h1

Persib vs Hanshin Tigers: Tentang Sports Fandom di Indonesia dan Jepang

January 8, 2015

tigers

Budaya Populer/Popular Culture

Tim Delaney, seorang sosiolog dari State University of New York at Oswego, mendefinisikan budaya populer sebagai suatu konsep yang memiliki berbagai macam makna, tergantung dari siapa yang mendefinisikannya, dan bagaimana penggunaaan konsepnya. Namun, secara umum, ia menyebut budaya populer sebagai: “the products and forms of expression and identity that are frequently encountered or widely accepted, commonly liked or approved, and characteristic of a particular society at a given time.”

Budaya populer mampu membuat massa yang heterogen mengidentifikasikan diri mereka secara kolektif. Budaya populer menyediakan peran-pran inklusioner dalam masyarakat yang membuatnya dapat mengikat massa ke dalam sebuah tingkah laku yang dapat diterima. Selain itu, budaya populer juga menempa rasa identitas yang mengikat individual ke dalam masyarakat yang lebih luas, mengkonsumsi produk budaya populer mampu meningkatkan prestise individu dalam kelompok mereka. Lebih jauh lagi, budaya populer, tidak seperti budaya rakyat atau budaya tinggi, memungkinkan para individual untuk mengubah sentimen yang berlaku dan norma tingkah laku. Oleh karena itu, budaya populer menarik bagi banyak orang karena ia menyediakan kesempatan untuk kebahagiaan individual dan pengikatan komunal.

Apakah Olah Raga Bagian Dari Budaya Populer ?

Bill Shankly, mantan pelatih legendaris Liverpool FC di Inggris, pernah mengatakan “Some people believe football is a matter of life and death, I am very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that .“ Sedangkan di tempat lain, George F. Will, seorang kolumnis di Amerika Serikat mengatakan hal yang agak sedikit mirip dengan Bill Shankly, mengenai olah raga baseball “Baseball, it is said, is only a game. True. And the Grand Canyon is only a hole in Arizona .” Kedua kutipan ini kiranya dapat menggambarkan posisi olah raga sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar permainan.

Bagaimana olah raga menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar permainan serta bagian dari budaya populer dapat dilihat dari kacamata fandom, sebuah konsep yang oleh Michael Serazio dari majalah the Atlantic gambarkan bagaikan sebuah agama. Dalam artikel yang berjudul “Just how much is sports fandom like religion ?” tersebut, Serazio menggambarkan dengan meminjam konsep Totem dari Emile Durkheim, bahwa klub olah raga yang didukung oleh para fansnya, bagaikan Totem yang mewakili Tuhan mereka:“For Durkheim, this all hinged on what he called ‘the totem.’ As he wrote, “On the one hand, [the totem] is the external and tangible form of what we have called the… god. But on the other, it is the symbol of that particular society we call the clan. It is its flag; it is the sign by which each clan distinguishes itself from others, the visible mark of its personality. “

Dengan kata lain, klub olah raga dalam fandomnya menjadi semacam simbol dari identitas eksklusif mereka sebagai fans dari klub tersebut. Ketika seseorang menjadi fans tim olah raga, dan ia mengenakan atribut tim tersebut, maka ia sedang memanjangkan totemnya dengan mengenakan sesuatu yang menjadi representasi dari kelompoknya

Mengutip Durkheim lebih jauh lagi, ketika seseorang/kelompok memuja totemnya, pada saat itu ia juga sedang memuja diri mereka sendiri. Selain itu, ada juga sebuah konsep dari Durkheim yang disebut dengan collective effervesence, di mana ada elektrisitas sosial yang muncul ketika sebuah kelompok berkumpul dalam sebuah ritual epik. Dalam relasinya dengan tim olah raga, fenomena ini dapat dilihat di ritual kemenangan (terutama ketika juara) sebuah tim olah raga.

Dalam parade kemenangan sebuah tim olah raga, sekelompok fans tim yang memenangkan kejuaraan, bisa dikatakan dapat berlaku sesukanya tanpa harus takut berurusan dengan hukum. Ini terjadi di parade kemenangan dua tim olah raga dari dua bagian dunia yang berbeda: Persib Bandung di Bandung, Indonesia, dan Hanshin Tigers di Osaka, Jepang. Dalam parade kemenangan Persib Bandung di kejuaraan Indonesia Super League musim 2013, fans Persib berlaku anarkis –bukan anarkis dalam kiasan media yang cenderung berarti melakukan kekerasan, tetapi anarkis dalam makna sesungguhnya, tanpa hukum, chaos, tanpa aturan-. Mereka bersepeda motor tanpa helm, menggerung-gerungkan knalpot kendaraannya, menerobos lampu merah, semua berlaku tanpa aturan. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Serazio di mana fans menurutnya: “might look like chaotic disorder but it is actually a rare moment of social order: a glimpse of spontaneous solidarity, an interlude of uninhibited integration” , walaupun baginya ini bukanlah alasan untuk melakukan tindakan-tindakan yang sudah disebutkan tadi.

Begitu juga dengan fans Hanshin Tigers di Osaka Jepang. Ketika memenangkan Japan Series pada tahun 1985, fans-fans ini melakukan tindakan anarkis –kembali, definisi anarkis yang bukan anarkis yang seringkali digunakan sebagai kiasan untuk kekerasan oleh media-, dengan menceburkan diri mereka ke sungai Dotonbori yang kotor. Selain itu, mereka juga melakukan hal yang konyol dengan menceburkan patung Colonel Sanders –maskot Kentucky Fried Chicken- ke sungai tersebut, dengan alasan ia mirip dengan salah satu pemain Hanshin Tigers pada waktu itu, Randy Bass .

Walaupun secara garis besar kedua fandom ini terdengar mirip –sama gilanya-, namun hal ini tidak bisa begitu saja disamakan. Ini karena kondisi sosial dan sejarah olah raga di kedua negara sangatlah berbeda. Maka dari itu, saya akan mencoba menganalisa kedua kultur fandom ini dengan konsep kebudayaan sebagai sesuatu yang dinamis, karena kebudayaan tentang sports fandom ini berubah dari masa ke masa di masing-masing negara. Ini juga berkenaan dengan konsep budaya populer di mana ia memungkinkan masyarakat untuk mengubah “kebudayaan” untuk mengakomodir kepentingannya. Untuk itu, saya akan membahas terlebih dahulu dua buah jurnal yang meneliti tentang sports fandom di kedua negara, yang pertama adalah Brajamusti: Soccer Fandom and Urban Identity in Yogyakarta oleh Andy Fuller untuk memahami kultur fandom di Indonesia, dan Sense and Sensibility at the Ballpark oleh William W. Kelly untuk memahami kultur sports fandom di Jepang.

Sports Fandom (Sepak bola) di Indonesia

Menurut Fuller (2014: 1), kelompok supporter memainkan peran vital di dalam kehidupan sepak bola Indonesia. Walaupun aksi di atas lapangan kelihatannya setengah hati dan problematis, para fans tetap menunjukkan semangat dan loyalitas yang tidak pernah mati. Fans –supporter, hooligan, atau ultras- juga memainkan peran dalam mempertunjukkan perbedaan dan identitas kota yang mereka representasikan.

Dalam artikel ini Fuller (2014: 17) menyimpulkan bahwa para supporter PSIM (Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram) yang tergabung dalam Brajamusti mengedepankan perbedaan identitas mereka sebagai orang Jawa dan sebagai orang Yogyakarta. Kelompok supporter ini terdiri dari jaringan kompleks para aktivis dan anak muda yang muncul dari berbagai macam latar belakang baik ekonomi maupun sosial. Brajamusti ingin merepresenasikan PSIM dan kota Yogyakarta.

Apabila mengacu kepada konsep-konsep tentang fandom di atas, maka Brajamusti menggambarkan bagaimana ada identitas baru yang dimunculkan dengan menjadi seorang fans klub sepak bola. Fuller menggambarkan bahwa Brajamusti ingin merepresentasikan PSIM, dan kota Yogyakarta, berarti, Brajamusti bukanlah Yogyakarta, baru ingin menjadi ‘bagian’ dari Yogyakarta, padahal, isinya sendiri adalah orang Yogyakarta. Mengapa orang Yogyakarta tidak bisa menjadi bagian dari Yogyakarta ? Inilah titik di mana identitas baru tersebut muncul. Kembali ke definisi awal budaya populer pun demikian, ini adalah proses di mana menjadi fans sepak bola adalah bagian dari budaya populer. Karena ia bisa ditolerir, mengkonsumsinya meningkatkan prestise di masyarakat, menempa rasa identitas ke dalam masyarakat yang lebih luas, serta (dalam proses) mengubah sentimen (yang melihat Brajamusti sebagai tukang rusuh) yang berlaku.

Konsepsi-konsepsi tadi juga berlaku dengan para Bobotoh di kota Bandung. Mereka tidak jauh berbeda dengan Brajamusti. Perbedaan yang mengena hanyalah idenitas dari mana mereka berasal. Apabila Brajamusti mengidentikkan diri mereka dengan Yogyakarta, maka Persib mengindetikan diri mereka dengan Bandung. Bobotoh sendiri sebenarnya memang dicap sebagai tukang rusuh di Bandung. Tindakan kekerasan mereka yang berkenaan dengan mobil-mobil Plat B (Jakarta, yang merupakan kota asal rival mereka, Persija), adalah suatu hal yang lumrah diberitakan tiap kali Persib bermain. Namun, hal ini mulai berusaha dirubah baik oleh bobtoh sendiri, maupun oleh pemerintah kota Bandung, melalui Wali Kota Ridwan Kamil –yang juga seorang bobotoh – yang ingin mencoba merubah persepsi umum tentang bobotoh. Salah satunya adalah dengan menawarkan ganti rugi kerusakan kendaraan Plat B yang dirusak bobotoh –oknum- ketika pawai kemenangan Persib bulan November 2014 .

Ini menggambarkan bagaimana dalam lingkup budaya populer, ada aktor-aktor yang mampu merubah ‘kebudayaan’. Kebudayaan di sini mengacu kepada definisi dari Clifford Geertz (Geertz, dalam Alam 2014: 35-41) :“an historically transmitted pattern of meanings embodied in symbols…by means of which men communicate, perpetuate, and develop their knowledge about and attitude toward life”. Kebudayaan yang dimaksud adalah cara pandang terhadap bobotoh, dan cara mendukung persib sendiri. Kebudayaan yang ada terhadap bobotoh adalah bagaimana bobotoh diposisikan sebagai tukang perusuh di masyarakat. Di mana simbol-simbol yang merekat kepadanya dikaitkan dengan tindak pengrusakan. Namun, bagi Bachtiar Alam (2014: 35-41), kebudayaan adalah sesuatu yang bersifat dinamis, ia bisa berubah, apa lagi berkaitan dengan ‘subjek pendukung kebudayaan’ yang dapat mengambil bagian dalam proses konstruksi kebudayaan, yang pada gilirannya berkaitan erat dengan kekuasaan serta kepentingan.

Dalam hal ini, Ridwan Kamil sebagai wali kota Bandung yang juga seorang bobotoh dan tentunya memiliki kuasa, mampu membantu mengubah kebudayaan yang memandang bobotoh sebagai tukang perusuh, serta mampu (setidaknya mencoba) membuat paradigma baru dalam mendukung Persib: dengan tidak merusak. Tindakan Ridwan Kamil yang mencoba mengganti kerusakan mobil Plat B dapat dilihat sebagai sebuah tindakan yang mendukung klub secara moriil: membangun citra klub menjadi lebih baik.

Dari paparan tentang sports fandom di Indonesia, dapat saya simpulkan bahwa sports fandom di Indonesia berkaitan dengan identitas kedaerahan, di mana PSIM dan Brajamusti adalah Yogyakarta dan Persib Bandung dan bobotoh adalah Bandung. Namun, keduanya tidak begitu saja berkaitan secara pasti karena adanya identitas lain yang mendistorsi proses identifikasi dari keduanya, dan ini adalah identitas fandom itu sendiri. Fandom sendiri tidak bisa begitu saja disamaratakan dengan identitas suatu kota. Ia adalah bagian dari suatu kota, namun tidak serta merta mereprsentasikan kota itu sendiri. Selain itu, sports fandom di Indonesia juga berkaitan dengan kekuasaan. Seperti contohnya apa yang dilakukan oleh Ridwan Kamil dalam membangun Bandung serta citra bobotoh sendiri. Sepak bola di Indonesia adalah sesuatu yang more than a game.

Sports Fandom (Baseball) di Jepang

Mengacu kepada artikel William W. Kelly (2004: 84), fandom di Jepang juga mengedepankan identitas kedaerahan. Para pendukung Hanshin Tigers bisa menjadi fans Hanshin karena mereka adalah orang Osaka dan tim mereka diinvestasikan dengan kebanggaan dari Osaka, namun, ketika mereka menjadi fans Hanshin, mereka akan lebih membanggakan ke-Osaka-an mereka. Ini dikarenakan dukungan terhadap tip dan identitas lokal saling mendukung secara mutual. Meski demikian, mereka jarang (bahkan di artikel ini sama sekali tidak disebutkan) melakukan tindak pengrusakan di luar stadion.

Satu-satunya tindakan yang diceritakan di dalam artikel ini yang berkenaan dengan pengrusakan adalah peristiwa pelemparan botol dan megafon ke dalam lapangan, dan juga penonton yang merangsek masuk ke dalam lapangan.
Kelly (2004: 101) melihat fandom baseball di Jepang sebagai suatu fandom yang sudah tertata rapih, dan bersifat sangat komersil. Ini berbeda sekali dengan fandom Hanshin pada tahun 1985, yang ketika juara, mereka dikabarkan melakukan tindakan ekstrem hingga berani membajak kereta (selain menceburkan diri ke Sungai Dotonburi). Dari perbandingan di masa lalu dan masa sekarang (artikel Kelly ditulis pada tahun 2004), dapat dilihat perbedaan yang cukup signifikan. Terlepas dari Hanshin yang belum pernah menjuarai Japan Series lagi, memang ada aturan dari pemerintah dan kepolisian Osaka yang tidak memperbolehkan orang-orang untuk menceburkan diri ke Sungai Dotonbori .

Selain itu, Kelly (2004: 92) juga menulis bahwa adanya kerjasama antara para fans dengan petugas dari klub sendiri membantu terciptanya suasana kondusif ketika pertandingan berjalan. Ini dicontohkan dengan pengibaran bendera yang kadang mengganggu penonton yang duduk di belakang, pada tahun 1992an. Ini adalah tanda dari bagaimana pemegang kepentingan mencoba mengubah kebudayaan yang sebelumnya sudah ada.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil adalah, kedua fandom memiliki karakteristik yang mirip, keduanya masih memegang erat identitas kedaerahan masing-masing klub yang mereka gemari. Keduanya juga memberikan identitas baru, sesuai dengan konsep fandom dan budaya populer sendiri. Keduanya pun sama-sama mengalami perubahan dari masa ke masa. Di mana Persib dan bobotoh sedang membenahi diri agar tidak dicap negatif, sedangkan Hanshin Tigers telah berhasil mengubah diri mereka menjadi fans yang tertib aturan. Ini juga merupakan sebuah gambaran bagaimana budaya populer mampu mengakomodir kepuasan individu, baik secara individu, maupun secara kelompok. Dan terakhir, adanya keterhubungan antara individu penonton dengan kelompok pemegang kepentingan. Dalam Persib Bandung, bisa dilihat bagaimana pemerintah kota Bandung melalui Ridwan Kamil berusaha mengubah Persib dan bobotoh agar menjadi lebih baik, sedangkan dalam Hanshin Tigers, klub melakukan pendekatan terhadap para fans agar terciptanya situasi kondusif di lapangan

(Daftar pustaka sengaja tidak dimasukkan di sini~)

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: