h1

Over the L’arc~en~Ciel: Tentang Mimpi di Ujung Pelangi

February 16, 2015

sns

Mendengar nama L’arc~en~Ciel (selanjutnya disebut sebagai Laruku yes, biar enak nulisnya), apa yang ada di pikiranmu ? Mungkin kebanyakan bakal berpikir tentang Bahasa Perancis yang artinya pelangi, sebagian lagi berpikir segerombolan cowok metroseksual dengan rambut aneh yang membawakan musik aneh, sebagian lagi berpikir “oh, band Jepang itu ?”, sebagian lagi berpikir “band kesukaan saya, inspirasi saya !”, sisanya: “wah, apaan tuh ?”.

Dari sekelompok itu, jika anda bertanya yang manakah saya ? Tentunya saya akan jawab “band kesukaan saya, inspirasi saya.” Yak, Laruku ini adalah salah satu band yang sudah lama saya suka. Sejak duduk di bangku SMP. Perkenalan dengan band ini awalnya cukup sederhana. Dari lagu Driver’s High yang diputar di pembuka anime Great Teacher Onizuka. Agak berbeda dengan kawan-kawan saya yang kebanyakan mendengarkan the Fourth Avenue Café dari penutup anime Rurouni Kenshin. Tapi ya itu tidak pentinglah. Toh sama-sama fans.

Memasuki bangku SMA, salah seorang teman (yang kelak menjadi sahabat dekat) memberi pinjam kaset Laruku yang berjudul Clicked Singles Best 13. Di sinilah saya berkenalan dengan Stay Away, Niji, Flower, dan Blurry Eyes. Di waktu yang tak lama, Laruku merilis album SMILE yang ternyata dipasok ke toko kaset langganan saya yang sekarang sudah bangkrut, Aquarius. Di album itu saya berkenalan dengan Ready Steady Go, Coming Closer, Feeling Fine, dan lagu yang bikin tenggorokan senep, Hitomi no Jyunin. Album ini bernada rock yang renyah, mengingatkan saya pada band-band rock barat seperti Led Zeppelin atau AC/DC.

Selisih satu tahun, mereka kembali mengeluarkan album baru. Kali ini Awake. Di sini, gaya musik mereka agak berubah dari album SMILE. Menyegarkan sekali rasanya. Di album ini, entah kenapa ketukan drum Yukihiro terasa sangat padat, ditemani dengan orkestrasi sampling elektronik yang mampu menggelitik telinga dan hasrat berdansa. Lagu-lagu seperti Jiyuu e no Shoutai, New World, Lost Heaven, dan Jojoushi adalah anthem wajib di mobil ketika menuju ke sekolah. Namun, ini adalah album terakhir Laruku yang saya ‘ikuti’. Ketika album KISS keluar di tahun 2007, saya sedang getol-getolnya mempelajari musik-musik dari aliran lain, Punk dan Metalcore. Tuntutan lingkungan. Untuk musik Jepangnya, saya sedang getol mendengarkan Janne Da Arc.

Saya mulai mendengarkan album KISS sendiri pada sekitar tahun 2008. Ketika itu, grup musik jejadian saya mau memabawakan lagu Link, yang hingga saat ini menjadi salah satu lagu Laruku favorit. Daybreak’s Bell juga menjadi lagu istimewa karena ia menjadi lagu pembuka anime Gundam 00, anime Gundam yang saya tonton setelah absen menonton serial gundam selama beberapa tahun. Setelahnya, saya tidak terlalu mengikuti single-single mereka karena tidak banyak teman yang tergila-gila dengan Laruku. Jadi saya berpindah haluan.

Momen tentang Laruku selanjutnya tentunya pada bulan April-Mei 2012. Laruku konser di Jakarta, Indonesia. Momen yang sangat luar biasa indah. Seperti mimpi yang kelewat indah yang membuat saya berharap untuk tidak usah bangun saja. Tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Padahal, kata-kata adalah senjata terbaik saya dalam melukiskan senang, sedih, indah, jelek, ingin mati, dan lainnya. Iya. Konser ini adalah salah satu konser terbaik yang pernah saya tonton. Animo penontonnya luar biasa. Larukunya apalagi. Tapi yang menyedihkan, ketika di konser itu, saya baru 2 minggu keluar dari rumah sakit, sehingga tidak bisa terlalu menikmatinya karena harus sering ambil nafas ke belakang L

Kurang lebih 3 tahun berlalu dari masa itu, Laruku kembali memberi kejutan dengan memutar film Over the L’arc~en~Ciel di beberapa bioskop di Indonesia. Rasanya senang sekali berkesempatan menonton film tersebut. Yang pertama, saya suka Laruku, jelas. Yang kedua, jarang sekali ada band yang filmnya bisa ditampilkan di bioskop. Yang pernah saya tonton malah Cuma satu, Through the Never-nya Metallica. Itu keren. Awalnya saya berharap bahwa kemasan film Laruku ini bakal seperti itu, walaupun agak mustahil karena gayanya nggak Jepang banget. Ternyata iya. Bukan. Ternyata ini bentuknya dokumenter. Agak mirip dengan Some Kind of Monster-nya Metallica. Tapi tentunya saya tidak kecewa.

Dokumenter ini bercerita tentang perjalanan tur dunia Laruku di tahun 2012, termasuk yang datang ke Indonesia. Poin yang sangat unik dari film ini adalah, tentang bagaimana tur di tahun 2012 bagi Laruku adalah titik ukur kesuksesan mereka. Mereka adalah band Jepang pertama yang mengadakan konser solo di Madison Square Garden, New York, Amerika Serikat. Tetsuya, sang bassis, mengenang masa-masa ia menonton band Depeche Mode 20 di sana. Ia tidak menyangkan bahwa ia akan bermain di panggung yang sama dengan band itu.

Dalam film ini, di setiap stage di dunia, diputarkan sebuah lagu dari Laruku, sambil menemani kisah lucu dan unik yang terjadi di waktu mereka mengunjungi stage tersebut. Yang paling istimewa, bagi saya, tentunya di Indonesia, karena ketika menceritakan stage di Indonesia, lagu yang diputar adalah lagu Anata yang dinyanyikan secara massal oleh koor para penonton di tengah GERIMIS DI MALAM HARI. AHHH TANPA SADAR SAYA MENEKAN CAPS LOCK. Iya. Mengingatnya bikin merinding. Karena saya ingat di situ saya ikut menyanyi. Ah seperti orang gila saja.

Namun, bagi Laruku sendiri (Tetsuya sih, yang sering ditanyai pas bagian ini), yang paling berkesan adalah konser mereka di Amerika. Ini wajar. Kalau anda suka baca manga 20th Century Boys karya Urasawa Naoki, anda bisa lihat bagaimana Occho dan Kenji ketika kecil begitu terobsesi dengan Amerika Serikat, lagu rock yang mereka dengarkan melalui gelombang FM. Mereka hidup di zaman yang sama dengan Tetsuya kecil. Yep. Adalah impian generasi mereka untuk bermusik ala barat, dan bisa mengadakan konser di Amerika Serikat. Laruku cukup beruntung bisa mendapatkan kesempatan itu.

Over the L’arc~en~Ciel adalah judul yang cocok untuk film ini. Ia merangkum impian-impian para fans di seluruh dunia, yang pada akhirnya menemukan mimpi di ujung pelangi. Mimpi di depan L’arc~en~Ciel. Di mana band itu memainkan lagu-lagu andalannya di depan mereka. Ketika para fans ditanya bagaimana perasaannya, mereka senang, rasanya seperti mimpi katanya. Tentu. Ini adalah mimpi yang jadi nyata. Karena memang sulit untuk dibayangkan.

Selain fans, Over the L’arc~en~Ciel juga berhasil merangkum impian-impian para anggota Laruku dalam perjalanan bermusik mereka. Mungkin, impian dari masing-masing anggota Laruku ini sama: Ingin manggung di Amerika Serikat. Mungkin, tak terpikirkan juga oleh mereka kalau suatu saat, mereka akan membuat sebuah band yang akhirnya mampu mengguncang Madison Square Garden, sebuah band yang bernama L’arc~en~Ciel, sebuah pelangi yang di penghujungnya, berdiri keterkabulan semua mimpi-mimpi mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: