h1

Mencari Kucing Tetangga

April 3, 2015

Hari ini adalah hari Minggu. Hari Minggu yang biasa untuk seorang Bayu, seorang pekerja kantoran yang sehari-harinya mengais nafkah di gedung bertingkat, menelpon klien sana-sini, menganalisis data, makan bersama rekan-rekan kantor, dimarahi atasan yang sedang stress karena anaknya menghamili pacarnya di luar nikah, bertengkar dengan customer service penyedia telepon genggamnya, dan masih banyak hal lain yang menguras mental dan fisiknya. Bayu adalah seorang bankir. Setiap hari Senin-Jum’at, ia menjalani rutinitas yang sama. Pergi ke kantor, menjalani aktifitas-aktifitas yang menguras mental dan fisik, pulang ke rumah, lalu tertidur. Besoknya ia terbangun, menjalani rutinitas yang sama. Kecuali besok hari Sabtu dan tidak ada lembur, maka ia bisa tidur agak sedikit lebih lama, lalu bangun, berolahraga bersama teman-temannya –bermain futsal, lalu pulang, dan tidur. Begitulah seterusnya. Jika ada lembur, rutinitas yang sama terulang, tetapi di hari Sabtu.

Bagi Bayu, hanya hari Minggulah yang istimewa. Hari Minggu adalah hari yang berbeda. Ia memiliki rutinitas lain di Hari Minggu. Bangun siang, membaca tumpukan majalah dan novel favoritnya, menenggelamkan dirinya di dalam rangkaian kata dari orang yang belum pernah ia kenal. Meski kenal, hanya dari televisi ataupun majalah. Tetapi itu tak bisa disebut dengan kenal bukan ? Kita tidak bisa bilang kenal dengan Lionel Messi hanya dari layar televisi. Tak bisa bilang kenal ketika hanya satu pihak yang mengetahui kisah personal. Tapi begitulah istimewanya sebuah tulisan, baik majalah maupun novel. Tak perlu kita mengenal si pengarang untuk memahami pesan dan perasaannya.

Hari Minggu ini Bayu kira akan menjadi Hari Minggu yang biasa. Namun, ternyata tidak. Hari Minggu ini akan menjadi Hari Minggu yang istimewa. Tetapi, Bayu tidak tahu itu. Minggu ini, ia tenggelam dalam dunia di mana Perang Dunia II masih berlangsung. Pikirannya menyelami sebuah dunia di mana Jozef Gabcik dan Jan Kubis, dua orang tentara dari Slovakia dan Ceko, memiliki misi khusus untuk membunuh seorang petinggi Nazi, Reinhard Heydrich. Tubuh Bayu ada di kamarnya di Jakarta, lengkap dengan kaos oblong dan celana pendek –seragam tidur yang ia kenakan, namun, pikirannya berada di Praha pada tahun 1942. Pikirannya turut berjalan bersama Gabcik dan Kubis di gang sempit, menunggu mobil Heydrich datang di dekat jalur tram. Pikirannya turut menyaksikan bagaimana gilanya Gabcik dan Kubis –dengan sedikit bantuan dari Josef Valcik, melakukan serangan langsung terhadap Heydrich. Bayu bisa membayangkan desingan peluru, suara ban pecah, erangan penuh kesakitan, dan ledakan granat yang semuanya bercampur aduk dalam sebuah adegan novel yang ditulis oleh Laurent Binet ini. HHhH judulnya. Himmlers Him Heiss Heydrich. Otak Himmler adalah Heydrich.

Ketika pikirannya belum kembali dari Rumah Sakit Na Bulovce di Praha, tempat Heydrich dirawat (ia tidak langsung tewas), tiba-tiba Bayu mendengar sebuah ketukan di pintu rumahnya. Kebetulan Bayu memang sedang tinggal di rumah sendirian hari itu. Kakaknya sedang ke luar kota. Ada tugas. Orang tuanya hidup di Bandung, Bayu hanya hidup berdua dengan kakaknya, Rama di rumah itu. Awalnya Bayu tak mau menghiraukan ketukan itu. Ia sedang asyik membaca. “ayolah, ini rutinitasku tiap akhir minggunya, aku tak mau diganggu. Jikalau rutinitas tengah mingguku tak bisa diganggu, mengapa rutinitas akhir mingguku bisa diganggu ? Ini tidak adil !” begitu cetusnya dalam hati. Sebenarnya Bayu bisa saja berpura-pura tak ada di rumah. Rumahnya dibiarkan kosong ceritanya. Namun, ketukan itu makin kencang, ditambah dengan suara perempuan yang berujar “Mas Bayu, Mas Bayu !”. Perempuan itu tahu kalau Bayu ada di rumah. Bayu juga sadar akan hal itu. Ia memutuskan untuk membuka pintu.

“Mas Bayu…” Tok. Tok tok. Tok tok tok.

“iyaa, tunggu sebentar, saya lagi di kamar mandi tadi”

Bayu lalu membuka pintu. Di situ, berdiri sesosok perempuan yang…. Sebenarnya biasa saja. Ya, memang biasa saja. Ternyata itu Mbak Santi, anak tetangga sebelah.

“Mas Bayu, bantuin aku dong, Nana ilang nih…”

“Waduh Mbak, Nana siapa ya ?”

Bayu bertanya karena ia benar-benar tidak tahu. Ia tak punya waktu untuk bersosialisasi dengan tetangganya. Bayangkan, sehari-harinya ia menghabiskan waktu di kantor serta distrik bisnis Jakarta. Kliennya hanya ada di sekitar situ saja. Lucu. Perusahaan tempat Bayu bekerja adalah sebuah perusahaan besar yang sudah berekspansi ke banyak tempat, namun Bayu sendiri sehari-harinya hanya hidup di dalam lingkup kecil saja. Distrik bisnis Sudirman. Tapi ya sudahlah, Bayu selalu mensyukuri itu, ia jauh lebih beruntung dari jutaan bahkan milyaran manusia lainnya di dunia. Toh Bayu selalu punya hari Minggu untuk berjalan-jalan ke tempat lain. Hari Minggu yang bukan Minggu sekarang.

“Aduh Mas Bayuuuu, Mas Rama aja tau siapa itu Nana… Ituu, kucingku…”

“waduh Mbak Santi, kita ketemu saja jarang, mana saya tahu nama kucing Mbak..”

“ya sudahlah Mas, tolong bantu cari ya ? Mas nggak ada kerjaan kan hari ini ? Santi udah tanya sama Mas Rama, SMS tadi, katanya Mas Bayu di rumah seharian hari ini”

“ah, bangsat nih Rama…” begitu kata Bayu dalam hatinya. Bayu bukanlah seorang yang tidak bisa bilang ‘tidak’, namun, ia adalah seorang yang malas berargumen ketika stok argumen miliknya sudah dihabiskan oleh orang lain. Kali ini oleh Rama, kakaknya sendiri. Padahal bisa saja ia bilang “aduh maaf Mbak Santi, saya mendadak ada kegiatan”, tapi satu kebohongan akan menimbulkan kebohongan lain. Kalau saja Rama bilang tidak tahu, ia bisa bilang “saya sedang sibuk”, tapi kalau sudah seperti ini, ya sudah, mau tidak mau harus mau. Walau Bayu tidak terlalu percaya dengan Tuhan, ia percaya dengan karma. Tak ada salahnya membantu tetangga.

“ya sudah, saya coba bantu cari Mbak. Ada fotonya Nana ?”

“ini, ada, saya kirim pakai BLUTUT ya”

“blutut ?” gumam Bayu dalam hati. “Ah, bluetooth.”

Bayu menyalakan fitur bluetooth di telepon genggamnya. Ia segera menerima sebuah gambar kucing dari $@nth1’s Ph0n3. Nama yang luar biasa. Walaupun acakadut, penggunaan aposthrope nya tepat. Luar biasa. Dunia ini memang menyisakan banyak misteri, dari UFO, bigfoot, ikan-ikan dasar laut, sihir, termasuk penggunaan apostrhope yang tepat oleh Santi.

Bayu melihat layar HPnya, ada foto seekor kucing di sana. Kucing biasa. Berwarna putih dengan corak hitam. Ia memperhatikan gambar kucing itu dengan seksama. Mencari bedanya Nana dengan kucing lainnya tentunya. Ternyata, Nana adalah kucing dengan heterochromia; warna mata yang berbeda kiri dan kanannya. Mata kanan Nana berwarna hijau, sedangkan mata kirinya berwarna cokelat.

“Hmm.. Unik juga matanya” ujar Bayu mengomentari mata dari Nana.

“iya Mas Bayu, makannya saya sedih banget nih si Nana ilang.. Tolong bantu cariin ya ? Santi mau minta tolong sama tetangga lain juga..” Kata Santi sambil berjalan ke arah rumah Arief, tetangga dan teman baik Bayu sejak kecil. Namun Arief sudah tidak ada. Ia meninggal tak lama setelah Bayu diterima di perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Yang ada di rumah itu tinggal orang tua Arief, dan adiknya Raihan, yang lebih muda 3 tahun dari Arief. “Wah.. Si Raihan kena juga nih..” kata Bayu.

Awalnya Bayu malas memulai pencarian Nana. Ia masih mau menikmati Praha di masa Perang Dunia II. Praha yang walaupun seringkali mendengar suara peluru berdesingan, tapi tetap indah. Praha yang walaupun terkena bom tidak dapat melukainya. Praha yang hanya ada di dalam pikirannya. Di dalam pikiran Binet yang disambangi oleh Bayu. Namun, Bayu akhirnya mencoba positif. “Ada baiknya lah sekali-kali jalan-jalan ke luar rumah. Siapa tahu menemukan sesuatu yang seru. Selama sebelum makan siang sudah ada di rumah.” Begitulah mindset yang dibangun Bayu untuk hari ini. Begitu jugalah awal dari Hari Minggu yang istimewa untuk Bayu.

Bayu mengambil tas slempang kecilnya dari lemari. Model postman bag. Bahannya kain lepek yang membuat tas menjadi ringan, walaupun tidak banyak yang bisa dibawa, karena jika terlalu berat, tasnya akan putus. Tapi tak masalah. Toh ia hanya ingin membawa dompetnya, sebotol air mineral, satu pak permen karet, selembar handuk kecil dan rangkaian kunci rumah. Bagi Bayu, agak aneh kalau bepergian tanpa menenteng tas. Jika pergi ke kantor, tentu ia membawa tas ransel untuk membawa laptopnya. Jika ke tempat lain, ia selalu menenteng tas selempang ini, entah untuk sekedar membawa novel apabila ia bosan di rumah dan ingin baca novel di taman, atau membawa belanjaan dari minimarket terdekat.

Sebelum berangkat, ia memastikan kembali memasang pembatas buku di halaman 280 buku HHhH. Agar ketika ia pulang, ia bisa kembali menikmati Praha yang ia tinggalkan untuk sementara waktu. Ia lalu menutup seluruh jendela rumahnya. Khawatir ada maling masuk. Ketika ada orang di rumah, jendela di rumah itu selalu terbuka. Jauh lebih sehat daripada AC. Memang tidak lebih sejuk, tapi setidaknya memberi rasa nyaman. Angin sepoi-sepoi buatan alam jauh lebih nikmat daripada angin AC rekaan manusia. Tak lupa ia juga mengunci pintu-pintu yang berpotensi menjadi pintu masuk para maling. Lingkungannya sedang tidak aman. Ada gosip beredar bahwa di lingkungan itu sedang diincar gerombolan maling yang suka menggasak rumah kosong. Selain itu ada juga jambret yang pakai motor, begal, eksebisionis dan berbagai macam jenis kriminal lainnya.

Setelah kunci-kunci pintu, Bayu berganti pakaian. Bukan berganti mungkin, ia mengenakan hoodie universitasnya yang berwarna merah marun, dan memakai celana pendek yang lebih bersahaja daripada celana pendek semenjana yang sedang ia kenakan. Stelan santai saja. “Hanya mencari kucing di lingkungan rumah bukan ?” Begitu pikirnya. Kamu salah Bayu, salah sekali. Petualanganmu hari ini bukan hanya mencari kucing. Walaupun begitu, itu tidak ada hubungannya dengan stelan santaimu. Stelan yang lebih rapih tak akan banyak membantumu dalam petualangan hari ini.

Bayu mulai berjalan meinggalkan rumahnya. Cuacanya tidak terlalu panas. Mungkin karena semalam habis hujan, dan matahari masih bersembunyi di balik awan. Ia hanya sesekali mengintip sembari menyinari bumi. “aahh, cuaca yang enak untuk membaca di taman,” pikir Bayu. Tetapi ia mengurungkan niatnya karena ia tidak membawa novel apapun, dan niatnya masih teguh membantu Mbak Santi mencari Nana, si kucing tetangga.

Awalnya ia menelusuri jalanan di depan rumahnya. Setiap kali ada gerakan, dengan gesit Bayu menoleh ke arah gerakan itu. Reflek Bayu memang istimewa. Ia adalah kiper andalan perusahaannya dalam turnamen futsal antar perusahaan. Reflek yang ia dapatkan semenjak kecil. Menurun dari ayahnya yang mantan kiper Persib. Tiap kali ia merasakan ada gerakan, syaraf-syaraf di tubuhnya –tanpa komando otak, langsung memberikan respon secepat kilat agar leher Bayu menoleh ke arah gerakan itu. Yang bergerak banyak. Dari kaleng softdrink yang dibuang oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dedaunan kering yang tertiup angin, hingga kantong kresek yang terbang mengikuti angin. Namun ia tidak menemukan gerakan dari Nana. Jangankan Nana. Gerakan dari seekor kucing pun tidak. Aneh, padahal biasanya banyak kucing di lingkungan itu.

Tak lama, ia merasakan sebuah gerakan di belakang badannya. Gerakannya gesit, seperti hewan. Mungkin ini kucing ! Pikir Bayu yang merasa aneh karena sudah 15 menit ia jalan ia tidak melihat kucing sama sekali. Bayu menoleh, hanya untuk melihat sosok yang paling menyeramkan dalam hidupnya. Jauh lebih menyeramkan daripada ibu atau bapaknya ketika marah. Anjing. Seekor anjing Chihuahua yang sangat kecil. Bayu histeris. Ia segera berlari meninggalkan Chihuahua itu. Ternyata itu adalah Edel, anjing Chihuahua mirip tetangga Bayu, Pak Salim. Pak Salim anjingnya banyak, tapi sering dilepas ke jalan. Bayu tidak suka itu, karena ia mengidap Cynophobia –setidaknya itu yang ia pikirkan, tanpa pernah sama sekali pergi ke psikolog, sebuah ketakutan berlebih terhadap anjing. Walaupun Edel anjing Chihuahua yang kecil, namun Edel tetaplah anjing. Edel tetaplah sesuatu yang menakutkan untuk Bayu. Sama seperti kertas, walaupun hitam, ia tetaplah kertas, bagaimanapun fungsinya dan bentuknya.

“haah.. haah.. haah.. anjing lah..” ujar Bayu. Agak keras. Maklum, sedang adrenaline rush. Jantungnya berdegup kencang. Keringat menetes dari wajahnya. Ia dapat melihat dengan jelas tetesan keringat yang jatuh ke jalan menimpa bayangannya. Belum beres ia terkejut, tiba-tiba ada suara berat berteriak kepadanya “LU BILANG GUA ANJING HAH !?” Ternyata itu Freddie preman sekitar. Namanya terdengar keren, Freddie. Nama aslinya Ferry, asli Banten. Mukanya seperti Bimbim, penabuh drum dari grup band Slank. Kerjaannya menarik pungutan liar dari angkot yang melewat. Bayu tak suka Freddie. Ia seringkali bikin macet, karena angkot banyak yang harus berhenti demi Freddie.

Bayu yang masih ngos-ngosan terkejut ketika diteriaki Freddie.

“e… eh… bukan Bang, bukaannn, tadi saya dikejar anjing bang..”

“MANA ANJINGNYA !? JANGAN BOONG LO !”

“eeh… hah… hah… hah… i… itu.. Bang, anjingnya Pak Salim !”

“MANA !? NGGAK ADA ! KOSONG BELAKANG LO ! DI SINI ADA GUA DOANG ! GUA TAU LO NGGAK SUKA SAMA GUA ! MUKA LO SEPET TIAP LEWAT SINI LIAT GUA !”

“eh, ngg.. nggak Bang, mau nggak suka gimana, kenal juga nggak ?” Begitu kata Bayu. Ia lupa, ketika tidak kenal saja bisa suka –kepada para novelis, kenapa juga tidak kenal bisa benci ?

“AAAHH DIEM LOO ! SINI GUA GEBOK !!”

“aa.. ampun baangg ampuuunn…” Saat tangan Freddie yang dipenuhi batu akik berbagai macam jenis nyaris menghantam wajah Bayu, tiba-tiba saja ada yang memanggil Freddie.

“FRED ! CEPET SINI FRED ! NYOKAP LO PINGSAN !”

“APAH !? MAMAH KENAPAAA !?” Seketika saja tangan Freddie melepas cengkramannya kepada Bayu. Freddie menunjuk Bayu sambil berkata “AWAS LO YA ! LAIN KALI !” sambil berlari ke arah orang yang memanggilnya. Bayu selamat. Untuk pertama kali seumur hidupnya, Bayu merasakan bahagia dari penderitaan orang lain. Apa iya begitu ? Memang perusahaanmu selalu berlaku jujur Bay ?

Bayu lalu duduk di bangku taman, membersihkan keringatnya dengan handuk yang ia bawa, ia lalu membasahi handuk itu dengan sedikit air mineral, dan menyimpannya di wajah. Segar sekali rasanya. Setelah berlari dari anjing dan diteriaki preman, handuk basah yang dingin mengompres wajahnya. Sambil menarik nafas perlahan, sembari bersyukur, walaupun ia tidak terlalu percaya Tuhan, tapi Tuhan masih baik kepadanya. Ia juga berpikir tentang Freddie. Yang pertama: kenapa Freddie memanggil ibunya dengan sebutan Mamah yang sangat imut ? Dan Yang kedua: kenapa mamah Freddie pingsan ?. Ah tidak penting.

Ia lalu menyimpan handuk itu di sebelah kakinya. Sambil menunggu kering, ia menyesali perbuatannya yang tidak membawa novel untuk dibaca. Padahal cuacanya enak sekali untuk membaca. Tapi kembali lagi, tujuan utamanya adalah membantu Mbak Santi mencari Nana, kucingnya. Belum lama, ketika Bayu sedang menunduk memeriksa telepon genggamnya, ada suara perempuan dengan logat Jawa yang halus “Boleh saya duduk di sini mas ?” Sambil menunjuk ke tempat kosong di sebelah tempat Bayu duduk. Tentunya Bayu mempersilahkan. Toh ia sedang duduk sendiri. Ia menjawab tanpa melihat si penanya. Ia sibuk dengan layar telepon genggamnya, memeriksa surat elektroniknya, menanti pesanan buku barunya yang tak kunjung datang.

Perempuan itu duduk di sebelah Bayu. Ia lalu bertanya “sedang apa Mas, sepertinya asyik sekali ?”

“Nggak, ini saya sedang memeriksa kotak masuk surat elektronik”

“Ooh..”

Selesai memeriksa telepon genggamnya, ia lalu memeriksa sumber suara. Wanita dengan logat jawa tadi. Ia terkejut. Awalnya, ia membayangkan seorang wanita yang biasa-biasa saja. Tapi ternyata, ia melihat sesosok blasteran. Cantik sekali. Sesuai dengan seleranya. “WOW”, katanya dalam hati. Ia ingin berkenalan dengan wanita. Ah, bodoh sekali si Bayu ini. Padahal tadinya si wanita ini sudah mengajak berkenalan. Ya sudah, dengan cuek Bayu memulai pembicaraan.

“sendiri aja Mbak ?”

“iya, saya mau ketemu dengan teman saya, tadi saya disuruh menunggu di sini, tapi teman saya belum kunjung datang. Masih di jalan sepertinya”

Tata bicara perempuan itu sangat baik. Struktur dan pilihan katanya enak didengar. Berbeda dengan nama bluetooth telepon genggam milik Santi. Logat Jawanya membuat perempuan itu semakin ayu dilihat. Bayu penasaran.

“temannya dari mana Mbak ?”

“itu dari kompleks PDAM” ujarnya sambil menunjuk ke arah kompleks PDAM.

“ooh, dekat dong ya ?”

“iya”

Lalu mereka kembali terdiam. Bayu tidak tahu ia mau berbicara apa. Ia ingin mengenal perempuan itu, setidaknya nama dan asalnya. Cukuplah. Bisa dicari di facebook sesudahnya. Bayu memberanikan diri untuk berkenalan.

“Mbak, namanya siapa ya kalau boleh tahu ?”

“nama saya Endah. Mas siapa ?”

“saya Bayu Mbak.”

“ooh Mas Bayu ya. Mas Bayu, saya punya pertanyaan untuk Mas. Boleh mas jawab dengan jujur ?”

“oh tentu, dengan senang hati, Mbak Endah”

“apa Mas percaya dengan Tuhan ?” Sebuah pertanyaan yang aneh sekali untuk ditanyakan oleh seseorang yang baru kenal. Bayu agak terkaget, namun ia sudah sering berdiskusi tentang Tuhan, baik dengan kakaknya maupun dengan rekan kerjanya. Intinya, Bayu percaya kalau Tuhan itu ada, namun ia tidak percaya jikalau Tuhan menyuruh umatnya untuk melakukan berbagai macam penyembahan.

“percaya Mbak, kenapa ya ?”

“Kalau boleh tahu, kenapa percaya ?”

“karena masih banyak pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh logika. Mungkin ini adalah sebuah jawaban seorang eskapis. Tapi untuk sementara ini, inilah jawaban saya. Saya yakin ada hal-hal yang di luar batas pengindraan manusia. Bagi saya, di situlah Tuhan berada. Di luar batas pengindraan manusia”

“oh begitu. Wah luar biasa sekali Mas Bayu. Kalau begitu, boleh saya bertanya lagi ?”

“silahkan.”

“agama Mas apa ya ?”

“bagi saya semua agama itu baik, tapi saya dibesarkan dalam keluarga muslim”

“oh begitu. Baik Mas, kalau begitu, apa Mas ingin menghajikan orang tua Mas ?”

“HAH !?” Bayu terkejut. Pertanyaan macam apa itu ?

“maksudnya gimana ya ?”

“Iya, saya bisa bantu mas mendapatkan passive income, di mana mas tidak usah banyak bekerja, tapi mas bisa terus dapat uang banyak. Kalau sukses, mas bisa sampai dapat kapal pesiar lho. Tertarik ?”

“HAH !???”

“Mas tinggal isi formulir, dan bayar 400 ribu untuk starter pack, nanti mas jadi downline saya, dan mas bantu saya cari downline baru, tertarik ?”

“WHAT. THE. FUCK.” Akhirnya Bayu sadar bahwa ia terjerat dalam modus baru pencarian anggota MLM. Multilevel Marketing. Modus baru yang luar biasa. Melakukan pendekatan melalu pendekatan agama.

Bayu lalu menolak mentah-mentah tawaran itu. Ia tahu kalau MLM bukanlah bisnis yang baik. Banyak yang tersesat di sana. Bayu sudah memiliki pekerjaan yang mapan, buat apa ikut MLM lagi ? Ia langsung berjalan cepat. Mbak Endah sendiri masih memanggil-manggilnya. Tapi Bayu terus berjalan, tak menghiraukan panggilan Mbak Endah.

Ketika Mbak Endah sudah hilang dari pandangannya, ia kembali berkeringat. Ternyata, walaupun mendung, tapi tidak ada angin. Jenis cuaca yang menyebalkan. Karena keringat susah ditangani. Tapi bagi Bayu, itu sudah dapat diantisipasi. Handuknya sudah kering. Ia lalu melihat jam tangannya. Jarum panjangnya berhenti di angka 6, sedangkan jarum pendeknya bertengger di atas angka 11. Sudah jam setengah 11. Tapi belum ada tanda-tanda dari Nana. Bayu memutuskan untuk terus mencari, setidaknya sampai jam setengah 12. Sesuai janjinya pada diri sendiri, sebelum makan siang.

Sambil terus menelusuri jalan kompleknya, Bayu memikirkan makanan apa yang akan ia makan siang ini. Bayu jarang memasak, ia selalu beli karena ia jarang di rumah. Senin-Jum’at (dan Sabtu jika lembur) ia makan di daerah kantornya. Ada yang murah di pinggir jalan, biasanya makan bersama kawan-kawannya, ada juga yang mahal di hotel-hotel atau gedung bertingkat, biasanya dalam menjamu klien. Uang makannya diganti kantor. Makmur bukan ? Oleh karena itulah Bayu selalu bersyukur bahwa ia lebih beruntung daripada milyaran orang lain di dunia.

Pada hari Minggu, biasanya Bayu membeli makanannya. Kalau tidak menggunakan fasilitas pesan antar restoran siap saji, ia pergi ke ruko di dekat rumahnya. Di situ banyak sekali berbagai macam kuliner nusantara. Sop Kambing, Gado-Gado, Lotek, Ayam Goreng, Ayam Bakar, Ikan Goreng, Sate, dan lain-lain. Sate. Ya sate. Bayu memutuskan untuk membeli sate hari itu. “sudah lama juga sepertinya tidak makan sate. Boleh lah ! Sate Bang Juned, mantap !”.

Sate Bang Juned adalah sate paling istimewa yang pernah Bayu makan. Dagingnya kecokelatan dan empuk. Tidak berbau. Dengan bumbu yang manis, pedas terkadang diselipi lemak yang berwarna putih dan lumer di dalam mulut. Ah. Nikmat sekali sepertinya. Baiklah. Sate Bang Juned. 15 tusuk, dengan lontong. Bayu lapar.

Speak of the devil and he will come. Bang Juned panjang umur. Tak lama setelah ia memikirkan Bang Juned, Bang Juned muncul di depan matanya. Ia sedang celingak-celinguk ke sana kemari. Seperti sedang mencari sesuatu. Ia menenteng karung yang sepertinya banyak isinya. Entah apa isi dari karung itu. “itu Bang Juned kok bukannya siap-siap dagang ya ? Apa hari ini nggak dagang ? Batal dong makan sate” pikir Bayu. Tanpa ragu, sebagai langganan yang baik, Bayu menyapa Bang Juned.

“Bang Juned, nggak dagang nih !?”

“eeh, Mas Bayu, dagang kok mas ! Buka jam setengah 12 ya, kayak biasa !”

“oh, bolehhh siappp, nanti saya beli ya !”

“Siap Mas Bayu !”

“itu karung apa Bang Juned ?”

“ah, nggak, ini bawa bahan buat dagang” kata Bang Juned

“diihhh, ribet amat Bang, kenapa nggak pake motor ?”

“aaahh, nggak apa-apa biar sehat, sekalian olah raga”

“wuidddiiihhh, bagus tuh Bang ! Kalau abang sehat, saya senang juga Bang, bisa makan sate abang tiap minggu”

“iya dong mas. Udah dulu yah mas, saya ke sana dulu” Kata Bang Juned sambil menunjuk ke arah kompleks PDAM.

“mengapa hari ini orang-orang mau ke kompleks PDAM ?” gumam Bayu. Ah sudahlah. “MEONG !” tiba-tiba ada suara kucing. “Eh, kucing !” Kepala Bayu lalu heboh bergerak ke sana ke sini mencari sumber suara. Namun ia gagal. Ia tidak dapat menemukan sumber suara itu. “MEONG !!” lagi. Bayu kembali sibuk mencari. Namun, suaranya makin lama makin kecil. Mungkin hanya khayalan saja. Bayu lalu membuka bungkus permen karetnya, dan mulai mengunyah 2 buah permen karet. Harus 2 buah, supaya bisa dibuat menjadi balon. Itu hobinya sejak SD, karena ia sangat terinspirasi dengan novel yang ia baca sejak SD: Lupus. Ikon dari Lupus adalah si Lupus yang sedang meniup permen karet menjadi balon, sesuatu yang ia tiru bahkan hingga sekarang.

Sambil terus berjalan dan mencari Nana, Bayu mulai menyadari sesuatu yang aneh. Ia berjalan hampir selama 2 jam, tapi ia sama sekali belum menemukan seekor kucingpun. Ia bingung. Biasanya banyak kucing liar di daerah sini. Tapi hari ini kok tidak ada ya ? Kucing liar saja susah, apalagi Nana, yang notabenenya kucing langka bermata belang. Ya sudahlah, mungkin ini bukan harinya Mbak Santi ? Bayu lalu melihat kembali jamnya. 11.20. “wah, langsung ke Bang Juned saja lah ini !”. Ia lalu berjalan ke warung Bang Juned di ruko dekat rumahnya.

Bang Juned sedang sibuk memanaskan arang untuk membakar sate. “Bang, sate 15, pake lontong !” ia berteriak akrab ke Bang Juned.

“siap Mas ! Makan di sini apa dibawa pulang ?”

“makan sini aja Baanggg..”

“mau yang spesial apa biasa ?”

“wah, ada yang spesial bang ? Bedanya apa ?”

“wah pokoknya beda banget dah ! Dagingnya istimewa ! Harga Cuma beda lima rebu !”

“siap bangg yang spesial aje ye !”

Sambil menatap arang yang sedang dipanaskan baranya, Bayu memeriksa layar telepon genggamnya. Tidak ada notifikasi apapun. Hahhh. Sepi. Kembali ia menyesali mengapa tidak ia bawa saja novel HHhH, mungkin jika ia baca, bisa ia selesaikan di situ juga. Setelah memeriksa layar telepon genggamnya, ia lalu melihat ke sate-sate mentah yang dijajakan oleh Bang Juned. Melihat bentuk mentahnya saja Bayu sudah bisa membayangkan kelezatan sate Bang Juned. Apalagi kali ini ia dapat menu spesial. Penasaran. Tapi kadang unsur kejutan bisa membuat rasa makanan lebih enak. Seperti misalnya dulu, Bang Juned pernah memberi kejutan dengan saus spesial, di mana saus kacang sate Bang Juned menjadi pedas dan lebih mantap. Bayu seringkali memesan saus spesial itu. Namun tidak kali ini, karena kata Bang Juned, daginnya istimewa. Maka rasa daging itulah yang harus ia rasakan.

Tak lama, Bang Juned menyajikan satenya. Di piring kaca, beralaskan daun pisang. “Silahkan, Mas Bayu” kata Bang Juned. Bayu lalu memakannya dengan lahap. Ternyata benar. Enak sekali. Dagingnya jauh lebih empuk dari yang biasanya. Gajihnya lembut dan tidak membuat eneg. Luar biasa. Sate Bang Juned terbaik yang pernah Bayu makan. Sate Bang Juned ini sebenarnya sate yang sangat enak sekali. Namun, Bayu tidak pernah bertanya daging apakah yang Bang Juned sajikan. Bayu takut jika yang disajikan adalah Daging Kambing atau Babi. Keduanya tidak boleh ia konsumsi. Sejak kecil ia diajarkan untuk tidak makan daging kambing. Sedangkan babi jelas, haram. Namun karena Sate Bang Juned enak, ia tidak peduli dan tidak mau peduli. Namun untuk kali ini, ia bertanya kepada Bang Juned. Untuk pertamakalinya seumur hidup. Ia penasaran, mengapa dagingnya bisa begitu enak. Apalagi yang spesial ini.

“Bang Juned, ini daging hari ini enak banget. Bedanya apa sih ?”

“waduh, rahasia perusahaan tuh Mas”

“Ayo doongg, kasih tahu, kalau Abang kasih tahu, saya beli lagi deh 20 tusuk buat di rumah”

“waduhhh.. kasih tahu nggak yah ? Untuk Mas Bayu, saya kasih tahu.”

“asiikkk gimana tuh ??”

“tapi mas Bayu nggak boleh bilang-bilang ke orang lain ya ?”

“iya”

“janji ?”

“janji !”

“jadi gini Mas, kebetulan saya dapat daging istimewa hari ini. Daging dari hewan yang matanya belang. Warna matanya beda gitu mas kiri dan kanannya…”

Seketika saja Bayu terdiam. Ingatannya langsung tertuju kepada Nana. Bayangan Praha-nya Binet yang sudah mulai terbentuk di kepalanya langsung hancur berantakan. Yang benar saja ? Masa iya ? Nggak mungkin kan ? Ini… nggak mungkin… Nggak mungkin kan sate Bang Juned itu sate kucing ????????

Bayu menahan makanan yang sudah masuk ke mulutnya agar tidak keluar lagi. Ia ingin muntah. Kucing ? Aku makan kucing ? Pikirnya. Ia lalu berteriak dan memberi 50 ribu rupiah kepada Bang Juned.

“Udah bang ini ambil semua, satenya nggak usah !”

“eeehhh, kenapa Mas ?”

“DIEM LO, ORANG JAHAT !”

Bayu langsung pergi menuju rumahnya yang tak jauh dari warung sate Bang Juned. Di rumahnya, ia mengeluarkan isi perutnya. Beberapa pertanyaan yang ia tanyakan terjawab. Nana di mana ? Dan mengapa ia tidak menemukan kucing liar di lingkungannya ? serta karung yang dipangku Bang Juned. Deduksinya, Bang Juned menghabiskan populasi kucing liar di lingkungan itu, memasukkannya ke dalam karung, lalu membuatnya jadi sate. Ini juga sekaligus menjawab daging apa yang disajikan di warung Bang Juned. Sate kucing. Dunia Bayu bagaikan runtuh. Ia yakin ia tak akan bisa makan apapun di luar rumah. Ia kehilangan kepercayaan terhadap tukang dagang. Mungkinkah ayam di restoran fastfood bukan ayam ? Daging burger bukanlah daging sapi ? Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis. Bayu lalu bengong hingga akhirnya ia tertidur.

“Oi, bangun lo Bay !” ternyata Rama, kakaknya sudah pulang.

“eh kak, sudah pulang ?”

“iye, udah dari tadi. Lo kenape ama Bang Juned ?”

“Eii, kak ! Bang Juned itu jualan Sate Kucing masa ?”

“HUAHAHAHAHAH SATE KUCING ?!!?!? TEORI DARI MANA ?”

Bayu lalu menjelaskan apa yang terjadi di hari itu. Minus Freddie dan Endah. Lalu Rama hanya menanggapinya dengan tawa yang makin menjadi.

“SATE BANG JUNED TUH SATE SAPI !!!!! SAPI YANG MATANYA BELANG EMANG LEBIH ENAK DAGINGNYAAAAA MASA LO NGGAK TAUUU !??!!?!”

Bayu hanya bisa bengong mendengarkan penjelasan kakaknya. Tidak masuk akal. Kakaknya menolak teorinya tentang populasi kucing liar yang berkurang, karung Bang Juned, dan Nana. Rama lalu menjelaskan, Nana sudah ditemukan –Rama menunjukkan foto selfie Santi dengan Nana yang baru saja diambil. Nana terlihat tertidur, dan Santi monyong mulutnya. “Terima kasih, kata Mbak Santi” Rama menjelaskan. Karung Bang Juned ? Ternyata Bang Juned sedang mengumpulkan ranting-ranting pohon yang akan ia gunakan sebagai arang spesial buatan Bang Juned. Ternyata itu juga yang membuat sate Bang Juned Menjadi istimewa. Populasi kucing liar, ternyata upaya ketua RW (Rukun Warga) dalam memberantas Toksoplasma. Luar biasa sekali RWnya. Bayu lalu mulai tenang. Penjelasan Rama masuk akal.

“Percaya lo sama gua ah ! Tuh, gua bawain Sate Bang Juned lagi, tadi lo kasih dia 50 rebu kagak kembali kan ? Dia bakarin itu sate, terus dia titipin ke gua”

“iye kak sori, sori, analisis gue meleset.”

“ya udah, sana makan !”

“iyeee…”

Dengan langkah gontai, Bayu berjalan ke meja makan. Ia membuka bungkusan cokelat yang berisi sate. Sate sapi. Sate sapi Bang Juned. Bukan Sate Kucing. Ia pun mulai melahap satenya. Perlahan, namun pasti. Enak. Rasa sate itu masih tetap enak. Walaupun tidak seenak tadi siang. Tapi masih sangat enak. Bayu pun menikmati sate itu hingga tersisa tusuk terakhir. Bayu mengangkat sate itu, melihat ke arahnya sambil menggelengkan kepala dan berkata “Diawali dengan mencari kucing, diakhiri dengan sate kucing… Hari Minggu yang aneh… hahahahah..” Begitu ia memasukkan sate itu ke mulutnya………. “MEONG”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: