Archive for July, 2014

h1

Si Sombong Yang Bernama Hujan

July 23, 2014

Sore sudah mendung, waktu aku untuk tidur

Kantuk tak terbendung, otakku sudah mengendur

Lelah aku menghadap  bosan

Tak bekerja, tak melatih lisan

 

Waktu berlalu, pandangan menggelap

Kenyataan pilu, berganti mimpi gemerlap

Ah, tidur memang menyenangkan

Memejamkan mata, bosan terlupakan

 

Tak lama sesuatu datang mengetuk

Mengetuk jendela kamar yang buluk

Siapa gerangan ? Aku bertanya

Ah, si hujan ! kamu rupanya !

 

Sudah lama kita tidak bertemu

Sombong kamu sekarang, datang semaumu

Kamu pikir aku tidak rindu ?

Terduduk di kamar ini dengan syahdu ?

 

Dulu kamu hadir di bulan sepuluh sampai tiga

Sekarang kamu hadir tak terduga

Kenapa demikian ? Kamu lupa ?

Kamu lupa akan takdirmu sebagai apa ?

 

Membantu para penanam mengairi lahan

Membantu para pohon membasahi dahan

Membantu para pujangga melukis kata

Dan, emmm.. Membantuku mengingat cinta ?

 

Ah pasti kamu lupa !

 

Sebenernya ini geleuh banget sih, tapi entah kenapa saya memang suka hujan, dan sering kangen sama dia. Kamu jangan sombong-sombong ya jan, saya sayang sama kamu 😀

 

h1

Reasoning the Reason

July 21, 2014

My favorite Philosophers, Slavoj Zizek once said: 

“If you have reasons to love someone, you don’t love them.”

Okay, I think that’s quite true. I mean, love comes as it is, and you can never guess. Why ? When ? What ? Where ? Who ? How ?. Love is not something scientific. Well, maybe it can be scientifically explained, but when you fall into it, no, you can not. Other people might can, but you can’t. But still, other people would be wrong, because it is not them. Love is so random. You can’t reason with love. You know that philosophers are the king of reasoning right ? They always put rationality over anything, but with love ? Even Zizek doesn’t reason with them. Poof. It just happened like that. You can’t (or hardly ?) find the reason, and you don’t need to find one.

Love is something that we should just enjoy. Love is like foods you order in an expensive restaurant. You’ll be asking yourself, “dafuq is that ?”, but in the end, even if the waiter or the chef explained it to you, you wouldn’t understand it, and eat it anyway, and still taste good. You don’t need to know, moreover, you don’t need to understand to enjoy the food. Knowing, and understanding. It is quite important though. Knowing that you love her, is good. Knowing that she is cute, is good. Knowing that she is nice, is good. But you don’t know how cute and nice is working their charm. Pretty sure that there plenty of other girls that are cute, and nice, but why her ? Not them ? You can never tell. You can never understand. But you know you enjoy it. There’re these sparks that you can always feel, somewhat like soda in your mouth.

For me, love is something mysterious. You can never find the right answer. But you can, again, always enjoy it. One thing for sure, love is good for you, as long as it makes you wanted to be a better person. To be someone she can be proud of, to be someone who is worth her anything, to be hers. Well, then again, ‘better’ here is another complexity. Better according to whose definition ? What kind of society ? In what Values ? Etc. Well, better on her values and yours. You know, you can never be with someone -nicely, if you don’t value her views, and value yours. It is important, that someday, you’ll be sharing your views with her, and by the mean sharing, that means she will surely experience your view too. When you too become one, the view is not ‘my view’ or ‘your view’ anymore, it will be ‘our view’. I think it is pretty nice.

Once, one of my lecturer asked in the class “Why do you want to get married ?”, my answer is: because it is interesting. You know, letting someone into your life is interesting. You will find something new, you will be feeling different, and all of these are incorporated in what I called beliefs. Beliefs here is not only in the religious context, but also in various social values. What best friend means to you, and what best friend means to her can be entirely different. And what interesting is, how you incorporate those view into ‘ours’. It is like shifting a paradigm in science. My lecturer once said “social science is all about finding what might be right”, yeah, so different views in social sciences should be regarded as something good. As it is partially open another part of one whole truth about a thing. So does this beliefs in each person. To see the world differently with what you always see, together with someone you love, isn’t that awesome ? I definitely want that.

So yeah, I don’t have any reason to love you. I can’t reason the reason. I just love you. Simply love you. For me, it will be interesting to see the world together with you, the world will surely be a better place. Well, Okay ?

 

h1

Sepertinya Saya Terlalu Sensitif Ketika Menulis

July 19, 2014

Di Bagian Bumi Lain

Di suatu tempat di planet Bumi,

Ada yang berperang demi wilayah

Ada yang berperang demi jannah

Ada yang berperang demi senjata

Ada yang berperang demi suara

Ada yang berperang demi hormat

Ada yang berperang demi umat

 

Di bagian bumi lain,

Ada aku di sini, merangkai kata

Ada aku di sini, mengingat duka

Ada aku di sini, mengorek luka

Ada aku di sini, lupa tertawa

 

Aku tak mengerti,

Tapi ini sebuah elegi,

Dari aku, untuk bumi,

Sampai kapan manusia mati ?

Hanya demi ambisi faksi

Menulisi fiksi dengan darah para bayi

Membuat friksi, menyebar benci

 

Mungkin ini teriakan hati

Dari anak manusia yang tak tersakiti

Tak tersakiti oleh luka duniawi

Luka dari ego yang tak pernah mati

Luka dari ego abadi

 

Seperti kata Machiavelli,

Tak ada kawan sejati,

Hanya ada kepentingan abadi.

 

Bumi, telan lah mereka, bawa ke alam baka

Bangsat-bangsat tak beretika

Menarik pelatuk, tanpa berkata

Meneriakkan nama Tuhan, dengan murka

Mematikan mangsa di udara,

Menulis dusta, tanpa etika

Menumpah darah demi bendera

Mengambil nyawa sambil berdoa

 

Tanpa permisi menembaki bayi,

Tanpa malu, anak jadi perisai

Tanpa segan membunuh, menyeringai

Tanpa ragu berdusta, memaki

Tanpa rasa enggan, menyakiti

Tanpa takut Tuhan, membunuhi

 

Untuk mereka yang mati muda

Untuk mereka yang mati percuma

Untuk mereka yang mati di udara

Untuk mereka yang mati termakan citra

Untuk mereka yang mati tak terdata

Untuk mereka yang mati tanpa kepala

 

Hak Tuhan untuk minta kalian menemani di sisi-Nya

Aku hanya bisa berdoa

Kalian ditempatkan di tempat yang sepantasnya

Berkumpul kembali, di suatu masa, dengan keluarga

Aku percaya pada janji-Nya

Janji Sang Maha Kuasa,

Suatu tempat di alam yang jauh di sana,

Suatu singgasana di Nirwana,

 

Aku berdoa, untuk mereka.

Palestina, Ukraina, Indonesia, Timur Mediterania

Tak indah di bumi, kalian bisa indah di Surga.

h1

Maybe You’ll Read This, or Maybe You’re Not ?

July 19, 2014

You and I

You say the moon is beautiful, it shines bright as a light to the dark

I say the moon steals the noon, it reflects the sun as the sun shine it’s bright

You say the stars are magical, it falls as the Djinn walk on His park

I say the stars sparks their light, as if the Djinn is too big to be fright

 

You say the night is evil, it robs the beauty of the moonrace

I say the night provides the space, so the moon can prepare her fly

You say the wind is all but cold, it blows the ash into your face

I say the wind comes from the East, it blows the cloud to clear the sky

 

You say the nature is a gift, a gift from the Giver, the only Giver

I say the nature works, the nature works as if it is a machine, an automated machine

As we are getting close to the end of the poem, one might said your truth is bitter

So does mine, like yours, my truth might be partial, like one side of a mean

 

You and I, different kind of human being

You and I, see the nature in different seeing

You and I, might have a different feeling

But You and I, how much the same thing we’ve been talking ?

h1

Dear Moon

July 18, 2014

The Dawn has come, time for you to rest

The Shadow has gone, as your light left

The Sky is black, the stars fall back, as you hide your crack

The Air is cold, the sound is old, as the king of the day unfold

 

Hey there dear moon, promise me you’d come again tomorrow ?

As the king will be gone, and the dark comes with sorrow

Hey there dear moon, you bless me with the ray you bestow

As I walk alone, and you show the world I follow

 

 

h1

Ilmu Pengetahuan (Sosial) dan Pilpres 2014: Coretan Iseng

July 4, 2014

Tulisan ini sebenarnya hanya hasil iseng-iseng berpikir saja. Tulisan ini tidak bersifat ilmiah, dengan kondisi internet mati (saya unggah tulisan ini via tethering dari hp), rasanya malas mencari sumber-sumber untuk mengkonfirmasikan konsep-konsep yang saya tulis di dalam tulisan ini. Inspirasinya datang dari percakapan saya dengan ibu saya sendiri tadi sore, tentang sebuah hasil penelitian psikolog Universitas kondang di Indonesia, yang mempublikasikan mentalitas calon presiden NKRI di Pemilu 2014. Dalam hasil itu, disebutkan bahwa capres no. 1 diindikasikan sebagai seseorang yang otoriter, sedangkan capres no. 2 diindikasikan sebagai seseorang yang demokratis (Metro Tipi tadi sore, jam-jam deket buka shaum lah). Setelah melihat hasil itu, ibu saya langsung bilang

“wah, ini capres no. 1 ini hasilnya cenderung negatif ya, sedangkan no. 2 cenderung positif ! Reflek saya langsung agak menyanggah (ga sopan ya ? Tapi udah biasa ini kalau antara saya dan ibu saya, karena ibu saya sendiri peneliti (ilmu alam sih, jadi cenerung positivis), jadi perdebatan itu sudah biasa),

“wah ya nggak gitu mah, yang bilang positif-negatif kan mamah, ada aja loh mah orang yang mau dipimpin sama orang yang otoriter, yang menganggap Indonesia itu masih perlu dipimpin sama tangan besi”,

ibu saya kembali menyanggah “tapi kan A, otoriter itu konotasinya negatif”,

“iya bener mah, tapi itu kata mamah kan, dan mamah bisa menganggap itu negatif karena konstruksi tentang ideologi yang ada, bagi aa, semua ideologi itu sifatnya netral, tinggal cocok-cocokan aja”, ibu saya akhirnya setuju.

Hasil penelitian ini tentunya memenuhi kaedah-kaedah keilmuan yang ada, karena dipresentasikan di komunitas ilmiah yang kredibel, dan hasilnya tentunya sudah diuji ketika dipublikasikan. Metodologinya sendiri agak lemah menurut saya, terutama di dalam bidang pengumpulan data, tapi saya mengerti, tentunya ini kendala penelitian yang akan selalu ditemukan ketika anda ingin meneliti objek yang menimbulkan pro dan kontra dalam skala besar, seperti pemilihan presiden ini. Jadi, para peneliti dari universitas ini hanya mengumpulkan data-data dari cara berbicara, potongan pidato, potongan wawancara, pokoknya, segala yang bisa didapat di media yang sudah dipublikasikan. Teori dan paradigmanya sendiri tidak dijelaskan di televisi, mungkin agak terlalu ribet untuk masyarakat awam, tetapi hasil akhirnya ya begitu: capres no. 1 otoriter, dan 2 demokratis. Untuk ringkasannya ada di sini: http://nasional.kompas.com/read/2014/07/03/1923326/Survei.Psikolog.Prabowo.Lebih.Emosional.Dibanding.Jokowi

Pertanyaannya, apakah penelitian ini ilmiah ? saya bisa bilang iya, karena memenuhi kaidah-kaidah keilmuan.

Kalau begitu, penelitian ini bisa dibenarkan ? Iya, bagi saya bisa, karena isinya tentunya bisa dan sudah dipertanggungjawabkan di dalam sebuah forum ilmiah yang kredibel.

Kalau begitu, calon no. 1 secara psikologis, otoriter, dan calon no. 2 demokratis ? Menurut penelitian ini, iya.

Kalau begitu saya harus pilih calon no. 2 karena calon no. 1 jelek karena otoriter ? Tidak, kata siapa otoriter itu jelek dan demokratis itu bagus ?. Jawabannya mungkin tidak sesederhana ini, tapi jawaban ini mewakili jawaban yang ingin saya coba elaborasikan di tulisan ini.

Pertanyaan yang paling penting untuk mulai mengelaborasikan tulisan ini adalah tentang kebenaran itu sendiri, apakah kebenaran itu ? apakah ada kebenaran yang absolut (mari lepas atribut keagamaan di tulisan ini, karena ketika ditanyakan seperti itu, masing-masing umat beragama akan mereferensikannya kepada Tuhan dan Kitab Sucinya) ?

Apakah kebenaran itu ? Saya bertanya pada google, dalam bahasa Inggris, what is the truth ? dan ia menjawab: a fact or belief that is accepted as true. Di sini, bisa kita lihat, definisi dari kebenaran sendiri sebenarnya mengambang. Sebuah fakta ATAU KEPERCAYAAN yang DITERIMA sebagai sesuatu yang BENAR. Yang pertama adalah KEPERCAYAAN. Kepercayaan (belief), apabila didefinisikan lagi: an acceptance that a statement is true or that something exists (sebuah PENERIMAAN bahwa suatu pernyataan adalah benar atau sesuatu itu ada). Kembali muncul kata PENERIMAAN (acceptance, kata dasarnya accept). Yang ketika dedifinisikan berbunyi: the action of consenting to receive or undertake something offered. Penerimaan di sini, adalah sebuah aksi dari penyetujuan untuk menerima atau mengambil sesuatu yang ditawarkan.

Dari beberapa definisi kamus di atas, dapat saya simpulkan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang disetujui bersama untuk dianggap benar. Disetujui oleh siapa ? Jawabannya saya ambil dari kuliah filsafat ilmu saya, disetujui oleh masyarakat. Dasar masyarakat menyetujui sebuah konsensus tentang kebenaran, bisa dilatari oleh macam-macam, tapi yang paling mempengaruhi adalah ilmu pengetahuan itu sendiri. Salah satu cabang dari ilmu pengetahuan adalah filsafat dan sejarah. Dalam filsafat, kita belajar tentang ide. Ide muncul dari manusia. Ide berinteraksi dan membuat manusia berinteraksi dalam sejarah. Sejarah mengajari kita apa yang pernah terjadi di masa lalu. Ide dan manusia bertemu, lalu menghasilkan sejarah. Dari sejarah, kita belajar tentang apa yang pernah terjadi, dari situlah kita berkaca, mana nilai yang baik, dan mana nilai yang buruk.

Nilai yang baik dan buruk ini juga beragam, kembali ke definisi kebenaran tadi, ada penyetujuan untuk menyebut sesuatu itu benar atau salah. Penyetujuan ini muncul dari suatu kelompok yang menerima suatu pernyataan tersebut, kelompok ini melihat pernyataan itu dari sebuah kacamata, kacamata ini bernama paradigma. Paradigma ini ada banyak, dan paradigma inilah yang membuat kebenaran menjadi bermacam-macam, dan tidak ada kebenaran yang absolut. Paradigma yang satu, dapat melihat sifat yang otoriter sebagai sesuatu yang baik dan dibutuhkan. Kenapa ? Misalnya, karena rakyat Indonesia itu masih bedegong kalau kata orang Sunda. Susah taat aturan. Jadi memang harus dikerasi agar bisa menurut. Namun, bagi paradigma lain, otoritarian akan mengekang kebebasan, dan berpotensi membungkam kritik, sehingga apabila pemerintah tidak bekerja dengan baik, tidak ada yang berani menegur, maka otoriratrian ini tidak baik.

Dua paradigma ini berlaku di masyarakat Indonesia. Namun, paradigma yang kedua cenderung lebih populer untuk orang-orang yang berpendidikan tinggi, karena (ini sih sotoy-sotoynya saya), sistem universitas yang digunakan di Indonesia adalah sistem barat yang sangat-sangat meninggikan arti kebebasan. Ditambah lagi dengan sejarah orde baru, di mana ‘kita’ belajar bagaimana kebebasan dikekang sedemikian rupa, baik dalam kekerasan secara fisik, maupun kekerasan secara budaya, yang efeknya masih bisa kita lihat sekarang (Pandangan tentang PKI). Karenanya, konsensus umum yang terbentuk di antara mereka, otoriter itu buruk, dan demokrasi itu baik.

“Reformasi terjadi dengan banyak korban, apa mau dikembalikan ke orde baru ?” Itu yang dipertanyakan oleh si penganut paradigma kedua. Sedangkan yang dianut oleh si paradigma pertama “Indonesia dulu ditakuti di Asia, kalian tidak mau ditakuti lagi ?”. Kiranya begitu pandangan kedua paradigma ini tentang paragraf di atas.

Lalu apa hubungannya dengan ilmu pengetahuan ? Akan banyak yang menganggap hasil survei di atas berpihak dengan no. 2, karena hasilnya yang menyebut no. 2 demokratis. Bagi saya, pernyataan itu tidak sepenuhnya salah. Karena hasil survei itu hanya menunjukkan psikologi dari si capres berdua. Masalah menilai mana yang lebih baik, tentunya dikembalikan lagi ke pemilih. Merasa lebih cocok dengan paradigma yang mana ? Yang pertama atau yang kedua. Jadi, bagi saya, temuan survei ini benar adanya secara metodologis, dan tidak akan menjadi salah ketika hasilnya berpihak, karena keberpihakan ini muncul setelah hasil penelitian ini ‘diadukan’ dengan konsensus yang ada di masyarakat tentang butuknya otoriter.

Ada juga penelitian yang serupa http://indoprogress.com/2014/06/antara-rakyat-dan-publik-politik-komunikasi-pemilu-2014/. Namun ini sifatnya lebih ringan, karena tidak dipertanggungjawabkan secara akademis, hanya sebuah artikel di website indoprogress saja. Tapi bagi saya sendiri, metodenya tidak perlu diragukan, dan sumber datanya fair, karena diambil dari kampanye masing-masing capres. Ketika saya mengunggah intisari dari peneltian ini di path, salah satu teman saya berkomentar: “apa karena metodenya saintifik maka hasilnya tidak akan berpihak ? NO !”, ia bilang begitu.

Saya setuju. Bagi saya, kembali penelitian kecil-kecilan ini menunjukkan ‘keberpihakannya’ kepada si no. 2. ‘Keberpihakan’ ini saya kutipkan, karena tulisan ini tidak menyuruh memilih suatu calon secara gamblang, namun secara subtle, dengan menunjukkan paradigma Gramscian tentang hegemoni. Bagi saya itu tidak salah secara ilmiah. Memang begitu adanya. Ketika menjadi berpihak pun bagi saya tidak salah, karena ilmu pengetahuan sosial memang tidak bisa lepas dari kepentingan. Selama hasilnya objektif (bagi saya ini hasilnya objektif, karena metodologinya benar, suatu penelitian menjadi tidak objektif karena metodologinya tidak benar, misal, dalam video itu calon no. 1 berteriak-teriak, maka disimpulkan si capres ini pemarah, karena ketika marah orang cenderung berteriak, itu metodologinya ngawur, karena tidak mengacu kepada cara analisis tekstual dengan kaidah keilmuan yang benar), maka tidak masalah.

Saya kurang mengerti tentang metode-metode kuantitatif yang digunakan dalam survei elektabilitas capres, namun kurang lebih seperti ini juga. Mungkin yang bisa ‘diutak-atik’ ya metodologinya itu. Namun karena saya kurang mendalami metodologi kuantitatif, saya tidak bisa bicara banyak.

Yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini adalah kurang lebih seperti ini: Ilmu pengetahuan hanya berpihak kepada kebenaran, namun harus digali lagi, kebenaran yang mana ? Oleh siapa ? Di sinilah kita bisa melihat keberpihakan si peneliti. Apabila si peneliti adalah seorang fans berat Hitler, tentunya ia tidak akan menggunakan paradigma yang mengkritik Hitler dalam penelitiannya, ia akan menggunakan paradigma yang pro dengan Hitler, dan itu ada. Ketika ia menggunakan paradigma tersebut, maka hasil penelitiannya, apabila metodologinya benar, hasil penelitannya akan menjadi kebenaran bagi paradigma tersebut. Sedang bagi paradigma lain, terutama yang kontra dengan paradigma si pro Hitler, tentunya akan bilang salah.

Nah, kiranya begitulah ilmu pengetahuan dalam membentuk opini politik. Bingung kan ? Hehe. Tidak apa-apa, semoga bisa jadi insight baru dalam menentukan pilihan yang tinggal 4 hari lagi 