h1

Kekucingan

April 9, 2015

Katanya, baik atau tidaknya seseorang tidak ditentukan dengan kedekatannya dengan Tuhan. Katanya. Tapi ada yang bilang juga, baik atau tidaknya seseorang dapat ditentukan dengan seberapa rajin ia mengingat Tuhannya, Tuhan yang tak terlihat saja selalu diingat, apalagi yang dilihat setiap hari. Begitu katanya. Aku yang mana ? Ah aku sih yang mana saja, selama aku baik dengan manusia lain, aku pasti dianggap orang baik. Kalau ada orang jatuh dari motor, aku tolong, dia tidak akan tanya agamaku apa, apa aku rajin ke mesjid, gereja, pura, sinagog, atau tempat lainnya, tak akan peduli. Ia lebih peduli aku mengangkat motornya, lalu tubuhnya, sembari menawarkan apa perlu ambulans atau tidak. Sederhana. Karena yang menghakimi aku ya manusia lagi. Berlakulah seperti manusia terhadap manusia. Tapi konon, kalau tidak mengingat Tuhan, ada kalanya bisa kena kutuk. Terdengar seperti perkataan orang dari abad pertengahan, tapi masih sering saja ada yang bilang begitu. 2015. Entah sudah lewat berapa abad. Tapi kepercayaan seperti itu tak kunjung mati. Tapi ya, apa peduliku sebenarnya. Hak mereka untuk percaya, hak aku untuk tidak, dan hak Tuhan untuk berbuat apapun kepada aku.

***

Kukunyah potongan kentang dan waluh rebus, ketimun dan selada segar, serta semangkuk bumbu kacang untuk menghilangkan kehambaran rasa potongan-potongan itu. Orang bilang ini namanya gado-gado, dan cara makannya bukan seperti ini. Tetapi dipotong-potong dan dicampur adukkan. Bukan dimakan seperti kentang goreng yang dicelupkan ke sambal dan saus tomat. Ah, tapi apa peduliku ? Toh yang masuk ke perut sama-sama saja. Ayam, mau direbus, mau digoreng, mau disoto, tetapi saja namanya ayam. Sayur-sayuran ini juga begitu. Mau dicampur aduk, mau dimasukkan ke dalam juicer, tetap saja namanya sayur. Bagiku sayur-sayuran ini cocok untuk sarapan. Membuat kenyang, murah, dan sehat. Ditemani dengan sebotol air putih, sudah cukup untuk menjaga metabolisme tubuh.

Sarapanku terdengar hambar ? Memang. Agar makin hilang hambarnya, aku menambah rasa lain. Tapi rasanya bukan dari makanan, melainkan dari koran. Koran memang bukan untuk dimakan, tetapi ia bisa menjadi penawar hambar yang lain. Rasa hambar di otak karena apa yang muncul di televisi tidak ada yang bisa membuat otakku bekerja. Semua berwarna hitam putih, bagaikan semut sedang berkecamuk. Televisi telah mati. Karena tidak aku bayar iuran bulanannya. Biarkanlah. Melihat semut hitam dan putih bertengkar lebih seru daripada melihat manusia-manusia yang bertengkar. Kecuali pertarungan bela diri –yang hanya disiarkan malam, dan aku tidak punya waktu untuk menontonnya, tidak ada pertengkaran manusia yang seru untuk dilihat. Bagiku itu bodoh. Ego melawan ego. Seperti binatang saja. Maka dari itu, daripada melihat yang menyerupai binatang, lebih seru melihat binatang saja yang bertengkar. Semut melawan semut.

OSAMA BIN LADEN TEWAS DALAM OPERASI TOMBAK NEPTUNUS

Begitu tajuk berita yang aku baca dari koran. Wah, Osama Bin Laden tewas ? Luar biasa. Ini berita yang sangat spektakuler. Spektakuler pada masanya. 4 tahun yang lalu. Ini memang koran lama. Koran lama yang aku ambil dari gudang. Koran lama yang sengaja aku simpan kembali di tempat koran untuk menghilangkan bosan. Aku tidak langganan koran. Alasannya sederhana: karena temanku bilang baca koran bisa membuat paranoid. Ia bilang, koran langganannya memuat artikel tentang bahaya masakan rumah, yang katanya walaupun dibuat sendiri, belum tentu lebih aman daripada gorengan yang dibeli di pinggir jalan. Ancaman pestisida lah, obat tumbuhan lah, pokoknya tidak bikin nyaman, sepertinya lebih baik tidak makan. Untungnya, koran langgananku dulu belum memuat artikel serupa. Jadi, sebelum koran itu memuatnya, aku putuskan untuk berhenti saja. Aku senang, semua senang.

Selesai membaca koran edisi Mei 2011 itu, aku meletakkannya di tumpukan koran lama tadi. Tidak berdebu. Debunya sudah aku bersihkan sebelumnya. Ketika koran-koran ini baru diturunkan dari gudang. Aku lalu mencuci piring, garpu, dan mangkuk juga alat dapur lain seperti ulekan dan talenan yang aku pakai untuk menyantap dan mempersiapkan “gado-gado” tadi. Menatanya di rak piring, mengepel lantai dapur yang basah akibat kegiatan cuci-mencuci, lalu pergi ke lantai 2 untuk mulai mandi dan bersiap pergi. Adegan mandi tak perlu aku ceritakan karena hanya melibatkan diriku, sabun, dan shampoo. Tidak ada yang istimewa.

Selesai mandi, aku merapihkan tasku. Barang bawaanku tak banyak hari ini. Tak perlu membawa laptop, karena hari ini tak ada kuliah yang mengharuskan aku untuk mempresentasikan hasil karyaku. Cukup membawa binder untuk catatan kuliah, tempat pensil yang berisi alat-alat tulis serta sampah-sampah kecil, tak lupa sekaplet obat sakit kepala. Aku sedang sedikit demam. Mungkin kalau minum obat sakit kepala, demamnya akan reda. Mengantuk ? Tak masalah, aku kuat.

Aku lalu bersiap ke kampus. Mengenakan baju sepak bola dan celana jeans. Sederhana saja. Mengapa harus dibuat ribet ketika yang dibutuhkan hanya mata, telinga, mulut, tangan dan otak untuk menjalankan kehidupan kampus ? Jika diperbolehkan memakai celana pendek, kaos oblong, dan sendal jepit, aku akan datang dengan stelan seperti itu setiap hari. Kuambil kunci mobilku, menyimpan barang-barangku di jok penumpang depan, menyalakan audio mobil dengan playlist bernama “Distorsi”, di mana aku menikmati ketukan-ketukan synkopatik ala Brann Dailor dari Mastodon. Sebuah hiburan tak ternilai di pagi hari. Sayang, aku hanya bisa menikmatinya selama setengah jam tiap pagi, karena memang sejauh itu lah jarak kampus dan rumahku.

***

Di tengah riuhnya jam pulang sekolah di sebuah sekolah dasar negeri.

A: “Cepetannnn itu kubur kucingnyaaa cepeeeettt !! Kasian udah mau matiiiii !!!”

B: “Tunggu dong, tunggu mati lah ! Masa dikubur sekarat-sekarat ?? Lagian sekopnya masih nyari nih !!”

C: “Bego maneh. Itu kucing bisa kayak gitu kerjaan siapa sih ? “

A: “Itu anak kelas 2, masa kucing diinjek lehernya terus diseret-seret gitu ? Sekarat lah !”

C: “waduh… lain kali mesti dikasih tau tuh, di sekolah kita kan banyak kucing”

B: “ini nih, sekopnya ketemu, minjem sama Bi Ondy !”

A: “itu kucingnya udah diem, udah mati”

B: “ya udah hayu kubur ih !”

Tiga anak sekolah dasar itu lalu menggali kubur, memasukkan bangkai kucing yang sudah mati tadi, menutup kuburannya, lalu berdoa.

A: “Mau liat malaikat nggak ?”

C: “gimana caranya ? ngaco maneh”

A: “eh tenang, ada caranya. Kata guru ngaji urang, kalau ORANG udah dikubur, setelah 7 langkah orang terakhir yang pergi ninggalin kuburannya, dia mulai ditanya-tanya sama malaikat”

B: “OH KITU ? OKE !”

A, B, C: 1… 2… 3… 4… 5… 6… 7… AYOOOO GALI LAGII !!!

***

3 hal yang paling aku benci di dunia:

  1. Orang yang merasa paling benar di dunia
  2. Anjing
  3. Sampai di tempat tujuan ketika audioset di mobil masih memainkan lagu yang aku suka

Nomor 3 baru saja kejadian. Ketika Crystal Skull belum berakhir, aku sudah selesai parkir. Aku tidak mau menunggu, sayang bensin. Aku matikan audioset, pendingin mobil, dan mesin mobil tentunya, kuambil tasku, lalu aku berjalan menuju kelas yang dalam 15 menit akan segera dimulai. 15 menit. Waktu yang cukup untuk menggambar di binder-ku. Walaupun tidak berguna, tapi lumayan untuk membuang-buang tinta.

Jalan menuju ke kelas licin, karena habis hujan. Aku harus lebih hati-hati, bahaya jika terpeleset. Aku ingat saudaraku yang pernah terpeleset hingga terjatuh dan tak bisa bernafas untuk beberapa saat. Menyeramkan. Aku kira dia geger otak, ternyata hanya kaget saja. Ya, ancaman geger otak karena terpeleset akibat licin setelah hujan adalah ancaman nyata bagiku, karena jalan kaki tidak diwajibkan mengenakan helm. Jika berjalan kaki sambil mengenakan helm, kamu akan dibilang gila atau bodoh. Walaupun sebenarnya jika memang aku mengenakan helm, lalu yang bilang aku bodoh terpeleset dan geger otak, aku bisa bilang dia bodoh. Tapi ya sudahlah. Jangan memaksakan kehendak.

Di kampus ini banyak kucing liar berkeliaran. Entah dari mana awalnya, tetapi itu menjadi semacam atraksi yang menarik. Tiap kali ada teman lamaku menjenguk ke sini, aku selalu bilang “eh, di sini banyak kucing lho.” Bagiku pemandangan banyak kucing ini aneh. Karena banyak kucing. Karena banyak kucing adalah pemandangan yang tidak wajar. Apalagi di lingkungan kampus. Kalau banyak kucing di peternakan kucing, itu wajar. Tapi kalau banyak kucing di kampus, itu tidak wajar. Bagi teman-temanku yang berkunjung juga begitu. Ada yang bilang lucu, tapi ada juga yang bilang menyebalkan karena ia alergi kucing. Ada juga yang kesengsem, bisa dikasih untuk Bang Juned katanya. Siapa itu Bang Juki saya tidak tahu dan tidak mau tahu, mencurigakan.

Di kampus yang banyak kucing ini, sering membuatku berpikir. Bagaimana rasanya jadi kucing ? Tidak perlu kuliah, tidak perlu mengerjakan tugas, bisa bermalas-malasan seenaknya, tidak takut dosa, dan berbagai macam keuntungan lainnya. Keuntungan yang tidak bisa didapat oleh manusia biasa. Pernah sekali aku keluarkan pemikiran ini sebagai celetukan iseng, temanku membalas dengan sedikit ketus “eh awas lho, kalau malaikat lewat bisa jadi doa !”

Ada yang bilang, ucapan itu doa. Begitu katanya. Nah, ini temanku malah mendoakan malaikat lewat ketika aku berbicara ngaco, malah mendoakan yang tidak-tidak.

***

C: “Mana malaikatnya ih ?”

A: “Tungguin bentar..”

C: “Maaaannaaaaaaaa….?”

B: “cicing maneh, sabar atuhh”

A: “eh enya lupa. Guru ngaji urang juga bilang kan malaikat mah makhluk gaib, nggak akan bisa keliatan”

C: “ARI MANEEEEHHHHH…..”

B: “Belegug ih maneh mah. Ya udah, hayu kubur lagi aja lah, kasian”

A: “hahaha. Oke”

***

Di kelas, penjelasan yang diberikan oleh Pak Profesor sebenarnya sangat menarik. Tentang Kebudayaan yang dinamis. Sebuah paradigma tentang kebudayaan yang sangat berbeda dari paradigma lain tentang kebudayaan yang pernah aku pelajari. “Budaya itu dinamis, berkenaan dengan kepentingan dan kekuasaan yang menaungi budaya itu.” Begitu katanya. Sayang, kepalaku tidak mau banyak bekerja sama hari ini. Sakit kepalanya makin menjadi. Apa yang diucapkan oleh Pak Profesor tidak masuk sama sekali. Bukan masuk telinga kanan keluar telinga kiri, masuk telinga kanan atau kiri pun tidak. Sayang sekali, padahal pertemuan dengan profesor ini hanya 6 kali dalam 1 semester ini.

Ternyata kali ini aku tidak cukup kuat. Bukan karena ngantuk, tapi karena sakit kepala yang luar biasa ini. Pandanganku mulai buram. Konsentrasi jelas sudah buyar. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan kecuali tetap terlihat memperhatikan Pak Profesor dan berharap agar kelas ini cepat usai. Setelah kelas ini usai, aku mau minum obat, dan meminjam ruang perpustakaan untuk tidur. Ide bagus. Ide yang didukung oleh teman-teman lamaku di grup line. “ya udah, istirahat maneh !” begitu kata mereka.

Aku kuat. Aku kuat. Aku kuat. Aku… kuat… Ternyata doaku dikabulkan. Doaku dalam hati. Doa di mana aku berharap Pak Profesor tiba-tiba harus pulang. Ternyata benar. Telepon genggamnya berbunyi, dan sepertinya ia harus menghadiri sesuatu yang gawat, sesuatu yang darurat. Istrinya mau melahirkan ! Dan ternyata beliau lupa kalau istrinya sedang hamil tua. Luar biasa. Memang begitu katanya ya, jenius dan gila itu beda tipis. Mungkin ini contohnya. Seperginya Pak Profesor, aku langsung menenggak obat sakit kepala, tanpa air minum.

Aku lalu berjalan lunglai ke perpustakaan. Namun, tiba-tiba saja perhatianku teralih ke langit. Ada matahari. Awalnya putih. Tapi lalu jadi hitam. Aku tanya ke teman sekelasku yang masih berada di sekitarku. Apa iya ? Mereka bilang tidak. Sekejap, tubuhku lemas, dan aku terjatuh. Lalu gelap. Gelap gulita.

***

A: “Okeh, beres nyak, mari kita doakan, semoga dia ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya”

B: “Emang kucing punya Tuhan ?”

A: “Punya atuh, sama dengan Tuhan kita, Tuhan kita kan pencipta segalanya”

C: “Kucing nantinya masuk Surga atau Neraka atau gimana ya ?”

A: “Hmm. Masuk Surga lah kalau baik mah…”

C: “Tapi kan, kata Pak Guru, binatang kan nggak bisa mikir ? Jadi nggak tahu dong yang baik dan yang buruk ? Nggak adil dong kalau gitu”

A: “maneh emang pinter euy, urang mah nggak pernah mikir sampe sana…”

***

Aku terbangun. Ini terbangun kedua kalinya dalam sehari ini. Aku masih di tempat aku terjatuh tadi. Aneh. Aku kan tadi pingsan, kok tidak ada yang membawaku ke rumah sakit atau setidaknya didudukkan di tempat yang pantas lah. Ini kok malah didiamkan di depan kelas. Ugh, tapi ada yang aneh. Segalanya terlihat menjadi lebih besar. Pot tanaman setinggi 70 cm jadi seperti 2 meter. Ini aneh sekali.

Aku lalu berjalan menuju ke ruang perpustakaan, tempat biasa aku berkumpul dengan teman-teman. Tiba-tiba aku terpeleset. Ah, mungkin licin habis hujan pikirku. Tak lama, aku sadar. Aku berjalan dengan menggunakan tanganku juga. Seperti… merangkak. Bagaikan bayi. Hah, aku kenapa ? Ketika aku mencoba berdiri dengan dua kakiku, aku tidak bisa ! Aku kenapa !? Aku mencoba berteriak, mungkin nanti akan ada yang membantuku. Tepat di saat aku coba berteriak, aku mendengar suara kucing. Keras sekali. Aku sampai kaget, tak pernah sebelumnya aku mendengar suara kucing sekeras itu. Meski aku tiap harinya dikelilingi kucing, tapi baru pertama kalinya aku mendengar suara kucing sekeras itu. Aku mengurungkan niatku untuk berteriak, dan memutuskan untuk berjalan begitu saja ke ruang perpustakaan.

Di ruang perpustakaan terdengar suara tawa yang sangat familiar. Suara tawa teman-temanku. Aku kenal suara mereka dengan baik. Kami selalu bersama setiap hari. Wajarlah kalau sampai familiar. Namun, di antara suara mereka, ada suara yang benar-benar berbeda. Aku tahu suara itu, suara yang setiap hari aku dengar. Suara yang aku dengar bahkan ketika aku sendirian. Satu-satunya suara yang tidak pernah meninggalkanku, suara yang ada bahkan ketika bayanganku meninggalkanku di kegelapan. Suaraku. Suaraku sendiri. Itu suaraku. Mengapa suaraku ada di sana ? Aku mengintip melalui celah pintu. Aku melihat kawan-kawanku sedang mengelilingi seorang lelaki yang kepalanya sedang diperban. Seorang lelaki yang sosoknya aku lihat tiap hari di cermin. Aku. Kenapa aku ada di situ ? Kalau aku ada di situ, lalu aku siapa ?

Aku yang di situ lalu mendekat kepada diriku, mengangkatku dengan ringan “EEIII KUCIINGGG, MAU KE MAAAANNNAAAA ?”

***BERSAMBUNG***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: