h1

Obrolan Sebelum Tidur

June 5, 2015

Tadi malam, saya mencoba untuk tidur. Setelah berpamitan tidur dengan orang-orang yang senantiasa mengisi hari-hari saya, saya memutuskan untuk membuat sebuah posting di media sosial Path. Posting sederhana yang mengisyaratkan saya sedang mendalami pattern drum hip-hop melalui lagu Ch-Ch-Check It Out dari Beastie Boys. Saya sudah sangat mengantuk di kala itu. Namun tak lama, ada notifikasi dari Path. Dari Rayhan Sudrajat. Siapa dia ? Teman. Tapi coba googling saja, namanya cukup tenar di belantara musik lokal.

Ia mengomentari tentang bagaimana dulu ia mendapatkan album Beastie Boys To the 5 Boroughs (ia membelinya di Borma ketika masih SD). Komentar iseng, yang ringan yang saya balas dengan ringan juga. Kebetulan saya ingat saya beli album itu di toko musik Aquarius di Dago. Tak lama, ada komentar lain yang masuk, dari Rayhan lagi, tentang memori. Katanya, “kok memori itu ada ? Tapi sebenarnya nggak ada ?” Wow. Pertanyaan yang sangat filosofis. Tipe-tipe pertanyaan yang ditanyakan oleh Rayhan ketika iseng, dan tipe pertanyaan yang akan dengan senang hari saya jawab. Kebetulan saya memang punya ketertarikan terhadap hal-hal seperti itu.

Saya menjawab dengan salah satu filosofi dasar, yaitu konsep dunia ide. Tentang bagaimana sebenarnya di kepala kita, ada konsep-konsep imajiner yang berkeliaran. Ia tidak nyata, tapi ada di kepala. Ketika saya bilang kursi, walaupun kursi itu tak ada, tapi akan muncul di kepalamu tentang apa itu kursi. Alat untuk diduduki. Seperti itulah. Memori adalah imaji kita tentang kursi-kursi itu, dan bagaimana kursi-kursi itu berhubungan dengan konsep ide lainnya yang ada di kepala. Lalu pembicaraan pun bergerak dari dunia ide ke dunia empiris. Di dunia empiris, ketika kamu dipukul, maka kamu akan bengkak. Di dunia ide, ide-ide saling berinteraksi dan membuat memori.

Rayhan lalu membalas dengan komentar yang bagi saya cukup sedap untuk dikutip; “Itulah menantangnya hidup melalui imaji. Melukiskan, menggambarkan dari sesuatu yang nggak ada.” Mungkin itu visinya sebagai seniman yang seringkali membuat musik untuk menggambarkan sesuatu. Saya setuju. Saya juga menambahkan kegilaan lain dari imaji, di mana ia bisa membuat sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Saya mengacu ini kepada proses pencitraan. Bagaimana imaji/citra bisa menutupi keburukan seseorang dengan imaji baik yang ia tunjukkan.

Pembicaraan terus berkembang hingga pada titik di mana menurut Rayhan imaji orang beda-beda, sehingga seseorang tidak bisa memaksakan imajinya kepada orang lain. Ini juga asik untuk ditelaah. Tentu demikian. Imaji yang ada di kepala orang memang berbeda-beda. Ia muncul sebagai refleksi dari dunia empiris di mana mereka hidup. Manusia adalah wadah ide yang dibentuk oleh manusia luar. Itu yang saya percaya. Lalu Rayhan mengkonfirmasi lagi keyakinannya: bahwa dunia empiris itu berbeda bagi tiap orang, bergantung dengan pengalamannya, terutama pada masyarakat adat.

Nah, untuk ini, saya mengambil kacamata baru. Kacamata kebudayaan. Saya mengambil konsep kebudayaan dari Clifford Geertz yang berbunyi: :“an historically transmitted pattern of meanings embodied in symbols…by means of which men communicate, perpetuate, and develop their knowledge about and attitude toward life”. Bagaimana cara manusia memandang hidupnya melalui komunikasi, pandangan, dan pengetahuan. Mungkin ini yang dimaksud Rayhan dengan pengalaman yang mengubah persepsi orang tentang dunia empiris.

Saya rasa demikian. Bagaimana pengalaman seseorang mampu mengubah pandangan (kebudayaan)nya terhadap hidup, yang tentunya akan mengubah pandangannya terhadap dunia sekitarnya. Belakangan saya sering berpikir, ada beberapa manusia (termasuk saya) yang memiliki set of rules yang tidak mau ia langgar. Set of rules ini biasanya adalah standar dia terhadap hidup. Saya sendiri memiliki set of rules dari yang sederhana hingga yang kompleks, dan saya memegang teguh set of rules ini. Yang sederhana misalnya; tidak berkendara seperti orang bodoh. Jikalau saya berkendara seperti orang bodoh, apa yang terjadi ? Ya mungkin kecelakaan, atau apapun yang merugikan orang lain lah. Awalnya begitu saya pikir. Yang terjadi hanyalah kekacauan di dunia luar. Namun, belakangan saya berpikir lagi, ternyata apabila saya melanggar set of rules saya sendiri, yang akan berubah bukan hanya lingkungan secara spesifik saja, tetapi secara keseluruhan ! Mengapa ? Karena dengan melanggar set of rules ini, saya melanggar apa yang saya percaya, saya melakukan sesuatu yang bisa mengubah pandangan saya. Ketika pandangan saya berubah, maka dunia akan ikut berubah ! Begitulah kiranya.

Karena itulah, bagi saya setiap orang memiliki acuan kebenarannya masing-masing. Ada di post saya sebelumnya, A Different Set of Truths. Pandangan itu tidak berlaku kepada agama saja, tetapi juga kepada aspek-aspek lain dalam kehidupan. Persepsi ini dinamis dan bisa berubah. Ini diamini oleh Rayhan yang melihat perubahannya di dalam Suku Baduy Dalam yang belum lama ia teliti. Ia sedih, karena katanya 5% dari anggota Suku Baduy Dalam mulai berubah dan ingin meninggalkan sukunya. Yang keluarnya adalah anak muda, sedangkan yang tua tetap mempertahankan budaya dalamnya. Ia sedih karena mungkin nantinya mereka yang keluar akan mempengaruhi mereka yang di dalam. Lama kelamaan, kebudayaan mereka akan luntur karena modernitas.

Ini mengingatkan saya terhadap salah satu kuliah oleh dosen dari Sosiologi UI, Ibu Dara. Menurut beliau, masalah klasik yang dihadapi oleh masyarakat yang mulai modern adalah urbanisasi. Di mana daerah-daerah pinggiran mulai ikut menjadi kota, kebudayaan mereka terkikis dan menjadi ikut kepada kebudayaan kota. Ini adalah modernitas. Mungkin memang banyak hal yang baik dalam modernitas, hidup yang lebih dipermudah, informasi yang lebih banyak, pikiran yang lebih terbuka, dan lain-lain. Namun di sisi lain, eksesnya buruk, membunuh kebudayaan yang sudah lama ada. Sedangkan masyarakat tradisional, hidupnya lebih sederhana. Buruknya ? Mereka kurang mengetahui “kebenaran-kebenaran” yang dianggap benar oleh mayoritas. Bagi saya sebenarnya itu tidak buruk, karena “kebenaran” sendiri tentunya dibuat. Iya. Kebenaran adalah kebudayaan yang dipaksakan. Jadi, sebenarnya tidak mengetahui “kebenaran-kebenaran” yang dianggap benar oleh mayoritas tidak selamanya buruk, bisa dinetralisir dengan kearifan lokal. Tapi yah mungkin, akses terhadap teknologi yang terbatas bisa dianggap sebagai “pelanggaran HAM” dengan segala argumentasinya. Mungkin, tradisionalitas bisa membantu kita untuk menangkan ekses modernitas yang membunuh ?

Diskusi kembali berlanjut kepada Rayhan yang menceritakan gaya hidup kommunal suku Baduy Dalam. Gaya hidup kommunal ini mirip-mirip dengan idealisme dari komunisme. Saya sendiri sedikit tertarik dengan komunisme, namun masih kurang membaca tentang eksesnya dalam bidang ekonomi. Namun, saya suka dengan argumen Rayhan yang menurutnya: “apabila kita punya baju yang sama, sendal yang sama, ladang yang sama, penghasilan yang sama, apalagi yang akan membuat kita menjadi iri-dengki ?” Selain itu, bagi Rayhan, masyarakat adat lebih dari sekedar objek wisata. Tetapi cara hidup. Cara menjalankan hidup. Kembali, kebudayaan. Katanya, jika sekedar objek wisata, berakting saja sudah cukup untuk menyenangkan turis.

Namun, dalam diskusi seperti ini, saya selalu kembali ke pertanyaan: “pentingkah mempertahankan masyarakat adat ? Toh nenek moyang kita dulu pun masyarakat adat yang mungkin saja sudah punah, bukan ?” Entah ya, mungkin itu pertanyaan yang sangat arogan, karena nantinya pada akhirnya, mungkin manusia itu sama semua. Mungkin ini adalah efek Juggernaut yang tak terelakkan dari globalisasi yang menghancurkan sekitarnya.

Diskusi ditutup dengan makian dari Rayhan yang mengatakan bahwa istilah “suku terasing atau tertinggal” adalah sesuatu yang goblog. Saya setuju. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Mereka bisa hidup, mungkin lebih bahagia daripada kita-kita yang merupakan masyarakat modern. Ini bertentangan dengan pertanyaan saya memang. Tapi ya, begitulah. Memang masih misterius, apakah kearifan lokal bisa bertahan dari modernitas ? Sesuatu yang patut untuk selalu ditanyakan dan didiskusikan. Jika ditanyakan posisi saya di mana ? Yah, mungkin posisi saya ada pada kalimat ini: “hiduplah dengan cara kalian masing-masing, kenyamanan kalian kalian yang tentukan, jangan ganggu kenyamanan orang lain.” Kurang lebih begitu.

Begitulah obrolan sebelum tidur saya dengan Rayhan Sudrajat semalam. Bagaimana dengan obrolan sebelum tidur kalian ? Lebih seru ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: