h1

I Love Monday

February 23, 2015

Terbangun jam 3.30 di pagi hari itu bukan waktu yang pas. Terlalu cepat untuk solat subuh, terlalu siang untuk tidur lagi. Biasanya kalau terbangun di jam seperti ini, saya suka memaksakan untuk tidur lagi. Tapi tadi, saya malah memeriksa telepon genggam, dan membuka aplikasi twitter. Cuitan-cuitan yang ada cukup menarik. Mulai dari orang yang menyarankan admin dari Sejarah RI untuk jadi buzzer karena bukunya laku terus (sumpah, ini lucu), kritikan fans Everton terhadap Roberto Martinez (I still like him, don’t kick him out, we’re still superior in the Europe), kemenangan AC Milan terhadap Cessena (bellissimo !), tapi yang paling menyentil adalah dari @Viny_JKT48; “I love Monday,” katanya. Wow. Dari dulu saya memang suka gaya dia yang selalu positif dan baik hati –serius-, dan entah kenapa, kali ini saya cukup terinspirasi untuk bikin tulisan ini. Saya bangun dari tempat tidur, masih gelap-gelapan, pasang playlist Casiopea yang isinya lagu-lagu di album Asian Dreamer, lalu mulai memainkan papan ketik komputer jinjing dalam gelap.

Ini tentang Hari Senin. Menyikapi Hari Senin. Hari Senin sebenarnya –seperti hari lainnya- adalah sekat. Sekat waktu yang diberikan manusia untuk menandai pekerjaan-pekerjaannya. Awalnya bagus, untuk menentukan masa yang tepat dalam bercocok tanam. Lama kelamaan digunakan sebagai penanda untuk masa kerja dan istirahat. Juga sebagai penanda keTuhanan. Ada hari yang istimewa, ada hari yang biasa saja, ada hari yang jelek. Setidaknya, begitu bagi mereka yang percaya.

Banyak yang tidak suka dengan Hari Senin. Alasannya sederhana: karena sudah harus kembali beraktivitas (yang tidak enak seperti kerja) setelah menjalani akhir pekan. Apalagi jika akhir pekannya menyenangkan, seperti kemarin. Long weekend, terus nonton AKB48. Oh, itu sih saya. Dan beberapa kawan saya. Juga beberapa orang lain yang sama beruntungnya. Eh kok, jadi bahas itu ? Iya, banyak yang tidak suka Hari Senin karena Hari Senin adalah awal dari rutinitas mingguan. Menyebalkan katanya. Seperti menginjak pedal gas mobil dalam-dalam setelah mobil berhenti total karena rem mendadak. Badan jadi goyah karena gravitasi jika itu terjadi. Iya kan ? Gravitasi kan ?

Saya bukan Mario Teguh. Saya tidak suka motivator. Ini juga bukan tulisan tentang motivasi. Ini hanya tulisan ketika terbangun di tengah malam, dan otak ternyata masih panas. Ini tulisan tentang Hari Senin.

Ketika alarm waker atau telepon genggam berbunyi pada pukul 05.30 di pagi hari, bagi beberapa orang, itu adalah waktu yang sangat menyebalkan. Dipaksa membuka mata oleh para algojo waktu yang mereka pikir tidak tahu tata krama. “ah bangke, masa iya jam segini gue lo bangunin ?” begitu tanyanya. Padahal ia sendiri yang menyetel alarmnya. Ia sendiri yang butuh. Algojo itu tidak kenal waktu. Yang mereka tahu, pada pukul 05.30 lah mereka harus menyalak. Mereka hanya menjalankan tugasnya. Mereka tidak bangke. Bangke adalah sebuah ketiadaan bagi mereka. Mereka tahu, mereka dibenci, tapi mereka juga tahu, manusia tidak bisa hidup tanpa mereka.

Setelah terbangun oleh algojo, beberapa orang ini ada yang langsung ke kamar mandi, mengambil air wudhu untuk solat subuh, ada yang ke kamar mandi untuk buang hajat (hei, ritme orang berbeda-beda sobat), ada yang langsung loncat dari tempat tidur karena ternyata meeting-nya dipercepat jadi pukul 05.45 (diberitahukan melalui surat elektronik yang tidak sengaja masuk ke folder spam), ada juga yang bangun perlahan, mengecup dahi istrinya, lalu pergi ke dapur dan mengambil pisau –ada yang dipakai untuk memotong bahan-bahan untuk membuat roti isi, ada juga yang dipakai untuk memotong leher istrinya-, dan tentu saja, ada yang menekan tombol snooze, untuk menambah waktu tidur barang 5-10 menit (ada juga yang mematikan alarm untuk menambah waktu tidur barang 1-2 jam).

Berbagai macam tindakan yang dilakukan manusia untuk menyikapi algojo ini. Setelah terbangun dan sadar (ada juga yang masih mengawang-awang), mereka menulis sesuatu di media sosialnya. “Senin lagi, Senin lagi” atau “Anjis udah Senin lagi lah, FAAKKKK” atau “Forza Milan !” atau “Liverpool akhirnya menang euy” atau “Sleeping at 05.30 am. WOW” atau “Woke up at 05.30 am. Got enough sleep,” atau seperti Viny JKT48 “I love Monday.”

Sikap mencintai Hari Senin adalah sebuah fitur yang saya yakin disukai oleh para korporat-korporat yang sering kita bilang brengsek dan menyerap manusia hingga ke tulang-tulangnya. Karena artinya, para pecinta Hari Senin ini sudah siap memberikan segala kemampuannya demi perusahaan. Jika sudah demikian, tentunya perusahaan yang diuntungkan. Tujuan utamanya –mencari untung- akan tercapai. Mereka senang melihat pegawainya yang begitu cintanya pada perusahaan, sehingga lebih memilih untuk bekerja daripada berleha-leha.

Mungkin ini terdengar menyedihkan, tapi jika tidak bekerja, tidak dapat uang. Buya HAMKA pernah berujar, sebuah kalimat yang sangat terkenal, tapi saya sendiri tidak tahu kalimat ini ada di mana dan kapan keluarnya, juga dalam konteks apa. Tapi jika untuk meraba-raba saja, bisalah saya mengerti. “Kalau hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga kerja.” Kalimat yang unik. Sebagai non-vegan dan bukan penyuara hak hewan, kalimat ini menekankan bagaimana manusia itu sebenarnya berbeda dengan hewan. Manusia bisa memberi makna lebih pada hidupnya. Tidak sekedar hidup, tidak sekedar bekerja. Mungkin, dalam kalimat ini terkandung pesan “ayolah, jangan Cuma bekerja saja, jadikan pekerjaanmu bermakna untuk orang lain.” Mungkin begitu.

Nah, ketika bekerja dengan motivasi ‘demi seseorang –orang lain, begitu maksudnya-‘ atau ‘demi sesuatu’,  mungkin pekerjaan akan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Untuk yang bekerja di perusahaan pembersih laut dari tumpahan minyak, akan lebih ringan dan menyenangkan apabila dimasuki perasaan “ini adalah petualangan” atau “saya peduli lingkungan dengan membersihkan tumpahan minyak.” Untuk mereka yang bekerja sebagai pewarta berita “orang-orang harus tahu kebenaran,” atau “ini sayang banget kalau tidak diekspose.” Ada juga mereka yang bekerja di perusahaan asing yang mengeruk sumber daya alam negara sendiri “Anjrit jahat banget perusahaan gue,” atau “miskin sudah negara kita,” setidaknya itu bisa jadi modal jikalau kamu mau jadi aktivis kelak.

Untuk yang masih sekolah atau kuliah, Hari Senin juga tidak kalah menyeramkan. Bertemu dengan guru dan dosen lagi. Ada ulangan atau try out di sekolah. Atau di-PHP-in lagi bagi mereka yang dijanjikan mau ditandatangani skripsi atau tesisnya. Ah, pokoknya tidak kalah butek deh ! Tapi di sisi lain, bagi mereka yang masih berada di tempat belajar, mereka akan bertemu dengan teman-teman. Kecuali untuk yang suka di-bully, sekolah atau kampus itu tempat yang menyenangkan. Bisa bebas meracau seperti orang kesurupan tanpa harus mendengar “Kamu kenapa ? Dari tadi ketawa-ketawa sendiri ?” Seperti semalam ketika sudah membaca pesan elektronik dari kawan mengenai bagaimana jika Ikan Paus bisa terbang. Juga bisa bertemu dengan orang-orang yang dikasihi. Mengerti lah ya, bagaimana urusannya ‘dikasihi’. Juga bisa makan-makanan enak dan murah yang ada di sekolah atau kampus, yang walaupun mencurigakan, tapi kita tetap sayang dan nyaman juga sama makanan-makanan ini.

Dari kegiatan-kegiatan Hari Senin yang bikin butek itu ternyata ada sisi lain yang bisa membuat kita berkata “I love Monday.” Saya cinta Hari Senin. Begitulah manusia. Selalu mencari sisi baik dari hidup. Selalu mencari segala sesuatu agar selalu terlihat dan terasa positif. Itu baik, bagi saya. Setidaknya anda tidak harus ngedumel, mendengar orang ngedumel itu menyebalkan. Kecuali orangnya cantik, lucu, atau bodor. Kadang malah senang mengagumi (yang cantik dan lucu) atau menertawainya (yang bodor). Iya, setidaknya itu bisa meringkankan beban hidup kita. Terjebak dalam ritme nafas korporat itu memang tidak menyenangkan sih. Banyak juga yang tidak suka. Tapi ya, mau bagaimana ? Memang dunia berubah ke arah situ. Kecuali kamu mau jadi kaum revolusioner, silahkan. Tetapi, tidak semua bisa, mau, mengerti, dan mampu untuk melakukan hal itu. Serius. Tidak semua orang bisa berpikir Impossible is nothing. Tidak.

Tapi ya, dibalik semua itu, kadang kita lupa bersyukur. Ketika kita bisa memaknai Hari Senin dengan lebih –baik secara positif maupun negatif-, setidaknya kita memiliki pekerjaan atau sedang dalam pendidikan. Artinya, kita sedang dalam proses –watch out, PPKn’s bullshit is coming (tapi coba cek di sosiologi, pasti ada deh)berperan dalam masyarakat. Iya, setidaknya kita memiliki sesuatu untuk dilakukan. Haruskah disyukuri ? Tentu saja. Ada jutaan orang di luar sana mati-matian untuk berada di posisi kita. Di posisi memuja atau mengutuk Hari Senin. Setelah orang-orang yang mati-matian itu berada di posisi kita, mari kita tertawakan, lalu kita tertawa bersama.

Selamat Hari Senin kawan-kawan, semoga Seninnya menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: