h1

Jemput Aku di Pertigaan Itu

September 7, 2015

“Mati itu nggak segampang yang lo bayangin Din ! Lebay lo ah, baru gitu aja !” begitu aku memaki telepon genggamku. Di ujungnya, ada Dina yang baru saja bilang “Dev, gua mau mati aja.” Dina baru saja bertengkar dengan pacarnya, Rindra, yang memang brengsek. Sebentar lagi mereka menikah, tetapi Rindra masih sering menyeleweng dengan perempuan lain. Hah. Pasangan yang menyebalkan. “Din, gua serius, gua udah sering cerita tentang yang itu kan ?” kataku mengingatkan Dina tentang suatu cerita yang sering kuulang, tapi Dina tidak kunjung percaya. Bukan hanya Dina sih, yang lain juga. “Dev, gua cerita serius, lo masih mau kekeuh sama cerita lo itu ? FINE !”. Telepon diputus. Dugaanku, Dina langsung menangis lagi di kamarnya. Tapi ya sudahlah, aku tidak perlu khawatir. Dina belum akan mati. Setidaknya, terakhir kali bertemu, dia sendirian. Tidak dengan sosok itu.

Kisahku ini dimulai ketika aku berumur 8 tahun. Ketika itu aku masih bersekolah di sebuah SD Negeri di Bandung. Lokasinya dekat dengan rumahku, hanya 200 meter saja. Jika berjalan kaki, 5 menit sampai. Di dekat sekolahku itu, banyak kucing liar berkeliaran. Entah kenapa, tidak ada yang berniat men-steril-kan sekolah dari kumpulan kucing. Padahal banyak yang alergi dengan bulu kucing. Ah, tapi ketika itu aku masih SD, belum mengerti, belum mau peduli. Pernah suatu hari aku melihat seekor kucing mati di depan mata. Terlindas truk, lalu lehernya patah. Setelah itu, anak-anak senior mengambil kucing itu, dan malah menendang-nendangnya. Brengsek memang. Waktu itu aku melihat ada bapak-bapak dengan kaos hitam, bergambarkan tengkorak, berteriak-teriak di sebelah anak-anak itu. Tetapi anak-anak itu tidak menggubrisnya. Mereka tetap menendang-nendang kucing itu. Lucu katanya. Aku masih ingat kalimat menjijikan itu, “IH LUCU ! LEHERNYA BISA MUTER !”. Tak lama, kucing itu mati. Bapak-bapak itu lalu menunduk, memungut sesuatu, dan dalam satu kedipan mata, ia menghilang. Aku bingung, kenapa anak-anak itu tidak menggubris bapak-bapak itu, dan bapak-bapak itu sepertinya tidak benar-benar berniat menghentikan anak-anak itu. Aku juga belum pernah lihat bapak-bapak itu, kukira, dia orang tua murid. Aku salah. Waktu itu, aku belum tahu kalau bapak-bapak itu adalah malaikat kematian.

Ketika berumur 13 tahun, aku masih hidup di Bandung, sedang bersekolah di sebuah SMP negeri. Lagi, lokasinya dekat dengan rumah. Hanya 1 kali naik angkot. 20 menit sampai 30 menit saja waktu tempuh dari rumah ke sekolah. Kali ini, aku melihat bapak tukang becak yang meniggal dunia tepat di depan sekolah. Kata rumah sakit, bapak itu terkena serangan jantung. Ya, banyak yang melihatnya begitu, tapi kembali, aku melihat sosok bapak-bapak berkaos hitam bergambarkan tengkorak itu lagi. Bapak yang sama yang muncul di dekat kucing yang mati ketika aku SD. Bapak itu kali ini duduk di belakang si tukang becak. Ia seperti menekan-nekan punggungnya dari belakang. Tak lama, bapak tukang becak seperti yang tertidur, lalu becaknya terguling, seketika ia meninggal di tempat. Sebelum pergi, si bapak kaos hitam itu seperti mengambil sesuatu dari tubuh si tukang becak. Aku tak tahu itu apa. Setelah mengambil, ia langsung pergi begitu saja. Kembali, tidak ada yang melihatnya, padahal jelas-jelas ia berjalan di sebelah tubuh bapak tukang becak yang sudah tidak bernyawa. Ah entahlah.

Butuh waktu hingga bertahun-tahun buatku untuk menyadari bahwa bapak-bapak berkaos hitam itu adalah malaikat kematian. Dulu, ketika mengaji, aku selalu berpikir sosok malaikat kematian adalah lelaki bersayap hitam, yang mampu mengambil nyawa dengan tangan yang menembus ke tubuh orang yang dicabut nyawanya. Tapi teryata aku salah. Ternyata wujud dari malaikat kematian adalah bapak-bapak biasa berkaos hitam bergambar tengkorak. Bapak-bapak ini berambut klimis, berkumis tipis, berkulit sawo matang, mirip dengan teman SD dan SMP-ku, Agung. Oleh karena itulah aku sempat mengira malaikat kematian ini adalah bapaknya Agung. Maaf ya Gung, aku kan masih bodoh waktu itu.

Aku mulai menyadari bahwa itu adalah malaikat kematian ketika seringkali melihat sosok malaikat kematian dalam produk-produk seperti kartun, dan sejenisnya. Biasanya, malaikat kematian digambarkan dengan sosok tinggi, dengan jubah hitam, berwajah tengkorak, membawa sabit besar. Tapi ternyata, beda budaya, beda malaikat kematian. Seperti beda ladang beda belalang. Ada Thanatos di Yunani, Mania dan Mors di Roma, ada Santa Muerte di Mexico, dan masih banyak lagi. Namun, semua memiliki kesamaan, digambarkan memiliki warna hitam. Yah, mereka tidak salah sih, malaikat kematian memang memakai kaos hitam, bergambar tengkorak. Aku tidak tahu kenapa, tapi ya begitulah dia.

Aku berhasil mengkonfirmasi dugaanku bahwa bapak berkaos hitam adalah malaikat kematian ketika di bangku SMA. Pada waktu itu, aku mendapatkan kesempatan untuk mendatangi rumah potong hewan yang berada di salah satu universitas negeri di Sumedang. Di situ, aku diperlihatkan bagaimana cara memotong hewan. Ternyata, sebelum dipotong, tukang potong itu dituntun oleh si bapak berkaos hitam. Ia menggandeng tangannya, hingga menuntun tangannya meletakkan ujung pisau yang sangat tajam ke leher kambing yang meronta-ronta menyambut kematiannya. Dan benar saja, tak lama setelah si tukang potong menarik pisau dari leher kambing itu, si malaikat kematian mengambil sesuatu dari tubuh si kambing. Aku tidak tahu apa sesuatu itu, tapi aku rasa itu nyawa.

Manusia itu hebat. Berani menerka apa yang tak pasti. Coba bayangkan, apa itu nyawa ? Apa kamu pernah lihat nyawa ? Tapi sepertinya kita dapat dengan mudah mendefinisikan nyawa. Aku yang bisa lihat malaikat kematian saja, sampai sekarang tak bisa melihat nyawa. Tapi mereka yang tidak bisa melihat malaikat kematian, malah mencoba membuat istilah-istilah seperti “mencabut nyawa”. Itu pertanyaan besar bagiku. Apa itu nyawa ? Ada di manakah nyawa itu ? Apakah nyawa yang menopang hidup mati manusia ? Aku belum bisa menjawabnya. Tapi mungkin suatu saat aku bisa, ketika bapak berkaos hitam itu menawarkan jasanya kepadaku.

Yang kulihat dari kematian-kematian yang pernah kusaksikan, memang jujur saja tidak ada yang enak. Semua terlihat menyakitkan. Aku belum pernah merasakannya, tapi yah, terlihat menyakitkan. Terlihat dari ekspresi orang yang diambil nyawanya, atau dalam hal kambing yang dipotong kepalanya, pernah suatu saat tanganku terluka karena cutter, tapi ya itulah, sakit sekali. Bayangkan jika leherku yang digorok. Hih, pasti sakit sekali. Sejauh yang aku lihat, tidak ada kematian yang tidak menyakitkan. Bahkan, kematian yang tenang, seperti ketika kakekku meninggal karena sudah lama sakit, dan keluarga memutuskan untuk mencabut alat bantu hidup. Ketika itu, aku melihat si bapak berkaos hitam ada di sekitar suster dan dokter yang mencabut alat itu. Membisikkan sesuatu. Entah apa. Tapi tentunya dokter dan suster itu tidak menyadarinya.

Ekspresi kakek tidak menyiratkan rasa sakit sama sekali. Mungkin tidak sakit. TAPI, ketika melihat wajah ibuku –anak dari kakek, aku tidak mampu menahan tangis. Ketika mengingat kenangan dengan kakek, mengajak ku ke kebunnya di Lembang, mengangkatku, menganggapku pesawat yang menaburkan pestisida –cita-citanya, memiliki ladang yang sangat luas, sehingga menaburkan pestisida saja harus pakai pesawat. Ketika ia membacakanku cerita-cerita dongeng, dan selalu mengakhirinya dengan “kamu nggak boleh cengeng kayak princess ya, kamu nggak harus nunggu pangeran untuk jadi kuat ! kamu harus jadi princess yang bisa ikut bertarung dan berguna untuk kerajaanmu !”, sebuah pelajaran yang kupegang hingga sekarang, sehingga aku menjadi perempuan yang tomboy.

Ya, dalam kematian kakek, aku mempelajari, bahwa tidak ada kematian yang tidak menyedihkan. Selalu ada yang tidak senang ketika seseorang meninggal dunia. Bahkan ketika Hitler tewas sekalipun, aku yakin pasti bawahannya banyak yang bersedih. Ah, ketika memikirkan bagian itu, aku seringkali memikirkan, bagaimana sosok si bapak berkaos hitam di masa itu ya ? Masa perang. Banyak yang tewas. Ia pasti sibuk sekali.

Yah, pokoknya begitulah kisahku dengan malaikat kematian. Dina tidak mau dengar apa kataku tentang kematian, dan tidak percaya kalau aku bisa melihat malaikat kematian. Wajarlah, sangat tidak mungkin sekali memang. Dan konon, katanya kematian adalah rahasia Tuhan, tapi yah, bagaimana jika Tuhan mau memperlihatkan rahasianya kepadaku ? Lagipula, hanya beda beberapa detik saja dari kemunculan si bapak berkaos hitam ke waktu kematian orang itu, dan aku juga tidak tahu kapan bapak itu akan muncul. “Tapi Pak, kalau mau muncul, tolong jemput aku di pertigaan itu ya.” Kataku dalam hati sambil melihat ke sebuah pertigaan di dekat rumah. Kenapa di pertigaan itu ? Entahlah. Aku selalu bersedih tiap kali melihat pertigaan itu. Ada sesuatu yang menyedihkan. Tapi aku sendiri tidak bisa menjelaskan apa itu.

Lampu hijau untuk pejalan kaki sudah menyala. Aku pun mulai berjalan, menggandeng tangan bapak yang ada di sebelahku. Bapak berkaos hitam, bergambar tengkorak. Di seberang jalan, ada sebuah apartemen. Apartemen yang di kamar 1304, ada tulisan “Mr. Rindra”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: