalau bagi urg hampir sm apa yg sdh bima jelaskan di atas. Menjadi seseorang yang bukan saya. Secara spesifik di keluarga.

    Kalau di luar, secara garis besar. Saya berani-berani saja utk menjadi diri saya sendiri. Rada unmormal-lah. Beda dr org lain. Masa bodo dengan ocehan org.

    Tp kalau dalam keluarga menjadi beda itu sesuatu yg sngt menakutkan. Misalnya, scr keyakinan sy Agnostik. Kemarin, waktu bulan november ada aturan baru ttg aturan agama dlm KTP, boleh di kosongkan. Pengennya sih ngosingin kolom agama dlm KTP, toh scr legal itu sah. Tp scr sosial, Sy agak serem. Mikirin reaksi orang tua. Takut gak di aku anak. dkk.

    Mungkin ada suatu masa dimana saya akan memilih untuk melepas topeng tadi dan menjadi diri sendiri.

    Setidaknya, kehadiran dua topeng yang sdh sy jelaskan di atas mengingatkan saya bahwa pada saat ini saya sedang memakai suatu persona. Kalau pakai bahasa pradip itu ‘fake’.

    BTW sy suka header Blog bima yg baru “I Write, Therefore, I Am”. Jadi inget Pramoedya “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

    Keep posting bim 🙂


  2. wah, kalau masalah yg agama dikosongin itu, mending pikirkan baik baik lagi sih Ros. Kita masih ‘dijajah’ sama sistem yang rada-rada xenophobhik, takut sama segala sesuatu yang beda. Ntar kalau kamu ngosongin kolom agama, kamu disangka penyembah setan 😦

    terdengar bego, tapi nyata loh. Dalam hal tertentu, bagi urang, ada masanya kita harus salah di waktu yang benar. Bohong sama diri sendiri kali ya ? Tapi yaa kembali lagi ke pertanyaan terakhir urang, mau hidup dalam kemanisan dusta apa kepahitan kenyataan ? sekedar ngingetin, ada beberapa hal juga yang tidak terlalu pantas untuk diperjuangkan sampai ‘sebegitunya’. Yang ada di KTP mah cuma masalah status kan, yg penting hatinya begimana gituh. 😀

    headernya ceritanya anarcho descartes, tapi ceritanya doang. Biar kedengaran keren. hahhahaa.. urang malah gak kepikiran Pak Pram loh..


  3. Kalau dr masyarakat sih sy siap saja utk di musuhi, dikucilkan atau di pandang sebelah mata oleh mereka.
    Toh, pernah ada masa dimana ngerasa di musuhi oleh (hampir) satu angkatan dan itu rasa bkn sesuatu yg buruk. Toh, msh ada tmn2x yg mendukung sy, baik di ‘belakang’ atau di ‘samping’. *kasus akhir tahun 2009 tea bim* :))

    Mungkin untuk saat ini urg tdk ckp bodoh utk memilih pilihan tadi dan kondisinya memang blm memungkinkan utk memilih pilihan itu. Tapi, mungkin ketika keadaannya pas dan memungkinkan, Insya Allah sy milih pilihan gila td bim.

    Memang beresiko sih, segala sesuatu emang ada harganya bim.
    Tp yah mau gmn lg. Kadang Indonesia ini perlu beberapa orang gila agar masyarakatnya bs membuka mata *sok iyee gini* :))


    • hahaha, berurusan sama stigma memang tak gampang. Tapi jelema teh emang suka lalieur. Ketika mereka sama, mereka ingin beda, ketika sudah beda, malah dijauhin, lalu aku kudu kumaha ? hahaha..



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: