h1

Ilmu Pengetahuan (Sosial) dan Pilpres 2014: Coretan Iseng

July 4, 2014

Tulisan ini sebenarnya hanya hasil iseng-iseng berpikir saja. Tulisan ini tidak bersifat ilmiah, dengan kondisi internet mati (saya unggah tulisan ini via tethering dari hp), rasanya malas mencari sumber-sumber untuk mengkonfirmasikan konsep-konsep yang saya tulis di dalam tulisan ini. Inspirasinya datang dari percakapan saya dengan ibu saya sendiri tadi sore, tentang sebuah hasil penelitian psikolog Universitas kondang di Indonesia, yang mempublikasikan mentalitas calon presiden NKRI di Pemilu 2014. Dalam hasil itu, disebutkan bahwa capres no. 1 diindikasikan sebagai seseorang yang otoriter, sedangkan capres no. 2 diindikasikan sebagai seseorang yang demokratis (Metro Tipi tadi sore, jam-jam deket buka shaum lah). Setelah melihat hasil itu, ibu saya langsung bilang

“wah, ini capres no. 1 ini hasilnya cenderung negatif ya, sedangkan no. 2 cenderung positif ! Reflek saya langsung agak menyanggah (ga sopan ya ? Tapi udah biasa ini kalau antara saya dan ibu saya, karena ibu saya sendiri peneliti (ilmu alam sih, jadi cenerung positivis), jadi perdebatan itu sudah biasa),

“wah ya nggak gitu mah, yang bilang positif-negatif kan mamah, ada aja loh mah orang yang mau dipimpin sama orang yang otoriter, yang menganggap Indonesia itu masih perlu dipimpin sama tangan besi”,

ibu saya kembali menyanggah “tapi kan A, otoriter itu konotasinya negatif”,

“iya bener mah, tapi itu kata mamah kan, dan mamah bisa menganggap itu negatif karena konstruksi tentang ideologi yang ada, bagi aa, semua ideologi itu sifatnya netral, tinggal cocok-cocokan aja”, ibu saya akhirnya setuju.

Hasil penelitian ini tentunya memenuhi kaedah-kaedah keilmuan yang ada, karena dipresentasikan di komunitas ilmiah yang kredibel, dan hasilnya tentunya sudah diuji ketika dipublikasikan. Metodologinya sendiri agak lemah menurut saya, terutama di dalam bidang pengumpulan data, tapi saya mengerti, tentunya ini kendala penelitian yang akan selalu ditemukan ketika anda ingin meneliti objek yang menimbulkan pro dan kontra dalam skala besar, seperti pemilihan presiden ini. Jadi, para peneliti dari universitas ini hanya mengumpulkan data-data dari cara berbicara, potongan pidato, potongan wawancara, pokoknya, segala yang bisa didapat di media yang sudah dipublikasikan. Teori dan paradigmanya sendiri tidak dijelaskan di televisi, mungkin agak terlalu ribet untuk masyarakat awam, tetapi hasil akhirnya ya begitu: capres no. 1 otoriter, dan 2 demokratis. Untuk ringkasannya ada di sini: http://nasional.kompas.com/read/2014/07/03/1923326/Survei.Psikolog.Prabowo.Lebih.Emosional.Dibanding.Jokowi

Pertanyaannya, apakah penelitian ini ilmiah ? saya bisa bilang iya, karena memenuhi kaidah-kaidah keilmuan.

Kalau begitu, penelitian ini bisa dibenarkan ? Iya, bagi saya bisa, karena isinya tentunya bisa dan sudah dipertanggungjawabkan di dalam sebuah forum ilmiah yang kredibel.

Kalau begitu, calon no. 1 secara psikologis, otoriter, dan calon no. 2 demokratis ? Menurut penelitian ini, iya.

Kalau begitu saya harus pilih calon no. 2 karena calon no. 1 jelek karena otoriter ? Tidak, kata siapa otoriter itu jelek dan demokratis itu bagus ?. Jawabannya mungkin tidak sesederhana ini, tapi jawaban ini mewakili jawaban yang ingin saya coba elaborasikan di tulisan ini.

Pertanyaan yang paling penting untuk mulai mengelaborasikan tulisan ini adalah tentang kebenaran itu sendiri, apakah kebenaran itu ? apakah ada kebenaran yang absolut (mari lepas atribut keagamaan di tulisan ini, karena ketika ditanyakan seperti itu, masing-masing umat beragama akan mereferensikannya kepada Tuhan dan Kitab Sucinya) ?

Apakah kebenaran itu ? Saya bertanya pada google, dalam bahasa Inggris, what is the truth ? dan ia menjawab: a fact or belief that is accepted as true. Di sini, bisa kita lihat, definisi dari kebenaran sendiri sebenarnya mengambang. Sebuah fakta ATAU KEPERCAYAAN yang DITERIMA sebagai sesuatu yang BENAR. Yang pertama adalah KEPERCAYAAN. Kepercayaan (belief), apabila didefinisikan lagi: an acceptance that a statement is true or that something exists (sebuah PENERIMAAN bahwa suatu pernyataan adalah benar atau sesuatu itu ada). Kembali muncul kata PENERIMAAN (acceptance, kata dasarnya accept). Yang ketika dedifinisikan berbunyi: the action of consenting to receive or undertake something offered. Penerimaan di sini, adalah sebuah aksi dari penyetujuan untuk menerima atau mengambil sesuatu yang ditawarkan.

Dari beberapa definisi kamus di atas, dapat saya simpulkan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang disetujui bersama untuk dianggap benar. Disetujui oleh siapa ? Jawabannya saya ambil dari kuliah filsafat ilmu saya, disetujui oleh masyarakat. Dasar masyarakat menyetujui sebuah konsensus tentang kebenaran, bisa dilatari oleh macam-macam, tapi yang paling mempengaruhi adalah ilmu pengetahuan itu sendiri. Salah satu cabang dari ilmu pengetahuan adalah filsafat dan sejarah. Dalam filsafat, kita belajar tentang ide. Ide muncul dari manusia. Ide berinteraksi dan membuat manusia berinteraksi dalam sejarah. Sejarah mengajari kita apa yang pernah terjadi di masa lalu. Ide dan manusia bertemu, lalu menghasilkan sejarah. Dari sejarah, kita belajar tentang apa yang pernah terjadi, dari situlah kita berkaca, mana nilai yang baik, dan mana nilai yang buruk.

Nilai yang baik dan buruk ini juga beragam, kembali ke definisi kebenaran tadi, ada penyetujuan untuk menyebut sesuatu itu benar atau salah. Penyetujuan ini muncul dari suatu kelompok yang menerima suatu pernyataan tersebut, kelompok ini melihat pernyataan itu dari sebuah kacamata, kacamata ini bernama paradigma. Paradigma ini ada banyak, dan paradigma inilah yang membuat kebenaran menjadi bermacam-macam, dan tidak ada kebenaran yang absolut. Paradigma yang satu, dapat melihat sifat yang otoriter sebagai sesuatu yang baik dan dibutuhkan. Kenapa ? Misalnya, karena rakyat Indonesia itu masih bedegong kalau kata orang Sunda. Susah taat aturan. Jadi memang harus dikerasi agar bisa menurut. Namun, bagi paradigma lain, otoritarian akan mengekang kebebasan, dan berpotensi membungkam kritik, sehingga apabila pemerintah tidak bekerja dengan baik, tidak ada yang berani menegur, maka otoriratrian ini tidak baik.

Dua paradigma ini berlaku di masyarakat Indonesia. Namun, paradigma yang kedua cenderung lebih populer untuk orang-orang yang berpendidikan tinggi, karena (ini sih sotoy-sotoynya saya), sistem universitas yang digunakan di Indonesia adalah sistem barat yang sangat-sangat meninggikan arti kebebasan. Ditambah lagi dengan sejarah orde baru, di mana ‘kita’ belajar bagaimana kebebasan dikekang sedemikian rupa, baik dalam kekerasan secara fisik, maupun kekerasan secara budaya, yang efeknya masih bisa kita lihat sekarang (Pandangan tentang PKI). Karenanya, konsensus umum yang terbentuk di antara mereka, otoriter itu buruk, dan demokrasi itu baik.

“Reformasi terjadi dengan banyak korban, apa mau dikembalikan ke orde baru ?” Itu yang dipertanyakan oleh si penganut paradigma kedua. Sedangkan yang dianut oleh si paradigma pertama “Indonesia dulu ditakuti di Asia, kalian tidak mau ditakuti lagi ?”. Kiranya begitu pandangan kedua paradigma ini tentang paragraf di atas.

Lalu apa hubungannya dengan ilmu pengetahuan ? Akan banyak yang menganggap hasil survei di atas berpihak dengan no. 2, karena hasilnya yang menyebut no. 2 demokratis. Bagi saya, pernyataan itu tidak sepenuhnya salah. Karena hasil survei itu hanya menunjukkan psikologi dari si capres berdua. Masalah menilai mana yang lebih baik, tentunya dikembalikan lagi ke pemilih. Merasa lebih cocok dengan paradigma yang mana ? Yang pertama atau yang kedua. Jadi, bagi saya, temuan survei ini benar adanya secara metodologis, dan tidak akan menjadi salah ketika hasilnya berpihak, karena keberpihakan ini muncul setelah hasil penelitian ini ‘diadukan’ dengan konsensus yang ada di masyarakat tentang butuknya otoriter.

Ada juga penelitian yang serupa http://indoprogress.com/2014/06/antara-rakyat-dan-publik-politik-komunikasi-pemilu-2014/. Namun ini sifatnya lebih ringan, karena tidak dipertanggungjawabkan secara akademis, hanya sebuah artikel di website indoprogress saja. Tapi bagi saya sendiri, metodenya tidak perlu diragukan, dan sumber datanya fair, karena diambil dari kampanye masing-masing capres. Ketika saya mengunggah intisari dari peneltian ini di path, salah satu teman saya berkomentar: “apa karena metodenya saintifik maka hasilnya tidak akan berpihak ? NO !”, ia bilang begitu.

Saya setuju. Bagi saya, kembali penelitian kecil-kecilan ini menunjukkan ‘keberpihakannya’ kepada si no. 2. ‘Keberpihakan’ ini saya kutipkan, karena tulisan ini tidak menyuruh memilih suatu calon secara gamblang, namun secara subtle, dengan menunjukkan paradigma Gramscian tentang hegemoni. Bagi saya itu tidak salah secara ilmiah. Memang begitu adanya. Ketika menjadi berpihak pun bagi saya tidak salah, karena ilmu pengetahuan sosial memang tidak bisa lepas dari kepentingan. Selama hasilnya objektif (bagi saya ini hasilnya objektif, karena metodologinya benar, suatu penelitian menjadi tidak objektif karena metodologinya tidak benar, misal, dalam video itu calon no. 1 berteriak-teriak, maka disimpulkan si capres ini pemarah, karena ketika marah orang cenderung berteriak, itu metodologinya ngawur, karena tidak mengacu kepada cara analisis tekstual dengan kaidah keilmuan yang benar), maka tidak masalah.

Saya kurang mengerti tentang metode-metode kuantitatif yang digunakan dalam survei elektabilitas capres, namun kurang lebih seperti ini juga. Mungkin yang bisa ‘diutak-atik’ ya metodologinya itu. Namun karena saya kurang mendalami metodologi kuantitatif, saya tidak bisa bicara banyak.

Yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini adalah kurang lebih seperti ini: Ilmu pengetahuan hanya berpihak kepada kebenaran, namun harus digali lagi, kebenaran yang mana ? Oleh siapa ? Di sinilah kita bisa melihat keberpihakan si peneliti. Apabila si peneliti adalah seorang fans berat Hitler, tentunya ia tidak akan menggunakan paradigma yang mengkritik Hitler dalam penelitiannya, ia akan menggunakan paradigma yang pro dengan Hitler, dan itu ada. Ketika ia menggunakan paradigma tersebut, maka hasil penelitiannya, apabila metodologinya benar, hasil penelitannya akan menjadi kebenaran bagi paradigma tersebut. Sedang bagi paradigma lain, terutama yang kontra dengan paradigma si pro Hitler, tentunya akan bilang salah.

Nah, kiranya begitulah ilmu pengetahuan dalam membentuk opini politik. Bingung kan ? Hehe. Tidak apa-apa, semoga bisa jadi insight baru dalam menentukan pilihan yang tinggal 4 hari lagi 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: