Archive for November, 2014

h1

Satu Malam Penuh Cinta

November 10, 2014

Tonight, tonight, we fight

Making memories out of ordinary

Tonight we get one night, we will never forget

Praise the lord, lift the gold, the memory will never get old

Into the sea of blue we have dived into

Into the sea of joy we have deployed

2246273PersibJuara041415541756-preview780x390

Kiranya, begitulah sepotong sajak yang bisa saya tulis untuk menggambarkan kebahagiaan yang sedang saya alami. Belasan tahun saya menunggu, untuk sang pangeran meraih kembali tahta juara yang lama menghilang. Bukan hanya saya pastinya. Ribuan, atau bahkan puluhan, atau mungkin ratusribuan warga kota ini, sehati dengan saya. Menunggu sang pangeran mengambil kembali mahkotanya, mahkota juara Liga Indonesia. Sang pangeran itu bernama Persib. Persib Bandung. Pangeran Maung dari tatar Sunda. Saya sendiri sudah mengenal Persib sejak kecil. Tepatnya saya tidak ingat, tapi mungkin itu adalah bentuk cinta sejati, ketika kita tidak sadar sejak kapan kita jatuh cinta, yang kita tahu hanyalah sampai kapan kita akan jatuh cinta: selamanya.

4 November 2014. Persib Bandung vs Arema Malang. Pertandingan semifinal. Pertandingan penting yang akan meloloskan salah satu klub ke babak final Liga Super Indonesia musim 2013-2014. Formatnya sedikit aneh, liga, tapi finalnya berbentuk knock out round, tak perlu saya bahas, tapi intinya demikian. Pertandingan berlangsung sengit dan menegangkan. Ketegangan itu ditambahi oleh gosip-gosip tentang bagaimana pertandingan akan dipimpin oleh wasit yang seringkali merugikan wasit. Namun, pada beberapa menit awal, gosip itu sirna ketika tanpa ragu-ragu, si wasit memberikan pemain Arema sebuah kartu kuning. Awalan yang baik untuk meruntuhkan asumsi wasit yang berpihak. Kedua tim saling serang, hingga akhirnya pada babak kedua, Arema berhasil menjebol gawang sang pangeran lewat salah seorang penyerang paling berbahaya di Liga Indonesia: Alberto Goncalves. Menerima umpan jauh, ia berhasil mengecoh Vlado Vujovic yang melakukan kesalahan fatal mengantisipasi umpan tersebut, dengan mudah, Beto –nama panggilan Goncalves- berhasil membuat bola melewati penjagaan I Made Wirawan. 1-0 untuk Arema. Permainan terus berjalan dengan menegangkan karena Persib terlihat sangat kesulitan menembus pertahanan Arema. Namun, di sini feeling saya berkata bahwa Persib memang akan menang, terutama setelah Gustavo Lopez, kunci permainan Arema yang mendikte lapangan tengah mereka, ditarik keluar karena cedera. Benar saja, di menit 85-an, Vlado menebus kesalahannya dengan membuat gol ke gawang Arema. 1-1. Pertandingan pun dilanjutkan ke babak tambahan. Di babak ini, Makan Konate (yang biasanya bermain bagus, namun di pertandingan ini sihirnya seperti yang menghilang) kembali menggila. Pinpoint passing-nya yang sangat akurat berhasil mengobrak-abrik pertahanan Arema, bahkan ialah kreator gol kedua Persib yang diceploskan oleh Atep ‘Sepen’. 2-1. Pertandingan ditutup dengan sebuah gol dari Makan Konate sendiri. 3-1 untuk Persib. Persib melenggang ke final.

Di sini, saya belum tahu siapa lawan Persib. Apakah rival sekota, PBR alias Pelita Bandung Raya, atau sang juara bertahan, tim mutiara hitam, Persipura Jayapura. Saya sendiri tidak banyak mengecek twitter dan kawan-kawannya karena seharian sibuk di kampus. Saya kira PBR dan Persipura baru bermain keesokan harinya. Ternyata tidak, mereka sudah bermain sebelum Persib bermain, dan Persipura lah lawan yang menunggu Persib di final. Dalam sekejap, setelah pertandingan melawan Arema, timeline saya dibanjiri oleh optimisme warga Bandung yang sepertinya sangat yakin Persib akan juara. Saya sendiri mencoba untuk membuang jauh-jauh optimisme itu. Saya tidak mau kecewa. Lawan Persib adalah tim paling brutal di Liga Indonesia. Tim yang paling hebat. Persipura Jayapura. Lawan yang sangat kuat, tidak akan mudah untuk dikalahkan. Sejak 2004, Persib hanya bisa menang 1 kali dari Persipura dari 12 pertemuan. Luar biasa menyeramkan. Namun, ada beberapa factor yang membuat saya agak sedikit punya keyakinan bahwa Persib akan menang: Pertandingan dilakukan di tempat netral, di Gelora Jakabaring Palembang. Itu satu. Kedua, optimisme dan kegilaan warga Bandung yang membuat mereka mau pergi ke Palembang. Itu luar biasa. Namun, tidak demikian dengan pendukung Persipura. Jayapura terletak sangat jauh dari Palembang. Untuk pergi ke sana dari Jayapura, tidak semudah dari Bandung. Oleh karPena itu, saya yakin tidak banyak supporter Persipura yang bisa hadir. Ini akan menjadi keuntungan mental untuk Persib.

7 November 2014. Hari yang sangat ditunggu pun tiba. Persib vs Persipura. Pertandingan final Liga Super Indonesia. Saya sudah sangat menantikan pertandingan ini, bahkan, ketika di detik-detik terakhir Persib akan mengalahkan Arema, saya sudah semacam berjanji pada diri sendiri: “kalau Persib masuk final, saya akan bolos kuliah hari Jum’at demi mengejar nonton bareng pertandingan final di Bandung.” Tentunya itu dengan asumsi jika Persib menang, saya bersama bobotoh lainnya akan berpesta pora di jalanan selepas nonton bareng. Besoknya, saya putuskan untuk mebeli tiket kereta hari Jum’at siang. Memastikan niat saya saja. Namun ternyata, ada ajakan dari dua orang teman untuk pergi bersama ke Bandung dengan menggunakan mobil. Setelah dipikir-pikir, sepertinya bukan pilihan yang buruk. Daripada sendirian di kereta, waktu tempuh lebih lama, lebih baik bersama kawan dengan mobil. Tapi ternyata pilihan saya salah, karena teman saya dating terlambat, otomatis itu mempengaruhi lamanya perjalanan sampai ke Bandung. Jika dengan kereta saya bisa sampai pukul empat sore, dengan waktu keberangkatan pukul satu siang, dengan mobil, malah menjadi berangkat pukul setengah tiga sore dan sampai Bandung sekitar pukul tujuh, di mana pertandingan sudah berjalan setengah babak. Dibilang terlalu menyesali tidak, karena masih ada RRI yang setia menyiarkan pertandingan Persib. Ada kesan berbeda ketika mendengarkan pertandingan sepak bola dari radio. Saya selalu melakukan ini ketika Persib bermain dan saya harus pergi. Begitu juga dengan Everton ketika saya tidak bisa streaming pertandingan, maka saya streaming lewat radio resmi Everton.

Singkat cerita, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke rumah, menyelesaikan babak pertama, dan ketika istirahat, langsung pergi ke tempat nonton bareng yang sudah dipesankan oleh teman di Bandung. Perjalanan ke tempat nonton bareng biasanya ditempuh dalam waktu 20 menit saja dari rumah, namun kami salah, kami tidak memperhitungkan kondisi jalanan yang akan macet karena kegiatan nonton bareng orang-orang Bandung yang ternyata ada di mana-mana. Akhirnya kami tiba di tempat nonton bareng pada sekitar menit ke-77 pertandingan. Tak lama, tepat sebelum saya menemukan tempat yang sudah dipesankan oleh teman, Boaz mencetak gol yang menyamakan kedudukan. 2-2. Sebelumnya di mobil, kami mendengarkan dari radio bahwa M. Ridwan berhasil menjebol gawang Persipura sehingga skor menjadi 2-1, saat itu, salah satu kawan di mobil bersesumbar “ini kayaknya lebih asik kalau sampai adu penalti, kita dapat tegangnya nanti !” Ternyata, omongannya itu menjadi kenyataan. Memang agak mengesalkan, namun jika dipikir lagi, memang sepertinya akan hambar apabila menang di waktu normal. Memasuki waktu tambahan, pertandingan menjadi mencekam. Banyak sekali kesalahan-kesalahan krusial terutama di ‘gandengan’ antara gelandang bertahan Persib dan baris pertahanan mereka. Mereka berdiri sangat jauh, sehingga sangat sulit menutup pergerakan pemain Persipura yang beberapa kali dengan mudah memanfaatkan urang kosong antara lini tengah dan pertahanan Persib. Mental makin diuji ketika Vlado dikartu merah karena kesalahan yang agaknya kurang penting untuk dilakukan, mengingat dengan keuntungan lebih satu pemain pun Persib masih kesulitan untuk menaklukan Persipura. Akhirnya, pertandingan memasuki babak adu penalti.

Ini adalah momen adu penalti yang paling menegangkan dari hidup saya. Seumur hidup saya mengikuti pertandingan sepak bola, entah sudah beberapapuluh adu penalti yang saya tonton, namun inilah yang paling mencekik. Ini menentukan nasib sebuah kota. Akankah kami berpesta ? Ataukah kami bersedih ?. Ini menentuan cerita yang akan saya turunkan ke anak saya kelak. “Nak, dulu, ayah pernah lihat Persib juara. Sampai sekarang, ayah masih ingat skuadnya: I Made Wirawan, Supardi Nasir, Tony Sucipto, Vladimir Vujovic, Achmad Jufriyanto, Hariono, Makan Konate, Firman Utina, Ferdinand Sinaga, Tantan, dan M. Ridwan” Semacam itu lah. Ini juga penting untuk ayah saya. Sudah 19 tahun sejak terakhir kali Persib juara. Sudah seringkali ia kritik Persib, meskipun ia bukan penggemar bola yang fanatik, tapi, kata ibu saya, ayah saya sangat senang ketika Persib berhasil mengalahkan Arema di semifinal. Kembali ke adu penaltinya. Penendang pertama adalah Makan Konate dari Persib. Masuk. Penendang pertama Persipura adalah Boaz, masuk. Lalu terus menerus, secara bergantian. Masuk, masuk, masuk, masuk, masuk, lalu giliran Nelson Alom, penendang keempat Persipura. Saya tahu, ia adalah pemain muda berbakat. Entah kenapa, ada semacam perasaan bahwa Alom akan gagal karena faktor mental. Namun tidak berani saya ucapkan, takut sesumbar. Ternyata benar, Alom gagal. Tendangannya lemah dan terbaca oleh I Made Wirawan. Sekejap saja seisi kafe tempat kami menonton gagap gempita, karena berarti, tinggal satu tugas lagi untuk Persib, tepatnya untuk Achmad Jufriyanto, untuk memboyong piala ke Bandung. Ia adalah eksekutor kelima Persib. Jika ia berhasil menaklukan kiper cadangan Persipura, Dede Sulaeman, maka Persib akan meraih trofi Liga Super Indonesia setelah 19 tahun puasa. Makan Konate, Supardi Nasir, Tony Sucipto, Ferdinand Sinaga, semua berhasil mengeksekusi penalti dengan sangat baik. Detik-detik Achmad Jufriyanto mengambil bola dan meletakkannya di titik putih sangatlah menegangkan. Untuk menaikkan tensi, sekaligus menghilangkan tegang, saya mencoba berteriak “ASUP ! ASUP ! ASUP ! ASUP !” yang tanpa komando siapapun diikuti oleh semua orang di ruangan. Hanya dalam detik terakhir Jupe –panggilan Achmad Jufriyanto- bersiap mengambil bola saja, teman saya mengisyaratkan agar seisi ruangan lebih tenang. Hening. Sunyi. Ini adalah momen suci. Saya tidak berlebihan, saya yakin semua di ruangan itu tahu, sadar, turut merasakan, ini adalah momen yang sangat khidmat. Semua terdiam. Achmad Jufriyanto berancang-ancang, dan…. GOOOOLLL !!! Tendangan kerasnya merobek gawang Persipura. Di saat itulah seisi ruangan itu pecah. Tidak peduli siapa kamu. Pelayan, pengunjung, anak teknik, anak social, pengangguran, wartawan, laki-laki, perempuan, semua berteriak. Semua berteriak. Saya tidak akan melupakan momen itu. Saya menahan tangis sambil memeluk salah satu teman saya. “PERSIB JUARA RUL ! PERSIB JUARA !!!” Begitu, sambil berteriak. Tak lama, saya memeluk kawan-kawan yang lain. Ada salah satu kawan yang sudah semenjak SMP mendukung Persib bersama-sama, kami jarang melewatkan obrolan tentang Persib ketika Persib bermain, dan obrolan itu seringkali berakhir dengan “iraha juara nyak ?” Akhirnya terjawab sudah pertanyaan itu. 7 November 2014, Persib juara. Saya tidak tahu lagi, apakah di dunia ini ada padanan kata yang dapat menggambarkan betapa bahagianya saya saat itu. Dan saya yakin, kebahagiaan itu pun ada di dalam diri masing-masing yang hadir di sana.

Setelah pemberian gelar juara, kami memutuskan untuk langsung pulang. Kami menggunakan mobil Plat B. Jujur agak menyeramkan, tapi, dari rumah saya sudah memutuskan untuk membawa 2 buah jersey Persib. Cari aman. Ketika ada konvoi, keluarkan jersey tersebut, sambil ikut bernyanyi. Kami juga memang berharap bertemu dengan konvoi agar dapat bersama-sama meluapkan kegembiraan. Kami tidak salah. Baru beberapa ratus meter dari tempat nonton bareng, lalu lintas berhenti. Ternyata banyak bobotoh Persib yang menutup jalan. Kami tidak peduli kami tidur, kami tidak peduli kami lapar, kami memutuskan untuk turun ke jalan, ikut serta dalam kegilaan itu. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya, ikut dalam aksi menutup jalan untuk bergembira. Biasanya saya berpikir bahwa itu tindakan bodoh, namun jujur, demi apapun, untuk kali ini, saya harus menjadi orang munafik. Saya sangat larut dalam momen itu, saya buang idealism yang saya punya tentang tatanan, dan ikut larut dalam pesta anarkis itu. Anarkis di sini adalah anarkis dalam makna sesungguhnya. Tidak ada aturan yang berlaku. Identitasmu sama, selama kamu berbaju biru, dan berhatikan Persib. Semua sama-sama bergembira, baik yang kenal, maupun tidak. Beberapa kali pengendara motor berhasil melewati jalan dago yang ditutup dari Cikapayang oleh bobotoh, mereka berteriak “JUARAAA !! JUARAAA” dibalas dengan teriakan yang sama oleh orang-orang yang terjebak macet, bahkan beberapa di antaranya menyodorkan tangannya sekedar untuk melakukan ‘tos’. Ini adalah pemandangan yang sangat luar biasa. Saya kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan momen ini.

Suara habis. Tubuh lelah. Tugas menumpuk. Pengorbanan itu tidak sepadan dengan apa yang saya alami malam ini. Dengan pengorbanan yang hanya seperti itu, nampaknya terlalu murah untuk mendapatkan apa yang saya alami malam itu. Entah bagaimana perasaan mereka yang menonton langsung di Jakabaring, jujur, saya iri dengan kalian semua. Pastinya lebih gila, lebih emosional, dan akan lebih terpatri di dalam ingatan. Namun tetaplah, malam hari berpesta di kota sendri pun sepertinya tidak kalah mengasyikkan. Jadi ya, syukuri saja, walau ‘sekedar’ berpesta di kota sendiri.

Pesta pun berlanjut ke dua hari berikutnya. Pada hari Sabtu, saya memutuskan untuk tidak keluar rumah, karena tidak ada kepentingan di luar, dan kemacetan juga pasti terjadi di mana-mana. Ya sudahlah, di rumah saja, toh besok, di perayaan puncaknya, saya memang harus pergi ke pesta pernikahan teman. Memantau dari jejaring sosial sudah cukup bagi saya. Mari pindah ke hari Minggu.

Hari Minggu, kegilaan sudah terlihat di sepanjang jalan saya pergi menuju dago. Kemacetan mulai terbentuk di mana-mana, namun ya, tidak terlalu parah, jarak 40 menit menjadi dua jam. Bandingkan dengan nanti pulangnya, lebih gila lagi, 40 menit menjadi 4 jam. Singkat cerita, saya terjebak kemacetan lagi di daerah Dago hingga Jalan Merdeka, lalu kembali terjebak di Jalan Veteran. Tapi saya tidak terlalu peduli. Kaki pegal, namun di sepanjang jalan, saya dikelilingin oleh bobotoh-bobotoh lainnya. Hingga akhirnya saya berhenti total di jalan Veteran-Kosambi. Di sinilah kegilaan terakhir dalam rangkaian pesta ini terjadi pada saya. Ketika terjebak macet di situ, ternyata, bis iring-iringan Persib sedang akan melintas di sana !!! DAN YA ! SAYA BERPAPASAN DENGAN BIS TERSEBUT ! Dan salah satu pemain Persib melirik ke arah saya, dan melambaikan tangannya. Dia bukan sembarang pemain. Dia bisa dibilang adalah salah satu pemain yang paling berkontribusi untuk Persib musim ini. Namanya diabadikan sebagai pemain terbaik Liga Super Indonesia musim 2013-2014, namanya ? Ferdinand Alfred Sinaga. Itu adalah satu momen yang sangat luar biasa. Ketika menulis ini pun saya masih merinding. Bukan karena Ferdinand Sinaga itu se-mega bintang Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi, tetapi karena ia adalah Ferdinand Sinaga, pahlawan kota ini. Pahlawan Kota Bandung.

Sesampainya di rumah, badan remuk redam. Lelah, tapi saya tidak peduli. Saya senang. Persib juara. Saya bertemu mereka. Saya ikut merayakan ‘lebaran’ ini. Istimewa. Benar-benar istimewa. Sebelum tidur, saya masih mengingat-ngingat semua momen-momen yang terjadi. Air mata tidak terasa mengalir begitu saja. Ini adalah perasaan di alam bawah sadar. Tidak bisa saya atau kamu kuantifikasikan. Ini adalah perasaan yang selama belasan tahun dipelihara, perasaan sayang, cinta, yang terwujud dalam satu malam yang indah. Suatu malam penuh cinta. Cinta berwarna biru. Cinta sebuah kota pada sebuah organnya. Sebuah organ berbentuk klub sepak bola. Klub sepak bola bernama Persib Bandung. Jayalah selalu Persibku !!