h1

Karena Waktu Menggeser Makna

March 9, 2014

Oke, kali ini tema Teman Tinta adalah tema yang agak unik. Setelah sebelum-sebelumnya tema adalah sesuatu yang natural, serendipity yang merupakan kebetulan yang menyenangkan, cahaya, dan daun, maka kali ini tema yang diberikan adalah sebuah bentuk cipta manusia. Kelom geulis. Awalnya agak bingung juga sih mau menulis apa ya ? Tapi akhirnya, saya memutuskan untuk menuliskan tentang pergeserannya, semi-saintifik gitu lah ceritanya.

Saya melihat, di dunia ini banyak sekali hal yang berubah, hal yang bergeser. Barat vs Timur sepertinya sudah menjadi masa lampau yang usang. Tergantikan oleh powerhouse-powerhouse baru yang bermunculan dari Asia.  Zinedine Zidane sudah tergantikan oleh Franck Ribery, sedangkan Umuh Muchtar tetaplah Umuh Muchtar, dan Persib pun begitu-begitu saja. (Lah, ini kenapa malah bahas Persib ?). Saya sendiri juga begitu, UNPAD mulai berganti dengan UI. Tapi yah pokoknya begitulah. Waktu mengubah segalanya. Tidak ada yang tidak tersentuh. Begitu juga dengan makna dari sebuah benda ciptaan manusia.

Baju, pada awalnya diciptakan untuk melindungi tubuh manusia dari dingin. Mungkin diawali oleh manusia purba yang menguliti binatang buruannya, dan ternyata setelah kulitnya dipakai, dia malah hangat, keenakan. Lalu makna yang muncul adalah, pakaian dikenakan untuk menghangatkan tubuh. Makna itu lama kelamaan bergeser, tidak hanya menghangatkan tubuh, pakaian pun lama-lama bisa menjadi menunjukkan status. Mungkin ini bisa ditunjukkan dengan perbedaan bagaimana pakaian seorang raja, seorang patih, seorang selir, seorang permaisuri, seorang prajurit, seorang rakyat, semua berbeda.

Lalu makna itu bergeser lagi. Selain menunjukkan status, baju juga bisa menunjukkan identitas. Saya seringkali mengenakan baju Everton ke manapun saya pergi. Secara sederhana, itu menunjukkan identitas saya sebagai seorang fans Everton. Beda lagi dengan pak Presiden yang mengenakan batik ke mana-mana. Itu menunjukkan identitasnya sebagai  orang Indonesia. Masih banyak lagi contohnya.

Lalu makna tersebut pun kembali lagi, bergeser, atau mungkin lebih tepat disebut berkembang. Para socialita kini berlomba-lomba mengenakan pakaian desainer terkenal. Makin mahal, makin menunjukan bagaimana hebatnya mereka di antara sesamanya. Ini fakta. Ini menunjukkan bagaimana makna pakaian yang tadinya hanya sebagai penghangat, sudah bergeser berkali-kali.

Begitu juga ddengan kelom geulis. Kelom adalah alas kaki yang terbuat dari kayu, mungkin lebih terkenal dengan istilah bakiak. Fungsi awalnya tentunya buat alas kaki, agar kaki kita tidak kotor, atau tidak menginjak benda berbahaya ketika berjalan. Namun, lama kelamaan, mungkin karena bosan dengan modelnya yang begitu-begitu saja, para inisiator Kelom geulis berinisiatif ‘mendandani’ kelom tersebut, mempercantiknya, sehingga menjadi apa yang dikenal dengan kelom geulis, atau kelom cantik.

Ini membuat kelom yang tadinya terlihat membosankan, menjadi terlihat lebih fashionable. Di sini, kembali terjadi pergeseran makna. Kelom yang tadinya digunakan sebagai alas kaki yang efektif (tapi mungkin agak tidak nyaman ?), menjadi sesuatu yang juga bisa dipakai untuk bergaya, ini dikarenakan adanya PERBEDAAN bentuk antar  kelom. Ketika perbedaan muncul, maka akan muncul persaingan di antara benda-benda yang sama. Inilah yang terjadi ketika kelom menjadi sesuatu yang fashionable.

Makna ini kembali bergeser belakangan ini, dari tadinya barang yang masih dikenakan, menjadi sesuatu yang fashionable, kelom geulis kini menjadi hanya sekedar suvenir saja. Kelom geulis tasik adalah salah satu yang populer. Mengapa ini bisa terjadi ? Mudahnya bisa saya jawab: kenyamanan. Pada saat ini, memakai sendal jepit jauh lebih nyaman daripada mengenakan kelom. Kelom ini keras, karena dari kayu, tentunya tidak nyaman di kaki, kalah jauh daripada sendal jepit yang terbuat dari karet.

Bagaimana dengan fashion ? konon katanya beauty is a pain, sehingga, mestinya tidak apa-apa dong jika kita kesakitan memakai kelom, tetapi kita tetap fashionable ? Iya benar, tetapi harus diingat juga, walaupun maknanya sama, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa jadi sangatlah berbeda. Pada saat ini, banyak sekali alas kaki yang lebih nyaman dan fashionable daripada kelom geulis, karena itulah, masyarakat mulai meninggakan kelom geulis sebagai alas kaki. Fashionable. Inilah nilai yang harus digarisbawahi. Walaupun pada dasarnya kelom geulis bernilai fashion, namun nilai yang berkembang di masyarakat, adalah justru nilai-nilai yang berbau kebarat-baratan. Mengapa demikian ? Ini hanyalah pertanyaan retoris, mungkin anda bisa googling sendiri untuk alasannya.

Namun yang bernasib seperti ini bukan hanya kelom geulis saja. Kelom di Belanda pun demikian. Yang membaca tulisan ini tentunya sering melihat oleh-oleh berupa sepatu kayu dari Belanda. Itulah kelom. Konon kita masih bisa menemukan orang-orang yang memakainya, hanya di Vollendam saja, itu pun demi atraksi turis, bukan untuk kehidupan sehari-hari. Lainnya ? Hanya suvenir 4 euro saja. Alasannya ? Sama dengan kelom geulis, sudah tidak efektif lagi apabila dipakai untuk kegiatan sehari-hari.

Ini adalah fenomena yang terjadi di seluruh dunia. Mungkin ada dari para pembaca yang kenal dengan dreamcatceher ? Ya, benda dari suku indian ini adalah sebuah benda spiritual yang maknanya sudah bergeser menjadi fashion item. Sekarang, banyak bisa kita lihat pemuda-pemudi (terutama pemudi) mengenakan dreamcatcher sebagai kalung. Padahal, dreamcatcher memiliki makna yang mendalam sebagai penampung mimpi baik, karena itulah biasanya dreamcatcher disimpan di ruang tidur. Namun sekarang, dreamcatcher menjadi kalung yang dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Anda tidak sedang selalu bermimpi ketika mengenakan dreamcatcher tersebut bukan ?.

Satu contoh lagi adalah Katana. Katana adalah pedang Jepang yang digunakan oleh para samurai untuk menghabisi musuh-musuhnya. Ada dua pergeseran makna yang cukup unik di sini. Yang pertama adalah pergeseran nama katana menjadi ‘Pedang Samurai’, yang padahal sebenarnya, mungkin dimaksud dengan pedang yang digunakan para samurai. Namun di Indonesia, namanya berubah jadi samurai saja. Ketika mencari pedang katana, banyak yang bertanya ‘itu beli samurai di mana ?’ padahal samurai adalah orangnya, orang yang menggunakan katana, pedang samurai. Pergeseran makna juga terjadi di sini. Benda yang tadinya digunakan untuk membunuh orang, maknanya bergeser menjadi dekorasi ruangan. Banyak sekali orang yang membeli katana untuk dijadikan hiasan di rumahnya, bergeser dari makna asli katana sebagai senjata.

Begitulah beberapa contoh benda yang maknanya sudah bergeser. Bahkan ada yang sudah bergeser berkali-kali. Ada masalah di sini ? Hmm, bisa dibilang iya, bisa dibilang tidak. Tergantung bagaimana anda menyikapinya. Ada yang bilang jelek, ada yang bilang tidak. Kalau saya sendiri, saya rasa kurang baik. Karena banyak yang bergeser jauh dari makna aslinya. Namun ini bukan kurang baik sampai tahap saya anti atau melarang, saya lebih cenderung, silahkan pakai, tapi asal tahu makna aslinya.

Begitulah kiranya untuk Teman Tinta kali ini. Enjoy !

NB: Saya baru ingat, ternyata yang bisa bergeser bukan makna komoditas aja. Ternyata ilmu juga. Eh tapi ilmu udah jadi komoditas kan ya ? setidaknya itu kata Lyotard. Bener loh ini. Karena sempat ada masa di mana belajar Bahasa Korea itu keren. Iya kan ? Keren, bukan karena butuh. Weeehh. Kok begitu ? Ya ini karena trend K-Pop juga. Mungkin dari tren itu, ada beberapa variety tv show yang harus ditonton, dan supaya lebih dimengerti lucuannya, jadi harus mengerti bahasa Korea dulu. Itu masih dalam tahap wajar belajar bahasa kalau kata saya, toh mungkin nantinya kepakai juga. Tapi yang bikin lucu sih ya itu, yang ikut-ikutan doang supaya dianggap keren. Ada loh. Ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: