Archive for April, 2015

h1

Kebebasan Semu

April 26, 2015

AKU BEBAS !!
Pekaknya.
AKHIRNYA AKU BEBAS !!
Ia berteriak dengan kencang.
Setelah selama ini ia tinggal di dalam bayang-bayang besi penjara.
Garis hitam-putih tercetak di selnya yang kecil dan bau.
Garis hitam-putih yang dilukis oleh sinar mentari yang mengenai jeruji penjara.
Sudah bertahun-tahun ia melihat lukisan itu, lukisan yang tiap jamnya berubah.
Ia sudah bosan, tak ada hiburan lain.
Begitu punya kesempatan untuk melihat matahari kembali, ia bebas.
Tapi hanya sekejap saja.
5 menit saja ia berjalan, kini sudah gelap lagi.
Tapi memang masih hangat.
Ia tak berada dalam sel.
Ia berdiri, terikat, di pinggir tebing.
Masih siang, hangat, tapi gelap.
Matanya ditutup kain hitam.
Di hadapannya ada 6 moncong senapan siap menyambar.
DOR.
Merah.

NOTE:

Hukuman mati. Tidak manusiawi. Bukan. Tidak efektif. Prosesnya lama, makan banyak biaya, ditambah tekanan dari negara tetangga. Efeknya tidak membuat jera, tetapi membuat mati. Jika memang mati menjadi pertanda untuk lebih hati-hati, nampaknya tidak. Masih banyak bandar berkeliaran. Jika membuat mati menjadi jera, itu gila. Mati tidak jera. Mati ya mati. Menghilang, tak kembali.

Advertisements
h1

Penjara Kaca

April 26, 2015

Aku menyebutnya Penjara Kaca
Aku tak bisa bilang ia ada di mana
Aku cuma mau kamu percaya
Jika dia memang benar ada

Ketika sepi tiba menyapa,
Di situ aku mengunci pintunya
Aku duduk di tengahnya
Ruang kosong tak ada apa-apa
Bisa kamu lihat dari luar, hampa

Di luarnya ada satu pintu
Tempat keluar masuk dari situ
Ada satu lubang kunci, di sebelah kiri
Masukan kunci, putar ke kiri
Maka pintunya akan terbuka

Di dalamnya, hanya ada kekosongan menyapa
Seperti sudah aku bilang, hampa

Mungkin hanya orang sepertiku yang bisa tinggal di dalamnya ?
Entahlah.

Jika sudah berada di dalam, aku diam
Di tengah malam, di dalam diam, menatap alam

Bintang.
Karena penjara dari kaca, begitu juga atapnya
Dari atapnya aku bisa melihat bintang
Di tengah langit hitam, ia benderang
Sungguh tak bosan aku menatapnya

Setiap bulan berganti, tiga kali aku ke sini
Diam menyepi, tanpa perlu ada yang peduli
Penjara Kaca ini tidak membiarkan suara lari
Juga tidak membiarkan suara mendatangi
Sunyi, sepi.

Aku suka sunyi, dalam sunyi aku menemukan diri
Tak perlu ada yang bilang apa,
Tak perlu berlaku seperti apa,
Tak perlu ikut kata siapa,
Aku hanya menjadi aku
Aku yang hanya aku yang tahu.

Tapi suatu hari, kamu datang mengetuk
Tok.. Tok.. Tok.. Begitu suaranya diketuk
Aku berteriak mengutuk
Berisik ! Aku sedang mengantuk !

Padahal aku sudah pekak berteriak
Kamu tetap mengetuk, tak pernah muak
Aku lupa, suara tidak akan lari dari Penjara Kaca
Aku berdiri, menuju pintu, membukanya

Kamu berdiri di situ, diam membisu
Tersenyum, lalu menarikku ke luar
Bintang terlihat lebih indah tanpa sekat kaca itu
Aku baru tahu juga, ternyata nyala bintang bisa berkobar
Indah.

Setelah bersamamu,
saat aku akan kembali ke Penjara Kaca
Baru kemudian aku tahu,
Kamu mengetuknya terlalu keras
Penjara Kaca itu pecah
Hati-hati, jangan sampai pecahannya terinjak
Bisa-bisa kakimu luka, dan mulutmu berteriak
Berdarah hingga parah, seperti burung yang sayapnya patah
Oh bukan, itu bukan kamu, itu aku.

h1

A Knock on the Door

April 15, 2015

“The last man on Earth sat on the floor. There’s a knock on the door.” It is said that these two sentences are the shortest scary story one can told. Of course it is. By logic, if you are the last one on Earth, then obviously the door won’t knock itself. Well, if it is, then it is scary. If there is someone there, it might not be that scary. Chances are: either the knocker is another unknown survivor, or simply a ghost. Ghost is scary. But the unknown survivor might be scarier, or it might be fun. Imagine that the unknown survivor is an attractive man/woman –up to your sexual preferences, then of course you can have a chit-chat with him/her. You wouldn’t be alone. It’d be fun I bet. Better than being the last one on Earth. But then again, it’s only 1 out of milions possibilities that might happened. For example, what if the knocker is a mindless beast that accidentally hit on the door. And when you open it –expecting it is an attractive man/woman, it’s a beast ready to devour you –without tearing you apart at first, just eating you as you are. In one big gulp. GULP. Or, it might be anything else scarier than the beast. Or… less scarier but still, it’s dangerous and might kills you.

So I guess, what makes this story so scary is the countless possibilities that might arised. And the possibilities of something that you think would be good, but it turned out bad. Yes. Uncertainty. Uncertainty is mankind’s biggest enemy. It is human’s greatest fear. You don’t fear death itself, you fear what happened after death. What lies beyond. Does hell or heaven exist ? What will happen beyond the grave ? You don’t fear the darkness, you fear what might happen in the darkness. When there is no light, you cannot predict anything around. It might be a cushion, or a head, or a big dog ready to eat you alive. You will never know. Again, anything that might is scary, because you don’t know. And what you don’t know, might kill you. Or hurt you. Or else. Although optimism can be an answer to these kind of situations, there must be a little part of it that doubt the optimism itself. You know, something like, when you are doing a paper which google has most answer, “hey, this is going to be easy right ? but what if the internet fucked up ?” something like that.

I guess that’s it. Uncertainty. Uncertainty is what makes ‘a Knock on the Door’ story a scary one.

h1

Keberuntungan, Keberuntungan, Keberuntungan, Buntung

April 13, 2015

Tulisan ini saya buat untuk mengikuti #TantanganKreatif dari @PanditFootball yang secara luar biasa menantang followers twitternya untuk menulis tentang QNB Indonesia dengan gaya 1Q84 dari Murakami. Kebetulan saya adalah fans dari Haruki Murakami. Dan Kebetulan juga saya suka sepak bola. Dan kebetulan juga saya suka menulis. Dan sekali lagi, kebetulan juga sedang ada waktu kosong. Jadi saya memutuskan untuk menulis cerpen ini. Saya beri judul Keberuntungan, Keberuntungan, Keberuntungan, Buntung.

***

Keberuntungan, Keberuntungan, Keberuntungan, Buntung

Bandung, April 2015.

Di dalam ruang ganti stadion Si Jalak Harupat, dari sepasang headphone yang menyambung ke music player miliknya, pemain bernomor punggung #9 itu mendengarkan sebuah lagu lama. Lagu berjudul The Game dari sebuah band cadas Inggris; Motorhead. Ia mendengarkan lagu itu sambil memejamkan mata dan membayangkan apa yang kiranya akan ia lakukan di pertandingan nanti. Sebuah pertandingan resmi Liga Indonesia, Bandung Tigers melawan Medan Eagles. Sebuah pertandingan besar penuh gengsi. Keduanya memang sudah lama tidak bertemu karena Eagles sudah lama berada di Divisi Utama Liga Indonesia, satu divisi di bawah Indonesian Super League di mana Tigers sudah bermain selama belasan musim. Namun, biarpun demikian, sebuah kejadian di masa lalu, pada tahun 1985, keduanya bertemu di final Liga Perserikatan. Sebuah pertandingan liga amatir di mana jumlah penontonnya menjadi rekor dunia di masa itu. Tigers kalah dalam adu penalti. Namun katanya, itu kalah terhormat. Sejarah mencatat demikian. Sejarah memang ditentukan oleh pemenang, tapi kali ini, mereka yang kalah pun dicatat dengan baik oleh sejarah. Sejarah yang baik yang patut dipelihara.

Nama pemain nomor #9 ini Rendy. Posisinya penyerang. Penyerang tunggal. Banyak yang bilang ia adalah Filippo Inzaghi-nya Indonesia. Ia memang bukan pelari yang cepat seperti Suhardi, pemain sayap nomor #22, bukan juga seseorang yang memiliki visi dan umpan yang akurat seperti sang kapten, Velix Limpo yang menyandang nomor punggung #15, atau tinggi badan yang menjulang, seperti Janacek, pemain bertahan asing dengan nomor punggung #3. Tugasnya juga tidak banyak, tidak seperti Abdoul Karim Jaber, dinamo tim Tigers bernomor punggung #10 yang selain harus aktif bertahan di setengah lapangan, mendobrak pertahanan lawan dengan fisiknya yang luar biasa kekar, juga mencetak angka dengan tendangannya yang bagaikan geledek. Tak seperti itu, tugas Rendy hanya satu, satu, tetapi amatlah penting; mencetak gol.

Mencetak gol, memasukkan bola ke dalam gawang lawan. Bagaimanapun caranya, membuat bola lewat melewati garis gawang. Banyak yang bilang ini adalah inti dari permainan sepak bola. Mencetak gol ke gawang lawan. Karena dengan perbedaan gol –mereka yang mencetak gol lebih banyak, pemenang dapat ditentukan. Logikanya demikian. Tetapi, seorang jenius dari Belanda, Dewa Sepak Bola di sana, Johan Cruyff pernah berujar: “Saya bukan orang yang relijius. Di Spanyol, 22 pemain yang akan bertanding membuat tanda salib sebelum mereka masuk ke lapangan. Jika itu memang berhasil, maka semua pertandingan akan berakhir dengan hasil seri.” Banyak yang menafsirkan kutipan itu sebagai sebuah pernyataan ateistik dari Cruyff, namun bagi Rendy beberapa tahun yang lalu, ketika masih berada di tim junior Tigers dan belum pernah bermain dalam pertandingan resmi, ia memaknai kutipan tersebut dengan cara lain; baginya, sepak bola bukanlah tentang mencetak angka, tetapi tentang bagaimana agar tidak kemasukkan. “Betul kan Pak ? Kalau Cruyff bilang begitu, berarti dalam sebuah pertandingan sempurna, tidak kemasukkan lebih penting daripada mencetak angka ?” begitu sanggahannya terhadap pelatih mudanya dulu, Coach Marcos dari Brazil. Coach Marcos hanya menjawab seperti ini “Kamu merasa sudah sehebat Cruyff ? Bagus, pertahankan itu. Tapi cobalah nanti dengarkan mereka yang meneriakkan namamu di lapangan. Namamu akan keras terucap ketika kamu berhasil memasukkan bola ke gawang lawan.” Katanya dalam Bahasa Indonesia bercampur logat Amerika Latin yang khas.

Coach Marcos benar. Di pertandingan debutnya, Rendy menciptakan sebuah gol. Bukan gol yang spektakuler memang. Banyak yang bilang itu gol untung-untungan, prosesnya memang aneh. Sama dengan gol Filippo Inzaghi di Final Liga Champions 2007 ketika mereka berhadapan dengan Liverpool. Sebuah pantulan tak sengaja dengan bokong. Bedanya, gol Rendy berawal dari umpan silang tarik dari kawannya, Seno, yang ia coba kontrol dengan kaki kanan sambil berlari. Namun ‘sialnya’, bolanya malah memantul ke wajahnya dan langsung masuk ke gawang tim junior Jakarta Puppies waktu itu. Biarpun demikian, teriakan penonton yang hadir di pertandingan itu, walau hanya sedikit –karena pertandingan junior, cukup menggerakkan hati Rendy untuk mengubah cara pandangnya terhadap kutipan dari Cruyff. Bukan hanya merubah, tetapi melupakannya –dari sisi cara bermain sempurna, bukan dari ateismenya.

Teriakan Lemmy dari Motorhead memekik di telinga Rendy. “Time to play the game !” begitu katanya. Lagu ini biasa digunakan oleh seorang pegulat profesional, HHH ketika ia akan bertanding. Bagi Rendy, ini adalah lagu yang sangat pantas didengarkan sebelum bertanding. Lagu ini memompa semangat bertarungnya. Tak seperti biasanya, ia memiliki target khusus hari ini. Jika dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya ia memiliki target: 2 pertandingan 1 gol –dalam setiap 2 pertandingan, setidaknya ia mencetak 1 gol, kali ini istimewa, targetnya: mencetak hat trick. Ia ingin mencetak hat trick untuk membungkam kritik terhadap dirinya yang dianggap tidak pantas memimpin lini depan Tigers karena terlalu banyak mengandalkan keberuntungan.

Sebenarnya raihan golnya tidak jelek-jelek amat. 7 gol dari 13 pertandingan resminya bersama Tigers. Pada musim 2014/2015, ketika Tigers menjadi juara, Rendy memang jarang dimainkan. Ia hanya bermain di paruh akhir musim –setelah dipromosikan ke tim inti, sebanyak 10 kali, kebanyakan sebagai cadangan. Dari 10 pertandingan itu, ia mencetak 5 gol. Bukan gol penting, tetapi gol ketika Tigers sudah unggul jauh, minimal dengan selisih 2 angka. Ketika berada di atas angin seperti itu, pelatih kepala Tigers, ‘King’ Asep Ridwan, selalu memasukkan pemain muda agar mereka mendapatkan jam terbang. Dalam 10 kesempatan itu, Rendy memenuhi targetnya dengan sempurna, 1 gol tiap 2 pertandingan. Sedangkan sisa 3 pertandingan ia dapatkan di musim ini, musim 2015/2016, ketika ia mencetak masing-masing 1 gol saat berhadapan dengan Surabaya Crocs dan Malang Lions. Keduanya gol penting penuh keberuntungan –begitu kata media-media.

Inilah yang tidak ia sukai. Keberuntungan. Dalam keberuntungan, ada sedikit bantuan tak terlihat dari sosok tak terlihat. Rendy tidak suka itu. Ia percaya dengan kemampuannya sendiri. Seperti Johan Cruyff tadi. Ia ingin membuktikan, bahwa itu bukan keberuntungan, tetapi memang dari bagian kemampuan yang ia miliki. Yang ia dapat dari seseorang yang tidak ia percaya; Tuhan. Ia ingin membuktikan bahwa kemampuannya dalam memposisikan diri ketika menyambut bola adalah sesuatu yang memang ia rencanakan, bukan sesuatu yang kebetulan. Oleh karena itu, ia membuat target hat trick, agar semua orang dapat melihat bahwa gol-gol yang ia ciptakan bukanlah suatu kebetulan, ia ingin membuktikannya. Ia membuka target ini kepada seorang wartawan sepak bola yang ia percaya, Litotes Sudirman. Kepada Lito –panggilan Litotes Sudirman, sebelum pertandingan, ia berujar

“Mas Lito, tolong rekam saya.”

“rekam bagaimana Kang Rendy ?” tanya Lito bingung.

“saya mau Mas Lito simpan video yang nanti mas rekam, untuk mas putar setelah pertandingan. Boleh ?” jawabnya.

“baiklah Kang, saya rekam sekarang.” Kata Lito sambil mengeluarkan telepon genggamnya.

“Saya Rendy Setiawan, berjanji akan mencetak 3 gol hari ini.” Ujarnya sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan ibu jarinya.

Lito agak terkaget, sambil mematikan rekamannya, ia bertanya kepada Rendy

“Kang, nggak apa-apa nih ? Gimana kalau nggak bisa ? Nggak usah saya sebar ya ?”

“Berhasil atau tidak, sebar saja. Saya yakin pasti bisa. Ini untuk membuktikan kalau gol saya selama ini bukan omong kosong, bukan keberuntungan. Saya ingin kasih lihat semua orang kalau saya mencetak gol dengan kemampuan saya sendiri !” Jawab Rendy mantap.

“Baik Kang kalau begitu, terima kasih sudah mempercayai saya. Saya akan pegang kata-kata akang. Sebagai wartawan sepak bola saya nggak boleh bilang seperti ini, karena mungkin nantinya saya jadi bias, tapi entah kenapa, saya ingin akang berhasil hari ini. Sukses Kang !” ujar Lito sambil menyalami Rendy. Inilah yang membuat Rendy mempercayai Lito. Ia berbeda dengan wartawan pada umumnya. Ia tidak menjual –membesar-besarkan berita, untuk kepentingannya sendiri. Lito adalah wartawan olah raga yang paling subjektif yang Rendy kenal. Ia melihat A, maka ia akan menulis A. Tanpa lebih dan kurang suatu apapun.

Ketika lagu The Game sudah usai, Rendy melepas headphone-nya. Ia merapihkan kabelnya, meletakkannya ke dalam handbag, lalu mulai memejamkan mata untuk berkonsentrasi. Ia mengingat sebuah hat trick dalam pertandingan Arsenal melawan Leicester City pada tahun 1997. Pada pertandingan itu, Dennis Bergkamp –patron sepak bola Rendy, mencetak 3 gol indah. Sebuah tendangan placing dari luar kotak penalti, sebuah tendangan volley yang di-lob ke atas kiper, dan curling shot setelah dua kali kontrol yang luar biasa. Semua gol itu adalah teknik khas Bergkamp. Rendy ingin menciptakan hal yang serupa. Ia ingin seperti Bergkamp. Membuat hat trick sempurna dengan caranya sendiri, karena konon, hat trick sempurna diciptakan melalui trigol yang didapat dengan menggunakan kaki kanan, kaki kiri, dan kepala. Seperti yang dilakukan oleh rekan senegara Bergkamp, Jimmy Floyd Hasselbaink ketika membela Chelsea dalam sebuah pertandingan melawan Tottenham di tahun 2002. Rendy ingin mengukir namanya di sebelah tulisan “hat-trick sempurna” dalam tajuk utama koran olah raga, walaupun cara mendapatkannya bukan dengan kaki kiri, kaki kanan, dan kepala, tetapi dengan gayanya sendiri, gaya yang mereka bilang “keberuntungan.” Sesuatu yang tidak biasa, di luar kebiasaan.

Pelaksana pertandingan mulai memanggil kedua tim yang akan berlaga. Semua pemain di ruang tunggu mulai beranjak dari tempat duduknya. Para pemain cadangan masuk ke pinggir lapangan terlebih dahulu, duduk di sisi lapangan di atas kursi yang beratapkan kanopi dari fiberglass. Rendy yang masuk di Starting XI, berada di barisan paling belakangan pemain Tigers. Dengan dipimpin wasit Utoyo di paling depan, kedua barisan tim mulai beranjak ke dalam lapangan diiringi lagu FIFA Anthem yang memang menjadi lagu wajib tiap pertandingan sepak bola resmi.

Di layar televisi, beginilah formasi 4-2-3-1 Tigers;

Penjaga Gawang: I Ketut Sindhu (#78)

Pemain Belakang: Suhardi (#22), Tommy Agustinus (#16), Lois Janacek (#3), Juniansyah (#2)

Pemain Tengah: Velix Limpo (#15, c), Hudaya (#24), Abdoul Kadir Jaber (#10), Hilman Rosyid (#23), Rudiman (#7)

Pemain Depan: Rendy Setiawan (#9)

Rendy memang selalu diplot menjadi penyerang tunggal. Karena memang itu satu-satunya posisi di mana ia bisa bermain dengan sebaik-baiknya, dan memang skema Coach Ridwan adalah 4-2-3-1, sebuah formasi di mana ketika sebuah tim memiliki gelandang-gelandang dengan gaya yang bervariasi, akan mampu mengendalikan permainan dengan sangat baik. Seperti Tigers.

Kedua kapten tim dipanggil oleh wasit Utoyo ke tengah lapangan, lalu berjabat tangan dan menebak hasil lemparan koin. Hasilnya, Tigers dapat bola dan Eagles memilih sisi lapangan. Eagles memilih sisi Utara terlebih dahulu, karena di tribun Utara memang banyak pendukung Eagles. Gaya permainan Eagles adalah permainan keras dengan sedikit gol. Ketika mereka berhasil mencuri gol cepat, maka mereka akan bertahan dengan gaya parkir bus hingga akhir pertandingan. Gaya permainan mereka yang keras dapat membuat takut pemain-pemain lawan sehingga mereka malas menyerang dengan tempo tinggi. Sebuah strategi yang cocok dengan tim yang mengandalkan fisik seperti Eagles.

Bola disimpan di tengah lapangan oleh wasit dan pertandingan akan segera dimulai. Rendy-pun memulai ritualnya. Mengajak bicara bola untuk memintanya memberi tahu arah datangnya. Jika ia bisa tepat waktu menyambarnya, maka ia akan dapat gol.

“hei, bisa minta tolong kasih tau dari mana kamu akan datang nanti di depan gawang ? Kalau bisa, nanti tolong kasih tahu teman-teman kamu yang lain juga ya, siapa tahu kamu keluar lapangan dan diganti dengan bola lain.” Kata Rendy kepada bola yang menjadi bola kick off.

“Baik Bos Rendy !” jawab si bola tegas.

Permainan pun dimulai, Rendy mengoper bola kepada Jaber. Jaber lalu mengoper pendek ke belakang ke kapten Limpo. Seketika, pemain sayap kanan Tigers, Suhardi dan Hilman Rosyid mulai bergerak ke depan, membuka ruang serang dari kanan, Rendy mencari posisi di depan di tengah lapangan, tepat di depan Jaber. Di sisi kiri, Tommy Agustinus menunggu di posnya di belakang sambil sedikit bergeser ke kanan, untuk membagi ruang dengan Janacek dan Juniansyah menjaga garis belakang, menutupi lubang yang ditinggalkan Suhardi ke depan. Tigers menyerang dengan sangat cepat, dan baru saja pertandingan berjalan 1 menit, tendangan dari Hilman Rosyid sudah membentur gawang Eagles yang dijaga oleh Christian Lemonek, kiper impor asal Latvia.

Bek sekaligus kapten Eagles, Johnson –asli anak Medan, memulai serangan balik cepat Eagles dengan sebuah umpan jauh yang luar biasa akurat. Langsung menusuk sisi kiri pertahanan Tigers yang sedang ditinggal oleh Suhardi. Park Gwang-Seok, mantan pemain nasional Korea Selatan –dengan 1 cap saja, berlari kencang di sisi kiri, melewati Janacek yang terjatuh setelah sedikit diberi body feint oleh Park. Ia lalu mengumpan dengan umpan datar ke kaki Jamhar, penyerang veteran Eagles yang berusia 35 tahun, namun masih memiliki insting penyerang dan memiliki tendangang yang sangat keras. Jamhar menendang, namun tendangannya masih bisa dihalau oleh Ketut Sindhu. Tendangan penjuru untuk Eagles.

Pertandingan berjalan terus seperti ini hingga menit ke-20. Rendy belum juga mendapatkan kesempatan yang ia tunggu. Serangan Tigers seringkali putus di tengah-tengah. Pemain bertahan Eagles memang jago membaca serangan lawan. Serangan balik mereka juga berbahaya, namun sepertinya Jamhar memang sedang tidak dalam performa terbaiknya. Ia tidak juga bisa mencetak angka. Rendy sampai berpikir “sepertinya kalau saya main di Eagles, sekarang skornya sudah 5-0.” Namun, dalam sebuah serangan yang terancang dengan baik, melalui serangan dari sisi kanan, Rudiman berhasil melewati pemain bertahan di sisi kiri pertahanan Eagles. Di sinilah Rendy tiba-tiba mendengar si bola berteriak “Pak Rendy, mundur satu langkah Pak, curve ball ini !”, Rendy lalu mengambil satu langkah ke belakang, membuat bingung pemain bertahan Eagles, Johnson, bingung, karena jelas-jelas bolanya mengarah ke tengah, Johnson lalu melompat untuk menghadang bola, namun ternyata bola malah berbelok ke arah Rendy yang sudah mengambil satu langkah ke belakang. Lompatan Johnson ternyata malah menghalangi Lemonek yang sudah out of position. Bola memantul ke dada Rendy, lalu masuk ke dalam gawang Eagles. 1-0 untuk Bandung Tigers. Rendy berlari ke tiang penjuru sambil menggoyang-goyangkan bendera itu dan berteriak “AING YEUH !! AING !!!” Ia lalu terjatuh dipeluk oleh rekan setimnya. Ketika teman setimnya bersujud untuk merayakan gol darinya, ia hanya mengangkat tangannya untuk bertepuk tangan.

Pertandingan berlanjut. Skemanya masih sama, saling serang dan mengancam, dan seperti biasa, Rendy tidak kunjung mendapatkan bola. Alasannya sederhana, tugasnya hanya mencetak gol. Menunggu bola saja. Temannya tidak mau mempercayakan bola kepadanya, karena dribelnya tidak bagus-bagus amat. Umpannya apalagi. Ia hanya bisa mencetak angka dengan begitu saja. Dengan keberuntungan. Bukan, sebenarnya bukan keberuntungan. Rendy bisa mendengar dan berbicara dengan bola. Ia bisa mendengar nafas bola. Ia tahu ke mana bola akan pergi. Tapi ia tidak pernah mengatakan hal ini kepada siapapun. Ini rahasia penting baginya. Entah rahasia penting, atau takut dibilang gila. Yang pasti, ia tidak mau ketahuan oleh siapapun.

Beberapa kali Eagles kembali mengancam Tigers, namun semua bisa dimentahkan baik oleh Sindhu ataupun tiang gawang. Serangan Tigers juga begitu, entah kena tiang gawang, tubuh Johnson, atau tertangkap oleh Lemonek. Dalam sebuah pergumulan, bola keluar lapangan. Rendy mengambil kesempatan ini untuk menyampaikan niatnya kepada bola bahwa ia akan mencetak 2 gol lagi.

“hei, saya mau golin 2 lagi boleh ya ?”

“wah Pak Rendy, yakin Pak ? Biasanya bapak kan hanya mencetak 1 gol dalam tiap pertandingannya. Ini benar Bapak mau cetak 2 lagi ? Di luar kebiasaan loh Pak ?”

“iya benar, tolong ya”

“Pak Rendy siap dengan resikonya ?”

“apapun. Bantu saya ya ?”

“OYY REN ! CEPETAN !” Teriak Limpo dari dalam lapangan.

“baik, saya bantu Pak Rendy, tapi Pak Rendy harus siap dengan segala resikonya” kata si bola

“sudahlah, ayo !”

Rendy lalu melempar bola ke kaki Limpo, dan ia mulai lari ke depan. Tak lama, Limpo melakukan change side dengan mengumpan bola jauh ke arah Suhardi di sisi kanan lapangan, Suhardi lalu melakukan umpan satu-dua dengan Hudaya, yang langsung diteruskan dengan sebuah umpan silang mendatar ke arah rendy. Si bola kembali berteriak “PAK RENDY, TAHAN KAKI KIRINYA ! JANGAN BERGERAK” Rendy terdiam, tidak menyambut bola. Ternyata, bola itu mengenai undakan rumput, dan dengan cukup kencang bergerak ke arah kaki kiri Rendy yang terdiam. Lemonek yang tadinya mau menangkap bola dengan menjatuhkan badan, malah tertipu dan terjatuh sehingga tidak bisa menghalau laju bola dari Rendy. Gol kedua. Rendy mengangkat dua jarinya ke udara, lalu menunjuk ke arah tribun wartawan di mana Lito ikut menonton. Lito tahu arti tunjukkan itu. Lito tahu Rendy akan mencetak satu angka lagi, dan video Rendy yang ia rekam akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Bisa jadi ini menjadi titik awal menaiknya karir Rendy yang masih berumur 19 tahun.

Pertandingan terus berlanjut. Temponya kali ini agak menurun. Intensitas serangan mulai berkurang. Pertandingan menjadi agak membosankan karena Eagles tidak bisa menyerang apabila Tigers tidak menyerang, terlalu mengandalkan serangan balik. Tigers jadi banyak memainkan bola di daerah sendiri. Sayap-saPertandingan menjadi agak membosankan karena Eagles tidak bisa menyerang apabila Tigers tidak menyerang, terlalu mengandalkan serangan balik. Tigers jadi banyak memainkan bola di daerah sendiri. Sayap-sayap belakang mereka yang biasanya rajin membantu penyerangan, sekarang malah banyak beroperasi di daerah sendiri. Kebosanan ini terus berlanjut hingga peluit babak pertama usai.

Menuju ruang ganti, Lemonek dan Johnson mendekati Rendy dan berkata “Gol kau dua-duanya hoki belaka, tak percaya aku itu kemampuan kau, mati kau nanti di babak kedua !” Rendy hanya menatap mereka sambil mengacungkan dua jari tangan kanannya, sembari mengacungkan jari telunjuk kirinya. Menabrakkan kedua tangannya sehingga ia memiliki 3 jari terangkat di tangan kanannya. Gestur yang aneh, tapi yang pasti, ia sedang mengisyaratkan bahwa ia akan mencetak 1 gol lagi di babak kedua nanti.

1 gol lagi dan misinya terpenuhi. Rendy senang. Namun ia terpikir akan resiko yang bola katakan kepadanya. Apa ada hubungannya dengan apa yang ia lakukan ini ? Apa ada hubungannya dengan kemampuannya untuk berbicara dengan bola ? Ah sudahlah, yang penting cetak angka dulu. Begitu pikirnya. Teman-temannya menyelamati Rendy di ruang ganti. Mereka tidak peduli dengan bagaimana cara Reny mencetak angka. Yang penting mereka menang. Tigers menang, semua senang. Begitu prinsipnya. Suasana ruang ganti tidak lagi tegang. Ada yang mandi –Janacek, ia selalu mandi, karena menurutnya iklim Indonesia sangatlah panas, dan ia tidak kuat. Ada yang makan –Juniansyah dan Tommy Agustinus, mereka selalu lapar. Ada yang berdoa, membaca kitab suci dengan khusyuk, Suhardi dan Hilman Rosyid, keduanya sosok paling agamis di tim. Ada juga yang membahas strategi, ini dilakukan para pemain tengah; Velix Limpo, Hudaya, Jaber, dan Rudiman. Sedangkan I Ketut Sindhu membersihkan sarung tangannya. Sarung tangan kesayangan yang ia kenakan ketika ia berhasil menghentikan dengan penalti penentu dalam adu penalti melawan Jayapura Black Stars dalam final Liga Super Indonesia satu tahun sebelumnya, adu penalti yang menentukan kemenangan Tigers ketika mereka menjadi juara setelah sekian lama puasa gelar.

Rendy sendiri memperhatikan skema yang digambar oleh Velix Limpo di papan tulis ruang ganti. Sedangkan coach Ridwan diam memperhatikan skema yang digambar oleh Limpo. Ia yakin pada skema Limpo, karena Limpo yang sudah berumur 33 tahun akan segera pensiun dan menggantikannya. Baginya, peran Limpo di lapangan bukan hanya sebagai kapten, tetapi juga sebagai pelatih. Semua ilmunya sudah ia turunkan kepada Limpo. Ia siap pensiun dengan mantap.

Pelaksana pertandingan kembali memanggil kedua tim. Keduanya mulai memasuki lapangan. Di lorong, Rendy kembali berpapasan dengan Lemonek dan Johnson, Lemonek menatapnya dingin dan Johnson mengangkat jari telunjuknya, menelusuri lehernya dengan jari itu, sambil menjulurkan lidahnya. Gestur menyembelih. Sebuah tantangan. Rendy hanya menatapnya cuek, dan memberi jari telunjuk kiri. Hanya mengingatkan bahwa ia akan mencetak 1 gol lagi. Ia yakin ia bisa. Bola bersamanya. Bola baginya lebih dari sekedar teman. Bola baginya adalah sebuah entitas yang akan membantunya meraih sukses. Ia bisa membayangkan, setelah hat trick pada hari ini, ia akan memiliki nama yang lebih baik lagi di media. Ia akan dipanggil masuk ke tim nasional Indonesia, dan mampu berunjuk gigi di kancah internasional. Impian semua pemain sepak bola. Hanya satu yang mengganjalnya “Pak Rendy siap dengan resikonya ?” kata-kata si bola tadi.

Pertandingan kembali dimulai. Masih hampir sama dengan akhir babak pertama di mana pertandingan berjalan membosankan, namun kali ini Tigers agak berani menyerang, karena sudah berada di atas angin. Dan kembali, Rendy tidak kunjung mendapatkan bola. Ini membuat Johnson (dan Lemonek) kesal, karena mereka tidak bisa mengapa-apakan Rendy yang sama sekali memegang bola. Provokasi mereka percuma. Rendy terus bergerak secara acak di kotak penalti Eagles sembari menunggu kiriman bola, yang tentunya tak kunjung datang. Ternyata, gerakan acak Rendy membuat Johnson frustasi. Pada akhirnya ia melampiaskan kekesalannya kepada Rudiman yang berusaha menusuk dari sisi kiri lapangan. Penalti untuk Tigers.

Penalti di tim Tigers biasanya diambil oleh sang kapten, Limpo. Tapi, khusus kali ini, Rendy meminta Limpo untuk membiarkannya mengambil penalti. Pada awalnya Limpo ragu, ia tahu kemampuan tendangan Rendy biasa-biasa saja. Namun ia juga ingat bahwa 90% tendangan penalti itu pasti masuk, dan dari 90% itu, sebagian besarnya adalah keberuntungan. Melihat Rendy, walaupun ia tidak pernah mengatakannya, tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu, Rendy adalah orang yang presentasi keberuntungan dalam mencetak golnya mencapai 100%. Ia percaya pada keberuntungan Rendy. Rendy mengambil penalti itu sambil berkata kepada bola. “Tendang ke mana ini ?”

“oh, Pak Rendy ya ? Tendang ke tengah aja, Pak, nanti saya belok ke mana-ke mananya lihat Lemonek” Ujar si bola kalem.

“oke. Tolong ya.”

“hmm Pak Rendy, sebenarnya apa yang Pak Rendy lakukan sudah tidak bisa dihentikan lagi. Pak Rendy harus siap dengan resikonya. Sudah terlambat untuk Pak Rendy jika ingin kembali.” Kata si bola.

“Ehhh gimana sih ???” Kata Rendy sambil memutar-mutar bola.

“lihat saja nanti, Pak Rendy” jawab si bola.

Rendy lalu menempatkan bola ke titik putih. Ia lalu menendang bola dengan cukup keras ke arah tengah. Lemonek berdiri di tempat yang tepat. Namun, ketika ia akan menangkap bola, bolanya malah terbentur ke jarinya dan terpantul ke dalam gawang. Gol. 3-0 untuk Tigers. Rendy mengacungkan 3 jari ke arah Lemonek, lalu mengedipkan mata ke arah Johnson. Memicu amarahnya tentunya. Namun ia tak bisa melakukan apapun. Setelahnya, pertandingan berjalan dengan sangat lambat. Hingga peluit akhir berbunyi, tidak ada lagi kejadian yang pantas dilaporkan di dalam koran bola. Pertandingan akhirnya usai dengan skor 3-0 untuk Tigers. Rendy berhasil mencetak 3 gol. Misi hat trick-nya berhasil. Ia berterima kasih kepada bola. Bola hanya berkata sama-sama, dan menyuruh Rendy untuk bersiap-siap menerima konsekuensi dari melakukan sesuatu yang berbeda dari apa yang ia lakukan sebelumnya. Ia melihat ke arah press box, di situ ia melihat Lito sedang asyik dengan telepon genggamnya. Mungkin sedang mengunggah video tadi.

Dengan 3 gol, Rendy menjadi man of the match di pertandingan itu. Dan sebagai man of the match, ia berhak menghadiri konferensi pers Liga Super Indonesia.  Namun, ia terkaget-kaget ketika masuk ke press room. Yang ia lihat, bukanlah banner Liga Super Indonesia. Tetapi menjadi QNB: Indonesian Super League. Di bawah tulisan QNB, ada tulisan Qatar National Bank. Bank Nasional Qatar. Sepertinya, itu menjadi sponsor baru Liga Indonesia. Seperti Bank Barclays di Barclays Premiere League, alias Liga Inggris. Beberapa pertanyaan menanyakan perasaan Rendy yang baru saja mencetak hat-trick pertama dalam karirnya. Tentunya ia senang, namun pada akhirnya ia meledak ketika ada seseorang yang bertanya mengenai “gol anda sepertinya semuanya berbau keberuntungan, bagaimana pendapatnya ?” Rendy meninju meja dengan sangat keras. Ia berteriak “NANTI ANDA LIHAT MEDIA SOSIAL ! MEDIA SOSIAL AKAN DIBANJIRI OLEH VIDEO SAYA ! TUNGGU SAJA !”. Rendy Lalu meninggalkan press room, sedangkan mata para wartawan dan panitia acara semua tertuju kepada si wartawan. Mereka melihat wartawan itu dengan wajah kesal, bagai berkata “harus banget sekarang nanya kayak gituan ?”.

Rendy membereskan barang-barangnya dengan cepat. Ia tidak pulang dengan bis klub untuk syukuran. Mood-nya yang tadinya sedang baik menjadi berantakan karena pertanyaan tadi. Selain itu, di kepalanya juga masih berkecamuk pikiran tentang peringatan si bola. Ia juga masih bingung dengan QNB. Seingatnya, Liga Indonesia tertinggi itu bertajuk Liga Super Indonesia, bukan QNB Indonesian Super League. Ia menyempatkan diri juga membuka akun twitter-nya @rendysetiawan09, ia kaget melihat ratusan mention di tab mention miliknya. Ternyata benar, video dari Lito sudah menjadi viral. Strateginya sukses. Kebanyakan yang me-mention-nya memujinya. Ia senang, namun itu tidak cukup untuk mengembalikan mood baiknya. Dalam kondisi seperti ini, biasanya Rendy sengaja mengunjungi kandang lama Tigers, Stadion Siliwangi. Jaraknya cuku jauh dari si Jalak Harupat, kandang Tigers sekarang, namun ia tak kuat untuk mengunjungi stadion Siliwangi. Ia harus ke sana, entah kenapa. Ia harus melepaskan rasa penat dari kepalanya. Memang sehari setelah pertandingan latihan selalu diliburkan, namun tentunya tidak enak berlibur dengan rasa penat. Ia pun memacu mobilnya ke Stadion Siliwangi. Stadion di mana ia tumbuh besar menonton pertandingan Tigers, berlatih sebagai anggota Tigers Junior, hingga akhirnya mendapat pengakuan dari coach Ridwan.

Sesampainya di sana, keadaan stadion sudah cukup gelap. Pertama ia memandangi rumputnya dari tribun. Ia lalu meloncat ke bawah, dan mulai jalan ke dalam lapangan. Rendy sudah sangat dikenal di stadion itu. Penjaga stadion membiarkan ia masuk, bahkan ia diperbolehkan menginjak rumput lapangan yang biasanya harus selalu steril ketika tidak ada pertandingan atau perawatan. Ia berlari-lari kecil di atas lapangan, sambil melihat sekeliling. Memejamkan mata dan mengingat kembali gol perdanya untuk Tigers Junior. Ia tersenyum, lalu berbaring di tengah lapangan. Ia melihat banyak bintang di langit. Ia lalu mengangkat tangannya ke depan wajahnya, mencoba meraih bintang itu dan tersenyum. Apa yang terjadi hari ini, akan menjadi titik awal mimpiku. Aku akan meraihnya. Ia lalu melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang berbeda dengan apa yang ia lihat selama ini. Papan skor stadion. Ciri khas papan skor Stadion Siliwangi adalah kepala macan di atasnya. Tapi kali ini, yang ia lihat adalah kepala Macan Kumbang berwarna hitam. Baginya, ini adalah sebuah kejadian yang aneh. Jika memang diganti, semestinya penggantian kepala macan itu akan menjadi tajuk utama bagian olah raga Koran Pikiran Rakyat. Tapi ini tidak. Ia lalu bertanya kepada Mang Aceng, sang penjaga stadion, ia hanya menjawab “Hah ? Dari dulu sudah seperti itu, Kang Rendy.” Ia bingung. Mungkin aku lelah. Kata Rendy. Ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.

Rendy tinggal sendiri. Ia belum menikah, dan orang tuanya tinggal di luar negeri. Di Inggris. Rendy sebenarnya diajak untuk ikut serta tinggal di sana, namun ia menolak. Ia memang berangan untuk bermain di Bandung Tigers sejak kecil. Bermain untuk tanah kelahirannya, Bandung. Ketika berumur 15 tahun, orang tuanya pindah ke Inggris karena urusan dinas. Ke kota London, di mana klub favorit Rendy, Arsenal berasal. Namun ia memilih untuk tidak ikut. Karena ia merasa kemampuannya belum cukup untuk bahkan masuk sekolah sepak bola Arsenal. Ia tahu, ada syarat minimal untuk masuk Arsenal. Kemampuannya untuk berbicara dengan bola tidak cukup, kecuali ia dengan gilanya mengakui bahwa ia memang punya kemampuan itu kepada pelatih-pelatih Arsenal. Tentu ia akan disebut gila. Oleh karena itulah ia memilih untuk tetap di Indonesia dan membela Tigers.

Sesampainya di rumah, ia langsung tertidur. Memang benar ia kelelahan. Namun ia tidak tahu, apa yang akan ia lihat di pagi harinya, akan mengubah hidupnya untuk sementara. Terbangun dari tidurnya, Rendy lalu menyiapkan sarapan pagi. Penatnya sudah hilang, tetapi kepala macan menjadi kepala macan kumbang di Stadion Siliwangi masih mengganggu pikirannya. Telepon genggamnya panas dan frozen. Berhenti begitu saja. Sepertinya karena mention twitter-nya terlalu banyak. Ah, sudahlah. Katanya dalam hati. Ia lalu keluar rumah dan menemukan koran Pikiran Rakyat baru. Di rubrik TIGERS yang khusus membahas Bandung Tigers, fotonya terpampang besar. “AING YEUH AING !” HAT-TRICK RENDY SETIAWAN. Begitu tajuknya. Ia senang. Namun, apa yang ia baca di halaman selanjutnya, membuat hatinya berkerut. QNB INDONESIAN SUPER LEAGUE KEMBALI DITUNDA. Begitu katanya. Ia lalu membaca artikelnya.

Ternyata, ini adalah untuk kedua kalinya QNB Indonesian Super League ditunda. Aneh sekali. Yang selama ini ia ikuti adalah Liga Super Indonesia, bukan QNB Indonesian Super League. Mengapa menjadi QNB Indonesian Super League ? Tiba-tiba saja tepat setelah pertandingan di mana ia terlah mencetak hat trick pertamanya. Itu jelas bukan mimpi. Mention di twitter dan tajuk berita di koran berkata jujur. Video yang diunggah oleh Lito juga benar adanya. Ia bisa memutarnya. Lalu mengapa ? Mengapa tiba-tiba menjadi QNB Indonesian Super League ? Mengapa tiba-tiba ditunda ? Rendy terdiam lalu berpikir. Apa mungkin ini dunia paralel ? Ah tidak, itu hanya ada di cerita fiktif saja. Padahal, begitu juga dengan kemampuannya bisa berbicara dengan bola. Ah… Lalu, bagaimana dengan macan kumbang di Siliwangi ? aku harus memastikannya !

Rendy lalu memacu mobilnya lagi ke Stadion Siliwangi. Tanpa mandi, tanpa sarapan, hanya berganti baju saja. Sesampainya di sana, ia bertegur sapa dengan Mang Aceng dan meminta izin untuk masuk ke dalam stadion, tentu saja ia diizinkan. Ia ingin memastikan kembali apa yang ia lihat tadi malam. Ya, ternyata itu sama dengan yang tadi malam. Tidak berubah. Tetap macan kumbang. Ia bingung. Ia bagai berada di dunia lain. Di Bandung yang bukan Bandungnya, di Indonesia yang bukan Indonesianya, di Liga yang bukan Liga Supernya. Di QNB Indonesian Super League. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke luar stadion. Lalu, matanya tertuju dengan sebuah bola sepak yang tergeletak di lantai dekat ruang ganti. Dalam sekejap ia teringat. Teringat akan sebuah kalimat. Sebuah kalimat yang membuatnya berkeringat dingin: “Apakah Pak Rendy siap dengan segala resikonya ?”

h1

Kekucingan

April 9, 2015

Katanya, baik atau tidaknya seseorang tidak ditentukan dengan kedekatannya dengan Tuhan. Katanya. Tapi ada yang bilang juga, baik atau tidaknya seseorang dapat ditentukan dengan seberapa rajin ia mengingat Tuhannya, Tuhan yang tak terlihat saja selalu diingat, apalagi yang dilihat setiap hari. Begitu katanya. Aku yang mana ? Ah aku sih yang mana saja, selama aku baik dengan manusia lain, aku pasti dianggap orang baik. Kalau ada orang jatuh dari motor, aku tolong, dia tidak akan tanya agamaku apa, apa aku rajin ke mesjid, gereja, pura, sinagog, atau tempat lainnya, tak akan peduli. Ia lebih peduli aku mengangkat motornya, lalu tubuhnya, sembari menawarkan apa perlu ambulans atau tidak. Sederhana. Karena yang menghakimi aku ya manusia lagi. Berlakulah seperti manusia terhadap manusia. Tapi konon, kalau tidak mengingat Tuhan, ada kalanya bisa kena kutuk. Terdengar seperti perkataan orang dari abad pertengahan, tapi masih sering saja ada yang bilang begitu. 2015. Entah sudah lewat berapa abad. Tapi kepercayaan seperti itu tak kunjung mati. Tapi ya, apa peduliku sebenarnya. Hak mereka untuk percaya, hak aku untuk tidak, dan hak Tuhan untuk berbuat apapun kepada aku.

***

Kukunyah potongan kentang dan waluh rebus, ketimun dan selada segar, serta semangkuk bumbu kacang untuk menghilangkan kehambaran rasa potongan-potongan itu. Orang bilang ini namanya gado-gado, dan cara makannya bukan seperti ini. Tetapi dipotong-potong dan dicampur adukkan. Bukan dimakan seperti kentang goreng yang dicelupkan ke sambal dan saus tomat. Ah, tapi apa peduliku ? Toh yang masuk ke perut sama-sama saja. Ayam, mau direbus, mau digoreng, mau disoto, tetapi saja namanya ayam. Sayur-sayuran ini juga begitu. Mau dicampur aduk, mau dimasukkan ke dalam juicer, tetap saja namanya sayur. Bagiku sayur-sayuran ini cocok untuk sarapan. Membuat kenyang, murah, dan sehat. Ditemani dengan sebotol air putih, sudah cukup untuk menjaga metabolisme tubuh.

Sarapanku terdengar hambar ? Memang. Agar makin hilang hambarnya, aku menambah rasa lain. Tapi rasanya bukan dari makanan, melainkan dari koran. Koran memang bukan untuk dimakan, tetapi ia bisa menjadi penawar hambar yang lain. Rasa hambar di otak karena apa yang muncul di televisi tidak ada yang bisa membuat otakku bekerja. Semua berwarna hitam putih, bagaikan semut sedang berkecamuk. Televisi telah mati. Karena tidak aku bayar iuran bulanannya. Biarkanlah. Melihat semut hitam dan putih bertengkar lebih seru daripada melihat manusia-manusia yang bertengkar. Kecuali pertarungan bela diri –yang hanya disiarkan malam, dan aku tidak punya waktu untuk menontonnya, tidak ada pertengkaran manusia yang seru untuk dilihat. Bagiku itu bodoh. Ego melawan ego. Seperti binatang saja. Maka dari itu, daripada melihat yang menyerupai binatang, lebih seru melihat binatang saja yang bertengkar. Semut melawan semut.

OSAMA BIN LADEN TEWAS DALAM OPERASI TOMBAK NEPTUNUS

Begitu tajuk berita yang aku baca dari koran. Wah, Osama Bin Laden tewas ? Luar biasa. Ini berita yang sangat spektakuler. Spektakuler pada masanya. 4 tahun yang lalu. Ini memang koran lama. Koran lama yang aku ambil dari gudang. Koran lama yang sengaja aku simpan kembali di tempat koran untuk menghilangkan bosan. Aku tidak langganan koran. Alasannya sederhana: karena temanku bilang baca koran bisa membuat paranoid. Ia bilang, koran langganannya memuat artikel tentang bahaya masakan rumah, yang katanya walaupun dibuat sendiri, belum tentu lebih aman daripada gorengan yang dibeli di pinggir jalan. Ancaman pestisida lah, obat tumbuhan lah, pokoknya tidak bikin nyaman, sepertinya lebih baik tidak makan. Untungnya, koran langgananku dulu belum memuat artikel serupa. Jadi, sebelum koran itu memuatnya, aku putuskan untuk berhenti saja. Aku senang, semua senang.

Selesai membaca koran edisi Mei 2011 itu, aku meletakkannya di tumpukan koran lama tadi. Tidak berdebu. Debunya sudah aku bersihkan sebelumnya. Ketika koran-koran ini baru diturunkan dari gudang. Aku lalu mencuci piring, garpu, dan mangkuk juga alat dapur lain seperti ulekan dan talenan yang aku pakai untuk menyantap dan mempersiapkan “gado-gado” tadi. Menatanya di rak piring, mengepel lantai dapur yang basah akibat kegiatan cuci-mencuci, lalu pergi ke lantai 2 untuk mulai mandi dan bersiap pergi. Adegan mandi tak perlu aku ceritakan karena hanya melibatkan diriku, sabun, dan shampoo. Tidak ada yang istimewa.

Selesai mandi, aku merapihkan tasku. Barang bawaanku tak banyak hari ini. Tak perlu membawa laptop, karena hari ini tak ada kuliah yang mengharuskan aku untuk mempresentasikan hasil karyaku. Cukup membawa binder untuk catatan kuliah, tempat pensil yang berisi alat-alat tulis serta sampah-sampah kecil, tak lupa sekaplet obat sakit kepala. Aku sedang sedikit demam. Mungkin kalau minum obat sakit kepala, demamnya akan reda. Mengantuk ? Tak masalah, aku kuat.

Aku lalu bersiap ke kampus. Mengenakan baju sepak bola dan celana jeans. Sederhana saja. Mengapa harus dibuat ribet ketika yang dibutuhkan hanya mata, telinga, mulut, tangan dan otak untuk menjalankan kehidupan kampus ? Jika diperbolehkan memakai celana pendek, kaos oblong, dan sendal jepit, aku akan datang dengan stelan seperti itu setiap hari. Kuambil kunci mobilku, menyimpan barang-barangku di jok penumpang depan, menyalakan audio mobil dengan playlist bernama “Distorsi”, di mana aku menikmati ketukan-ketukan synkopatik ala Brann Dailor dari Mastodon. Sebuah hiburan tak ternilai di pagi hari. Sayang, aku hanya bisa menikmatinya selama setengah jam tiap pagi, karena memang sejauh itu lah jarak kampus dan rumahku.

***

Di tengah riuhnya jam pulang sekolah di sebuah sekolah dasar negeri.

A: “Cepetannnn itu kubur kucingnyaaa cepeeeettt !! Kasian udah mau matiiiii !!!”

B: “Tunggu dong, tunggu mati lah ! Masa dikubur sekarat-sekarat ?? Lagian sekopnya masih nyari nih !!”

C: “Bego maneh. Itu kucing bisa kayak gitu kerjaan siapa sih ? “

A: “Itu anak kelas 2, masa kucing diinjek lehernya terus diseret-seret gitu ? Sekarat lah !”

C: “waduh… lain kali mesti dikasih tau tuh, di sekolah kita kan banyak kucing”

B: “ini nih, sekopnya ketemu, minjem sama Bi Ondy !”

A: “itu kucingnya udah diem, udah mati”

B: “ya udah hayu kubur ih !”

Tiga anak sekolah dasar itu lalu menggali kubur, memasukkan bangkai kucing yang sudah mati tadi, menutup kuburannya, lalu berdoa.

A: “Mau liat malaikat nggak ?”

C: “gimana caranya ? ngaco maneh”

A: “eh tenang, ada caranya. Kata guru ngaji urang, kalau ORANG udah dikubur, setelah 7 langkah orang terakhir yang pergi ninggalin kuburannya, dia mulai ditanya-tanya sama malaikat”

B: “OH KITU ? OKE !”

A, B, C: 1… 2… 3… 4… 5… 6… 7… AYOOOO GALI LAGII !!!

***

3 hal yang paling aku benci di dunia:

  1. Orang yang merasa paling benar di dunia
  2. Anjing
  3. Sampai di tempat tujuan ketika audioset di mobil masih memainkan lagu yang aku suka

Nomor 3 baru saja kejadian. Ketika Crystal Skull belum berakhir, aku sudah selesai parkir. Aku tidak mau menunggu, sayang bensin. Aku matikan audioset, pendingin mobil, dan mesin mobil tentunya, kuambil tasku, lalu aku berjalan menuju kelas yang dalam 15 menit akan segera dimulai. 15 menit. Waktu yang cukup untuk menggambar di binder-ku. Walaupun tidak berguna, tapi lumayan untuk membuang-buang tinta.

Jalan menuju ke kelas licin, karena habis hujan. Aku harus lebih hati-hati, bahaya jika terpeleset. Aku ingat saudaraku yang pernah terpeleset hingga terjatuh dan tak bisa bernafas untuk beberapa saat. Menyeramkan. Aku kira dia geger otak, ternyata hanya kaget saja. Ya, ancaman geger otak karena terpeleset akibat licin setelah hujan adalah ancaman nyata bagiku, karena jalan kaki tidak diwajibkan mengenakan helm. Jika berjalan kaki sambil mengenakan helm, kamu akan dibilang gila atau bodoh. Walaupun sebenarnya jika memang aku mengenakan helm, lalu yang bilang aku bodoh terpeleset dan geger otak, aku bisa bilang dia bodoh. Tapi ya sudahlah. Jangan memaksakan kehendak.

Di kampus ini banyak kucing liar berkeliaran. Entah dari mana awalnya, tetapi itu menjadi semacam atraksi yang menarik. Tiap kali ada teman lamaku menjenguk ke sini, aku selalu bilang “eh, di sini banyak kucing lho.” Bagiku pemandangan banyak kucing ini aneh. Karena banyak kucing. Karena banyak kucing adalah pemandangan yang tidak wajar. Apalagi di lingkungan kampus. Kalau banyak kucing di peternakan kucing, itu wajar. Tapi kalau banyak kucing di kampus, itu tidak wajar. Bagi teman-temanku yang berkunjung juga begitu. Ada yang bilang lucu, tapi ada juga yang bilang menyebalkan karena ia alergi kucing. Ada juga yang kesengsem, bisa dikasih untuk Bang Juned katanya. Siapa itu Bang Juki saya tidak tahu dan tidak mau tahu, mencurigakan.

Di kampus yang banyak kucing ini, sering membuatku berpikir. Bagaimana rasanya jadi kucing ? Tidak perlu kuliah, tidak perlu mengerjakan tugas, bisa bermalas-malasan seenaknya, tidak takut dosa, dan berbagai macam keuntungan lainnya. Keuntungan yang tidak bisa didapat oleh manusia biasa. Pernah sekali aku keluarkan pemikiran ini sebagai celetukan iseng, temanku membalas dengan sedikit ketus “eh awas lho, kalau malaikat lewat bisa jadi doa !”

Ada yang bilang, ucapan itu doa. Begitu katanya. Nah, ini temanku malah mendoakan malaikat lewat ketika aku berbicara ngaco, malah mendoakan yang tidak-tidak.

***

C: “Mana malaikatnya ih ?”

A: “Tungguin bentar..”

C: “Maaaannaaaaaaaa….?”

B: “cicing maneh, sabar atuhh”

A: “eh enya lupa. Guru ngaji urang juga bilang kan malaikat mah makhluk gaib, nggak akan bisa keliatan”

C: “ARI MANEEEEHHHHH…..”

B: “Belegug ih maneh mah. Ya udah, hayu kubur lagi aja lah, kasian”

A: “hahaha. Oke”

***

Di kelas, penjelasan yang diberikan oleh Pak Profesor sebenarnya sangat menarik. Tentang Kebudayaan yang dinamis. Sebuah paradigma tentang kebudayaan yang sangat berbeda dari paradigma lain tentang kebudayaan yang pernah aku pelajari. “Budaya itu dinamis, berkenaan dengan kepentingan dan kekuasaan yang menaungi budaya itu.” Begitu katanya. Sayang, kepalaku tidak mau banyak bekerja sama hari ini. Sakit kepalanya makin menjadi. Apa yang diucapkan oleh Pak Profesor tidak masuk sama sekali. Bukan masuk telinga kanan keluar telinga kiri, masuk telinga kanan atau kiri pun tidak. Sayang sekali, padahal pertemuan dengan profesor ini hanya 6 kali dalam 1 semester ini.

Ternyata kali ini aku tidak cukup kuat. Bukan karena ngantuk, tapi karena sakit kepala yang luar biasa ini. Pandanganku mulai buram. Konsentrasi jelas sudah buyar. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan kecuali tetap terlihat memperhatikan Pak Profesor dan berharap agar kelas ini cepat usai. Setelah kelas ini usai, aku mau minum obat, dan meminjam ruang perpustakaan untuk tidur. Ide bagus. Ide yang didukung oleh teman-teman lamaku di grup line. “ya udah, istirahat maneh !” begitu kata mereka.

Aku kuat. Aku kuat. Aku kuat. Aku… kuat… Ternyata doaku dikabulkan. Doaku dalam hati. Doa di mana aku berharap Pak Profesor tiba-tiba harus pulang. Ternyata benar. Telepon genggamnya berbunyi, dan sepertinya ia harus menghadiri sesuatu yang gawat, sesuatu yang darurat. Istrinya mau melahirkan ! Dan ternyata beliau lupa kalau istrinya sedang hamil tua. Luar biasa. Memang begitu katanya ya, jenius dan gila itu beda tipis. Mungkin ini contohnya. Seperginya Pak Profesor, aku langsung menenggak obat sakit kepala, tanpa air minum.

Aku lalu berjalan lunglai ke perpustakaan. Namun, tiba-tiba saja perhatianku teralih ke langit. Ada matahari. Awalnya putih. Tapi lalu jadi hitam. Aku tanya ke teman sekelasku yang masih berada di sekitarku. Apa iya ? Mereka bilang tidak. Sekejap, tubuhku lemas, dan aku terjatuh. Lalu gelap. Gelap gulita.

***

A: “Okeh, beres nyak, mari kita doakan, semoga dia ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya”

B: “Emang kucing punya Tuhan ?”

A: “Punya atuh, sama dengan Tuhan kita, Tuhan kita kan pencipta segalanya”

C: “Kucing nantinya masuk Surga atau Neraka atau gimana ya ?”

A: “Hmm. Masuk Surga lah kalau baik mah…”

C: “Tapi kan, kata Pak Guru, binatang kan nggak bisa mikir ? Jadi nggak tahu dong yang baik dan yang buruk ? Nggak adil dong kalau gitu”

A: “maneh emang pinter euy, urang mah nggak pernah mikir sampe sana…”

***

Aku terbangun. Ini terbangun kedua kalinya dalam sehari ini. Aku masih di tempat aku terjatuh tadi. Aneh. Aku kan tadi pingsan, kok tidak ada yang membawaku ke rumah sakit atau setidaknya didudukkan di tempat yang pantas lah. Ini kok malah didiamkan di depan kelas. Ugh, tapi ada yang aneh. Segalanya terlihat menjadi lebih besar. Pot tanaman setinggi 70 cm jadi seperti 2 meter. Ini aneh sekali.

Aku lalu berjalan menuju ke ruang perpustakaan, tempat biasa aku berkumpul dengan teman-teman. Tiba-tiba aku terpeleset. Ah, mungkin licin habis hujan pikirku. Tak lama, aku sadar. Aku berjalan dengan menggunakan tanganku juga. Seperti… merangkak. Bagaikan bayi. Hah, aku kenapa ? Ketika aku mencoba berdiri dengan dua kakiku, aku tidak bisa ! Aku kenapa !? Aku mencoba berteriak, mungkin nanti akan ada yang membantuku. Tepat di saat aku coba berteriak, aku mendengar suara kucing. Keras sekali. Aku sampai kaget, tak pernah sebelumnya aku mendengar suara kucing sekeras itu. Meski aku tiap harinya dikelilingi kucing, tapi baru pertama kalinya aku mendengar suara kucing sekeras itu. Aku mengurungkan niatku untuk berteriak, dan memutuskan untuk berjalan begitu saja ke ruang perpustakaan.

Di ruang perpustakaan terdengar suara tawa yang sangat familiar. Suara tawa teman-temanku. Aku kenal suara mereka dengan baik. Kami selalu bersama setiap hari. Wajarlah kalau sampai familiar. Namun, di antara suara mereka, ada suara yang benar-benar berbeda. Aku tahu suara itu, suara yang setiap hari aku dengar. Suara yang aku dengar bahkan ketika aku sendirian. Satu-satunya suara yang tidak pernah meninggalkanku, suara yang ada bahkan ketika bayanganku meninggalkanku di kegelapan. Suaraku. Suaraku sendiri. Itu suaraku. Mengapa suaraku ada di sana ? Aku mengintip melalui celah pintu. Aku melihat kawan-kawanku sedang mengelilingi seorang lelaki yang kepalanya sedang diperban. Seorang lelaki yang sosoknya aku lihat tiap hari di cermin. Aku. Kenapa aku ada di situ ? Kalau aku ada di situ, lalu aku siapa ?

Aku yang di situ lalu mendekat kepada diriku, mengangkatku dengan ringan “EEIII KUCIINGGG, MAU KE MAAAANNNAAAA ?”

***BERSAMBUNG***

h1

the Paradox of Happiness

April 5, 2015

Today was, well, I can’t say that today was a good day or a bad day. You’d be the judge. It started badly, so bad that I have to eat my breakfast at 11. But it ended nicely, so nice that I can go to sleep peacefully. I should go to sleep. I really should. But then, in the bed, something comes to my mind. How can a good day be a bad day at the same time ? Would it be an oxymoron ? (Oxymoron is a figure of speech that juxtaposes elements that appear to be contradictory, such as: silent scream, stupid wisdom, etc). These kind of things made me think. But, just thinking about it won’t be matter. Because there is no one to talk to, and if there is one, he/she might be forgetting afterwards. So, I decided to turn on my laptop, and start writing. Posting this on my blog would be better than letting it rot in my brain.

What is a good day without a bad day ? Nothing.

What is a bad day without a good day ? Nothing.

What is happiness without sadness ? Nothing.

What is sadness without happiness ? Nothing.

What is good without bad ? Nothing.

What is bad without good ? Nothing.

These kind of things. The binary opposition of each things are the things that make these things matter. A good day wouldn’t be a good day without a bad day. Why is that ? Because we wouldn’t know what a good day is. Let’s say we got bitten by a dog. Is it a good day ? No, of course, because you have better ones. Ones that you didn’t get bitten by a dog. But, let’s say that to a war veteran who are getting rain of bullets as their breakfast everyday. Pretty much sure that “today, a dog bit me and nothing happened afterward. What a great day.” Yes, they can say that it is a good day because they have worse –which is of course, a bad day. So, if you never have a bad day, you wouldn’t have a good day because you will have nothing to compare with. And everyone’s good day is different. One might say that getting bitten by a dog is a bad day, while the other say that it is a good day.

Yes, it comes in a pair. The goods and the bads. Because what good won’t have any meaning at all without (what considered to be) the bad. You’re not a good person when there is no bad person. Because everyone would be the same, either all good, or all bad. There might be better ones or worse ones, but then, the better one will be the good ones, and the worse ones will be the bad ones. Many people doesn’t realize this. I do realized this at some part of my life. When I feel low, lower than the floor, but then, it made me think “hey come on, I’ve been somewhere better, and somewhere worse, why not letting happiness taking over the sadness ?” Then poof. I’m happy again. Because I know happiness and sadness. And I know that sadness will eventually go, and happiness will eventually come. It’s normal. Being sad is normal. Being happy is normal. Because it comes in a pair. HappyóSad. And one of them wouldn’t be there without each other. You can’t feel happiness without the sadness. And sadness makes you realize that there were thing you called happiness. It is the time when you’re not sad.

Well then, what do you call time when you’re neither sad or happy ?

Back to yourself. How do you perceive yourself in that situation. Then you’ll know what to call.

Well. Up to this part, I’m starting to get really sleepy. I’d continue it later in this kind of theme, maybe with a short story or something. But the point is, one bad day is good for you. Because it reminds you that you still got thing you call happiness. When you don’t feel bad on a bad day, then you’ve forgotten what happiness was. It’s scary if you feel that way. So, Don’t. Cheer up, and let the bad things goes.

h1

Mencari Kucing Tetangga

April 3, 2015

Hari ini adalah hari Minggu. Hari Minggu yang biasa untuk seorang Bayu, seorang pekerja kantoran yang sehari-harinya mengais nafkah di gedung bertingkat, menelpon klien sana-sini, menganalisis data, makan bersama rekan-rekan kantor, dimarahi atasan yang sedang stress karena anaknya menghamili pacarnya di luar nikah, bertengkar dengan customer service penyedia telepon genggamnya, dan masih banyak hal lain yang menguras mental dan fisiknya. Bayu adalah seorang bankir. Setiap hari Senin-Jum’at, ia menjalani rutinitas yang sama. Pergi ke kantor, menjalani aktifitas-aktifitas yang menguras mental dan fisik, pulang ke rumah, lalu tertidur. Besoknya ia terbangun, menjalani rutinitas yang sama. Kecuali besok hari Sabtu dan tidak ada lembur, maka ia bisa tidur agak sedikit lebih lama, lalu bangun, berolahraga bersama teman-temannya –bermain futsal, lalu pulang, dan tidur. Begitulah seterusnya. Jika ada lembur, rutinitas yang sama terulang, tetapi di hari Sabtu.

Bagi Bayu, hanya hari Minggulah yang istimewa. Hari Minggu adalah hari yang berbeda. Ia memiliki rutinitas lain di Hari Minggu. Bangun siang, membaca tumpukan majalah dan novel favoritnya, menenggelamkan dirinya di dalam rangkaian kata dari orang yang belum pernah ia kenal. Meski kenal, hanya dari televisi ataupun majalah. Tetapi itu tak bisa disebut dengan kenal bukan ? Kita tidak bisa bilang kenal dengan Lionel Messi hanya dari layar televisi. Tak bisa bilang kenal ketika hanya satu pihak yang mengetahui kisah personal. Tapi begitulah istimewanya sebuah tulisan, baik majalah maupun novel. Tak perlu kita mengenal si pengarang untuk memahami pesan dan perasaannya.

Hari Minggu ini Bayu kira akan menjadi Hari Minggu yang biasa. Namun, ternyata tidak. Hari Minggu ini akan menjadi Hari Minggu yang istimewa. Tetapi, Bayu tidak tahu itu. Minggu ini, ia tenggelam dalam dunia di mana Perang Dunia II masih berlangsung. Pikirannya menyelami sebuah dunia di mana Jozef Gabcik dan Jan Kubis, dua orang tentara dari Slovakia dan Ceko, memiliki misi khusus untuk membunuh seorang petinggi Nazi, Reinhard Heydrich. Tubuh Bayu ada di kamarnya di Jakarta, lengkap dengan kaos oblong dan celana pendek –seragam tidur yang ia kenakan, namun, pikirannya berada di Praha pada tahun 1942. Pikirannya turut berjalan bersama Gabcik dan Kubis di gang sempit, menunggu mobil Heydrich datang di dekat jalur tram. Pikirannya turut menyaksikan bagaimana gilanya Gabcik dan Kubis –dengan sedikit bantuan dari Josef Valcik, melakukan serangan langsung terhadap Heydrich. Bayu bisa membayangkan desingan peluru, suara ban pecah, erangan penuh kesakitan, dan ledakan granat yang semuanya bercampur aduk dalam sebuah adegan novel yang ditulis oleh Laurent Binet ini. HHhH judulnya. Himmlers Him Heiss Heydrich. Otak Himmler adalah Heydrich.

Ketika pikirannya belum kembali dari Rumah Sakit Na Bulovce di Praha, tempat Heydrich dirawat (ia tidak langsung tewas), tiba-tiba Bayu mendengar sebuah ketukan di pintu rumahnya. Kebetulan Bayu memang sedang tinggal di rumah sendirian hari itu. Kakaknya sedang ke luar kota. Ada tugas. Orang tuanya hidup di Bandung, Bayu hanya hidup berdua dengan kakaknya, Rama di rumah itu. Awalnya Bayu tak mau menghiraukan ketukan itu. Ia sedang asyik membaca. “ayolah, ini rutinitasku tiap akhir minggunya, aku tak mau diganggu. Jikalau rutinitas tengah mingguku tak bisa diganggu, mengapa rutinitas akhir mingguku bisa diganggu ? Ini tidak adil !” begitu cetusnya dalam hati. Sebenarnya Bayu bisa saja berpura-pura tak ada di rumah. Rumahnya dibiarkan kosong ceritanya. Namun, ketukan itu makin kencang, ditambah dengan suara perempuan yang berujar “Mas Bayu, Mas Bayu !”. Perempuan itu tahu kalau Bayu ada di rumah. Bayu juga sadar akan hal itu. Ia memutuskan untuk membuka pintu.

“Mas Bayu…” Tok. Tok tok. Tok tok tok.

“iyaa, tunggu sebentar, saya lagi di kamar mandi tadi”

Bayu lalu membuka pintu. Di situ, berdiri sesosok perempuan yang…. Sebenarnya biasa saja. Ya, memang biasa saja. Ternyata itu Mbak Santi, anak tetangga sebelah.

“Mas Bayu, bantuin aku dong, Nana ilang nih…”

“Waduh Mbak, Nana siapa ya ?”

Bayu bertanya karena ia benar-benar tidak tahu. Ia tak punya waktu untuk bersosialisasi dengan tetangganya. Bayangkan, sehari-harinya ia menghabiskan waktu di kantor serta distrik bisnis Jakarta. Kliennya hanya ada di sekitar situ saja. Lucu. Perusahaan tempat Bayu bekerja adalah sebuah perusahaan besar yang sudah berekspansi ke banyak tempat, namun Bayu sendiri sehari-harinya hanya hidup di dalam lingkup kecil saja. Distrik bisnis Sudirman. Tapi ya sudahlah, Bayu selalu mensyukuri itu, ia jauh lebih beruntung dari jutaan bahkan milyaran manusia lainnya di dunia. Toh Bayu selalu punya hari Minggu untuk berjalan-jalan ke tempat lain. Hari Minggu yang bukan Minggu sekarang.

“Aduh Mas Bayuuuu, Mas Rama aja tau siapa itu Nana… Ituu, kucingku…”

“waduh Mbak Santi, kita ketemu saja jarang, mana saya tahu nama kucing Mbak..”

“ya sudahlah Mas, tolong bantu cari ya ? Mas nggak ada kerjaan kan hari ini ? Santi udah tanya sama Mas Rama, SMS tadi, katanya Mas Bayu di rumah seharian hari ini”

“ah, bangsat nih Rama…” begitu kata Bayu dalam hatinya. Bayu bukanlah seorang yang tidak bisa bilang ‘tidak’, namun, ia adalah seorang yang malas berargumen ketika stok argumen miliknya sudah dihabiskan oleh orang lain. Kali ini oleh Rama, kakaknya sendiri. Padahal bisa saja ia bilang “aduh maaf Mbak Santi, saya mendadak ada kegiatan”, tapi satu kebohongan akan menimbulkan kebohongan lain. Kalau saja Rama bilang tidak tahu, ia bisa bilang “saya sedang sibuk”, tapi kalau sudah seperti ini, ya sudah, mau tidak mau harus mau. Walau Bayu tidak terlalu percaya dengan Tuhan, ia percaya dengan karma. Tak ada salahnya membantu tetangga.

“ya sudah, saya coba bantu cari Mbak. Ada fotonya Nana ?”

“ini, ada, saya kirim pakai BLUTUT ya”

“blutut ?” gumam Bayu dalam hati. “Ah, bluetooth.”

Bayu menyalakan fitur bluetooth di telepon genggamnya. Ia segera menerima sebuah gambar kucing dari $@nth1’s Ph0n3. Nama yang luar biasa. Walaupun acakadut, penggunaan aposthrope nya tepat. Luar biasa. Dunia ini memang menyisakan banyak misteri, dari UFO, bigfoot, ikan-ikan dasar laut, sihir, termasuk penggunaan apostrhope yang tepat oleh Santi.

Bayu melihat layar HPnya, ada foto seekor kucing di sana. Kucing biasa. Berwarna putih dengan corak hitam. Ia memperhatikan gambar kucing itu dengan seksama. Mencari bedanya Nana dengan kucing lainnya tentunya. Ternyata, Nana adalah kucing dengan heterochromia; warna mata yang berbeda kiri dan kanannya. Mata kanan Nana berwarna hijau, sedangkan mata kirinya berwarna cokelat.

“Hmm.. Unik juga matanya” ujar Bayu mengomentari mata dari Nana.

“iya Mas Bayu, makannya saya sedih banget nih si Nana ilang.. Tolong bantu cariin ya ? Santi mau minta tolong sama tetangga lain juga..” Kata Santi sambil berjalan ke arah rumah Arief, tetangga dan teman baik Bayu sejak kecil. Namun Arief sudah tidak ada. Ia meninggal tak lama setelah Bayu diterima di perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Yang ada di rumah itu tinggal orang tua Arief, dan adiknya Raihan, yang lebih muda 3 tahun dari Arief. “Wah.. Si Raihan kena juga nih..” kata Bayu.

Awalnya Bayu malas memulai pencarian Nana. Ia masih mau menikmati Praha di masa Perang Dunia II. Praha yang walaupun seringkali mendengar suara peluru berdesingan, tapi tetap indah. Praha yang walaupun terkena bom tidak dapat melukainya. Praha yang hanya ada di dalam pikirannya. Di dalam pikiran Binet yang disambangi oleh Bayu. Namun, Bayu akhirnya mencoba positif. “Ada baiknya lah sekali-kali jalan-jalan ke luar rumah. Siapa tahu menemukan sesuatu yang seru. Selama sebelum makan siang sudah ada di rumah.” Begitulah mindset yang dibangun Bayu untuk hari ini. Begitu jugalah awal dari Hari Minggu yang istimewa untuk Bayu.

Bayu mengambil tas slempang kecilnya dari lemari. Model postman bag. Bahannya kain lepek yang membuat tas menjadi ringan, walaupun tidak banyak yang bisa dibawa, karena jika terlalu berat, tasnya akan putus. Tapi tak masalah. Toh ia hanya ingin membawa dompetnya, sebotol air mineral, satu pak permen karet, selembar handuk kecil dan rangkaian kunci rumah. Bagi Bayu, agak aneh kalau bepergian tanpa menenteng tas. Jika pergi ke kantor, tentu ia membawa tas ransel untuk membawa laptopnya. Jika ke tempat lain, ia selalu menenteng tas selempang ini, entah untuk sekedar membawa novel apabila ia bosan di rumah dan ingin baca novel di taman, atau membawa belanjaan dari minimarket terdekat.

Sebelum berangkat, ia memastikan kembali memasang pembatas buku di halaman 280 buku HHhH. Agar ketika ia pulang, ia bisa kembali menikmati Praha yang ia tinggalkan untuk sementara waktu. Ia lalu menutup seluruh jendela rumahnya. Khawatir ada maling masuk. Ketika ada orang di rumah, jendela di rumah itu selalu terbuka. Jauh lebih sehat daripada AC. Memang tidak lebih sejuk, tapi setidaknya memberi rasa nyaman. Angin sepoi-sepoi buatan alam jauh lebih nikmat daripada angin AC rekaan manusia. Tak lupa ia juga mengunci pintu-pintu yang berpotensi menjadi pintu masuk para maling. Lingkungannya sedang tidak aman. Ada gosip beredar bahwa di lingkungan itu sedang diincar gerombolan maling yang suka menggasak rumah kosong. Selain itu ada juga jambret yang pakai motor, begal, eksebisionis dan berbagai macam jenis kriminal lainnya.

Setelah kunci-kunci pintu, Bayu berganti pakaian. Bukan berganti mungkin, ia mengenakan hoodie universitasnya yang berwarna merah marun, dan memakai celana pendek yang lebih bersahaja daripada celana pendek semenjana yang sedang ia kenakan. Stelan santai saja. “Hanya mencari kucing di lingkungan rumah bukan ?” Begitu pikirnya. Kamu salah Bayu, salah sekali. Petualanganmu hari ini bukan hanya mencari kucing. Walaupun begitu, itu tidak ada hubungannya dengan stelan santaimu. Stelan yang lebih rapih tak akan banyak membantumu dalam petualangan hari ini.

Bayu mulai berjalan meinggalkan rumahnya. Cuacanya tidak terlalu panas. Mungkin karena semalam habis hujan, dan matahari masih bersembunyi di balik awan. Ia hanya sesekali mengintip sembari menyinari bumi. “aahh, cuaca yang enak untuk membaca di taman,” pikir Bayu. Tetapi ia mengurungkan niatnya karena ia tidak membawa novel apapun, dan niatnya masih teguh membantu Mbak Santi mencari Nana, si kucing tetangga.

Awalnya ia menelusuri jalanan di depan rumahnya. Setiap kali ada gerakan, dengan gesit Bayu menoleh ke arah gerakan itu. Reflek Bayu memang istimewa. Ia adalah kiper andalan perusahaannya dalam turnamen futsal antar perusahaan. Reflek yang ia dapatkan semenjak kecil. Menurun dari ayahnya yang mantan kiper Persib. Tiap kali ia merasakan ada gerakan, syaraf-syaraf di tubuhnya –tanpa komando otak, langsung memberikan respon secepat kilat agar leher Bayu menoleh ke arah gerakan itu. Yang bergerak banyak. Dari kaleng softdrink yang dibuang oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dedaunan kering yang tertiup angin, hingga kantong kresek yang terbang mengikuti angin. Namun ia tidak menemukan gerakan dari Nana. Jangankan Nana. Gerakan dari seekor kucing pun tidak. Aneh, padahal biasanya banyak kucing di lingkungan itu.

Tak lama, ia merasakan sebuah gerakan di belakang badannya. Gerakannya gesit, seperti hewan. Mungkin ini kucing ! Pikir Bayu yang merasa aneh karena sudah 15 menit ia jalan ia tidak melihat kucing sama sekali. Bayu menoleh, hanya untuk melihat sosok yang paling menyeramkan dalam hidupnya. Jauh lebih menyeramkan daripada ibu atau bapaknya ketika marah. Anjing. Seekor anjing Chihuahua yang sangat kecil. Bayu histeris. Ia segera berlari meninggalkan Chihuahua itu. Ternyata itu adalah Edel, anjing Chihuahua mirip tetangga Bayu, Pak Salim. Pak Salim anjingnya banyak, tapi sering dilepas ke jalan. Bayu tidak suka itu, karena ia mengidap Cynophobia –setidaknya itu yang ia pikirkan, tanpa pernah sama sekali pergi ke psikolog, sebuah ketakutan berlebih terhadap anjing. Walaupun Edel anjing Chihuahua yang kecil, namun Edel tetaplah anjing. Edel tetaplah sesuatu yang menakutkan untuk Bayu. Sama seperti kertas, walaupun hitam, ia tetaplah kertas, bagaimanapun fungsinya dan bentuknya.

“haah.. haah.. haah.. anjing lah..” ujar Bayu. Agak keras. Maklum, sedang adrenaline rush. Jantungnya berdegup kencang. Keringat menetes dari wajahnya. Ia dapat melihat dengan jelas tetesan keringat yang jatuh ke jalan menimpa bayangannya. Belum beres ia terkejut, tiba-tiba ada suara berat berteriak kepadanya “LU BILANG GUA ANJING HAH !?” Ternyata itu Freddie preman sekitar. Namanya terdengar keren, Freddie. Nama aslinya Ferry, asli Banten. Mukanya seperti Bimbim, penabuh drum dari grup band Slank. Kerjaannya menarik pungutan liar dari angkot yang melewat. Bayu tak suka Freddie. Ia seringkali bikin macet, karena angkot banyak yang harus berhenti demi Freddie.

Bayu yang masih ngos-ngosan terkejut ketika diteriaki Freddie.

“e… eh… bukan Bang, bukaannn, tadi saya dikejar anjing bang..”

“MANA ANJINGNYA !? JANGAN BOONG LO !”

“eeh… hah… hah… hah… i… itu.. Bang, anjingnya Pak Salim !”

“MANA !? NGGAK ADA ! KOSONG BELAKANG LO ! DI SINI ADA GUA DOANG ! GUA TAU LO NGGAK SUKA SAMA GUA ! MUKA LO SEPET TIAP LEWAT SINI LIAT GUA !”

“eh, ngg.. nggak Bang, mau nggak suka gimana, kenal juga nggak ?” Begitu kata Bayu. Ia lupa, ketika tidak kenal saja bisa suka –kepada para novelis, kenapa juga tidak kenal bisa benci ?

“AAAHH DIEM LOO ! SINI GUA GEBOK !!”

“aa.. ampun baangg ampuuunn…” Saat tangan Freddie yang dipenuhi batu akik berbagai macam jenis nyaris menghantam wajah Bayu, tiba-tiba saja ada yang memanggil Freddie.

“FRED ! CEPET SINI FRED ! NYOKAP LO PINGSAN !”

“APAH !? MAMAH KENAPAAA !?” Seketika saja tangan Freddie melepas cengkramannya kepada Bayu. Freddie menunjuk Bayu sambil berkata “AWAS LO YA ! LAIN KALI !” sambil berlari ke arah orang yang memanggilnya. Bayu selamat. Untuk pertama kali seumur hidupnya, Bayu merasakan bahagia dari penderitaan orang lain. Apa iya begitu ? Memang perusahaanmu selalu berlaku jujur Bay ?

Bayu lalu duduk di bangku taman, membersihkan keringatnya dengan handuk yang ia bawa, ia lalu membasahi handuk itu dengan sedikit air mineral, dan menyimpannya di wajah. Segar sekali rasanya. Setelah berlari dari anjing dan diteriaki preman, handuk basah yang dingin mengompres wajahnya. Sambil menarik nafas perlahan, sembari bersyukur, walaupun ia tidak terlalu percaya Tuhan, tapi Tuhan masih baik kepadanya. Ia juga berpikir tentang Freddie. Yang pertama: kenapa Freddie memanggil ibunya dengan sebutan Mamah yang sangat imut ? Dan Yang kedua: kenapa mamah Freddie pingsan ?. Ah tidak penting.

Ia lalu menyimpan handuk itu di sebelah kakinya. Sambil menunggu kering, ia menyesali perbuatannya yang tidak membawa novel untuk dibaca. Padahal cuacanya enak sekali untuk membaca. Tapi kembali lagi, tujuan utamanya adalah membantu Mbak Santi mencari Nana, kucingnya. Belum lama, ketika Bayu sedang menunduk memeriksa telepon genggamnya, ada suara perempuan dengan logat Jawa yang halus “Boleh saya duduk di sini mas ?” Sambil menunjuk ke tempat kosong di sebelah tempat Bayu duduk. Tentunya Bayu mempersilahkan. Toh ia sedang duduk sendiri. Ia menjawab tanpa melihat si penanya. Ia sibuk dengan layar telepon genggamnya, memeriksa surat elektroniknya, menanti pesanan buku barunya yang tak kunjung datang.

Perempuan itu duduk di sebelah Bayu. Ia lalu bertanya “sedang apa Mas, sepertinya asyik sekali ?”

“Nggak, ini saya sedang memeriksa kotak masuk surat elektronik”

“Ooh..”

Selesai memeriksa telepon genggamnya, ia lalu memeriksa sumber suara. Wanita dengan logat jawa tadi. Ia terkejut. Awalnya, ia membayangkan seorang wanita yang biasa-biasa saja. Tapi ternyata, ia melihat sesosok blasteran. Cantik sekali. Sesuai dengan seleranya. “WOW”, katanya dalam hati. Ia ingin berkenalan dengan wanita. Ah, bodoh sekali si Bayu ini. Padahal tadinya si wanita ini sudah mengajak berkenalan. Ya sudah, dengan cuek Bayu memulai pembicaraan.

“sendiri aja Mbak ?”

“iya, saya mau ketemu dengan teman saya, tadi saya disuruh menunggu di sini, tapi teman saya belum kunjung datang. Masih di jalan sepertinya”

Tata bicara perempuan itu sangat baik. Struktur dan pilihan katanya enak didengar. Berbeda dengan nama bluetooth telepon genggam milik Santi. Logat Jawanya membuat perempuan itu semakin ayu dilihat. Bayu penasaran.

“temannya dari mana Mbak ?”

“itu dari kompleks PDAM” ujarnya sambil menunjuk ke arah kompleks PDAM.

“ooh, dekat dong ya ?”

“iya”

Lalu mereka kembali terdiam. Bayu tidak tahu ia mau berbicara apa. Ia ingin mengenal perempuan itu, setidaknya nama dan asalnya. Cukuplah. Bisa dicari di facebook sesudahnya. Bayu memberanikan diri untuk berkenalan.

“Mbak, namanya siapa ya kalau boleh tahu ?”

“nama saya Endah. Mas siapa ?”

“saya Bayu Mbak.”

“ooh Mas Bayu ya. Mas Bayu, saya punya pertanyaan untuk Mas. Boleh mas jawab dengan jujur ?”

“oh tentu, dengan senang hati, Mbak Endah”

“apa Mas percaya dengan Tuhan ?” Sebuah pertanyaan yang aneh sekali untuk ditanyakan oleh seseorang yang baru kenal. Bayu agak terkaget, namun ia sudah sering berdiskusi tentang Tuhan, baik dengan kakaknya maupun dengan rekan kerjanya. Intinya, Bayu percaya kalau Tuhan itu ada, namun ia tidak percaya jikalau Tuhan menyuruh umatnya untuk melakukan berbagai macam penyembahan.

“percaya Mbak, kenapa ya ?”

“Kalau boleh tahu, kenapa percaya ?”

“karena masih banyak pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh logika. Mungkin ini adalah sebuah jawaban seorang eskapis. Tapi untuk sementara ini, inilah jawaban saya. Saya yakin ada hal-hal yang di luar batas pengindraan manusia. Bagi saya, di situlah Tuhan berada. Di luar batas pengindraan manusia”

“oh begitu. Wah luar biasa sekali Mas Bayu. Kalau begitu, boleh saya bertanya lagi ?”

“silahkan.”

“agama Mas apa ya ?”

“bagi saya semua agama itu baik, tapi saya dibesarkan dalam keluarga muslim”

“oh begitu. Baik Mas, kalau begitu, apa Mas ingin menghajikan orang tua Mas ?”

“HAH !?” Bayu terkejut. Pertanyaan macam apa itu ?

“maksudnya gimana ya ?”

“Iya, saya bisa bantu mas mendapatkan passive income, di mana mas tidak usah banyak bekerja, tapi mas bisa terus dapat uang banyak. Kalau sukses, mas bisa sampai dapat kapal pesiar lho. Tertarik ?”

“HAH !???”

“Mas tinggal isi formulir, dan bayar 400 ribu untuk starter pack, nanti mas jadi downline saya, dan mas bantu saya cari downline baru, tertarik ?”

“WHAT. THE. FUCK.” Akhirnya Bayu sadar bahwa ia terjerat dalam modus baru pencarian anggota MLM. Multilevel Marketing. Modus baru yang luar biasa. Melakukan pendekatan melalu pendekatan agama.

Bayu lalu menolak mentah-mentah tawaran itu. Ia tahu kalau MLM bukanlah bisnis yang baik. Banyak yang tersesat di sana. Bayu sudah memiliki pekerjaan yang mapan, buat apa ikut MLM lagi ? Ia langsung berjalan cepat. Mbak Endah sendiri masih memanggil-manggilnya. Tapi Bayu terus berjalan, tak menghiraukan panggilan Mbak Endah.

Ketika Mbak Endah sudah hilang dari pandangannya, ia kembali berkeringat. Ternyata, walaupun mendung, tapi tidak ada angin. Jenis cuaca yang menyebalkan. Karena keringat susah ditangani. Tapi bagi Bayu, itu sudah dapat diantisipasi. Handuknya sudah kering. Ia lalu melihat jam tangannya. Jarum panjangnya berhenti di angka 6, sedangkan jarum pendeknya bertengger di atas angka 11. Sudah jam setengah 11. Tapi belum ada tanda-tanda dari Nana. Bayu memutuskan untuk terus mencari, setidaknya sampai jam setengah 12. Sesuai janjinya pada diri sendiri, sebelum makan siang.

Sambil terus menelusuri jalan kompleknya, Bayu memikirkan makanan apa yang akan ia makan siang ini. Bayu jarang memasak, ia selalu beli karena ia jarang di rumah. Senin-Jum’at (dan Sabtu jika lembur) ia makan di daerah kantornya. Ada yang murah di pinggir jalan, biasanya makan bersama kawan-kawannya, ada juga yang mahal di hotel-hotel atau gedung bertingkat, biasanya dalam menjamu klien. Uang makannya diganti kantor. Makmur bukan ? Oleh karena itulah Bayu selalu bersyukur bahwa ia lebih beruntung daripada milyaran orang lain di dunia.

Pada hari Minggu, biasanya Bayu membeli makanannya. Kalau tidak menggunakan fasilitas pesan antar restoran siap saji, ia pergi ke ruko di dekat rumahnya. Di situ banyak sekali berbagai macam kuliner nusantara. Sop Kambing, Gado-Gado, Lotek, Ayam Goreng, Ayam Bakar, Ikan Goreng, Sate, dan lain-lain. Sate. Ya sate. Bayu memutuskan untuk membeli sate hari itu. “sudah lama juga sepertinya tidak makan sate. Boleh lah ! Sate Bang Juned, mantap !”.

Sate Bang Juned adalah sate paling istimewa yang pernah Bayu makan. Dagingnya kecokelatan dan empuk. Tidak berbau. Dengan bumbu yang manis, pedas terkadang diselipi lemak yang berwarna putih dan lumer di dalam mulut. Ah. Nikmat sekali sepertinya. Baiklah. Sate Bang Juned. 15 tusuk, dengan lontong. Bayu lapar.

Speak of the devil and he will come. Bang Juned panjang umur. Tak lama setelah ia memikirkan Bang Juned, Bang Juned muncul di depan matanya. Ia sedang celingak-celinguk ke sana kemari. Seperti sedang mencari sesuatu. Ia menenteng karung yang sepertinya banyak isinya. Entah apa isi dari karung itu. “itu Bang Juned kok bukannya siap-siap dagang ya ? Apa hari ini nggak dagang ? Batal dong makan sate” pikir Bayu. Tanpa ragu, sebagai langganan yang baik, Bayu menyapa Bang Juned.

“Bang Juned, nggak dagang nih !?”

“eeh, Mas Bayu, dagang kok mas ! Buka jam setengah 12 ya, kayak biasa !”

“oh, bolehhh siappp, nanti saya beli ya !”

“Siap Mas Bayu !”

“itu karung apa Bang Juned ?”

“ah, nggak, ini bawa bahan buat dagang” kata Bang Juned

“diihhh, ribet amat Bang, kenapa nggak pake motor ?”

“aaahh, nggak apa-apa biar sehat, sekalian olah raga”

“wuidddiiihhh, bagus tuh Bang ! Kalau abang sehat, saya senang juga Bang, bisa makan sate abang tiap minggu”

“iya dong mas. Udah dulu yah mas, saya ke sana dulu” Kata Bang Juned sambil menunjuk ke arah kompleks PDAM.

“mengapa hari ini orang-orang mau ke kompleks PDAM ?” gumam Bayu. Ah sudahlah. “MEONG !” tiba-tiba ada suara kucing. “Eh, kucing !” Kepala Bayu lalu heboh bergerak ke sana ke sini mencari sumber suara. Namun ia gagal. Ia tidak dapat menemukan sumber suara itu. “MEONG !!” lagi. Bayu kembali sibuk mencari. Namun, suaranya makin lama makin kecil. Mungkin hanya khayalan saja. Bayu lalu membuka bungkus permen karetnya, dan mulai mengunyah 2 buah permen karet. Harus 2 buah, supaya bisa dibuat menjadi balon. Itu hobinya sejak SD, karena ia sangat terinspirasi dengan novel yang ia baca sejak SD: Lupus. Ikon dari Lupus adalah si Lupus yang sedang meniup permen karet menjadi balon, sesuatu yang ia tiru bahkan hingga sekarang.

Sambil terus berjalan dan mencari Nana, Bayu mulai menyadari sesuatu yang aneh. Ia berjalan hampir selama 2 jam, tapi ia sama sekali belum menemukan seekor kucingpun. Ia bingung. Biasanya banyak kucing liar di daerah sini. Tapi hari ini kok tidak ada ya ? Kucing liar saja susah, apalagi Nana, yang notabenenya kucing langka bermata belang. Ya sudahlah, mungkin ini bukan harinya Mbak Santi ? Bayu lalu melihat kembali jamnya. 11.20. “wah, langsung ke Bang Juned saja lah ini !”. Ia lalu berjalan ke warung Bang Juned di ruko dekat rumahnya.

Bang Juned sedang sibuk memanaskan arang untuk membakar sate. “Bang, sate 15, pake lontong !” ia berteriak akrab ke Bang Juned.

“siap Mas ! Makan di sini apa dibawa pulang ?”

“makan sini aja Baanggg..”

“mau yang spesial apa biasa ?”

“wah, ada yang spesial bang ? Bedanya apa ?”

“wah pokoknya beda banget dah ! Dagingnya istimewa ! Harga Cuma beda lima rebu !”

“siap bangg yang spesial aje ye !”

Sambil menatap arang yang sedang dipanaskan baranya, Bayu memeriksa layar telepon genggamnya. Tidak ada notifikasi apapun. Hahhh. Sepi. Kembali ia menyesali mengapa tidak ia bawa saja novel HHhH, mungkin jika ia baca, bisa ia selesaikan di situ juga. Setelah memeriksa layar telepon genggamnya, ia lalu melihat ke sate-sate mentah yang dijajakan oleh Bang Juned. Melihat bentuk mentahnya saja Bayu sudah bisa membayangkan kelezatan sate Bang Juned. Apalagi kali ini ia dapat menu spesial. Penasaran. Tapi kadang unsur kejutan bisa membuat rasa makanan lebih enak. Seperti misalnya dulu, Bang Juned pernah memberi kejutan dengan saus spesial, di mana saus kacang sate Bang Juned menjadi pedas dan lebih mantap. Bayu seringkali memesan saus spesial itu. Namun tidak kali ini, karena kata Bang Juned, daginnya istimewa. Maka rasa daging itulah yang harus ia rasakan.

Tak lama, Bang Juned menyajikan satenya. Di piring kaca, beralaskan daun pisang. “Silahkan, Mas Bayu” kata Bang Juned. Bayu lalu memakannya dengan lahap. Ternyata benar. Enak sekali. Dagingnya jauh lebih empuk dari yang biasanya. Gajihnya lembut dan tidak membuat eneg. Luar biasa. Sate Bang Juned terbaik yang pernah Bayu makan. Sate Bang Juned ini sebenarnya sate yang sangat enak sekali. Namun, Bayu tidak pernah bertanya daging apakah yang Bang Juned sajikan. Bayu takut jika yang disajikan adalah Daging Kambing atau Babi. Keduanya tidak boleh ia konsumsi. Sejak kecil ia diajarkan untuk tidak makan daging kambing. Sedangkan babi jelas, haram. Namun karena Sate Bang Juned enak, ia tidak peduli dan tidak mau peduli. Namun untuk kali ini, ia bertanya kepada Bang Juned. Untuk pertamakalinya seumur hidup. Ia penasaran, mengapa dagingnya bisa begitu enak. Apalagi yang spesial ini.

“Bang Juned, ini daging hari ini enak banget. Bedanya apa sih ?”

“waduh, rahasia perusahaan tuh Mas”

“Ayo doongg, kasih tahu, kalau Abang kasih tahu, saya beli lagi deh 20 tusuk buat di rumah”

“waduhhh.. kasih tahu nggak yah ? Untuk Mas Bayu, saya kasih tahu.”

“asiikkk gimana tuh ??”

“tapi mas Bayu nggak boleh bilang-bilang ke orang lain ya ?”

“iya”

“janji ?”

“janji !”

“jadi gini Mas, kebetulan saya dapat daging istimewa hari ini. Daging dari hewan yang matanya belang. Warna matanya beda gitu mas kiri dan kanannya…”

Seketika saja Bayu terdiam. Ingatannya langsung tertuju kepada Nana. Bayangan Praha-nya Binet yang sudah mulai terbentuk di kepalanya langsung hancur berantakan. Yang benar saja ? Masa iya ? Nggak mungkin kan ? Ini… nggak mungkin… Nggak mungkin kan sate Bang Juned itu sate kucing ????????

Bayu menahan makanan yang sudah masuk ke mulutnya agar tidak keluar lagi. Ia ingin muntah. Kucing ? Aku makan kucing ? Pikirnya. Ia lalu berteriak dan memberi 50 ribu rupiah kepada Bang Juned.

“Udah bang ini ambil semua, satenya nggak usah !”

“eeehhh, kenapa Mas ?”

“DIEM LO, ORANG JAHAT !”

Bayu langsung pergi menuju rumahnya yang tak jauh dari warung sate Bang Juned. Di rumahnya, ia mengeluarkan isi perutnya. Beberapa pertanyaan yang ia tanyakan terjawab. Nana di mana ? Dan mengapa ia tidak menemukan kucing liar di lingkungannya ? serta karung yang dipangku Bang Juned. Deduksinya, Bang Juned menghabiskan populasi kucing liar di lingkungan itu, memasukkannya ke dalam karung, lalu membuatnya jadi sate. Ini juga sekaligus menjawab daging apa yang disajikan di warung Bang Juned. Sate kucing. Dunia Bayu bagaikan runtuh. Ia yakin ia tak akan bisa makan apapun di luar rumah. Ia kehilangan kepercayaan terhadap tukang dagang. Mungkinkah ayam di restoran fastfood bukan ayam ? Daging burger bukanlah daging sapi ? Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis. Bayu lalu bengong hingga akhirnya ia tertidur.

“Oi, bangun lo Bay !” ternyata Rama, kakaknya sudah pulang.

“eh kak, sudah pulang ?”

“iye, udah dari tadi. Lo kenape ama Bang Juned ?”

“Eii, kak ! Bang Juned itu jualan Sate Kucing masa ?”

“HUAHAHAHAHAH SATE KUCING ?!!?!? TEORI DARI MANA ?”

Bayu lalu menjelaskan apa yang terjadi di hari itu. Minus Freddie dan Endah. Lalu Rama hanya menanggapinya dengan tawa yang makin menjadi.

“SATE BANG JUNED TUH SATE SAPI !!!!! SAPI YANG MATANYA BELANG EMANG LEBIH ENAK DAGINGNYAAAAA MASA LO NGGAK TAUUU !??!!?!”

Bayu hanya bisa bengong mendengarkan penjelasan kakaknya. Tidak masuk akal. Kakaknya menolak teorinya tentang populasi kucing liar yang berkurang, karung Bang Juned, dan Nana. Rama lalu menjelaskan, Nana sudah ditemukan –Rama menunjukkan foto selfie Santi dengan Nana yang baru saja diambil. Nana terlihat tertidur, dan Santi monyong mulutnya. “Terima kasih, kata Mbak Santi” Rama menjelaskan. Karung Bang Juned ? Ternyata Bang Juned sedang mengumpulkan ranting-ranting pohon yang akan ia gunakan sebagai arang spesial buatan Bang Juned. Ternyata itu juga yang membuat sate Bang Juned Menjadi istimewa. Populasi kucing liar, ternyata upaya ketua RW (Rukun Warga) dalam memberantas Toksoplasma. Luar biasa sekali RWnya. Bayu lalu mulai tenang. Penjelasan Rama masuk akal.

“Percaya lo sama gua ah ! Tuh, gua bawain Sate Bang Juned lagi, tadi lo kasih dia 50 rebu kagak kembali kan ? Dia bakarin itu sate, terus dia titipin ke gua”

“iye kak sori, sori, analisis gue meleset.”

“ya udah, sana makan !”

“iyeee…”

Dengan langkah gontai, Bayu berjalan ke meja makan. Ia membuka bungkusan cokelat yang berisi sate. Sate sapi. Sate sapi Bang Juned. Bukan Sate Kucing. Ia pun mulai melahap satenya. Perlahan, namun pasti. Enak. Rasa sate itu masih tetap enak. Walaupun tidak seenak tadi siang. Tapi masih sangat enak. Bayu pun menikmati sate itu hingga tersisa tusuk terakhir. Bayu mengangkat sate itu, melihat ke arahnya sambil menggelengkan kepala dan berkata “Diawali dengan mencari kucing, diakhiri dengan sate kucing… Hari Minggu yang aneh… hahahahah..” Begitu ia memasukkan sate itu ke mulutnya………. “MEONG”.