Archive for July, 2015

h1

Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran: 2007

July 5, 2015

Cita-cita saya dulu jadi Duta Besar. Duta Besar Indonesia untuk Jepang. Iya, Duta Besar, bukan diplomat. Agak terlalu tinggi memang targetnya, tapi ya, namanya orang bermimpi, bebas dong, gak boleh ada yang protes, iya nggak ? Iyain aja biar cepet. Nah, cita-cita yang terdengar tidak realistis ini, karena saking sulitnya, membawa saya ke sebuah jurusan kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung. Lahir di “keluarga UNPAD”, di mana ayah, ibu, paman, tante saya semua lulusan UNPAD, membuat saya ingin juga meneruskan kuliah di sana. Singkat kata, karena cita-cita (yang saya pilih) dan takdir (saya tidak bisa memilih untuk tidak lahir di keluarga UNPAD bukan ?), saya memilih Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Singkat cerita, saya diterima.

Di sana, ada 1001 cerita yang tidak mungkin saya kemas dalam tulisan. Jikapun demikian, mungkin apabila semua pohon di dunia menjadi kertasnya, dan semua air di lautan menjadi tintanya, tulisan tersebut tidak akan pernah cukup. Tapi, cerita itu saya rangkum dengan sangat singkat di tulisan lama saya (ayo dicari, jangan males). Singkat kata, saya lulus dengan membawa banyak kenangan. Kenangan yang adakalanya dapat terulang di tempat lain.

Tadi misalnya, ketika buka bersama. Walaupun sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengan satu sama lain, semua tidak berubah. Tidak ada yang berubah. Walaupun tentunya ada perubahan dalam hidup masing-masing. Ada yang dapat pekerjaan baru, ada yang tetap belum bekerja, ada yang masih kuliah pascasarjana, ada yang baru lulus, ada yang baru lulus pascasarjana, daaaannnn banyak hal lainnya. Namun, ketika kami bertemu, latar belakang hidup kami pada saat ini nampaknya tidak memiliki pengaruh banyak kepada hubungan kami.

Selalu ada Rendy Beye yang menjadi sosok pemimpin bagi kami. Walaupun dia bukan ketua angkatan, tapi tampaknya semua anak 2007 setuju apabila Rendy Beye diangkat secara aklamasi menjadi ketua angkatan baru.

Selalu ada Natalie dengan segala komentar pedasnya. Juga dengan segala saran yang walaupun menohok, tapi memang saran itu yang kita butuhkan, itu yang HARUS kita dengar, bukan INGIN kita dengar.

Selalu ada Iffa yang macho. Sebagaimanapun Iffa mencoba menjadi wanita, tetap saja ia sesosok yang macho, namun baik hati, dengan jokes-jokesnya yang khas, dan mengundang senyum.

Selalu ada David yang siap meladeni siapapun yang bertanya perihal apapun, dari akademik, hidup, hingga tren terbaru. Mungkin David adalah salah satu orang paling up to date di antara kami.

Selalu ada Nabil dengan segala keluguan dan kelupaannya. Kunci mobil yang tertinggal, hp yang tergeletak begitu saja, lampu dalam mobil yang lupa dimatikan. Keluguannya selalu mengundang senyum.

Selalu ada Alex yang celetukannya kencang, menohok, dengan logat Padang yang khas. Alex selalu berteriak apabila ada salah satu dari kami yang berlaku atau berkata bodoh.

Selalu ada Ieya dengan segala kegenitannya. Genit sama cowok-cowok keren seperti Kangsat atau Nizar. Dengan rasa percaya diri yang setinggi kristal. Luar biasa.

Selalu ada Nizar yang ditemani dengan senyuman ala “aa-aa Sunda”, lengkap dengan logat Sunda kental dan Bahasa Sunda yang sangat halus.

Selalu ada Chandra dengan suaranya yang rendah dan nge-bass. Walaupun pendiam –justru karena pendiam, tingkah lakunya seringkali mengundang tawa karena sangat tidak terduga.

Selalu ada Diva yang diam di ujung meja, memperhatikan obrolan sambil sesekali melontarkan komentar ekstra pedas terhadap siapapun yang berkata bodoh.

Selalu ada Solpa dengan segala keunikannya. Belakangan ia sedang tertarik dengan fitness.

Selalu ada Khairul yang bertingkah laku semacam paling keren, namun berakhir dengan hinaan dan makian, yang tentunya semua adalah candaan yang tak perlu dimasukan ke hati. Khairul hanya tersenyum pahit, dan melanjutkan tingkah-lakunya.

Selalu ada Aboy yang menjadi korban bully. Apapun yang ia lakukan sepertinya salah, tapi sepertinya ia mampu menerima hal itu. Walaupun demikian, ketika Aboy tidak ikut berkumpul, semua akan bertanya “Aboy mana ? Aing kangen nih  !”

Dan terakhir, ada saya. Terkadang ikut berbicara, terkadang diam memperhatikan. Tapi yang pasti, saya selalu merasakan kehangatan yang orang-orang ini pancarkan. Mengolahnya ke dalam tulisan sederhana seperti ini.

Sudah lebih dari 7 tahun kita berteman. Ini hanyalah sebagian kecil dari keluarga besar kami yang saaanggaaaaatttt besar. Saya rindu semuanya. Saya rindu waktu-waktu ketika kami semua bisa berkumpul bersama. Tertawa, menyalakan kembang api, makan, teriak, semua dilakukan sampai hampir menangis. Karena kalian memang terlalu istimewa. Ada juga di antara kami yang sudah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Khairunnisa. Koi, percaya deh, tidak ada masa di mana kami tidak merindukanmu. Semoga suatu saat, kita semua bisa berkumpul di sana ya ? Tertawa bersama lagi seperti dulu.

Andai memutar waktu semudah menggali ingatan, sudah pasti kita bisa bertemu dan tertawa setiap saat.

Advertisements