h1

Brian Clough: Über-fucking-Alles

December 29, 2013

Kali ini, saya mau mencoba menulis tentang seorang tokoh. Pendek saja. Dikemas dalam 2000 kata, mungkin kurang, atau mungkin lebih. Sebenarnya 2000 kata tidaklah cukup untuk menggambarkan kehebatan orang ini. Film mini biopic tentang sebuah fase di mana ia gagal saja membutuhkan waktu 1 jam setengah untuk ditayangkan dengan se-detail dan seringkas mungkin. Saya akan coba membahas beliau dari sisi beliau sebagai seorang manajer sepak bola yang luar biasa, juga beliau sebagai manusia unik yang selalu berkata jujur, apa adanya. Jujur dalam artian jujur yang belepotan. Jujur di mana ia tak ragu melepas ‘topeng’ etika ketika ia berbicara kepada publik.

Untuk pemilihan judul saja, saya bingung. Ada 3 judul yang muncul di benak saya ketika akan menulis tentang beliau. Oh ya, saya belum menyebutkan namanya ya ? Namanya Brian Clough, siapa dia anda akan tahu setelah anda berhenti membaca pada titik terakhir di tulisan ini. Ok, kembali ke pemilihan judul. 3 judul tersebut adalah: Brian Clough; Uber-fucking-alles, ini diambil dari kata-kata beliau di dalam film mini-biopic the Damned United, di mana ia diperankan oleh Michael Sheen dengan sangat luar biasa. Kata-kata ini keluar ketika ia diragukan oleh jajaran direksi Leeds United, pada saat ia mengambil alih jabatan manajer yang ditinggal oleh Don Revie –manajer Leeds sebelumnya yang sangat sukses-. Uber Alles sendiri artinya diatas segalanya, dalam Bahasa Jerman. Kata fucking di sini digunakan sebagai sebuah adjektif yang menekankan bagaimana tingginya kepercayaan dirinya.

Judul kedua adalah Brian Clough; The Greatest Manager England Never Had. Ini diambil dari perjalanan hidup Clough di mana ia tidak pernah sekalipun ditunjuk oleh Football Asociation (FA, PSSInya Inggris) sebagai manajer tim nasional Inggris. Konon, FA tidak pernah menunjuk Clough sebagai manajer karena tingkahnya yang kontroversial, dan selalu blak-blakan. Sepertinya FA tidak mau ambil resiko apabila suatu saat tiba-tiba Clough mengata-ngatai tim nasional Perancis sebagai tukang kabur jika Ingris kalah dari Perancis dengan skor tipis –referensi kepada tentara Perancis yang kabur dari lawan di Perang Dunia Pertama-. Sedangkan judul ketiga, sederhana saja, Brian Clough. Pada akhirnya saya mengambil Uber-fucking-Alles, karena saya akan bercerita tentang bagaimana hebatnya Clough. Bagaimana ia –dalam beberapa- hal, memang diatas siapapun, diatas segalanya mungkin.

Brian Clough,  lahir di Grove Hill, Middlesbrough, Yorkshire adalah mantan penyerang dari tim sepak bola  Sunderland dan Middlesbrough yang meraih puncak karirnya ketika ia sudah pensiun menjadi pemain. Ia sukses ketika sudah menjadi manajer. Mungkin banyak yang tidak mengetahui siapa itu Brian Clough. Wajar. Saya sendiri baru mengenalnya dengan lebih dekat ketika saya menonton film the Damned United. Tak apalah, tak ada kata terlambat, bahkan untuk mengenal seseorang. Mungkin pada masa sekarang, nama Brian Clough kalah tenar dengan nama-nama seperti Jose Mourinho, Pep Guardiola, Fabio Capello, atau bahkan oleh Andres Villas Boas dan Massimiliano ‘DAI DAI DAI’ Allegri. Namun, tahukah anda, kalau Brian Clough adalah satu dari sedikit manajer yang berhasil meraih back to back dalam European Cup (yang nantinya menjadi UEFA Champions League, kompetisi antarklub paling bergengsi di dunia) ? Dan ia memenangkannya, dengan tim yang baru 2 musim saja berkompetisi di divisi utama liganya. Oh iya, Clough juga membawa Derby County menjadi juara divisi utama Liga Inggris, langsung setelah mereka promosi dari kasta kedua Liga Inggris.

Brian Clough adalah seorang manajer yang memiliki metode unik dalam mengatur timnya. Ia jauh dari pakem-pakem tradisional dalam mengatur tim. Ketika banyak manajer dan tim yang acuh saja terhadap pemain-pemainnya (seperti Real Madrid yang menelantarkan Samuel Eto’o di bandara di hari kedatangannya), Clough berbeda. Ia peduli terhadap pemain-pemainnya. Bahkan terhadap masalah mereka, seperti alkoholisme atau judi. Ketika manajer lain menekankan ‘kalian harus menang di pertandingan besok !’, Clough malah mengajak pemain-pemainnya minum, walaupun tidak hingga mabuk, sehingga mereka lebih tenang dan dapat bermain tanpa beban. Ingat, ketika dibawah tekanan, manusia tidak akan bisa berusaha sepenuh tenaga; dan yang terakhir, tetap profesional. Walaupun di luar waktu latihan Clough sepertinya bisa menjadi seseorang yang bertindak seperti kakak atau teman, namun di waktu latihan, Clough sepertinya memegang teguh prinsip dari Machiavelli –seorang filsuf dari Italia- tentang bagaimana pemimpin lebih baik ditakuti daripada dicintai, karena rasa takut akan memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan rasa cinta, akan membuat seseorang melakukan sesuatu atas dasar sukarela. Ketika ada pemain yang tidak setuju dengan pendapatnya, maka ia akan menghabiskan 20 menit berbicara dengan pemain tersebut, lalu memutuskan bahwa dirinya lah yang benar. Hahahaha.

Brian Clough (dan asisten sejatinya, Peter Taylor) adalah seorang jenius dalam membeli pemain. Dalam sebuah wawancara, ia berkata ‘Great managers make good signings. It is not the good signings make the good manager’. Clough dan Taylor pun memiliki beberapa tips and trick dalam memilih pemain. Tips-tips ini dimuat di dalam buku Soccernomics karangan Simon Kuper dan Stefan Szymmanski.

  1. Menjual pemain di saat yang tepat.
  2. Pemain yang berusia lebih tua, seringkali dinilai terlalu tinggi
  3. Beli pemain yang bermasalah dengan harga diskon, lalu selesaikan masalah mereka.

Brian Clough dan Peter Taylor berpendapat, bahwa selain membeli pemain, sebuah klub juga harus aktif menjual pemain. Seorang manajer harus tahu kapan mereka harus menjual pemain mereka. Manajer harus tahu di titik mana pemain tersebut ada di puncak kariernya, dan di titik mana juga ia akan mulai menurun. Di titik puncak, tepat sebelum kemampuan pemain itu menurun lah, waktu yang tepat untuk menjual pemain. Ini prinsip ekonomi. Jual semahal mungkin di saat yang setepat mungkin. Seperti main saham lah.

Brian Clough dan Peter Taylor juga berpendapat, kalau pemain yang lebih tua, kadangkala dinilai terlalu tinggi, bahasa kerennya, overrated. Seorang pemain, sehebat apapun dia, akan menemui titik di mana kualitasnya akan terus menurun. Rata-rata patokannya adalah usia. Brian Clough menilai, di usia 30an tahunlah pemain akan mulai menurun.  Namun, itu bisa ditarik secara posisi dan gaya bermain. Penyerang cenderung mulai menurun di usia 27an tahun, sedangkan pemain tengah 30an, pemain bertahan 32an, dan kiper, bisa sampai 35-40 tahunan. Coba lihat kasus Fernando Torres. Liverpool mengaplikasikan poin nomor 1 dan 2 dari Clough dan Taylor dalam menjual Torres. Torres yang waktu itu kemampuannya menurun jauh, berhasil dijual oleh Liverpool ke Chelsea dengan harga 50 juta Pounds. Torres pada saat itu memang sedang jago-jagonya, namun setelah pindah ke Chelsea, keganasannya langsung turun drastis. Itu karena Torres sudah melewati masa puncaknya. Sebuah keputusan brilian dari Liverpool.

Brian Clough dan Peter Taylor, pada ‘teori’nya yang terakhir, beli murah pemain yang bermasalah. Clough dan Taylor adalah orang yang bermasalah.  Clough pemabuk. Taylor pejudi. Mereka mampu mengerti masalah pribadi seorang pemain. Mungkin tidak semua pemain mau terbuka, tapi ya begitulah semestinya. Ketika mereka terbuka, masalah mereka akan bisa diselesaikan. Ketika masalah mereka selesai, maka mereka akan menjadi seseorang yang lebih hebat daripada mereka sendiri ketika bermasalah. Contohnya di sepak bola modern adalah Zlatan Ibrahimovic. Ibra, seorang yang ultra-egois, tidak bahagia di FC Barcelona. Ia tidak bisa bermain dengan Messi sebagai titik sentral permainan. Ibra adalah seseorang yang suka dengan lampu sorot. Ia harus menjadi kepala naga di tubuh naga. Ia ingin menjadi ujung tombak yang tersohor. Semua hal tentang Ibra itu, bagi FC Barcelona dibaca seperti ini: masalah, masalah, masalah, dan masalah, mengapa ? Karena bagi FC Barcelona, kerja sama dan keutuhan tim adalah hal yang paling penting. Pemain seperti Ibra lah yang akan mengacak-ngacak harmoni tim. Di sinilah Adriano Galliani dari AC Milan dengan jeli melihat masalah yang dialami Ibra. Dengan kemampuan negosiasi yang mumpuni, ia mendatangkan Ibra ke Milan dengan harga hanya sepertiga dari harga transfer Ibra ke Barcelona. Hasilnya ? Pencetak gol terbanyak di Serie A, dan sebuah scudetto, dan di penghujungnya, sebuah transfer dengan harga yang fantastis ke Paris Saint Germain. Brian Clough adalah orang yang hidup dan berkarya di tahun 70an, namun apa yang ia lakukan di masa itu, adalah acuan untuk orang yang hidup di masa ini. Seperti guru mungkin. Atau panutan.

Brian Clough memiliki keistimewaan lain selain gaya manajemennya yang agak nyeleneh tadi. Ia adalah seseorang yang tidak ragu untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya tanpa takut menyinggung orang lain. Oh tidak, ia bahkan mengejek orang lain yang baginya memang pantas diejek. Sampai-sampai Muhammad Ali, si petinju dengan mulut seperti tempat sampah, sempat ‘marah’ pada Clough, dan berkata kurang lebih seperti ini dalam sebuah wawancara: Some fella in London, England named, some Brian… Brian Clough. I heard all the way in America that this fella talks too much. They say he’s another Mohammed Ali. There’s just one Mohammed Ali. Now, Clough, I’ve had enough. Stop it’, dan Ali, adalah orang yang menyebut lawannya dengan sebutan si Beruang Jelek yang ketika kalah akan disumbangkan ke kebun binatang (Sonny Liston).

Brian Clough adalah seseorang yang jujur, dan sepertinya, memang sudah kodratnya orang jujur untuk terdepak dari masyarakat (?). Ini bicara pahit sih, mungkin memang saat ini banyak yang melihat Clough sebagai sosok yang istimewa karena ia berani jujur (termasuk saya), namun pada masanya, kejujurannya yang blak-blakan seperti ini membuatnya tidak pernah dapat tawaran dari FA untuk menjadi manajer tim nasional Inggris –sebuah jabatan dan cita-cita tertinggi bagi seorang manajer-. Ketika di Derby, ia ‘diusir’ oleh direksi Derby karena ia mengkritik keputusan direksi Derby yang memaksanya untuk memainkan ‘tim lapis dua’ ketika ia harus menghadapi seteru abadinya, Leeds United dengan Don Revie sebagai manajer. Ketika di Leeds pun demikian. Setelah ia selalu memaki-maki Don Revie, hanya karena masalah sepele sebenarnya, ia tidak diajak berjabat tangan ketika Leeds United bertandang ke Derby County, ia menjadi anti-Leeds. Uniknya, setelah menjadi anti-Leeds, ia menerima tawaran dari Leeds sendiri. Yang saya lihat, ia tak sabar untuk kembali berkompetisi di Eropa. Namun, ia menuai apa yang sudah ia tebar. Kebencian yang ia tebar kepada Leeds, balik menghajarnya ketika pemain Leeds tidak mau bekerja sama dengannya yang sudah mengejek cara bermain Leeds yang terlalu kasar.

Brian Clough, sehebat apapun, pada akhirnya hanyalah manusia biasa. Mungkin manusia biasa yang agak sedikit istimewa. Eh tapi bukan dia saja. Kamu-kamu yang baca blog ini juga istimewa kok J. Eh iya, kenapa Clough hanya manusia biasa ? Ada sebuah kisah unik ketika ia melatih Derby County. Ini berhubungan dengan obsesinya yang tidak sehat dengan Don Revie kelak. Ketika Leeds, di kala itu juara divisi utama Liga Inggris, datang ke klub antah-berantah, Derby County, waktu itu ada di papan bawah divisi kedua Liga Inggris, (menurut versi the Damned United) Clough dengan membersihkan kandang Derby dengan sepenuh hati. Ia ingin menyambut Leeds dengan sebaik-baiknya. Ia mengidolakan Don Revie. Terobsesi. Ia berteriak kegirangan ketika Derby harus berhadapan dengan Leeds di Piala FA. Namun, apa yang ia bayangkan tidak seindah apa yang terjadi. Don Revie yang tidak tahu bahwa Clough adalah manajer utama Derby –yang bagi saya sangat wajar, mengingat teknologi informasi di masa itu tidaklah secanggih sekarang-, melewati Clough yang ingin berjabat tangan. Pada akhir pertandingan pun demikian. Ia melewati Clough yang sedang duduk di dugout, dan hanya menjabat tangan Peter Taylor saja. Clough geram. Eluan menjadi kecaman dan cinta pun menjadi benci. Ia menjadi terobsesi dengan Don Revie, dan seperti sudah disebutkan pada paragraf sebelumnya, kebencian inilah yang membuatnya gagal menangani Leeds United, klub terbesar Inggris di masa itu.

Brian Clough mungkin memang sosok manajer yang ideal. Tentunya, tidak ada sosok manajer yang benar-benar ideal. Semua punya kekurangan. Yang membedakan Clough, mungkin kekurangannya hanya sedikit. Sebagai manajer, mungkin, apabila ia bisa mengatur emoisnya, ia bisa menjadi lebih sukses. Mungkin ia akan menjabat sebagai manajer tim nasional Inggris yang mungkin saja menjadi juara dunia di masanya, menambahkan satu bintang di atas logo the Three Lions. Namun, sebagai sosok manusia, bagi saya keberanian Clough dalam melepas ‘topeng’ yang ia kenakan, haruslah diacungi jempol. Karena itu juga saya menulis tentang dia.

Brian Clough. Legenda. Middlesbrough. Derby County. Nothingham Forrest. Mungkin tidak akan pernah ada lagi manajer yang seperti dia. Mari kita nikmati bersama peninggalan-peninggalannya sebagai seorang legenda.

You really are, über-fucking-alles, Brian.

”I want no epitaphs of profound history and all that type of thing. I contributed. I would hope they would say that, and I would hope somebody liked me.”

Brian Clough.

clough

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: