h1

Kura-kura Hijau dan Angsa Merah Jambu

October 17, 2014

Cerita ini dimulai di sebuah hutan besar di suatu dunia yang tidak dihuni manusia. Di dalamnya, hidup berbagai macam hewan. Hewan darat, hewan air, pemakan tumbuhan, pemakan daging, pemakan segala, hewan besar, hewan kecil, serta berbagai macam hewan lainnya. Mereka hidup dalam damai. Tanpa harus diajari siapapun, mereka hidup dalam sebuah sistem. Sebuah hewan pemakan tumbuhan memakan tumbuhan, hewan pemakan daging memakan hewan pemakan tumbuhan, hewan air hidup di dalam air,  hewan yang bersayap terbang di udara, semua hidup dengan alami. Tidak ada yang mengajari.

Di dalam hutan itu, ada sebuah danau yang indah. Karena tidak ada manusia, jadi tidak ada yang menamai Danau itu. Tanggung jawab saya sebagai narator adalah untuk mengajak pembaca agar dapat dengan mudah memahami cerita. Karena itu, saya diberi kesempatan khusus untuk menamai danau tersebut. Saya namakan saja Ezeras. Danau Ezeras adalah sebuah danau yang luas dan dalam, namun tenang. Hanya sesekali saja desiran angin membuat danau tersebut beriak. Lainnya, hanya gerakan hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Danau ini sangat indah, jernih, airnya dingin. Sayang sekali tidak ada manusia yang bisa menikmati keindahan danau tersebut. Padahal, apabila dilihat dengan begitu saja pun, saking jernihnya, dapat terlihat penghuni serta dasar danau tersebut. Di pinggir danau, batu-batu berbagai macam ukuran berserakan. Batu-batu itu juga tidak kalah indah, bagaikan lukisan abstrak yang dibuat oleh manusia, ini adalah abstrak dalam makna yang sebenar-benarnya. Tidak ada yang menyusun batu tersebut agar terlihat abstrak. Batu-batu tersebut berserakan begitu saja, ada yang besar, ada yang kecil, tempat tersebarnya tidak beraturan, namun tetap enak dilihat.

Danau Ezeras menjadi tempat tinggal berbagai macam hewan. Ada ikan, ada angsa, ada katak yang sesekali berenang, ada juga hewan-hewan melata serta hewan-hewan bercangkang keras yang bermukim di sekitarnya. Tentu tidak semua hewan yang hidup di danau itu hidup di dalam air. Ada juga hewan yang hidup di sekitarnya. Di antara hewan-hewan itu, ada dua ekor hewan yang sangat unik, Kura-Kura Hijau dan Angsa Merah Jambu. Keduanya hidup di sekitar danau itu. Si Kura-kura hijau adalah kura-kura yang sangat istimewa. Namun, karena keistimewaannya itulah ia seringkali diejek oleh kawan-kawannya sesama kura-kura. Kura-kura yang hidup di danau itu adalah kura-kura berwarna kuning-hitam, hanya si Kura-kura Hijau ini lah yang berwarna hijau. Bukan keinginannya untuk lahir seperti itu, tapi, tidak ada seekor hewanpun yang bisa meminta seperti apa ia ingin dilahirkan. Ia lahir seperti itu begitu saja.  Selain berwarna hijau, tubuhnya pun kecil, namun ini tidak membuatnya putus asa. “Aku kecil, tapi aku cepat” begitu katanya. Walaupun sering diejek oleh kawan-kawannya, ia tidak pernah ditinggalkan oleh mereka.

Si Angsa Merah Jambu juga tidak kalah istimewa. Ia terlahir berwarna merah jambu. Berbeda dengan si Kura-kura Hijau, semua angsa lain ingin terlahir seperti dirinya. Warna merah jambu itu menarik hewan manapun yang melihatnya. Termasuk para predator tentunya. Angsa Merah Jambu selalu dikelilingi oleh kawan-kawannya. Berwarna merah jambu tidak membuatnya jadi merasa istimewa, atau malah sombong. Teman-temannya lah yang mengistimewakan dirinya. Ia sering merasa bahwa sebenarnya ia adalah angsa yang biasa saja. “Apalah arti sebuah warna ?” begitu pertanyaan yang sering ia lontarkan ke dalam pikirannya sendiri.

Pada suatu hari, Kura-kura Hijau dan Angsa Merah Jambu berpapasan di pinggir danau. Mereka sering bertemu satu sama lain. Tentu saja, karena mereka berasal dari satu habitat. Tiap kali berpapasan, Kura-kura Hijau tidak pernah memalingkan pandangannya dari si Angsa Merah Jambu. Ia terkesima melihat keindahan bulu merah jambu si angsa. “indahnya, seandainya aku terlahir istimewa seperti dia” begitu pikir si Kura-kura. Si angsa juga sulit memalingkan pandangannya dari Kura-kura hijau, karena ia memiliki warna yang berbeda sendiri. Angsa Merah Jambu selalu berpikir “Apakah si Kura-kura Hijau itu juga istimewa di antara teman-temannya ?”. Namun, tidak pernah ada perkenalan terjadi. Mereka hanya saling tatap, dan begitu seterusnya.

Pada malam itu bulan terang benderang. Awan-awan di sekitarnya seperti yang malu untuk menghalangi sinar matahari yang terpantul melaluinya. Di sarang Kura-kura si Kura-kura hijau sedang  berada di dalam sebuah pesta. Kura-kura besar yang merupakan pemimpin para Kura-kura, berhasil mendapatkan titik galian baru untuk mencari cacing yang menjadi favorit mereka.  “Ayo semua, kita makan sampai kenyang malam ini. Mulai besok, kita tidak perlu jauh-jauh mencari cacing lagi, semua ada di dekat sini ! Ayo berpesta !”. Suasana di sarang kura-kura pada malam itu sangatlah meriah. Ini tentunya sangat tidak biasa. Kura-kura adalah hewan yang lamban dan kalem. Mereka jarang bersifat agresif. Kiranya begitulah yang digambarkan dalam kisah-kisah fabel terdahulu. Namun, tahukah kalian, jika kura-kura sebenarnya bisa menjadi agresif di depan mangsanya ? Otot leher kura-kura sangatlah cepat, ia bisa mencaplok mangsanya dalam kecepatan tinggi, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya oleh gaya pegas. Kiranya, begitulah gambaran kura-kura yang sebenarnya.

Dalam pesta itu, si Kura-kura hijau terdiam dan tidak banyak bicara. Sesekali ia mengunyah semut kesukaannya. Semut adalah makanan kecil yang sangat populer di antara kura-kura. Mereka renyah, tidak sulit untuk ditemukan, dan memiliki rasa yang unik. Salah satu dari kura-kura bertanya kepadanya “Hei kecil –panggilan si Kura-kura Hijau- kenapa kau diam saja ? Ayolah ikut bersenang-senang, makan cacing yang banyak !”. “ah maaf, aku sedang tidak bernafsu hari ini” jawab si Kura-kura Hijau sambil menoleh ke arah kura-kura yang bertanya tadi. “Ah kau ini, pasti masalah betina ya ? Ceritalah sini, kita kan teman.” Namun si Kura-kura Hijau hanya menggelengkan kepala. “Ya sudah, kalau mau cerita, cerita saja nanti ya, aku mau bersenang-senang, sayang tuh cacingnya masih banyak !” kata si kura-kura tadi. Kura-kura yang bertanya tadi adalah kura-kura yang paling besar di antara kura-kura lainnya. Namun, ia bukan si kura-kura pemimpin. Beda kura-kura. Hobinya makan, oleh karena itu tubuhnya besar. Gerakannya paling lambat di antara kura-kura lain, tetapi sepertinya, ia adalah kura-kura yang paling tahu cara menikmati hidup. Ia selalu tertawa dalam kondisi apapun.

Yang ada di kepala si kura-kura hijau hanyalah si Angsa Merah Jambu. “Apa aku bisa kenal dengannya ? Jika bisa, bagaimana ? Aku hanyalah kura-kura aneh yang sering diejek oleh temanku, dan ia adalah angsa yang sangat cantik , teman-temannya selalu terlihat seperti mengawalnya, atas dasar kagum. Apalah aku dibandingkan dirinya ?”. Malam terus berlanjut, selama kura-kura lain berpesta pora, si Kura-kura Hijau hanya termenung dengan berbagai macam “apakah” di kepalanya. Ia mendongkak ke langit, lalu melihat bulan. “Hei bulan, kamu tahu si Angsa Merah Jambu itu kan ? Aku ingin kenal dengan dia, aku tahu dia ada di sekitaran danau ini, maka ketika aku melihat kamu, dan ia juga melihat kamu, berarti kami melihat sesuatu yang sama kan ?” Tanya Kura-kura Hijau kepada bulan. Tentunya di dunia inipun bulan tidak bisa berbicara.

Di sarang angsa,si Angsa Merah Jambu sedang berkumpul dengan kawan-kawannya setelah makan malam. Seperti biasa, teman-temannya memuji keindahan bulu si Angsa Merah Jambu “seandainya aku terlahir seperti kamu”, “indahnya bulu-bulumu”, dan “jantan mana yang tidak tertarik denganmu ?” adalah pernyataan-pernyataan yang sudah bosan ia dengar. Setiap saat ia dengar kata-kata seperti itu. Namun ia hanya bisa tersenyum dan mengatakan tidak tahu. Beralasan, bahwa itulah hadiah Tuhan untuknya. Ia juga seringkali mencoba memuji angsa lain. “Paruhmu itu indah, aku iri.” Atau “Kamu memiliki leher yang istimewa, seandainya aku juga terlahir sepertimu”, namun itu tidak berpengaruh banyak. Semua angsa ingin terlahir dengan bulu berwarna merah jambu.

Pada malam itu, si Angsa Merah Jambu bertanya kepada salah satu kawannya, seekor angsa berparuh hitam. Ia adalah sahabat baik si Angsa Merah Jambu. Angsa berparuh hitam ini adalah satu dari sedikit angsa yang tidak pernah memuji si Angsa Merah Jambu. Ia sadar bahwa si Merah Jambu tidak suka ia puji.  “Kamu tahu, beberapa waktu belakangan ini kita sering berpapasan dengan para kura-kura, ada seekor kura-kura yang berwarna hijau ?” Tanya si Angsa Merah Jambu. “Hmm, aku tidak memperhatikannya. Aku tidak pernah tertarik kepada para kura-kura, maaf. Memangnya kenapa ?” kata si paruh hitam bertanya kembali. “Entahlah, kamu tahu masalahku kan ? Aku selalu diistimewakan karena aku berbeda. Aku hanya penasaran saja, mungkin kah si Kura-kura Hijau itu juga diistimewakan oleh kawan-kawannya karena ia berbeda ?” kata si Angsa Merah Jambu serius. “Entahlah, mungkin. Kenapa kamu tidak coba berkenalan dengan nya ?” jawab si paruh hitam. “Berkenalan ya ? Aku malu.”

“kamu istimewa, kenapa harus malu ?”

“Dia juga mugkin istimewa”

“tapi kamu penasaran kan ? Jadilah temannya”

“Iya. Baiklah, nanti aku akan berkenalan dengannya”

Nah, begitu dong”. Kata si paruh hitam menutup obrolan.

Angsa Merah Jambu lalu berpamitan dengan kawan-kawannya yang sudah bersiap-siap untuk tidur. Ia ingin coba berjalan-jalan di danau pada malam itu, karena bulan sedang benderang terang dengan indahnya. Pantulan bulan di permukaan danau yang tenang bagaikan memperlihatkan ada dua bulan di dunia ini. Di langit, dan di bumi. Di atas danau. Seandainya ada manusia di dunia itu, ia pasti sudah bersyukur kepada Tuhannya karena diperlihatkan pemandangan seperti itu.Si Angsa Merah Jambu pun melihat ke arah bulan. Bulan yang asli, yang ada di langit. Sembari berenang tenang membelah pantulan bulan yang ada di danau, “hey bulan, bisa kamu sampaikan perasaanku kepada si Kura-kura Hijau ? Aku ingin berteman dengannya ! Aku tahu ia bisa melihatmu juga di tempatnya,kamu bulan yang sama kan ? Yang ada di tempatnya itu bukan adikmu kan ? seandainya kamu bisa bicara, tolong sampaikan ya !”. Begitu kata si Angsa. Namun tentunya itu percuma. Bulan tidak mendengar, bulan tidak berbicara. Mungkin. Mungkin bulan tidak mendengar. Tapi pasti ia tidak berbicara. Tidak di dunia ini, tidak di dunia narator.Setelah itu, si Angsa Merah Jambu pulang ke kawanannya dan tertidur. Ia tidak tahu, ketika ia sedang berada di danau tadi, jauh di dalam hutan sana, seekor Serigala yang tersesat sampai ke hutan pinggir danau mengintainya. Sudah lama ia tidak makan angsa. “kalau makanan di hutan ini sudah habis, itu berarti giliranmu !” gumam serigala itu.

Keesokan harinya, beberapa kura-kura pergi bersama untuk mengunjungi tempat baru mereka mencari cacing. Si Kura-kura Hijau pun ikut serta. Walaupun ia sering diejek, namun ia selalu diikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan para kura-kura. Alasannya sederhana: diejek tidak berarti disingkirkan. Apabila si Kura-kura Hijau ini adalah manusia, maka matanya merah dan berkantong, berjalan lunglai, dan tidak fokus. Ia kurang tidur. Rupanya, semalaman itu ia memikirkan si Angsa Merah Jambu. Si Kura-kura hijau yang biasanya gesit dan cekatan, kali ini hanya berjalan lunglai mengikuti kawan-kawannya. “Ayooo semuaaa semangat dong jalannyaaaaa !! Kita mau mencari makanan ini !” Teriak si kura-kura besar pemimpin, semua kura-kura lain bersorak kegirangan. Si kura-kura besar yang suka makan terlihat sangat bersemangat sekali. Ia berada di barisan paling depan. Tapi itu hanya berlaku sesaat saja. Karena tubuh beratnya, ia pun tertinggal, dan sekarang ia ada di barisan paling belakang, bersama si Kura-kura Hijau yang berjalan lunglai. “Hei, kamu kenapa, kok lesu ?” tanya si kura-kura besar sambil terengah-engah. Nafasnya mulai habis. “Ah, tidak apa-apa, hanya kurang tidur” jawab si Hijau lesu. “aaaahh, pasti masalah betina itu ya ? ayolah cerita siniiii” kata si besar sambil menggoda si hijau. “hhhh.. bukan, bukan itu kok” si hijau berbohong. “ah kau ini, sudahlah. Aku tidak akan tanya lagi, tapi tetap ya, kalau kau mau cerita, cerita lah !” kata si besar sambil menepuk tempurung si Hijau. “iya. Eh, ayo cepat, kita mulai tertinggal tuh” ajak si hijau.

Mereka lalu bergegas mengejar barisan kura-kura tadi. Tak lama, mereka tiba di tempat yang dibicarakan. Ternyata memang benar, di sana banyak cacing berlimpah dengan berbagai macam ukuran. Ini membuat semua kura-kura bernafsu. Mereka lalu bergegas menggali tanah untuk mengambil makanan mereka. Cara mereka membawa cacing-cacing itu adalah membelahnya dengan mulut mereka yang keras, lalu menaikkan badan-badan cacing itu ke atas daun, lalu mereka menarik daun tersebut dengan mulut mereka. Itu apabila mereka ingin memakan cacing tersebut dan berbagi dengan kura-kura yang menjaga sarang. Itu pulalah yang mereka lakukan sekarang.

Ketika sedang asyik mencari cacing, tiba-tiba ada suara yang menarik perhatian para kura-kura. Ternyata ada rombongan angsa di dekat situ. Ternyata, tempat itu adalah sarang para angsa. Kura-kura besar pemimpin lalu mendatangi gerombolan angsa itu, dan meminta izin untuk membawa cacing-cacing tersebut. Mereka bilang tidak apa-apa, silahkan saja, angsa tidak makan cacing. Begitulah kiranya.

Melihat kerumunan angsa, hati si Kura-kura Hijau langsung berdegup kencang. Angsa ? Berarti, si merah jambu… ada di situ ? pikiran itu langsung menyambar kepala si Kura-kura Hijau. Benar saja, ada seekor angsa yang mencuat di tengah-tengah kerumunan itu. Ia berwarna merah jambu. Si Angsa Merah Jambu ada di situ ! kata si Kura-kura hijau. Ia kembali terdiam dan terpana. Si kura-kura besar yang hobi makan, bukan si pemimpin, mendekatinya, lalu berkata “oh, itu yang bikin kamu tidak bisa tidur ? Ingin kenalan ?” tanya si besar. Si hijau terdiam sebentar, lalu menggelengkan kepala dan menjawab dengan gugup “ti.. tidak kok, tidak…”. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan kegugupan itu, segera saja si kura-kura besar dengan suaranya yang lantang berteriak “HEY ! ANGSA YANG MERAH JAMBU DI SANA, ADA YANG MAU KENALAN NIH !”. Si Kura-kura Hijau lalu reflek memukul tempurung si kura-kura besar sambil berbisik “diam kau hei !”, namun terlambat, si Angsa Merah Jambu sudah menyadari keberadaan mereka. Angsa Merah Jambu itu lalu mengarahkan pandangannya kepada si Kura-kura Hijau. Seperti biasa.

Tak lama, si Kura-kura Hijau mulai bergerak. “aku harus berani” pikirnya dalam hati. Ia lalu mendekati si Angsa Merah Jambu. Akhirnya, walaupun dengan gugup dan jantung yang berdebar, si Kura-kura Hijau berhasil berkenalan dengan si Angsa Merah Jambu. “a, aku si Kura-kura Hijau, temanku memanggilku si kecil, karena tubuhku yang kecil, ka, kamu siapa ?”. Kira-kira, begitulah pertanyaan yang dilontarkan si Kura-kura Hijau ketika ia mengajak berkenalan si Angsa Merah Jambu. Angsa Merah Jambu pun menjawab “temanku memanggilku si Merah Jambu, seperti kamu bisa lihat, bulu ku berwarna merah jambu”. Itulah awal perkenalan si Kura-kura dan Angsa Merah Jambu. Bagi si Kura-kura Hijau, perkenalan itu adalah sebuah berkah, sebuah mukjizat, seekor kura-kura aneh bisa berkenalan dengan angsa yang cantik. Bagi si Angsa Merah Jambu, perkenalan itu pun sangat bermakna, ia dapat menemukan sesosok hewan lain yang juga istimewa, ia menemukan sosok untuk berbagi kisah, sebagai seorang kawan.

Beberapa hari ke depan, si Kura-kura Hijau sepertinya hidup dalam kesenangan. Ia berharap bahwa kesenangan itu tidak akan pernah berakhir. Akhirnya, ia berkenalan dengan seekor hewan yang sudah lama ia kagumi. Si Angsa Merah Jambu. Makannya semakin banyak, pekerjaannya –memperkokoh sarang- semakin membaik (walaupun sebelumnya memang sudah baik). Si Kura-kura besar yang bukan pemimpin pun seringkali bertanya kepada Si Kura-kura Hijau, walaupun ia sudah tahu jawabannya, ia hanya menggodanya. “Hei, sepertinya sedang senang nih ?” dan kejadian itu setiap hari berulang. Si Kura-kura Hijau sendiri bertemu dengan si Angsa Merah Jambu setiap beberapa hari. Hari di mana kelompok kura-kura mengumpulkan cacing untuk dikumpulkan dan dimakan. Ketika kura-kura yang lain pulang, Kura-kura Hijau tetap tinggal di sana untuk berbincang dengan si Angsa Merah Jambu. Si Angsa merah Jambu ini pun sepertinya sangat menikmati pembicaraan itu.

“apa makanan kesukaanmu ?” tanya si Angsa Merah Jambu

“Tentu saja cacing, kadang-kadang semut, kamu ?” jawab si Kura-kura Hijau sambil balik bertanya

“Aku suka makan rerumputan yang tumbuh di pinggir danau, kadang aku makan ikan juga”

“Wah, mungkin karena itu ya bulumu makin baik setiap hari ?”

“Entah lah, hehehe”

Pembicaraan seperti adalah sesuatu yang muncul setiap kali mereka bertemu. Sekalinya mereka berbincang, mereka bisa menghabiskan waktu satu hingga dua jam apabila diukur dengan waktu manusia. Hari itu adalah kali kedua mereka mengobrol sebagai kawan. Setelah obrolan selesai, si Kura-kura Hijau pun pulang ke sarangnya, dan si Angsa Merah Jambu pun kembali ke kawanannya. Mereka berjanji, apabila pada suatu malam mereka ingin bertemu, mereka tinggal melihat bulan dan berkata kepadanya untuk saling menyampaikan. Mereka tahu itu percuma, namun, akan lebih baik apabila melepaskan perasaan kepada sesuatu, walaupun itu benda mati bukan ? Setidaknya, itu melepaskan beban di dada mereka. Malam harinya, si Kura-kura hijau keluar sarangnya untuk berbicara dengan sang bulan.

“Hei bulan, sampaikanlah perasaanku ini pada si Merah Jambu. Kamu tahu kan bulan ? Kamu tahu apa yang ada di dalam sini ?” Kata si Kura-kura Hijau sambil menunjuk dadanya sendiri.

Di tempat lain, di sarang para angsa, si Angsa Merah Jambu juga berenang ke tengah danau. Seperti biasa, ia membelah pantulan bulan yang terrefleksikan di tengah-tengah danau. Ia lalu menengadah ke atas, dan berkata kepada sang bulan.

“Hei bulan, kamu tahu, si Hijau itu sangat menarik. Aku masih ingin belajar banyak darinya, tolong sampaikan, aku ingin bertemu lagi dengannya. Boleh ?” kata si Angsa Merah Jambu. Ia lalu bernyanyi mengiringi malam yang sunyi itu. Suaranya jelek. Tapi, ketika kamu menarik, siapa peduli dengan suaramu ?

Keesokan harinya, terjadi kegaduhan di sarang angsa. Seekor angsa putih ditemukan tewas dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Yang tersisa dari tubuh si angsa hanyalah lehernya yang panjang. Semua angsa panik. Mereka tahu ini pekerjaan predator. Padahal, alasan para angsa memilih untuk tinggal di sekitar danau adalah karena jarang sekali ada predator di dekat sungai. Kebanyakan predator ganas seperti Singa atau Serigala tidak bisa berenang, sehingga ketika mereka diserang, mereka akan lari ke tengah danau, dan akan menunggu di sana hingga keadaan dianggap aman. Untuk tidak mendekati air adalah insting para predator.

Si Angsa Merah jambu juga termasuk salah seekor angsa yang ditanyai oleh angsa lainnya. Karena pada malam sebelumnya, ia meninggalkan sarang mereka untuk berenang ke tengah danau. “Benar  kau tidak melihat apapun yang mencelakai si Leher Panjang ?” tanya salah seorang pemimpin angsa. “Aku tidak tahu, aku hanya bernyanyi di tengah danau” kata si Angsa Merah Jambu. Ia tidak berbohong, ia memang tidak melihat apapun pada malam itu. Tidak si Leher Panjang, tidak juga apapun yang mencelakainya. Sejak saat itu, kelompok angsa pun mulai memperketat hubungan mereka dengan spesies lain, termasuk dengan kelompok kura-kura. Mereka khawatir, bahwa ada spesies lain yang dengan sengaja mencoba mencelakai mereka.si Angsa Merah Jambu khawatir, jikalau ia tidak dapat menemui si Kura-kura Hijau lagi, masih banyak yang belum ia tanyakan kepadanya. Dan yang paling penting: “Menurutmu, bagaimanakah rasanya menjadi istimewa ?”.

Dua hari kemudian, tiba waktunya kelompok Kura-kura kembali mencari cacing. Si Kura-kura Hijau pun termasuk di kelompok pencari cacing hari itu. Ia meminta secara khusus kepada si Kura-kura besar pemimpin untuk mengikutsertakan dirinya dalam setiap pencarian cacing. Ia tahu, itu adalah satu dari sedikit kesempatan untuknya untuk bertemu si Angsa Merah Jambu. Hari itu matahari sangat cerah, namun bersinarnya matahari tidak semerta-merta membuat udara menjadi panas. Hari itu sejuk, hari yang sangat menyenangkan untuk digunakan mengobrol di pinggir danau sambil menghabiskan waktu, dan itu jugalah yang sudah ia niatkan untuk lakukan bersama si Angsa Merah Jambu.

Ada yang aneh pada hari itu. Biasanya, kelompok Angsa dengan senang hati menyambut kedatangan para Kura-kura, mengajak berbincang, tersenyum dengan ramah. Namun kali ini, mereka hanya melihat dari jauh, dan tidak berbicara sama sekali. Si Angsa Merah Jambu juga ada di situ, mengarahkan pandangannya kepada si Kura-kura Hijau. Seperti biasa, mereka mencari cacing dengan riang. Namun mereka juga merasa aneh dengan kelakuan para angsa. Bagi mereka itu tidak masalah, selama mereka masih bisa mencari cacing. Selesai mencari cacing, Si Kura-kura Hijau mendekati kawanan para angsa. Namun ia sadar, itu bukan hal yang bijak, para angsa yang besar dan terlihat kuat mencoba menghalangi langkahnya. Tiba-tiba, ia ada suara yang muncul dari belakang para angsa. “Hijau, tunggu, aku ke sana !” itu adalah suara si Angsa Merah Jambu. Setelah mendekati si Kura-kura Hijau, si Angsa Merah Jambu mengajaknya untuk duduk di pinggir danau. Mereka pun mulai berbincang seperti biasa. Kali ini, si Angsa Merah Jambu bertanya tentang bagaimana rasanya menjadi istimewa.

“Aku sadar, kamu seperti aku. Kamu memiliki warna yang berbeda dengan warna-warna kawanmu yang lain, apa perasaanmu, apakah kamu selalu diistemewakan ?” Tanya si Angsa Merah Jambu.

“Istimewa ? Aku tidak pernah merasa istimewa ?” jawab si Kura-kura dengan agak kaget

“Aku dengar kau suka diganggu oleh teman-temanmu ?” si angsa kembali bertanya

“Aku tidak pernah sekalipun merasa diganggu oleh teman-temanku. Mereka baik kok” kata si kura-kura kalem.

Si angsa mengerenyitkan dahinya yang kecil sambil bertanya “kamu kan terlahir dengan warna yang berbeda, tetapi, mengapa kamu tidak pernah merasa istimewa ?”

“aku tidak pernah merasa istimewa, karena aku yang memutuskan untuk begitu. Mungkin kamu dan yang lain melihat aku berbeda. Tetapi aku tidak pernah merasa dan tidak pernah mencoba untuk merasa demikian.” Kata si kura-kura serius.

Si angsa terdiam.

“Kamu selalu merasa diistimewakan oleh teman-teman mu ?” Tanya si kura-kura.

“Begitulah, sepertinya semua orang ingin sepertiku. Ingin bulu mereka berwarna merah jambu. Tapi aku, jujur saja aku tidak suka dianggap istimewa. Aku sama dengan angsa lainnya. Nyanyianku jelek, tetapi semua diam karena aku dianggap istimewa. Aku tidak suka itu.” kata si angsa

“Kalau begitu, berhentilah merasa begitu. Kamu merasa istimewa karena kamu merasa diistimewakan. Padahal tidak begitu. Sebagai angsa, kamu sama dengan angsa yang lain. Hanya saja, kamu berwarna merah jambu. Itu tidak membuatmu lebih istimewa dari mereka… Ada juga angsa yang berleher panjang, berparuh hitam, dan lain-lain kan ? Semua juga istimewa.” Jawab si kura-kura.

Si angsa kembali terdiam sejenak. Lalu ia berkata “mungkin kamu benar, mungkin aku yang merasa diistimewakan, semestinya, daripada merendah, lebih baik aku coba untuk tidak merasa begitu saja ya ?” tanya si angsa sambil tersenyum.

“iya, begitulah. Tapi, asal kamu tahu saja, bagiku kamu itu….” belum sempat si kura-kura menghabiskan kalimatnya, gerombolan angsa tiba-tiba berteriak memanggil si Angsa Merah Jambu. Angsa Merah Jambu mengerti, bahwa itu adalah panggilan untuknya. Panggilan untuk mengakhiri obrolan. Obrolan terakhir dengan si Kura-kura Hijau. Malam sebelumnya, ada pembicaraan tentang keamanan kelompok angsa pada malam itu, diputuskan bahwa angsa tidak akan lagi melakukan kontak apapun dengan spesies manapun hingga suasana aman. Hanya spesies ikan saja, kontak yang dilakukan pun adalah dengan memakan mereka. Lainnya, tidak ada. Termasuk dengan kelompok kura-kura. Si Angsa Merah Jambu sangatlah sedih, Si Kura-kura Hijau adalah hewan dari spesies lain yang sudah ia anggap sebagai sahabat. Ia tidak mau kehilangan waktu-waktu berbincang dengannya. Si Kura-kura Hijau memiliki kepribadian yang bijak. Ia tahu, ia membutuhkan sosok itu. Namun, masa yang sangat sebentar itu akan segera berakhir.

“Maafkan aku Hijau, ini terakhir kalinya kita berbincang. Aku harus pergi, selamat tinggal.” Si Angsa Merah Jambu pun berlari, sebelum si Kura-kura Hijau mampu menjawab atau menyampaikan apapun.

Si Kura-kura Hijau bingung, di manakah salah ia sehingga si Angsa Merah Jambu mengucapkan selamat tinggal dengan alasan yang tidak jelas. Ia pun kembali ke sarangnya dengan langkah gontai. Dan seperti biasa, setelahnya hari-harinya dipenuhi dengan “kenapa kau, cerita saja jika itu bisa membantu !” ala si Kura-kura besar bukan pemimpin.

Hari demi hari berlalu sejak saat itu. Hanya ada satu cara buat si Kura-kura Hijau untuk menyampaikan rasa rindunya, dengan berbicara kepada bulan. Entah kenapa, ia tahu, bahwa di bagian lain di dunia ini, di tempat si Angsa Merah Jambu, si Angsa Merah Jambu pun melakukan hal yang sama. Perasaan si kura-kura tidak salah. Si Angsa Merah Jambu pun melakukan hal yang sama setiap malam.

Beberapa hari telah terlewati, waktunya kembali bagi para kura-kura untuk mencari cacing. Kali ini, si Kura-kura hijau tetap ikut dalam rombongan, walaupun ia tahu, kecil kemungkinan si Angsa Merah Jambu datang, dan mengobrol dengannya. Namun, kesempatan sekecil apapun tetap ia coba. Ia tidak salah, memang si Angsa Merah Jambu ada di sana, namun, ia tidak mendatangi si Kura-kura Hijau. Menoleh pun tidak. Si Kura-kura hijau diam lesu.

Di tengah perjalanan pulang, tak sengaja ia melihat kumpulan tupai yang sedang berbicara. Si Kura-kura meminta izin kepada pemimpin kura-kura untuk menepi dan mengobrol dengan para tupai untuk sementara. Tentu ia dibolehkan, tugasnya sudah selesai. Tupai adalah makhluk yang cerdik, jujur, dan jahil. Namun, mereka butuh sesuatu untuk membuka mulut mereka. Mungkin, dalam bahasa manusia itu disebut uang sogokan atau sejenisnya. Si Kura-kura tahu para tupai ini tinggal di atas pohon, dan melihat kegiatan si Angsa, ia pun bertanya kepada para tupai. “Hei tupai, boleh aku bertanya kepada kalian ?” tanyanya. Si tupai menjawab dengan sederhana, sambil tertawa “hahhahaha, bayar dulu dong !” Si Kura-kura bingung, ia tidak memiliki apapun untuk membayar para Tupai itu, ia pun bertanya kembali “aku tidak punya sesuatu apapun untuk membayar kalian, bolehkah aku menggunakan tenagaku untuk membayarnya ?” tanya si Kura-kura sambil menengadah ke atas pohon. Para tupai itu saling menoleh dan terkekeh-kekeh. “oke, oke, kami bantu, dengan syarat, coba kamu pohon itu !”

Memanjat pohon bukanlah hal yang sederhana untuk kura-kura, tempurungnya yang berat membuat ia tidak bisa memanjat pohon. Ia pun bertanya kepada para tupai apakah mungkin tugas itu digantikan dengan tugas lain ? Para tupai berkata tidak mungkin, bagi mereka, akan sangat lucu melihat seekor kura-kura mencoba memanjat pohon. Si Kura-kura hijau terdiam sejenak, ia lalu memaksakan diri untuk memanjat pohon tersebut. Baru saja ia berhasil berdiri, ia lalu terjatuh di tempurungnya. Sulit baginya untuk bangun kembali, walaupun akhirnya bisa. Berkali-kali ia coba hingga di tempurungnya penuh dengan luka. Namun ia terus berjuang. Pada awalnya, para tupai itu tertawa, namun lama kelamaan, mereka menjadi iba dengan situasi si Kura-kura. Mereka pun berkata “eh, eh, sudah cukup. Sudah. Tidak perlu memanjat pohon. Kami cukup terhibur dengan kekeraskepalaanmu. Karena itu, kami memberimu kesempatan untuk bertanya dengan gratis kepada kami. Silahkan. Berapa pertanyaanpun bebas. Kami tahu gosip yang ada di seluruh hutan !”  Kata si tupai itu.

Si Kura-kura pun tersenyum dan menanyakan apa yang terjadi pada kelompok angsa. Si tupai menjawab bahwa para angsa memutuskan untuk tidak lagi berkontak dengan spesies lain hingga keadaan aman. Aman dari apa ? Tanya si kura-kura, si tupai pun tidak bisa menjawab karena mereka tidak tahu. Ketika tupai menjawab tidak tahu, maka benar mereka tidak tahu. Mereka adalah hewan yang jujur. Kura-kura pun kembali ke sarangnya. Kali ini, dengan perasaan yang lebih tenang. Ia tahu, ia bukanlah alasan si Angsa Merah Jambu tidak mau berbicara kepadanya.

Pada malam harinya, ia kembali melihat bulan, dan berkata “aku rindu padanya bulan, tolong sampaikan padanya !” katanya. Lalu, terbesitlah sebuah pikiran di kepalanya. Ia tahu, ia berjanji kepada si Angsa Merah Jambu, apabila ada rindu, katakanlah pada si bulan. Maka ia akan menyampaikannya. Ia sadar. Ia bisa menemui si Angsa Merah Jambu pada malam hari, di bawah sinar bulan. Ia lalu menyusun rencana agar bisa bertemu dengan si Angsa Merah Jambu. ‘Menyusun rencana’ sepertinya agak berlebihan, mungkin, karena ia hanya butuh meminta izin kepada si Kura-kura besar pemimpin, dan itu sangatlah mudah, karena belakangan ini si Kura-kura Hijau bekerja dengan sangat baik. Benar saja, keesokan harinya, izin itu diterima, dan ia pun akan melakukan perjalanan ke tempat si Angsa Merah Jambu pada malam harinya.

Setibanya di danau di tempat sarang angsa, ia pun melihat sosok seekor angsa dengan bulu berkilau merah jambu sedang menyanyi di tengah danau. Suaranya buruk, tapi ia tetap menikmatiya. Ia menyanyi dengan perasaan. Si Kura-kura Hijau tau, itu adalah si Angsa Merah Jambu yang sudah lama ia rindukan. Ia terdiam sejenak di pinggir danau, lalu mencoba mendekat ke danau. Mendekat, dan mendekat, diiringi oleh nyanyian si Anga Merah Jambu, lalu tiba-tiba muncul sesosok hitam yang bergerak dengan cepat dari dalam hutan. Gerakannya sangat cepat, si Kura-kura Hijau menghentikan langkahnya. Bayangan hitam itu hanya terdiam saja di pinggir danau, si Kura-kura tidak berani mendekat. Tak lama, si Angsa Merah Jambu sadar akan kehadiran si Kura-kura Hijau. Ia senang. Senang sekali kawannya datang. Ia tidak menyangka. Yang ia pikirkan adalah, si Kura-kura hijau sudah melupakannya karena ia tidak pernah bisa menyapanya lagi. Ia lalu mendekat, namun, tiba-tiba, bayangan hitam itu bergerak dengan sangat cepat mendekati si Angsa Merah Jambu. Ternyata, dia adalah Si Serigala yang tersesat di pinggir danau.

Dalam sekejap, si Serigala berada di depan si Kura-kura dan Angsa Merah Jambu. Ia langsung mencakar si Angsa Merah Jambu, lalu menjilati kukunya, beruntung, cakarannya tidak dalam. Tak lama, ia pun mengambil ancang-ancang untuk kembali menerkam si Angsa, kali ini, si Kura-kura Hijau, dengan segala kekuatannya, meloncat ke hadapan serigala dan dengan tempurungnya berhasil menahan cakar si Serigala. Si Serigala kesakitan. Sekujur tubuhnya merinding, kukunya patah menghantam tempurung si Kura-kura yang keras. Tapi ia tidak berteriak. Ia tahu jika ia berteriak, gerombolan angsa akan mengepungnya –walaupun ia sadar tak ada seekor angsa pun yang dapat melawan ganasnya serigala, tetapi, akan sangat merepotkan melawan serigala itu.

Si Angsa Merah Jambu terdiam. Ia kaget. Ia tak bisa bersuara. Kali ini, si Serigala berhadapan dengan si Kura-kura Hijau. Si Serigala pun berkata “hei makhluk menyedihkan, minggir, aku mau makan.” Si Kura-kura lalu mengangkat tangannya ia menantang si Serigala “hadapi aku dulu jika kau mau memakannya”. Dengan gagah ia mencoba mengambil kuda-kuda menyerang. Namun, namanya juga Kura-kura, secepat apapun dia, dia tetaplah seekor kura-kura hewan yang lamban. Si Serigala tahu akan hal itu, ia berhasil mengelak, lalu mencoba mencakar kembali si Angsa Merah Jambu. Namun, ia tidak sadar bahwa kecepatan leher Kura-kura sangat lah cepat. Ia masuk ke dalam wilayah jangkauan leher si Kura-kura. Segera saja ia mengigit si Serigala. Ia kesakitan, perutnya berdarah. Namun ia tidak berteriak.

Kali ini, ia memalingkan mukanya ke arah si Kura-kura. Si Kura-kura menantang si Serigala “Lewati aku dulu, baru makan dia”. Dengan mata yang melotot, si Serigala berkata “sebegitu inginnya kah kau mati ? Kalau begitu, biarkan aku menggigit tempurung mu, gigiku jauh lebih kuat daripada cakarku.” Gigi Si Serigala sebenarnya tidak terlalu kuat, namun tekanan yang dapat diberikan oleh rahangnya sepertinya mampu menghancurkan tempurung kura-kura. Dengan perlahan, ia mengitari si Kura-kura. Si Kura-kura ini hanya bisa terdiam, matanya mengikuti gerakan si Serigala. Lalu, dengan cepat si Serigala mengayunkan rahangnya ke arah tempurung si Kura-kura.

Saat itulah si Kura-kura mulai bertahan. Ia tahu, rahang serigala cukup kuat untung menghancurkan tempurungnya. Ia juga tahu, bahwa jika tempurungnya hancur ia akan mati. Namun ia tetap bertahan. Tetap bertahan demi Angsa Merah Jambu yang ia kagumi. Tidak. Bukan ia kagumi. Rasa kagum itu sudah berubah menjadi suka. Bukan, cinta. Bukan hanya suka, tapi cinta. Makhluk apapun yang memiliki nyawa, akan bersedia menukarkannya demi seseorang yang ia cinta. Karena itu, ia tetap bertahan di rahang si Serigala. Si Serigala terus bertanya “masih mau hidup ?” si Kura-kura hanya diam, berkonsentrasi agar tempurungnya tidak pecah. Sebenarnya, sekuat apapun ia berkonsentrasi, ia tidak dapat mengubah cangkangnya menjadi baja atau apapun, tapi, itu jauh lebih baik daripada memikirkan kematian. Ia memikirkan ia akan selamat, dan hubungannya dengan si Angsa Merah Jambu akan kembali berjalan. Akhirnya, si Angsa Merah Jambu mampu mengeluarkan suaranya, ia berteriak “HIJAU ! SUDAHLAH, BIARKAN IA MEMAKAN KU !!!”. Namun itu tidak mengubah apapun. Si Serigala tetap menggigit tempurung si Kura-kura, dan si Kura-kura tetap diam dan bertahan.

Tiba-tiba terdengar suara retakan yang keras. Si Serigala melepaskan gigitannya. Si Kura-kura merasakan rasa sakit yang amat sangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tempurungnya terbelah. Namun di sisi lain, si Serigala pun mengerang kesakitan, giginya patah. Si kura-kura, hanya bisa terdiam. Ia langsung berpikir tentang ajalnya yang sudah tiba. Si Serigala itu kemudian lari, giginya sudah patah, tidak mungkin lagi bisa memakan apapun kecuali rumput. Hidupnya sudah usai. Tidak ada karnivora alami yang bisa hidup tanpa memakan daging. Ia akan menjalani sisa hidupnya tanpa dapat memakan apapun.

Si kura-kura terdiam. Rasa sakitnya membuat ia tak mampu berkata apa-apa. Tempurungnya terbelah, namun di sisi lain, ia berhasil mematahkan gigi si Serigala. Ini seperti kisah pedagang senjata yang menjual perisai dan tombak. Ia mengklaim bahwa perisai tersebut tidak dapat ditembus oleh apapun, sedangkan tombak tersebut mampu menembus apapun. Seorang pembeli yang cerdas bertanya, apa yang terjadi apabila kedua perisai dan tombak itu diadukan ?. Mungkin seperti inilah jawabannya. Keduanya hancur. Si Angsa Merah Jambu menangis. Ia sedih. Sosok yang ia kagumi sedang berada di ujung kematian. Ia sedih karena si Kura-kura berani mengorbankan dirinya. Ia sedih karena ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia sedih karena masih banyak hal yang ingin ia ceritakan kepada si Kura-kura. Ia sedih.  Si Kura-kura juga tidak bisa berkata apa-apa. Rasa sakitnya sudah merenggut suaranya. Ini adalah sebuah kisah yang tragis. Kisah yang menyedihkan. Namun, kadang, di tengah kesedihan inilah keajaiban muncul. Keajaiban muncul bukan dalam kebahagiaan, tetapi di dalam kesedihan.

Tiba-tiba, tempurung si kura-kura hijau terjatuh dari tubuhnya. Namun, yang si Angsa Merah Jambu lihat bukanlah organ dalam si Kura-kura, melainkan sebuah tempurung lagi yang berwarna hitam-kuning, warna normal kura-kura di sana. Ia pun terkejut bukan main. Ia langsung memanggil-manggil si Kura-kura Hijau. “Hijau ! Bangun Hijau ! Bangun !”, si Kura-kura yang tadinya sudah memejamkan matanya, terkejut dan kembali membukanya. Ia tidak sadar –saking sakitnya, ternyata ia memiliki dua lapis tempurung. Lapisan pertama yang berwarna hijau, dan lapisan kedua yang berwarna sama dengan kura-kura lainnya. Kuning-hitam. Seperti manusia yang banyak dilahirkan dengan kondisi yang ‘istimewa’, seperti tingkat kecerdasan yang lebih tinggi, atau ketangkasan olah raga yang di atas rata-rata, dan lain-lain. Begitu juga dengan kura-kura. Dalam hal ini, si Kura-kura hijau memiliki keistimewaan berupa tempurung yang berlapis. Ia tidak jadi mati. Ia selamat. Ia dapat melanjutkan kisahnya dengan si Angsa Merah Jambu. Ia lalu bangun, dan dalam beberapa menit –dalam hitungan manusia- ia sudah mulai merasa kembali normal.

Si Angsa Merah Jambu bertanya “sekarang kamu sudah sama dengan kura-kura lainnya. Kamu sudah tidak istimewa lagi bukan ?” si Kura-kura tersenyum dan berkata, “kamu sudah tahu jawabannya”. Si Angsa Merah Jambu tersenyum “hmm, apakah jawabannya ‘kamu tetap istimewa, karena bukan tempurungmu yang membuatmu istimewa, tetapi apa yang kamu selalu perbuat untuk orang sekitar’ ?”. si Kura-kura lalu tersenyum dan berkata “iya, benar, akhirnya kamu sudah mengerti apa itu makna istimewa, dan bagaimana cara menjadi istimewa.” Si Angsa Lalu terdiam, Si Kura-kura melanjutkan pembicaraannya. “Kamu tahu, bagiku, kamu itu istimewa. Bukan karena bulu indahmu. Ya, mungkin dulu karena bulu indahmu, pada awalnya. Tapi ternyata aku salah. Jauh di balik bulu indahmu, kamu jauh lebih istimewa. Kamu adalah keindahan dalam makna yang seutuhnya. Ketika kamu sadar kamu merasa istimewa, dan kamu merasa itu salah, di saat itulah aku merasa kamu istimewa. Sekarang kamu sudah tahu perasaanku, bolehkah aku mengenalmu lebih jauh ?” Tanya si Kura-kura. Si Angsa terdiam, terpaku. Lalu ia tersenyum lebar. Ia senang. Ia menemukan apa yang selama ini ia cari. Tanpa ragu, ia berkata “iya. Ayo saling mengenal lebih jauh. Aku ingin mengetahui lebih dalam lagi apa itu arti keistimewaan. Dan aku tahu, aku bisa mendapatkan jawabannya di dalam dirimu.”

Bulan bersinar jauh lebih indah dari beberapa hari sebelumnya di atas Danau Ezera, kali ini bulan kehilangan fungsi keduanya sebagai penyampai pesan si Kura-kura dan si Angsa. Kali ini, bulan hanya jadi penerang untuk mereka. Apa yang terjadi malam ini, apa yang terjadi bermalam-malam ke depannya, akan menjadi pesan-pesan abadi yang hanya akan  menjadi milik mereka berdua. Selamat ya Kura-kura, selamat ya Angsa, semoga kalian berbahagia !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: