h1

Ketika Mimpi Kepentok Tembok

February 24, 2015

Kalau ditanya, “apakah kamu punya mimpi ?” rasa-rasanya, hampir semua orang pasti jawab “punya !”. Tak terkecuali saya sendiri. “Apakah kamu punya mimpi, Bim ?” jawabku “tentu saja, ada banyak.” Namun, kalau ditanya sudah terwujud atau belum, ya tentunya ada yang sudah dan banyak yang belum. Yang sudah sih mimpi-mimpi yang sederhana saja, seperti menonton konser-konser grup musik favorit. Itu sudah cukup banyak. Tapi mungkin yah, bisa dibilang itu mimpi yang sepele. Yang mungkin tidak berpengaruh besar pada hidup. Hanya meningkatkan mood untuk beberapa waktu saja. Untuk mimpi-mimpi yang besar, seperti misalnya menjadi xxxxx (silahkan isi sendiri), itu belum tercapai. Tapi dengan seizin Allah, semoga bisa tercapai.

Sudah satu paragraf berbicara tentang mimpi, tapi belum disebutkan apa sih mimpi itu ? Yah, saya tidak akan pakai definisi kamus, tapi pakai definisi sendiri saja. Bagi saya, mimpi itu selain bunga tidur (1), juga adalah angan-angan yang ingin dicapai (2). Mungkin untuk definisi yang nomor (2) ini disebut mimpi juga karena ya begitu, tidak nyata, tapi serasa nyata. Serasa nyata di sini maksudnya, kita bakal mati-matian mengejarnya. Apapun yang terjadi. Kita tidak tahu kan, apa yang akan menghalangi mimpi kita kelak ? Tapi kita tetap berusaha. Itulah. Karena itulah disebut dengan mimpi. Mungkin. Tapi ya pokoknya begitulah.

Bagaimana caranya meraih mimpi ? Ya tentunya terus berusaha, dan berdoa bagi yang percaya. Buat apa sih sebenarnya berdoa ? Tentu biar dikabulkan Tuhan, supaya usaha kita dibantu oleh Tuhan. Walaupun mungkin secara tidak langsung (pasti tidak langsung sih, tidak mungkin kan berdoa ingin kaya, lalu tiba-tiba ada 1 ton emas di depan mata ?), setidaknya ada sesuatu yang kita tanamkan di hati: suatu saat, Tuhan akan mengabulkannya. Itu bagi yang percaya. Bagi yang tidak, ya sudah, berusahalah hingga berhasil.

Berjuang untuk mewujudkan mimpi tentunya tidak mudah. Jika mudah, maka bermimpi tidaklah indah. Mengapa ? Ketika tertidur, lalu sedang bermimpi indah, dan kita terbangun, maka mimpi kita usai. Analoginya agak mirip. Ketika kita berangan, lalu langsung terwujud, rasanya ada yang hilang. Usaha. Namanya usaha. Usaha si anak hilang. Percayalah, ketika segala mimpi bisa terwujud dengan mudah, hidup akan menjadi membosankan. Kalau pernah membaca komik petualangan Doraemon dan Labirin Kaleng, diceritakan bahwa di suatu planet (lupa namanya), manusia hidup dengan mudah karena mereka berhasil menciptakan robot yang mampu melayani mereka dengan terus menerus (jangan pikirkan tentang sumber daya, tidak dibahas). Di situ, Nobita dan kawan-kawan merasa iri, dunia impian katanya. Tapi kata Shapiro, tidak sesederhana itu. Manusia akhirnya jadi malas dan kehilangan kekuatan tubuhnya. Begitu gambarannya. Karena hidup terlalu mudah, akhirnya manusia menjadi malas.

Bagaimana dengan mimpi yang tidak kunjung terkabul ? Judul tulisan ini mengambil petikan dari paragraf ini. Penting ? Belum tentu sih, tapi enak didengar saja. Suaranya berima. Ketika mimpi kepentok tembok. Temboknya tentunya metafor. Hanya sekedar gambaran saja. Iya, adakalanya mimpi yang sudah di depan mata tiba-tiba terhadang oleh masalah yang tidak terduga. Ketika kita berlari kencang dan akan meraihnya, tiba-tiba muncul tembok dari tempat antah-berantah yang menyebabkan muka kita kepentok ke tembok itu. Sakit. Selain itu jadi muka jadi rata dengan tembok, seperti Mister Gepeng. Kalau sudah begitu bagaimana ? Ada banyak sih caranya. Kalau kamu cukup nekad dan kuat, jebol temboknya. Kalau kamu jeli, kamu bisa cari celah di tembok itu, lalu hancurkan secara pelahan. Kalau kamu lincah dan yakin dengan kemampuan reflek serta cengkaraman jarimu, panjat tembok itu. Kalau kamu pintar, kamu bisa cari jalan memutari tembok itu. Banyak. Coba analogikan dengan mimpi kalian. Saya ambil contoh. Kamu mau kuliah di luar negeri. Kalau kamu nekad, kamu kumpulkan sedikit uang di sini, hingga cukup untuk membeli tiket pergi dan mengurus visa, lalu carilah universitas di sana yang mau menerimamu dengan beasiswa. Kalau kamu jeli, kamu bisa mencari beasiswa yang kiranya mudah didapat dan tidak banyak caranya. Kalau kamu lincah dan yakin, kamu bisa bersaing dengan orang lain mencari beasiswa yang prestisius. Kalau kamu pintar, mungkin kamu bisa bekerja dulu, dan membiarkan kantormu yang membayarkan biaya kamu kuliah. Banyak kan jalannya ?

Kalau begitu lama dong prosesnya ? Hmm. Lama atau cepat, itu relatif. Apabila mengikuti relativitas waktu milik Einstein, di mana waktu bergerak berbeda (lebih cepat atau lambat) tergantung dengan gravitasi. Jika kamu memang benar-benar ingin mengejar mimpi itu, tentu waktu akan berjalan cepat, tidak terasa. Setidaknya, itulah yang akan kamu paksakan untuk rasa. Jika sebaliknya, ya mungkin waktu akan berjalan lambat. Tapi ya itu tadi, semuanya akan menjadi relatif. Bagi si A, menunggu selama 1 tahun tidak masalah, berbeda dengan si B yang merasa dalam 1 tahun ada banyak hal lain yang bisa dikejar. Manusia memiliki gravitasi masing-masing yang mempengaruhi waktunya. We are our own blackhole.

Terakhir, ketika mimpi tidak tercapai. Harus bagaimana ? Pasrah ? Terus mencoba ? Atau mencari mmipi lain ? Terserah. Tapi yang pasti, satu yang harus dilakukan dulu: menerima kenyataan. Ingat, apa yang baik bagi kita, belum tentu baik bagi orang lain, Tuhan, dan alam semesta. Mengapa harus memaksakan apa yang baik bagi kita dan tidak baik bagi yang lainnya ? Mungkin ini terdengar sangat moralis busuk, tapi adakalanya kita harus melupakan diri kita sendiri. Ada saat di mana kita harus ingat bahwa kita hanyalah bagian kecil dari alam semesta, di mana ketiadaan dan keberadaan kita hanya memeberi sedikit makna bagi alam semesta. Kadang. Walaupun apabila diperkecil scope-nya, kita akan menemukan entitas lain yang menganggap penting keberadaan kita. Seperti kawan misalnya. Atau pacar. Atau keluarga. Atau binatang peliharaan. Ketika kura-kura kesayangan kita tidak kita beri makan, dia bisa mati. Kasihan nanti.

Begitulah kiranya tulisan saya tentang mimpi. Tidak terlalu panjang dan berisi, tapi setidaknya, perasaan saya tersampaikan ke dalam tulisan ini. Bagi saya, itu sih yang penting. Bagaimna mengekspresikan diri sendiri. Tidak peduli apa kata orang, yang penting tulis.

Jadi, bagaimana denganmu, apakah kamu masih mau bermimpi ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: