h1

Sekilas Tentang Studi Jepang, Filsafat Ilmu, dan Pendekatan Interdisipliner

August 5, 2017

Studi Jepang dan Pentingnya Filsafat Ilmu Pengetahuan

Beberapa minggu yang lalu, saya tertegun dengan sebuah pemandangan menarik di kios majalah di stasiun kereta Bandung. Ada sebuah majalah favorit saya, National Geographic terpampang di sana. Tidak biasanya saya tertarik untuk membeli National Geographic di kios majalah stasiun. Alasannya sederhana; karena saya kurang suka membaca majalah (apapun) yang ditranslasi ke Bahasa Indonesia. Bukannya merendahkan kualitas translator Indonesia, tetapi tentunya membaca versi asli sebuah teks akan lebih menyenangkan, terlebih ketika kita mengerti bahasa dari versi asli teks tersebut. Yang membuat saya tertegun kepada majalah itu adalah sampul depannya yang dengan gamblang menampilkan judul “MEMBANTAH SAINS,” dengan gambar sebuah studio set yang menggambarkan adegan mendarat di bulan oleh para kru Apollo 11. Yang membuat saya tertarik bukanlah tentang pendaratan bulan itu sendiri –saya sudah kenyang membaca tentang itu, bukan juga tentang pendaratan bulan yang dibilang palsu, tetapi bagaimana tentang pendaratan di bulan yang dikatakan sebagai MEMBANTAH SAINS.

Memang banyak yang meragukan legitimasi pendaratan Apollo 11 di bulan. Termasuk saya, pada awalnya. Tetapi, setelah saya coba elaborasikan dengan data-data yang berserakan di internet, yah, sepertinya cukup bisa dipercaya lah. Seandainya salah, itu urusan mereka yang menebar data dengan Tuhan, saya yang menginterpretasi hanya bisa duduk manis sebagai korban. Ok, cukup tentang pendaratan di bulan. Mari kita coba bahas tentang bantahan lainnya tentang sains.

Saya adalah penggemar situs imgur.com, sebuah situs yang di dalamnya terdapat berbagai macam gambar lucu nan cerdas, yang seringkali memberikan info kekinian tentang apa-apa yang terjadi di dunia barat. Saya juga penggemar facebook.com, tempat kita berbagi informasi, menyombongkan barang, mengomentari segala macam –dari pertandingan sepak bola, hingga tahi lalat adik bayi teman anda, tempat bertengkar juga, tempat mencari hiburan melihat orang bertengkar, dan tentunya wahana untuk saling berdebat. Ada satu kesamaan tema yang seringkali muncul berbarengan di imgur dan facebook. Mungkin pengguna imgur adalah pengguna facebook juga, walaupun saya ragu, karena pandangan di ranah keduanya sangat lah berbeda –imgur diisi oleh orang-orang yang tidak kita kenal, sebaliknya dengan facebook, kecuali anda asal accept friend. Meski demikian, temanya seringkali sama, salah satu yang menarik perhatian saya adalah tentang vaksinasi anak. Banyak yang bilang di facebook bahwa vaksinasi membuat anak menjadi autis. Dengan infografis yang mencenangkan ! Infografis yang dihina habis-habisan oleh imgurian. Berbeda bukan ? facebookers menentang vaksinasi, sedangkan imgurian mendukungnya.

Kalau mau melihat di dunia imgur, mereka-mereka biasanya menentang para kaum kolot yang mudah terpengaruh dengan info-info yang berseliweran di internet. Di Indonesia, di dunia perfacebookan, biasanya info-info seperti ini mereka sebar lewat facebook setelah mereka terima dari broadcast BBM (Blackberry Messenger). Namun yang akan saya bahas bukanlah metode penyebarannya, tetapi bagaimana mereka menyikapi info tersebut. Orang yang kolot biasanya langsung menerima begitu saja, menerima alasan yang terdengar logis –tanpa kroscek terlebih dahulu. Bagi mereka, tulisan yang tidak jelas juntrungannya seperti:

vaksin cacar mampu mengakibatkan autisme karena di dalamnya terkandung bahan-bahan yang menyebabkan autisme. Tertanda, Dokter Robert, spesialis anak.”

Lebih mampu mereka percaya daripada jurnal-jurnal ilmiah yang mentereng seperti Bulletin WHO atau Milbank Quarterly, dan sejenisnya. Yah, walaupun kita juga tidak boleh melupakan kasus vaksin Rubella yang dituduh menyebabkan autisme oleh Andrew Wakefield yang ternyata bukan penelitian valid namun sempat dipublikasikan oleh the Lancet, salah satu jurnal ilmiah paling tua dan kredibel di dunia. Tentunya kita juga harus melakukan perbandingan dan lain-lain. Namun, bagi saya pribadi, ketika pemerintah sudah mengesahkan sebuah vaksin, maka vaksin itu sudah cukup kredibel, walaupun wajar sekali apabila kita ragu dengan yang namanya pemerintah. Sama halnya dengan vaksin meningitis yang konon mengandung enzim babi. Mungkin saya terdengar lancang, tapi apabila vaksin itu efektif, mengapa tidak ? Toh konon tidak semua mengandung babi, dan yaaahhh, jikalau iya, Tuhan Maha Tahu dosanya ditanggung siapa.

Lalu apa hubungannya pendaratan di bulan yang dibilang palsu, dan vaksin yang dibilang menyebabkan autisme ? Keduanya dibilang menentang sains. Dan keduanya menjadi contoh dalam artikel National Geographic tersebut. Selain itu, ada juga teori-teori lain seperti bumi yang datar oleh Orlando Ferguson (ada petanya), juga teori bahwa global warming tidaklah sedang terjadi. Bagi saya, bumi itu bulat. Bisa dibuktikan dengan Foucault’s Pendulum. Metodologinya masuk akal, dan pembuktiannya bisa kita lihat sendiri di Pantheon, Paris. Kalau Foucault hidup sejaman dengan Galileo Galilei, saya yakin nasibnya akan sama. Mungkin mereka akan dibakar bersebelahan. Bagaikan pasangan sesama jenis yang berselingkuh, lalu berzinah di depan umum. Bagaimana dengan global warming ? Ini saya masih kurang baca, tapi ya memang, bumi makin panas. Apapun alasannya, entah itu karena polusi, atau karena siklus bumi sendiri, atau keduanya, yang pasti, ibu saya pernah bercerita tentang bagaimana terumbu karang yang sekarang mudah rusak karena ia larut dalam air laut yang makin menghangat. Ada juga teori populer di mana es di Antartika kerap menyusut dari waktu ke waktu.

Bumi datar menjadi bumi bulat, bumi yang biasa-biasa saja menjadi bumi yang panas. Fakta-fakta ini baru diketahui kemudian, melampaui fakta yang diketahui sebelumnya. Dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan, fase ini disebut dengan perubahan paradigma. Perubahan cara pandang ilmiah terhadap sesuatu. Perubahan paradigma ini menjadi suatu hal yang penting dalam ilmu pengetahuan, terutama dalam ilmu pengetahuan sosial. Karena dengan perubahan cara pandang inilah ilmu baru dapat ditemukan. Dengan gajah dan orang buta sebagai pembanding, perubahan paradigma bagaikan menambahkan seorang lagi orang buta untuk meraba si gajah. Apabila sebelumnya yang terraba adalah kuping yang lembek dan gading yang keras, si orang buta baru bisa saja beraba pantat gajah yang besar. Sehingga konsep terhadap gajah makin lengkap, dan makin mendekati konsep gajah secara utuh.

Apa yang ada di masyarakat dapat dieksplorasi dengan penemuan-penemuan baru. Penemuan ini bisa muncul dari perubahan paradigma tadi. Dengan perubahan paradigma, maka hal baru bisa diteliti dan menjadi suatu karya saintifik. Ketika sudah menjadi karya saintifik, ia tak berarti tak terbantahkan, ia tetap terbantahkan ketika ada fakta baru yang muncul. Fakta baru. Inilah yang coba saya garis bawahi di sini. Tentang fakta baru yang dapat merubah kesatuan ilmu yang dulunya sudah berdiri ajeg di tempat. Kaku, tak bergerak. Bagai kakek tua yang sudah malas bergerak karena sendi-sendinya sudah berkarat. Bagi saya, kutipan berikut yang akan saya kutip bisa jadi pelumas dan ambrosia buat si kakek, karena kutipan di bawah inilah saya menulis tulisan ini, dikaitkan dengan Studi Jepang di (Universitas) Indonesia.

Justru karena mereka (ilmuwan) netral, sains menjadi begitu ampuh. Karena sains menyatakan kebenaran sesungguhnya, bukan kebenaran yang kita inginkan. Ilmuwan memang bisa dogmatis seperti orang lain –tetapi mereka mau melepaskan dogma jika ada penelitian baru. Dalam sains, kita tidak berdosa jika berubah pikiran saat dituntut oleh bukti. Bagi sebagian orang, suku lebih penting daripada kebenaran; bagi ilmuwan terbaik, kebenaran lebih penting daripada suku.[1]

 

 

 

Tentang Studi Jepang, Filsafat Ilmu, dan Interdisipliner

Sebelum lebih jauh lagi dalam membahas tentang Studi Jepang dan Filsafat Ilmu, akan dipaparkan terlebih dahulu tentang apa itu Studi Jepang, karena jika tidak mengejawantahkan konsep per-konsep, dikhawatirkan ada kesalahpahaman dalam mencoba mengerti tulisan ini.

Studi Jepang adalah bagian dari studi kawasan yang berfokus kepada kawasan Jepang. Studi kawasan sendiri adalah bidang studi interdisipliner yang mempelajari suatu kawasan geografis, nasional atau federal, dan kultural. Biasanya, studi ini melibatkan: sejarah, ilmu politik, sosiologi, studi-studi budaya, bahasa, geografi, kesusastraan, dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan. Selain itu, studi kawasan juga seringkali membahas diaspora dan emigrasi dari kawasan yang berkaitan.

Jepang sendiri adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di kawasan Asia Timur. Mendefinisikan sebuah negara tidaklah sulit, karena ia bisa dikuantifikasikan. Misal, dengan titik koordinatnya, batas geografis, atau dengan mengacu kepada syarat negara secara tradisional yang diambil dari konvensi Montivideo serta turunan-turunannya: Wilayah, Rakyat, Pemerintah, dan Kedaulatan (pengakuan dari negara lain).

Dalam studi Jepang, yang dipelajari adalah sejarah Jepang, perpolitikan Jepang baik dalam maupun luar negeri, kemasyarakatan Jepang, studi-studi budaya Jepang, Bahasa Jepang, geografi Jepang, kesusastraan Jepang, dan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti ekonomi. Karena bersifat studi interdisipliner –sebuah pakem ilmu yang melihat suatu masalah dari berbagai macam sudut pandang keilmuan. Contoh bagaimana studi interdisipliner bekerja dalam studi Jepang adalah dengan meneliti permasalahan ekonomi Jepang. Untuk memahami bubble era misalnya. Tidak hanya dibutuhkan ilmu ekonomi untuk menjelaskannya, tetapi juga ilmu tentang kebudayaan yang mengakibatkan bubble terjadi di Jepang, tetapi tidak di negara lain. Salah satu penyebabnya adalah Keiretsu, sebuah sistem dalam perusahaan Jepang di mana perusahaan besar di Jepang memiliki saham anak perusahaannya dalam sebuah satuan yang saling mengikat. Keiretsu sendiri apabila ditilik dari sejarahnya, memiliki pengaruh dari pendudukan Amerika Serikat, yang berarti ada pengaruh dari bidang ilmu politik Jepang.  Dengan kata lain, untuk menjelaskan suatu fenomena ekonomi, dibutuhkan tidak hanya ilmu ekonomi, tetapi juga ilmu politik (dan sejarah).

Dalam perjalanan Studi Jepang yang selama ini saya tempuh, yang paling sering beririsan dengan fenomena-fenomena yang terjadi di Jepang adalah tentang kebudayaan. Tentu saja. Salah satu yang membuat manusia menjadi manusia adalah kebudayaan. Apa itu kebudayaan ? Apabila mengacu kepada definisi lama yang melegenda dari Bapak Selo Soemardjan: Kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Saya yakin definisi ini telah muncul berulang kali di berbagai macam kesempatan. Namun, definisi yang seperti ini cenderung hanya membahas bentuk material dari budaya itu saja, seperti guci, sendok, dan garpu misalnya. Definisi ini tidak mencakup cara hidup orang dari kebudayaan tertentu. Jikalau demikian, definisi kebudayaan ini tidak akan efektif apabila diaplikasikan dalam Studi Jepang, yang membutuhkan dinamisme yang luar biasa dari setiap irisan studi interdisiplinernya. Karena itulah saya mencoba mengambil definisi kebudayaan dari Clifford Geertz yang ditambah dengan kritik dari Bapak Bachtiar Alam, salah seorang dosen Studi Jepang di Universitas Indonesia.

 

Kebudayaan didefinisikan oleh Clifford Geertz (Geertz, dalam Alam 2014: 35-41) sebagai :“an historically transmitted pattern of meanings embodied in symbols…by means of which men communicate, perpetuate, and develop their knowledge about and attitude toward life”. Namun, bagi Bachtiar Alam (2014: 35-41), kebudayaan adalah sesuatu yang bersifat dinamis, ia bisa berubah, apa lagi berkaitan dengan ‘subjek pendukung kebudayaan’ yang dapat mengambil bagian dalam proses konstruksi kebudayaan, yang pada gilirannya berkaitan erat dengan kekuasaan serta kepentingan.

 

Cetak tebal di atas bukan kesalahan, tapi disengaja. Karena 3 kata dan 1 frasa itu sangatlah penting, dan inilah yang seringkali tidak dihiraukan oleh penstudi Jepang lainnya. Esensialisme, itulah kata kunci yang dikedepankan oleh Bapak Bachtiar Alam. Kembali mengutip bukunya:

Colson dalam Vayda (1994:322) dalam Alam (2014: 40):

Essentialism is a reductionist view of culture as the immutable values that are fundamental for guiding the way particular people deal with each other and with their environment. An essentialist view holds that these values are not situational or time-linked, but constant and permanent, therefore they can be treated as eternal principles to predict particular people’s behavior over time and under all circumstances.”

Kurang lebih bisa saya ringkas sebagai berikut: esensialisme menganggap bahwa budaya adalah sesuatu yang statis dan tidak akan pernah berubah seiring zaman. Orang Jepang akan tetap menjadi orang Jepang yang wabi-sabi, bushi, tertib, dan lain-lain. Ini seringkali wajib dikaitkan dengan aspek-aspek Jepang di masa modern, karena hal-hal yang disebutkan tadi adalah bagian dari kebudayaan Jepang. Mereka tidak akan berubah walaupun kelak Orang Jepang sudah hidup di luar angkasa, karena bagi para esensialis, hal-hal tersebut adalah sesuatu yang terus diturunkan kepada keturunan orang Jepang tanpa ada gangguan dari pihak lainnya.

Benarkah demikian ? Bagi saya tidak. Tidak ada kebudayaan yang abadi, karena ia tidak bersifat natural. Kebudayaan bukanlah bawaan lahir. Ini bisa diargumentasikan secara ilmiah. Ambil contoh Genie, seorang Feral Child (anak liar) yang sejak lahir hingga berumur 13 tahun hidup dalam isolasi. Genie adalah seorang Amerika. Tetapi ia tidak bisa berbicara dalam Bahasa Inggris yang merupakan kebudayaan Amerika, tidak bisa makan dengan pisau dan garpu yang merupakan kebudayaan Amerika, dan lain-lain. Ya, Genie tidak mendapatkan transmitted pattern of meaning –dari definisi Geertz, oleh orang tuanya. Ah, tapi mungkin contoh ini tidak adil, karena Genie memang terputus dari lingkungannya. Mungkin akan saya coba contoh lain.

Orang Jepang tertib dengan waktu misalnya. Orang Jepang bisa tepat waktu bukan karena mereka terlahir sebagai orang Jepang. Tetapi, ini adalah bagian dari program pemerintah Jepang di masa pasca Perang Dunia II. Ini semua dapat dilihat di dalam buku Sheldon Garron yang berjudul Molding Japanese Minds. Dalam buku itu dijelaskan, Jepang bisa menjadi “bangsa yang tepat waktu” adalah karena kampanye oleh pemerintah Jepang di masa itu. Berarti, sebelumnya tidak ada kebudayaan yang berbunyi bahwa orang Jepang adalah orang yang tepat waktu. Ini berarti kebudayaan berubah. Berubah karena dipaksa oleh kuasa. Ini kembali ke definisi dari Bapak Bachtiar Alam yang saya tebalkan tadi. Berkaitan erat dengan kekuasaan –pemerintah Jepang di masa itu, dan kepentingan –membuat rakyat Jepang menjadi lebih produktif dan membantu pendapatan Jepang yang baru kalah perang. Ia berubah, sesuai dengan subjek pendukung kebudayaannya –negara.

Lalu, apa hubungannya semua ini dengan filsafat ilmu ?

Begini. Para esensialis percaya bahwa budaya itu tidak berubah –menurut saya sih, saya belum menemukan literatur yang secara gamblang membahas ini, karena bagi mereka itu adalah kebenaran yang mereka terima melalui ilmu pengetahuan. Ketika mereka menganggap itu sebagai ilmu pengetahuan, maka itu adalah sebuah kebenaran. Dan kebenaran tidak akan berubah. Bagi saya, itu adalah suatu kesalahan dalam memandang ilmu. Memang untuk mendapatkan “orang Jepang tepat waktu” dibutuhkan juga penelitian. Mungkin survey dan statistik, dan lain-lain. Mungkin itu benar secara ilmiah tapi, kebenaranilmiah pun tidak akan menjadi selamanya benar, apalagi dalam ilmu sosial. Ada kondisi di mana mereka bisa –dan akan berubah.

Bagi Marcia McNutt, seorang ahli geofisika dan editor Science, sebuah jurnal bergengsi, “ilmu pengetahuan bukanlah sekumpulan fakta. Ilmu pengetahuan adalah metode untuk menentukan apakah hal yang kita yakini sesuai dengan hukum alam atau tidak.” Kata kuncinya adalah ‘bukalah sekumpulan fakta’[2]. Ya, ilmu pengetahuan bukanlah kebenaran. Tetapi ia adalah semacam lensa yang memperjelas kebenaran. Karena kebenaran yang hakiki hanyalah Tuhan yang tahu –bagi mereka yang percaya, dan kebenaran yang hakiki belum bisa ditemukan hingga sekarang –bagi mereka yang tidak percaya dengan Tuhan. Mungkin kutipan tadi akan lebih cocok apabila diaplikasikan ke ilmu alam, namun, ‘bukanlah sekumpulan fakta’ inilah yang membuat kita tidak boleh menjadi sombong dengan apa yang tadinya kita sudah dan selalu percayai.

Mengutip kembali dari majalah National Geographic tadi, “Dalam sains, kita tidak berdosa jika berubah pikiran saat dituntut oleh bukti.” Bagi saya, justru kita berdosa jika TIDAK berubah pikiran saat dituntut oleh bukti. Kekeraskepalaan terhadap ilmu yang sudah ada adalah dosa bagi seorang ilmuwan. Karena apabila ilmu dianggap statis, maka ia tidak akan berkembang. Pemikiran seperti ini bisa didapat dari Filsafat Ilmu. Karena dalam filsafat ilmu, kita dapat belajar tentang struktur ilmu pengetahuan sendiri. Kelebihannya, maupun kekurangannya.

Dalam buku Jujun Sudharminta, sebuah pengantar filsafat ilmu –sebuah buku legendaris, salah satu sifat yang dibutuhkan oleh ilmuwan adalah skeptisisme. Ironisnya, skeptisisme adalah sesuatu yang saya gembar-gemborkan sejak awal. Sesuatu yang saya anggap buruk. Tapi tunggu dulu, skeptisisme di sini berbeda. Skeptisisme ilmu pengetahuan apabila dilihat secara negatif, maka ia akan menolak segala macam bukti dan fakta baru apabila bukti dan fakta itu bertentangan dengan apa yang ia anggap benar selama ini. Sedangkan apabila dilihat dari segi keilmuan secara positif, skeptisisme adalah sebuah kehati-hatian dalam menerima kebaruan. Kebaruan itu penting tentu saja, namun sebagai ilmuwan yang baik, kita tidak boleh menelan kebaruan itu secara mentah-mentah. Setidaknya, apabila tidak bisa memasaknya, kunyahlah dulu kebaruan itu, karena apabila ditelan secara mentah-mentah, maka kebaruan itu bisa saja salah, bahkan menyesatkan, seperti vaksin yang menyebabkan autisme oleh Andrew Wakefield. Malah terkadang, sebelum menerima kebaruan, ada baiknya apabila kita melihat dari sisi lainnya terlebih dahulu.

Sebelum memberikan simpulan, izinkan saya mengutip dan sedikit membahas pemikiran dua orang filsuf modern yang banyak berbicara tentang ilmu pengetahuan dan kebudayaan: Michel Foucault dan Noam Chomsky.

Dimulai dari Foucault yang berujar “Man is an invention of recent date.” Bagi Foucault, manusia memperlakukan ide ‘manusia’ sebagai sesuatu yang natural dan abadi, namun arkeologi pemikiran kita menunjukkan bahwa manusia sendiri baru muncul sebagai sebuah objek studi di awal abad ke-19 (melalui filsafat), dengan kata lain, manusia adalah penemuan yang bisa dibilang baru. Foucault sendiri tertarik dengan bagaimana diskursus –cara kita berbicara dan berpikir tentang banyak hal, terbentuk oleh aturan yang tanpa disadari muncul dari kondisi historis di mana kita berada. Kita membicarakan hal yang kita anggap sebagai ‘akal sehat’ tanpa sadar bahwa ‘akal sehat’ ini terbentuk oleh aturan yang tidak kita sadari dan kondisi historis tadi. Aturan dan kondisi ini berubah seiring zaman, oleh karena itu, bagi Foucault arkeologi pemikiran sangatlah penting. Tentang bagaimana pemikiran berubah dari waktu ke waktu, dan bagaimana kita tidak bisa menganggap konsep dalam konteks masa sekarang sebagai sesuatu yang abadi. Kita membutuhkan genalogi sejarah terhadap konsep-konsep tadi[3].

Genealogi sejarah terhadap konsep. Ini adalah suatu hal yang cukup penting yang nampaknya akan sangat menarik apabila diajarkan di Studi Jepang. Apabila kembali ke contoh ‘orang Jepang tepat waktu’ tadi, maka genealoginya bisa diambil dari awal ketika Jepang kalah perang, dan pemerintahnya mulai menggalakan hidup teratur. Tentang bagaimana pemerintah mempromosikan ide tersebut sehingga ide itu tertanam di benak orang-orang Jepang. Tidak berhenti sampai di situ, bagaimana pemerintah dan orang-orang Jepang kemudian terus memelihara ide itu, dan menjadi sesuatu yang –mengambil konsep Roland Barthes, dimitoskan, lalu kemudian dijadikan sebagai sesuatu yang khas dan natural dari orang Jepang (walaupun sebenarnya tidak, namanya juga mitos). Dengan genealogi ini, kita dapat lebih memahami, apa yang sebenarnya menjadi struktur dari kebudayaan orang-orang Jepang itu sendiri. Bagi saya, seorang penstudi Jepang sejati bukan hanya harus mengerti apa yang menjadi ‘akal sehat’ bagi orang Jepang, tetapi juga harus mengerti MENGAPA dan BAGAIMANA hal itu menjadi ‘akal sehat’ bagi orang Jepang.

Yang kedua adalah Noam Chomsky, dengan kutipan “if we choose, we can live in a world of comforting illusion.” Kutipan ini memang ditujukan untuk negara, namun, apabila kita cukup cermat untuk ‘menarik’-nya ke dunia konsep, maka ia bisa digunakan ke apapun yang bersifat otoritarian. Maksudnya, punya kuasa. Dalam menjelaskan kutipan tadi, kurang lebih seperti ini; apabila kita berasumsi bahwa pemerintah/negara/otoritas yang mengekang kita secara natural lebih etis daripada pemerintah/negara/otoritas lainnya, maka kita memilih untuk hidup di dunia ilusi yang nyaman. Untuk menghancurkan ilusi itu, kita harus mencari bukti tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh pemerintah/negara/otoritas kita, dan mengaplikasikan prinsip etis yang kita gunakan ke negara lain, ke negara kita sendiri[4].

Dengan kata lain, apa yang kita lihat, kita rasa, kita anggap benar selama ini, belum tentu benar adanya. Ada kekuasaan di sana yang memaksa kita untuk melihat, merasa, menganggap sesuatu sebagai sesuatu yang benar adanya dan tidak bisa dipersalahkan. Untuk membongkar asumsi itu, maka kita harus melihat secara objektif dan menyeluruh tentang apa yang sebenarnya pemilik kuasa itu lakukan. Dalam dunia keilmuan, ini bisa diaplikasikan –mungkin, kurang lebih, kepada cabang ilmu kita sendiri. Seringkali kita menganggap cabang ilmu kita adalah yang paling benar –bahkan dalam studi interdisipliner. Ini wajar, sama seperti negara, cabang ilmu kita adalah tempat di mana kita ditumbuhkembangkan. Bagaimana kita diberitahu –dengan metode yang mantap, apa yang benar, dan apa yang tidak benar atau belum benar. Namun, kita sendiri terkadang lupa. Lupa dengan skeptisisme ilmiah yang positif tadi. Bagaimana dengan teori gajah juga. Apakah kita mau menjadi seorang bebal yang tidak mau melihat atau meraba gajah itu dengan cara lain ? Dari arah lain, dari sudut pandang lain ? Ya. Kenyataan tentang gajah bukanlah belalainya, bukan juga gadingnya, bukan juga ekornya, tetapi gajah sebagai sebuah kesatuan. Begitu juga dengan kebenaran. Ia tidak hanya bisa dilihat dari satu sisi saja. Bukankah itu makna hakiki dari studi interdisipliner ?

Walaupun tentunya dalam penelitian tesis atau disertasi akan ada batasan tentang apa yang mau diteliti, dan bagaimana cara menelitinya, tentunya akan sangat bijak apabila peneliti diberikan kebebasan –selama tidak keluar koridor keilmiahan yang dipegang oleh universitas, tidak ada yang mau menjadi Feyerabend di sini- dalam penelitiannya. Seorang pembimbing yang baik harus dapat menerima kebaruan, mendukung dari belakang, sedikit mengoreksi dan meluruskan, tanpa harus terlalu banyak ikut campur di dalam prosesnya. Mungkin, mungkin karena itulah di negara-negara berbahasa Inggris, pembimbing tesis atau disertasi disebut dengan adviser, pemberi saran.

Kebenaran tentang orang Jepang bukan hanya wabi dan sabi, bukan hanya bushido, ia lebih dari itu. Tidak sesempit itu. Kebenaran tentang orang Jepang berada mengakar di dalam sejarah, ilmu politik, sosiologi, studi-studi budaya, bahasa, geografi, kesusastraan, dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan, dan semuanya selalu berubah. Adalah tugas kita sebagai penstudi Jepang untuk meneliti dan memahaminya. Menghancurkan relung-relung ilusi yang menyelimuti sebuah konsep bernama Jepang. Menemukan kebenaran dibalik ‘kebenaran’.

 

 

[1] Joel Achenbach dalam National Geographic Indonesia edisi Maret 2015. Era Ketidakpercayaan. hal 45

[2] Ibid national geographic Indonesia hal 38

[3] DK, The Philosophy Book: Big Ideas Simply Explained. London: DK. 2010. Hal 302

[4] Ibid hal 304

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: