Archive for February, 2016

h1

February 25, 2016

Langit menggelap, bulan tiarap
Kilat menjilat awan yang menghitam
Air bersyair menghunjam kaca mobil
Wiper menari-nari mengusiri air yang jatuh perlahan

Jemari tambun mengetuk setir mobil merah
Nada mengalun tiada henti dari pengeras suara
Mulut di bawah kumis mengikuti nyanyian si biduan
Kakinya bermain ke kiri dan ke kanan
Mengikuti irama gelapnya jalanan yang kosong dan basah
Kilatan lampu merah mengedip genit di depan
Kaki berpindah, rem terinjak, mobil merah melambat
Tak masalah, semua baik-baik saja

Kembali pulang, tak mengetuk pintu
Membuka kunci, sembari menyelinap
Naik ke atas, satu tingkat di bawah atap
Memasak mie yang rasanya sudah tak menentu
Ditemani pesan selamat malam dari yang terkasih
Mulut rasanya tak keruan, tapi hati serasa tertawan

Malam makin dalam, hujan tak kunjung hilang

Dalam gelap, tangannya terkatup dalam doa
Memohon kelancaran atas segala
Meminta dihilangkan segala dosa
Sembari berdoa untuk yang sedang berduka

Jakarta, 25 Ferbuari 2016.

View on Path

h1

Hei, Gadis Manis

February 10, 2016

Hei gadis manis yang baru berhenti menangis,
Pipimu masih basah terbasuh air mata pasrah,
Air mata jatuh tumpah ruah, sayapmu pun patah,
Sini, kupeluk kamu manis, biar kubenarkan hatimu yang teriris.

Berikan pipimu, biar basahnya kuseka, kutukar dengan senyum suka,
Buka telingamu, biar kubisikkan kata cinta yang lama tertunda,
Rentangkan tanganmu, biar kupeluk tubuhmu yang nyaris runtuh,
Sodorkan jari manismu, biar kulingkarkan janjiku di jarimu.

Aku suka semuamu. Ragamu, hatimu, semuamu.
Biarkan aku menjagamu. Dalam bangunmu, tidurmu.
Dalam sedihmu, gembiramu.
Biarkan aku menghuni hatimu,
Hingga jantung berhenti berdetak
Atau Bumi bergoncang hingga retak.

Hei gadis manis, jangan pernah lagi menangis.
Aku di sini bersamamu terus.