Archive for November, 2018

h1

Sepedaku

November 27, 2018

Sepeda ini adalah hadiah kelulusan. Sepeda yang nyaman dengan segala kemeriahannya. Bersadel kuning, berkayuh merah, dengan kemudi hitam berhias pita berwarna-warni. Berbadan biru, dengan ban abu-abu serta hitam. Ada lampu berwarna oranye sebagai pertanda berhenti.

Aku suka sekali sepeda ini. Tiap hari kurawat dan kupakai berkeliling kompleks. Mengayuhnya membuatku melupakan segala masalahku. Tak peduli apa orang bilang.

Tapi suatu hari, aku tak sengaja melindas batu besar. Aku terjatuh. Ban depannya penyok. Kayuhnya patah. Sepedaku rusak. Tak bisa diperbaiki. Aku sedih.

Aku coba perbaiki, tapi tidak bisa. Mungkin aku memang kurang handal. Aku tak mau mengganti ban depanku. Aku tak mau mengganti kayuh yang patah. Mungkin aku keras kepala. Tapi apalah artinya sepedaku kalau kayuhnya tidak merah dan bannya tidak hitam?

Aku simpan sepedaku di garasi. Mungkin suatu saat bisa aku perbaiki dan kendarai.

Setahun berlalu, sepeda itu masih tetap di garasi. Teronggok tidak bergerak. Mungkin itulah nasibnya. Sepedaku tak lagi bisa berlari.

Selamat tinggal sepeda. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik selama beberapa tahun.

Advertisements
h1

Rubuh

November 27, 2018

Aku tidak pernah membahas ini dengan orang lain. Hanya dengan mereka yang terkait. Terlalu sakit untuk dibicarakan. Tapi sekarang sakitnya sudah berangsur hilang. Entah aku yang kebas atau bagian yang luka sudah teramputasi. Sepertinya yang kedua.

Persahabatan adalah sebuah hal yang menakjubkan. Ada rasa senang, nyaman, dan aman di sana. Persahabatan adalah hal yang penuh tawa, air mata bahagia pun sedih, juga celotehan nakal.

Persahabatan bagiku, bagai menara Jenga. Disusun sampai tinggi, terlihat solid namun sebenarnya rapuh. Ketika terlihat makin tinggi, maka ia semakin rapuh. Karena tanpa sadar, kau ambil fondasinya untuk meninggikan menaranya.

Mungkin itu salahku? Terlalu banyak fondasi yang berubah, sehingga lupa kalau ia rapuh. Pada akhirnya ia pun rubuh.

Setelah rubuh, ia tidak bisa berdiri lagi.

Piring yang pecah ketika disatukan tetap terlihat retak. Aku tidak mau. Apalah artinya persahabatan dengan senyum yang dipaksakan, jabat tangan yang tidak tulus, dengan hati yang luka?.

Baiknya, kita sudahi saja. Yang baik dan pernah terjadi, simpan dalam hati. Yang buruk, jangan dilupakan.

πŸ§‘πŸ§‘πŸ§‘πŸ§‘πŸ‘©πŸ»πŸ‘©πŸ»πŸ‘©πŸ»

🚲

h1

Jakarta…

November 22, 2018

Beberapa hari yang lalu, aku melewati tempatku bekerja dulu di Jakarta. Langsung aku teringat masa-masa di mana aku bergaul dengan Jakarta yang selalu bermuram durja. Tak ada hari tanpa omong kosong tentang Tuhan. Memaksa menyembah-Nya, sekaligus melakukan apa yang Ia larang. Memuja-Nya, pun menyekutukannya. Entah itu uang, entah itu manusia. Selalu ada cara untuk melupakan-Nya walaupun hanya terlihat sesaat.

Jakarta yang bermuram durja. Tak ada hari tanpa berlama-lama di jalan, mengumpat, mengomentari gobloknya manusia-manusia di belakang laju banteng-banteng bermesin. Banteng gendut, banteng kerempeng, ada yang butut, ada yang mentereng. Semua goblok. Tidak sabar. Tidak mau kalah. β€œAku bayar upeti untuk jalan ini! Diam kau bangsat!” begitulah kiranya jeritan banteng-banteng mesin yang saling bersahutan.

Jakarta yang bermuram durja. Di antara simpul-simpul kemacetan, kerap ada pekikan penuh iba dari mobil putih beraksen merah. Tertulis ecnalubma di kaca depannya. Di tengah waktu yang berhenti, ada raungan sirine yang diiringi jeritan mereka yang sedang berdoa. Jangan ambil kesayangan kami! Oh tolong jangan ambil! Tolong segera singkirkan bedebah-bedebah tuli ini dari hadapan kami! Biarkan kami menyelamatkan kesayangan kami!

Jakarta yang bermuram durja. Konon, hujan adalah berkah. Bahkan Tuhan memiliki petugas khusus untuk menurunkan air dari langit sebagai berkah untuk manusia. Tapi tidak bagi Jakarta. Sisa-sisa kehidupan membunuh jalan keberkahan. Bagi Jakarta, hujan adalah tangis. Tangis yang kelak menenggelamkan sebagian darinya untuk beberapa saat. Menghilangkan napasnya, menghentikan geraknya, membunuh penghuninya.

Jakarta yang bermuram durja. Sampai kapan kamu begini? Mungkin ketika manusiamu berhenti menyekutukan-Nya. Mungkin ketika manusiamu tak lagi mengumpat. Mungkin ketika manusiamu tak lagi tuli. Mungkin juga ketika manusiamu paham akan keberkahan. Sebuah tanda tanya dengan beribu mungkin. Untuk sekarang, bermuram durja sajalah dulu.