h1

Setelah Hujan

November 10, 2015

Protagonis tak bernama itu meletakkan kopinya di sebelah buku yang sedang ia baca. “menjadi normal adalah bentuk lain dari dominasi.” Begitu kalimat terakhir yang ia baca. Ia menutup buku bergambar bapak-bapak botak berkacamata yang sedang menghalangi mulutnya dengan jari telunjukknya, sambil tersenyum ke arah kamera hitam-putih yang menyorot wajahnya. “Hhhh.. kembali tanpa inspirasi apapun,” katanya sembari menghela nafas. Ia tahu tidak ada yang seorangpun yang memedulikan keluhannya. Ia duduk sendirian di warung kopi ala Amerika Serikat itu. Warung kopi yang mengingatkannya kepada novel yang ia baca terakhir kali, Moby Dick dari Herman Melville.

Matanya yang sudah nyaris mati kehilangan harapan itu menengok ke arah luar. “Hujan lagi…” kembali, ia bergumam sendiri. Orang ini memang orang aneh. Ia suka berbicara dengan dirinya sendiri. Ia tidak gila. Ia justru berbicara pada dirinya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak gila. Sekedar mengkonfirmasi keadaan di sekitarnya. Di layar laptopnya yang terbuka lebar, terpampang sebuah program komputer yang dapat digunakan untuk menulis pemikirannya. Pointer hurufnya berkedap-kedip dalam sunyi. Program lain yang menyala di komputernya hanyalah pemutar musik yang menghantarkan melodi kemarahan akan zaman melalui kabel tembaga yang ujung-ujungnya menggantung di telinganya yang lebar.

Ia harus menyelesaikan penelitiannya pada akhir Desember. Ini bulan November. Tanggal 10. Masih ada sekitar 40 halaman lagi yang harus ia tuangkan ke dalam penelitiannya. Tidak banyak, tapi tidak juga sedikit. Ia berhasil mengerjakan 50 halaman sebelumnya hanya dalam dua minggu saja. Mudah baginya, karena 50 halaman itu hasil mengutip. Ketika mengingat proses menulis 50 halaman itu, ia tertawa kecut. “lucu sih, kalau saya jiplak begitu saja dari satu buku, saya adala pelaku plagiarisme. Tapi kalau jiplak dari beberapa puluh buku, saya adalah seorang magister. Seorang magi. Penyihir.” Berbeda dengan 50 halaman yang sudah ia tulis, 40 halaman yang akan ia tulis haruslah berupa ukiran fakta yang ia tuangkan ke dalam tulisan-tulisan. Apabila diibaratkan seni pahat, maka wawancara yang sudah ia lakukan adalah segelondongan kayu besar. Buku yang sudah ia baca adalah alat ukirnya; palunya adalah teori yang pernah ia baca, sedangkan pahatnya adalah akumulasi dari ilmu-ilmu yang telah ia pelajari. Ketik demi ketik yang terus berbunyi detik demi detik mengalun hampir sama indahnya dengan pahatan seorang seniman Bali yang menyelesaikan patungnya. Niatnya pun sama, membuat sesuatu yang indah, yang pastinya tak mau membuat dirinya sendiri kecewa.

Namun itulah brengseknya membuat penelitian. Ketika inspirasi sedang menjauh, maka tak satupun kata bisa tertulis.  Yang tertulis malah curhatan panjang ini. Yang dibuat di sebuah warung kopi Amerika di Depok, di pinggir danau, di tengah cuaca panas. Sebenarnya tidak enak, tapi ya sudahlah, setidaknya kali ini tidak ada sosok yang mengambang di danau itu.

Si protagonis lalu kembali menatap hujan yang turun di luar warung kopi itu. Kopi yang berukuran paling besar itupun tak mampu membangkitkan pikirannya. Ia tersandung pada hal yang sama. “bagaimana jika kayu yang saya ambil tidak memenuhi standar yang diinginkan para pelanggan ? Bagaimana jika pahatnya salah ?” Dua itu saja. Ia tak pernah ragu dengan palu dan kemampuan memahatnya. Malah ia yakin dengan itu. Palunya berat. Sangat berat. Bahannya dibuat dari baja terbaik di alam semesta. Ia penggemar film superhero, ia bahkan berpikir palunya itu lebih sakti daripada palu Mjolnr milik Thor, atau perisai Vibranium milik Captain America, atau bahkan lebih sakti daripada tulang Adamanitum Wolverine.

Yang jadi masalah adalah pahat dan kayunya. Ia memang selalu kebingungan dalam memilih pahatnya, apalagi kali ini. Mentornya menyuruhnya untuk memilih pahat sesuai dengan hati, dan harus sesuai dengan kayu yang ia pilih. Nah ! Ini masalah lagi, karena ia tidak pernah memilih kayu sebelumnya ! Ia sama sekali tak pernah mendapatkan ilmu untuk memilih kayu yang baik dan benar. Sederhana saja alasannya: karena selama ini, ia membuat patung dari bahan sintetis yang ia buat sendiri. Bahan sintetis memang praktis. Bisa dibuat sendiri, semaunya. Tapi hasil akhirnya tidak berkelas, walaupun bentuknya keren, tetap saja itu sintetis. Tidak alami. Yang alami konon katanya lebih baik. Begitulah. Hujan yang baik pun yang datang semaunya alam bukan ? Bukan yang dipaksakan oleh manusia. Ketika manusia memaksakan hujan, berarti mereka sudah sebegitu putus asanya dengan alam. Tak baik.

Sambil merenungi kembali penelitiannya, telepon genggam si protagonis berbunyi. Ternyata ada pesan masuk. Dari kawannya yang sedang berada di Bali. Tugas kantor sebenarnya. Tapi tentunya diselingin dengan jalan-jalan. Kawannya itu menawarkan suvenir khas Bali apa kiranya yang diinginkan. “Patung leak yang sebesar manusia,” begitu jawabnya kepada sang kawan. Kawan lainnya yang ditanyakan menjawab “mutiara” dan “kostum leak.” Tiga lagi tidak menjawab. Mungkin menghilang. Kawannya hanya membalas “minta oleh-olehnya absurd semua. Coba yang minta kostum leak jadi batu pas jadi leak. Dua permintaan langsung terpenuhi.” Disambut gelak tawa samar yang dipamerkan si protagonis di warung kopi khas Amerika Serikat. Tentu samar, kalau ia tertawa lepas, ia akan disangka gila benaran. Setelah itu telepon genggamnya kembali hening. Semua kembali sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Ada yang bekerja, ada yang kuliah, ada yang sedang di Bali, ada yang sedang berkonsentrasi dengan karyanya, tentunya ada juga si protagonis yang kembali menatap hujan.

Ia melihat ke seberang jalan. Ada orang yang mau menyeberang jalan. Namun ia ragu. Jalanan itu cukup luas, tapi tidak ada lampu merah di setopannya. Jadi jika memang mau menyeberang, ya harus menyeberang denga nekat. Di tengah hujan, siapa sih yang tidak ragu mengambil keputusan ? Apalagi ketika tidak membawa payung seperti orang yang mau menyeberang itu. Ia ragu. Menyeberang jalan tanpa lampu merah itu membutuhkan keberanian ! Pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam hal. Hutangnya yang masih menumpuk di tubuh para lintah darat bermulut bau, istrinya yang selingkuh, anaknya yang tertangkap polisi ketika sedang mengisap ganja, perusahaannya yang di ambang kebangkrutan, tetes hujan yang mengeroyok kepalanya, sertaketidakyakinannya terhadap akan atau tidaknya para mobil yang melewat berhenti. Semua ngebut karena hujan ! Bodoh sih, karena sebenarnya yang di dalam mobil tidak kena hujan. Ini malah ngebut. “Kenapa ? Malas mencuci ?” pikir si protagonis. Pada akhirnya, orang itu berhasil menyeberang. Hanya untuk menyadari, bahwa sepedanya tertinggal, tak ia bawa menyeberang. Itupun setelah orang lain menunjuk-nunjuk sepeda itu. “Kenapa tidak dari tadi sih, kasih tahunya ?” Si protagonis hanya bisa berdoa untuk orang itu. “semoga anda sehat selalu Pak, tidak flu habis terkena hujan ini.”

Ia menyadari sesuatu. Ragu. Ragu lah yang mengganjal pikirannya. Karena ragu, maka ia tidak maju-maju. Karena ragu, ia tetap di situ. ‘TRING !’ Inspirasi muncul. “kerjakan saja dulu lah. Benar atau salah yang tahu hanya Tuhan. Dosen penguji mah hanya perantara doang ! Benar kan !?” Begitu kiranya pikiran yang muncul di kepalanya. Tapi ia juga lupa kalau dalam hidup ini, dirnya juga hanyalah perantara. Dirinya hanyalah kisah yang dituliskan oleh Tuhan dalam kitab rencana besarnya. Ia tidak punya kuasa akan akhir kisahnya. Bahkan ia menjadi protagonis pun, itu kuasa mutlak saya sebagai penulis cerita ini. Inspirasi menulisnya muncul dari kejadian sehari-hari, kejadian-kejadian yang dituliskan Tuhan untuk saya sendiri. Saya juga hanya perantara untuk si protagonis.

Ketika ia baru akan kembali menulis. Hujanpun berhenti. Rasa ragu itu muncul kembali. Inspirasi memang datang. Tapi, “pulang sekarang, apa nanti ? Karena jika hujan lagi, saya harus menunggu dan merenung kembali. Hari ini tidak bisa pulang jika hujan. Karena saya tidak bawa payung, dan kunci mobil saya hilang.” Ah, malang nian nasibmu Nak !

Tapi tak lama, telepon genggamnya kembali berbunyi. “Jangan lupa makan siang.” Begitu katanya. Dari kekasih si protagonis. Ia tersenyum kembali. “Ah, Tuhan memang epic. Selalu ada yang bisa disyukuri setiap harinya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: