h1

Empat Cahaya Manusia

January 31, 2014

Oke, kali ini, kami, Teman Tinta, ‘ditugaskan’ oleh Guest of Honor kedua kami, untuk menulis tentang Cahaya/Licht/Light. Awalnya agak bingung juga sih, karena cahaya sendiri sangatlah luas. Baik secara konotatif maupun secara denotatif. Tapi pada akhirnya, saya memutuskan untuk menulis cahaya secara konotatif saja, karena apabila menulis secara denotatif, itu kerjaannya anak fisika. Okeh ?

Kebanyakan tulisan saya dimulai dari sebuah pertanyaan. Kali ini juga. Apakah itu cahaya ? secara denotatif, atau kamusiawi, cahaya adalah sinar atau terang (dr sesuatu yg bersinar spt matahari, bulan, lampu) yg memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya. Oke, tapi bukan itu cahaya yang akan saya bahas. Seperti yang sudah disebutkan, saya akan membahas cahaya secara konotatif. Cahaya secara konotatif ini, saya definisikan (dikaitkan dengan judul) sebagai suatu entitas yang menerangi jalan hidup seorang manusia. Bagi saya, ada 4 cahaya yang akan selalu menerangi jalannya manusia. Mereka adalah: Keyakinan, Orang  Tua, Teman, dan yang terakhir, Cinta.

Yang pertama adalah keyakinan. Faith, bahasa Inggrisnya. Jujur, ini adalah salah satu kata favorit saya dalam Bahasa Inggris. Keyakinan ini tentunya berkaitan dengan sesuatu yang berbau dengan KeTuhanan. Agama lah. Saya ingat, dulu saya pernah berdebat dengan teman saya, seorang atheis (orang Rumania), tentang bagaimana kami (sebagai Theis dan Atheis) menyikapi awal dari kehidupan di alam semesta. Teman saya ini tentunya percaya dengan teori Big Bang, apa itu Big Bang, tinggal cari sendiri di google. Sedangkan saya sendiri percaya kalau Big Bang terjadi dengan campur tangan Tuhan, tidak terjadi begitu saja. Bagi teman saya, ini adalah pikiran orang yang malas. Mau tau enaknya saja. Bagi saya, inilah yang membedakan kami. Saya ingat, ketika itu saya bilang ‘Dude, this is what differs us (as a theist and an atheist),your lack of faith’. Dia setuju, memang begitu katanya.

Percaya sama Tuhan. Ini semacam tabu di dunia ilmu pengetahuan, dunia yang saya geluti, sebagai seorang akademis. Walaupun bukan bertentangan secara langsung, tetapi kepercayaan terhadap Tuhan, sesuatu yang tidak (atau belum ?) bisa dibuktikan secara empiris, adalah sebuah anomali di dunia ilmu pengetahuan. Saya rasa juga demikian, saya ingat salah satu dosen saya di kelas Gender dan juga Cultural Studies dulu selalu berpesan, agar sejenak saja tidak membawa argumen yang mengatasnamakan agama ke kelasnya. Saya setuju, karena banyak pemikir-pemikir dua subjek tadi, melepaskan diri dari konstruksi agama (kalau dijelaskan panjang). Tentunya, teori-teorinya akan menjadi sesuatu yang banal ketika diadu dengan konsep-konsep yang muncul dari agama (atau sebaliknya). Apapun agamanya.

Namun, selepas dari kedua kelas tadi, saya tidak menjadi seorang atheist, malah saya merasa beruntung karena saya memiliki agama. Ada sesuatu yang saya pegang, ketika keyakinan saya yang lainnya goyah. Teori bisa patah dengan teori lain yang lebih mumpuni. Tapi tidak dengan keyakinan. Ketika apa yang saya yakini sudah saya pegang dengan erat, maka niscaya, saya selalu akan memiliki pegangan, apapun yang terjadi. Mengapa ? Karena masih banyak pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh manusia hingga saat ini. Seperti tentang kematian. Ketika kita tidak memiliki kepercayaan, maka kematian adalah suatu akhir. Kita akan bersedih berlama-lama ketika kita ditinggal oleh seseorang. Itu karena di titik itulah ‘hidup’ orang tersebut berakhir. Namun, bagi orang yang memiliki kepercayaan, mereka percaya, bahwa kematian adalah sebuah awal. Atau mungkin sebuah transisi. Untuk kehidupan yang abadi.

Itu hanya salah satu saja. Masih banyak hal yang bisa kita buat jauh lebih ringan, lebih terang, dengan mengatasnamakan keyakinan. Misal saja, ketika seseorang merasa semua rencananya gagal di depan mata. Ketika ia tidak memiliki keyakinan, maka ia akan patah di sana. Ia tidak akan berpikir, bahwa itu adalah takdirnya. Ia tidak akan berpikir bahwa itu adalah bukan jalan yang semestinya ia jalani. Ia hanya akan percaya bahwa ia gagal. Bagi orang yang memiliki keyakinan, ketika menerima kegagalan, maka ia akan bangkit, karena yakin, ada jalan lain yang bisa ia tempuh. Mungkin belum waktunya. Mungkin belum jalannya. Mungkin ini terdengar naif bagi para non-believer, tapi, bagi mereka yang percaya dan yakin bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat bergantung, niscaya, pasti Ia akan menerangi jalan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Inilah cahaya pertama yang menerangi jalan manusia.  Cahaya tersebut ada, ketika jalan kehidupan manusia mulai meredup. Cahaya ini akan muncul, lalu membimbing manusia menuju tempat terbaik bagi manusia tersebut.

Mari kita tempatkan cahaya pertama tadi di tempat yang semestinya. Mari kita turun ke alam dunia. Mari kita jadikan diri kita makhluk sosial. Makhluk yang memiliki dan hidup di lingkungan sosial. Di sinilah kita menemukan 3 cahaya lainnya. Cahaya yang kedua adalah Orang  Tua.

Banyak orang yang bertanya, apa sih cita-cita kamu (kalian) ? Saya yakin banyak yang akan menjawab: membahagiakan orang tua. Tentunya saya juga demikian. Saya lahir, besar, diurus oleh mereka, dimanjakan segala sesuatunya tanpa ada kekurangan. Menyenangkan bagi saya, (mungkin) melelahkan bagi mereka. Sampai saat ini, saya belum bisa membahagiakan orang tua, jujur saja. Yah, mungkin, ketika wisuda dulu, mereka bisa tersenyum bahagia, tapi ya sudah, masih sebatas itu saja saya rasa. Belum ada rasa yang benar-benar bangga dan mendalam di hati mereka.

Bagi saya, dalam hal ini, orang tua menjadi cahaya yang menerangi, sekaligus saya kejar. Dalam kegelapan, adalah sifat manusia untuk mencari cahaya. Inilah Orang  Tua bagi saya. Anggaplah, ketika lahir, kita dilempar ke bumi dengan segala kekambingan (ke-kambing-an) yang berada di dalamnya. Kalau kata vokalisnya the Doors, Jim Morrison, “into this house we’re born,into this world were thrown”. Kita berada di tempat yang gelap gulita, tanpa cahaya sama sekali. Memang begitu tapi kan ? Ketika lahir, manusia tidak bisa apa-apa, tidak bisa berjalan, tidak bisa berbicara, tidak bisa makan sendiri, dan lain-lain, hanya bisa menangis dan tidur. Namun, di situlah ada cahaya yang bernama orang tua. Mereka menyinari kita dengan kasih sayangnya. Menyuapi makan, mengajari berjalan, mengajari berbicara, sehingga kita menjadi makhluk sosial. Menjadi MANUSIA. Inilah cahaya pertama yang menerangi kita di dunia. Sebagai pembanding, mungkin cahaya dari orang tua ini bagaikan cahaya matahari yang membantu tumbuhan untuk berfotosintesis. Kurang lebih seperti itu.

Namun, cahaya ini kelak akan meredup. Karena tentunya kita makin dewasa, dan orang tua kita makin tua. Karena itulah, kita harus mengejar cahaya yang baru, demi mereka. Kita harus, setidaknya, menghangatkan mereka dengan cahaya yang kita kejar. Cahaya yang kita kejar ini adalah, cita-cita tadi, cita-cita untuk membahagiakan orang tua. Cahaya ini juga muncul dari orang tua kan akhirnya ?. Kelak, setelah mengejar cahaya ini, lalu ketika sudah mendapatkannya, maka giliran kita lah untuk menggunakan cahaya tersebut untuk menghangatkan mereka. Tidak perlu menerangi, karena sudah waktunya mereka untuk istirahat, dan menikmati cahaya yang hangat yang kita beri. Bersantai di tengah kehangatan matahari, sambil melihat padang rumput hijau. Sepertinya sebuah kondisi ideal untuk hari tua J

Oke, setelah Orang  Tua, kita terjun ke dunia sosial yang bernama masyarakat. Dalam masyarakat, terdapat berbagai macam relasi di dalamnya. Kolega, atasan, bawahan, guru, murid, dosen, mahasiswa, banyak sekali, mungkin sampai ratusan, tapi di antaranya, ada satu yang selalu menjadi favorit saya, selalu memberikan kehangatan yang istimewa, melalui gelak tawa, canda, bahkan ketika saling berbagi air mata. Teman. Begitulah nama cahaya yang ketiga.

Teman, bagi saya, adalah orang-orang yang secara kebetulan bertemu karena persamaan nasib. Nasib ini luas maknanya. Entah itu tidak sengaja satu sekolah, satu kelas, satu hobi, atau satu teman (yang nantinya saling mengenalkan). Teman adalah cahaya yang menghangatkan, dan menerangi jalan. Mungkin agak seperti lentera yang dibawa oleh penjaga kereta zaman dulu. Ia memberi kehangatan, sekaligus penerangan, membantu kita dalam gelap, sama-sama bertugas  untuk melindungi orang lain. Kalau dalam teman sih, urusannya sama-sama bertugas untuk mencapai tujuan masing-masing.

Ketika jalan hidup sepertinya mulai menggelap, teman akan selalu ada untuk meneranginya. Namun ketika jalan hidup kita sudah terang, seringkali kita melupakannya, seperti cahaya lentera di siang hari. Tidak terlihat, tapi tetap ada. Itu lah teman. Semboyan ini dulu cukup terkenal: susah senang tanggung bersama. Intinya, teman harus selalu ada di saat kita senang dan sedih. Hmm, bagi saya, mungkin itu tidak sepenuhnya benar. Karena, teman tidak harus selalu ada ketika kita senang, tetapi mereka harus selalu ada di saat kita sedih. Kita juga sebagai teman begitu semestinya. Ketika teman kita sedang senang, ya kita turut senang, tanpa harus berada di sisinya. Ketika sedang sedih, maka kita wajib ada di sisinya.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbicara tentang takdir dengan salah satu teman dekat saya. Ia bertanya, ‘kamu percaya takdir ?’, saya jawab, sebagai muslim, saya harus percaya dengan takdir. Bagi saya, pertemanan dengan seseorang adalah takdir. Kembali ke atas, di mana bagi saya teman adalah kebetulan. Kebetulan apa ? Kebetulan yang sudah ditakdirkan. Bisa dibilang, teman yang baik adalah hadiah dari Tuhan. Saya beruntung, ada banyak sekali teman dekat yang selalu ada untuk saya. Uniknya, mereka memberi warna cahaya yang berbeda dalam kehidupan saya. Mungkin kalau diibaratkan, seperti lampu disko. Ribet, tapi menyenangkan.

Oke, cahaya yang terakhir. Cahaya yang paling gombal, tapi bisa membunuh. Cahaya yang pertama, adalah cahaya yang menjadi pegangan. Cahaya kedua adalah cahaya yang menumbuhkan; dan Cahaya ketiga adalah cahaya yang menghibur dan menghangtkan. Cahaya yang terakhir ini yang paling berbahaya, cahaya yang bisa membunuh ketika kadarnya tidak diatur. Namanya cinta.

Cinta kadang suka datang dengan tiba-tiba, tanpa permisi, seperti petir di siang bolong yang terpercik di awan, ia mengagetkan kita dengan kilatan dan suara yang membahana. Apapun yang terjadi, kita tidak bisa mencegahnya. Karena tiba-tiba ini terlalu mendadak. Tidak akan sempat kita melindungi mata kita dari kilatannya. Namun kadang, setelah kilatannya hilang, kita bisa melihat bagaimana indahnya si cinta ini. Ia hangat, menemani sepanjang waktu, agak mirip dengan teman, tetapi ia masuk merasuk ke dalam jiwa. Apa yah, sulit sih untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Kalau sedang jatuh cinta, semua akan jadi subjektif, mungkin, kalau dengan menggunakan teori Roland Barthes, ketika jatuh cinta, semua orang akan menjadi post-structuralist. Apapun yang orang tercinta itu katakan, semuanya bakal terdengar indah. Walaupun makna sebenarnya pedih. Tapi kita tidak peduli. Kita anggap si pembicara, orang yang kita cintai, sudah mati. Mati dihadapan cinta. Death of the Author. Ketika kita menginterpretasikan segala sesuatu, dengan rasa (dalam hal ini cinta kaaannn), tanpa memperhatikan maksud yang sebenarnya disampaikan oleh si lawan bicara.

Memang betul ketika jatuh cinta semua terasa indah. Tetapi, kadang kita lupa, kalau cahaya tidak selamanya memberi kehangatan. Ada cahaya yang membunuh. Kalau Queen bilang ‘Dynamite with a laser beam’. Menunjukkan bagaimana berbahayanya cahaya yang bernama sinar laser, yang dapat menghancurkan pikiran kalian dengan mudah. Begitulah cinta. Ketika cahayanya terlalu terang, kita bukan hanya kesilauan, tetapi juga bisa hangus terbakar. Atau mungkin bolong seperti ditembus sinar laser, yang sebenarnya cahaya-cahaya juga. Bagai kisah Daedalus dan Icarus, begitu juga cinta apabila kita terbuai olehnya. Kalau kata anak zaman sekarang ‘Jatohnya pedih sob’.

Daedalus terbuai akan ciptaannya, dan menantang Tuhan dengan terbang tinggi ke angkasa, hingga lilin di sayap buatannya meleleh karena ia terbang terlalu dekat dengan matahari. Begitu juga dengan jatuh cinta. Ketika kita terbuai dengannya, semua akan terasa indah, kita akan lupa diri, dan kadang, sebenarnya bukan cahaya itulah yang kita kejar. Ini bahayanya cinta. Kadang, ia akan membutakan kita, membuat kita lupa dengan tiga cahaya sebelumnya. Entah sudah berapa tragedi yang membahas tentang manusia yang meninggalkan Tuhan, Orang Tua, dan Teman demi cinta.

Begitulah empat cahaya yang menerangi hidup manusia. Semua memiliki peran masing-masing. Semuanya penting, namun kembali lagi kepada manusia tersebut, bagaimana manusia menyikapi cahaya-cahaya ini. Beginilah cahaya menurutku, menurutmu ?

Begitulah sekelumit pikiran saya untuk tema Teman Tinta kali ini. Agak sedikit filosofis (cieee gayaaa), karena ide untuk menulis fiksi sedang agak-agak macet.

Bagian pertama tulisan ini, tentang Tuhan, saya persembahkan khusus untuk Khairunnisa. Seorang teman yang belum lama ini dipanggil oleh Sang Pencipta, untuk menghadap kembali kepada-Nya. Khairunnisa atau Koi, adalah salah satu teman pertama saya di Jurusan Hubungan Internasional UNPAD. Teman sekelompok ketika ospek jurusan. Sebagai teman, tentunya sempat menjadi cahaya dalam hidup saya. Cahaya yang hangat, dan tulus, cahaya khas orang baik :).

Sekarang, semoga kamu tenang dan bermandikan cahaya Illahi Robbi di sana ya Koi, mungkin bagi-Nya, kamu sudah cukup menerangi kehidupan beberapa orang di dunia ini. 

 Khairunnisa, 3 April 1989-20 Januari 2014.

Advertisements

One comment

  1. […] Pikiran saya kumaha saya « Empat Cahaya Manusia […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: