Archive for September, 2014

h1

Escape Routes

September 30, 2014

It is always the uneasiness that made us wanted to escape. It is never the pain, no. Being painful is good sometimes. When you stretch your body, it painfully cracks, but it feels good. It is always the uneasiness. It doesn’t have to be the pain, if it is, it is pain that gives uneasiness. Sometimes, we just want to escape from everything. So, we escape through our imagination. But it is not always ended up good, sometimes, the imagination takes over the reality. Which is sucks. Because it is not real. It can’t be felt. It can never be felt. It is fake. Fake stuff never felt good. Because it is not what it is. It is not what it seems. So does imagination. We can imagine anything. We can be the knight riding a dragon, we can be the pilot of giant robot that prevents the alien from destroying the earth, or we can be the destroyer of the earth itself, but we’re not. And then, sometimes we go to the past too. When we go to the past, we can always filter what we want to see. Just the good memories of course. Anything good never give an uneasiness. Good memories spawns laughters, happy tears, the feel of longing. It is all good. But still, it is not real. It WAS real. But it IS not. We can’t simply make the past represent the reality. What real is now. Escaping to the past, hoping that it will replace the present, the current now, is moot. You can never do that. The past can’t be felt. It can only be called up by our memories. It is just an image of what was. It is not what it IS. Another escape route would be the future. True that we can build it. In fact, we are building the future. But it hasn’t come yet. So, it is not real. It is GOING to be real, but it is not right now. It’s never real, but it MIGHT ever real. You can imagine the future anyway you want, but it is not going to be happened that way. What we build in the present intersect with others. That is why the future is never ours. It is a collection of what every human on earth build. It builds on top of another. What we see later on, is what we build and what others build. Building a future is like building a build that you want, but will end up abruptly.  You might see windows coming out of the water closet, or a door with no handle, or maybe a bookcase on the roof. We will never know until we are there. If you want to build a perfect building, it means you have to scoff off other people who want to build it too, which is highly unlikely,  unethical, and stupid. Then, all escape route are blocked. There is one more route. This one, I don’t want to tell. It is too dark and full of uncertainty. One can guarantee it from the celestial voice, but one can’t prove it, yet. It might be the most fearful escape route for some people. Fear comes from something that you don’t know nor understand. You can never know this one. You know you can believe it , it called faith by the way, but you know that you can’t just simply prove it by believing it. It is very wise to know and understand that you don’t and might never know.

So, Which one do you prefer ?

Imagination that is NOT real.

The past that WAS.

The future that MIGHT.

Or that LAST one ?

Advertisements
h1

Kutukan Kucing Hitam

September 18, 2014

Kutukan Kucing Hitam

Hari itu, sepertinya akan menjadi hari yang biasa saja. Saya datang ke kampus untuk kuliah. Setelahnya pulang, membaca buku, dan tertidur. Tapi Tuhan berkata lain. Hari ini ternyata istimewa. Perjalanan dari rumah ke kampus saya tempuh dalam jangka sebentar saja, kalau menghitung dengan playlist  di mobil, hanya habis setengahnya. Setelah saya coba periksa lagi di laptop, ternyata satu playlist itu 1 jam 15 menit. Berarti, setengah dari playlist sekitar 32 setegah menit. Ya, lumayan lah, setidaknya saya tidak tua di jalan, seperti apa yang dimitoskan oleh banyak orang terkait dengan kota ini. Kota Jakarta. Oh iya, saya baru di sini. Baru tiga bulan saja.

Sesampainya di kampus, saya langsung masuk ke kelas, tempat biasa saya kuliah. Kampusnya luas, seperti kampus saya dulu, dan sama-sama berada di pinggiran kota. Enak sih, lebih adem dan nyaman. Oh, mungkin gara-gara ini juga ya saya bebas macet ? Karena saya ada di pinggiran. Oh iya, sekarang saya berkuliah mengambil program master di sini. Kalau-kalau ada yang bingung kenapa ada ‘kampus saya dulu’ dan ‘kampus saya (sekarang)’, bukan kok, bukan drop out. Di kelas, sudah ada satu orang teman yang menunggu. Seorang perempuan, anaknya baik. Berperawakan kurus tinggi, kalau berbicara cepat, tapi sopan, walaupun adakalanya berbicara seperti orang kesurupan. Teman mengobrol musik dan berbagai macam hal yang berbau ‘budaya populer’. Kami mengobrol santai seperti biasa, sambil menunggu dosen datang. Membicarakan kakak kelas yang menyebalkan (serius, sampai kuliah master pun, kakak kelas yang menyebalkan akan selalu ada dan hidup di sana, di pojokan hati yang dipenuhi dengki. Iiih), atau lagu baru band kesukaan kami, kadang-kadang sedikit curhat kisah cinta. Cerita dia rame, cerita saya nggak.

Tak lama kami mengobrol, tiba-tiba pintu terbuka. Saya kira dosen, ternyata bukan, ternyata teman sekelas yang lain. Perempuan juga. Anaknya baik juga, hobinya makan. Pipinya tembem, badannya tidak terlalu tinggi, tapi tidak terlalu pendek juga, selalu tersenyum. Hidupnya sepertinya sangat lurus, karena kalau saya coba ganggu dia dengan candaan-candaan aneh,  biasanya dia tanggapi dengan serius. Dia duduk di sebelah teman saya yang sebelumnya. Ah, belum kenalan yah ? Nama saya Bagus. Ini bukan kelewat percaya diri, tapi nama saya memang Bagus. Bagus Nugraha. Lalu teman saya yang saya ajak bergosip tentang kakak kelas tadi namanya Fetti. Lalu, yang baru datang tadi, namanya Ayu. Masih ada dua lagi sebenarnya teman sekelas kami, namanya Selmi dan Hasni, tapi keduanya belum datang. Mungkin telat.

Obrolan kembali panas tentang kakak kelas yang menyebalkan, ketika tiba-tiba Hasni dan Selmi datang dengan menggebrak pintu. Mengagetkan. Mereka datang dengan tergopoh-gopoh, Hasni berteriak-teriak “WADUH NYARIS TELAT ! LO SIH SEL PAKE NGURUSIN KUCING ITEM SEGALA !”.  “Ya maaf Mbak Hasni, kan kasihan tadi kucingnya kakinya tersangkut di besi gorong-gorong, dosennya belum datang juga” kata Selmi dengan kalem. Hasni orangnya tinggi, dan suka berbicara dengan suara keras. Mungkin karena dia –sebenarnya say kurang suka mitos seperti ini, tapi yaaa- ‘orang seberang’, sedangkan Selmi orangnya kecil, dan sangat sopan, sepertinya bukan tipe pencari masalah. Sepertinya ? Iya, saya baru kenal 3 bulan. Jadi ya, saya belum kenal sepenuhnya, lagi pula saya jarang mengobrol. Eh tetapi, bukannya semua orang begitu ya ? Semua sepertinya baik, atau sepertinya jahat, tidak ada yang benar-benar baik atau jahat, kita tidak akan pernah tahu manusia sepenuhnya sampai ia meninggal. Karena manusia bisa berubah dalam satu detik saja. Eh kok, jadi ngelantur ? Mungkin saya kebanyakan berpikir.

Menanggapi percakapan Hasni dan Selmi yang sepertinya sarat emosi, saya bertanya “emang lo berdua kenapa di jalan ?” “ini nih, si Selmi, tadi ada kucing nyangkut kakinya di besi gorong-gorong, terus dia heboh nolongin gitu, hampir aja telat kan ! untung dosennya belum….” belum selesai Hasni berbicara, tiba-tiba “selamat pagi, saudara-saudari”.

Dosen mata kuliah hari ini sudah ada di depan pintu. Dosen itu lalu masuk dan mulai menyalakan laptopnya untuk kuliah hari ini. Namanya Bapak Johannes, rambutnya sudah mulai menipis, berjenggot lebat dan berkacamata, saya seperti melihat Professor Dumbledore tanpa topi dan jubah sihirnya. Beliau selalu mengenakan pakaian yang sama setiap mengajar. Kemeja putih lengan pendek dengan motif garis-garis. Katanya, ia punya 10 baju yang sama persis. Agar seperti identitas katanya. Saya sendiri kalau masuk ke kelas beliau, selalu mengenakan baju yang sama, baju tim sepak bola kesukaan saya, Everton. Bajunya berwarna biru dan berkerah, sehinga cocok digunakan untuk kuliah. Oh iya, kembali ke pak Johannes, beliau mengajar teori tentang kebudayaan. Menarik sih, tapi isinya sama seperti bimbingan saya dua tahun yang lalu di kampus yang lama. Jadi ya, bagi saya sih seperti angin lewat saja. Ya sudah deh, berhubung beliau sudah datang dan mau mengajar,  dan saya sudah bayar, saya dengarkan saja sambil nyeletuk-nyeletuk pintar. Eh iya, orang-orang ini tidak perlu diingat juga sih, karena tidak ada signifikansinya dalam cerita ini.

Waktu tidak terasa sudah menunjukkan pukul 11 siang. Waktunya kuliah usai. Seperti biasa, kelas kami diberikan tugas untuk menulis suatu artikel ilmiah. Pendek saja, tidak lebih dari 1000 kata. Bagi saya sih mudah, di kampus saya dulu, setiap minggu harus membuat paper critical review terhadap artikel ilmiah, biasanya minimal 15 halaman.  Dengan segala syarat yang luar biasa rumit, dengan kaidah akademis yang benar. Tiap minggu. TI-AP MING-GU. Ah, saya selalu emosi kalau berbicara tentang masa lalu yang satu itu. Sudahlah.  Masa lalu cukup dikenang, dan dibicarakan, tapi tidak patut diemosikan. Apa pula itu diemosikan ? Yah, begitu lah.

Jam 11 siang. Saya baru ada kuliah lagi pukul 18.00 sore hari. Jadi, saya memutuskan untuk menghabiskan setengah playlist lagi dalam perjalanan ke rumah. Lumayan loh kalau pulang dulu, bisa tidur barang 1-2 jam, bisa makan siang di rumah. Hemat deh. Dalam perjalanan (dengan kaki tentunya) ke luar, saya bertemu kucing hitam yang kakinya agak terluka. “ah, ini kucing yang ditolong Selmi tadi ya ?” saya pikir. Saya coba elus kucing itu, ternyata ia balas mencakar. Kucing brengsek. Untung refleks saya cukup baik, hasil bertahun-tahun bermain video game. “eh, cing, gue ga ada urusan sama lo lagi ye !” begitu hardik saya. Pastinya si kucing tidak mengerti, dan orang lain –kalau ada yang lihat, pasti bingung. Kucing kok diajak berantem. Tapi ya begitulah saya. Saya kadang percaya kalau binatang, atau tanaman, atau bahkan benda bisa diajak bicara. Karena itu mobil saya saya beri nama. Namanya Chopz. Dia adalah VW Kodok tua berwarna merah. Saya sangat sayang sama si Chopz ini. Namanya diambil dari Chopper, karakter dari anime One Piece, karena bulat-bulatnya mirip. Yang kasih nama, orang yang selama ini saya kagumi. Namanya Ioula. Lucu ya ? Sama seperti senyumnya. Bukan lucu yang membuat tertawa, tetapi lucu yang bikin meleleh. Ah, saya jatuh cinta sebenarnya sama dia. Sudah bukan kagum lagi sih. Eh, oke, sampai ke si Chopz.

Dalam perjalanan ke rumah, saya memutar sisa playlist tadi. Playlist nya agak aneh sih, AKB48, saya kan cowok, tetapi saya mendengarkan lagu-lagu AKB48. Ah, tidak masalah bagi saya sih. Saya punya 1001 alasan, baik akademis atau untuk sekedar mengelak. Saya menyetir sendirian. Karena sepertinya akan agak canggung apabila saya membawa teman-teman saya ke rumah, di mana saya tinggal sendiri, dan mereka perempuan, saya laki-laki sendiri. Saya sendiri paling senang dengan perjalanan menyetir sendirian. Banyak yang bisa dilakukan selain fokus kepada jalanan dan memaki pengemudi lain yang bodohnya kelewatan. Berpikir misalnya. Sambil diiringi lagu AKB48, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang saya pikirkan. Saya memang begitu, bisa memecah konsentrasi antara apa yang didengar, dan apa yang dipikirkan. Di perjalanan, banyak pengemudi motor dan mobil yang mengemudi seenaknya. Saling memotong lajur, berbelok tanpa lampu sen, menyusul dari kiri, dan masih banyak kegilaan lainnya. Sebenarnya saya lelah. Tapi baru 3 bulan saya hidup di sini. Saya lelah, tapi saya tidak lemah, jadi saya tidak menyerah. Kalau ditanya kangen kampung halaman, tentu saja kangen. Tempatnya sejuk. Terus ada Ioula juga. Walaupun jarang bertemu, tapi sekalinya bertemu, Ioula slealu berhasil membuat jantung saya seperti dihajar oleh Akira Jimbo, drummer dari grup musik Casiopea. Tuh, saya membicarakan Ioula lagi. Memang sulit yah kalau sudah suka, tapi ya memang dia juga yang saya pikirkan sepanjang jalan. Pertanyaan yang selalu muncul di benak saya: “nanti malam ngobrol apa ya ? Kemarin kan sudah ngobrol ini, dan itu, nanti malam dia makan nasi goreng –makanan favorit dia sebagai anak kos, nggak ya ? Dia di kosan, atau di rumahnya ya ?” dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Termasuk, yang agak pedih, “ada laki-laki lain yang deketin dia juga nggak yah ?”. Ketika saya kembali fokus ke jalan, ternyata saya sudah di belokan terakhir mau sampai rumah, dan playlist pun menunjukkan lagu ke 16 dari 17. Ternyata saya cukup cepat kali ini.

Turun dari mobil, saya langsung masuk ke rumah, lalu menghangatkan makanan yang sudah saya siapkan dari malam. Oh iya, rumah saya sebenarnya cukup besar, tadinya ditinggali ayah saya juga, tetapi, ayah saya ternyata harus berpindah dinas, sehingga saya hanya sendiri saja. Sepi sih, tapi saya memang orang yang menikmati sepi. Menu hari ini adalah steak bola daging dengan saus puree tomat dan mozarella, serta kentang panggang ala Bagus. Saya memang suka makan, lalu karena tidak selalu mendapatkan rasa yang memuaskan di restoran, saya memutuskan untuk belajar memasak. Dari internet saja, dari youtube dan situs lainnya. Cukup mudah. Steak bola daging ini adalah daging cincang yang dicampur dengan tepung roti, oregano, keju parmesan, serta garam dan lada. Ditambah lelehan keju mozarella dengan puree tomat, sensasi rasa di lidah saya seperti pizza yang didekonstruksi dengan sedemikian rupa. Kentang panggangnya ? Kentang panggang dengan bubuk paprika, garam, dan timi. Rasanya sederhana, tetapi menyegarkan. Enak.

Selesai makan, saya lalu masuk ke kamar, menyalakan pendingin ruangan, membuka celana panjang dan baju bola, menghamparkannya ke kasur bawah, lalu memasang alarm telepon genggam agar berbunyi pada pukul 16.00, siapa tahu saya tidak sengaja tertidur, saya harus bangun pukul 16.00 untuk menghindari rush hour orang-orang yang pulang ke rumahnya di pinggiran kota dari pusat kota. Sebelum naik ke kasur, entah kenapa mata saya tertegun ke rak buku di kamar saya. Ada buku yang berjudul Hyakki Yagyo, atau Parade Malam Para Setan. Ini adalah sebuah konsep di kebudayaan Jepang di mana para hantu Jepang berparade di malam musim panas. Bukunya sendiri bercerita tentang berbagai macam hantu yang ada di dalam parade itu. Saya lalu duduk di kasur kamar yang berwarna cokelat, yang sudah lama tidak dicuci. Bau, tapi enak. Saya menyalakan laptop, hanya sekedar untuk memutar musik untuk menjadi teman membaca. Lagi, AKB48. Sambil mencoba keberuntungan saya juga mengirimkan pesan pendek pada Ioula. Pembicaraan tidak jelas sih, tapi saya sangat senang bisa bertukar kabar dengannya.

Saya membuka halaman dengan acak, karena sebenarnya saya sudah selesai membaca buku ini, tetapi entah kenapa, saya tertegun dengan buku ini. Tidak biasanya. Halaman yang saya buka ternyata membahas Nekomata. Nekomata adalah kucing berekor dua. Wujudnya seperti kucing pada umumnya. Berbentuk seperti kucing, tapi ekornya ada dua. Di buku ini, di ujung ekornya digambarkan ada api berwarna biru. Agak seperti ekor Pokemon Charmender. Keren sih. Tapi saya nggak mau juga ketemu sama Nekomata. Konon, dia sangat galak, membawa kematian kepada banyak manusia. Hobinya, membunuh, lalu dihidupkan lagi untuk berdansa dengannya. Kucing Psycho. Tapi saya jadi berpikir juga, kenapa ya, kucing diasosiasikan dengan kematian ? Kalau di Barat, karena diaosiasikan dengan penyihir, yang tentunya jahat dan berdampingan dengan kematian. Kalau di Timur, hmm, mungkin saya harus mencari referensi lagi. Nanti lah.

Tepat setelah membaca halaman itu, entah kenapa saya langsung sangat mengantuk. Saya mematikan laptop, lalu mencoba untuk memejamkan mata. Namun, entah kenapa, yang ada di kepala saya adalah kucing hitam di kampus tadi. Pertanyaan saya, apa kucing itu berekor dua seperti Nekomata ? Kalau iya, seram juga, tapi ah, nggak tahu deh, mungkin saja nanti bertemu lagi. Tidur saja dulu. Mata sudah terpejam, tetapi kesadaran saya tidak kunjung hilang. Masih terngiang kucing tadi. Kenapa ya ? Biasanya saya susah tidur kalau lagi memikirkan Ioula, tapi ini karena memikirkan kucing yang tidak jelas. Bagaimana kalau ternyata kucing itu Nekomata ? Terus dia dendam sama saya karena saya coba ganggu dia ? Rak buku yang ada di hadapan saya makin menggelap, lalu menghilang. Saya masuk ke alam mimpi.

Alam mimpi. Salah satu tempat yang paling saya suka di dunia. Saya bisa berbuat apa saja di sini. Ketika mau mati dimakan zombie, saya tinggal berimajinasi mengeluarkan senjata canggih, lalu membunuh zombie itu. Kalau tidak bisa, ya saya coba bangun. Seringnya berhasil, walaupun sudahnya berkeringat dan jantung berdebar. Menegangkan (Hei ! bukan menegangkan, mungkin itu penyakit, coba cek ke dokter). Mimpi kali ini set-nya unik. Sebuah kuil di Jepang. Entah kenapa. Mungkin karena tadi pas belajar teori kebudayaan Pak Johannes sedikit membahas Kuil Yasukuni ? Entahlah. Saya coba jalani saja. Saya berjalan menapaki tangga kuil yang sangat terjal, mungkin ada 100 ribu anak tangga, tapi tidak perlu saya risaukan, toh ini mimpi, lalu tiba-tiba ada sesosok hitam melewat ke depan saya dengan kencang, saya kaget dan nyaris terjatuh. Kalau terjatuh dari tangga itu saya PASTI mati. PASTI. Karena tangganya tinggi. Sebentar, koreksi. Tidak PASTI sih, karena ini mimpi, tapi seandainya ini di dunia nyata, saya pasti mati. Ternyata sosok hitam tadi adalah kucing. Kucing hitam yang di kampus tadi. Apakah ekornya dua ? Itu yang pertama saya pikirkan. Ternyata tidak. Ekornya satu, bulu-bulunya bagus, seperti kucing mahal. Tubuhnya seluruhnya berwarna hitam sempurna, tidak ada warna lain kecuali matanya kuning.

Kucing ini melihat dengan tajam ke arah saya. Ia tiba-tiba berdiri lalu membuka mulutnya. Saat otak saya menduga ia akan berbunyi meong, ternyata ia berbunyi guk-guk. Saya kaget bukan main. Tapi saya berusaha tenang, karena saya tahu ini mimpi, dan mimpi adalah hasil pikiran sendiri. Saya berpikir apa ya sampai ada kucing yang mengguguk ? Kucing itu membuka mulutnya lagi, saya bersiap-siap, kali ini ia tidak mengguguk, tapi berbicara. Berbicara dengan bahasa manusia.  Bahasa Indonesia. “Hahahaha kaget ya Bung ? Kasihan. Mas kira Cuma manusia yang bisa berbicara seperti ini ? Kasihan. Kucing juga bisa Bung !” katanya sambil tertawa. Saya hanya bisa tertegun. Hmm, oke, mungkin ini sisa-sisa imajinasi saya setelah membaca komik MAR Heaven dan melihat Puss in the Boots. Tidak masalah sih, lucu. “Ya kaget sih Cing, tapi kalau dipikir-pikir, ini tidak aneh, namanya juga mimpi” saya jawab dengan tenang. “Mimpi ? Kamu salah Bung, ini bukan mimpi. Ini cara saya berkomunikasi dengan Bung, saya kucing yang mau Bung ganggu tadi”. “Hah ? Nggak mungkin Cing, memangnya kamu dukun ?”. “Bukan dukun Bung, tapi semacam kucing yang punya kekuatan sihir, percaya nggak ?”. “Nggak, saya nggak percaya sihir.” “Pfft… Nggak percaya sihir, cukup sampai hari ini saja ya, nggak percaya sihirnya, tunggu sampai nanti malam. Ingat ya, kalau saya lewat di depan Bung, Bung kasih lewat saja, jangan dihalangi.” Wah, kucing nggak ngerti aturan nih, pikir saya dalam hati. Hati saya berjalan loh dalam mimpi. Sering nggak, kalau kalian tidur, mimpi sedih, pas bangun tiba-tiba ada air mata ? Saya sering. “Oke deh Cing, coba bikin saya percaya nanti”. “hahahahaha, oke Bung, tunggu saja !”. Lalu kucing itu meneruskan perjalanannya, masuk ke semak-semak di samping tangga. Saya meneruskan naik tangga tadi. Seperti orang bodoh saja sih, tapi yah, jalani saja skenario mimpi ini.

Lalu tak lama setelah itu, saya tiba-tiba mendengar suara lagu ‘Black Joke’ dari Casiopea, kencang sekali. Wah, kuil gaul, saya pikir. Ternyata bukan, ternyata telepon genggam saya berbunyi, dan saya kembali di kamar. Nomornya muncul di layar, tapi tidak saya kenal. Ketika diangkat, suara di seberang telepon berkata “Perkenalkan, saya Edi Purwanto manajer humas dari Telkomsel. SELAMAT ! ANDA MENANG UNDIAN TADI MALAM DI INDOSIAR PAK !”. Oh, penipuan. Saya ladeni saja. “WAH !? YA AMPUN, SYUKURLAH ! TERUS SAYA DAPAT APA PAK ?”. “Anda mendapatkan satu unit mobil Toyota All New-Yaris Pak.” Kata suara itu tenang. “Wah Pak, saya ada masalah dengan mobil itu Pak. Terus terang saja. Hadiahnya harus saya tolak.” “memangnya kenapa Pak ?”. “garasi saya sudah penuh”. Sadar mau saya bercandain, teleponnya langsung ditutup. Ah, nggak rame. Saya lihat jam di telepon genggam, wah ternyata sudah pukul 15.56, tepat waktu sekali ini si penipu. Saya bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka, lalu bersiap-siap untuk pergi ke kampus lagi.

Di perjalanan, saya mengganti playlist saya menjadi playlist lagu-lagu barat. Arctic Monkeys, the Who, Pearl Jam, Not Available, dan Dream Theater. Mungkin saya sedang bosan dengan AKB48, jadi saya reflek memasang itu. Ketika lagu Dream Theater memasuki Stream of Consciousness, sebuah lagu instrumental, pikiran saya menjadi lebih bebas, karena saya tidak harus ikut bernyanyi. Tiba-tiba saja di tengah lamunan saya tentang Ioula, muncul si kucing hitam lagi. Wah, ini benar sih bikin penasaran. Apa benar nanti dia muncul di kampus dan lewat di depan saya ? Lalu kalau iya bagaimana ? Apa memang dia bisa sihir ? Kalau iya, saya harus percaya sihir ? Wah, ribet juga. Di tengah pikiran yang berkecamuk itu, tidak terasa saya sudah memasuki gerbang kampus. Saya mengambil karcis masuk seperti biasa. Kampus ini kalau mau dimasuki harus bayar 2 ribu rupiah. Tapi parkir bebas, tidak terkena tarif lainnya. Enak juga sih. Tidak seperti di kampus lama yang sistem tarifnya seperti di mall. 2 jam pertama 2 ribu, per-jam berikutnya ditambah seribu.

Tidak penting, sih, tapi tiba-tiba saya sudah ada di depan Fakultas. Portalnya ditutup. Saya paling benci situasi seperti ini, karena ini kampus saya, saya sudah bayar, dan hak saya menggunakan fasilitasnya, termasuk lahan parkir. Ada satpam yang mendekat, lalu menanyakan keperluan saya, saya bilang saja saya ada kuliah sore ini sampai malam, sambil bertanya kenapa harus ditutup ? Ternyata karena ada kegiatan syuting sinetron. Saya boleh sih masuk, karena saya kuliah di sini, tapi ya tetap saja menyebalkan. Mau mengambil hak harus ditanya-tanya. Memasuki tempat parkir, terlihatlah sosok-sosok pelaku akting di layar kaca. Rasa menjijikan juga harus menyebut mereka pelaku akting. Akting orang-orang ini sangatlah buruk. Terlihat aktingnya. Benar-benar palsu. Mengutip kata Ioula di blog-nya, “mereka Cuma boneka sutradara, kadang bagus, seringnya jelek. Mereka bukan aneka dara elok yang enak dilihat.Mereka tidak lebih bagus dari sekumpulan bebek”. Begitu katanya. Melewati di depan mereka, mereka malah berlagak menghalangi di depan mobil saya, yang laki-laki, perempuannya di belakangnya menertawakan ‘aksi konyol’ monyet-monyet tolol ini. Sebenarnya bisa saja (bukan hanya ‘bisa saja’ sebenarnya, sudah ada sedikit niat dan harap) saya tancap gas, lalu bilang “maaf, salah injak”, tapi saya takut dipenjara.

Akhirnya saya parkir lalu memasuki kampus yang sudah menjadi set sinetron. Banyak sekali lampu besar untuk keperluan syuting. Lalu ada set-set yang terbuat dari triplek besar, sepertinya mau dibuat kamar, tapi ya begitulah, jelek sekali. Ketika saya masuk area gedung kampus, bau rokok. Padahal di kampus dilarang merokok. Ternyata kru-kru sinetron ini pada merokok. Kurang ajar. Pendatang, tapi berani-beraninya mengotori kampus, untuk menegur, saya malas, sudah tidak ada Pak Satpam, kalau ada ‘apa-apa’ nanti saya masuk koran. ‘MAHASISWA S2 UNIVERSITAS INDONESIA DIPUKULI OLEH KRU SYUTING SINETRON, KRITIS DI RUMAH SAKIT MITRA KELUARGA’. Kan nggak lucu kalau seperti itu. Saya lalu menuju kelas, ternyata teman sekelas saya sudah ada semua di sana. Seperti biasa,  Fetti langsung menyapa saya “lo pasti kesel deh sama kru sinetron tadi ? gue juga soalnya, mobil gue ditempel-tempelin tripleks masa”. Ternyata mobil Fetti diusili oleh mereka karena parkirnya ‘mengganggu proses pengambilan gambar’. Tai kucing kalau kata saya. Tapi ya sudahlah, toh mobilnya tidak diapa-apakan lagi, dan masih tetap bersih.

Tak lama setelah saya duduk di kelas, dosen masuk. Kali ini dosennya Pak Sudin. Beliau belum terlalu tua, mungkin umurnya sekitar 50an. Paruh baya. Perawakannya gemuk, dan selalu menyeringai, menyeringai lucu sih. Lucu yang bikin tertawa tapi ya, bukan meleleh, seperti, iya iya, Ioula. Bapak ini selalu berbaju batik, dan bergaya parlente. Sepertinya mantan pejabat atau pengusaha, tetapi ketika saya google namanya, tidak muncul hal yang berkaitan. Tapi beliau baik, mengajarnya juga enak. Beliau mengajar mata kuliah Budaya Korporasi. Menyenangkan sih, membuka wawasan saya tentang bisnis dan kewirausahaan. Dua bidang yang saya kurang minati. Tapi ini penting, karena akan membentuk kompetensi saya dalam menghadapi perusahaan-perusahaan Jepang. Oh, saya belum cerita saya kuliah apa ya ? Saya kuliah di Universitas Indonesia, dengan spesialisasi Kajian Wilayah Jepang. Isinya bagaimana ? Ya, intinya mempelajari negara Jepang dari berbagai macam sisi. Menarik loh.

Seperti biasa, kelas berjalanan stagnan, dan saya hanya nyeletuk-nyeletuk pintar saja. Sekali sih nyeletuk bego. Ketika Selmi membahas tentang penemu Ajinomoto, yang kebetulan fotonya dengan stelan seperti pejabat di jaman Meiji. Saya lalu mengaitkan sosok itu dengan salah seorang karakter yang dibunuh oleh Shishio Makoto dalam film Rurouni Kenshin. Ketika foto penemu Ajinomoto itu muncul dalam presentasi, saya reflek berkata “matinya dibunuh Shishio nih !” kebetulan Pak Sudin sedang keluar kelas, dan teman-teman saya tertawa. Saya sendiri tertawa karena bagi saya itu terdengar bodoh. Iya, saya memang sering mengatakan sesuatu yang bahkan oleh saya sendiri saya anggap bodoh. Tapi ya sudahlah.

Kucing. Tiba-tiba saja terlintas. Oh iya, kucing. Si Kucing. Tadi tidak ada di sepanjang jalan. Ke mana dia ya ? Apa mungkin munculnya setelah kelas berakhir ? Atau itu memang Cuma mimpi saja ? Itu Cuma imajinasi terpendam saja ? Hah, entah lah. Banyak sekali yang saya pikirkan tentang si Kucing ini, waktu terbuang tidak terasa. Tiba-tiba malam sudah tiba. Jam sudah menunjukkan pukul 20.30. Dosen segera membubarkan kelas, dan tibalah waktunya pulang. Teman-teman saya yang lain memutuskan untuk tinggal di kelas sebentar, ada yang mau didiskusikan katanya, untuk mata kuliah besok yang tidak saya ambil. Ya sudah, saya pulang duluan, sendirian. Ketika melewati bagian kampus yang jadi set sinetron, bulu kuduk saya tiba-tiba merinding. “aduh, ada apa ya ?” pikir saya dalam hati. Tiba-tiba muncullah sosok yang sudah saya nantikan dari tadi. Kucing hitam. Si kucing hitam. Tadinya mau saya cegat, tapi saya ingat “biarkan saya lewat di depan anda Bung !” mungkin kata-katanya tidak tepat seperti itu, tapi ya, ya sudah lah yah. Kucing itu melewat dengan pelan di depan saya, saya tunggu dan lihat, setelah lewat, ia tiba-tiba melesat. Sangat kencang seperti kilat.

Ternyata ia memasuki area set sinetron yang banyak tripleksnya. Salah satu artis wanitanya tiba-tiba berteriak karena kaget. Saking kagetnya, tangannya reflek bergerak kencang dan menabrak tripleks yang jadi bagian dari set itu. Tripleks itu besar sekali. Sepertinya sangat berat, mungkin sebesar pintu. Tetapi, bidang penahan tripleks itu sangatlah kecil, mungkin hanya setebal 10 cm, jadi tersenggol sedikit saja tidak seimbang dan bisa langsung jatu. Ternyata benar, tripleksnya jatuh dengan sangat cepat, ternyata memang berat, dan menghantam kepala salah satu artis laki-laki di situ. GUBRAKKKK. Kencang sekali bunyinya. Entah kenapa saya yang sudah kesal dengan orang-orang ini, reflek berteriak “LEBOK TAH !!” yang dalam bahasa daerah saya kurang lebih “MAKAN TUH !!!”. Ternyata, kata-kata saya ini kurang tepat. Karena kondisinya sekarang menegangkan. Artis itu tergeletak tak bergerak di bawah tripleks. Ada darah segar mengucur di bawahnya. Para kru terlihat sangat panik, karena si artis tidak bergerak. Wah, gawat.  Saya bilang. Saya tadinya mau menawarkan bantuan, tapi karena mereka memang mengganggu dan ada banyak orang juga, saya mengurungkan niat saya.

Lalu saya memutuskan untuk makan di restoran Jepang di dekat kampus. Kampus ini canggih loh, ada coffee shop, restoran Sunda, restoran seafood, hingga restoran Jepang. Kebetulan yang restoran Jepang ada di sebelah kampus saya, dan kebetulan juga belum tutup. Saya memutuskan untuk makan malam di sana, sendirian saja. Sambil baca-baca buku tentang Idol di Jepang. Buat Thesis. Saya memesan satu paket sushi, satu porsi okonomiyaki dan segelas ocha hangat. Nikmat sekali.  Sambil makan, saya lalu mulai kepikiran tentang si kucing. Kalau kucing tadi saya halangi, artis tadi tidak akan ketimpa tripleks. Hmm, ya nggak apa-apa sih ketimpa juga. Biar tahu rasa gitu. Tapi kalau sampai berdarah gitu,agaknya sadis juga sih. Tapi saya jadi kepikiran juga, apa itu yang dimaksud sihir oleh si kucing ? Ah, kalau sekali, itu hanya kebetulan. Pasti kebetulan deh. Tak terasa, ternyata saya menghabiskan waktu 1 jam untuk makan, mungkin karena sambil membaca, saya sadar karena restoran mulai ditutup. Ini sudah pukul 21.40.

Baiklah, waktunya pulang, sambil berjalan ke parkiran, saya mengeluarkan telepon genggam, mau mengabari Ioula bahwa saya sudah mau pulang. Tapi percuma sih, jam segini biasanya Ioula sudah tidur. Ya sudahlah, buka twitter saja. Saya kaget bukan main ketika salah satu portal berita yang saya ikuti cuitannya menurunkan laman muka yang berbunyi: TERTIMPA TRIPLEKS, ARTIS JONATHAN SUNARTO TEWAS DI TEMPAT SYUTING. Saya kaget bukan main. Mungkin kalau berita biasa, saya akan tertawa kecil, karena sepertinya agak-agak komikal juga tewas tertimpa tripleks. Ternyata, itu memang apa yang saya lihat barusan. Saya tercengang oleh dua hal: pertama, tentang bagaimana cepatnya berita digital turun, dan yang kedua, orang yang tadi saya sumpahi ternyata tewas mengenaskan. Mencenangkan. Masuk ke dalam mobil, saya kembali kepikiran si kucing lagi. Apa ini bentuk sihirnya ? Menjadikan niat buruk saya menjadi nyata ? Hmm, bukan, ini kebetulan, atau karma, ya antara itu lah. Saya sendiri tidak percaya karma sebagai karma seutuhnya. Tetapi, apabila orang berbuat jahat atau tidak menyenangkan, pastilah suatu saat  kena batunya. Seperti saya barusan, menyumpahi orang tewas, lalu orangnya benar-benar tewas. Ada sedikit perasaan bersalah di situ. Itu ‘karma’ saya. Tapi ya ‘karma’ orang itu juga ada, mungkin dia besar kepala, sehingga kepalanya harus dipukul dengan tripleks agar tidak besar lagi. Tapi ya, nggak sampai mati juga sih. Ya sudah deh.

Saya lalu memulai perjalanan ke rumah. Saya mulai memasang lagu, playlist kembali ke AKB48 lagi. Entah kenapa, sudah kangen, padahal baru hanya sekali jalan. Ketika sudah setengah perjalanan, tetap saja saya teringat si kucing tadi. Mungkin perasaan bersalah kali ya, karena menyumpahi si artis tadi. Jalanan gelap dan kosong. Namun tiba-tiba, ada sebuah motor yang berknalpot berisik, mengebut, menyusul saya dari kanan, dari tempat yang sangat sempit. Lampu motornya tidak menyala. Saya kaget bukan main, saya reflek bunyikan klakson, ia hanya menoleh ke belakang lalu tancap gas. Dalam hati, kembali saya mengumpat. SEMOGA. LEKAS. MATI. Orang yang seperti itu selalu meresahkan. Mengganggu kenyamanan, dan membahayakan orang lain. Saya tidak mengerti apa yang ada di pikiran orang-orang seperti ini. Sepertinya jalan hanya punya dia, yang dia dapat sebagai warisan dari nenek moyangnya. Ah sudahlah, mengumpat tidak ada gunanya. Lebih baik doakan agar cepat sadar.

Karena jalanan sepi, saya tancap gas, hingga di ujung, sosok motor brengsek itu ada di pinggir jalan, sepertinya motornya mogok. Haha kasihan. Saya lewati dia sambil memberi klakson panjang. Perjalanan pulang (dan pergi juga sih) saya dari kampus ke rumah dan sebaliknya, ditempuh tanpa belokan. Jalanannya lurussssss terussss, sehingga saya sering bisa tancap gas. Tidak perlu belok-belok.  Tak lama, jalanan menyempit, karena ada separator, lebarnya hanya cukup untuk 1 mobil dan 1 motor, itu juga pas-pasan. Saya berjalan dengan agak kencang, 60-70 km per jam. Cukup cepat apabila bukan di jalan tol. Lalu tiba-tiba saya mendengar lagi kegaduhan motor tolol tadi. Ternyata sudah jalan, dan sepertinya mencoba menyusul saya. Ya sudahlah.

Lalu, tiba-tiba sesuatu membuat saya mengerem mendadak. Si pengendara motor tadi, yang ada di belakang saya ikut mengerem, sepertinya hampir terjatuh. Ia lalu menyusul mobil saya, yang belum mulai maju lagi, dari sebelah kanan sambil tancap gas, ia menoleh ke arah saya dan memberi jari tengah. Kurang ajar. Namun, tiba-tiba, dari arah rel kereta, muncul lah mobil melintas, si pengendara motor yang matanya masih tertuju pada saya, tidak melihat mobil itu, dan tabrakan pun tidak terelekan. Ia terpental jauh, lalu jatuh. Saya yakin dia tewas, karena dia tidak pakai helm. Warga langsung bermunculan. Saya pun memutuskan untuk langsung jalan lagi saja, sudah malam, dan sudah lelah. Lagipula, saya tidak ada hubungannya dengan kecelakaan ini. Salah dia yang menoleh ke belakang dan kebut-kebutan. Lalu saya jalan perlahan melewati kedua nya, saya melihat kondisi pengendara motor tadi. Mengenaskan. Tubuhnya tergeletak tak bernyawa, isi kepalanya berceceran. Ini jelas salah sendiri. Tidak memakai helm, tidak pakai  lampu, kebut-kebutan, tidak awas. Wajar ia tewas.

Wajar ? Tunggu. Saya belum cerita alasan saya mengerem mendadak kan ? Kucing. Kucing hitam. Kucing hitam itu lewat lagi. Dua kali, dua kali berturut-turut kucing ini ‘mengabulkan’ ‘permohonan’ saya agar orang lain yah, tewas. Di saat itu juga bulu kuduk saya berdiri. Memikirkannya saja saya seram. Ini bagaimana ? Kok bisa begini. Dua kali berturut-turut jelas bukan kebetulan. Bukan juga mukjizat. Ini berulang. Saya harus bagaimana ?

Pukul 22.03 saya sampai di rumah, saya langsung masuk ke kamar setelah mengunci pintu-pintu rumah. Saya langsung memutuskan untuk tidur. Siapa tahu, siapa tahu ada lagi si kucing itu di dalam mimpi. Sebelum tidur, saya kembali berpikir. Saya menyumpahi dua orang itu tewas. Mungkin mereka hanya dua dari ratusan ribu atau jutaan orang yang tewas di seluruh dunia. Tapi, dua ini juga nyawa. Dua ini juga manusia. Dua ini punya makna bagi orang lain. Bagi orang yang mereka kasihi. Saya malah berpikir untuk menghilangkan nyawa mereka. Wah, saya jahat. Tapi tetap, ini bukan salah saya. Ini takdir. Iya, takdir. Saya selalu bisa menyalahkan takdir ketika ada sesuatu yang terjadi. Ini sudah garisan Tuhan dua orang tadi tewas. Saat sedang berpikir seperti itu, saya pun tertidur dan kembali memasuki alam mimpi.

Kali ini set nya gelap. Gelap saja. Saya berada di dalam kegelapan penuh. Tidak apa-apa. Kecuali sepasang mata kecil berwarna kuning. Saya yakin ini si kucing hitam. Saya diam. Dia diam. Dia hanya melihat ke arah saya. Saya hanya bisa melihat matanya, karena gelap.  Lalu, tak lama, lampu tiba-tiba menyala. Ternyata saya ada di dalam ruangan yang berwarna putih. Dan ternyata benar, itu si kucing hitam. Ia lalu tertawa dan berkata “hahahaha, bagaimana Bung Bagus ? Kaget melihat sihir saya ?”. “sihir bagaimana hey ? Dua orang tewas karena saya kasih kamu lewat !”, “saya bilang juga apa Bung, kan saya bilang mau membuktikan sihir saya”. “nggak begini caranya Cing !”. “Nggak bisa Bung, sihir saya ya memang seperti ini. Saya memutuskan untuk mengutuk Bung dengan sihir ini !”. “mengutuk bagaimana ? apa salah saya hey Cing !”. “salah Bung ? Bung mengganggu saya tadi di kampus bung”. “hah ? Hanya karena itu saja ? Serius kamu Cing !?”. “hahah, panik gitu kamu. Iya, bukan hanya itu saja sih. Karena kelakuan kamu juga yang seringkali mengharapkan orang lain tewas hanya karena hal sepele. Kamu tidak memikirkan apa yang ada dibalik kesepelean itu kan ? Kamu tidak tahu kalau si Jonathan Sunarto itu sedang cari perhatian ke sutradara ? Kamu juga nggak tahu kan kalau si Haris yang tadi tewas naik motor sedang stress karena mau menghadapi Ujian Nasional ?”. “hah, apa urusan saya ?  Silahkan cari perhatian, silahkan stress Ujian Nasional, tapi jangan libatkan orang lain dong ?”. “Tidak bisa. Apapun yang kamu lakukan, pasti ada akibatnya untuk orang lain, bung suka tidak sadar ya ?”. “Kamu ngomong apa sih Cing ?” “suatu saat Bung akan mengerti, maka dari itu, saya beri Bung kutukan ini. Kutukan supaya bung lebih berhati-hati akan apa yang Bung inginkan”. “ha ? Jadi saya nggak boleh lagi ngedumel gitu ?”. “Boleh saja, tapi ketika Bung mengharapkan seseorang tewas, maka tak lama saya akan lewat di depan bung, dan orang yang bung harapkan tewas akan tewas. Itu kutukan untuk Bung. Be careful of what you wish for, bung Bagus”.  “Tapi.. Berarti…” belum selesai saya berbicara, kucing itu tiba-tiba meloncat ke depan wajah saya, terbang “Sudah, waktunya Bung bangun dan pergi kuliah”.

Saya masih tidak percaya dengan mimpi tadi. Ini hanya mimpi, kematian kemarin hanya kebetulan. Titik. Saya memutuskan untuk mandi, lalu berselancar di dunia maya. Membuka situs favorit saya, imgur.com. Melihat kisah-kisah bodoh di r/4chan, sambil menunggu waktu yang tepat untuk berangkat kuliah. Ketika menekan tombol enter setelah memasukkan www.imgur.com ke address bar, saya kaget bukan main melihat pesan: konten yang anda buka mengandung pornografi, sudah kami blok. “AAAHHH program menteri tolol itu lagi ! Mati ajalah pak !”. Imgur memang memuat forum porno, tapi bukan itu yang saya buka. Kalau memang hanya setitik porno maka sebuah situs harus diblok, maka blok saja semua internet, karena porno ada di mana-mana di internet. Seketika setelah mengumpat mati saja lah, saya langsung teringat si kucing lagi. Ah nggak mungkin, nggak ada hubungannya. Lagipula, saya nggak ada urusan yang bisa membuat saya bertemu si menteri itu. Saya lalu meneruskan berselancar di youtube, dan situs lainnya. Hingga waktu menunjukkan pukul 11.00 siang. Waktunya pergi ke kampus.

Dalam perjalanan, tak lama setelah keluar kompleks rumah. Ada lagi kucing hitam melewati depan mobil saya. Saya biarkan lewat saja, karena jika saya lindas, entah kenapa, rasanya akan ada sesuatu yang sangat buruk terjadi. Setelah kucing itu lewat, saya meneruskan perjalanan ke kampus. Lancar, tidak ada sesuatu yang mengganjal, atau yang aneh, atau yang membuat orang lain tewas. Tidak ada hubungannya. Sesampainya di kelas, saya membuka telepon genggam saya, karena dosen belum datang, dan belum ada teman sekelas yang datang. Saya membuka twitter, dan seketika saya diam membeku. Ada sebuah Breaking News yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Sebuah berita, yang membenarkan kutukan si kucing hitam: “TUNGGUL SEMBARANG MEMANG SUDAH LAMA MENDERITA TEKANAN DARAH TINGGI”. Yang isinya, konfirmasi tentang meninggalnya Menteri yang saya sumpahi tadi. Ia meninggal karena terserang stroke berat di kantornya. Pemicunya ? Tidak ada. Ia meninggal mendadak. Meninggal mendadak tak lama setelah saya sumpahi. Sepertinya kutukan itu nyata. Saya hanya bisa terdiam, dan tersenyum. Lalu berkata dalam hati, siapa ya yang mati selanjutnya ?