h1

Wota and Proud

April 18, 2014

Hmm, sudah lama gak nulis. Banyak ide sebenarnya, tapi belakangan keasyikan main game sama nonton South Park, jadi yaah, blog kurang terurus. Mungkin kalau rumah, sudah ditumbuhi rumput liar, alang-alang, jamur liar, atau mungkin bahkan sudah dihuni ular berbisa. Untungnya, ini blog, bukan rumah. Oh ya, teman tinta juga lagi agak macet, karena anak-anaknya lagi pada sibuk. Doakan saja mereka cepat tidak sibuk. Saya kangen menulis dengan tema-tema ajaib, dan membaca tulisan mereka juga.

Nah, sekarang ada waktu luang banget. Kebetulan sekarang lagi menuju pulang ke Bandung naik kereta. Nulis apa ya ? Hmm, kebetulan tadi memutuskan untuk menulis tentang lagu apa yang dengan acak terpilih oleh pemutar musik di laptop saya. Ternyata yang terputar adalah: “Ame no Doubutsuen” dari AKB48. Ah, kebetulan juga saya memang mau menulis tentang ngaidol sejak lama. Okelah, bahas itu saja ya ?

Ngaidol, adalah bentuk ngaco dari idoling. Artinya, yah, kurang lebih artinya sih cari hiburan yang berhubungan dengan idol. Di Indonesia sendiri baru ada satu idol group, yaitu sister group dari AKB48, JKT48. Kalau saya jelaskan apa itu idol, bakal panjang. Jadi silahkan googling sendiri saja.

Hiburan apa saja ? Tentunya kalau dengan AKB48 (untuk saya sendiri) sejauh ini baru bisa: koleksi PP (ini juga bonus-bonus dari Cdnya), main gamenya, dengerin lagunya, nontonin variety show, PV, dan konser-konsernya, dan lain-lain. Yang bisa dilakukan dengan JKT48 sendiri tidak beda jauh dengan AKB48, hanya mungkin, JKT48 belum punya game yang mumpuni seperti Renai sousenkyo-nya AKB48, tetapi JKT48 punya teater yang bisa dengan mudah dikunjungi.

Saya sendiri lebih senang dengan AKB48. Karena tentunya mereka lebih  asli, dan yang paling penting, lirik lagunya yang lebih make sense, daripada JKT48. Wajar, karena koleksi diksi orang Jepang dan orang Indonesia sangatlah berbeda, dan juga, Akimoto Yasushi sebagai pembuat lirik utama the 48 Group, tentunya membuat lagu-lagu dalam Bahasa Jepang yang penuh dengan kiasan. Tentunya tidak mudah untuk dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia.

Oke, mari kita balik ke topik yang lebih nyambung dengan judul, wota and proud. Seperti kebanyakan hal lainnya di dunia, ngaidol ini juga ada gak enaknya. Yang pertama, ini sih berlaku sama semua hobi: ngabisin duit. Jelas lah. PP gak murah, teateran juga gak murah, impor barang-barang AKB48 apalagi. Ini ga usah dijelaskan dengan baik dan runut juga sudah jelas lah. Yang kedua, ini lah yang kadang menjadi ‘masalah’. ‘Masalah sosial’ ringan mungkin yah.

Kebetulan, kemarin baru belajar sosiologi buat kelas Kajian Masyarakat Jepang. Ada teori-teori unik yang bisa saya pakai untuk tulisan ini. Ada 3 sebenarnya: Deviance, Value Conflict, dan Labeling. Dalam bahasan ini, akan saya coba pakai ke-3nya dengan sesederhana mungkin.

Deviance adalah sebuah kondisi di mana seseorang dianggap menyimpang dari masyarakat yang ada di sekitarnya. Menyimpang di sini, karena ia melanggar norma yang berlaku di masyarakat. Ketika ia berperilaku menyimpang, maka sebagai bentuk kontrol sosial, ia akan diberi label oleh masyarakat di sekitarnya, label ini nantinya akan membuatnya kehilangan hak-haknya sebagai anggota sosial di masyarakat tersebut (misal, ketika sesorang dilabeli atau dicap kriminal, maka pandangan orang akan negatif terhadapnya, tidak jarang juga ia jadi sulit bekerja dan lain-lain). Nah, seorang deviance, akan disebut deviance ketika ia melanggar norma yang berlaku, di sinilah terjadi value conflict atau konflik nilai. Ketika mereka yang memiliki power berkonflik nilai dengan yang tidak memiliki power, maka mereka yang tidak punya power akan kalah dan menjadi deviance, lebih jauh lagi, ia akan terkena labeling oleh si pemegang power.

NAAAHHH…. apa hubungannya dengan ngaidol ? Mari kita bahas dengan menarik.

Ngaidol sebenarnya bukan sesuatu hal yang aneh. Menyukai akan suatu bentuk budaya yang unik adalah sesuatu yang sangat normal, setidaknya di mata orang Indonesia. Contohnya sepak bola. Menyukai tim sepak bola tidak akan membuat seseorang menjadi deviance di mata orang lain. Mengapa  ? Karena sepak bola, sebagai bentuk produk budaya, memiliki nilai-nilai yang masih dapat diterima secara normal oleh orang Indonesia, maka dari itu, tidak terjadi konflik nilai di sini. Konflik nilai dalam sepak bola hanya terjadi ketika nilai satu tim, berkonflik dengan tim lain, dan konflik ini terjadi di luar cakupan masyarakat sosial pada umumnya. Ini tidak membuat mereka menjadi deviance di masyarakat umum.

Berbeda dengan sepak bola, orang yang suka idoling kadangkala dilabeli sebagai ‘orang aneh’ oleh orang sekitarnya. Mengapa ? Karena kebanyakan idol berusia di bawah umur. Di bawah 17 tahun. Ini. Ini adalah titik konflik pertama. Nilai-nilai tentang batas umur di Jepang, tentunya sangat berbeda dengan di Indonesia. Di Jepang, wajar sekali apabila seseorang mengidolai seseorang yang berusia 13 tahunan, mungkin, ini mungkin, karena masyarakat mereka menerima sebuah konsep yang dikenal dengan kawaii. Kawaii itu imut-imut. Kamu tidak mungkin imut-imut secara sempurna apabila kamu berumur 25-30 tahun (jangka umur ideal seorang idol adalah 13-23 tahun-an). Mungkin karena itu nilai-nilai ke-dibawah umur-an memang dilihat sebagai sesuatu yang berbeda di sini. Tidak jarang saya disebut pedo ketika membahas tentang JKT48 atau AKB48 bersama teman-teman (padahal, member favorit saya sendiri berumur 17 tahun).  Oh iya, mungkin harus diingat juga, gaya bicara Kawaii ini sering dipersepsikan seperti anak kecil. Mungkin ketika kamu melihat Sato Sumire berbicara, kamu tidak menyangka bahwa usianya adalah 20 tahun, usia yang sangat jauh apabila disebut dibawah umur.

Selain itu, masalah kostum. Seringkali JKT48 dan AKB48 (tentunya) menggunakan rok yang dianggap terlalu pendek oleh orang Indonesia. Bagi saya, wajar saja ketika orang Indonesia bilang rok tersebut terlalu pendek. Karena yah, Indonesia ini masih termakan sama mitos berbudaya lah, agamis (tapi saya gak akan bawa-bawa agama di tulisan ini) lah, dan lain-lain. Sedangkan di Jepang, adalah wajar memakai rok mini karena dianggap lebih modis, dan menjadi modis itu penting.

Saya gak bilang itu jelek, tapi ya, balik lagi, semua tentang konsensus dan pandangan masing-masing. Pandangan saya, rok mini itu secara umum dilihat sebagai sesuatu yang buruk di mata orang Indonesia, karena tidak sesuai dengan nilai ketimuran (ini harus dikaji ulang, Jepang, Korea juga di Timur, Bali juga Timur, mau diapain hayoooo). Sedangkan bagi fans idol, ya oke-oke saja. Mereka terlihat cantik dengan rok mini. Di sini lah terjadi konflik nilai (lagi). Sehingga yah, gak jarang ada persepsi kalau nonton JKT48 atau AKB48 itu seperti menonton ‘anak kecil nari-nari dengan rok mini’. Di sinilah fans JKT48 dan AKB48 di Indonesia kalah dalam konflik nilai. Otomatis ia menjadi seorang deviance yang dilabeli dengan kata pedo, yang membuatnya tidak nyaman dalam hidup sehari-hari. Padahal yah, tidak demikian.

Oh ya, tentang wota sendiri. Wota adalah sebutan fans JKT48 dan AKB48 untuk diri mereka sendiri. Diambil dari kata Otaku (yang kadang ditulis Wotaku dalam Bahasa Jepang), yang artinya (setelah mengalami beberapa perubahan makna) kurang lebih adalah orang yang sangat suka dengan sesuatu. Fans sepak bola adalah Sakka Wota (Soccer Wota), dan fans Baseball adalah Yakyuu Wota (Yakyuu=baseball dalam Bahasa Jepang).

 Nah, wota di sini juga adalah sebuah labeling. Bisa dibilang ini adalah semacam counter label yang dibuat oleh para fans JKT48 dan AKB48 sebagai justifikasi mereka terhadap justifikasi yang dilakukan oleh masyarakat. Dengan penggunaan kata wota ini, mereka cenderung menjadi lebih eksklusif, dan mereka merasa memiliki sebuah kelompok baru. Ya, kelompok wota ini.  Di kelompok ini, mereka tidak akan menjadi deviance dengan menyukai JKT48 dan AKB48, nilai mereka sebagai penyuka idol group tidak akan bertentangan dengan sesama wota, dan tentunya, tidak akan ada label pedo di antara sesamanya. Walaupun nantinya, ada saja wota yang membeda-bedakan satu sama lain, entah deh, namanya juga manusia, ingin selalu merasa superior antar sesamanya. Lucu juga, deviance mendeviasi deviance lain. Kalau di perspektif labeling, ini namanya secondary labeling, sudah dikucilkan sebagai penyuka idol (oleh masyarakat luar), dikucilkan lagi sebagai wota yang ‘berbeda’ (oleh sesama wota).

Nah, karena jaman skarang sudah mulai berubah, hal-hal yang seperti ini mulai dianggap lumrah. Komunitas-komunitas bermunculan dan mendapat tempat sendiri di masyarakat. Ketika kamu memelihara ular dan berkomunitas dengan sesama pemelihara ular, maka kamu punya tempat tersendiri di masyarakat. Kamu tidak akan dideviasikan dengan disebut Tarzan di dalam komunitasmu. Begitu juga dengan fans sepak bola. Kamu tidak akan disebut hooligan ketika kamu berteriak-teriak chant tim favorit kamu dari luar negeri, ketika kamu bersama komunitas tim luar negerimu. Begitu juga dengan kamu para wota. Wota punya tempat tersendiri di masyarakat. Karena itulah, jangan ragu mengatakan: WOTA AND PROUD ! (ceritanya kayak Professor X sama Raven gitu di X-Men First Class).

Begitulah kiranya tulisan saya kali ini. Semoga terhibur dan tercerahkan. Salam dari dedek saya :3

 Image

Advertisements

4 comments

  1. Nilai-nilai “Keindonesiaan” (kalo ga mau disebut “Ketimuran”) emang jauh berbeda dengan apa yang ada di Jepang. Juga, pandangan umum masyarakat kita udah sering tercemar dengan berita/fakta kriminalitas yang berlatar belakang seksual, di mana pedofilia jadi salah satu bentuk kasusnya. Jangankan nonton “anak-anak kecil nari-nari dengan rok mini.” Di sini, nonton “emak-emak joget dangdutan” aja udah bikin orang ngelakuin kejahatan seksual.

    Masyarakat pada umumnya membutuhkan proses supaya bisa mencerna paradigma sesungguhnya dari para wota. Tulisan ini jadi salah satu hal yang bisa menggeser paradigma tersebut.


    • nah iya, begitulah… perbedaan nilai ini yang sebenarnya bikin wota -kasarnya- dijelek-jelekin sama orang.. padahal yaaaa.. sebenarnnya mah, dangdutan yang ‘begitu’ juga kan gak baek.. cuma ya karena yang ‘berkuasa’ (punya power, ergo, mayoritas) sukanya yang begituan, ya jadilah mereka tidak gak baek..


  2. Walaupun Bias saya adalah Berryz Kobou yang entah apa kabarnya sekarang, AKB48 selalu menyimpan kesan tersendiri di hati (semua gara2 ilfan memperkenalkan Aitakatta taun 2006 dulu)

    Berkaitan dengan deviance itu tadi, benaer banget bim, boku dianggap ‘melambai’ sama temen2 sekantor gara2 suka sama SNSD alih2 metallica ato band2 ‘cowo’ macem linkin park & Green Day. Padahal menurut saya ga ada bedanya, malah seharusnya lebih lumrah kalo cowo menyukai tampilan visual cewek2 cantik nan imut di luar batas ini.

    Tapi ya memang konsensus masyarakat ‘awam’ sudah mencap seperti itu buat Idol2 Asia Timur ini, yang tidak berhenti sampe di penggmearnya, tapi juga merembet ke artis2nya yang disebut Gy atau banci, meskipun sudah jelas ketampanannya jauh melebihi batas (oplas atu asli), dan bisa gaet cewe jauh lebih banyak dibandingkan mereka2 yang ngeklaim cowo sejati ..
    kira2 demikian…

    Keep writing bim, jangan klah sama sibuk (ga ngaca ama blog sendiri :P)! Nice supplement in this afternoon 😀


    • Begitulah senpai, orang-orang memang kadang suka menjustifikasi tanpa melihat pasar dari produk yang mereka justifikasi.. kalau bukan ‘kita’, siapa lagi yg nonton idol idol ini..

      Btw, ga nyangka juga amet ternyata suka AKB48 :O



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: