h1

December 9, 2016

Did I just complete the Alolan legendaries ?

View on Path

Advertisements
h1

Oposisi Biner

November 12, 2016
Oposisi biner dalam diskursus ada atau sengaja dibuat untuk menguatkan posisi si penutur ketika ia ingin menghancurkan subjek lawannya. Misal: Kalau kamu nggak dukung Real Madrid, otomatis kamu dukung Barca. Padahal ya bisa aja dukung Atletico Madrid atau Real Betis. Tapi ya nggak peduli, pokoknya liga Spanyol cuma Real sama Barca aja isinya, Real is the best, Barca is the worst. Dengan begitu, nggak perlu khawatir dengan kekuatan lain seperti Valencia, Atletico Madrid, atau Athletic Bilbao misalnya.
Ketika dunia hitam-putih, si pembuat oposisi biner ini akan mendapatkan nilai +2 ketika ia berhasil mengubah pemikiran lawannya. Mengapa ? Begini. Jika dunia tidak hitam-putih saja, ada warna lainnya, ketika si a memilih hitam dan si b memilih putih.
a: pilih hitam aja sih
b: nggak ah gw putih dari dulu juga
a: si putih ini jelek, gampang rusak
b: hmm, iya yah dipikir-pikir, gw pilih ijo aja deh. Gw tetep nggak bisa terima si hitam
a: eh jangan, si ijo juga jelek tau
b: yaudah deh si kuning
a: nggak, si hitam aja, lebih kuat dia
b: hmm, biru aja deh, Persib
dst.
hasil voting:
hitam: 1
putih: 0
ijo: 0
kuning: 0
biru: 1
Tapi kalau cuma ada hitam-putih ?
a: pilih hitam aja shi
b: nggak ah, gw putih dari dulu juga
a: si putih ini jelek, gampang rusak
a: hmm, iya ya, oke deh
hasil voting:
hitam: 2
putih: 0
Bisa dilihat, di percakapan pertama, hitam hanya berhasil mengurangi pilihan terhadap si putih tanpa menambah nilai untuk si hitam, dalam hal ini, hitam cuma dapat 0 dan putih kehilangan 1. Nilainya untuk hitam ? bisa 0, bisa 1, bisa -1. Tergantung niatnya. Tapi kalau dalam percakapan kedua ? Putih kehilangan satu dan hitam bertambah 1. 2 poin. Enak ? Enak dong.
Beginilah cara oposisi biner bekerja dalam sebuah diskursus. Kenapa saya menulis ini ? Karena saya merasa sekarang ada sebuah oposisi biner yang sedang dibangun yang pada akhirnya akan menimbulkan diskursus yang menyeramkan. Be smart. Be yourself.
h1

October 16, 2016

So, it has been 8 days since we’ve been married. We’ve done our honey mooney time, and these are some pictures from our reception. We kept our marriage under the radar simply because we are on a very limited space to invite everyone dearest to us. So sorry for those we can’t invite, we do love you though, and we are not a couple of space benders, nor we do know one. And of course, thank you for everyone who came by and send us their prayers. Love, Bima and Fatia. – with Fatia

View on Path

h1

Dear Pokemon Go Players,

July 7, 2016
Dear Pokemon Go players,
 
Walaupun baru dua hari, tapi sepertinya user Pokemon Go sudah cukup banyak. Saya juga udah main lumayan lama. Pokemon Go ini unik, dan benar-benar revolusioner. Ini sesuatu yang baru, setidaknya bagi saya. Namun, kebaruan tidak datang begitu saja. Ada beberapa poin minus yang bisa saya analisis dari Pokemon Go ini, hal yang saya bahas adalah yang berkenaan dengan keselamatan dan hukum, baik hukum negara, maupun hukum norma, berikut ulasannya.
 
1. Apps yang dipakai bukan apps resmi
 
Nomor 1 langsung yang bikin saya jiper. Apps Pokemon Go yang kita (Indonesia) pakai, bukanlah aplikasi resmi yang dirilis oleh Niantic melalui playstore Indonesia. Pokemon Go sendiri baru secara resmi diluncurkan di Australia, New Zealand, Jepang, dan Amerika Serikat. Untuk Indonesia sendiri, mungkin masih harus menunggu beberapa hari. Lalu, kenapa kita bisa main Pokemon Go ? Kita pakai .apk dari Pokemon Go. .apk sendiri adalah format dari file “lepasan” untuk sistem android, sehingga kita tidak terkoneksi secara langsung dengan playstore. Namun ada 1 yang masih menjadi pertanyaan saya, kenapa kita masih bisa beli item premium (koin) via playstore ? Kalau ada yang tahu, bisa tambah di bagian komentar. Masalahnya, beberapa situs video game membahas tentang kemungkinan ban yang dilakukan oleh Niantic terhadap user-user tidak resemi (http://www.eurogamer.net/articles/2016-07-07-pokemon-go-users-deleting-app-after-ban-rumour-begins). Saya sendiri tidak ambil pusing, jika di-banned ya sudahlah, jika tidak, ya jalan terus, tapi begitu apps resminya muncul, saya ganti ke apps resmi, dengan segala resikonya (reset character).
 
2. Hati-hati di jalan
 
Nomor 2 ini berkenaan dengan keselamatan. Tadi pagi, sambil lari pagi saya buka terus apps Pokemon Go. Karena jalanan masih sepi, banyak mobil mengebut, dan tentunya dengan kondisi trotoar kota Bandung (yang konon ramah pejalan kaki) masih dodol, ya saya terpaksa jalan di pinggir jalan mobil, bukan di trotoar. saya berkali-kali hampir tersambar mobil yang mengebut. Jadi, harap berhati-hati lah. Setidaknya, jangan main dengan headset, yang makin menutup indera anda dalam merasakan ruang.
 
3. Terlihat tidak sopan
 
Nomor 3 berkenaan dengan norma di depan umum. Ada 2 poin menarik yang saya temukan selama menggunakan Pokemon Go. Yang pertama adalah sistem AR yang digunakan ketika mau menangkap Pokemon. Dengan sistem ini, kita dituntut untuk mengarahkan kamera handphone ke area virtual di mana Pokemon itu berada. Namun, karena ini bersifat AR, gambar dunia nyata yang disorot oleh handphone kita tentunya akan muncul di handphone kita. Tidak masalah jika kita ada di jalanan sepi atau di rumah sendiri, yang menjadi masalah adalah ketika kita bermain di tempat umum. Saya sendiri tadi sedang berbelanja di sebuah supermarket ketika secara iseng saya menyalakan Pokemon Go dan ternyata muncul salah satu Pokemon favorit saya: Butterfree. Otomatis saya langsung mencoba menangkap Butterfree, efeknya ada 2: menghalangi jalan orang (karena saya harus berdiri di posisi tertentu untuk menangkap Butterfree) dan saya terkesan sedang mengambil gambar orang lain. Ini sangat mengganggu dan tentunya melanggar norma sosial yang ada, tidak sopan bukan (terlihat) mengambil gambar orang lain tanpa izin ?
 
Poin yang kedua yang berkenaan dengan kesopanan adalah, masalah melewati tempat tinggal orang lain. Kadang ada beberapa Pokemon yang muncul di tempat yang merupakan halaman rumah orang lain. Jika kita memaksa mengambil Pokemon itu, tentu kita harus melewati halaman rumah orang lain, tentu itu melanggar norma kesopanan apabila kita lewat tanpa permisi.
 
4. Bisa berurusan dengan polisi
 
Nomor 4 ini sudah terjadi di Solo. Di internet, jauh sebelum Pokemon Go rilis, sudah banyak meme yang menggambarkan bagaimana.Zapdos muncul di power plant, atau Moltres muncul di gunung berapi, intinya, ada beberapa Pokemon langka yang muncul di tempat ‘terlarang’. Ternyata ini sudah terjadi di Indonesia. Tadi, teman saya memberikan screenshot post facebook yang berisi tentang curhatan user Pokemon Go yang berurusan dengan polisi. Dalam post itu, si user tidak sengaja menemukan Pokemon di dekat pos polisi, lalu mencoba menangkapnya. Ia tidak tahu bahwa di sekitar situ ada polisi. Mereka pun dikejar dan ditangkap karena dianggap melakukan hal yang mencurigakan. Ini masuk akal, merangsek masuk ke Pos polisi, dan mengambil gambar di kota yang baru saja dihajar bom bunuh diri. Tentunya itu adalah tindakan yang sangat sensitif dan mencurigakan. Jangan lihat dari sisi kita yang mengerti tetek bengek Pokemon Go, tapi lihat dari sisi orang lain yang melihat kita sekedar menyelinap dan mengambil gambar dengan handphone.
 
Sejauh ini, 4 poin inilah sisi negatif yang bisa kita dapat ketika bermain Pokemon Go. Pokemon Go memang sangat menyenangkan, saya sendiri besok pagi rencananya akan main lagi sambil jogging. Tapi tentu harus tetap smart dalam bermain. Jangan lupakan orang lin.
h1

Trivia(s) About Valak

June 19, 2016
conjuring_iqlycp.jpg
I have some trivias Valak’s appearance in Conjuring 2, and I can somewhat compare it with “demonology” in my own country. Basic fact, Valak is a part of 72 demons appeared in the Lesser Key of Solomon, a “guide book” for magicians to perform their rituals. He is one of the Hell’s president who commands 30 legions of demon. He is also the summoner of snakes and serpents. As a president of hell, of course he is a very strong demon, that is why he is depicted as a nun in Conjuring 2. In Christian demonology, the stronger the demon, the more it mimics the Christian aspects, that is why Valak takes a form of a nun, complete with the cross on his neck. This is also happened in other movie. In the legendary movie the Exorcist (1973), the strong demon, Pazuzu is also using cross in an inappropriate way without being burned.
 
Another interesting fact to support this theory is the occult belief of the Witching hour, at 03:00 am. Witching hour is the time for witches and demons to do their stuffs, many bad stuffs happened at those time, it is the inversion of 03:00 the time believed as the time when Jesus died on the cross, a mockery.
 
In islam, there is also this kind of stories. Many times, I heard story about how a santri being possessed, and while being exorcised in islamic way (by reading prayers, especially the Ayat Kursi), the Djinn inside the santri is following the prayers (and ultimately finished it) then laugh at them in mockery. It is indicated that the Djinn possesed the santri is a strong one as it is strong enough to make them recites parts of Qur’an.
 
Interesting comparison between Christian and Islamic demon (syaitan) would be how they depicted in daily modern life, either by movies or myth. In Christian side of the story, it is often be told that demons are the rebels of God. They rebel against God, and condemned to hell. Their rebellion against God and their status as a rebel is more commonly depicted.
 
While in islam, demon/syaitan (and syaitan in form of jinn) are also defecting from God’s order to bow for Adam, which ended up hating Adam’s heir to eternity, swearing to disturb them forever. What they do to mislead human into misery is what often told.
 
Well, I think that’s what I get from Valak’s character. It’s haunting for sure, but I like it so much.
h1

#DejanOut

May 30, 2016

1464579481691

Tentang Dejan, kenapa ada #DejanOut ?

  1. Bagus tidak berarti taktis. Walaupun materi pemain nggak beda jauh, tapi kalau dilihat sebagai sesuatu yang taktis, justru pemain-pemain Persib sekarang dengan Persib pas juara ISL beda jauh. Di kanan misalnya, walaupun di musim terakhir ISL Samsul Arif dan Dias Angga termasuk sayap-sayap jago, tetep nggak bisa nutupin perannya Mang Ridwan sama Mang Pardi yang luar biasa nyambung di situ. Begitu juga dengan tengah, Kim sebenarnya nggak jelek-jelek amat, tapi gaya mainnya sama dengan Mas Har, kecuali butuh main bertahan, pasang keduanya itu asa percuma; nggak ada yang bisa mainin bola ke depan kayak Firman atau Dado. Depan juga, Pugliara bukan tipe Konate. Jujur saya suka Pugliara pas di Persipura, secara teknis dia bagus, tapi gaya mainnya beda sama Konate yang lebih physical.
  2. Dejan plays the Dejan way. Wajar. Semua pelatih juga inginnya main dengan gayanya sendiri. Kalau Mourinho tiba-tiba main Tiki-Taka kan nggak lucu. Nah, Dejan juga ingin main gaya Dejan. Sebenarnya cara main Dejan di PBR ga jelek-jelek amat. Toh mereka masuk ke semi-final kan di ISL terakhir, kalah sama Persib. Tapi gaya main Dejan yang cenderung monoton (serang dari Dias Angga, kalau gagal serang dari sayap kiri depan <Atep/Tantan> sembari udar ider di tengah <putus terus karena ngga ada pengumpan jauh>) tentunya sulit dibandingkan dengan gaya main Persib yang bisa menyerang dari kiri, kanan, maupun tengah. Wajar kalau bobotoh gemes liatnya. Ditambah materi pemain yang berbeda, tentunya sulit untuk tim Persib sekarang untuk main the Dejan’s Way. Selain di dalam lapangan, pun begitu di luar lapangan. Ini bukan menyerang secara personal, tapi bagaimana cara Dejan menangani pers dan bobotoh, berbeda dengan cara Djajang Nurjaman menangani pers dan bobotoh. Djanur selalu kalem, berbicara tanpa emosi, berbeda dengan Dejan yang berapi-api, dan tak segan menyerang balik wartawan yang menyerangnya. Salah satu yang fatal dan sering dikritik oleh para bobotoh adalah ketika ia ditanya mengapa tidak mengganti Kim yang dianggap bermain jelek, Dejan menjawab (yang kurang lebih isinya) “Coba lihat statistik Kim kalau kamu berpikir Kim main jelek (di pertandingan itu)”. Statistik memang penting, apa yang tertulis di kertas memang bersifat absolut, tapi itu tidak begitu saja menjadi indikator bahwa seorang pemain bermain dengan baik. Bisa saja dia melakukan 100 operan dalam 1 pertandingan, tapi semua dioper ke belakang. Kan gimana gitu ya ?
  3. Pemain asing yang asing. Musim lalu, di QNB League, Bobotoh serasa ketiban durian runtuh. Pemain asing yang bagus dipertahankan (Konate dan Vujovic) yang butut dibuang (Djibril) plus didatangkan lagi predator yang sudah tidak asing di Liga Indonesia: Ilija Spasojevic. Saya sendiri bahagia sekali waktu Spaso datang. Sudah kenal dengan kiprahnya di Indonesia, dan yakin langsung nyetel dengan Persib. Benar saja, baru beberapa kali main, Spaso sudah menyumbangkan gol dan assist. Nah, pada musim selanjutnya ini, setelah Konate dan Spaso hengkang, bobotoh diperkenalkan dengan pemain asing yang asing di persepakbolaan Indonesia: Juan Carlos Belencoso. Mungkin hanya segelintir orang Indonesia yang tahu nama ini; agen sepak bola, TKI di Hongkong, dan hipster sepak bola yang mengikuti Liga Hongkong atau Segunda Liga Spanyol sejak lama. Raihan golnya di Kitchee memang terlihat oke, 30 gol dari 39 kali main, setidaknya itu kata laman wikipedia Belencoso. Tapi, raihan gol tidak bisa begitu saja jadi pakem untuk mendatangkan seorang striker, karena harus lihat juga gaya bermainnya, karena bisa saja dari 30 gol itu, 10 dari 30-nya dicetak hanya dalam 3 pertandingan lawan tim lemah misalnya, berarti 20 gol lagi dari 36 pertandingan, jadi less impressive kan ? Saya sendiri sampai sekarang belum tahu bagaimana gaya bermain Belencoso, karena beliau seringkali hanya berada di second line, kehilangan bola yang dioper pada temannya, lalu bingung. Pemain asing, bagi penikmat liga Indonesia adalah sesuatu yang paling ditunggu, karena mereka sangat istimewa, kuotanya hanya 5 (2 untuk pemain Asia, 3 untuk lain-lain), harga mereka mahal, dan tentunya kontribusi mereka sangat dinanti. Persib sendiri sudah biasa menjadi korban PHP pemain asing (Dolega, Orlinski, Shahril Ishak, Dzumafo, ah banyak lah), tapi sejak kedatangan Konate, Vujovic, dan Spaso, rasa-rasanya ekspektasi bobotoh terhadap pemain asing yang dikontrak Persib menjadi sangat tinggi, wajar kalau bobotoh kecewa.
  4. #WeAreStillNumberOne. Bagi saya, ini yang menjadi penyakit utama Persib. Masih merasa nomor satu. Wajar. Kalau ditanya, siapa jawara terakhir Liga Indonesia (yang berjalan sampai habis) ? Ya jelas Persib lah. Nggak usah ditanya. Euforia itu belum selesai. Euforia mematikan jalanan Bandung yang luar biasa orgasmik (saya ikut larut juga), belum hilang sampai sekarang. Inilah yang membuat Bobotoh menuntut lebih dari Persib. Sekali lagi saya katakan, wajar. Bobotoh pasti ingin larut kembali dalam euforia juara yang gila itu. Saya pun demikian. Maka dari itu, ketika Persib memble seperti sekarang, wajarlah kalau sampai muncul #DejanOut.

Bagi saya, wajar kalau bobotoh ingin #DejanOut. Saya juga begitu, inginnya #DejanOut (lalu Djajang kembali, beserta beberapa pemain penting yang sudah hengkang, lalu Persib jadi jago lagi). Tapi ya saya sendiri cukup sampai sini. Tidak sampai mendemo atau apalah. Cukup dengan tulisan ini saja, karena saya tahu, kalau #Dejan(sudah)Out pun, tidak banyak yang bisa diperbuat oleh Persib, karena Djajang Nurjaman masih di Italia, sayang rasanya kalau dia disuruh pulang, dan mengontrak pelatih baru pun menambah resiko karena dapat memperburuk tim. Ditambah transfer window yang masih sangat jauh.

h1

Jarak

May 3, 2016

Seberapa panjang jalan teruntai ?

Jalan yang tak bisa berjalan

Terdiam di sana, terkulai

 

Apa yang bisa jalan lakukan ?

Tak banyak, ia memperlebar jarak

Ia hadir sebagai pemisah

Ia memisah temu dan rindu

Ia memisah ketik dan peluk

Ia memisah aku dan kamu

 

Jarak itu ada.

Tak besar memang,

Tak sampai terkejar malam,

Namun ia ada untuk memisah

 

 

Memisah tangan yang tak bisa saling menyentuh

Memisah insan yang saling merindu.