Archive for January, 2014

h1

Empat Cahaya Manusia

January 31, 2014

Oke, kali ini, kami, Teman Tinta, ‘ditugaskan’ oleh Guest of Honor kedua kami, untuk menulis tentang Cahaya/Licht/Light. Awalnya agak bingung juga sih, karena cahaya sendiri sangatlah luas. Baik secara konotatif maupun secara denotatif. Tapi pada akhirnya, saya memutuskan untuk menulis cahaya secara konotatif saja, karena apabila menulis secara denotatif, itu kerjaannya anak fisika. Okeh ?

Kebanyakan tulisan saya dimulai dari sebuah pertanyaan. Kali ini juga. Apakah itu cahaya ? secara denotatif, atau kamusiawi, cahaya adalah sinar atau terang (dr sesuatu yg bersinar spt matahari, bulan, lampu) yg memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya. Oke, tapi bukan itu cahaya yang akan saya bahas. Seperti yang sudah disebutkan, saya akan membahas cahaya secara konotatif. Cahaya secara konotatif ini, saya definisikan (dikaitkan dengan judul) sebagai suatu entitas yang menerangi jalan hidup seorang manusia. Bagi saya, ada 4 cahaya yang akan selalu menerangi jalannya manusia. Mereka adalah: Keyakinan, Orang  Tua, Teman, dan yang terakhir, Cinta.

Yang pertama adalah keyakinan. Faith, bahasa Inggrisnya. Jujur, ini adalah salah satu kata favorit saya dalam Bahasa Inggris. Keyakinan ini tentunya berkaitan dengan sesuatu yang berbau dengan KeTuhanan. Agama lah. Saya ingat, dulu saya pernah berdebat dengan teman saya, seorang atheis (orang Rumania), tentang bagaimana kami (sebagai Theis dan Atheis) menyikapi awal dari kehidupan di alam semesta. Teman saya ini tentunya percaya dengan teori Big Bang, apa itu Big Bang, tinggal cari sendiri di google. Sedangkan saya sendiri percaya kalau Big Bang terjadi dengan campur tangan Tuhan, tidak terjadi begitu saja. Bagi teman saya, ini adalah pikiran orang yang malas. Mau tau enaknya saja. Bagi saya, inilah yang membedakan kami. Saya ingat, ketika itu saya bilang ‘Dude, this is what differs us (as a theist and an atheist),your lack of faith’. Dia setuju, memang begitu katanya.

Percaya sama Tuhan. Ini semacam tabu di dunia ilmu pengetahuan, dunia yang saya geluti, sebagai seorang akademis. Walaupun bukan bertentangan secara langsung, tetapi kepercayaan terhadap Tuhan, sesuatu yang tidak (atau belum ?) bisa dibuktikan secara empiris, adalah sebuah anomali di dunia ilmu pengetahuan. Saya rasa juga demikian, saya ingat salah satu dosen saya di kelas Gender dan juga Cultural Studies dulu selalu berpesan, agar sejenak saja tidak membawa argumen yang mengatasnamakan agama ke kelasnya. Saya setuju, karena banyak pemikir-pemikir dua subjek tadi, melepaskan diri dari konstruksi agama (kalau dijelaskan panjang). Tentunya, teori-teorinya akan menjadi sesuatu yang banal ketika diadu dengan konsep-konsep yang muncul dari agama (atau sebaliknya). Apapun agamanya.

Namun, selepas dari kedua kelas tadi, saya tidak menjadi seorang atheist, malah saya merasa beruntung karena saya memiliki agama. Ada sesuatu yang saya pegang, ketika keyakinan saya yang lainnya goyah. Teori bisa patah dengan teori lain yang lebih mumpuni. Tapi tidak dengan keyakinan. Ketika apa yang saya yakini sudah saya pegang dengan erat, maka niscaya, saya selalu akan memiliki pegangan, apapun yang terjadi. Mengapa ? Karena masih banyak pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh manusia hingga saat ini. Seperti tentang kematian. Ketika kita tidak memiliki kepercayaan, maka kematian adalah suatu akhir. Kita akan bersedih berlama-lama ketika kita ditinggal oleh seseorang. Itu karena di titik itulah ‘hidup’ orang tersebut berakhir. Namun, bagi orang yang memiliki kepercayaan, mereka percaya, bahwa kematian adalah sebuah awal. Atau mungkin sebuah transisi. Untuk kehidupan yang abadi.

Itu hanya salah satu saja. Masih banyak hal yang bisa kita buat jauh lebih ringan, lebih terang, dengan mengatasnamakan keyakinan. Misal saja, ketika seseorang merasa semua rencananya gagal di depan mata. Ketika ia tidak memiliki keyakinan, maka ia akan patah di sana. Ia tidak akan berpikir, bahwa itu adalah takdirnya. Ia tidak akan berpikir bahwa itu adalah bukan jalan yang semestinya ia jalani. Ia hanya akan percaya bahwa ia gagal. Bagi orang yang memiliki keyakinan, ketika menerima kegagalan, maka ia akan bangkit, karena yakin, ada jalan lain yang bisa ia tempuh. Mungkin belum waktunya. Mungkin belum jalannya. Mungkin ini terdengar naif bagi para non-believer, tapi, bagi mereka yang percaya dan yakin bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat bergantung, niscaya, pasti Ia akan menerangi jalan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Inilah cahaya pertama yang menerangi jalan manusia.  Cahaya tersebut ada, ketika jalan kehidupan manusia mulai meredup. Cahaya ini akan muncul, lalu membimbing manusia menuju tempat terbaik bagi manusia tersebut.

Mari kita tempatkan cahaya pertama tadi di tempat yang semestinya. Mari kita turun ke alam dunia. Mari kita jadikan diri kita makhluk sosial. Makhluk yang memiliki dan hidup di lingkungan sosial. Di sinilah kita menemukan 3 cahaya lainnya. Cahaya yang kedua adalah Orang  Tua.

Banyak orang yang bertanya, apa sih cita-cita kamu (kalian) ? Saya yakin banyak yang akan menjawab: membahagiakan orang tua. Tentunya saya juga demikian. Saya lahir, besar, diurus oleh mereka, dimanjakan segala sesuatunya tanpa ada kekurangan. Menyenangkan bagi saya, (mungkin) melelahkan bagi mereka. Sampai saat ini, saya belum bisa membahagiakan orang tua, jujur saja. Yah, mungkin, ketika wisuda dulu, mereka bisa tersenyum bahagia, tapi ya sudah, masih sebatas itu saja saya rasa. Belum ada rasa yang benar-benar bangga dan mendalam di hati mereka.

Bagi saya, dalam hal ini, orang tua menjadi cahaya yang menerangi, sekaligus saya kejar. Dalam kegelapan, adalah sifat manusia untuk mencari cahaya. Inilah Orang  Tua bagi saya. Anggaplah, ketika lahir, kita dilempar ke bumi dengan segala kekambingan (ke-kambing-an) yang berada di dalamnya. Kalau kata vokalisnya the Doors, Jim Morrison, “into this house we’re born,into this world were thrown”. Kita berada di tempat yang gelap gulita, tanpa cahaya sama sekali. Memang begitu tapi kan ? Ketika lahir, manusia tidak bisa apa-apa, tidak bisa berjalan, tidak bisa berbicara, tidak bisa makan sendiri, dan lain-lain, hanya bisa menangis dan tidur. Namun, di situlah ada cahaya yang bernama orang tua. Mereka menyinari kita dengan kasih sayangnya. Menyuapi makan, mengajari berjalan, mengajari berbicara, sehingga kita menjadi makhluk sosial. Menjadi MANUSIA. Inilah cahaya pertama yang menerangi kita di dunia. Sebagai pembanding, mungkin cahaya dari orang tua ini bagaikan cahaya matahari yang membantu tumbuhan untuk berfotosintesis. Kurang lebih seperti itu.

Namun, cahaya ini kelak akan meredup. Karena tentunya kita makin dewasa, dan orang tua kita makin tua. Karena itulah, kita harus mengejar cahaya yang baru, demi mereka. Kita harus, setidaknya, menghangatkan mereka dengan cahaya yang kita kejar. Cahaya yang kita kejar ini adalah, cita-cita tadi, cita-cita untuk membahagiakan orang tua. Cahaya ini juga muncul dari orang tua kan akhirnya ?. Kelak, setelah mengejar cahaya ini, lalu ketika sudah mendapatkannya, maka giliran kita lah untuk menggunakan cahaya tersebut untuk menghangatkan mereka. Tidak perlu menerangi, karena sudah waktunya mereka untuk istirahat, dan menikmati cahaya yang hangat yang kita beri. Bersantai di tengah kehangatan matahari, sambil melihat padang rumput hijau. Sepertinya sebuah kondisi ideal untuk hari tua J

Oke, setelah Orang  Tua, kita terjun ke dunia sosial yang bernama masyarakat. Dalam masyarakat, terdapat berbagai macam relasi di dalamnya. Kolega, atasan, bawahan, guru, murid, dosen, mahasiswa, banyak sekali, mungkin sampai ratusan, tapi di antaranya, ada satu yang selalu menjadi favorit saya, selalu memberikan kehangatan yang istimewa, melalui gelak tawa, canda, bahkan ketika saling berbagi air mata. Teman. Begitulah nama cahaya yang ketiga.

Teman, bagi saya, adalah orang-orang yang secara kebetulan bertemu karena persamaan nasib. Nasib ini luas maknanya. Entah itu tidak sengaja satu sekolah, satu kelas, satu hobi, atau satu teman (yang nantinya saling mengenalkan). Teman adalah cahaya yang menghangatkan, dan menerangi jalan. Mungkin agak seperti lentera yang dibawa oleh penjaga kereta zaman dulu. Ia memberi kehangatan, sekaligus penerangan, membantu kita dalam gelap, sama-sama bertugas  untuk melindungi orang lain. Kalau dalam teman sih, urusannya sama-sama bertugas untuk mencapai tujuan masing-masing.

Ketika jalan hidup sepertinya mulai menggelap, teman akan selalu ada untuk meneranginya. Namun ketika jalan hidup kita sudah terang, seringkali kita melupakannya, seperti cahaya lentera di siang hari. Tidak terlihat, tapi tetap ada. Itu lah teman. Semboyan ini dulu cukup terkenal: susah senang tanggung bersama. Intinya, teman harus selalu ada di saat kita senang dan sedih. Hmm, bagi saya, mungkin itu tidak sepenuhnya benar. Karena, teman tidak harus selalu ada ketika kita senang, tetapi mereka harus selalu ada di saat kita sedih. Kita juga sebagai teman begitu semestinya. Ketika teman kita sedang senang, ya kita turut senang, tanpa harus berada di sisinya. Ketika sedang sedih, maka kita wajib ada di sisinya.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbicara tentang takdir dengan salah satu teman dekat saya. Ia bertanya, ‘kamu percaya takdir ?’, saya jawab, sebagai muslim, saya harus percaya dengan takdir. Bagi saya, pertemanan dengan seseorang adalah takdir. Kembali ke atas, di mana bagi saya teman adalah kebetulan. Kebetulan apa ? Kebetulan yang sudah ditakdirkan. Bisa dibilang, teman yang baik adalah hadiah dari Tuhan. Saya beruntung, ada banyak sekali teman dekat yang selalu ada untuk saya. Uniknya, mereka memberi warna cahaya yang berbeda dalam kehidupan saya. Mungkin kalau diibaratkan, seperti lampu disko. Ribet, tapi menyenangkan.

Oke, cahaya yang terakhir. Cahaya yang paling gombal, tapi bisa membunuh. Cahaya yang pertama, adalah cahaya yang menjadi pegangan. Cahaya kedua adalah cahaya yang menumbuhkan; dan Cahaya ketiga adalah cahaya yang menghibur dan menghangtkan. Cahaya yang terakhir ini yang paling berbahaya, cahaya yang bisa membunuh ketika kadarnya tidak diatur. Namanya cinta.

Cinta kadang suka datang dengan tiba-tiba, tanpa permisi, seperti petir di siang bolong yang terpercik di awan, ia mengagetkan kita dengan kilatan dan suara yang membahana. Apapun yang terjadi, kita tidak bisa mencegahnya. Karena tiba-tiba ini terlalu mendadak. Tidak akan sempat kita melindungi mata kita dari kilatannya. Namun kadang, setelah kilatannya hilang, kita bisa melihat bagaimana indahnya si cinta ini. Ia hangat, menemani sepanjang waktu, agak mirip dengan teman, tetapi ia masuk merasuk ke dalam jiwa. Apa yah, sulit sih untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Kalau sedang jatuh cinta, semua akan jadi subjektif, mungkin, kalau dengan menggunakan teori Roland Barthes, ketika jatuh cinta, semua orang akan menjadi post-structuralist. Apapun yang orang tercinta itu katakan, semuanya bakal terdengar indah. Walaupun makna sebenarnya pedih. Tapi kita tidak peduli. Kita anggap si pembicara, orang yang kita cintai, sudah mati. Mati dihadapan cinta. Death of the Author. Ketika kita menginterpretasikan segala sesuatu, dengan rasa (dalam hal ini cinta kaaannn), tanpa memperhatikan maksud yang sebenarnya disampaikan oleh si lawan bicara.

Memang betul ketika jatuh cinta semua terasa indah. Tetapi, kadang kita lupa, kalau cahaya tidak selamanya memberi kehangatan. Ada cahaya yang membunuh. Kalau Queen bilang ‘Dynamite with a laser beam’. Menunjukkan bagaimana berbahayanya cahaya yang bernama sinar laser, yang dapat menghancurkan pikiran kalian dengan mudah. Begitulah cinta. Ketika cahayanya terlalu terang, kita bukan hanya kesilauan, tetapi juga bisa hangus terbakar. Atau mungkin bolong seperti ditembus sinar laser, yang sebenarnya cahaya-cahaya juga. Bagai kisah Daedalus dan Icarus, begitu juga cinta apabila kita terbuai olehnya. Kalau kata anak zaman sekarang ‘Jatohnya pedih sob’.

Daedalus terbuai akan ciptaannya, dan menantang Tuhan dengan terbang tinggi ke angkasa, hingga lilin di sayap buatannya meleleh karena ia terbang terlalu dekat dengan matahari. Begitu juga dengan jatuh cinta. Ketika kita terbuai dengannya, semua akan terasa indah, kita akan lupa diri, dan kadang, sebenarnya bukan cahaya itulah yang kita kejar. Ini bahayanya cinta. Kadang, ia akan membutakan kita, membuat kita lupa dengan tiga cahaya sebelumnya. Entah sudah berapa tragedi yang membahas tentang manusia yang meninggalkan Tuhan, Orang Tua, dan Teman demi cinta.

Begitulah empat cahaya yang menerangi hidup manusia. Semua memiliki peran masing-masing. Semuanya penting, namun kembali lagi kepada manusia tersebut, bagaimana manusia menyikapi cahaya-cahaya ini. Beginilah cahaya menurutku, menurutmu ?

Begitulah sekelumit pikiran saya untuk tema Teman Tinta kali ini. Agak sedikit filosofis (cieee gayaaa), karena ide untuk menulis fiksi sedang agak-agak macet.

Bagian pertama tulisan ini, tentang Tuhan, saya persembahkan khusus untuk Khairunnisa. Seorang teman yang belum lama ini dipanggil oleh Sang Pencipta, untuk menghadap kembali kepada-Nya. Khairunnisa atau Koi, adalah salah satu teman pertama saya di Jurusan Hubungan Internasional UNPAD. Teman sekelompok ketika ospek jurusan. Sebagai teman, tentunya sempat menjadi cahaya dalam hidup saya. Cahaya yang hangat, dan tulus, cahaya khas orang baik :).

Sekarang, semoga kamu tenang dan bermandikan cahaya Illahi Robbi di sana ya Koi, mungkin bagi-Nya, kamu sudah cukup menerangi kehidupan beberapa orang di dunia ini. 

 Khairunnisa, 3 April 1989-20 Januari 2014.

h1

CAGED

January 27, 2014

CAGED

Took in the Bandung Zoo like 2-3 years ago.. poor thing..

h1

Pelindung Kyoto Bagian 2

January 25, 2014

Akhirnya, bagian ke-2 dari cerita Pelindung Kyoto

Shinsengumi. Aku hanya tau nama itu dari anime dan artikel-artikel internet yang aku baca. Shinsengumi adalah pasukan polisi khusus di masa akhir keshogunan di Jepang. Kelompok ini terkenal berasal dari Kyoto, ibu kota lama Jepang. Ciri khas mereka adalah baju yang mencolok, dengan warna biru-putih yang senantiasa mengancam lawan-lawan mereka. Setidaknya, itulah yang aku baca, dan kini, pasukan biru-putih tersebut mengelilingiku. Ah, dan ketika aku melihat ke bawah, bajuku pun seperti baju mereka. Aku… Shinsengumi ?

Dalam kebingungan itu, aku mulai berdiri di atas kakiku, sambil membersihkan bajuku yang kotor terkena tanah karena aku terjatuh tadi. Mereka -yang sepertinya adalah teman satu skuadronku- memastikan sekali lagi apakah aku baik-baik saja, dan apakah masih mampu melanjutkan patroli, aku jawab bisa, karena sepertinya berjalan bukanlah hal yang sulit, dibandingkan menjawab segala kebingungan ini.

Lalu, sambil berjalan, ke-dua orang di depanku saling berbicara. Ada dua orang lagi di belakangku, tapi mereka diam saja, sepertinya mereka sedang berkonsentrasi, kalau-kalau ada sesuatu.

“Oi, Tanabe, katanya kemarin kau dipanggil oleh Kapten Kondou ?”

“ah, iya, kemarin dia menanyakan pedangku, katanya, pedang ini buatannya sangatlah bagus, dia tanya, dapat dari mana ?”

“oh, saya kira dia akan memecatmu karena ilmu pedangmu yang begitu-begitu saja”

“ah, brengsek kau Shimada !”

Aku memperhatikan percakapan mereka berdua. Kondou ? Kondou Isami ? Setahuku, ia adalah komandan utama Shinsengumi, orang hebat. Aku bekerja di bawah orang sehebat dia ? Wow. Namun, yang lebih aneh lagi adalah, fakta bahwa aku fasih berbahasa Jepang. Aku mengerti apa yang Tanabe dan Shimada obrolkan. Ck. Ini aneh sekali. Apa ada hubungannya dengan kakek-kakek tadi ? Atau aku cuma mimpi ?. Aku coba cubit pipiku, tidak berpengaruh. Aku tetap bangun. Kembali aku coba mencubit tanganku, “auwww”, hanya sakit saja, aku tidak bangun tidur. Apa maksudnya ini ?

Shimada menoleh ke belakang dan bertanya kepadaku, sepertinya ia agak terusik dengan teriakan “auww” ku tadi.

“Oi bocah, kenapa ? menginjak batu tajam ?”

“emm, ah tidak, emm, Shimada-san, aku hanya sedikit terantuk batu saja”

“ah, terantuk batu saja sampai begitu, bagaimana jika tertebas pedang lawan ?”

“ah, maaf..”

Bocah ? Aku bocah ? Entahlah. Situasinya sangat aneh. Tertebas pedang lawan ? memangnya apa yang saat ini aku hadapi ? Ah, banyak sekali pertanyaan di kepalaku. Ya sudahlah, mungkin selama aku bersama-sama mereka, kalau bertemu musuh pun aku aman. Aku lalu melihat ke pinggangku. Ada pedang tergantung di situ. Entah pedang apa ini. Pedangnya mirip dengan pedang-pedang yang aku lihat di film tentang Samurai. Dengan segala kebingungan dan ke-nyata-an ini, seperti ini pedang asli. Seandainya ini ke-nyata-an, maka aku bukannya tidak mungkin aku harus menggunakan pedang ini. Seandainya harus bertarung, hmmh.. yah, mungkin kegiatanku di komunitas Lightsaber Star Wars akan sedikit banyak membantu.  

Aku meneruskan patroli. Hmm. Dingin sekali. Ini bulan apa ya ? Di duniaku ‘sebelumnya’ sedang musim hujan. Mungkin Desember. Apakah sama ? Ah entahlah, masih banyak yang harus dipikirkan. Terutama, tentang mengapa aku ada di sini. Ah. Lalu Tanabe yang tadi mengobrol dengan Shimada-san, tiba-tiba bertanya padaku sambil menoleh ke belakang.

“hey, Kawada, kamu anak baru kan ? Seperti apa gaya berpedangmu ? aliran apa ?”

Kawada ? Itu namaku di sini kah ? Mungkin, karena Shimada tadi memanggilku bocah. Mungkin ceritanya aku memang anak baru di sini. Aliran pedang ya ? Rrr, aku tidak hafal aliran pedang yang sedang terkenal di masa ini. Tapi aku hafal ke-8 Jedi fighting stance. Aku jawab salah satu dari itu sajalah, bilang saja aliran baru.

“emm, namanya Makashi-ryuu (aliran Makashi)”

“eeh ? nama yang aneh, saya tidak pernah dengar, dari mana itu ?”

“ah, itu dari kampung halaman saya”

“oh, memangnya kau berasal dari mana ?”

Ah gila ini, aku tidak bisa menjawab banyak, aku tidak tahu situasi di sekitar Kyoto di masa itu. Berbahaya sekali jika aku dicurigai sebagai mata-mata dan disuruh Seppuku. Kekhawatiranku tidak terjadi. Aku mengelak dengan menjawab di ‘desa dekat Kyoto’, sepertinya Tanabe tidak terlalu peduli. Aku selamat kali ini.

Skuadron ini terus berjalan, ketika Tanabe dan Shimada sedang berjalan sambil mengobrol dengan ringan, tiba-tiba terdengar suara gemeresek kaki yang bergesekan dengan tanah. Ah, musuhkah ?

Dengan tiba-tiba, Shimada berteriak dengan lantang

“HEY ! KELUARLAH KALIAN KLAN MORI BRENGSEK !”

Mori ? Dari artikel yang aku baca dulu, Mori adalah salah satu klan yang merupakan musuh besar Shinsengumi. Berarti… Musuh ? AKu harus bertarung ? Sekarang ?. Tepat setelah Shimada berteriak, muncul lah 5 sosok berkimono yang menenteng pedang. Benar. Ternyata musuh. Kenapa aku tau mereka musuh ? Karena mereka berteriak

“MATILAH KALIAN SEMUA ANJING PEMERINTAH !”

Tanpa aba-aba, mereka berlima langsung mengambil posisi menyerang. Suara khas dari pedang yang bergesekan dengan sarungnya pun bermunculan. Begitu juga dengan skuadron ini. Shimada, Tanabe dan 2 orang di belakangku dengan sigap mencabut pedang mereka. Aku juga begitu. Dengan percaya diri, aku mencabut pedang dari sarungnya. Ternyata tidak seberat yang aku kira. Lightsaber Dooku milikku masih jauh lebih berat. Bukan saatnya untuk memikirkan itu. Aku harus memikirkan bagaimana cara  menghadapi situasi ini. Karena kedua kelompok sama-sama berlima, berarti ini akan menjadi pertarungan satu lawan satu. Aku harus bertarung juga. Gawat.

Shimada yang berbadan besar ‘memilih’ lawan yang berbadan besar juga. Tanabe yang berbadan kecil, mengambil lawan yang tinggi menjulang. Kedua samurai yang tadi ada di belakangku, memilih 2 orang dari mereka juga, berbadan sedang. Sedangkan aku ? Aku sepertinya harus berhadapan dengan yang berotot di depanku. Badannya cukup besar, dari mana aku tahu dia berotot ? Karena si bedebah ini hanya menggunakan sejenis rompii dari bulu babi hutan, yang membuat otot tangan dan perutnya terlihat dengan jelas. INI CUACA DINGIN. DIA NYARIS TELANJANG, dan AKU HARUS BERHADAPAN DENGANNYA. SIAL. Menilai dari cara berpakaiannya di udara dingin, jelas sekali bedebah berwajah dungu itu adalah orang yang bangga sekali akan kekuatannya. Baiklah, sepertinya aku harus serius dengan Makashi-ku.

Makashi adalah sebuah stance pertarungan Lightsaber yang mengandalkan kecepatan dalam duel satu lawan satu. Cocok untuk digunakan dalam situasi ini. Ketika yang lain mengangkat pedangnya ke depan wajah masing-masing, aku malah mengarahkan pedangku ke tanah. Ini adalah langkah pertama stance Makashi, yang cenderung menjaga jarak dengan lawan. Lawanku berteriak.

“JANGAN BERCANDA BOCAH !!”

Ternyata gerakannya tidak terlalu cepat. Aku bisa menghindar dengan sangat mudah. Pedangnya si bodoh itu menghantam tanah. Dalam. Ternyata benar, dia memang kuat. Ini berarti, dengan pedangku yang ringan ini, aku tidak bisa menerima serangannya. Aku harus terus menghindar. Baiklah. Aku lalu mencoba mengayunkan pedangku dengan satu tangan. Dalam sekejap, pedangku merobek tangan kiri si lawanku ini. Wah tajam juga. Dan rasanya tidak jauh berbeda dengan Lightsaber di komunitasku.

Lawanku sepertinya marah, ia tidak terima bahwa ia berhasil dilukai dengan serangan satu tangan. Ia kembali menyerang, kali ini dengan tebasan horizontal. Entah kenapa tiba-tiba aku dapat menghindar dengan menunduk sambil menekuk lutut untuk bersiap loncat dan menyerang balik. Ternyata sempurna, aku berhasil menebas tangan kirinya dengan cukup mendalam. Darah mengucur deras. Tetapi sepertinya ia belum mau menyerah. Ia memindahkan pedangnya ke tangan kanan, dan mulai menyerang dengan membabi-buta. Wah ini bahaya.

Serangan yang membabi-buta itu sulit sekali untuk dihindarkan. Aku kena ! Lengan kiriku tergores oleh pedang si brengsek ini. Sakit sih. Tapi tidak cukup sakit untuk membuatku bangun dari apapun ini, mimpi atau bagaimana. Kalau sudah begini, aku harus membunuhnya. Baiklah. Aku menunggu momentum yang tepat untuk menghantarkan serangan terakhirku. Aku teringat sebuah adegan di komik Kung Fu Boy, di mana Guru Yosen mengajari Chinmi bahwa dalam sebuah pertarungan, serangan satu kali mati adalah serangan yang paling penting dan mematikan. Aku terus menunggu untuk momen itu.

Hingga akhirnya momen itu tiba. Musuhku mengayunkan pedangnya secara vertikal. Kencang sekali. Aku berhasil menghindar, dan pedangnya tertancap di bangku kayu di depan toko tempat kami bertarung. Ia tak bisa mencabutnya. Inilah momenku. Lalu..

“HEAAAHHHHH !!!”

Dalam satu ayunan, pedangku menembus leher si bedebah ini. Darah segar yang hangat berhamburan. Ah. Pedangku merah berlumuran darah. Begitu juga dengan tangan kananku. Ternyata, begini ya rasa darah segar itu ? Hangat, mengalir. Hampir seperti air hangat ketika mandi di shower, namun lebih kental, dan berbau aneh. Begini ya rasanya membunuh ? Wah, ternyata… Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata. Ini terlalu menarik. Aku hanya bisa tersenyum dan hanyut dalam perasaan ini.

Lawanku ini lalu terjatuh dan mengeluarkan suara seperti sapi yang baru saja digorok lehernya.

“GRRKKKK… GRRKKK…”

Ia terkejang-kejang. Lalu diam. Mati. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Sementara masih ada bunyi gemerencingan pedang di tempat lain. Kawan-kawanku, Tanabe, Shimada, dan dua orang lainnya. Masih bertarung. Ada juga suara teriakan yang diikuti oleh benda berat yang jatuh ke tanah. Sepertinya ada yang tewas lagi. Tiba-tiba saja mataku gelap. Kakiku lemas, dan aku terjatuh ke tanah. Ah, apa lagi ini ?.

Tiba-tiba saja terdengar bunyi KRIINGGGG yang familiar dan menyebalkan. Ah, wakerku berbunyi. Waker ? Shinsengumi bangun tidur pakai waker ?. Ah bukan, ini apartemenku ! Keadaannya masih sama dengan sebelum aku menjadi Shinsengumi tadi. Berantakan. Buku O Amuk Kapak pun masih ada di situ. RRHHH.. yang terjadi sebenarnya ?

-BERSAMBUNG-

h1

So sorry…

January 24, 2014

I’m so sorry for not being able to update my blog in these few days.. Coping with a lost of friend is not that easy, but I’m trying.. this is the first time I lost a friend who I know quite well.. Sometimes, I pause for a few second while doing something, when her face popped up in my mind, and I it is like, “whoa.. she’s gone forever..”. I needed a few days back there to get my mind back in charge.. Well, maybe tomorrow I can start writing again.. just like what my friend said, “it is us to continue her smile for now on” 🙂

h1

Air Mata

January 21, 2014

Masih kaget mendengar tentang kepergianmu. Rasanya masih kemarin kita tertawa bersama, menyambut hari kelulusan dari tempat yang mempertemukan kita. Mungkin ikatan kita sebagai teman, tidak seerat apa yang orang sebut dengan sahabat. Tapi tetap, kamu adalah bagian dari hidup saya. Kamu adalah salah satu teman pertama yang saya kenal di tempat itu. Di kampus itu. Di jurusan itu. Saya yakin, bukan hanya saya yang merasa kehilangan sosokmu yang selalu diam, namun senang bercanda, dan tentunya, senyumanmu yang sehangat matahari pagi. Hebatnya, penyakit itupun tidak berhasil merenggut senyum tersebut dari wajahmu. Khairunnisa, semoga setiap tetes air mata dari orang yang kehilanganmu, menjadi doa buatmu untuk kelak menemanimu di sana ya… Istirahat yang tenang Koi, doaku selalu menyertaimu..

RIP Khairunnisa 3 April 1989-20 Januari 2014.

 

h1

Kokkuri-san

January 19, 2014

Waktu menunjukkan pukul 23.00. Wah sudah malam yah. Aku lalu beranjak dari komputerku yang sengaja tidak aku matikan, karena aku masih menyalakan program torrent untuk mengunduh beberapa film serial yang dipesan oleh temanku. Maklumlah, koneksi internet di rumahku tidak terbatas, jadi banyak teman yang menitip untuk pangdonlotin, tak masalah, karena koleksiku juga jadi banyak, cocoklah untuk mengisi waktu luangku yang sedang menunggu pengumuman PNS yang tidak kunjung nongol.

Aku lalu berjalan lemas ke kasur, capek juga ya ternyata, dari jam 4 sore sampai jam 11 malam begini nangkring  di depan komputer. Aku berbaring dan mencoba memejamkan mata. Tidak bisa. Aku teringat apa yang aku lakukan kemarin siang.

Satu hari yang lalu sebenarnya bukan hari yang istimewa, hanya saja kebetulan, teman-teman kuliahku yang belum lulus dan belum memiliki pekerjaan, alias menganggur, mengajakku berkumpul dan bermain. Ini sudah biasa sih, kami biasanya berkumpul sebulan sekali. Kemarin kami berkumpul berempat, Aku, Catur, Ganjar, dan Rian. Kami berempat adalah teman dekat di kampus dulu. Sayang, waktu lulus kami berbeda-beda, Aku dan Ganjar lulus duluan, Catur dan Rian masih berkutat dengan skripsi mereka, ah, God bless them lah.

Yang mengganjal pikiranku, adalah apa yang kami lakukan kemarin siang. Sebenarnya, niat kami Cuma berkumpul, makan, ketawa-ketawa, lalu pulang ke rumah masing-masing. Tapi ternyata, Catur punya ide lain. Sehari sebelumnya, ia melihat tentang Kokkuri-san di internet. Semacam Ouija Board versi Jepang. Kami berempat adalah penggila Jepang, tentunya Kokkuri-san sudah tidak aneh lagi. Namun, sama seperti Jelangkung, ini adalah sesuatu yang cukup untuk diketahui saja, tanpa harus dicoba. Sahabatku pernah bilang, untuk tahu sumur itu dalam atau tidak, kita tidak perlu terjun ke dalamnya. Benar sih. Tapi kali ini, entah setan apa yang berbisik ke telinga kami, kami ingin mencoba Kokkuri-san ini. Sebenarnya, aku bukan takut disebut musyrik atau bagaimana, tapi yang paling menyeramkan, seperti Jelangkung, adalah ketika setannya tidak mau pulang. Wah. Gawat sih kalau kejadian.

Tapi yah, seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, entah setan apa yang menyambet kami berempat. Kami memutuskan untuk bermain Kokkuri-san. Peraturannya simpel saja, menulis kertas dengan angka 0-9, lalu menggambar lambang gerbang torii  di tengah-atas, dengan tulisan hai (iya) dan iie (tidak) di sebelahnya.  Nantinya, kami menyimpan koin 50 yen di atasnya, lalu menyentuh koin tersebut dengan jari kami berempat, memanggil Kokkuri-san, lalu nanti koin tersebut mulai bergerak sendiri. Ketika sudah bergerak, kami diperbolehkan untuk bertanya apa saja pada Kokkuri-san. Menyudahinya pun mudah, tinggal menyuruh ia pulang, lalu menyobek dan membakar kertasnya, lalu menggunakan koin 50 yen tersebut untuk membeli barang. Beres.

Singkat kata, kami berempat pun memutuskan memulainya. Tempat yang kami pilih adalah rumahnya Rian, yang kebetulan sedang tidak ada siapa-siapa. Oh iya, aku selalu menyimpan uang 50 Yen, sisa perjalananku ke Jepang beberapa bulan yang lalu, untuk semacam jimat. Mungkin saja suatu saat uang tersebut dapat digunakan untuk membeli minuman ketika sedang darurat di sana. Sebagai perlambang doa untuk ke Jepang lagi juga sih, hehehe. Oke. Kokkuri-san memang dari Jepang, tapi kami rasa, setan-setan di manapun tidak mengenal tembok bahasa, jadi ya, cuek saja lah kami memanggil dan bertanya kepada Kokkuri-san dengan Bahasa Indonesia.

Kokkuri-san, Kokkuri-san, apa kamu sudah di sini ?”. Koin itu tak bergerak.

Kami bertanya lagi

Kokkuri-san, Kokkuri-san, apa kamu sudah di sini ? Kalau sudah, gerakkan koin ini”. Masih belum bergerak, kami tanya lagi, dengan suara agak keras.

Kokkuri-san, Kokkuri-san, apa kamu sudah di sini ? Kalau sudah, gerakkan koin ini !”, JREG, tiba-tiba jariku terasa panas, sepertinya jari teman-temanku juga. Lalu koin itu mulai bergerak ke huruf “hai”. Iya, katanya. Wah, Kokkuri-san sudah datang ! Pertanyaan pertama dimulai dari Catur, yang pertama kali mencetuskan ide ini. “Kokkuri-san, siapa nama dosen pembimbing saya ?” tanya Catur. Ah, ternyata dia mengetes, pikirku. Koin itu bergerak, lalu mengeja “E-RU-E-MU-TE” dalam Hiragana. WAH. BENAR. Itu memang nama dosen pembimbing catur, pak Eruemute. Oke, ini cukup mengerikan sih, jawabannya benar.

Oke, giliranku. “Kokkuri-san, Kokkuri-san, siapa nama target saya selama lima tahun yang tidak kesampaian?”. Koin itu bergerak “FU-A-RA-FU” Fuarafu ? Terdengar konyol, tapi ketika dipikir ulang, OH, FARAH ! AH BENAR LAGI DIA !. Wah, sudah benar dua kali. Oke, giliran Rian sekarang. “Kokkuri-san, Kokkuri-san, siapa nama teman saya yang juga temannya teman Bilwa ?” Ya, Bilwa, itulah namaku, hehe, aku belum memperkenalkan diri ya ?. “U-I-N-DO” UINDO ? ah, Windo, benar lagi, gila. Lalu terakhir giliran Ganjar, ia bertanya tentang siapa trio SMP 31 yang bersama-sama masuk ke jurusan yang sedang kami jalani sekarang. Tanpa perlu aku ceritakan, jawabannya benar lagi.

Permainan pun terus berlanjut, kami bertanya, siapakah jodoh kami, kapan kami dapat kerja, dan lain-lain. Semuanya berjalan lancar hingga kami menyuruh Kokkuri-san pulang, dan merobek lalu membakar kertas yang tadi dipakai. Uang 50 Yen yang digunakan pun aku masukkan lagi ke dompetku. Sedikit melelahkan memang, mungkin pikiran dan emosi kami terkuras dengan tidak sadar, tetapi semua berakhir lancar dan menyenangkan. Kami pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Kembali ke aku di tempat tidur ku. Aku mengantuk sebenarnya, tapi tidurku tertahan karena masih terus kepikiran dengan apa yang terjadi kemarin siang. Sepertinya ada yang salah, tapi apa ?. Kokkuri-san sudah pulang, dia sudah menjawab iya, kertas sudah dimusnahkan. Hmm, apa ya ?. Aku lalu mengambil telepon pintar ku yang sedang diisi baterainya, lalu menggoogle Kokkuri-san lagi. Ternyata, ada satu aturan terakhir yang aku lupa. Aku terkejut, terpaku melihat kalimat “You must also SPEND the coin before the end of the next day”. AKU HARUS MENGGUNAKAN KOIN 50 YEN ITU !?. Hah ? Tapi ini kan di Indonesia, tidak ada yang mau barangnya dibeli dengan uang 50 yen. Lalu aku membuka buku tentang mitos-mitos Jepang yang memang aku punya. Aku kembali membaca bagian Kokkuri-san, ternyata sama. Memang harus digunakan koinnya. Aku tidak bisa membuangnya begitu saja. Matilah aku.

Aku lalu lompat dari tempat tidur ku. Aku langsung menghubungi ketiga teman ku tadi. Waktu di layar telefon genggamku menunjukkan pukul 23.55. Aku hanya punya 5 menit untuk menyelesaikan masalah ini.  Aku lalu menelpon Catur. Tuut… Tuut… Tidak diangkat. Mungkin sudah tidur. Aku lalu menelpon Rian, tidak tersambung, lalu aku ingat, ia memang mau mendaki gunung siang tadi, mungkin sekarang sudah di puncak, tidak ada sinyal. Terakhir, aku menelpon Ganjar, kembali tidak diangkat. Percuma memang, manusia-manusia ini memang kebo. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi apabila koin 50 yen ini tidak bisa aku gunakan dalam 2 menit ke depan. Tidak ada pilihan lain, mungkin aku akan membuangnya saja, menguburnya di halaman depan, lalu keesokan paginya dimasukkan ke kencleng mesjid. Ide bagus. Baru saja beres berpikir begitu, tiba-tiba aku mendengar suara DOONGG.. DOONGGG.. Ah, jam ruang tengah berbunyi lagi. AH, JAM 12 ? Waktuku sudah habis. Apa yang akan terjadi ?.

Tiba-tiba ada suara pintu terbuka. Lalu… DUG ! DUG DUG ! ada gedoran di pintu kamarku. Ah, bangsat, masa iya aku didatangi Kokkuri –san ?. DUG ! DUG DUG DUG DUG !edoran itu makin kencang, namun kali ini ditemani suara yang aku kenal, ah, ini suara adik ku. “Kak, buka kak !”, wah ada apa nih ?, aku lalu bergegas membuka pintu kamarku. Wajah adik ku pucat. “Kak, itu jam kok tiba-tiba bunyi sih ? Bukannya kalau malam di-set untuk tidak bunyi ya ?”. Jreng. Aku diam terpaku. Aku teringat kalau Kokkuri-san itu adalah hantu yang jahil. Kerjaannya kah ?. Aku dan adikku lalu memeriksa setelan jam tersebut. Ternyata benar, jam tersebut diset agar tidak berbunyi setelah pukul 9 malam. Setelannya masih begitu ketika jam tersebut berbunyi. Aku melihat ke kaca di jam itu, mukaku pucat. Ah, sepertinya memang kerjaan Kokkuri-san, kalau begini, aku harus membuat adikku kembali tertidur, ia tidak boleh tau kalau kekacauan malam ini adalah gara-gara kerjaan isengku dan ketiga temanku. “dek, tidur lagi aja sana, mungkin jamnya rusak, harus diservis”. Adikku yang memang mudah dibohongi langsung kembali ke kamarnya.

Aku lalu mencoba duduk di ruang tengah, berpikir tentang apa yang mesti aku lakukan ketika tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pelan dari arah kamarku. DUG.. DUG.. DUG.. DUG.. ketukannya konstan dan pelan, ditemani suara langkah kaki sedikit. Tak-tak-tak Dug.. Tak-tak-tak Dug.. begitu, konstan, dan pelan. Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga itu tikus yang kepalanya kepentok ke pintu kamarku. Ah sial. Doaku tidak diijabah saat itu.

Aku melihat sesosok kakek tua dengan rambut yang sudah menipis, mengenakan piyama, sedang menabrak-nabrakan dirinya (kepalanya, lebih tepatnya) ke pintu. Ah. Sialan. Aku bertanya dengan agak berbisik “Woy, apaan nih ?“ Tanyaku. Aku tak digubris. Ia terus menghantamkan kepalanya ke pintu. Aku lalu memberanikan diri untuk mencoba pertanyaan lain. “Keek..?” Ia tak bergeming. “Emm, Kokkuri-san ?” Dalam sekejap ia menoleh ke hadapanku lalu tiba-tiba saja ia ada tepat di depan mataku. Mataku berhadapan dengan mata si kakek. “AKU KOKKURI, KAMU SUDAH MEMANGGIL AKU, LALU KAMU TIDAK MENURUTI KEINGINANKU ? AKU TIDAK DIBELIKAN APA-APA ? ANAK BODOH !!!” Pertama kalinya dalam seumur hidup, aku diam tidak bisa berkata-kata. Ini jauh lebih menakutkan daripada ketika teman-temanku memaksaku menembak Farah di hari ulang tahunnya.

Nafas si kakek ini bau, giginya berantakan, aku tahu ini bukan waktunya mendefinisikan wujud si kakek bedebah ini, tapi aku sendiri tidak bisa apa-apa. Aku lalu terjatuh, dan kakek itu terus mengikuti posisiku agar matanya bisa sejajar dengan mataku sambil terus bertanya “AKU TIDAK DIBELIKAN APA-APA ? KENAPA KEINGINANKU TIDAK KAU TURUTI ?” Dan seterusnya. Brengsek. Aku harus jawab atau bagaimana ini ?. Akhirnya, aku memaksakan mulutku untuk bergerak. “Koo.. Kokk… Kokkuriii.. Kokkuri-san.. Aku harus bagaimana ?” Ia lalu menghardik “TAK USAH BAGAIMANA-BAGAIMANA BODOH, KAMU MATI SAJA !” Ia lalu tiba-tiba mencekikku dengan tangannya yang kurus, runcing, pucat, dan dingin. Aku mulai kehabisan nafas. Aku lemas. Ah.. aku mati di tangan setan.. Tidak lucu.. Gelap.. Tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap..

Tiba-tiba aku mendengar suara telefon genggamku yang berbunyi. Aku lalu melompat kaget dari temapt tidur. HAH !? Cuma mimpi. Ternyata, Catur yang meneleponku. Ia meminta maaf tidak bisa menjawab telefonku karena tidak mengangkat telefonku sebelumnya, karena ia sedang bermain badminton. Aku lalu menceritakan sedikit pengalaman barusan, Catur pun menyarankan aku untuk segera membuang  koin 50 yen itu ke kencleng mesjid. Sekarang juga. Baiklah, sepertinya di mesjid masih ada orang yang mau tahajud, aku langsung saja pergi ke mesjid diam-diam.

Setelah menutup telepon dari catur, aku melihat jam di telepon genggamku. 00.55. Hah ? Ternyata sudah 1 jam aku tidur ? Heeh.. Aneh yah.. Aku lalu bersiap-siap untuk berangkat ke mesjid, membawa sejadah dan sarung, sehingga terlihat seperti orang yang mau ikutan solat tahajud, bukan buang sial kabur dari setan. Ketika sedang melipat sarung, tiba-tiba. DOONGGGG… DOOONGGG… JAM BESAR ITU BERBUNYI LAGI. Aku lalu lari ke luar, melihat jam itu, bersamaan, pintu kamar adikku pun terbuka. Adikku, dengan muka kucel, lalu bertanya “Aaaahhhh, kok jamnya bunyi lagi sih, kak ? Eh itu leher kakak kenapa merah-merah gitu ?”. Aku lalu memegang leherku, perih, ternyata memang ada bekas cekikan. Aku kembali berbohong kepada adikku, dengan bilang “tadi baru pake balsem, dingin, taunya balsemnya kepanasan, jadi kakak gosok terus, sudah, kamu tidur lagi saja sana, nanti kaka coba lihat lagi jamnya”. Adikku pun kembali ke kamarnya. Aku kaget. Ternyata, yang kualami barusan bukan lah mimpi. Lalu, aku mendengar kembali suara dug…dug..dug… dari depan pintu kamarku. Ah sial, seperti inikah yang disebut sejarah berulang ?.

*************************************************************************************************************************

Begitulah sedikit kisah tentang Kokkuri-san, sebuah permainan Jelangkung ala Jepang. Ceritanya saya sengaja biarkan menggantung, biar pembaca saja yang menebak-nebak, apa Bilwa kembali ke kamarnya untuk memeriksa suara tadi, atau lari ke mesjid untuk memasukkan uang 50 yen itu ke dalam kencleng, walaupun sebenarnya, mungkin saja metode itu tidak efektif ? Entahlah, hanya Bilwa dan Kokkuri-san yang ada di belakang kamu yang tahu 🙂

h1

Teman Tinta Wrap Up: First Batch

January 18, 2014

Akhirnya, posting Teman Tinta pertama tentang dengan tema Serendipity/Serendipitious semua sudah selesai ditulis di blog masing masing anggota. Berikut adalah rekapan judul posting dan mini review masing-masing post dari saya 😀

1. Satu, Dua, Tiga

Oleh: Bima Prawira Utama.

Bercerita tentang kisah 2 orang manusia dan 2 orang makhluk aneh yang terlibat dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Ternyata, kecelakaan ini menimbulkan ‘berkah’ bagi mereka ber-4.

2. Titik Balik

Oleh: Arief Rosadi.

Kisah pribadi tentang Aros, bagaimana ia menemukan sahabat baru melalui sebuah kebetulan. Hati-hati, ada sexual content, bahahahahak.

3. The One With the Chocolate Spread on Chocolate Brownies

Oleh: Endah ‘Aya’ Dwijayastri

It is how Aya found her new peace in Buddhism, which accidentally come along with her veganism. A very true, and heartful writing.

4. Pembawa Sial

Oleh: Feby Anggiani

Cerita lucu tentang perkenalan dua orang sahabat karena sama-sama disetrap oleh guru karena datang telat. Cerita ringan yang lucu. Apalagi sambil bayangin karakternya 😀

5.  Tragedy or Opportunity

Oleh: Geza Wiedya

All about what Serendipity is. Funnily written with porn story as its example. Oh, and it is full with the concept of realism.

6. What is A Happy Accident

Oleh: Reza Rahmadiansyah

Another thing about what serendipity is. It is an honest writing, with some daily life example in it. Fresh and fun !

7. Alexander Flemming

Oleh: Remon Tulus

Cerita tentang Alexander Flemming, si penemu Penicilin, beserta kisah surreal lainnya yang dialami Flemming juga. Benar atau tidak, silahkan nilai sendiri ! Jay jay ben jay jay

8. Simpul

Oleh: Pradipta Dirgantara

Kisah menarik pertemuan dua kekasih dalam kondisi yang sial dan konyol. Menyenangkan. Dengan gaya bahasa yang ringan dan tidak banyak berputar-putar. Wajib dibaca !

9. Teman

Oleh: Fahminoor Muhammad

Monolog tentang pertemuan penulis dengan teman-teman lamanya. Mengesankan !