h1

Pelindung Kyoto Bagian 1

January 15, 2014

Pelindung Kyoto. Bagian 1 dari ? (belum diputuskan beberapa bagian).

Supaya konten blog ini tambah menarik, saya akan coba tambahkan cerita bersambung yang akan saya update tiap 1 minggu sekali ! Kali ini ceritanya akan terdiri dari beberapa bagian. Belum diputuskan. Ini bagian pertamanya. Silahkan menikmati.

Hari yang melelahkan di tempat kerja. Seperti biasa, klien rese, bos apalagi, OB disuruh tidak ada yang benar, teman kantor semua cuek, laptop kena virus gara-gara flashdisk si Oddie tolol, PSVita tidak bisa di-charge  –charger-nya ketinggalan di rumah Bandung, TV rusak karena parabolanya kesambar petir, belum ditangani oleh provider¸channel lokal isinya sampah semua, pertandingan sepak bola tidak ada yang ditayangkan di televisi lokal.

Oke, sampai apartemen aku tidur sepertinya. Sebelum pulang, sepertinya aku harus mampir dulu ke mini market Eight Twelve dekat apartemen, beli makanan, hot dog boleh lah. Tidak sehat ? bodo amat, tadi siang aku sudah makan gado-gado. Sehat. Mungkin. Dibelikan OB, entah bersih atau tidak. Ah, tak apa lah. Aku masuk ke Eight Twelve di dekat apartemen ku, seperti biasa, dipenuhi anak-anak gaul yang lagi nongkrong, ngobrol, berisik, obrolannya gak penting, tentang cewek-cewek cabe, apa lah itu, gak ngerti aku. Akhirnya aku membeli hotdog dan sebungkus keripik kentang, cukuplah untuk makan malam ini.

Aku berjalan ke apartemen, mendung, sudah mau hujan. Aku agak mempercepat langkah, daripada kehujanan di jalan. Sudah dekat apartemen, aku sudah tidak melihat kiri kanan lagi, karena memang hujan, aku berlari saja, tidak sengaja, aku bertabrakan dengan seseorang. *BRUK*, “WADOHH !! NYET LIAT-LIAT KALAU JALAN !” begitu hardikku kepada orang yang menabrak ku. Aku belum melihat orangnya, padahal bisa saja dia bosku, tapi bodo amat lah, dia yang salah.

Sambil membereskan belanjaanku yang berserakan, aku melirik melihat ke orang yang aku tabrak. Aku melihat langsung ke matanya, karena matanya melihat ke arahku juga. Matanya aneh, semua putih, “waduh, orang tuna netra !” pikirku dalam hati. Waduh, aku berteriak seperti itu kepada orang tuna netra. Waduh dosa. Bagaimana ya ?. Ah, aku minta maaf saja lah. “eh, maaf pak, saya…” belum sempat aku beres berbicara, orang itu berdiri dan berkata “jibun wo jyumbi shinasai, konban wa omae no jyunban da”. Eh ? Bahasa Jepang ?. “eee, eee eettto…. do iu koto desu ka ? nani wo hanashimasu ka ? watashi wa chotto wakarimasen yo”. Kebetulan aku agak sedikit bisa berbahasa Jepang. Hobi nonton anime sampai kuliah dulu. Orang tua itu hanya melihat (eh sebenarnya aku bingung dia melihat aku atau tidak, karena kan, yah, ya begitulah, tahu sendiri kalian) ke arahku. Lalu ia hanya tertawa, dan berjalan meninggalkan aku yang sedang bengong bagai melihat bulan di siang bolong.

Kakek itu bilang “bersiaplah kamu, malam ini adalah giliran mu”. Aku hanya menjawab “eh, bagaimana maksudnya ? anda bicara apa ? saya tidak mengerti”. Ah ya sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan. Eh tapi itu klise. Kalau tidak dipikirkan nanti pasti ada sesuatu yang aneh yang bakal terjadi. Jika dipikirkan tidak berujung. Jadi bagaimana ? Ah, aku bingung sendiri. Aku lalu berdiri, dan merasa air hujan menetesi kepalaku. Ah hujan juga deh ah, lari ! Aku lalu berlari sampai ke apartemen, sedikit kehujanan, tak apa-apa lah.

Sambil mandi, aku masih terpikir oleh kakek itu. Haduh, begini banget ya ? Orang lain (cowok) mandi sambil mikirin yang lain, kok ini malah mikirin kakek-kakek. Hahahahaha. Ya sudahlah. Keluar dari kamar mandi, aku langsung duduk di meja makan apartemen ku yang kecil ini. Cuma 2 kamar, dapur dan 1 kamar mandi. Maklum lah, aku tinggal sendiri. Aku membuka kresek dari eight-twelve tadi. Ah, hot dog apaan nih, berantakan begini ?. Ternyata hot dog nya berantakan karena aku jatuh setelah bertabrakan dengan kakek tadi.  Ah ya sudahlah, yang penting jumlahnya sama dan tetap bisa dimakan. Keripik kentangnya pun berhancuran begini. Ck, kakek aneh. Aku disuruh bersiap-siap apa ya ?

Sebelum tidur, aku memutuskan untuk membaca buku. Kali ini, aku sedang membaca buku. Buku ‘O Amuk Kapak’ dari Sutardji Calzoum Bachri. Ini adalah salah satu pembuat puisi lokal kesukaan aku dulu. Walaupun aku tidak pernah mengerti isi puisinya, tapi aku tahu emosinya tersampaikan. Tepat ketika bagian O Amuk Kapak, ada kalimat “O bapak kapak, berikan aku leherleher panjang biar ku tetak biar ngalir darah resah ke sanggup laut” DUAARRRRRRR suara petir membahana. Aku refleks melempar buku itu, mengenai TV yang mati karena tak ada antena. Wah gila, kencang banget itu petirnya ?. Aku dari kecil memang takut dengan petir. Entah kenapa, sepertinya ia siap menerkam siapa saja yang berada tanpa perlindungan atap. Ia kejam, dan seringkali muncul tanpa peringatan. Mengesalkan.

Hujan makin besar, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku malas membaca buku-buku yang ada di apartemen ini. Semuanya tentang bunuh-bunuhan, termasuk si Amuk Kapak tadi. Entah kenapa setiap dengar judulnya saja aku jadi terbayang orang barbar lari-lari membawa kampak yang ia ayun-ayunkan untuk membacok orang lain. Ya sudahlah. Tidur saja ?. Oke. Aku lalu mencoba untuk tidur, mungkin sambil membayangkan yang indah-indah. Hmm, siapa ya ? Hmm.. ah, si Isca aja lah. Teman kuliahku dulu. Cantik. Blasteran. Baik. Pintar. Kutu buku. Berkacamata (ADUH). Apa kabar ya dia ? Ah, pasti dia sudah bahagia deh sama orang lain, aku sih di sini saja, bengong sendirian, tapi yah, gak apa-apa lah, mengkhayal itu gratis. Aku mengingat-ngingat kegiatan-kegiatan di kampus yang dulu aku pernah lalui dengannya. Menyenangkan, capek tapi indah. Ah Isca, demi kamu, aku dulu sampai gotong-gotong proyektor sebesar anak gajah sendirian. Eh bukan sih, demi tanggung jawab atas nama kampus itu sih, bukan atas nama kamu.

Ketika aku nyaris tertidur sambil memikirkan Isca, tiba-tiba saja entah kenapa aku teringat kakek yang tadi. Aduuuhhhh. Apa maksudnya ya aku disuruh siap-siap ? Kenapa aku ?. Agghhh, ya sudahlah. Aku lalu memejamkan mata, berdoa seraya berharap aku bisa segera tertidur. Besok pasti hari yang tidak kalah melelahkan. Hhhhh.

Tubuhku tiba-tiba tergoncang keras, seperti ada yang membangunkan. Orang itu menggoyang-goyangkan tubuhku. “ME WO SAMASE !! ME WO SAMASE !!” (BUKA MATAMU !! BUKA MATAMU !), begitu teriaknya. Aku lalu membuka mata, aku melihat muka orang yang sangat panik, seperti yang mengkhawatirkan aku bakal mati. Aku tidak tahu siapa orang itu. Aku tidak pernah melihatnya di manapun. Bajunya… Bajunya aneh.. Bukan baju orang biasa, tapi aku kenal. Emmm.. ituu, baju Shinsengumi !!! “Nani ka hanashi wo shiro yo gakki !” (Coba katakan sesuatu, bocah !), “eeh, euuh, a apah ??” Begitu kataku, dalam Bahasa Indoenesia. Ia lalu menamparku “Nani wo hanaseru no ka yo !? Omae akuma ka yo !?” (bicara apa kamu !? kamu setan ya !). “Eeh, etto, sumimasen, kore boku da yo” (eh, anu, bukan, ini aku kok). *lalu percakapan selanjutnya terjadi dalam Bahasa Jepang, tapi karena saya –si penulis- sendiri belum sebegitunya bisa berbahasa Jepang, jadi ya saya tuliskan saja dalam Bahasa Indonesia*.

“Ah, kamu ternyata baik-baik saja. Kami khawatir, kamu tiba-tiba terjatuh ketika sedang berpatroli”.

“hah ? patroli a..” belum selesai aku mengucapkan ka, aku lalu sadar. Ini bukan tempat tidurku. Ini di mana ? Aku dikelilingi orang-orang berpakaian Shinsengumi. Aku sendiri, eh, ah, aku juga Shinsengumi ?. HAH !? INI APA !?

*BERSAMBUNG*

Advertisements

One comment

  1. […] Akhirnya, bagian ke-2 dari cerita Pelindung Kyoto.  […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: