h1

Sudut Jakarta

April 20, 2016

Nasib berputar, pun matahari yang menerangi hari

Si keparat melarat yang lupa bayar hutang pada si bangsat

Istri malang yang tak pernah disayang, suami lari dengan seseorang

Hujan yang turun, bak berak yang tak diejan

 

Imajiku menari-nari di sudut Jakarta

Om yang berbelanja untuk si manja yang bermuram durja

Adik yang menangis, ditinggal bapak mati yang mengais-ngais

Akal yang nanar tak henti berputar

 

Matahari lari meninggalkan hari

Si keparat bawa pisau, si bangsat mati terpukau

Istri malang tak perlu disayang, jiwanya sudah melayang

Hujan yang tak turun, kering datang menyamun

 

Imajiku mati di sudut Jakarta

Si manja berduka, Om sudah merenggut si dara

Adik  nyaris mati disiksa rindu berwindu-windu

Akal yang nanar berhenti berputar

 

Aku yang di sini, merangkai cerita semanis madu.

Manis. Tanpa racun. Tanpa susu, telur, atau jahe.

 

Yang di televisi berteriak;

Jangan lupa sama suara saya,

Jangan lupa sama uang saya,

Saya tidak lupa muka bapak,

 

Dijawab dengan teriakan semu;

Diam saja kau di sudut Jakarta.

Suatu hari, kau mati jadi cerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: