h1

Dear Pokemon Go Players,

July 7, 2016
Dear Pokemon Go players,
 
Walaupun baru dua hari, tapi sepertinya user Pokemon Go sudah cukup banyak. Saya juga udah main lumayan lama. Pokemon Go ini unik, dan benar-benar revolusioner. Ini sesuatu yang baru, setidaknya bagi saya. Namun, kebaruan tidak datang begitu saja. Ada beberapa poin minus yang bisa saya analisis dari Pokemon Go ini, hal yang saya bahas adalah yang berkenaan dengan keselamatan dan hukum, baik hukum negara, maupun hukum norma, berikut ulasannya.
 
1. Apps yang dipakai bukan apps resmi
 
Nomor 1 langsung yang bikin saya jiper. Apps Pokemon Go yang kita (Indonesia) pakai, bukanlah aplikasi resmi yang dirilis oleh Niantic melalui playstore Indonesia. Pokemon Go sendiri baru secara resmi diluncurkan di Australia, New Zealand, Jepang, dan Amerika Serikat. Untuk Indonesia sendiri, mungkin masih harus menunggu beberapa hari. Lalu, kenapa kita bisa main Pokemon Go ? Kita pakai .apk dari Pokemon Go. .apk sendiri adalah format dari file “lepasan” untuk sistem android, sehingga kita tidak terkoneksi secara langsung dengan playstore. Namun ada 1 yang masih menjadi pertanyaan saya, kenapa kita masih bisa beli item premium (koin) via playstore ? Kalau ada yang tahu, bisa tambah di bagian komentar. Masalahnya, beberapa situs video game membahas tentang kemungkinan ban yang dilakukan oleh Niantic terhadap user-user tidak resemi (http://www.eurogamer.net/articles/2016-07-07-pokemon-go-users-deleting-app-after-ban-rumour-begins). Saya sendiri tidak ambil pusing, jika di-banned ya sudahlah, jika tidak, ya jalan terus, tapi begitu apps resminya muncul, saya ganti ke apps resmi, dengan segala resikonya (reset character).
 
2. Hati-hati di jalan
 
Nomor 2 ini berkenaan dengan keselamatan. Tadi pagi, sambil lari pagi saya buka terus apps Pokemon Go. Karena jalanan masih sepi, banyak mobil mengebut, dan tentunya dengan kondisi trotoar kota Bandung (yang konon ramah pejalan kaki) masih dodol, ya saya terpaksa jalan di pinggir jalan mobil, bukan di trotoar. saya berkali-kali hampir tersambar mobil yang mengebut. Jadi, harap berhati-hati lah. Setidaknya, jangan main dengan headset, yang makin menutup indera anda dalam merasakan ruang.
 
3. Terlihat tidak sopan
 
Nomor 3 berkenaan dengan norma di depan umum. Ada 2 poin menarik yang saya temukan selama menggunakan Pokemon Go. Yang pertama adalah sistem AR yang digunakan ketika mau menangkap Pokemon. Dengan sistem ini, kita dituntut untuk mengarahkan kamera handphone ke area virtual di mana Pokemon itu berada. Namun, karena ini bersifat AR, gambar dunia nyata yang disorot oleh handphone kita tentunya akan muncul di handphone kita. Tidak masalah jika kita ada di jalanan sepi atau di rumah sendiri, yang menjadi masalah adalah ketika kita bermain di tempat umum. Saya sendiri tadi sedang berbelanja di sebuah supermarket ketika secara iseng saya menyalakan Pokemon Go dan ternyata muncul salah satu Pokemon favorit saya: Butterfree. Otomatis saya langsung mencoba menangkap Butterfree, efeknya ada 2: menghalangi jalan orang (karena saya harus berdiri di posisi tertentu untuk menangkap Butterfree) dan saya terkesan sedang mengambil gambar orang lain. Ini sangat mengganggu dan tentunya melanggar norma sosial yang ada, tidak sopan bukan (terlihat) mengambil gambar orang lain tanpa izin ?
 
Poin yang kedua yang berkenaan dengan kesopanan adalah, masalah melewati tempat tinggal orang lain. Kadang ada beberapa Pokemon yang muncul di tempat yang merupakan halaman rumah orang lain. Jika kita memaksa mengambil Pokemon itu, tentu kita harus melewati halaman rumah orang lain, tentu itu melanggar norma kesopanan apabila kita lewat tanpa permisi.
 
4. Bisa berurusan dengan polisi
 
Nomor 4 ini sudah terjadi di Solo. Di internet, jauh sebelum Pokemon Go rilis, sudah banyak meme yang menggambarkan bagaimana.Zapdos muncul di power plant, atau Moltres muncul di gunung berapi, intinya, ada beberapa Pokemon langka yang muncul di tempat ‘terlarang’. Ternyata ini sudah terjadi di Indonesia. Tadi, teman saya memberikan screenshot post facebook yang berisi tentang curhatan user Pokemon Go yang berurusan dengan polisi. Dalam post itu, si user tidak sengaja menemukan Pokemon di dekat pos polisi, lalu mencoba menangkapnya. Ia tidak tahu bahwa di sekitar situ ada polisi. Mereka pun dikejar dan ditangkap karena dianggap melakukan hal yang mencurigakan. Ini masuk akal, merangsek masuk ke Pos polisi, dan mengambil gambar di kota yang baru saja dihajar bom bunuh diri. Tentunya itu adalah tindakan yang sangat sensitif dan mencurigakan. Jangan lihat dari sisi kita yang mengerti tetek bengek Pokemon Go, tapi lihat dari sisi orang lain yang melihat kita sekedar menyelinap dan mengambil gambar dengan handphone.
 
Sejauh ini, 4 poin inilah sisi negatif yang bisa kita dapat ketika bermain Pokemon Go. Pokemon Go memang sangat menyenangkan, saya sendiri besok pagi rencananya akan main lagi sambil jogging. Tapi tentu harus tetap smart dalam bermain. Jangan lupakan orang lin.
h1

Trivia(s) About Valak

June 19, 2016
conjuring_iqlycp.jpg
I have some trivias Valak’s appearance in Conjuring 2, and I can somewhat compare it with “demonology” in my own country. Basic fact, Valak is a part of 72 demons appeared in the Lesser Key of Solomon, a “guide book” for magicians to perform their rituals. He is one of the Hell’s president who commands 30 legions of demon. He is also the summoner of snakes and serpents. As a president of hell, of course he is a very strong demon, that is why he is depicted as a nun in Conjuring 2. In Christian demonology, the stronger the demon, the more it mimics the Christian aspects, that is why Valak takes a form of a nun, complete with the cross on his neck. This is also happened in other movie. In the legendary movie the Exorcist (1973), the strong demon, Pazuzu is also using cross in an inappropriate way without being burned.
 
Another interesting fact to support this theory is the occult belief of the Witching hour, at 03:00 am. Witching hour is the time for witches and demons to do their stuffs, many bad stuffs happened at those time, it is the inversion of 03:00 the time believed as the time when Jesus died on the cross, a mockery.
 
In islam, there is also this kind of stories. Many times, I heard story about how a santri being possessed, and while being exorcised in islamic way (by reading prayers, especially the Ayat Kursi), the Djinn inside the santri is following the prayers (and ultimately finished it) then laugh at them in mockery. It is indicated that the Djinn possesed the santri is a strong one as it is strong enough to make them recites parts of Qur’an.
 
Interesting comparison between Christian and Islamic demon (syaitan) would be how they depicted in daily modern life, either by movies or myth. In Christian side of the story, it is often be told that demons are the rebels of God. They rebel against God, and condemned to hell. Their rebellion against God and their status as a rebel is more commonly depicted.
 
While in islam, demon/syaitan (and syaitan in form of jinn) are also defecting from God’s order to bow for Adam, which ended up hating Adam’s heir to eternity, swearing to disturb them forever. What they do to mislead human into misery is what often told.
 
Well, I think that’s what I get from Valak’s character. It’s haunting for sure, but I like it so much.
h1

#DejanOut

May 30, 2016

1464579481691

Tentang Dejan, kenapa ada #DejanOut ?

  1. Bagus tidak berarti taktis. Walaupun materi pemain nggak beda jauh, tapi kalau dilihat sebagai sesuatu yang taktis, justru pemain-pemain Persib sekarang dengan Persib pas juara ISL beda jauh. Di kanan misalnya, walaupun di musim terakhir ISL Samsul Arif dan Dias Angga termasuk sayap-sayap jago, tetep nggak bisa nutupin perannya Mang Ridwan sama Mang Pardi yang luar biasa nyambung di situ. Begitu juga dengan tengah, Kim sebenarnya nggak jelek-jelek amat, tapi gaya mainnya sama dengan Mas Har, kecuali butuh main bertahan, pasang keduanya itu asa percuma; nggak ada yang bisa mainin bola ke depan kayak Firman atau Dado. Depan juga, Pugliara bukan tipe Konate. Jujur saya suka Pugliara pas di Persipura, secara teknis dia bagus, tapi gaya mainnya beda sama Konate yang lebih physical.
  2. Dejan plays the Dejan way. Wajar. Semua pelatih juga inginnya main dengan gayanya sendiri. Kalau Mourinho tiba-tiba main Tiki-Taka kan nggak lucu. Nah, Dejan juga ingin main gaya Dejan. Sebenarnya cara main Dejan di PBR ga jelek-jelek amat. Toh mereka masuk ke semi-final kan di ISL terakhir, kalah sama Persib. Tapi gaya main Dejan yang cenderung monoton (serang dari Dias Angga, kalau gagal serang dari sayap kiri depan <Atep/Tantan> sembari udar ider di tengah <putus terus karena ngga ada pengumpan jauh>) tentunya sulit dibandingkan dengan gaya main Persib yang bisa menyerang dari kiri, kanan, maupun tengah. Wajar kalau bobotoh gemes liatnya. Ditambah materi pemain yang berbeda, tentunya sulit untuk tim Persib sekarang untuk main the Dejan’s Way. Selain di dalam lapangan, pun begitu di luar lapangan. Ini bukan menyerang secara personal, tapi bagaimana cara Dejan menangani pers dan bobotoh, berbeda dengan cara Djajang Nurjaman menangani pers dan bobotoh. Djanur selalu kalem, berbicara tanpa emosi, berbeda dengan Dejan yang berapi-api, dan tak segan menyerang balik wartawan yang menyerangnya. Salah satu yang fatal dan sering dikritik oleh para bobotoh adalah ketika ia ditanya mengapa tidak mengganti Kim yang dianggap bermain jelek, Dejan menjawab (yang kurang lebih isinya) “Coba lihat statistik Kim kalau kamu berpikir Kim main jelek (di pertandingan itu)”. Statistik memang penting, apa yang tertulis di kertas memang bersifat absolut, tapi itu tidak begitu saja menjadi indikator bahwa seorang pemain bermain dengan baik. Bisa saja dia melakukan 100 operan dalam 1 pertandingan, tapi semua dioper ke belakang. Kan gimana gitu ya ?
  3. Pemain asing yang asing. Musim lalu, di QNB League, Bobotoh serasa ketiban durian runtuh. Pemain asing yang bagus dipertahankan (Konate dan Vujovic) yang butut dibuang (Djibril) plus didatangkan lagi predator yang sudah tidak asing di Liga Indonesia: Ilija Spasojevic. Saya sendiri bahagia sekali waktu Spaso datang. Sudah kenal dengan kiprahnya di Indonesia, dan yakin langsung nyetel dengan Persib. Benar saja, baru beberapa kali main, Spaso sudah menyumbangkan gol dan assist. Nah, pada musim selanjutnya ini, setelah Konate dan Spaso hengkang, bobotoh diperkenalkan dengan pemain asing yang asing di persepakbolaan Indonesia: Juan Carlos Belencoso. Mungkin hanya segelintir orang Indonesia yang tahu nama ini; agen sepak bola, TKI di Hongkong, dan hipster sepak bola yang mengikuti Liga Hongkong atau Segunda Liga Spanyol sejak lama. Raihan golnya di Kitchee memang terlihat oke, 30 gol dari 39 kali main, setidaknya itu kata laman wikipedia Belencoso. Tapi, raihan gol tidak bisa begitu saja jadi pakem untuk mendatangkan seorang striker, karena harus lihat juga gaya bermainnya, karena bisa saja dari 30 gol itu, 10 dari 30-nya dicetak hanya dalam 3 pertandingan lawan tim lemah misalnya, berarti 20 gol lagi dari 36 pertandingan, jadi less impressive kan ? Saya sendiri sampai sekarang belum tahu bagaimana gaya bermain Belencoso, karena beliau seringkali hanya berada di second line, kehilangan bola yang dioper pada temannya, lalu bingung. Pemain asing, bagi penikmat liga Indonesia adalah sesuatu yang paling ditunggu, karena mereka sangat istimewa, kuotanya hanya 5 (2 untuk pemain Asia, 3 untuk lain-lain), harga mereka mahal, dan tentunya kontribusi mereka sangat dinanti. Persib sendiri sudah biasa menjadi korban PHP pemain asing (Dolega, Orlinski, Shahril Ishak, Dzumafo, ah banyak lah), tapi sejak kedatangan Konate, Vujovic, dan Spaso, rasa-rasanya ekspektasi bobotoh terhadap pemain asing yang dikontrak Persib menjadi sangat tinggi, wajar kalau bobotoh kecewa.
  4. #WeAreStillNumberOne. Bagi saya, ini yang menjadi penyakit utama Persib. Masih merasa nomor satu. Wajar. Kalau ditanya, siapa jawara terakhir Liga Indonesia (yang berjalan sampai habis) ? Ya jelas Persib lah. Nggak usah ditanya. Euforia itu belum selesai. Euforia mematikan jalanan Bandung yang luar biasa orgasmik (saya ikut larut juga), belum hilang sampai sekarang. Inilah yang membuat Bobotoh menuntut lebih dari Persib. Sekali lagi saya katakan, wajar. Bobotoh pasti ingin larut kembali dalam euforia juara yang gila itu. Saya pun demikian. Maka dari itu, ketika Persib memble seperti sekarang, wajarlah kalau sampai muncul #DejanOut.

Bagi saya, wajar kalau bobotoh ingin #DejanOut. Saya juga begitu, inginnya #DejanOut (lalu Djajang kembali, beserta beberapa pemain penting yang sudah hengkang, lalu Persib jadi jago lagi). Tapi ya saya sendiri cukup sampai sini. Tidak sampai mendemo atau apalah. Cukup dengan tulisan ini saja, karena saya tahu, kalau #Dejan(sudah)Out pun, tidak banyak yang bisa diperbuat oleh Persib, karena Djajang Nurjaman masih di Italia, sayang rasanya kalau dia disuruh pulang, dan mengontrak pelatih baru pun menambah resiko karena dapat memperburuk tim. Ditambah transfer window yang masih sangat jauh.

h1

Jarak

May 3, 2016

Seberapa panjang jalan teruntai ?

Jalan yang tak bisa berjalan

Terdiam di sana, terkulai

 

Apa yang bisa jalan lakukan ?

Tak banyak, ia memperlebar jarak

Ia hadir sebagai pemisah

Ia memisah temu dan rindu

Ia memisah ketik dan peluk

Ia memisah aku dan kamu

 

Jarak itu ada.

Tak besar memang,

Tak sampai terkejar malam,

Namun ia ada untuk memisah

 

 

Memisah tangan yang tak bisa saling menyentuh

Memisah insan yang saling merindu.

h1

Sudut Jakarta

April 20, 2016

Nasib berputar, pun matahari yang menerangi hari

Si keparat melarat yang lupa bayar hutang pada si bangsat

Istri malang yang tak pernah disayang, suami lari dengan seseorang

Hujan yang turun, bak berak yang tak diejan

 

Imajiku menari-nari di sudut Jakarta

Om yang berbelanja untuk si manja yang bermuram durja

Adik yang menangis, ditinggal bapak mati yang mengais-ngais

Akal yang nanar tak henti berputar

 

Matahari lari meninggalkan hari

Si keparat bawa pisau, si bangsat mati terpukau

Istri malang tak perlu disayang, jiwanya sudah melayang

Hujan yang tak turun, kering datang menyamun

 

Imajiku mati di sudut Jakarta

Si manja berduka, Om sudah merenggut si dara

Adik  nyaris mati disiksa rindu berwindu-windu

Akal yang nanar berhenti berputar

 

Aku yang di sini, merangkai cerita semanis madu.

Manis. Tanpa racun. Tanpa susu, telur, atau jahe.

 

Yang di televisi berteriak;

Jangan lupa sama suara saya,

Jangan lupa sama uang saya,

Saya tidak lupa muka bapak,

 

Dijawab dengan teriakan semu;

Diam saja kau di sudut Jakarta.

Suatu hari, kau mati jadi cerita.

h1

I’m Engaged !

April 7, 2016

IMG_1011The title says it all. I’m now engaged. Like I said on my post 2 weeks ago. How do I feel ? Amazing. Having a gold ring on the ring finger simply justify the name of that finger between the middle finger and the pinky finger. My ring finger finally completed it’s status as a ring finger, as it is now ringed. There are so many fascinating facts about rings. The blue ringed octopus is one of the deadliest sea creature, Sonic the Hedgehog can’t live without his rings, Mandarin (Iron man’s nemesis) have 10 rings that made him more powerful than the most powerful man in the world (Tony Stark). That’s how awesome rings are. But on my case, it stands for a better purpose, a better symbol: love and commitment.

Love. Loving is one of the most basic human trait. In loving, you show affection to one thing (or someone), showing that you care about that thing (or someone), treasure it (him/her), make it (him/her) matter. Loving is easy. It is easy to show affection to something(one) you love as simple as saying I love you, it is easy to care about something(one) simply do your best for it (him/her). Simple right ? Well, for some, yes. But for the others, it is not that simple. Loving can be hard. It is hard to love but not be loved. Maybe, one of the hardest thing in the world. Maybe you can say that true love doesn’t mean to have, but seriously, it is hard to live in a constant pain like that. Sometimes losing a battle (loving something/one) is a way to win a war (live a great life).

Commitment. Many people afraid of commitment, and many people made that as a reason of not getting engaged or married (although basically, when someone decided to get engaged, it will (and should) soon become marriage. Engagement is a process that glorifies commitment. Why does commitment should be glorified ? Because it is not something simple. It is complicated. You pick one person, and you commit to spend your life with that one person for your entire life, in your ups and your downs, in your smiles and your frowns. That one person, is going to the one and only person you share everything with. For many people, it is not that simple.

I met my fiance around 2 years ago, in my master’s degree program. She said that I was a jerk back then. I’m a condescending asshole who loves to wear football jersey and doesn’t care about anything(one) around him. Well, I do admit that. The reason ? I hate meeting new people. I hate faking a smile just to get one’s attention. I rarely smile, but I love to laugh. Deep down in my heart, I always feel that I’m a weirdo. I have this kind of mindset that can’t simply go along with most people. For example, I don’t socialize pretty much in the campus, I come, get in class, then I go home. Why is that ? It’s for these logical reason:

  1. I have more time to do my assignments. I don’t really like studying, but writing anything about Japan is fun, and I’m kinda curious what does it feels like to get a high GPA.
  2. I can eat at home. Home cooking is way better than any other cooking. It’s clean, tasty, you get to eat anything you want.
  3. Video games. Because video games.
  4. Power nap. Well, one of the best thing in the world isn’t it ?

At the time, I feel that my fiance (and one other classmate) are the only one that can catch up with my academic thinking style. So if there is a group work, I definitely pick her as my partner. But that is not the only reason that I always pick her as my partner, the other reason is simply because she’s a nice person and it is a great pleasure to talk with her. Finally, we became a very good friend, at the time, I really love her as a friend.

Then, we have our ups and downs together, share it, and we became closer. Until one day, she offers me her companion to eat together, just the two of us, on Sunday. I almost reject that offer, since I really want to write about something, but my gut says not to, rather than writing that something, it is better for me to talk to someone new as a close friend. So, I accept that offer, and we went to our first (unofficial) date. We talked a lot. Shared a lot. She’s surprised when she knows that I am not a bright student on my undergraduate study. At that time, I’m starting to have feelings for her, and finally that feelings blossomed to love when I take that she understands my loneliness. That is the first time ever someone understand that. And boom, I. LOVE. HER.

Not long after that, I confessed to her. She didn’t say yes. She just got out of a bad relationship, and still needs some times to “breath.” That means, she didn’t say no either. Thus, begin the waiting. The waiting wasn’t short. In that waiting time, you can finish a semester in a University. Hahahah (sorry Mbakkkkkk I just can’t help but to write this one). But really, I never think that waiting is bad. I mean, if she gets me waiting, but then disappearing, but then come again, it’s evil. She never do that. She’s just becoming more and more open to me during those time, and I’m perfectly fine to wait in that kind of condition. It simply proves two things: my commitment, and her commitment.

Of course I show my commitment by keeping her close, and she keeps her commitment by opening up to me. In the end, the commitment was sealed by a “yes, I want to try to get into a relationship with you, we don’t know if we don’t try, right ?” Well, those long waiting period was a trial for me, the trial of “if we don’t try”, those waiting times are my “tries.” It doesn’t always go smoothly, but, one or two silly mistake won’t change how I feel about her, I mean, come on. Maybe there are some people who call her cruel for letting me wait that long, but to be honest, that waiting means so much to me, and to us. We got tested by that, and that is good, up to the point after she says yes, I’m pretty sure that our relationship will go into a very serious direction (and I feel that she is sharing the same feeling). In those waiting time, love grows bigger and bigger and bigger and bigger.

After that wait, we went as a couple for some months. Many people will say that it is short. But I never think so, including those waiting times, we’ve been toghether long enough to know each other well.

Why do we decided to get engaged ? Well, we’ve known each other so much, we’ve known each other family, and we sure that we can and we WANT to live our life together, forever. We want to love and commit each other with this engagement. So then we’re engaged. Why not getting married ? Trust us, we DO want to get married ASAP, but you can’t always get what you want. Marriage is not that simple. We need to fortify our lives first, and then we can get married.

In the end, when you find a true love, it is easy to love and commit that love to that one person. People represents love with heart. We only have one heart. To be able to love fully with that one heart is a gift. You don’t have to share that heart with anyone else. You just simply need to commit your heart to that one person. For me, that one person is Fatia Nurizky. Everyday I woke up, I thank God that I’m still alive, then look at the ring on my finger, and again, saying thank to God that I am able to fall in love again with her. It is God given present to be able to wake up and fall in love with the same person, over, and over, and over, and forever.

IMG_1031

 

 

 

h1

March 26, 2016

We’re officially engaged !! Yaaayy !! 💍💍💑 – with Fatia

View on Path