h1

Bunga-Bunga Yang Dipetik

August 11, 2015

Aku berjalan pelan ke arah toko buah di sudut jalan Trunojoyo. Masih mengantuk. Tadi malam baru tidur pukul 4 pagi. Seperti biasa, menonton pertandingan sepak bola. AC Milan melawan Chelsea di Liga Champions. 3-0, menang Chelsea. Menyebalkan. Untung ini masih fase grup, jadi aku masih bisa melihat Milan kesayanganku main untuk beberapa pertandingan lagi. Untungnya Milan masih berada di posisi kedua, di bawah Chelsea, di atas FC Basel dan Shakthar Donetsk. Masih besar lah peluang mereka untuk lolos.

Kelopak mataku masih sangat berat. Serasa ada dua orang bergantung di kiri dan kanan mataku, Goliath di kiri dan Jalut di kanan. Keduanya sosok yang sama dari dua cerita yang sama dari sudut pandang yang sama, namun dalam bahasa dan kultur yang berbeda, namun berakar sama. Ah tidak pentinglah itu. Yang pasti mereka sama-sama cukup besar untuk membuat kelopak mataku berat. Sambil berjalan lunglai dari rumah nenekku yang tidak jauh dari situ, aku membayangkan pertandingan semalam. Seandainya saja De Sciglio tidak dikartu merah dan memberi Chelsea penalti, petandingan akan berjalan leb…. TEEETTTTTTTTT… tiba-tiba ada suara klakson mobil menyambar dari belakang. Angkot. Aku hampir tertabrak.

Rek paeh sia goblog !?” mau mati kamu goblog ? begitu kata supir angkot berteriak kepadaku. “Punten Pak, can kawin keneh yeuh !” Maaf pak, saya belum kawin, jawab aku setengah bercanda, setengah mengantuk. Kalau aku tidak mengantuk, jawabanku pasti sepenuhnya mengamuk. Kutonjok supir angkot itu biarpun aku yang salah. Ah sudahlah.

Aku kembali berjalan ke trotoar. Seperti biasa, aku memakai jaket hitam dengan tulisan S.H.I.E.L.D dan bergambar tiga ekor anjing, bertuliskan “Hound of Justice” –jaket hoodie asli produksi WWE, celana pendek cokelat yang memiliki banyak saku. Praktis, segala macam bisa masuk ke dalamnya. HP, kunci rumah nenek, kunci mobil, dompet, bon-bon belanja, dan tisu bekas buang ingus. Hanya ke toko buah saja tidak perlu rapih-rapih amat lah. Dengan rambut potongan tipis ala Angkatan Darat, aku terlihat seperti tentara yang sedang desersi.

Kembali berjalan, aku sudah lupa akan pertandingan semalam. Aku sudah bisa melihat plang toko buah itu. Yang ada di kepalaku sekarang adalah buah apa yang harus aku beli. Aku harus memikirkan baik-baik, ini bukan untukku, ini untuk Rasya, temanku yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Tiga bulan lamanya ia terbaring di sana, menjalani kemoterapi. Pasti menyakitkan. Tapi aku yakin, Rasya adalah perempuan yang kuat, ia bahkan rela memotong rambutnya sendiri. Pertanda ia siap menjalani kemoterapi yang pastinya akan menghabisi rambutnya mau tidak mau, rela tidak rela.

Membeli buah adalah sebuah gestur baik yang melambangkan bagaimana seseorang peduli dengan orang yang ia jenguk. Suka tidak suka orang itu dengan buah, dimakan atau tidak, yang penting beli buah, lalu kasihkan ke yang menjaga di ruangan. Sebuah gestur saja, menggambar itikad baik. Tapi berbeda dengan Rasya. Rasya suka buah-buahan. Dulu di kampus, Rasya selalu rajin membawa buah-buahan. Apapun itu, pisang, salak, apel, pir, belimbing, sepertinya segala macam buah yang dijual di supermarket, pasar, dan toko buah pernah ia bawa ke kampus. “Ris, sekali-kali coba deh ini makan buah, aku bagi nih”, begitu kata Rasya sambil menyodorkan buah yang sudah ia potong kepadaku. Rasya berbeda denganku yang selalu jajan di kantin kampus. Pencuci mulutku adalah bakso goreng dengan saus merah yang tidak jelas dari mana asalnya, dan/atau kue soes yang manis.

“Nggak mau Sya, apa enaknya sih buah-buahan ? Aneh tau” aku selalu menjawab seperti itu setiap kali Rasya bertanya. Tapi Rasya tidak pernah bosan mengulangnya setiap kali kami makan di kantin bersama. Jika sudah menawarkan padaku, ia akan menawarkan ke teman yang lain. Ada Ibnu, Julian, dan Della. Berbeda denganku, mereka akan menerimanya dengan senang hati. Julian memang suka buah-buahan, Ibnu pemakan segala, apabila setan bisa kelihatan, aku yakin setan juga akan dia makan, sedangkan Della, Della terlalu baik untuk bilang tidak. Karena itulah ia selalu mendapatkan nilai jeblok ketika ujian lisan.

“Della, apa benar Soeharto sekarang masih presiden Indonesia ?”

“ii.. iya, Pak !”

Ah, tidak, aku bercanda. Della memang kurang pintar dalam sisi akademis, tapi ya begitulah. Della adalah manusia paling baik di muka bumi yang selalu menjaga perasaan temannya. Karena itu ia tidak pernah bilang tidak kepada Rasya. Pernah suatu saat Rasya membawa roti dengan selai kacang. Entah kenapa hari itu Rasya tidak memakan makanan sehat. “Sekali-kali” katanya. Della yang ditawarkan roti itu, tidak bisa bilang tidak, ia memakannya walau tahu ia alergi kacang. Della pingsan, hingga membuat kami panik dan membawanya ke klinik. Ah Della.

Sesampainya di toko buah, aku sudah memantapkan pilihanku. Belimbing, apel, dan Jeruk. Ketiganya aku belikan untuk Rasya, Masing-masing dua saja. Karena jika terlalu banyak nanti membusuk. Mubazir. Aku juga tidak perlu merangkainya menjadi parcel, cukup begini saja. Lebih mudah dibukanya, tidak makan tempat. Ayolah, ini mau menjenguk pasien di rumah sakit, bukan mau mendatangi rumah orang yang sedang lebaran.

Sesudah membeli buah, aku kembali berjalan pulang ke rumah nenek. Rencananya, aku akan mengajak Ibnu untuk menjenguk Rasya bersama. “Nu, urang –gue dalam Bahasa Sunda- udah beli buah buat Rasya, mau bareng ke Rasya-nya ?” tanyaku.

“ya boleh lah, bentar ya, urang mandi dulu, urang ke tempat maneh –lo dalam Bahasa Sunda-” apa maneh ke urang nih ?”

“urang ke maneh aja deh, langsung cabs sekarang nggak apa-apa kan ?”

“nggak apa-apa, urang mandi cepet da”

“oke”

Aku langsung mengeluarkan kunci mobilku yang sudah kubawa dari tadi. Buah yang tadi aku beli, aku simpan di jok belakang Honda Jazz warna biruku, keluaran tahun 2012. Biar begitu, mesinnya masih segar. Masih bisa ngebut. Sudah penyok sana-sini karena dulu pernah dipakai Della dan Julian belajar menyetir. Keduanya memang tidak memiliki reflek yang bagus. Itu salah satu kekurangan Della. Kalau Julian, matanya memang agak-agak. Terlalu banyak baca, tapi malas pakai kacamata. Jadi ya begitulah. Tapi biar begitu, Julian adalah yang paling pintar di antara kami. IPKnya nyaris 4. Andai saja di mata kuliah Keamanan Global ia tidak salah melingkari Lembar Jawaban Komputer ketika Ujian Akhir Semester. Lagi, itu karena ia malas pakai kacamata. Hebatnya Julian, walaupun nilai UASnya 0 (berarti jawabannya salah semua, di mana semestinya benar semua, karena Julian menggeser 1 jawaban, A jadi B, B jadi C, C jadi D, D jadi E, dan E diisi di ruang kosong di sebelah E), ia tetap mendapat nilai C. Itu berarti nilai lainnya nyaris sempurna. Luar biasa memang Julian ini.

Mesin mobil aku starter, lagupun mengalun. Aku tidak terlalu peduli lagu apa yang diputar. Tidak ada sedikitpun nafsu mendengarkan lagu. Biasanya aku memutar lagu-lagu kekinian. Top 40 lah, Bahasa Gaulnya. Tapi sekarang tidak. Jadi aku memutuskan mendengarkan raungan AC saja. Dalam 10 menit aku sampai di rumah Ibnu. Rumah nenekku dan rumah Ibnu memang berdekatan. Rumah sakit di mana tempat Risya menginap pun tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal di Bandung ini. Sesampai di rumah Ibnu, ternyata Ibnu sudah menunggu di teras. Benar, ia Cuma mandi 5 menit saja sepertinya. Seperti biasa, kaos band metal dengan tulisan yang tidak bisa aku baca, dengan celana jeans yang sudah entah berapa lama tidak dicuci. Tak apalah, itulah Ibnu.

Ibnu adalah orang yang hidupnya paling urakan diantara kami. Anak band ceritanya. Tapi sebenarnya anak mamih. Jadi ia bermain band untuk gagayaan saja. Prestasi akademisnya pas-pasan. Kataku pas-pasan ini benar-benar pas-pasan untuk bisa tetap berkuliah di kampus kami sekarang. Beberapa kali terancam DO, tapi tetap selamat, karena ya itu, nilainya pas-pasan. Ibnu tidak memiliki pemikiran yang cukup baik untuk menjadi seorang akademisi. Namun, mental bisnisnya luar biasa. Ia pernah berhasil menjual donat yang satu kotaknya seharga 80 ribu, ditambah modal lainnya untuk memodifikasi donat itu, sehingga total modal 100 ribu, untuk menghasilkan keuntungan sebaganyak 200 ribu. Luar biasa. Ia memiliki kafe yang bisa menjual gado-gado dengan resep dari ibunya seharga 60 ribu rupiah perporsi. Ia menyebutnya Javanese Salad With Peanut Sauce and Fried Crackers Infused With Shrimp Flavors. Kafenya laku keras di kalangan ekspatriat.

Aku langsung membunyikan klakson mobilku, Ibnu dengan sigap berdiri, lalu langsung naik ke dalam mobil. “Anjir, maneh kayak cowok panggilan Nu” kataku bercanda sambil menaikkan alisku.

“Ah maneh” katanya sambil meninjuku.

“bukannya maneh sering panggil urang ? Biasanya juga delivery aing via Go-Jek kan ?”

“hahaha taeeeeeekkkk” kataku sambil tertawa membalas candanya.

Kami bertukar kabar. Sudah sekitar 1 bulan kami tidak bertemu. Maklum, aku sudah memasuki fase menulis skripsi, sedangkan Ibnu masih sibuk kuliah dan menjalani bisnisnya. Alhamdulillah laris manis. Lalu kami mulai membicarakan hal yang sebenarnya malas kami bicarakan, tapi harus.

“Nu, maneh udah ke makam Julian sama Della lagi ?”

“belum euy Ris, urang sibuk pisan, maneh udah emang ?”

“udah agak lama sih, pas abis lebaran lah”

“wah, udah 1 bulan setengah ya ?”

“iya”.

“duh, kayaknya urang harus ke sana juga deh, kemaren Julian sama Della muncul di mimpi urang lah, kangen ceunah –ceunah: katanya, Bahasa Sunda-.”

“ya udah atuh, balik dari nengok Rasya, urang temenin”

Ibnu lalu melihat jam tangannya.

“hmm. Ya, boleh deh, hayo lah, kapan lagi soalnya bisa nyekar ke makam mereka”

Makam Julian dan Della berada di tempat yang berbeda. Julian berada di pemakaman Kristen yang berada di pinggir jalan Pasteur, sedangkan makam Della ada di pemakaman umum di dekat bandar udara Husein Sastranegara. Berdekatan sih lokasinya. Tapi susah parkir. Tapi ya sudahlah, dipikirkan nanti, yang penting sekarang jenguk Rasya dulu. Di perjalanan yang hanya 20 menit, karena jalanan kosong, karena ini masih jam 10 pagi, tak banyak kabar bertukar dari kami, karena kami memang sering bertukar kabar lewat berbagai macam jejaring sosial.

Julian meninggal 1 tahun yang lalu, ia dibunuh dengan keji oleh seorang biadab di dekat rumahnya. Ia dijambret, namun ia tidak mau melepaskan tasnya yang berisi laptop yang di dalamnya berisi data-data skripsinya yang sudah rampung. Tinggal sidang. Ia mempertahankan sisa hidupnya, dan hasil perjuangan hidupnya hingga titik darah penghabisan. Titik darah di ujung golok si bedebah itu. Sampai sekarang pelakunya belum tertangkap, semoga suatu saat bisa tertangkap dan diadili seadil-adilnya. Jika kurasa hukumannya kurang adil, biar aku sendiri yang mengadilinya kelak. Aku janji.

Sedangkan Della, Della meninggal 2 tahun yang lalu. Waktu itu Della “dipaksa” pacarnya untuk ikut kegiatan naik gunung, padahal, waktu itu Della baru selesai bertarung dengan Ujian Akhir Semester lisan yang memaksanya untuk tidak tidur selama beberapa hari. Melahap bahan bacaan yang banyaknya luar biasa. Della tetaplah Della, ia tidak bisa bilang tidak. Ia memaksakan diri untuk naik gunung, melemah, dan meninggal dunia di Gunung Ciremay. Sampai detik ini, baik aku, Ibnu, dan Risya, tidak bisa memaafkan pacar Della yang memaksanya mendaki Gunung Ciremay. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana gilanya perjuangan Della di waktu itu. Julian pun membawa kemarahan itu hingga ke liang kuburnya. Menyedihkan, menyeramkan, sedikit indah. Itulah persahabatan kami.

Akhirnya kami sampai di Rumah Sakit. Rasya dirawat di kamar 1304 di lantai 13 rumah sakit ini. Entah kenapa Rumah Sakit ini memiliki lantai 13, karena biasanya lantai 13 ditiadakan. Untuk menghindari orang-orang yang percaya mitos angka 13. Namun pemilik serta perancang rumah sakit ini luar biasa; mereka tidak peduli, karena mereka percaya, kebutuhan orang akan kesembuhan akan mengalahkan mitos yang tidak jelas itu.

Sesampai di kamar Rasya, kami kaget. Kamarnya kosong, hanya ada alat-alat medis, selang-selang berjuntaian di lantai. Tempat tidur Rasya tidak ada. Di sofa, ada tas ibu-ibu tergeletak. Aku yakin itu punya ibunya Rasya. Jantungku langsung berdegup tidak karuan. Aku ingin muntah. Ini perasaan kaget yang teramat sangat yang membuatku tercekik hingga ingin mengeluarkan isi perutku. Ibnu terdiam. Matanya terpaku kepada ruang kosong di kamar 1304, di tempat semestinya tempat tidur Rasya berada. Tak perlu berkata apapun kami tahu. Kondisi Rasya sedang gawat. Mungkin ia sedang dibawa ke ruang ICU. Mungkin. Tapi aku coba berpikir positif. Mungkin ia sedang dikemoterapi. Tetapi jika demikian, mengapa tas ibu Rasya masih ada di situ, tergeletak, dan alat-alat medis ini seperti dicabut dengan paksa. Aku terdiam.

Tak lama, ada suster yang melewati ruangan. Aku bertanya kepada suster itu. Ternyata benar, kondisi Rasya gawat, dan ia sedang dibawa ke ruang ICU. Mereka sedang mencoba menyelamatkan Rasya. Ternyata Rasya sempat dioperasi pagi ini. Untuk mencoba mencegah penyebaran kankernya katanya. Aku tidak mengerti prosedurnya, tapi begitulah. Aku lalu terduduk, menepuk pundak Ibnu yang menyembunyikan wajahnya di balik tangannya yang sudah penuh dengan air mata. Ibnu dan Rasya akan menikah dalam 1 bulan lagi. Kedua orang tuanya sudah setuju, walaupun Ibnu belum lulus kuliah, dan Rasya baru kerja 1 tahun di bank swasta, mereka sudah merasa matang. Ibnu sukses dengan bisnisnya, dan Rasya merasa nyaman dengan tempat kerjanya. Ketika aku suruh mencoba mendatangi keluarga Rasya di ruang operasi, ia tidak mau, ia menjawab “tenang Ris, urang yakin Rasya bakal ke ruangan ini lagi, makannya keluarganya belum ngabarin urang juga, tenang aja” kata Ibnu sambil sesenggukan. Aku tidak tahu sehancur apa perasaan Ibnu. Tapi aku tahu perasaan Rasya. Aku tahu sakit yang diderita Rasya.

Aku tertegun kepada selang infus yang tergeletak di lantai kamar 1304. Aku ingat bagaimana rasanya ujung jarum dari selang itu masuk ke pembuluh darahku. Rasa sakit itu tidak akan pernah aku lupakan. Entah berapa kali aku muntah-muntah setelah cairan kimia pembunuh kanker masuk ke dalam tubuhku. Aku tahu sakitnya menjadi Rasya. Tapi tenang saja Rasya, aku selamat, kamu juga pasti bisa. Kamu kuat, kamu punya Ibnu. Ia juga akan selalu mendukungmu, aku yakin. Kamu juga punya aku, sahabatmu. Sahabatmu yang kamu dukung ketika harus menjalani kemoterapi, sahabatmu yang kamu suapi buah-buahan di rumah sakit. Aku mau jadi sahabat yang seperti itu.

Tak lama kemudian, Ibu Rasya masuk ke ruangan. Matanya sudah basah bersimbah air mata. Ia memeluk Ibnu dengan erat. Aku tahu akhir dari cerita ini. Aku tahu, akan banyak yang bilang “orang baik meninggal muda”, atau “bunga yang terindah di kebun pasti dipetik pertama.” Ah aku sudah kenyang mendengarnya. Ketika Della meninggal, ketika Julian, dan kelak ketika Rasya meninggal.

Jika memang demikian. Aku bukan orang baik. Aku bukan orang yang cukup baik untuk Tuhan. Karena itu Ia tidak mengambilku dulu. Ia memilih Della, Julian, Rasya karena bagi-Nya, mereka adalah bunga yang indah. Sedangkan aku, ya, aku adalah bunga yang seperti rumput, tak terlihat, mudah terinjak, ada di sudut gelap kebun bunga. Tidak ada yang mau memetikku kecuali mereka yang sedang iseng duduk berteduh di bawah pohon pinus yang berada di tengah-tengah taman bunga. Mereka memetikku, memotong batangku, menyobek kelopaknya, dan membuangnya ke tanah. Sedangkan Rasya, mereka memetiknya, menyimpannya di vas bunga, hingga ia layu kelak. Ia mati dalam air, sedang aku mati terinjak di atas tanah. Aku bukannya tidak menghargai hidupku, tapi… tapi…

Jika memang bunga terbaik yang dipetik, siapa yang menikmati bunga itu ?

Karena yang aku lihat, air mata yang menitik, dan mulut yang tertitik.

Seandainya ada senyum, itu senyum sedih melepas pedih.

Apa bunga yang dipetik berharga untuk mereka di atas sana ?

Karena sekarang, kebun yang ada sudah berubah menjadi tundra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: