h1

The Place Called Home: HI UNPAD the Final Year(s)

January 3, 2014

Akhirnya sampai juga di 3 Januari. Sesuai janji, bagian terakhir petualangan saya di HI Unpad 🙂

Tepat sekitar 1 tahun yang lalu, saya sedang tegang-tegangnya menghadapi apa  yang akan terjadi hari ini. Hari penentuan di mana saya harus mengerahkan segala kemampuan saya dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menentukan nasib akhir saya di kampus. Ya, tepat satu tahun yang lalu, saya sedang menghadapi sidang sarjana.

Saya memang termasuk mahasiswa yang agak telat mengikuti sidang akhir. Saya butuh sekitar 4,5 tahun untuk menghabiskan masa kuliah, ditambah 1,5  tahun masa bimbingan. Kenapa ? Saya tidak mau cari pembelaan, namun saya punya alasan yang cukup kuat. Ketika di semester 7, saya disibukkan oleh praktikum profesi yang butuh perancangan penelitian yang, yah, bisa dikatakan selevel dengan mini-skripsi. Belum lagi persiapan perjalanan yang cukup ribet, karena sangat jauh, ke Benua Biru sana :p. Ditambah dengan presentasi hasil akhir penelitian yang harus dipublikasikan ke publik dengan cara membuka stand pameran penelitian di acara Symphonesia. Luar biasa bukan ?

Tidak mudah untuk memulai skripsi di masa itu. Ditambah lagi saya masih harus mengikuti program KKN (Kuliah Kerja Nyata), yang mengharuskan saya menghabiskan waktu 1 bulan di desa. 1 bulan yang sangat menyenangkan tepatnya. Saya mulai mengkonsep skripsi saya pada awal tahun 2011, ketika sedang di tempat KKN. Karena banyak waktu luang (waktu itu saya bertugas untuk mengisi blog kelompok, dan tidak diwajibkan mengikuti orientasi desa dan sejenisnya, namun saya harus mengurus blog dan laporan secara total), saya mulai mengkonsep skripsi.

Pada awalnya saya mendapatkan 3 tema besar, Sepak Bola, Anime, dan Musik. Setelah mendiskusikan tema tersebut dengan (yang waktu itu masih) calon pembimbing saya, Ibu Junita, saya disarankan untuk mengambil topik anime sebagai soft power Jepang, karena menurut Ibu Junita, bahasannya akan sangat menarik. Namun pada akhirnya, saya malah memilih tentang sepak bola, karena waktu itu saya memang sedang edan-edan nya dengan yang namanya sepak bola. Akhirnya saya mengambil FC Barcelona sebagai tema skripsi, untuk tahu isinya, silahkan kontak saya via twitter ;). Oh ya, untuk tema musik, tadinya saya akan membahas gerakan sosial lewat musik yang digalakan oleh Axis of Justice, tapi entah kenapa, saya kurang bernafsu pada tema itu. Hahahhaa.

Masa bimbingan saya sendiri dimulai pada pertengahan tahun 2011, karena waktu itu saya masih harus menyelesaikan beberapa kuliah yang mengulang. Agak repot jika harus mulai bimbingan sambil kuliah, jadi saya pikir waktu itu lebih baik menyelesaikan kuliah terlebih dulu. Pilihan yang tidak saya sesali sampai sekarang, karena jujur saja, dengan benar-benar berkonsentrasi di masa akhir kuliah, IPK saya akhirnya membaik di akhir-akhir masa kuliah. IPK awal saya 2.68, IPK akhir 3.02, lumayan lah yah.

Masa bimbingan selama 2011-2012 adalah waktu paling menyenangkan dalam kehidupan saya sebagai mahasiswa. Saya dibimbing oleh dua dosen pembimbing yang luar biasa, Ibu Junita dan Kang Gilang. Saya juga dikelilingi dengan teman-teman bimbingan yang tidak kalah luar biasa, the soft text, Aros, Gope, Seni, Ipeh, Febe, dan Meok, saya tidak pernah menyangka akan berjuang dengan 6 orang ini. Kami saling mensupport ketika mental kami jatuh. Saling membantu dengan berbagi teori. Saling berbagi jajanan ketika bimbingan sampai larut malam. Saling berbagi password wi fi jurusan ketika dibutuhkan. Saling curhat. Saling ramal. Ah, pokoknya sangat menyenangkan. Padahal, di masa awal kuliah hingga bimbingan, kami bukan lah teman yang terlalu dekat, kecuali mungkin saya dengan aros yang memang sesama orang Bandung dan sesama penggiat wisata mistis.

Selama masa bimbingan, tidak terhitung waktu yang terlewat di ruang jurusan HI UNPAD. Seringkali kami bimbingan hingga malam, sehingga harus memindahkan kendaraan ke tempat parkir dosen, karena selewat maghrib, tempat parkir mahasiswa akan ditinggal penjaganya. Melelahkan memang, tapi, usaha keras tidak akan mengkhianati. Tentunya ada masa-masa jenuh ketika dalam masa bimbingan. Ada masa ingin berhenti. Ada masa ingin kembali mengulang, mengganti  judul dengan yang lebih mudah, lalu lulus dengan cepat. Tapi, ketika dipikir ulang, “Cuma segini aja hasil kuliah teh ?”, tentunya tidak mau. Saya mau sesuatu yang istimewa. Saya ingin apa yang saya pelajari, saya praktekan dengan baik. Saya ingin apa yang menjadi passion saya, menjadi tujuan saya dalam hidup, setidaknya di satu langkah besar yang saya ambil. Membuat skripsi juga langkah besar bukan ?.

 Saya sendiri sempat tidak pede dengan judul saya yang dihajar habis-habisan di seminar usulan penelitian. Tetapi setelah dicek ulang, ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan. Penelitian bisa dilanjutkan, tentunya dengan resiko dihajar kembali ketika sidang. Sudah banyak saya mendengar cerita-cerita sidang teman yang menakutkan. Padahal, mereka membahas sesuatu yang mainstream, sesuatu yang semestinya tidak mungkin miss setelah 4 tahun lebih masa kuliah. Tapi yah,s udah kagok basah, mau bagaimana lagi ?.

Setelah melewati masa bimbingan, tiba saatnya masa sidang. Kembali,  persiapannya tidaklah mudah. Harus mengumpulkan ini itu, merepotkan sekali. Bolak-balik Bandung-Jatinangor itu melelahkan. Ditambah setelah (dan sambil) membereskan syarat-syarat, saya pun masih harus mengikuti bimbingan, agar persiapan lebih mantap. Kembali di sini muncul pikiran-pikiran ingin lari. Sudahlah, bagaimana jika saya menghilang, lalu muncul ketika hari H saja ? Ah, tidak boleh begitu, melarikan diri dari sesuatu yang sudah dibangun dengan peluh, adalah sesuatu yang sangat bodoh. Hajar saja.

Ada satu momen di mana saya harus hujan-hujanan menemui dosen pembimbing di kediamannya (sebenarnya hujan-hujanan Cuma dari parikiran doang sih, biar kedengaran menyedihkan aja ini, dramatisasi). Di kediamannya, skripsi saya dicoret habis-habisan. Saya disuruh membenarkan lagi. Waktunya ? H-10 sidang. Waktu itu saya Cuma bisa senyam-senyum saja. Dalam hati ? berantakan. Tapi kembali, waktu itu kebetulan saya ditemani oleh Febe, yang juga bimbingan, dan mau nebeng pulang. Dia jadi teman yang sangat suportif. Menyemangati saya. Memang benar. Tidak ada alasan untuk patah arang. Hanya 10 hari lagi, 10 kali lagi memejamkan mata, maka tiba waktu saya untuk menjadi sarjana. Namun tetap saja mental meltdown saya di masa itu sudah sampai pada titik terparahnya.

 Dalam perjalanan pulang, jalanan dekat rumah saya ternyata macet, sehingga saya harus mencari belokan lain daripada belokan yang biasa. Setelah memotong kemacetan dan mencoba masuk ke salah satu belokan dekat rumah, ternyata belokan tersebut diportal, sehingga untuk mencari jalan lain, saya harus memundurkan mobil, dan memutar. Tapi hal itu ternyata tidak mungkin. Karena di belakang saya macet parah. Ke depan portal. Ke belakang macet. Di situlah titik di mana saya berteriak di dalam mobil. Saya tidak tahu mau apa lagi. Pikiran saya sudah kacau. Waktu itu sudah jam 7 malam. Hujan. Macet. Lapar. Saya harus pulang ke rumah dulu, harus makan, lalu saya harus menemui dosen pembimbing saya yang lainnya pada jam 8 malam di tempat lain. Akhirnya saya memutuskan untuk meminta tolong orang rumah agar hansip membukakan portal tersebut.

Sesampainya di rumah, saya hanya sempat makan dan pamit kepada orang tua untuk kembali menemui dosen pembimbing saya yang lain. Saya menemui beliau di sebuah hotel di Bandung, karena kebetulan beliau sedang ada acara di hotel tersebut. Di sana, saya diberikan berbagai macam saran yang sampai sekarang pun saya masih ingat. “Inget bim, ibu kayak gitu ke kamu, karena ibu sayang kamu, gak mau kamu dibantai pas sidang nanti, mau kamu lancar pas sidang nanti”. Sebuah saran yang kembali membangkitkan semangat. Bimbingannya sendiri hanya setengah jam, sisanya selama 1 jam diisi cerita-cerita ajaib dari beliau. Seru.

Akhirnya, H-7 saya diizinkan untuk memperbanyak skripsi dan menyebarkan undangan untuk para penguji. Oh ya, kebetulan saya mendapatkan penguji yang sudah saya kenal baik. Salah satunya adalah dosen wali saya sendiri, sedangkan yang satunya lagi adalah dosen muda yang memang sering mengobrol ketika saya bimbingan sampai sore, sekaligus salah satu  penguji seminar usulan penelitian saya. Oke, undangan sudah disebar, begitu juga dengan salinan skripsi, tidak ada kata mundur, hajar terus !

Pertama kalinya  seumur hidup, saya tidak menikmati yang namanya Tahun Baru. Saya sidang pada tanggal 3 Januari. Pada malam tahun baru, yang terpikir hanyalah slide presentasi yang belum selesai, dan pertanyaan apa yang kiranya akan ditanyakan oleh penguji. Saya sudah tidak memikirkan hal yang lainnya. Kecuali, yah, kemungkinan seseorang datang ke sidang saya. Ternyata tidak, fakkk.

Hari sidang pun tiba. Taraaaa. Saya datang pagi sekali. Kandidat yang datang paling pagi. Tak masalah, bisa sedikit baca-baca. Lalu datang 2 kandidat lagi yang kebetulan teman satu angkatan. Kami saling berbagi cerita, ‘geus diajar naon wae ?’ WAE LAH ! ternyata sama, tidak ada yang belajar. Hanya membaca-baca saja skripsi-skripsi masing-masing. Sambil menunggu sidang dibuka, ternyata saya kedatangan teman istimewa yang sengaja jauh-jauh datang dari Jakarta hanya untuk menonton saya sidang, luar biasa. Mood boosting sekali. Teman ini adalah sahabat saya sejak SMP. Satu SMP bareng, terpisah di kelas 3 SMP, ketemu lagi di tempat tempat kuliah. Oh ya, orang yang saya harapkan datang dan ternyata tidak pun mengirimkan sms, memberi semangat. Ada juga teman saya yang sangat pendiam, ikut mengirim sms, ini semacam keajaiban tahun baru.

Akhirnya, waktu yang ditunggu pun tiba. Sidang pun dimulai dan….. berakhir dalam waktu 45 menit saja…. HEEEEEEEE ??? Ternyata sidang saya alahamdulillah kelewat lancar. Pertanyaan-pertanyaan para penguji dapat saya jawab dengan sempurna, saya tidak banyak mendapatkan revisi, dan pada akhirnya mendapatkan nilai yang maksimal. Ketika sedang berjalan keluar ruang sidang, salah satu teman saya bilang ‘lu sidang kayak boker pagi-pagi coy, lancar bener..’. Memang begitu. Saya juga kaget. Mungkin, mungkin, kembali ke beberapa paragraf di atas; usaha keras tidak akan mengkhianati.

Akhirnya, sidangpun selesai. Saya berhak menyandang gelar Sarjana Hubungan Internasional. Ibu dan Ayah saya senang, melihat mereka tertawa dan tersenyum, rasanya, untuk beberapa saat, dosa-dosa saya terhadap mereka serasa terhapus. Beberapa saat doang sih, tapi ya lumayan lah.

Pada akhirnya, tibalah saya menutup buku kenangan yang berjudul Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Cetakan Edisi 2007. Sebuah kenangan indah, yang tidak akan terlupa. Sebuah kenangan yang akan terpatri di dalam ingatan saya. Sebuah kenangan tentang sebuah tempat, di mana saya menemukan keluarga baru. Sebuah keluarga yang tidak memiliki ikatan darah, tetapi tetap hangat. Sebuah keluarga yang dipertemukan oleh takdir, mimpi, dan cita-cita yang kurang lebih sama. Tapi entahlah, mungkin ada juga yang kejeblos masuk sini, tapi kalau memang kejeblos, tidak mungkin dong, mereka tersenyum lebar ketika diwisuda sebagai lulusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: