h1

February 25, 2016

Langit menggelap, bulan tiarap
Kilat menjilat awan yang menghitam
Air bersyair menghunjam kaca mobil
Wiper menari-nari mengusiri air yang jatuh perlahan

Jemari tambun mengetuk setir mobil merah
Nada mengalun tiada henti dari pengeras suara
Mulut di bawah kumis mengikuti nyanyian si biduan
Kakinya bermain ke kiri dan ke kanan
Mengikuti irama gelapnya jalanan yang kosong dan basah
Kilatan lampu merah mengedip genit di depan
Kaki berpindah, rem terinjak, mobil merah melambat
Tak masalah, semua baik-baik saja

Kembali pulang, tak mengetuk pintu
Membuka kunci, sembari menyelinap
Naik ke atas, satu tingkat di bawah atap
Memasak mie yang rasanya sudah tak menentu
Ditemani pesan selamat malam dari yang terkasih
Mulut rasanya tak keruan, tapi hati serasa tertawan

Malam makin dalam, hujan tak kunjung hilang

Dalam gelap, tangannya terkatup dalam doa
Memohon kelancaran atas segala
Meminta dihilangkan segala dosa
Sembari berdoa untuk yang sedang berduka

Jakarta, 25 Ferbuari 2016.

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: