Archive for February, 2015

h1

Because It’s Fun to See Girls Kissing

February 25, 2015

Ok, berawal dari main request-request-an, berhujung dengan tantangan untuk menulis tentang homoseksual. Bagi kebanyakan orang, terutama di Indonesia, homoseksual bukanlah sesuatu yang lazim dibicarakan di ruang publik. Homoseksual adalah tabu. Ia menyimpang. Menyimpang dari mana ? Norma agama dan norma sosial. Secara kesehatan sendiri, homoseksual tidaklah lagi dikatakan sebagai sebuah penyakit. Tapi ya sudahlah, saya tidak akan mencari pembenaran atau penyalahan tentang homoseksual sendiri. Bagi saya, homoseksualitas bukanlah sesuatu yang tabu lagi. Dulu, ketika SMA, homoseksual(itas) dijadikan komoditas bercandaan teman-teman saya, dan ketika kuliah, saya mendapatkan banyak kuliah yang berkenaan dengan homseksualitas.

Nah, bingung kan, kenapa anak Hubungan Internasional belajar tentang homoseksualitas ? Baiklah, akan saya ceritakan sedikit. Jadi, pelajaran tentang homoseksualitas saya dapatkan di mata kuliah Gender Dalam Hubungan Internasional. Ini mata kuliah keren. Dosennya terutama. Kenapa ? Karena kita tidak diajarkan begitu saja tentang gender dalam hubungan internasional. Tapi kita diajari dulu dasar-dasar ilmu tentang gender, terutama tentang feminisme. Feminisme ini akar dari sesuatu yang kelak diajarkan di kelas Studi Budaya: Queer Theory. Tapi sebentar, sebelum masuk ke Queer Theory, sedikit bahas dulu tentang gender dalam Hubungan Internasional. Intinya sih, tentang bagaimana gender bermain di dalam Hubungan Internasional. Tentang peran-peran wanita dalam hubungan internasional. Juga tentang bagaimana Hubungan Internasional dilihat dari perspektif feminisme dan maskulinisme. Bagaimana negara-negara berinteraksi dengan negara lainnya, seperti satu gender berinteraksi dengan gender lainnya.

Sekarang, balik ke Queer Theory. Queer Theory itu kumpulan teori-teori tentang ketidakcocokan antara seks, gender, dan keinginan. Kebanyakan meneliti tentang LGBT. Kebetulan, dulu salah satu rekan bimbingan saya, senior saya, adalah seorang gay. Ia menggunakan pendekatan Queer Theory dalam hubungan internasional. Luar biasa bukan ? Saya sendiri sampai bingung baca skripsinya. Dan tentunya, dalam setiap bimbingan, kelompok bimbingan kami anggotanya selalu saling bertukar ide, jadi di situ, saya banyak memahami tentang homoseksualitas melalui queer theory. Intinya sih, bagi saya, itu hal yang biasa-biasa saja. Pilihan. Kalau mau dikaitkan dengan agama… ah, saya tidak mau, bukan kapasitas saya untuk berbicara tentang itu.

Belakangan, ada tren baru muncul mengenai homoseksual, di mana homoseksualitas menjadi genre baru dalam manganime Jepang. Yuri dan Yaoi. Yuri menggambarkan hubungan sesama wanita, sedangkan Yaoi menggambarkan hubungan sesama pria. Awal kemunculannnya bagaimana saya tidak tahu. Sedang malas googling juga. Jadi pakai saja yang ada di kepala. Teori saya sih, sebenarnya dimulai dari kegemaran orang-orang untuk bikin Doujinshi, karya manga atau anime yang diplesetkan –dengan cara yang lucu. Mungkin, lama kelamaan, plesetannya jadi merembet ke hal-hal yang berbau imajinasi liar. Ya seperti seks sesama jenis. Tapi saya rasa, kultur ini dimulai dari tipe karakter bishonen (cowok cantik) dan bishojo (cewek cantik).

Konon, karakter bishonen pertama di manganime mainstream adalah Kurama dari Yu Yu Hakusho karangan Yoshihiro Togashi. Wajar kalau Kurama dibilang cantik. Rambut panjang, mata lentik, badan langsing, ditambah senjata yang berupa bunga-bungaan. Sangat feminim sekali. Dari sinilah imajinasi liar dimulai. Kalau dikembalikan ke teori gender, feminim adalah oposisi dari maskulin. Tapi, oposisi di sini, akan berakhir dengan berpasang-pasangan. Dalam pandangan klasik, gender feminim tentunya disematkan kepada wanita, sedangkan gender maskulin disematkan kepada pria –keduanya secara seksual-. Namun, dengan adanya para pendobrak tembok seperti kurama ini, ternyata atribut feminim bisa disematkan kepada pria, dan mungkin, jadinya tidak cukup jelek. Jujur, Kurama adalah salah satu karakter favorit saya di anime Yu Yu Hakusho, nomor 3 setelah Jin dan Touya dari tim Mahoutsukai. Ketika atribut feminim disematkan kepada pria yang semestinya beratribut maskulin, maka muncullah imajinasi liar lainnya di mana pria beratribut feminim dipasangkan dengan pria yang tetap beratribut maskulin. TARAAAAA~ lahirlah genre yaoi ! (tentunya ini adalah teori yang sangat sok tahu, saya buat tanpa kroscek, namanya juga blogpost, jangan dikutip buat karya akademis ya !).

Ternyata, genre ini banyak penggemarnya. Nah, banyak yang penasaran, bagaimana sih saya menanggapinya sebagai pria heteroseksual ? Bagi saya, saya pribadi tidak suka. Tapi kalau mau ada yang suka ya silahkan saja. Kembali, ini sih masalah selera. Saya tidak berselera melihat pria berhubungan asmara dengan pria lain. Jijik ? Ya, hampir seperti melihat Justin Bieber lah. Sama tidak sukanya. Tapi dengan alasan dan derajat yang berbeda. Intinya sih ya tidak sesuai dengan selera. Kalau mau ada yang suka, silahkan, mau pria, mau wanita, transgender, transeksual, biseksual, bebas, itu sih pilihan masing-masing, dan resiko (dilihat seperti apa oleh masyarakat) silahkan tanggung sendiri.

Apa justifikasi saya untuk mempersilahkan orang lain menikmati genre yaoi ? Sederhana saja. Saya juga menikmati genre Yuri. JENG JENG JENGGGGG. Kalau sedang mencari koleksi hentai milik teman (ah ketahuan deh…) terkadang saya suka agak tertarik dengan tag yuri. Unik saja sih, walaupun saya lebih suka dengan genre heteroseksual vanilla osananajimi. Ish. Hafal banget nih. Ya, pokoknya begitu, saya sendiri jujur saja, jika diberi manga yuri yang art dan jalan ceritanya bagus, saya nikmati juga. Bagi saya sih itu tidak mengurangi maskulinitas saya. Toh dua-duanya wanita. Lebih seru kalau bayangkan diri saya ada di situ. Iya nggak sih ? Mungkin itu juga perasaan para penikmat manga yaoi. Mungkiin. Atau mungkin karena gemes saja ? Tidak tahu juga ya.

Ah dan satu lagi. AKB48. Jujur, banyak yang bilang laki-laki yang suka AKB48 itu levelnya nyebelinnya sama dengan perempuan yang suka manga yaoi. Sama-sama delusional lah, sama-sama anonoh lah, ah saya mah tidak peduli. Kapan lagi bisa lihat cewek semanis Yagami Kumi dan Kimoto Kanon berciuman di toilet dengan gaharnya ? Atau cewek secantik Sato Sumire dan Azuma Rion berciuman di tempat tidur pasien dengan baju suster ? Iya. Imajinasi seperti ini bisa didapat dari PV-PV AKB48 dan SKE48. Luar biasa bukan ? Saya sih jujur saja, senang melihatnya. Mungkin memang tipis dengan pornografi, tapi ya itulah.

Pasti banyak yang bilang itu adalah sesuatu yang ‘nggak-nggak’ atau ‘bukan-bukan’, tapi bagi saya, dalam menikmati hal seperti itu, 1 yang harus, dan wajib diingat. Tentang peran. Banyak orang yang lupa bahwa dalam menikmati hal yang berbau homoseksual, yang dinikmati hanyalah peran. Itu hanya akting belaka. Tidak perlu terbawa ke dunia nyata. Menikmati produk berbau lesbian seperti AKB48, ya itu hanya peran saja. Di dunia nyatanya mereka heteroseksual. Yah, memang mungkin ada yang lesbian juga, tapi ya kembali lagi, itu pilihan mereka. Apa lagi dengan manga. Mereka yang menikmati manga yaoi atau yuri juga hanya menikmati gambar dan imajinasi saja bukan ? Toh di dunia nyatanya, mereka berhubungan dengan manusia-manusia biasa juga. They’re just enjoying their wildest imagination. Coba saja tanyakan, ketika dihadapkan pada situasi itu (misal, melihat wanita dan wanita berhubungan badan di depan mata untuk cowo, dan sebaliknya untuk cewe) apakah kamu mau bergabung ke sana ? Belum tentu. Tidak semua orang bisa menangani imajinasi terliarnya. Ada kalanya imajinasi baiknya menjadi imajinasi saja. Kadang, jika kenyataan terlalu indah pun, kita suka berpikir “apakah ini mimpi ?” ya, terkadang manusia memang hanya berani berpikir, tanpa pernah sekali pun membayangkan apabila pikirannya menjadi nyata.

Pada akhirnya, menikmati hal-hal seperti ini kembali ke selera masing-masing. Setiap orang punya preferensi imajinasinya sendiri. Siapalah kita untuk menghakimi imajinasi orang lain ? Saya pasti akan tersinggung apabila ditegur oleh orang yang bilang “Bim, ngapain sih maneh ngancurin GBK pake dinosaurus ?”

Advertisements
h1

Ketika Mimpi Kepentok Tembok

February 24, 2015

Kalau ditanya, “apakah kamu punya mimpi ?” rasa-rasanya, hampir semua orang pasti jawab “punya !”. Tak terkecuali saya sendiri. “Apakah kamu punya mimpi, Bim ?” jawabku “tentu saja, ada banyak.” Namun, kalau ditanya sudah terwujud atau belum, ya tentunya ada yang sudah dan banyak yang belum. Yang sudah sih mimpi-mimpi yang sederhana saja, seperti menonton konser-konser grup musik favorit. Itu sudah cukup banyak. Tapi mungkin yah, bisa dibilang itu mimpi yang sepele. Yang mungkin tidak berpengaruh besar pada hidup. Hanya meningkatkan mood untuk beberapa waktu saja. Untuk mimpi-mimpi yang besar, seperti misalnya menjadi xxxxx (silahkan isi sendiri), itu belum tercapai. Tapi dengan seizin Allah, semoga bisa tercapai.

Sudah satu paragraf berbicara tentang mimpi, tapi belum disebutkan apa sih mimpi itu ? Yah, saya tidak akan pakai definisi kamus, tapi pakai definisi sendiri saja. Bagi saya, mimpi itu selain bunga tidur (1), juga adalah angan-angan yang ingin dicapai (2). Mungkin untuk definisi yang nomor (2) ini disebut mimpi juga karena ya begitu, tidak nyata, tapi serasa nyata. Serasa nyata di sini maksudnya, kita bakal mati-matian mengejarnya. Apapun yang terjadi. Kita tidak tahu kan, apa yang akan menghalangi mimpi kita kelak ? Tapi kita tetap berusaha. Itulah. Karena itulah disebut dengan mimpi. Mungkin. Tapi ya pokoknya begitulah.

Bagaimana caranya meraih mimpi ? Ya tentunya terus berusaha, dan berdoa bagi yang percaya. Buat apa sih sebenarnya berdoa ? Tentu biar dikabulkan Tuhan, supaya usaha kita dibantu oleh Tuhan. Walaupun mungkin secara tidak langsung (pasti tidak langsung sih, tidak mungkin kan berdoa ingin kaya, lalu tiba-tiba ada 1 ton emas di depan mata ?), setidaknya ada sesuatu yang kita tanamkan di hati: suatu saat, Tuhan akan mengabulkannya. Itu bagi yang percaya. Bagi yang tidak, ya sudah, berusahalah hingga berhasil.

Berjuang untuk mewujudkan mimpi tentunya tidak mudah. Jika mudah, maka bermimpi tidaklah indah. Mengapa ? Ketika tertidur, lalu sedang bermimpi indah, dan kita terbangun, maka mimpi kita usai. Analoginya agak mirip. Ketika kita berangan, lalu langsung terwujud, rasanya ada yang hilang. Usaha. Namanya usaha. Usaha si anak hilang. Percayalah, ketika segala mimpi bisa terwujud dengan mudah, hidup akan menjadi membosankan. Kalau pernah membaca komik petualangan Doraemon dan Labirin Kaleng, diceritakan bahwa di suatu planet (lupa namanya), manusia hidup dengan mudah karena mereka berhasil menciptakan robot yang mampu melayani mereka dengan terus menerus (jangan pikirkan tentang sumber daya, tidak dibahas). Di situ, Nobita dan kawan-kawan merasa iri, dunia impian katanya. Tapi kata Shapiro, tidak sesederhana itu. Manusia akhirnya jadi malas dan kehilangan kekuatan tubuhnya. Begitu gambarannya. Karena hidup terlalu mudah, akhirnya manusia menjadi malas.

Bagaimana dengan mimpi yang tidak kunjung terkabul ? Judul tulisan ini mengambil petikan dari paragraf ini. Penting ? Belum tentu sih, tapi enak didengar saja. Suaranya berima. Ketika mimpi kepentok tembok. Temboknya tentunya metafor. Hanya sekedar gambaran saja. Iya, adakalanya mimpi yang sudah di depan mata tiba-tiba terhadang oleh masalah yang tidak terduga. Ketika kita berlari kencang dan akan meraihnya, tiba-tiba muncul tembok dari tempat antah-berantah yang menyebabkan muka kita kepentok ke tembok itu. Sakit. Selain itu jadi muka jadi rata dengan tembok, seperti Mister Gepeng. Kalau sudah begitu bagaimana ? Ada banyak sih caranya. Kalau kamu cukup nekad dan kuat, jebol temboknya. Kalau kamu jeli, kamu bisa cari celah di tembok itu, lalu hancurkan secara pelahan. Kalau kamu lincah dan yakin dengan kemampuan reflek serta cengkaraman jarimu, panjat tembok itu. Kalau kamu pintar, kamu bisa cari jalan memutari tembok itu. Banyak. Coba analogikan dengan mimpi kalian. Saya ambil contoh. Kamu mau kuliah di luar negeri. Kalau kamu nekad, kamu kumpulkan sedikit uang di sini, hingga cukup untuk membeli tiket pergi dan mengurus visa, lalu carilah universitas di sana yang mau menerimamu dengan beasiswa. Kalau kamu jeli, kamu bisa mencari beasiswa yang kiranya mudah didapat dan tidak banyak caranya. Kalau kamu lincah dan yakin, kamu bisa bersaing dengan orang lain mencari beasiswa yang prestisius. Kalau kamu pintar, mungkin kamu bisa bekerja dulu, dan membiarkan kantormu yang membayarkan biaya kamu kuliah. Banyak kan jalannya ?

Kalau begitu lama dong prosesnya ? Hmm. Lama atau cepat, itu relatif. Apabila mengikuti relativitas waktu milik Einstein, di mana waktu bergerak berbeda (lebih cepat atau lambat) tergantung dengan gravitasi. Jika kamu memang benar-benar ingin mengejar mimpi itu, tentu waktu akan berjalan cepat, tidak terasa. Setidaknya, itulah yang akan kamu paksakan untuk rasa. Jika sebaliknya, ya mungkin waktu akan berjalan lambat. Tapi ya itu tadi, semuanya akan menjadi relatif. Bagi si A, menunggu selama 1 tahun tidak masalah, berbeda dengan si B yang merasa dalam 1 tahun ada banyak hal lain yang bisa dikejar. Manusia memiliki gravitasi masing-masing yang mempengaruhi waktunya. We are our own blackhole.

Terakhir, ketika mimpi tidak tercapai. Harus bagaimana ? Pasrah ? Terus mencoba ? Atau mencari mmipi lain ? Terserah. Tapi yang pasti, satu yang harus dilakukan dulu: menerima kenyataan. Ingat, apa yang baik bagi kita, belum tentu baik bagi orang lain, Tuhan, dan alam semesta. Mengapa harus memaksakan apa yang baik bagi kita dan tidak baik bagi yang lainnya ? Mungkin ini terdengar sangat moralis busuk, tapi adakalanya kita harus melupakan diri kita sendiri. Ada saat di mana kita harus ingat bahwa kita hanyalah bagian kecil dari alam semesta, di mana ketiadaan dan keberadaan kita hanya memeberi sedikit makna bagi alam semesta. Kadang. Walaupun apabila diperkecil scope-nya, kita akan menemukan entitas lain yang menganggap penting keberadaan kita. Seperti kawan misalnya. Atau pacar. Atau keluarga. Atau binatang peliharaan. Ketika kura-kura kesayangan kita tidak kita beri makan, dia bisa mati. Kasihan nanti.

Begitulah kiranya tulisan saya tentang mimpi. Tidak terlalu panjang dan berisi, tapi setidaknya, perasaan saya tersampaikan ke dalam tulisan ini. Bagi saya, itu sih yang penting. Bagaimna mengekspresikan diri sendiri. Tidak peduli apa kata orang, yang penting tulis.

Jadi, bagaimana denganmu, apakah kamu masih mau bermimpi ?

h1

I Love Monday

February 23, 2015

Terbangun jam 3.30 di pagi hari itu bukan waktu yang pas. Terlalu cepat untuk solat subuh, terlalu siang untuk tidur lagi. Biasanya kalau terbangun di jam seperti ini, saya suka memaksakan untuk tidur lagi. Tapi tadi, saya malah memeriksa telepon genggam, dan membuka aplikasi twitter. Cuitan-cuitan yang ada cukup menarik. Mulai dari orang yang menyarankan admin dari Sejarah RI untuk jadi buzzer karena bukunya laku terus (sumpah, ini lucu), kritikan fans Everton terhadap Roberto Martinez (I still like him, don’t kick him out, we’re still superior in the Europe), kemenangan AC Milan terhadap Cessena (bellissimo !), tapi yang paling menyentil adalah dari @Viny_JKT48; “I love Monday,” katanya. Wow. Dari dulu saya memang suka gaya dia yang selalu positif dan baik hati –serius-, dan entah kenapa, kali ini saya cukup terinspirasi untuk bikin tulisan ini. Saya bangun dari tempat tidur, masih gelap-gelapan, pasang playlist Casiopea yang isinya lagu-lagu di album Asian Dreamer, lalu mulai memainkan papan ketik komputer jinjing dalam gelap.

Ini tentang Hari Senin. Menyikapi Hari Senin. Hari Senin sebenarnya –seperti hari lainnya- adalah sekat. Sekat waktu yang diberikan manusia untuk menandai pekerjaan-pekerjaannya. Awalnya bagus, untuk menentukan masa yang tepat dalam bercocok tanam. Lama kelamaan digunakan sebagai penanda untuk masa kerja dan istirahat. Juga sebagai penanda keTuhanan. Ada hari yang istimewa, ada hari yang biasa saja, ada hari yang jelek. Setidaknya, begitu bagi mereka yang percaya.

Banyak yang tidak suka dengan Hari Senin. Alasannya sederhana: karena sudah harus kembali beraktivitas (yang tidak enak seperti kerja) setelah menjalani akhir pekan. Apalagi jika akhir pekannya menyenangkan, seperti kemarin. Long weekend, terus nonton AKB48. Oh, itu sih saya. Dan beberapa kawan saya. Juga beberapa orang lain yang sama beruntungnya. Eh kok, jadi bahas itu ? Iya, banyak yang tidak suka Hari Senin karena Hari Senin adalah awal dari rutinitas mingguan. Menyebalkan katanya. Seperti menginjak pedal gas mobil dalam-dalam setelah mobil berhenti total karena rem mendadak. Badan jadi goyah karena gravitasi jika itu terjadi. Iya kan ? Gravitasi kan ?

Saya bukan Mario Teguh. Saya tidak suka motivator. Ini juga bukan tulisan tentang motivasi. Ini hanya tulisan ketika terbangun di tengah malam, dan otak ternyata masih panas. Ini tulisan tentang Hari Senin.

Ketika alarm waker atau telepon genggam berbunyi pada pukul 05.30 di pagi hari, bagi beberapa orang, itu adalah waktu yang sangat menyebalkan. Dipaksa membuka mata oleh para algojo waktu yang mereka pikir tidak tahu tata krama. “ah bangke, masa iya jam segini gue lo bangunin ?” begitu tanyanya. Padahal ia sendiri yang menyetel alarmnya. Ia sendiri yang butuh. Algojo itu tidak kenal waktu. Yang mereka tahu, pada pukul 05.30 lah mereka harus menyalak. Mereka hanya menjalankan tugasnya. Mereka tidak bangke. Bangke adalah sebuah ketiadaan bagi mereka. Mereka tahu, mereka dibenci, tapi mereka juga tahu, manusia tidak bisa hidup tanpa mereka.

Setelah terbangun oleh algojo, beberapa orang ini ada yang langsung ke kamar mandi, mengambil air wudhu untuk solat subuh, ada yang ke kamar mandi untuk buang hajat (hei, ritme orang berbeda-beda sobat), ada yang langsung loncat dari tempat tidur karena ternyata meeting-nya dipercepat jadi pukul 05.45 (diberitahukan melalui surat elektronik yang tidak sengaja masuk ke folder spam), ada juga yang bangun perlahan, mengecup dahi istrinya, lalu pergi ke dapur dan mengambil pisau –ada yang dipakai untuk memotong bahan-bahan untuk membuat roti isi, ada juga yang dipakai untuk memotong leher istrinya-, dan tentu saja, ada yang menekan tombol snooze, untuk menambah waktu tidur barang 5-10 menit (ada juga yang mematikan alarm untuk menambah waktu tidur barang 1-2 jam).

Berbagai macam tindakan yang dilakukan manusia untuk menyikapi algojo ini. Setelah terbangun dan sadar (ada juga yang masih mengawang-awang), mereka menulis sesuatu di media sosialnya. “Senin lagi, Senin lagi” atau “Anjis udah Senin lagi lah, FAAKKKK” atau “Forza Milan !” atau “Liverpool akhirnya menang euy” atau “Sleeping at 05.30 am. WOW” atau “Woke up at 05.30 am. Got enough sleep,” atau seperti Viny JKT48 “I love Monday.”

Sikap mencintai Hari Senin adalah sebuah fitur yang saya yakin disukai oleh para korporat-korporat yang sering kita bilang brengsek dan menyerap manusia hingga ke tulang-tulangnya. Karena artinya, para pecinta Hari Senin ini sudah siap memberikan segala kemampuannya demi perusahaan. Jika sudah demikian, tentunya perusahaan yang diuntungkan. Tujuan utamanya –mencari untung- akan tercapai. Mereka senang melihat pegawainya yang begitu cintanya pada perusahaan, sehingga lebih memilih untuk bekerja daripada berleha-leha.

Mungkin ini terdengar menyedihkan, tapi jika tidak bekerja, tidak dapat uang. Buya HAMKA pernah berujar, sebuah kalimat yang sangat terkenal, tapi saya sendiri tidak tahu kalimat ini ada di mana dan kapan keluarnya, juga dalam konteks apa. Tapi jika untuk meraba-raba saja, bisalah saya mengerti. “Kalau hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga kerja.” Kalimat yang unik. Sebagai non-vegan dan bukan penyuara hak hewan, kalimat ini menekankan bagaimana manusia itu sebenarnya berbeda dengan hewan. Manusia bisa memberi makna lebih pada hidupnya. Tidak sekedar hidup, tidak sekedar bekerja. Mungkin, dalam kalimat ini terkandung pesan “ayolah, jangan Cuma bekerja saja, jadikan pekerjaanmu bermakna untuk orang lain.” Mungkin begitu.

Nah, ketika bekerja dengan motivasi ‘demi seseorang –orang lain, begitu maksudnya-‘ atau ‘demi sesuatu’,  mungkin pekerjaan akan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Untuk yang bekerja di perusahaan pembersih laut dari tumpahan minyak, akan lebih ringan dan menyenangkan apabila dimasuki perasaan “ini adalah petualangan” atau “saya peduli lingkungan dengan membersihkan tumpahan minyak.” Untuk mereka yang bekerja sebagai pewarta berita “orang-orang harus tahu kebenaran,” atau “ini sayang banget kalau tidak diekspose.” Ada juga mereka yang bekerja di perusahaan asing yang mengeruk sumber daya alam negara sendiri “Anjrit jahat banget perusahaan gue,” atau “miskin sudah negara kita,” setidaknya itu bisa jadi modal jikalau kamu mau jadi aktivis kelak.

Untuk yang masih sekolah atau kuliah, Hari Senin juga tidak kalah menyeramkan. Bertemu dengan guru dan dosen lagi. Ada ulangan atau try out di sekolah. Atau di-PHP-in lagi bagi mereka yang dijanjikan mau ditandatangani skripsi atau tesisnya. Ah, pokoknya tidak kalah butek deh ! Tapi di sisi lain, bagi mereka yang masih berada di tempat belajar, mereka akan bertemu dengan teman-teman. Kecuali untuk yang suka di-bully, sekolah atau kampus itu tempat yang menyenangkan. Bisa bebas meracau seperti orang kesurupan tanpa harus mendengar “Kamu kenapa ? Dari tadi ketawa-ketawa sendiri ?” Seperti semalam ketika sudah membaca pesan elektronik dari kawan mengenai bagaimana jika Ikan Paus bisa terbang. Juga bisa bertemu dengan orang-orang yang dikasihi. Mengerti lah ya, bagaimana urusannya ‘dikasihi’. Juga bisa makan-makanan enak dan murah yang ada di sekolah atau kampus, yang walaupun mencurigakan, tapi kita tetap sayang dan nyaman juga sama makanan-makanan ini.

Dari kegiatan-kegiatan Hari Senin yang bikin butek itu ternyata ada sisi lain yang bisa membuat kita berkata “I love Monday.” Saya cinta Hari Senin. Begitulah manusia. Selalu mencari sisi baik dari hidup. Selalu mencari segala sesuatu agar selalu terlihat dan terasa positif. Itu baik, bagi saya. Setidaknya anda tidak harus ngedumel, mendengar orang ngedumel itu menyebalkan. Kecuali orangnya cantik, lucu, atau bodor. Kadang malah senang mengagumi (yang cantik dan lucu) atau menertawainya (yang bodor). Iya, setidaknya itu bisa meringkankan beban hidup kita. Terjebak dalam ritme nafas korporat itu memang tidak menyenangkan sih. Banyak juga yang tidak suka. Tapi ya, mau bagaimana ? Memang dunia berubah ke arah situ. Kecuali kamu mau jadi kaum revolusioner, silahkan. Tetapi, tidak semua bisa, mau, mengerti, dan mampu untuk melakukan hal itu. Serius. Tidak semua orang bisa berpikir Impossible is nothing. Tidak.

Tapi ya, dibalik semua itu, kadang kita lupa bersyukur. Ketika kita bisa memaknai Hari Senin dengan lebih –baik secara positif maupun negatif-, setidaknya kita memiliki pekerjaan atau sedang dalam pendidikan. Artinya, kita sedang dalam proses –watch out, PPKn’s bullshit is coming (tapi coba cek di sosiologi, pasti ada deh)berperan dalam masyarakat. Iya, setidaknya kita memiliki sesuatu untuk dilakukan. Haruskah disyukuri ? Tentu saja. Ada jutaan orang di luar sana mati-matian untuk berada di posisi kita. Di posisi memuja atau mengutuk Hari Senin. Setelah orang-orang yang mati-matian itu berada di posisi kita, mari kita tertawakan, lalu kita tertawa bersama.

Selamat Hari Senin kawan-kawan, semoga Seninnya menyenangkan.

h1

Tentang Nasionalisme

February 22, 2015

Setelah sekian lama, akhirnya saya diberi kesempatan untuk menulis dengan tema yang ditentukan oleh orang lain. Dulu, biasanya saya rutin menulis dengan tema seperti itu melalui Teman Tinta. Namun, karena para Tints sekarang sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing, jadilah saya menulis dengan sangat acak. Menulis apapun yang ada di pikiran. Namun susahnya, kalau menulis dengan pola acak seperti itu, produktifitasnya rendah, karena tentunya harus menunggu apa yang ada di pikiran, sedangkan pikiran saya isinya: Idol, AKB48, Game, dan…. Makanan. Agak percuma kalau ditulis (oh, juga jangan tanyakan tentang nasib cerita 1000 hantu, karena saya mati gaya dengan tulisan itu). Jadi, saya coba iseng bertanya ke teman-teman. Apakah ada tema dari mereka yang ingin saya tulis ? Ternyata ada. Salah satu teman menyarankan saya menulis tentang nasionalisme, satu lagi tentang mimpi yang tertunda. Tema yang asik dua-duanya. Seperti biasa, saya senang melakukan pergeseran paradigma dalam tulisan-tulisan saya. Nah, karena yang lebih asik digeser adalah tentang nasionalisme, jadi saya akan coba menulis tentang nasionalisme saja. Tentang mimpi yang tertunda, mungkin di post berikutnya. Baiklah, mari.

Berbicara tentang nasionalisme dan Indonesia. Marilah kita coba telaah dari ilustrasi ini.

Dua orang pemuda sedang berjalan di trotoar, mereka mengobrol sambil menikmati sebungkus crepe yang baru mereka beli dari taman di sekitarnya. Sambil berjalan, si A membuka telepon genggamnya dan melihat situs berita yang selalu update setiap detik.

A: maan, gue sedih banget deh lihat berita di TV, xxxxx (silahkan isi dengan batik, atau sejenis tarian atau makanan) diklaim sama Malaysia. Kesel nggak sih ?

B: bener euy, sedih banget. Maunya apa sih itu Malingsia ? Nggak jelas banget. Alay !

A: iye, gw nggak habis pikir, itu negara kagak bosen ngajakin kita perang ? Orang sepulau Jawa kita pindahin ke sana, Malaysia tenggelam !

Sambil terus menghardik Malaysia, si A lalu membuang sampah crepe ke pinggir jalan. Si B yang sama-sama setuju juga ikut menghardik dengan kata-kata yang tidak pantas. Tak lama, crepe milik si B pun habis, dan ia turut serta membuang sampahnya ke pinggiran jalan. Mereka berjalan sambil membusungkan dada, bagai tentara yang baru pulang perang mempertahankan pulau-pulau terluar Indonesia.

Kiranya, begitulah ilustrasi tentang citra (image) nasionalisme di Indonesia dewasa ini. Negara saya benar, paling benar, negara lain salah, paling salah. Contoh seperti ini banyak sekali saya lihat. Bahkan di kalangan akademik sekalipun. Bukan dosen sih, teman, tapi di jurusan lain, bukan jurusan Hubungan Internasional UNPAD atau Kajian Wilayah Jepang UI. Pokoknya, dia teman lama, sedang menempuh jenjang sarjana juga, tapi masih memiliki pemikiran yang seperti itu. Saya cukup kaget ketika ia mengajak diskusi seperti itu di grup facebook. Katanya, Indonesia itu pemerintahnya lemah. Masa Malaysia bertindak sombong seperti itu mereka diam saja ? Bahkan dia berani mati demi batik yang diklaim Malaysia. Saya yakin, bukan hanya dia saja yang begitu. Masih banyak orang lain yang seperti dia. Ketika saya kritik dengan kritik yang sangat logis dan sederhana: “memang sepenting itu ya, sampai harus perang ?” dia marah dan menghardik serta mempertanyakan nasionalisme saya. Waduh ! Argumennya luar biasa: “buat apa ada tentara kalau negara seperti itu didiamkan saja ? Makan gaji buta mereka beli senjata !” Wow. Hebat sekali argumennya. Ketika negara lain berkonflik atas dasar ideologi yang sangat mengakar (ini sebenarnya sama-sama bodoh sih), ‘hanya karena’ klaim-mengklaim saja, kita harus membiarkan baris pertahanan utama negara ini terbuang percuma ? wow.

Dengan tata pikiran yang seperti di atas, bagi saya nasionalisme terdengar sangat bodoh. Kenapa bisa demikian ? Entahlah. Tapi jikalau saya harus mencoba menganalisis –pada generasi saya-, mungkin itu adalah sisa-sisa pengajaran orde baru yang sangat militeristik dan agak sedikit berbau cult-ish. Agak sulit untuk menjelaskannya, tetapi, kurang lebih seperti ini: ketika di SD, pelajaran sejarah yang saya (atau kita ?) terima, kebanyakan tentang pertempuran dan tanggal-tanggal penting. Yang seringkali digarisbawahi dari pelajaran sejarah tersebut adalah, tentang bagaimana bangsa kita mati-matian berperang memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Keren. Jelas keren sekali. Tetapi, bagi saya sendiri, nilai yang mesti diambil dari pelajaran sejarah bukanlah nilai keberanian itu. Kenapa ? Karena nilai-nilai seperti itulah yang ketika digembar-gemborkan dengan sangat heboh, akan melahirkan pemikiran-pemikiran ala kacamata kuda. Yang tadi, negara saya yang paling benar, negara lain yang paling salah. Kenapa bisa ? Karena Indonesia (dianggap) dimerdekakan dengan susah payah, karena itu ia jadi suci dan tak dapat dinodai oleh suatu apapun. Itu salah. Sangat salah. Kenapa ? Karena kita tidak hidup sendiri. Kembali lagi,ekstrimis dalam bentuk apapun tidak pernah berakhir dengan baik. Ekstrimisme akan membawa dunia ke dalam hitam-putih, di mana hanya ada benar dan salah. Mereka lupa, bahwa masih banyak warna lain di dunia ini. Hitam bisa saja benar, namun yang benar belum tentu baik. Begitu sebaliknya, putih bisa saja salah, dan yang salah pun belum tentu buruk. Banyak derivasi yang bisa ditarik dari hubungan hitam-putih tadi. Belum lagi apabila ditambahi warna lain, merah, biru, kuning, ah banyak sekali.

Jika demikian, apa nasionalisme menjadi tidak penting ? Oh, tentu tidak. Ia tetap penting, dan dibutuhkan. Saya bukan pengikut John Lennon dengan Imagine-nya. Saya percaya, walau hidup berdampingan dengan nasionalisme, agama, dan apapun yang bisa mengikat manusia sebagai identitas, manusia bisa hidup dengan damai. Selama itu tadi, tidak berpikir secara hitam-putih dan merasa paling benar. Toh yang paling mematikan dari suatu ideologi itu bukan ideologi itu sendiri, tetapi kaum ekstrimisnya kan ?

Kenapa nasionalisme masih saya anggap penting ? Karena bagi saya, kebersamaan-kesetaraan itu tidak bisa dipaksakan. Saya tidak mau ada istilah satu negara satu dunia. Entah kenapa, terdengar konyol. Mungkin damai, tapi hidup akan monoton. Tidak ada lagi orang-orang yang menjalani dan menikmati hidup dengan caranya masing-masing. Tidak akan ada karya seni yang berbeda-beda yang lahir dari lingkungan negara yang berbeda. Terdengar sederhana sih, tapi kalau tidak ada nasionalisme (yang di dalamnya ada bahasa dan cara hidup), tidak akan ada karya-karya yang bisa membuka pemikiran orang-orang sehingga memungkinkan untuk terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik.

Nah, bagaimana caranya menyikapi nasionalisme di masa seperti ini ? Di masa di mana orang dengan mudah mempelajari cara hidup orang lain ? Jawabannya ini: Memposisikan (ke)budaya(an)-(ke)budaya(an) dengan setara. Iya. Tidak ada kebudayaan yang lebih baik daripada kebudayaan lainnya. Kenapa ? Karena menilai kebudayaan baik/buruk tidak bisa dilakukan dengan secara objektif. Tidak ada sebuah ide yang bisa menjadi acuan untuk semua budaya apakah ia bisa dikatan baik atau buruk. Budaya itu dinamis. Ia lahir di lingkungan yang berbeda-beda, dan akan ikut berubah dan mengubah sesuai dengan lingkungannya. Ketika suatu kebudayaan dapat menciptakan sebuah tatanan yang damai, mengapa tidak diapresiasi saja dengan sebaiknya ?

Pertama, kita jangan meremehkan kebudayaan orang lain. Jelas, menertawakan pakaian suku Zulu di Afrika Selatan adalah hal yang menjijikan. Menertawakan orang-orang Suku Asmat di Papua juga sama menjijikannya. Yang kedua, kita juga jangan merasa kalah dengn kebudayaan orang lain. Berbicara Bahasa Inggris terdengar lebih keren ? Itu karena kita semacam dipaksa melihatnya dengan cara demikian. Dipaksa bagaimana ? Melalui media-media seperti film, musik, dan lainnya, kita dicekoki oleh mereka yang punya kuasa (power) bahwa mereka lebih hebat dari kita, dan kita sebagai yang terjajah sekaligus oposisi binernya, otomatis lebih buruk dari mereka. Nama prosesnya Diskursus, bisa dilihat di karya-karyanya Edward Said. Paling kental tentunya di Orientalisme, yang merupakan hasil dari penelitian Said tentang karya-karya sastra para penjajah di abad ke-18.

Turunan dari diskursus ini banyak, bahkan seringkali diekspose oleh media Indonesia sendiri ! Kalau sering lihat TV, pasti sadar, bagaimana hebohnya apabila seorang artis pacaran dengan ‘bule’. Padahal ya sama saja. Mereka juga manusia. Butuh makan. Setelah makan butuh berak. Tidak lebih istimewa dari orang Indonesia yang kalian temui setiap hari. Konyol kan ? Bagiamana bangsa ini merendahkan dirinya sendiri. Seandainya penemuan-penemuan penting tidak ditemukan terlebih dahulu di dunia-dunia yang memiliki kuasa, standar-standar yang ada pasti berbeda. Misalkan saja apabila penemuan-penemuan penting ditemukan di benua Afrika, maka standar cantik adalah kulit hitam dan rambut keriting. Mereka yang berkulit putih akan dikatakan sebagai ‘Whitey’ atau sejenisnya. Makan dengan sendok garpu akan kalah beradab daripada makan dengan tangan. Kiranya begitulah gambarannya. Jika itu terjadi, maka benua Afrika inilah yang akan menjadi penjahat dalam pembuatan diskursus.

Jadi, karena diskursus itu buatan, tidak natural, berupa konstruk, buanglah yang ada di otak kalian tentang kebudayaan Indonesia yang kalian anggap cemen. Dan kembali ke beberapa paragraf di atas, buang juga apa yang ada di otak kalian tentang negara kalian adalah yang terbaik di dunia. Nasionalisme tidak seperti itu. Tidak sesederhana itu. Nasionalisme itu ada untuk memberikan identitas. Identitas yang mewarnai dunia yang tidak hitam putih ini. Berhentilah berpikir dangkal tentang perbedaan. Warna juga tidak ada yang lebih baik satu sama lain kan ? Hanya masalah selera.

h1

Over the L’arc~en~Ciel: Tentang Mimpi di Ujung Pelangi

February 16, 2015

sns

Mendengar nama L’arc~en~Ciel (selanjutnya disebut sebagai Laruku yes, biar enak nulisnya), apa yang ada di pikiranmu ? Mungkin kebanyakan bakal berpikir tentang Bahasa Perancis yang artinya pelangi, sebagian lagi berpikir segerombolan cowok metroseksual dengan rambut aneh yang membawakan musik aneh, sebagian lagi berpikir “oh, band Jepang itu ?”, sebagian lagi berpikir “band kesukaan saya, inspirasi saya !”, sisanya: “wah, apaan tuh ?”.

Dari sekelompok itu, jika anda bertanya yang manakah saya ? Tentunya saya akan jawab “band kesukaan saya, inspirasi saya.” Yak, Laruku ini adalah salah satu band yang sudah lama saya suka. Sejak duduk di bangku SMP. Perkenalan dengan band ini awalnya cukup sederhana. Dari lagu Driver’s High yang diputar di pembuka anime Great Teacher Onizuka. Agak berbeda dengan kawan-kawan saya yang kebanyakan mendengarkan the Fourth Avenue Café dari penutup anime Rurouni Kenshin. Tapi ya itu tidak pentinglah. Toh sama-sama fans.

Memasuki bangku SMA, salah seorang teman (yang kelak menjadi sahabat dekat) memberi pinjam kaset Laruku yang berjudul Clicked Singles Best 13. Di sinilah saya berkenalan dengan Stay Away, Niji, Flower, dan Blurry Eyes. Di waktu yang tak lama, Laruku merilis album SMILE yang ternyata dipasok ke toko kaset langganan saya yang sekarang sudah bangkrut, Aquarius. Di album itu saya berkenalan dengan Ready Steady Go, Coming Closer, Feeling Fine, dan lagu yang bikin tenggorokan senep, Hitomi no Jyunin. Album ini bernada rock yang renyah, mengingatkan saya pada band-band rock barat seperti Led Zeppelin atau AC/DC.

Selisih satu tahun, mereka kembali mengeluarkan album baru. Kali ini Awake. Di sini, gaya musik mereka agak berubah dari album SMILE. Menyegarkan sekali rasanya. Di album ini, entah kenapa ketukan drum Yukihiro terasa sangat padat, ditemani dengan orkestrasi sampling elektronik yang mampu menggelitik telinga dan hasrat berdansa. Lagu-lagu seperti Jiyuu e no Shoutai, New World, Lost Heaven, dan Jojoushi adalah anthem wajib di mobil ketika menuju ke sekolah. Namun, ini adalah album terakhir Laruku yang saya ‘ikuti’. Ketika album KISS keluar di tahun 2007, saya sedang getol-getolnya mempelajari musik-musik dari aliran lain, Punk dan Metalcore. Tuntutan lingkungan. Untuk musik Jepangnya, saya sedang getol mendengarkan Janne Da Arc.

Saya mulai mendengarkan album KISS sendiri pada sekitar tahun 2008. Ketika itu, grup musik jejadian saya mau memabawakan lagu Link, yang hingga saat ini menjadi salah satu lagu Laruku favorit. Daybreak’s Bell juga menjadi lagu istimewa karena ia menjadi lagu pembuka anime Gundam 00, anime Gundam yang saya tonton setelah absen menonton serial gundam selama beberapa tahun. Setelahnya, saya tidak terlalu mengikuti single-single mereka karena tidak banyak teman yang tergila-gila dengan Laruku. Jadi saya berpindah haluan.

Momen tentang Laruku selanjutnya tentunya pada bulan April-Mei 2012. Laruku konser di Jakarta, Indonesia. Momen yang sangat luar biasa indah. Seperti mimpi yang kelewat indah yang membuat saya berharap untuk tidak usah bangun saja. Tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Padahal, kata-kata adalah senjata terbaik saya dalam melukiskan senang, sedih, indah, jelek, ingin mati, dan lainnya. Iya. Konser ini adalah salah satu konser terbaik yang pernah saya tonton. Animo penontonnya luar biasa. Larukunya apalagi. Tapi yang menyedihkan, ketika di konser itu, saya baru 2 minggu keluar dari rumah sakit, sehingga tidak bisa terlalu menikmatinya karena harus sering ambil nafas ke belakang L

Kurang lebih 3 tahun berlalu dari masa itu, Laruku kembali memberi kejutan dengan memutar film Over the L’arc~en~Ciel di beberapa bioskop di Indonesia. Rasanya senang sekali berkesempatan menonton film tersebut. Yang pertama, saya suka Laruku, jelas. Yang kedua, jarang sekali ada band yang filmnya bisa ditampilkan di bioskop. Yang pernah saya tonton malah Cuma satu, Through the Never-nya Metallica. Itu keren. Awalnya saya berharap bahwa kemasan film Laruku ini bakal seperti itu, walaupun agak mustahil karena gayanya nggak Jepang banget. Ternyata iya. Bukan. Ternyata ini bentuknya dokumenter. Agak mirip dengan Some Kind of Monster-nya Metallica. Tapi tentunya saya tidak kecewa.

Dokumenter ini bercerita tentang perjalanan tur dunia Laruku di tahun 2012, termasuk yang datang ke Indonesia. Poin yang sangat unik dari film ini adalah, tentang bagaimana tur di tahun 2012 bagi Laruku adalah titik ukur kesuksesan mereka. Mereka adalah band Jepang pertama yang mengadakan konser solo di Madison Square Garden, New York, Amerika Serikat. Tetsuya, sang bassis, mengenang masa-masa ia menonton band Depeche Mode 20 di sana. Ia tidak menyangkan bahwa ia akan bermain di panggung yang sama dengan band itu.

Dalam film ini, di setiap stage di dunia, diputarkan sebuah lagu dari Laruku, sambil menemani kisah lucu dan unik yang terjadi di waktu mereka mengunjungi stage tersebut. Yang paling istimewa, bagi saya, tentunya di Indonesia, karena ketika menceritakan stage di Indonesia, lagu yang diputar adalah lagu Anata yang dinyanyikan secara massal oleh koor para penonton di tengah GERIMIS DI MALAM HARI. AHHH TANPA SADAR SAYA MENEKAN CAPS LOCK. Iya. Mengingatnya bikin merinding. Karena saya ingat di situ saya ikut menyanyi. Ah seperti orang gila saja.

Namun, bagi Laruku sendiri (Tetsuya sih, yang sering ditanyai pas bagian ini), yang paling berkesan adalah konser mereka di Amerika. Ini wajar. Kalau anda suka baca manga 20th Century Boys karya Urasawa Naoki, anda bisa lihat bagaimana Occho dan Kenji ketika kecil begitu terobsesi dengan Amerika Serikat, lagu rock yang mereka dengarkan melalui gelombang FM. Mereka hidup di zaman yang sama dengan Tetsuya kecil. Yep. Adalah impian generasi mereka untuk bermusik ala barat, dan bisa mengadakan konser di Amerika Serikat. Laruku cukup beruntung bisa mendapatkan kesempatan itu.

Over the L’arc~en~Ciel adalah judul yang cocok untuk film ini. Ia merangkum impian-impian para fans di seluruh dunia, yang pada akhirnya menemukan mimpi di ujung pelangi. Mimpi di depan L’arc~en~Ciel. Di mana band itu memainkan lagu-lagu andalannya di depan mereka. Ketika para fans ditanya bagaimana perasaannya, mereka senang, rasanya seperti mimpi katanya. Tentu. Ini adalah mimpi yang jadi nyata. Karena memang sulit untuk dibayangkan.

Selain fans, Over the L’arc~en~Ciel juga berhasil merangkum impian-impian para anggota Laruku dalam perjalanan bermusik mereka. Mungkin, impian dari masing-masing anggota Laruku ini sama: Ingin manggung di Amerika Serikat. Mungkin, tak terpikirkan juga oleh mereka kalau suatu saat, mereka akan membuat sebuah band yang akhirnya mampu mengguncang Madison Square Garden, sebuah band yang bernama L’arc~en~Ciel, sebuah pelangi yang di penghujungnya, berdiri keterkabulan semua mimpi-mimpi mereka.