h1

Bertoleransi Itu…

May 18, 2014

Udah lama sering kepikiran tentang bertoleransi. Sepertinya orang punya standar yang berbeda-beda tentang toleransi . Ada yang menganggap toleransi ini cukup sampai di menerima keberadaan orang dengan nilai lain, ada juga yang menganggap toleransi ini harus sampai pada titik di mana kita harus tahu tentang nilai orang lain tersebut. Saya ada di mana ? saya sendiri ada di titik di mana bagi saya, toleransi adalah bagaimana kita bersikap tidak mengganggu nilai ataupun praktek yang dipercayai orang lain (selama tidak mengganggu secara fisik), tanpa harus setuju dengan nilai atau praktek tersebut.

Contoh sederhananya adalah bertoleransi dengan ibu-ibu yang bawa anak kecil yang terus menangis di kereta. Secara nilai, tentunya itu sudah menyalahi nilai yang saya anut, di mana di transportasi umum, mendapatkan ketenangan dan kenyamanan adalah hal yang semestinya. Namun ketika ada anak kecil yang menangis, kita menjadi toleran dengan mendiamkan saja anak tersebut, tidak memukulnya, atau bahkan melemparnya keluar dari jendela kereta. Karena itu sudah melanggar hukum dan kelewat sadis. Kita tidak menjadi intoleran ketika kita hanya memasang muka sebal. Karena ya memang kita terganggu, dan kita punya hak untuk merasa sebal, untuk menganggap ibu itu salah. Namun, di sinilah toleransi bekerja. Kita tidak setuju dengan anak dan ibu itu, tetapi itu tidak berarti kita boleh memukul atau melempar anak itu. Bagi saya, ini adalah titik minimal dalam bertoleransi.

Titik maksimalnya tentu saja ketika kita membantu ibu tersebut mendiamkan anaknya (dengan cara yang wajar, bukan dengan chloroform atau obat bius). Tapi, tidak semua orang bisa mencapai titik itu, dan tidak semua orang harus mencapai titik itu. Ada batas. Ada batas dalam bertoleransi. Itu bagi saya. Batas ini ada buat apa ? Bagi saya, batas ini tentu dibutuhkan sebagai ruang personal. Ada ruang personal yang muncul di dalam kehidupan sosial. Tidak semua orang suka anaknya yang sedang menangis ditenangkan oleh orang asing. Yah, mungkin kita bisa menawarkan dulu, tapi gak semua orang bakal menganggap kita orang baik, tetapi bisa juga menganggap ‘apaan sik, ikut campur aja ?’. Bagi saya, itu sudah kelewatan. Tetapi, ada satu titik ketika kita harus ‘bertahan’ juga. Misal, ketika si anak yang menangis itu tiba-tiba mendatangi kursi kita, lalu menendangi barang bawaan kita atau menggigit lengan kita. Nah, itu sih sudah intoleran, maka ya kita harus bertahan untuk melawan. Tapi ya melawannya juga kira-kira, bukan dengan dilempar ke jendela kereta juga. Melawan itu juga hak kita kok.

Ini Cuma contoh. Contoh dari bentuk interaksinya. Tentunya contoh ini tidak bisa diaplikasikan begitu saja dengan kasus tentang toleransi lainnya, seperti dalam beragama. Tetapi yah, bentuk interaksinya nyerempet-nyerempet. Ketika kita menganggap suatu aliran, sebut saja aliran X, tidak sejalan dengan apa yang kita percaya, ya itu sangat wajar kita anggap sebagai sesuatu yang salah. Kita boleh saja ‘mengadu’ ayat-ayat. Kapan ? ketika kita diserang. Ketika kita diserang, kita harus bertahan. Karena serangan ini adalah bentuk intoleran. Dalam konteks ini, ‘mengadu’ ayat berarti kita bertahan. Bagi saya, ya bertahan ini juga hak kita.

Bertoleran di sini berarti kita membiarkan mereka beribadah, membiarkan mereka percaya, tanpa harus mengakui kepercayaan itu benar. Saya tahu, orang yang dianggap salah harus ‘dikembalikan ke jalan yang benar’. Inilah sulitnya. Mungkin bagi beberapa orang, adalah sebuah kewajiban, mengembalikan orang salah ke jalan yang benar, tetapi bagi saya, manusia sudah diberi kapasitas untuk berpikir. Manusia bisa salah. Salah menurut kita. Atau salah menurut mereka sendiri. Ketika salah, ada konsekuensi. Konsekuensi menurut kita, konsekuensi menurut mereka. Benar pun begitu. Ada konsekuensi menurut masing-masing. Ketika sudah demikian, bukan hak kita untuk memakaikan cara pandang kita terhadap orang lain. Karena pemikiran, sebaiknya tidak dipaksakan. Manusia kan diberi akal untuk berpikir. Berpikir ya berarti tahu konsekuensi yang dihadapi. Ketika sudah tahu akan konsekuensi tersebut, ya itu sudah tanggung jawab masing-masing. Di sinilah sadar akan toleransi itu penting. Bisa saja kita biarkan si aliran X ini, tetapi bukan berarti kita tidak bisa tidak suka dan tidak setuju dengan aliran X.

Oh iya, suka ada argumen seperti ini: “kamu setuju dengan orang-orang aliran X ? Nanti kalau anak kamu jadi aliran X bagaimana ?”. Ini sebenarnya agak unik. Tapi bagi saya, saya berhak menanamkan nilai-nilai yang sama dengan saya terhadap anak saya dari kecil. Mungkin ya, ini adalah bentuk pemaksaan nilai, yang saya bilang tidak baik. Namun, saya sendiri punya semacam kewajiban untuk ‘menyelamatkan’ anak saya. Saya menyelamatkan anak saya ya tentunya dengan menanamkan nilai-nilai yang selama ini saya anggap benar. Itu wajar kan ? Karena anak itu masih polos, dan orang tualah yang berhak mengisi kepolosan tersebut. Diisi dengan apa ? dengan nilai-nilai yang saya anggap dan saya percaya benar. Ke depannya tidak ada yang tahu bagaimana, tetapi ketika menanam bibit pohon pun kita tidak tahu apakah kelak pohon tersebut akan tumbuh besar lalu rubuh menimpa tiang listrik sehingga menimbulkan kekacauan, atau malah tumbuh besar untuk menaungi anak cucu bermain kelak. Masa depan tidak ada yang tahu. Mungkin terdengar egois ? Memang, tapi begitulah uniknya manusia sebagai makhluk sosial.

Ketika anak saya memiliki pandangan yang berbeda kelak, apa akan saya paksakan untuk ke jalan yang benar ? atau bagaimana ? Tentu dilihat dari alasan dia nanti, dan kebijakan saya kelak, jika alasannya bisa saya terima, ya tidak masalah. Oh iya, saya juga tidak tahu, kelak saya akan menjadi lebih bijak, atau begini-begini saja, atau malah jadi konservatif. Tidak ada yang tahu. Bisa saja saya menemukan bacaan-bacaan yang bisa merubah pandangan saya. Tapi untuk sementara, yah, inilah pandangan saya.

Begitulah kira-kira pendapat saya tentang bertoleransi. Intinya, bertoleransi tidak berarti kita harus setuju dengan pemikiran dan nilai yang kita tolerir, cukup dengan membiarkan pemikiran dan nilai tersebut, yang boleh saja tidak kita sukai. Membiarkan tidak berarti setuju bukan ? ketika ada orang naik motor dengan tidak mengenakan helm,  lalu ia jatuh, dan kepalanya terbentur aspal, kepalanya bocor. Apa kepala bocor itu salah kita ? bukan kan ? Tetapi, ketika kita berkendara dengan motor, ya kita tetap pakai helm, agar ketika jatuh, kepala kita tidak terbentur langsung dengan aspal, itu pandangan kita bukan ?  Kurang lebih seperti itulah bertoleransi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: