h1

Kokkuri-san

January 19, 2014

Waktu menunjukkan pukul 23.00. Wah sudah malam yah. Aku lalu beranjak dari komputerku yang sengaja tidak aku matikan, karena aku masih menyalakan program torrent untuk mengunduh beberapa film serial yang dipesan oleh temanku. Maklumlah, koneksi internet di rumahku tidak terbatas, jadi banyak teman yang menitip untuk pangdonlotin, tak masalah, karena koleksiku juga jadi banyak, cocoklah untuk mengisi waktu luangku yang sedang menunggu pengumuman PNS yang tidak kunjung nongol.

Aku lalu berjalan lemas ke kasur, capek juga ya ternyata, dari jam 4 sore sampai jam 11 malam begini nangkring  di depan komputer. Aku berbaring dan mencoba memejamkan mata. Tidak bisa. Aku teringat apa yang aku lakukan kemarin siang.

Satu hari yang lalu sebenarnya bukan hari yang istimewa, hanya saja kebetulan, teman-teman kuliahku yang belum lulus dan belum memiliki pekerjaan, alias menganggur, mengajakku berkumpul dan bermain. Ini sudah biasa sih, kami biasanya berkumpul sebulan sekali. Kemarin kami berkumpul berempat, Aku, Catur, Ganjar, dan Rian. Kami berempat adalah teman dekat di kampus dulu. Sayang, waktu lulus kami berbeda-beda, Aku dan Ganjar lulus duluan, Catur dan Rian masih berkutat dengan skripsi mereka, ah, God bless them lah.

Yang mengganjal pikiranku, adalah apa yang kami lakukan kemarin siang. Sebenarnya, niat kami Cuma berkumpul, makan, ketawa-ketawa, lalu pulang ke rumah masing-masing. Tapi ternyata, Catur punya ide lain. Sehari sebelumnya, ia melihat tentang Kokkuri-san di internet. Semacam Ouija Board versi Jepang. Kami berempat adalah penggila Jepang, tentunya Kokkuri-san sudah tidak aneh lagi. Namun, sama seperti Jelangkung, ini adalah sesuatu yang cukup untuk diketahui saja, tanpa harus dicoba. Sahabatku pernah bilang, untuk tahu sumur itu dalam atau tidak, kita tidak perlu terjun ke dalamnya. Benar sih. Tapi kali ini, entah setan apa yang berbisik ke telinga kami, kami ingin mencoba Kokkuri-san ini. Sebenarnya, aku bukan takut disebut musyrik atau bagaimana, tapi yang paling menyeramkan, seperti Jelangkung, adalah ketika setannya tidak mau pulang. Wah. Gawat sih kalau kejadian.

Tapi yah, seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, entah setan apa yang menyambet kami berempat. Kami memutuskan untuk bermain Kokkuri-san. Peraturannya simpel saja, menulis kertas dengan angka 0-9, lalu menggambar lambang gerbang torii  di tengah-atas, dengan tulisan hai (iya) dan iie (tidak) di sebelahnya.  Nantinya, kami menyimpan koin 50 yen di atasnya, lalu menyentuh koin tersebut dengan jari kami berempat, memanggil Kokkuri-san, lalu nanti koin tersebut mulai bergerak sendiri. Ketika sudah bergerak, kami diperbolehkan untuk bertanya apa saja pada Kokkuri-san. Menyudahinya pun mudah, tinggal menyuruh ia pulang, lalu menyobek dan membakar kertasnya, lalu menggunakan koin 50 yen tersebut untuk membeli barang. Beres.

Singkat kata, kami berempat pun memutuskan memulainya. Tempat yang kami pilih adalah rumahnya Rian, yang kebetulan sedang tidak ada siapa-siapa. Oh iya, aku selalu menyimpan uang 50 Yen, sisa perjalananku ke Jepang beberapa bulan yang lalu, untuk semacam jimat. Mungkin saja suatu saat uang tersebut dapat digunakan untuk membeli minuman ketika sedang darurat di sana. Sebagai perlambang doa untuk ke Jepang lagi juga sih, hehehe. Oke. Kokkuri-san memang dari Jepang, tapi kami rasa, setan-setan di manapun tidak mengenal tembok bahasa, jadi ya, cuek saja lah kami memanggil dan bertanya kepada Kokkuri-san dengan Bahasa Indonesia.

Kokkuri-san, Kokkuri-san, apa kamu sudah di sini ?”. Koin itu tak bergerak.

Kami bertanya lagi

Kokkuri-san, Kokkuri-san, apa kamu sudah di sini ? Kalau sudah, gerakkan koin ini”. Masih belum bergerak, kami tanya lagi, dengan suara agak keras.

Kokkuri-san, Kokkuri-san, apa kamu sudah di sini ? Kalau sudah, gerakkan koin ini !”, JREG, tiba-tiba jariku terasa panas, sepertinya jari teman-temanku juga. Lalu koin itu mulai bergerak ke huruf “hai”. Iya, katanya. Wah, Kokkuri-san sudah datang ! Pertanyaan pertama dimulai dari Catur, yang pertama kali mencetuskan ide ini. “Kokkuri-san, siapa nama dosen pembimbing saya ?” tanya Catur. Ah, ternyata dia mengetes, pikirku. Koin itu bergerak, lalu mengeja “E-RU-E-MU-TE” dalam Hiragana. WAH. BENAR. Itu memang nama dosen pembimbing catur, pak Eruemute. Oke, ini cukup mengerikan sih, jawabannya benar.

Oke, giliranku. “Kokkuri-san, Kokkuri-san, siapa nama target saya selama lima tahun yang tidak kesampaian?”. Koin itu bergerak “FU-A-RA-FU” Fuarafu ? Terdengar konyol, tapi ketika dipikir ulang, OH, FARAH ! AH BENAR LAGI DIA !. Wah, sudah benar dua kali. Oke, giliran Rian sekarang. “Kokkuri-san, Kokkuri-san, siapa nama teman saya yang juga temannya teman Bilwa ?” Ya, Bilwa, itulah namaku, hehe, aku belum memperkenalkan diri ya ?. “U-I-N-DO” UINDO ? ah, Windo, benar lagi, gila. Lalu terakhir giliran Ganjar, ia bertanya tentang siapa trio SMP 31 yang bersama-sama masuk ke jurusan yang sedang kami jalani sekarang. Tanpa perlu aku ceritakan, jawabannya benar lagi.

Permainan pun terus berlanjut, kami bertanya, siapakah jodoh kami, kapan kami dapat kerja, dan lain-lain. Semuanya berjalan lancar hingga kami menyuruh Kokkuri-san pulang, dan merobek lalu membakar kertas yang tadi dipakai. Uang 50 Yen yang digunakan pun aku masukkan lagi ke dompetku. Sedikit melelahkan memang, mungkin pikiran dan emosi kami terkuras dengan tidak sadar, tetapi semua berakhir lancar dan menyenangkan. Kami pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Kembali ke aku di tempat tidur ku. Aku mengantuk sebenarnya, tapi tidurku tertahan karena masih terus kepikiran dengan apa yang terjadi kemarin siang. Sepertinya ada yang salah, tapi apa ?. Kokkuri-san sudah pulang, dia sudah menjawab iya, kertas sudah dimusnahkan. Hmm, apa ya ?. Aku lalu mengambil telepon pintar ku yang sedang diisi baterainya, lalu menggoogle Kokkuri-san lagi. Ternyata, ada satu aturan terakhir yang aku lupa. Aku terkejut, terpaku melihat kalimat “You must also SPEND the coin before the end of the next day”. AKU HARUS MENGGUNAKAN KOIN 50 YEN ITU !?. Hah ? Tapi ini kan di Indonesia, tidak ada yang mau barangnya dibeli dengan uang 50 yen. Lalu aku membuka buku tentang mitos-mitos Jepang yang memang aku punya. Aku kembali membaca bagian Kokkuri-san, ternyata sama. Memang harus digunakan koinnya. Aku tidak bisa membuangnya begitu saja. Matilah aku.

Aku lalu lompat dari tempat tidur ku. Aku langsung menghubungi ketiga teman ku tadi. Waktu di layar telefon genggamku menunjukkan pukul 23.55. Aku hanya punya 5 menit untuk menyelesaikan masalah ini.  Aku lalu menelpon Catur. Tuut… Tuut… Tidak diangkat. Mungkin sudah tidur. Aku lalu menelpon Rian, tidak tersambung, lalu aku ingat, ia memang mau mendaki gunung siang tadi, mungkin sekarang sudah di puncak, tidak ada sinyal. Terakhir, aku menelpon Ganjar, kembali tidak diangkat. Percuma memang, manusia-manusia ini memang kebo. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi apabila koin 50 yen ini tidak bisa aku gunakan dalam 2 menit ke depan. Tidak ada pilihan lain, mungkin aku akan membuangnya saja, menguburnya di halaman depan, lalu keesokan paginya dimasukkan ke kencleng mesjid. Ide bagus. Baru saja beres berpikir begitu, tiba-tiba aku mendengar suara DOONGG.. DOONGGG.. Ah, jam ruang tengah berbunyi lagi. AH, JAM 12 ? Waktuku sudah habis. Apa yang akan terjadi ?.

Tiba-tiba ada suara pintu terbuka. Lalu… DUG ! DUG DUG ! ada gedoran di pintu kamarku. Ah, bangsat, masa iya aku didatangi Kokkuri –san ?. DUG ! DUG DUG DUG DUG !edoran itu makin kencang, namun kali ini ditemani suara yang aku kenal, ah, ini suara adik ku. “Kak, buka kak !”, wah ada apa nih ?, aku lalu bergegas membuka pintu kamarku. Wajah adik ku pucat. “Kak, itu jam kok tiba-tiba bunyi sih ? Bukannya kalau malam di-set untuk tidak bunyi ya ?”. Jreng. Aku diam terpaku. Aku teringat kalau Kokkuri-san itu adalah hantu yang jahil. Kerjaannya kah ?. Aku dan adikku lalu memeriksa setelan jam tersebut. Ternyata benar, jam tersebut diset agar tidak berbunyi setelah pukul 9 malam. Setelannya masih begitu ketika jam tersebut berbunyi. Aku melihat ke kaca di jam itu, mukaku pucat. Ah, sepertinya memang kerjaan Kokkuri-san, kalau begini, aku harus membuat adikku kembali tertidur, ia tidak boleh tau kalau kekacauan malam ini adalah gara-gara kerjaan isengku dan ketiga temanku. “dek, tidur lagi aja sana, mungkin jamnya rusak, harus diservis”. Adikku yang memang mudah dibohongi langsung kembali ke kamarnya.

Aku lalu mencoba duduk di ruang tengah, berpikir tentang apa yang mesti aku lakukan ketika tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pelan dari arah kamarku. DUG.. DUG.. DUG.. DUG.. ketukannya konstan dan pelan, ditemani suara langkah kaki sedikit. Tak-tak-tak Dug.. Tak-tak-tak Dug.. begitu, konstan, dan pelan. Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga itu tikus yang kepalanya kepentok ke pintu kamarku. Ah sial. Doaku tidak diijabah saat itu.

Aku melihat sesosok kakek tua dengan rambut yang sudah menipis, mengenakan piyama, sedang menabrak-nabrakan dirinya (kepalanya, lebih tepatnya) ke pintu. Ah. Sialan. Aku bertanya dengan agak berbisik “Woy, apaan nih ?“ Tanyaku. Aku tak digubris. Ia terus menghantamkan kepalanya ke pintu. Aku lalu memberanikan diri untuk mencoba pertanyaan lain. “Keek..?” Ia tak bergeming. “Emm, Kokkuri-san ?” Dalam sekejap ia menoleh ke hadapanku lalu tiba-tiba saja ia ada tepat di depan mataku. Mataku berhadapan dengan mata si kakek. “AKU KOKKURI, KAMU SUDAH MEMANGGIL AKU, LALU KAMU TIDAK MENURUTI KEINGINANKU ? AKU TIDAK DIBELIKAN APA-APA ? ANAK BODOH !!!” Pertama kalinya dalam seumur hidup, aku diam tidak bisa berkata-kata. Ini jauh lebih menakutkan daripada ketika teman-temanku memaksaku menembak Farah di hari ulang tahunnya.

Nafas si kakek ini bau, giginya berantakan, aku tahu ini bukan waktunya mendefinisikan wujud si kakek bedebah ini, tapi aku sendiri tidak bisa apa-apa. Aku lalu terjatuh, dan kakek itu terus mengikuti posisiku agar matanya bisa sejajar dengan mataku sambil terus bertanya “AKU TIDAK DIBELIKAN APA-APA ? KENAPA KEINGINANKU TIDAK KAU TURUTI ?” Dan seterusnya. Brengsek. Aku harus jawab atau bagaimana ini ?. Akhirnya, aku memaksakan mulutku untuk bergerak. “Koo.. Kokk… Kokkuriii.. Kokkuri-san.. Aku harus bagaimana ?” Ia lalu menghardik “TAK USAH BAGAIMANA-BAGAIMANA BODOH, KAMU MATI SAJA !” Ia lalu tiba-tiba mencekikku dengan tangannya yang kurus, runcing, pucat, dan dingin. Aku mulai kehabisan nafas. Aku lemas. Ah.. aku mati di tangan setan.. Tidak lucu.. Gelap.. Tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap..

Tiba-tiba aku mendengar suara telefon genggamku yang berbunyi. Aku lalu melompat kaget dari temapt tidur. HAH !? Cuma mimpi. Ternyata, Catur yang meneleponku. Ia meminta maaf tidak bisa menjawab telefonku karena tidak mengangkat telefonku sebelumnya, karena ia sedang bermain badminton. Aku lalu menceritakan sedikit pengalaman barusan, Catur pun menyarankan aku untuk segera membuang  koin 50 yen itu ke kencleng mesjid. Sekarang juga. Baiklah, sepertinya di mesjid masih ada orang yang mau tahajud, aku langsung saja pergi ke mesjid diam-diam.

Setelah menutup telepon dari catur, aku melihat jam di telepon genggamku. 00.55. Hah ? Ternyata sudah 1 jam aku tidur ? Heeh.. Aneh yah.. Aku lalu bersiap-siap untuk berangkat ke mesjid, membawa sejadah dan sarung, sehingga terlihat seperti orang yang mau ikutan solat tahajud, bukan buang sial kabur dari setan. Ketika sedang melipat sarung, tiba-tiba. DOONGGGG… DOOONGGG… JAM BESAR ITU BERBUNYI LAGI. Aku lalu lari ke luar, melihat jam itu, bersamaan, pintu kamar adikku pun terbuka. Adikku, dengan muka kucel, lalu bertanya “Aaaahhhh, kok jamnya bunyi lagi sih, kak ? Eh itu leher kakak kenapa merah-merah gitu ?”. Aku lalu memegang leherku, perih, ternyata memang ada bekas cekikan. Aku kembali berbohong kepada adikku, dengan bilang “tadi baru pake balsem, dingin, taunya balsemnya kepanasan, jadi kakak gosok terus, sudah, kamu tidur lagi saja sana, nanti kaka coba lihat lagi jamnya”. Adikku pun kembali ke kamarnya. Aku kaget. Ternyata, yang kualami barusan bukan lah mimpi. Lalu, aku mendengar kembali suara dug…dug..dug… dari depan pintu kamarku. Ah sial, seperti inikah yang disebut sejarah berulang ?.

*************************************************************************************************************************

Begitulah sedikit kisah tentang Kokkuri-san, sebuah permainan Jelangkung ala Jepang. Ceritanya saya sengaja biarkan menggantung, biar pembaca saja yang menebak-nebak, apa Bilwa kembali ke kamarnya untuk memeriksa suara tadi, atau lari ke mesjid untuk memasukkan uang 50 yen itu ke dalam kencleng, walaupun sebenarnya, mungkin saja metode itu tidak efektif ? Entahlah, hanya Bilwa dan Kokkuri-san yang ada di belakang kamu yang tahu 🙂

Advertisements

2 comments

  1. sugan teh akhirnya bakal ada pilihan: buka halaman lima buat balik lagi ke kamar, halaman dua puluh buat lari ke mesjid.


    • U kira ini ghostbump 😂😂😂



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: