h1

Nangkring: Boker dan Berpikir

April 3, 2014

Halo, apa kabar ? Sepertinya sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Kecuali posting pendek tidak jelas tadi pagi (apa tadi malam ? saya lupa). Oke, karena sekarang Teman Tinta sudah punya tema baru (sebenarnya sudah 2 minggu sih, tapi yah.. entah kenapa kali ini semua telat.. mungkin karena temanya sulit ?), saya jadi kembali menulis. Oke. Tema kali ini adalah Nangkring. Tema yang aneh. Diusulkan oleh Aros, salah satu dari kami. Mungkin untuk beberapa tulisan ke depan, temanya akan dari pribadi masing-masing, bukan dari guest of honor, biar ada variasi gitu lah. Oke, kita mulai.

Jadi, apa itu nangkring ? Setelah sedikit riset, googling, dan mikir, ternyata nangkring itu jongkok. Tapi kalau saya pikir-pikir, nangkring itu kalau di pikiran saya, jongkok-jongkok sambil ngerokok di depan warung. Cocok banget tuh. “nangkring di warung itu yu ?”, lalu jongkok-jongkok sambil ngerokok. Ah. Tapi itu gak cocok sama saya, jadi yah, nangkringnya kita pakai definisi kamus saja. Jongkok.

Manusia itu, manusia modern, tepatnya, setiap hari pasti jongkok. Walaupun ada yang duduk juga, tapi ya, beda tipis lah. Jongkok ketika boker. Iya, hampir setiap hari, manusia modern pasti boker. Kalau tidak boker, berarti sembelit. Kalau sembelit berarti tidak modern ? Nggak juga, kalau sembelit berarti sakit. Kalau sakit ya harus diobati. Ah, bukan mau bahas itu.

Nah, apa hubungannya boker dan berpikir ? Entah kenapa ya, sepertinya, boker itu adalah salah satu momen di mana saya bisa berpikir dengan baik. Selain mengeden dengan keras, saya juga kadang berpikir dengan keras ketika boker. Seringkali banyak ide brilian yang muncul ketika boker. Termasuk tulisan ini. Oh ya, ketika nangkring sambil boker, kebiasaan saya adalah sambil baca komik. Ini wajar kan yak ? Banyak juga yang sering boker sambil baca koran. Asal jangan sambil nyemil kacang aja. Ngotorin kamar mandi aja. (Bukan Bim, bukan itu).

Jadi, pernah suatu saat, saya mendapat semacam ilham ketika nangkring, boker, sambil baca komik. Waktu itu saya baca komik Bakabon. Di situ, ada cerita tentang Bakabon yang mengerjakan soal matematika dengan asal-asalan. Ketika ditanya oleh ibunya, Bakabon menjawab: “Kata pak guru aku bebas tulis jawaban apa saja”. Setelah dipanggil, ternyata guru tersebut selalu meragukan kebenaran. Ketika ditanya 1+1 apakah sama dengan 2, ia meragukannya. Ia bahkan mengkritik ibu Bakabon yang menurutnya hanya mengiyakan kata ibunya. Oke itu bodoh, karena ini adalah matematika, ilmu pasti yang apabila diuji, 100% hasilnya pasti sama. Tapi di titik ini, saya coba alihkan pemikiran ini ke ilmu sosial. Ah iya, dia juga bahas ilmu sosial di sini, tentang apakah Piramida itu kuburan ? Menurut ibu Bakabon itu adalah kuburan, karena sudah ada penelitiannya. Lalu si guru ini menjawab dengan tegas “tau dari mana ibu ? memang ibu sudah hidup di zaman itu ? kalau sudah hidup, berarti ibu nenek-nenek banget dong ?”. Bagi saya ini lucu, sekaligus keren, meragukan kebenaran. Ternyata setelah kuliah, pandangan yang seperti itu adalah pandangan filosofis yang bersifat positivistik. Kebenaran adalah kebenaran ketika sudah bisa dibuktikan secara empiris, bisa diulang-ulang dengan hasil yang sama. Wow, ternyata saya sudah tau konsep positivistik sejak SMA. Ini berkat nangkring, boker, dan komik bodoh.

Nangkring dan boker juga adakalanya menjadi masa di mana saya berpikir tentang alam semesta. Mengapa manusia diciptakan ? Mengapa ada surga dan neraka ? Mengapa saya baru kenal Ghaida Farisya setelah dia jadi member JKT48 ? (nggak, ini nggak kok, tenang, Cuma becanda) Atau kenapa kebenaran seringkali ditutupi ? Dan atau-atau serta mengapa, kenapa, dan apa yang lainnya. Menyenangkan. Mungkin, seperti mengisi waktu luang ? Karena ketika nangkring sambil boker, kita ada di posisi yang nyaman, dan sunyi. Seperti semedi. Konsentrasi pun hanya terbagi ke kegiatan mengeden. Jadi tidak ada aktivitas lain yang memakai jatah otak. Sehingga otak menjadi lebih jernih, dan kapasitas untuk berpikir menjadi lebih banyak. Jadi sepertinya, mengerjakan skripsi, atau tesis kelak, bisa dilakukan sambil nangkring dan boker ? mungkin. Tapi awas kesetrum/keshyechrum.

Apa lagi ya ? Hmm. Ah iya. Pernah dengar Auguste Rodin dan Patung Pemikirnya ? Ia juga ternyata penganut teori nangkring=berpikir. Tapi mungkin karena waktu itu WC belum banyak, jadi elemen boker di karya ini dihilangkan. Tapi siapa tau juga ini patung sebenarnya belum sempurna. WC-nya belum dibentuk. Bisa aja kan sebenarnya dia lagi nangkring sambil boker dan berpikir. Patung pemikir ini simbol dari filosofi loh. Ia berpikir sambil nangkring. Berarti teori saya tentang boker dan nangkring sudah agak-agak menyerempet ke kebenaran (semu) ya ?.

Jadi, jangan pernah meremehkan berpikir, nangkring, dan boker. Mungkin, suatu saat, kamu bakal menjadi inventor atau filsuf hebat, dan semua berawal dari kamar mandi. Mungkin, mulai besok, kamu bisa menyimpan catatan dan pensil atau pulpen di kamar mandi, jadi kamu bisa menulis pemikiran kamu. Mungkin, kamar mandi kamu bisa dibikin kedap suara, supaya lebih sunyi dalam menulis. Atau mungkin juga, tulisan ini hanya tulisan orang mabok saja. Mungkin. 

Advertisements

2 comments

  1. Mantap bim. urg suka kutipan ini “Tapi mungkin karena waktu itu WC belum banyak, jadi elemen boker di karya ini dihilangkan.”.

    Mungkin ntar ada penelitian yang bilang kalau “daya kreativitas dan berpikir org itu berada pd puncaknya saat boker di WC”.
    Semoga. hehe


    • semoga. itu tugas anak psikologi ros. yg masalah wc dihilangkan, mungkin pikiran Rodin udah maju dari jamannya, agar diterima di jamannya, jadi disesuaikan.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: