h1

Tentang Nasionalisme

February 22, 2015

Setelah sekian lama, akhirnya saya diberi kesempatan untuk menulis dengan tema yang ditentukan oleh orang lain. Dulu, biasanya saya rutin menulis dengan tema seperti itu melalui Teman Tinta. Namun, karena para Tints sekarang sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing, jadilah saya menulis dengan sangat acak. Menulis apapun yang ada di pikiran. Namun susahnya, kalau menulis dengan pola acak seperti itu, produktifitasnya rendah, karena tentunya harus menunggu apa yang ada di pikiran, sedangkan pikiran saya isinya: Idol, AKB48, Game, dan…. Makanan. Agak percuma kalau ditulis (oh, juga jangan tanyakan tentang nasib cerita 1000 hantu, karena saya mati gaya dengan tulisan itu). Jadi, saya coba iseng bertanya ke teman-teman. Apakah ada tema dari mereka yang ingin saya tulis ? Ternyata ada. Salah satu teman menyarankan saya menulis tentang nasionalisme, satu lagi tentang mimpi yang tertunda. Tema yang asik dua-duanya. Seperti biasa, saya senang melakukan pergeseran paradigma dalam tulisan-tulisan saya. Nah, karena yang lebih asik digeser adalah tentang nasionalisme, jadi saya akan coba menulis tentang nasionalisme saja. Tentang mimpi yang tertunda, mungkin di post berikutnya. Baiklah, mari.

Berbicara tentang nasionalisme dan Indonesia. Marilah kita coba telaah dari ilustrasi ini.

Dua orang pemuda sedang berjalan di trotoar, mereka mengobrol sambil menikmati sebungkus crepe yang baru mereka beli dari taman di sekitarnya. Sambil berjalan, si A membuka telepon genggamnya dan melihat situs berita yang selalu update setiap detik.

A: maan, gue sedih banget deh lihat berita di TV, xxxxx (silahkan isi dengan batik, atau sejenis tarian atau makanan) diklaim sama Malaysia. Kesel nggak sih ?

B: bener euy, sedih banget. Maunya apa sih itu Malingsia ? Nggak jelas banget. Alay !

A: iye, gw nggak habis pikir, itu negara kagak bosen ngajakin kita perang ? Orang sepulau Jawa kita pindahin ke sana, Malaysia tenggelam !

Sambil terus menghardik Malaysia, si A lalu membuang sampah crepe ke pinggir jalan. Si B yang sama-sama setuju juga ikut menghardik dengan kata-kata yang tidak pantas. Tak lama, crepe milik si B pun habis, dan ia turut serta membuang sampahnya ke pinggiran jalan. Mereka berjalan sambil membusungkan dada, bagai tentara yang baru pulang perang mempertahankan pulau-pulau terluar Indonesia.

Kiranya, begitulah ilustrasi tentang citra (image) nasionalisme di Indonesia dewasa ini. Negara saya benar, paling benar, negara lain salah, paling salah. Contoh seperti ini banyak sekali saya lihat. Bahkan di kalangan akademik sekalipun. Bukan dosen sih, teman, tapi di jurusan lain, bukan jurusan Hubungan Internasional UNPAD atau Kajian Wilayah Jepang UI. Pokoknya, dia teman lama, sedang menempuh jenjang sarjana juga, tapi masih memiliki pemikiran yang seperti itu. Saya cukup kaget ketika ia mengajak diskusi seperti itu di grup facebook. Katanya, Indonesia itu pemerintahnya lemah. Masa Malaysia bertindak sombong seperti itu mereka diam saja ? Bahkan dia berani mati demi batik yang diklaim Malaysia. Saya yakin, bukan hanya dia saja yang begitu. Masih banyak orang lain yang seperti dia. Ketika saya kritik dengan kritik yang sangat logis dan sederhana: “memang sepenting itu ya, sampai harus perang ?” dia marah dan menghardik serta mempertanyakan nasionalisme saya. Waduh ! Argumennya luar biasa: “buat apa ada tentara kalau negara seperti itu didiamkan saja ? Makan gaji buta mereka beli senjata !” Wow. Hebat sekali argumennya. Ketika negara lain berkonflik atas dasar ideologi yang sangat mengakar (ini sebenarnya sama-sama bodoh sih), ‘hanya karena’ klaim-mengklaim saja, kita harus membiarkan baris pertahanan utama negara ini terbuang percuma ? wow.

Dengan tata pikiran yang seperti di atas, bagi saya nasionalisme terdengar sangat bodoh. Kenapa bisa demikian ? Entahlah. Tapi jikalau saya harus mencoba menganalisis –pada generasi saya-, mungkin itu adalah sisa-sisa pengajaran orde baru yang sangat militeristik dan agak sedikit berbau cult-ish. Agak sulit untuk menjelaskannya, tetapi, kurang lebih seperti ini: ketika di SD, pelajaran sejarah yang saya (atau kita ?) terima, kebanyakan tentang pertempuran dan tanggal-tanggal penting. Yang seringkali digarisbawahi dari pelajaran sejarah tersebut adalah, tentang bagaimana bangsa kita mati-matian berperang memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Keren. Jelas keren sekali. Tetapi, bagi saya sendiri, nilai yang mesti diambil dari pelajaran sejarah bukanlah nilai keberanian itu. Kenapa ? Karena nilai-nilai seperti itulah yang ketika digembar-gemborkan dengan sangat heboh, akan melahirkan pemikiran-pemikiran ala kacamata kuda. Yang tadi, negara saya yang paling benar, negara lain yang paling salah. Kenapa bisa ? Karena Indonesia (dianggap) dimerdekakan dengan susah payah, karena itu ia jadi suci dan tak dapat dinodai oleh suatu apapun. Itu salah. Sangat salah. Kenapa ? Karena kita tidak hidup sendiri. Kembali lagi,ekstrimis dalam bentuk apapun tidak pernah berakhir dengan baik. Ekstrimisme akan membawa dunia ke dalam hitam-putih, di mana hanya ada benar dan salah. Mereka lupa, bahwa masih banyak warna lain di dunia ini. Hitam bisa saja benar, namun yang benar belum tentu baik. Begitu sebaliknya, putih bisa saja salah, dan yang salah pun belum tentu buruk. Banyak derivasi yang bisa ditarik dari hubungan hitam-putih tadi. Belum lagi apabila ditambahi warna lain, merah, biru, kuning, ah banyak sekali.

Jika demikian, apa nasionalisme menjadi tidak penting ? Oh, tentu tidak. Ia tetap penting, dan dibutuhkan. Saya bukan pengikut John Lennon dengan Imagine-nya. Saya percaya, walau hidup berdampingan dengan nasionalisme, agama, dan apapun yang bisa mengikat manusia sebagai identitas, manusia bisa hidup dengan damai. Selama itu tadi, tidak berpikir secara hitam-putih dan merasa paling benar. Toh yang paling mematikan dari suatu ideologi itu bukan ideologi itu sendiri, tetapi kaum ekstrimisnya kan ?

Kenapa nasionalisme masih saya anggap penting ? Karena bagi saya, kebersamaan-kesetaraan itu tidak bisa dipaksakan. Saya tidak mau ada istilah satu negara satu dunia. Entah kenapa, terdengar konyol. Mungkin damai, tapi hidup akan monoton. Tidak ada lagi orang-orang yang menjalani dan menikmati hidup dengan caranya masing-masing. Tidak akan ada karya seni yang berbeda-beda yang lahir dari lingkungan negara yang berbeda. Terdengar sederhana sih, tapi kalau tidak ada nasionalisme (yang di dalamnya ada bahasa dan cara hidup), tidak akan ada karya-karya yang bisa membuka pemikiran orang-orang sehingga memungkinkan untuk terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik.

Nah, bagaimana caranya menyikapi nasionalisme di masa seperti ini ? Di masa di mana orang dengan mudah mempelajari cara hidup orang lain ? Jawabannya ini: Memposisikan (ke)budaya(an)-(ke)budaya(an) dengan setara. Iya. Tidak ada kebudayaan yang lebih baik daripada kebudayaan lainnya. Kenapa ? Karena menilai kebudayaan baik/buruk tidak bisa dilakukan dengan secara objektif. Tidak ada sebuah ide yang bisa menjadi acuan untuk semua budaya apakah ia bisa dikatan baik atau buruk. Budaya itu dinamis. Ia lahir di lingkungan yang berbeda-beda, dan akan ikut berubah dan mengubah sesuai dengan lingkungannya. Ketika suatu kebudayaan dapat menciptakan sebuah tatanan yang damai, mengapa tidak diapresiasi saja dengan sebaiknya ?

Pertama, kita jangan meremehkan kebudayaan orang lain. Jelas, menertawakan pakaian suku Zulu di Afrika Selatan adalah hal yang menjijikan. Menertawakan orang-orang Suku Asmat di Papua juga sama menjijikannya. Yang kedua, kita juga jangan merasa kalah dengn kebudayaan orang lain. Berbicara Bahasa Inggris terdengar lebih keren ? Itu karena kita semacam dipaksa melihatnya dengan cara demikian. Dipaksa bagaimana ? Melalui media-media seperti film, musik, dan lainnya, kita dicekoki oleh mereka yang punya kuasa (power) bahwa mereka lebih hebat dari kita, dan kita sebagai yang terjajah sekaligus oposisi binernya, otomatis lebih buruk dari mereka. Nama prosesnya Diskursus, bisa dilihat di karya-karyanya Edward Said. Paling kental tentunya di Orientalisme, yang merupakan hasil dari penelitian Said tentang karya-karya sastra para penjajah di abad ke-18.

Turunan dari diskursus ini banyak, bahkan seringkali diekspose oleh media Indonesia sendiri ! Kalau sering lihat TV, pasti sadar, bagaimana hebohnya apabila seorang artis pacaran dengan ‘bule’. Padahal ya sama saja. Mereka juga manusia. Butuh makan. Setelah makan butuh berak. Tidak lebih istimewa dari orang Indonesia yang kalian temui setiap hari. Konyol kan ? Bagiamana bangsa ini merendahkan dirinya sendiri. Seandainya penemuan-penemuan penting tidak ditemukan terlebih dahulu di dunia-dunia yang memiliki kuasa, standar-standar yang ada pasti berbeda. Misalkan saja apabila penemuan-penemuan penting ditemukan di benua Afrika, maka standar cantik adalah kulit hitam dan rambut keriting. Mereka yang berkulit putih akan dikatakan sebagai ‘Whitey’ atau sejenisnya. Makan dengan sendok garpu akan kalah beradab daripada makan dengan tangan. Kiranya begitulah gambarannya. Jika itu terjadi, maka benua Afrika inilah yang akan menjadi penjahat dalam pembuatan diskursus.

Jadi, karena diskursus itu buatan, tidak natural, berupa konstruk, buanglah yang ada di otak kalian tentang kebudayaan Indonesia yang kalian anggap cemen. Dan kembali ke beberapa paragraf di atas, buang juga apa yang ada di otak kalian tentang negara kalian adalah yang terbaik di dunia. Nasionalisme tidak seperti itu. Tidak sesederhana itu. Nasionalisme itu ada untuk memberikan identitas. Identitas yang mewarnai dunia yang tidak hitam putih ini. Berhentilah berpikir dangkal tentang perbedaan. Warna juga tidak ada yang lebih baik satu sama lain kan ? Hanya masalah selera.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: