h1

Bertanya Pada Waktu

December 31, 2013

Baru saja aku bertanya pada Sang Waktu

Hey bung, sebenarnya apa maumu ?

Ia menjawab dengan ringan

Tidak ada. Lagipula, aku ada karena kalian

 

Aku bingung, lalu aku kembali bertanya

Bukankah karenamu aku bimbang ?

Karenaku ? Haha, lucu kau manusia

Hanya mereka yang yang tak mengerti yang terkekang

 

Aku ini sebenarnya tak ada, tak nyata

Tak seperti kalian, berwujud, ter-raba

Aku tak tersentuh, tak terlihat, tak berasa

Aku ada karena kalian pikir aku ada

 

Tidak, kau bohong, tiap hari aku menunggu mati

Aku menunggu karena ada engkau, waktu

Kau bohong, karena tiap hari aku berlari

Aku berlari karena kau kejar, waktu

 

Hey manusia, kau ini sulit belajar

Aku ada tapi sebenarnya tak hidup

Aku ini sebenarnya diam tak berujar

Kau yang membuat aku hidup

 

Hah ? Kau gila ya, waktu ?

Tiap detik kau bertambah satu

Tiap jam kau bertambah satu

Tiap hari kau bertambah satu

Tiap bulan kau bertambah satu

Tiap tahun kau bertambah satu

Engkau berusia, engkau ada, waktu

 

Hahahahhahahaha siapa berujar begitu ?

Itu semua karanganmu saja, hanya imaji

Kau melihatku ada karena kau melihat matahari

Ketika ia muncul, maka  kau hitung sebagai satu aku

 

Ada juga kau yang melihat bulan

Ketika ia muncul, maka kau hitung sebagai satu aku

Itu semua kau sebut dengan tanggalan

Begitulah kau melihat aku

 

Aku hanya terdiam saja melihat Waktu berkata

Aku termenung, selama ini apa yang mengekangku ?

Aku bertanya lagi, Waktu, kalau bukan kau, lalu apa ?

Apa arti dari angka-angka yang berjejer di tembok itu ?

 

Angka yang berjejer di tembok itu hanya coretan

Coretan yang kau buat untuk mengenangku

Coretan yang kau buat, sekedar untuk ukuran

Ukuran untuk dirimu sendiri, bukan untuk aku

 

Aku tak terhitung, kau yang terhitung dan menghitung

Aku ada, hanya ada, kau yang mengada-ngada

Karena mengada-ada, seringkali kau berakhir buntung

Aku lebih dari sekedar hitungan yang ada

 

Kalau begitu, apa arti dari siang dan malam ?

Apa arti dari hari, bulan, tahun ?

Ah waktu, kau membuat pikiranku kelam

Yang seperti ini akan membuatku berpikir menahun

 

Hahaha, begitulah aku, sesuatu yang ada tapi tak tersentuh

Itu sikap golonganmu bukan ? Selalu mempertanyakan apa yang tak terlihat

Memaksakan diri agar dapat menyentuh

Kau tidak akan diam sampai engkau bisa melihat

 

Banyak darimu yang kesal denganku

Mereka berimaji bahwa mereka bisa membengkokkanku

Imaji hanyalah imaji, tak akan sampai kau ke situ

Itu hanyalah tanda dari ketidakberdayaanmu di hadapan aku

 

Aku kehabisan kata-kata, lalu berpikir, walau tak sampai

Aku bertanya lagi, seagung itukah engkau waktu ?

 

Penciptamu saja bersumpah demi aku

Sesamamu menghargai aku dengan emas

Apa tidak terpikir olehmu betapa agungnya aku ?

Cobalah kau pikir lebih keras

 

Aku menyerah waktu

Tolong jawab aku;

Jika begitu, apa yang selama ini aku tahu ?

Kalau ternyata itu bukan engkau waktu ?

 

Aku hanyalah waktu, bukan Penciptamu

Aku tidak memiliki segala jawaban

Tapi sebenarnya kau tahu itu jawaban

Satu pesanku, jangan paksakan kuasamu padaku

 

Setelah itu aku terbangun, ternyata aku bermimpi

Mimpi yang aneh, sembari melihat ke layar handphone ku,

Ternyata tertulis di situ, Satu Januari

Ah, ternyata sudah masuk tahun baru !

 

Lalu sang waktu pun kembali tertawa

 

Iseng-iseng coba bikin puisi panjang seperti ini. Ternyata seru juga. Isinya agak sedikit mengarang bebas, tapi yah, coba diresapi lah. Ceritanya mau sok-sokan filosofis tentang bagaimana manusia ‘menghargai’ waktu, menghargai dalam berbagai maknanya. Selamat membaca, semoga bisa jadi renungan yang asyik buat apa yang kalian sebut dengan Tahun Baru. Selamat bagi yang merayakan ya !

Advertisements

5 comments

  1. Bagi saya waktu adalah rentang kerja yang di konstruksi oleh suatu manusia. Sebagai pengingat, sebagai pengukur, sebagai penanda, sebagai evalutor segala aktivias manusia.

    Mungkin akhir tahun tidak sebenar-benarnnya ‘akhir tahun’. Tanpa konsep ‘akhir tahun’ pun waktu tetaplah berjalan semakin menuakan tahun yang jika dikalkulasikan berdasarkan ahli geologi umur bumi sdh miliaran tahun.

    Setidaknya penciptaan ‘rentang kerja’, seperti satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan atau satu tahun menciptakan kita sebuah momen untuk memperbaiki diri. Setidaknya kita sepakat jika Tahun Baru merupakan momen dimana masyarakat Global memberikan energi positifnya pada sebuah harapan dan angan-angan. Terlepas apakah harapan dan angan-angan tersebut dapat terwujud atau tidak. Manusia dan waktu yang dapat menjawabnya.

    btw, naha urg jadi ngomongin yg konseptual-nya ? hahaha..
    Tiga paragraf awal itu hanya ngawang-ngawang bim. Gk terlalu serius. hehe.

    Btw Sukses di Tahun 2014 bim. 🙂


    • iyes, bener, waktu dan konsep waktu sebenarnya terpisah sih. waktu dinamai konsep waktu sama manusia, diberi tanda, sebagai pembatas buat manusia sendiri. Memang, kalau tidak ada yang namanya konsep waktu, manusia bisa saja kerja seenak jidat mereka, tetapi tidak juga semestinya manusia mendewakan waktu-waktu tertentu.. tapi secara ilmiah waktu juga penting sih, misal dalam menentukan masa inkubasi menyakit dan sejenisnya..

      Momen untuk berubah sebenarnya bisa kapan saja sih, cuma manusia memang lebih suka hal-hal yang bersifat simbolis. Tapi ya begitu, yang bersifat simbolis kan mitos, dan mitos itu harus diiiii (silahkan isi sendiri) bwhahahhahaa…

      sama-sama Ros, sukses selalu~


  2. Kalian ya, postingannya puitis tapi kok komennya malah jauh dari puitis :))

    btw urang suka “Aku kehabisan kata-kata, lalu berpikir, walau tak sampai” – – “Aku bertanya lagi, seagung itukah engkau waktu ?”

    Dalam persepsi urang, waktu jadi berkali-kali lebih cepat hilang saat menginjak umur 20 dan setiap kelipatan lima jadi lebih cepat. Dan kadang masyarakat seolah punya ‘remot kontrol’ untuk ‘waktu’ yang kita miliki. Mereka menjustifikasi pencapaian kita juga melalui waktu; kapan A? kapan B? kapan C?; terlepas dari waktu sebagai konsep empiris dan filosofis.

    Tapi yah, gak nyangka si bima bisa bikin puisi kaya gini siah. Sok atuh sering2 bikin kaya ginian.

    NB: jangan lupas tulis titimangsa, titidj juga boleh.

    @aros:
    Waktu diciptakan bukan untuk kita menjadi lebih baik atau enggak. Waktu itu netral. Ia ibarat nuklir. Mau dipakai untuk kebaikan mangga, mau dipakai keburukan ya jangan :)) menurut aros, dunia yang udah hidup jutaan tahun ini udah bergerak ke arah lebih baik belum? Menurut urang sih waktu itu untuk dinikmati, proses perjalanan menjadi lebih baik atau tidaknya balik lagi ke persepsi kita tentang waktu.

    Sukses buat kita semua


    • hihi kang adip kayak gak kenal kita aja sih.. hahahahah

      Itu dia dip, kadang mereka ini suka lupa, kalau waktu itu tidak sesedarhana itu, maksudnya, semua bakal indah pada waktunya, itu karena waktu benar-benar luas, bukan manusia yang berhak menentukan waktu, tapi waktu yang kelak menentukan manusia.. walaupun bukan berarti kita harus pasrah juga sih, tapi intinya, ketika berusaha dan tidak kunjung berhasil, berarti antara usaha kita belum keras, atau waktu yang belum mengizinkan.. ingat kata pacar aku, Ghaida Farisya, usaha keras tidak akan mengkhianati. HAHAHAHAHAH ANJEENGGG


  3. @pradipta
    Menjawab pertanyaan pertama:
    Kalau dari waktunya sendiri (waktu sebagai ‘konsep’ yg di anggap benda mati) setuju memang tidak membuat lebih baik atau lebih buruk. Itu tergantung kepada manusianya sendiri.

    Tapi kalau dalam konteks pembatasan waktu (sebagai alat/ bahasa kerennya sih fungsional) bisa saja menjadikan manusia lebih baik/ lebih buruk, urg menekankan pada dampak psikologi. Tapi perlu dicatat, kebaikan/keburukan disini sifatnya tidak selalu terjadi. Disini kita berbicara tentang posibilitas. Bisa terjadi, bisa juga tidak.

    Ibarat mesin mobil yg sdh berjalan berjam-jam pasti ada titik panas-nya. Manusia juga sama. Ada titik jenuhnya. pasti butuh istirahat. Kalau mesin mobil punya indikator utk menentukan kapan mencapai panas maksimalnya sehingga menginstruksikan penggunanya utk menghentikan sementara. Jika tidak dihentikan, fatal akibatnya. perlu di catat juga. pilihan untuk menghentikan atau tidaknya tergantung kepada keputusan sang pengguna-manusia.

    Pertanyaannya adalah bagaimana manusia bs menentukan batas kejenuhannya. Segara garis besar (berbicara tentang masyarakat pd umumnya) penentuan batas waktu utk istirahat tsb merujuk pada struktur sosial dominan yg ada dlm masyarakat. Misalnya mengikuti aturan jam kerja yang ditetapka oleh pemerintah. ketika libur maka libur, ketika hari raya maka mengikuti hari raya. Mungkin ada orang-orang tertentu yang tidak terlepas dari struktur sosial ini. Misalnya juragan minyak/ bos-bos yg kaya raya dimana dlm melakukan aktivitasnya mrk tdk terlalu terikat dgn struktur sosial dominan. Tapi krn dr awalnya mencoba berbicara tentang masyarakat secara umum. Maka, saya mencoba berbicara yg umum-umum.

    Sepemahan ttg psikologi. Manusia bakal sampai titik/stress jenuh jika bekerja dalam waktu tertentu. Kalau manusianya tidak tahan, pengaruh buruknya yah bunuh diri. Tp kalau manusianya tahan dia bs merecharge dirinya sendiri kalau ada jeda rehat, misalnya mendapatkan cuti atau memasuki long weekend dan pergi liburan ntah bersama gandengan atau teman-temannya dia bs segar kembali, siap memulai terobosan terbaru dlm lingkup kerja-nya (dengan asumsi ketika rehat tersebut dia menjadi semangat kembali). Efek positifnya disitu. Tapi kan faktanya gk bisa di generalkan juga. Kadangkalah ada yang bertahan tapi ketika memasuki waktu rutinitas, energi/semangat/gagasan yang di dapat (dengan asumsi ketika liburan di ‘bahagia’) mendadak ngedrop. Kebaikan/keburukan yg diberikan waktu kepada manusia dilihat sebagai struktur yang membatasi aktivitas kerja manusia.

    Untuk menjadi pertanyaan kedua
    Dalam konteks peradaban dan kemajuan jaman kata urg lebih baik. Misalnya manusia menciptakan berbagai penemuan utk membantu kehidupan sehari-hari gt. Sama kalau lebih baik dalam cara berinteraksi dengan manusia, khususnya lintas negara-ras-agama. Kalau dibandingkan dengan pada saat Perang Salib. Setahu saya, org2 ketika berteman akan melihat identitas sih lawan teman ini. Tapi kalau sekarang, selama dia manusia, tidak merugikan sy secara pidana khususnya dan scr sosial umumnya. Yah saya bs meneriima sebagai teman. paling gt sih dip.

    🙂



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: