Archive for May, 2014

h1

Berhenti Berpikir Tentang Benar dan Salah, Masih Ada Yang Tengah

May 20, 2014

Belakangan ini, terutama di social media (tentu di social media, karena biasanya orang tidak berani main judge di depan muka orangnya langsung), seringkali saya melihat fenomena dikotomi tentang suatu hal. Dikotomi ini berarti (kata Kang Google) :

“A division or contrast between two things that are or  are represented as being opposed or entirely different”

Atau

“Pembagian atau kontras antara dua benda yang memang atau direpresentasikan sebagai sesuatu yang berlawanan atau benar-benar berbeda. “

Bagi saya, pandangan seperti ini sangatlah dangkal. Manusia tidak sesederhana hitam-putih, kiri-kanan, benar-salah. Patokan nilai untuk menjadi benar-salah ada banyak. Ada hukum, ada moral, ada agama, ada etika, banyak, semuanya saling bersilangan, dan seringkali kontradiktif. Ada yang lebih mengedepankan hukum, ada yang lebih mengedepankan moral, ada yang mengedepankan agama, ada juga yang mengedepankan etika, tetapi ada juga sih yang tidak mengedepankan apa-apa, emang dasar goblog aja kalo itu (antara goblog sama bebas konstruk sih, saya juga menyebut orang ini goblog karena saya sendiri punya standar dari nilai-nilai tadi, tapi kalau yang bebas konstruk, biasanya orangnya kelewat edan untuk disebut goblog).

Nah, dari nilai-nilai tersebut pun masih terbagi-bagi lagi. Kenapa ? Karena semuanya berdasarkan oleh interpretasi manusia. Hukum dapat ditafsirkan dengan berbeda, begitu juga dengan moral, agama, dan etika. Agama ditafsirkan dengan berbeda ? Tentu, maka dari itu banyak muncul aliran-aliran dalam agama. Semuanya memiliki tafsir dan interpretasi berbeda terhadap ayat-ayat yang ada di dalam kitab suci. Nah, di sinilah pentingnya kita tidak mendikotomikan segala sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai tersebut. Karena adanya interpretasi dan tafsir yang berbeda tadi.

Kita ambil contoh; ketika saya tidak setuju dengan ormas islam yang menghancurkan tempat-tempat maksiat, itu karena saya lebih cenderung memilih mengubah kemungkaran dengan lisan atau hati, berdasarkan hadits ini:

“Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)”

Interpretasi saya, mengubah dengan tangan berarti mengubah dengan tindakan riil. Tindakan riil seperti apa ? Mengubah tempat tersebut KETIKA PUNYA KUASA. Ini penting, karena saya juga masih memegang nilai-nilai hukum, etika, dan lain-lain. Banyak pertimbangan tentunya. Misal dengan menutup tempat prostitusi, sebagai pemerintah, bagaimana efeknya ? Terutama di bidang ekonomi dan sosial. Apakah dengan menutup tempat prostitusi akan menimbulkan masalah ekonomi dan sosial baru yang lebih parah ? Dan sebagainya. Tetapi, karena saya tidak punya kuasa untuk itu, ya saya cukup dengan lisan dan hati saja. Dengan lisan, saya mengingatkan orang-orang terdekat, dengan cara yang santai tentunya, untuk tidak datang ke tempat tersebut. Atau mungkin dengan menulis surat untuk yang berwenang, agar tempat tersebut ditutup dengan alasan yang jelas. Dengan hati, ya tentu saja dengan tidak datang atau tidak mendukung keberadaan tempat tersebut.

Bagi saya, tindakan saya ini tidak menyalahi nilai-nilai keislaman berdasarkan nilai hadits tadi. Tetapi bagi orang-orang yang suka berdikotomi, saya sudah pasti dijustifikasi sebagai seorang islam liberal atau kafir. Karena ya begitu bagi orang yang suka berdikotomi, ketika tidak sama dengan mereka, maka mereka adalah oposisi biner yang bagi mereka hanya ada satu, liberal atau kafir. Ini lucu bagi saya. Karena saya sendiri, jujur saja tidak selalu setuju dengan pendapat para islam liberalis ini, dan saya juga tidak selalu tidak setuju dengan kaum islam fundamentalis, kadang mereka ada benarnya (bagi saya) juga kok. Saya tidak memilih untuk berada di keduanya, saya memilih untuk jadi saya. Saya memiliki kacamata (nilai islami) lain untuk melihat sesuatu. Ini adalah salah satu contoh bahwa dunia tidak selamanya hitam dan putih, tidak hanya fundamentalis dan liberalis.

Contoh lainnya adalah penyebutan haters dari fanboys/girls kepada orang-orang yang mengkritik idola mereka. Ini juga sering saya temukan di social media. Karena sekali lagi, social media adalah tempat di mana orang berani memandang orang lain dengan serendah-rendahnya (mungkin maka dari itulah muncul dikotomi seperti ini ?).

 Mudahnya dalam kasus calon presiden. Ketika saya menyebut capres yang satu dengan sebutan “sepertinya tidak akan saya pilih, karena belum memimpin saja gayanya sudah delusional seperti seorang mahdi yang siap menyelamatkan negeri ini”, maka otomatis saya akan disebut hater capres tersebut. Padahal, saya tidak benci beliau. Tidak memilih seseorang tidak berarti benci kan ?. Untuk capres satu lagi juga begitu. “sepertinya saya tidak akan milih dia, dia mah kayak yang dipaksa buat nyelamatin partai”, langsung saya disebut hater juga. Padahal yang menurut analisis saya ya begitu. Ini berusaha objektif, kok disebut membenci ?

Itu bagian hitamnya. Sekarang bagian putihnya. Ambil contoh lain deh, saya pernah menulis sebuah artikel (dimuat di goal.com) yang membahas tentang kegagalan Everton untuk bermain di Indonesia. Di artikel tersebut, saya mengkritik persepakbolaan Indonesia, yang pada waktu itu sedang chaos setelah ada vacuum of power setelah mundurnya Nurdin Halid. Pada masa itu, PSSI sedang getol-getolnya mengadakan pertandingan-pertandingan persahabatan dengan tim dari luar negeri. Timnya aneh-aneh seperti Fabregas and Friends, dan sejenisnya. Saya mengkritik pertandingan itu. Ada sebuah komentar lucu di post tersebut, bunyinya: “anda dibayar berapa oleh Nurdin Halid untuk menulis seperti ini ?”. Kok lucu ? saya mengkritik PSSI, kenapa saya jadi dibilang fanboy nya Nurdin Halid ? Padahal saya sendiri tidak suka sama dia. Ini juga contoh pemikiran hitam putih. Ketika saya hitam bagi orang yang menuduh saya hitam, maka bagi dia saya jadi putih bagi orang yang dia anggap hitam. Kan gak begitu. Hitam putihnya dia bagi saya, sama-sama gak bener. Kasarnya, sama-sama hitam, tapi kalau saya menyebutnya demikian, maka saya sama dengan mereka, tidak objektif. Tapi ya begitulah, kurang lebih.

Dalam dikotomi haters dan fanboys ini, biasanya dikotomi terjadi karena adanya kritik terhadap figur yang disukai. Kritik bagi seorang idola untuk fans (yang buta hati) adalah racun. Racun harus dibasmi. Maka dari itu, racun harus dikategorikan sebagai haters. Agar dia terlihat seperti sesuatu yang negatif. Dilabeli sesuatu yang negatif. Biar merasa tiadak enak. Padahal, kritik itu penting. Bagi idola yang seperti bagaimanapun. Mereka butuh itu untuk jadi lebih baik. Tanpa bisa dikritisi, idola tidak jauh berbeda dengan fasis.

Nah, dari contoh-contoh tadi, sudah terbayangkan, seperti apa itu pemikiran yang bersifat dikotomi ? Hitam-putih ? Ini biasanya terjadi karena kalian sudah dibutakan oleh nilai-nilai yang ada di dalam ideologi yang kalian pakai. Kalian tidak mau melepas kacamata ideologi itu, untuk melihat sesuatu dengan lebih objektif. Ketika memakai kacamata hitam, semua yang kalian lihat jadi berwarna hitam dan putih bukan ? Kurang lebih seperti itu. Lepaslah kacamata itu. Coba lihat dunia dengan mata telanjang, atau dengan kacamata orang lain.

Hidup itu tidak hanya hitam dan putih. Tidak juga hanya hitam, putih, dan abu-abu. Masih ada warna-warna lainnya. Warna yang saling mengisi dan melengkapi. Hak anda untuk tidak menyukai warna-warna tersebut, tetapi hak saya juga untuk menyukai warna-warna tersebut. Jadi,  berhentilah berpikir seperti itu, karena dunia akan terus berputar dengan penuh warna walaupun tanpa kalian.

Advertisements
h1

Bertoleransi Itu…

May 18, 2014

Udah lama sering kepikiran tentang bertoleransi. Sepertinya orang punya standar yang berbeda-beda tentang toleransi . Ada yang menganggap toleransi ini cukup sampai di menerima keberadaan orang dengan nilai lain, ada juga yang menganggap toleransi ini harus sampai pada titik di mana kita harus tahu tentang nilai orang lain tersebut. Saya ada di mana ? saya sendiri ada di titik di mana bagi saya, toleransi adalah bagaimana kita bersikap tidak mengganggu nilai ataupun praktek yang dipercayai orang lain (selama tidak mengganggu secara fisik), tanpa harus setuju dengan nilai atau praktek tersebut.

Contoh sederhananya adalah bertoleransi dengan ibu-ibu yang bawa anak kecil yang terus menangis di kereta. Secara nilai, tentunya itu sudah menyalahi nilai yang saya anut, di mana di transportasi umum, mendapatkan ketenangan dan kenyamanan adalah hal yang semestinya. Namun ketika ada anak kecil yang menangis, kita menjadi toleran dengan mendiamkan saja anak tersebut, tidak memukulnya, atau bahkan melemparnya keluar dari jendela kereta. Karena itu sudah melanggar hukum dan kelewat sadis. Kita tidak menjadi intoleran ketika kita hanya memasang muka sebal. Karena ya memang kita terganggu, dan kita punya hak untuk merasa sebal, untuk menganggap ibu itu salah. Namun, di sinilah toleransi bekerja. Kita tidak setuju dengan anak dan ibu itu, tetapi itu tidak berarti kita boleh memukul atau melempar anak itu. Bagi saya, ini adalah titik minimal dalam bertoleransi.

Titik maksimalnya tentu saja ketika kita membantu ibu tersebut mendiamkan anaknya (dengan cara yang wajar, bukan dengan chloroform atau obat bius). Tapi, tidak semua orang bisa mencapai titik itu, dan tidak semua orang harus mencapai titik itu. Ada batas. Ada batas dalam bertoleransi. Itu bagi saya. Batas ini ada buat apa ? Bagi saya, batas ini tentu dibutuhkan sebagai ruang personal. Ada ruang personal yang muncul di dalam kehidupan sosial. Tidak semua orang suka anaknya yang sedang menangis ditenangkan oleh orang asing. Yah, mungkin kita bisa menawarkan dulu, tapi gak semua orang bakal menganggap kita orang baik, tetapi bisa juga menganggap ‘apaan sik, ikut campur aja ?’. Bagi saya, itu sudah kelewatan. Tetapi, ada satu titik ketika kita harus ‘bertahan’ juga. Misal, ketika si anak yang menangis itu tiba-tiba mendatangi kursi kita, lalu menendangi barang bawaan kita atau menggigit lengan kita. Nah, itu sih sudah intoleran, maka ya kita harus bertahan untuk melawan. Tapi ya melawannya juga kira-kira, bukan dengan dilempar ke jendela kereta juga. Melawan itu juga hak kita kok.

Ini Cuma contoh. Contoh dari bentuk interaksinya. Tentunya contoh ini tidak bisa diaplikasikan begitu saja dengan kasus tentang toleransi lainnya, seperti dalam beragama. Tetapi yah, bentuk interaksinya nyerempet-nyerempet. Ketika kita menganggap suatu aliran, sebut saja aliran X, tidak sejalan dengan apa yang kita percaya, ya itu sangat wajar kita anggap sebagai sesuatu yang salah. Kita boleh saja ‘mengadu’ ayat-ayat. Kapan ? ketika kita diserang. Ketika kita diserang, kita harus bertahan. Karena serangan ini adalah bentuk intoleran. Dalam konteks ini, ‘mengadu’ ayat berarti kita bertahan. Bagi saya, ya bertahan ini juga hak kita.

Bertoleran di sini berarti kita membiarkan mereka beribadah, membiarkan mereka percaya, tanpa harus mengakui kepercayaan itu benar. Saya tahu, orang yang dianggap salah harus ‘dikembalikan ke jalan yang benar’. Inilah sulitnya. Mungkin bagi beberapa orang, adalah sebuah kewajiban, mengembalikan orang salah ke jalan yang benar, tetapi bagi saya, manusia sudah diberi kapasitas untuk berpikir. Manusia bisa salah. Salah menurut kita. Atau salah menurut mereka sendiri. Ketika salah, ada konsekuensi. Konsekuensi menurut kita, konsekuensi menurut mereka. Benar pun begitu. Ada konsekuensi menurut masing-masing. Ketika sudah demikian, bukan hak kita untuk memakaikan cara pandang kita terhadap orang lain. Karena pemikiran, sebaiknya tidak dipaksakan. Manusia kan diberi akal untuk berpikir. Berpikir ya berarti tahu konsekuensi yang dihadapi. Ketika sudah tahu akan konsekuensi tersebut, ya itu sudah tanggung jawab masing-masing. Di sinilah sadar akan toleransi itu penting. Bisa saja kita biarkan si aliran X ini, tetapi bukan berarti kita tidak bisa tidak suka dan tidak setuju dengan aliran X.

Oh iya, suka ada argumen seperti ini: “kamu setuju dengan orang-orang aliran X ? Nanti kalau anak kamu jadi aliran X bagaimana ?”. Ini sebenarnya agak unik. Tapi bagi saya, saya berhak menanamkan nilai-nilai yang sama dengan saya terhadap anak saya dari kecil. Mungkin ya, ini adalah bentuk pemaksaan nilai, yang saya bilang tidak baik. Namun, saya sendiri punya semacam kewajiban untuk ‘menyelamatkan’ anak saya. Saya menyelamatkan anak saya ya tentunya dengan menanamkan nilai-nilai yang selama ini saya anggap benar. Itu wajar kan ? Karena anak itu masih polos, dan orang tualah yang berhak mengisi kepolosan tersebut. Diisi dengan apa ? dengan nilai-nilai yang saya anggap dan saya percaya benar. Ke depannya tidak ada yang tahu bagaimana, tetapi ketika menanam bibit pohon pun kita tidak tahu apakah kelak pohon tersebut akan tumbuh besar lalu rubuh menimpa tiang listrik sehingga menimbulkan kekacauan, atau malah tumbuh besar untuk menaungi anak cucu bermain kelak. Masa depan tidak ada yang tahu. Mungkin terdengar egois ? Memang, tapi begitulah uniknya manusia sebagai makhluk sosial.

Ketika anak saya memiliki pandangan yang berbeda kelak, apa akan saya paksakan untuk ke jalan yang benar ? atau bagaimana ? Tentu dilihat dari alasan dia nanti, dan kebijakan saya kelak, jika alasannya bisa saya terima, ya tidak masalah. Oh iya, saya juga tidak tahu, kelak saya akan menjadi lebih bijak, atau begini-begini saja, atau malah jadi konservatif. Tidak ada yang tahu. Bisa saja saya menemukan bacaan-bacaan yang bisa merubah pandangan saya. Tapi untuk sementara, yah, inilah pandangan saya.

Begitulah kira-kira pendapat saya tentang bertoleransi. Intinya, bertoleransi tidak berarti kita harus setuju dengan pemikiran dan nilai yang kita tolerir, cukup dengan membiarkan pemikiran dan nilai tersebut, yang boleh saja tidak kita sukai. Membiarkan tidak berarti setuju bukan ? ketika ada orang naik motor dengan tidak mengenakan helm,  lalu ia jatuh, dan kepalanya terbentur aspal, kepalanya bocor. Apa kepala bocor itu salah kita ? bukan kan ? Tetapi, ketika kita berkendara dengan motor, ya kita tetap pakai helm, agar ketika jatuh, kepala kita tidak terbentur langsung dengan aspal, itu pandangan kita bukan ?  Kurang lebih seperti itulah bertoleransi.