h1

Because It’s Fun to See Girls Kissing

February 25, 2015

Ok, berawal dari main request-request-an, berhujung dengan tantangan untuk menulis tentang homoseksual. Bagi kebanyakan orang, terutama di Indonesia, homoseksual bukanlah sesuatu yang lazim dibicarakan di ruang publik. Homoseksual adalah tabu. Ia menyimpang. Menyimpang dari mana ? Norma agama dan norma sosial. Secara kesehatan sendiri, homoseksual tidaklah lagi dikatakan sebagai sebuah penyakit. Tapi ya sudahlah, saya tidak akan mencari pembenaran atau penyalahan tentang homoseksual sendiri. Bagi saya, homoseksualitas bukanlah sesuatu yang tabu lagi. Dulu, ketika SMA, homoseksual(itas) dijadikan komoditas bercandaan teman-teman saya, dan ketika kuliah, saya mendapatkan banyak kuliah yang berkenaan dengan homseksualitas.

Nah, bingung kan, kenapa anak Hubungan Internasional belajar tentang homoseksualitas ? Baiklah, akan saya ceritakan sedikit. Jadi, pelajaran tentang homoseksualitas saya dapatkan di mata kuliah Gender Dalam Hubungan Internasional. Ini mata kuliah keren. Dosennya terutama. Kenapa ? Karena kita tidak diajarkan begitu saja tentang gender dalam hubungan internasional. Tapi kita diajari dulu dasar-dasar ilmu tentang gender, terutama tentang feminisme. Feminisme ini akar dari sesuatu yang kelak diajarkan di kelas Studi Budaya: Queer Theory. Tapi sebentar, sebelum masuk ke Queer Theory, sedikit bahas dulu tentang gender dalam Hubungan Internasional. Intinya sih, tentang bagaimana gender bermain di dalam Hubungan Internasional. Tentang peran-peran wanita dalam hubungan internasional. Juga tentang bagaimana Hubungan Internasional dilihat dari perspektif feminisme dan maskulinisme. Bagaimana negara-negara berinteraksi dengan negara lainnya, seperti satu gender berinteraksi dengan gender lainnya.

Sekarang, balik ke Queer Theory. Queer Theory itu kumpulan teori-teori tentang ketidakcocokan antara seks, gender, dan keinginan. Kebanyakan meneliti tentang LGBT. Kebetulan, dulu salah satu rekan bimbingan saya, senior saya, adalah seorang gay. Ia menggunakan pendekatan Queer Theory dalam hubungan internasional. Luar biasa bukan ? Saya sendiri sampai bingung baca skripsinya. Dan tentunya, dalam setiap bimbingan, kelompok bimbingan kami anggotanya selalu saling bertukar ide, jadi di situ, saya banyak memahami tentang homoseksualitas melalui queer theory. Intinya sih, bagi saya, itu hal yang biasa-biasa saja. Pilihan. Kalau mau dikaitkan dengan agama… ah, saya tidak mau, bukan kapasitas saya untuk berbicara tentang itu.

Belakangan, ada tren baru muncul mengenai homoseksual, di mana homoseksualitas menjadi genre baru dalam manganime Jepang. Yuri dan Yaoi. Yuri menggambarkan hubungan sesama wanita, sedangkan Yaoi menggambarkan hubungan sesama pria. Awal kemunculannnya bagaimana saya tidak tahu. Sedang malas googling juga. Jadi pakai saja yang ada di kepala. Teori saya sih, sebenarnya dimulai dari kegemaran orang-orang untuk bikin Doujinshi, karya manga atau anime yang diplesetkan –dengan cara yang lucu. Mungkin, lama kelamaan, plesetannya jadi merembet ke hal-hal yang berbau imajinasi liar. Ya seperti seks sesama jenis. Tapi saya rasa, kultur ini dimulai dari tipe karakter bishonen (cowok cantik) dan bishojo (cewek cantik).

Konon, karakter bishonen pertama di manganime mainstream adalah Kurama dari Yu Yu Hakusho karangan Yoshihiro Togashi. Wajar kalau Kurama dibilang cantik. Rambut panjang, mata lentik, badan langsing, ditambah senjata yang berupa bunga-bungaan. Sangat feminim sekali. Dari sinilah imajinasi liar dimulai. Kalau dikembalikan ke teori gender, feminim adalah oposisi dari maskulin. Tapi, oposisi di sini, akan berakhir dengan berpasang-pasangan. Dalam pandangan klasik, gender feminim tentunya disematkan kepada wanita, sedangkan gender maskulin disematkan kepada pria –keduanya secara seksual-. Namun, dengan adanya para pendobrak tembok seperti kurama ini, ternyata atribut feminim bisa disematkan kepada pria, dan mungkin, jadinya tidak cukup jelek. Jujur, Kurama adalah salah satu karakter favorit saya di anime Yu Yu Hakusho, nomor 3 setelah Jin dan Touya dari tim Mahoutsukai. Ketika atribut feminim disematkan kepada pria yang semestinya beratribut maskulin, maka muncullah imajinasi liar lainnya di mana pria beratribut feminim dipasangkan dengan pria yang tetap beratribut maskulin. TARAAAAA~ lahirlah genre yaoi ! (tentunya ini adalah teori yang sangat sok tahu, saya buat tanpa kroscek, namanya juga blogpost, jangan dikutip buat karya akademis ya !).

Ternyata, genre ini banyak penggemarnya. Nah, banyak yang penasaran, bagaimana sih saya menanggapinya sebagai pria heteroseksual ? Bagi saya, saya pribadi tidak suka. Tapi kalau mau ada yang suka ya silahkan saja. Kembali, ini sih masalah selera. Saya tidak berselera melihat pria berhubungan asmara dengan pria lain. Jijik ? Ya, hampir seperti melihat Justin Bieber lah. Sama tidak sukanya. Tapi dengan alasan dan derajat yang berbeda. Intinya sih ya tidak sesuai dengan selera. Kalau mau ada yang suka, silahkan, mau pria, mau wanita, transgender, transeksual, biseksual, bebas, itu sih pilihan masing-masing, dan resiko (dilihat seperti apa oleh masyarakat) silahkan tanggung sendiri.

Apa justifikasi saya untuk mempersilahkan orang lain menikmati genre yaoi ? Sederhana saja. Saya juga menikmati genre Yuri. JENG JENG JENGGGGG. Kalau sedang mencari koleksi hentai milik teman (ah ketahuan deh…) terkadang saya suka agak tertarik dengan tag yuri. Unik saja sih, walaupun saya lebih suka dengan genre heteroseksual vanilla osananajimi. Ish. Hafal banget nih. Ya, pokoknya begitu, saya sendiri jujur saja, jika diberi manga yuri yang art dan jalan ceritanya bagus, saya nikmati juga. Bagi saya sih itu tidak mengurangi maskulinitas saya. Toh dua-duanya wanita. Lebih seru kalau bayangkan diri saya ada di situ. Iya nggak sih ? Mungkin itu juga perasaan para penikmat manga yaoi. Mungkiin. Atau mungkin karena gemes saja ? Tidak tahu juga ya.

Ah dan satu lagi. AKB48. Jujur, banyak yang bilang laki-laki yang suka AKB48 itu levelnya nyebelinnya sama dengan perempuan yang suka manga yaoi. Sama-sama delusional lah, sama-sama anonoh lah, ah saya mah tidak peduli. Kapan lagi bisa lihat cewek semanis Yagami Kumi dan Kimoto Kanon berciuman di toilet dengan gaharnya ? Atau cewek secantik Sato Sumire dan Azuma Rion berciuman di tempat tidur pasien dengan baju suster ? Iya. Imajinasi seperti ini bisa didapat dari PV-PV AKB48 dan SKE48. Luar biasa bukan ? Saya sih jujur saja, senang melihatnya. Mungkin memang tipis dengan pornografi, tapi ya itulah.

Pasti banyak yang bilang itu adalah sesuatu yang ‘nggak-nggak’ atau ‘bukan-bukan’, tapi bagi saya, dalam menikmati hal seperti itu, 1 yang harus, dan wajib diingat. Tentang peran. Banyak orang yang lupa bahwa dalam menikmati hal yang berbau homoseksual, yang dinikmati hanyalah peran. Itu hanya akting belaka. Tidak perlu terbawa ke dunia nyata. Menikmati produk berbau lesbian seperti AKB48, ya itu hanya peran saja. Di dunia nyatanya mereka heteroseksual. Yah, memang mungkin ada yang lesbian juga, tapi ya kembali lagi, itu pilihan mereka. Apa lagi dengan manga. Mereka yang menikmati manga yaoi atau yuri juga hanya menikmati gambar dan imajinasi saja bukan ? Toh di dunia nyatanya, mereka berhubungan dengan manusia-manusia biasa juga. They’re just enjoying their wildest imagination. Coba saja tanyakan, ketika dihadapkan pada situasi itu (misal, melihat wanita dan wanita berhubungan badan di depan mata untuk cowo, dan sebaliknya untuk cewe) apakah kamu mau bergabung ke sana ? Belum tentu. Tidak semua orang bisa menangani imajinasi terliarnya. Ada kalanya imajinasi baiknya menjadi imajinasi saja. Kadang, jika kenyataan terlalu indah pun, kita suka berpikir “apakah ini mimpi ?” ya, terkadang manusia memang hanya berani berpikir, tanpa pernah sekali pun membayangkan apabila pikirannya menjadi nyata.

Pada akhirnya, menikmati hal-hal seperti ini kembali ke selera masing-masing. Setiap orang punya preferensi imajinasinya sendiri. Siapalah kita untuk menghakimi imajinasi orang lain ? Saya pasti akan tersinggung apabila ditegur oleh orang yang bilang “Bim, ngapain sih maneh ngancurin GBK pake dinosaurus ?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: